THIS OUR LOVE [7] (Special Alfy)
Cerita Sebelumnya:
Rio dan Ify seperti asyik menikmati
permainan basket mereka. Itu bukan pertandingan menurut mereka, karena skor
yang mereka cetak sampai sekarang pun mereka tidak tahu. Ketika Ify mendrible
bola dengan berlari, ia tersandung batu. Rio yang berada di depannya berniat
untuk menahan Ify agar tak jatuh, namun karena saking kuatnya dorongan dari
Ify, ia pun ikut terjatuh. Alhasil, Ify menimpa Rio. Rio terdiam. Lagi dan lagi
ia terhanyut karena mata bening itu. Jantungnya kembali berdetak tak karuan. Selama
beberapa detik Rio menatap Ify dalam.
“Yo, udah dong ngeliatin gue gitu amat.
Malu tau” ucap Ify sambil berdiri. Ify heran, akhir-akhir ini para sahabatnya
sering sekali menatapnya seperti itu. Bukannya GR ataupun apa, tapi memang itu
yang Ify rasakan. Rio tersadar dan menerima uluran tangan Ify untuk membantunya
berdiri. Rio tersenyum kecil, mengacak pelan pucuk kepala Ify.
“pulang yuk, gue capek nih. Gue juga
mesti pulang ke rumah, udah sore.” Rio mengangguk.
“gue anter lo pulang.” Ify memungut bola
basket yang berada tepat di samping kaki kanannya.
“oke” ucap Ify sambil melangkah
beriringan dengan Rio. Dengan santai, Rio kembali menyampirkan tangan kirinya
di pundak Ify.
====
Pemuda satu ini terus memandangi foto
itu. Foto dimana ia sedang berangkulan dengan para sahabatnya. Namun, fokus
pandangannya itu hanya tertuju pada satu titik. Seorang gadis yang tengah
tersenyum lebar, tepat berada di tengah-tengah para sahabatnya. Ia tersenyum
kecil melihat wajah ceria itu. Bagaimana bisa ia mempunyai perasaan lebih dari
seorang sahabat terhadap gadis itu? Sejak kapan perasaan ini muncul? Batinnya
terus bertanya-tanya. Ia menghela nafas. Tak habis pikir jika perasaan ini
menyerangnya. Dan ia lebih tidak menyangka kalau perasaan ini tertuju pada
sahabatnya.
“kenapa bisa?” gumamnya. Pandangannya
masih terus terfokus ke satu titik di foto itu. “kenapa bisa gue jatuh cinta
sama lo?” lanjut gumamannya. Ia tertawa kecil. Kemudian untuk kedua kalinya ia
menghela nafas.
“gue nyaman deket sama lo. Gue suka lo
yang apa adanya. Lo natural, karena itu gue jatuh cinta sama lo.” Kini
pandangannya beralih ke luar jendela kamarnya yang terlihat di luar sudah
gelap. “semoga lo bisa secepatnya tahu perasaan gue ini.”
“Alvin. Turun yuk, makan malam” panggil
Oma Alvin-pemuda itu.-
“iya.” Ia menaruh kembali foto itu di
atas meja belajarnya dan bergegas keluar kamar.
====
Alvin berjalan santai menuju kelasnya.
Semua pandangan siswi-siswi tertuju padanya yang mungkin berpapasan ataupun
hanya sekedar lewat saja. Namun, Alvin tak menghiraukannya. Ia berlagak cuek
dengan pandangan itu, tetapi sebenarnya ia risih dipandangi seperti itu. Ia
tersenyum melihat seseorang yang tengah duduk sembari membaca novel di bangku
panjang depan kelasnya. Dengan sikap santai yang ia usahakan, padahal sangat
nervous, ia menghampiri siswi tersebut.
“woy, pagi-pagi udah mantengin novel lo”
ucap Alvin sambil memposisikan duduk disamping siswi itu. Siswi itu menoleh dan
tertawa kecil, kemudian kembali fokus membaca novel. Alvin mendengus sebal.
“yaaah, dicuekin deh.” Siswi itu mencubit lengan Alvin gemas.
“aduuhhh, ganas lo, Fy.”
“elo juga sih. Lo kan tau gimana kalo
gue udah baca novel” ucap Ify yang ternyata siswi itu. Semua siswi-siswi yang
menatap Alvin tadi langsung lesu. Bukan rahasia umum lagi kalau Ify sangat
dekat dengan para idola mereka. Siapa lagi kalau bukan Alvin, Rio, Cakka dan Gabriel.
Mereka iri dengan kedekatan itu. Mereka berpikir kalau Ify adalah cewek paling
beruntung karena bisa dekat dengan idola-idola mereka.
“iya deh.” Ify kembali memfokuskan diri
membaca novel itu. Novel yang dibelinya bersama Gabriel waktu itu. “emm, Fy.”
“ya?”
“lo mau gak temenin gue ke makam Opa?”
Ify menoleh dan menutup novelnya setelah diberi pembatas.
“kapan?”
“sekitar jam 3an lah.”
“boleh, boleh. Gue juga kangen nih
pengen ke makam Opa. Udah lama gak kesana.” Alvin tersenyum senang. “yang lain
pada ngikut?”
“enggak. Cuma kita berdua doang.”
“kok? Tumben deh.”
“mereka pada sibuk, Fy” ucap Alvin
memberi alasan. Padahal ia sendiri tak tahu mereka sibuk atau tidak. Itu hanya
alibinya saja agar bisa berdua dengan Ify. Ify hanya manggut-manggut mengerti.
====
Ify heran melihat para sahabatnya itu
sedang melamun. Kompakan lagi. Tidak seperti biasanya yang jika sudah dikantin
mereka langsung menyerbu tempat penjual mie ayam, bakso ataupun yang lainnya.
Apalagi Cakka yang selalu paling semangat jika sudah menyangkut makanan. Tapi
kini..? Mereka terlihat sedang menjelajahi pikiran masing-masing.
“kalian kenapa sih?” tanya Ify heran.
Namun tak ada respon sama sekali. Terlihat senyuman aneh di wajah masing-masing
para sahabatnya itu. Ify yang melihat bergidik ngeri. Kerasukan kali, pikirnya.
Ah! Ify mempunyai ide. “aduuhhhh..” Rio, Cakka, Gabriel, dan Alvin serentak
menoleh ketika mendengar ringisan Ify.
“kenapa, Fy?” tanya mereka kompak dengan
nada khawatir. Ify mengangkat alisnya bingung. Kompak bener, pikirnya heran.
Sedangkan, masing-masing dari pemuda tersebut langsung saling tatap. Kenapa
bisa kompak, pikir mereka. Dan saat itu pun kecurigaan mulai timbul dalam benak
mereka masing-masing.
“lo kenapa, Fy?” tanya Alvin yang tepat
di samping kiri Ify.
“enggak. Cuma digigit nyamuk doang”
jawab Ify santai. Semuanya hanya cengo.
“ya elah, Fy. Dikira kenapa” ujar
Gabriel. Ify cengengesan.
“habis lo pada ngelamun gitu, kompakan
lagi. Mikirin apa sih?”
“elo” jawab mereka kompak tanpa sadar.
Ify cengo. Rio, Alvin, Cakka dan Gabriel langsung tersadar dan terdiam. Ify
menggaruk-garuk kepalanya bingung.
“maksudnya apaan tuh mikirin gue?”
Mereka gelagapan. Tidak tahu harus menjawab apa. Dan juga bingung kenapa dengan
kompak mereka menjawab sedang memikirkan Ify. Ada apa ini sebenarnya? Pikir
mereka masing-masing. Mereka berdoa agar Ify tidak mengerti maksud jawaban
tadi. “jangan-jangan.... lo pada mikirin gue yang macem-macem yaa? Iihhh,
kalian jahat banget sih sama gue” ujar Ify yang membuat mereka lega.
“idiihhh, gak nafsu” celetuk Cakka yang
langsung dipelototi Ify.
“Cakka jeleeekkkk. Selalu cari ribut
sama gue.” Cakka memeletkan lidahnya ke arah Ify yang juga dibalas Ify. Rio
yang berada di samping kanan Ify tertawa kecil melihat tingkah Ify itu. Ia
mengacak rambut Ify gemas yang membuat gadis itu cemberut.
“jelek lo” ceplos Cakka lagi.
Tuk! Ify melempar kacang yang tengah ia
makan tepat ke arah kepala Cakka.
“waaahhh, lo cari ribut nih ceritanya”
ujar Cakka.
“elo yang mulai duluan kali.” Cakka
mengambil kacang camilan Ify dan melemparnya ke arah Ify. Rio, Alvin dan
Gabriel yang melihat itu hanya cengo. Bisa-bisanya mereka berdua masih perang
seperti ini, pikir mereka. “Cakkadut reseeee.”
====
Kedua insan ini terus menatap lirih
gundukan tanah itu. Sudah lama sekali mereka tidak singgah kesini. Terlalu
sibuk dengan tugas-tugas yang menumpuk di sekolah.
“gue kangen, Opa” ucap Alvin lirih. Ify
yang disampingnya hanya mengangguk lemah. Ia merindukan sosok Opa yang selalu
memberikan nasehat, yang selalu membangkitkan semangat, yang selalu bijak.
Bukan hanya dia, tetapi Rio, Cakka dan Gabriel, tentunya Alvin. Ify mengelus
lembut pundak Alvin ketika ia melihat setitik air mata yang jatuh dari pelupuk
mata sipitnya. Tangannya beralih menggenggam tangan Alvin.
“jangan nangis, Vin. Opa pasti gak akan
suka liat cucu kesayangnya nangis. Apalagi lo cowok. Cowok kok cengeng sih”
ucap Ify lembut. Alvin tersenyum kecil dan segera menghapus air mata itu. Pemuda
itu menoleh ke arah Ify dengan tersenyum manis.
“thanks.” Ify mengangguk. Kini berganti
Alvin yang menggenggam tangan Ify dan menariknya untuk berdiri.
“udahan?” tanya Ify. Alvin mengangguk.
“ikut gue yuk” ucap Alvin sambil
menggandeng tangan Ify menuju tempat motornya terparkir.
“mau kemana, Vin?”
“ikut aja.”
====
“habis hujan nih. Harusnya dia muncul”
ucap Alvin yang membuat Ify bingung. Alvin membawanya menuju sebuah bukit yang
menurutnya sangat sejuk. Rumput hijau dibukit itu bertambah segar karena habis
terkena air hujan.
“maksudnya?” Alvin menoleh dan
tersenyum.
“pelangi, Fy. Tempat ini paling bagus
kalo mau lihat pelangi.” Ify menoleh dengan wajah berbinar.
“bener?” Alvin mengangguk sambil terkekeh.
Ia sangat senang ketika mendapati wajah ceria itu. Dan kini ia bisa membuatnya
tersenyum senang. Ify segera berlari menuju puncak bukit. Alvin hanya
menatapnya masih dengan senyuman. Gadis itu terus menunggu kemunculan dari sang
pelangi. “Alvin, Alviinn. Pelanginya muncul tuh. Ayo kesini. Cantik banget”
teriak Ify yang menyadarkan Alvin dari lamunannya. Alvin melangkah menghampiri
Ify. Ia juga menikmati pemandangan indah itu. Tetapi pemandangan indah
disampingnya lah yang lebih menarik perhatiannya. Sebuah senyuman manis dari
wajah gadis yang sekarang menjadi pujaan hatinya.
“cantik ya, Vin?” tanya Ify tanpa
mengalihkan pandangannya sedikitpun dari pelangi itu.
“banget” jawab Alvin tanpa sadar yang
tengah asyik memandangi wajah cantik Ify dari samping. Seketika Ify menoleh.
Kini Alvin menatap mata beningnya. Terhanyut. Lagi-lagi wajah gadis itu harus
merona ketika ditatap seperti itu. Alvin yang menatapnya dengan teduh.
“Alvin, gue malu tau diliatin begitu”
ucap Ify yang mengundang kekehan kecil dari Alvin. Ia mengacak lembut pucuk
kepala Ify. Kemudian, tangannya merangkul Ify sembari menatap lurus ke depan,
menghadap lengkungan indah yang memiliki tujuh warna itu. Begitu juga Ify.
“Vin?”
“hm?”
“kenapa ya akhir-akhir ini kalian suka
bertingkah aneh banget kalo sama gue?” tanya Ify polos. Alvin mengerutkan
keningnya bingung lalu menoleh.
“maksud lo?”
“kalian akhir-akhir ini suka aneh tau.
Kayak tadi tuh, suka banget ngeliatin gue begitu. Bukannya gue GR ataupun apa,
gue Cuma heran aja. Biasanya juga enggak.” Alvin terdiam. Kalian? Berarti bukan
hanya dia dong. Tetapi juga Rio, Cakka dan Gabriel.
‘apa kami sama-sama....’
To Be Continued~
0 komentar