THIS OUR LOVE [9]
Cerita Sebelumnya:
“lo butuh waktu” Gabriel berujar lembut.
“maafin kita, Fy” sambung Alvin.
“iya, Fy, maafin kita semua” ucap Cakka.
“maaf karena udah buat pikiran lo
terbebani” ucap Rio. Ify tersenyum lirih.
‘gue seneng kalo kalian ada di sisi gue.
Heuh! Gue harus apa?’
====
Kini Ify tengah berada di sebuah jalan
yang tak berujung. Sedikit gelap. Ia tak tahu dimana sekarang dia berada. Ify
terus menyusuri jalan itu. Kakinya terus melangkah menelusuri jalanan panjang
itu. Sepi.
“Ify, gue suka sama lo” ucap Gabriel
yang tiba-tiba sudah berada di belakang Ify. Ify berbalik dan terkejut.
“Fy, gue cinta sama lo” ujar Alvin yang
kini berada di samping kanannya. Ify menoleh.
“mau gak lo jadi pacar gue?” kini Cakka
bertanya yang telah berdiri di samping kiri Ify. Gadis itu berbalik menghadap
Cakka.
“gue harap lo mau.” Ify berbalik lagi ke
depan menatap Rio yang sudah berdiri disana. Ify bingung. Ia terduduk lemas
disana. Pikirannya sudah berkecamuk. Ia meremas rambutnya. Frustasi mungkin.
Ah, tidak, hanya terlalu terbebani.
Matanya terbuka seketika. Hanya mimpi.
Ia menghela nafas panjang. Kenapa ini harus terjadi kepadanya. Ia melihat jam
dindingnya. Ternyata masih jam 2 pagi. Kemudian ia berusaha untuk memejamkan
matanya kembali. Dan berharap mimpi itu tidak kembali terulang.
====
“Fy, kok lo pindah sih?” tanya Rio yang
mendapati Ify tengah duduk bersama Agni. Sedangkan Dayat yang semula duduk
dengan Agni, kini menempati bangku Ify. Ify menoleh.
“ha? Ah..ee..gakpapa kok. Cuma mau
bersosialisasi aja. Gak mungkin dong harus disana terus. Gakpapa ‘kan, Yo?
Sementara doang kok” ucap Ify sebiasa mungkin. Rio mengerutkan keningnya heran.
“iya deh kalo sementara” ucap Rio
sedikit menelan kesedihan. Ify tersenyum dan kemudian kembali berkutat pada
bukunya.
‘iya, sementara sampai gue bisa nerima
semua ini’ batin Ify lirih. Ify menoleh ketika Agni mencolek bahunya.
“kenapa?”
“lo tuh yang kenapa? Tumben lo pindah
duduk begini. Biasanya lo sama mereka terus. Ada masalah ya?” cerocos Agni. Ify
tertawa kecil dan kemudian menghela nafas.
“lo ternyata cerewet juga ya, Ag.” Agni
mencibir pelan. “gue gak ada masalah apa-apa kok sama mereka.’Kan tadi udah gue
bilang Cuma mau bersosialisasi.”
“iya deehh kalo elo emang belum bisa
cerita ke gue. Gue tau kok. Kalo elo butuh temen curhat, gue siap” ucap Agni
sambil tersenyum tulus. Ify ikut tersenyum mendengarnya.
“oke. Thanks ya, Ag.” Agni mengendikkan
bahunya mengisyaratkan –yeah-no-prob- Di sisi lain, ke empat pemuda di barisan
meja paling kanan, terlihat asyik dengan pikiran masing-masing. Dayat dan Sion
yang berada di antara mereka dan tak sengaja melihat aksi melamun empat pemuda
tersebut, memandang heran.
“lo berempat emang sobat sejati ya”
celetuk Sion. Alvin, Gabriel, Rio dan Cakka serentak menoleh dan mengerutkan
kening. “melamun aja udah pakai kompakan gitu.” Dayat mengangguk setuju.
“kenapa sih, bro? Biasanya juga kalian
yang paling semangat di kelas ini, apalagi Cakka” sambung Dayat. Cakka hanya
mendengus sebal. “oohh, gue tau. Lo semua pasti ada masalah hati nih.” Empat
pemuda itu kembali ke posisi semula. Berusaha menghiraukan penuturan dari Sion
dan Dayat.
“wah, bener tuh. Apalagi sih yang jadi
masalah kalo bukan masalah cinta.”
“haha kalian semua di tolak ya? Ah,
masa’ sih kalian ditolak? Kalian ‘kan cakep, yaaa walaupun masih cakepan gue.”
Dayat dan Sion tertawa. Mereka berdua terdiam ketika Alvin, Gabriel, Rio dan
Cakka menatap mereka garang.
“piss, bray” ucap Sion.
“kita cinta damai” sambung Dayat.
====
Ify melangkah gontai ke perpustakaan.
Tangan kanannya telah menenteng sebuah buku yang bertuliskan FISIKA. Ia berniat
untuk mengembalikan buku itu hari ini. Walaupun raganya tengah melangkah di
koridor itu, namun pikirannya sudah melayang jauh entah kemana. Ia terus
memikirkan peristiwa itu. Peristiwa dimana ia dibuat kaget, sangat kaget. Ia
terjatuh tatkala dia menubruk seseorang di depannya. Ify meringis sambil
mengelus pinggangnya yang sakit.
“Ify? Maaf. Ada yang luka? Perlu ke
UKS?” tanya orang itu beruntun. Ify mendongak dan mendapati Rio tengah
menatapnya cemas. Ify refleks menggeleng. “gue bantu deh.” Rio membantu Ify
berdiri dan kemudian ia memungut buku FISIKA Ify yang tadi terjatuh.
“nih.” Ify menerimanya sembari
tersenyum.
“makasih, Yo. Gue duluan.” Ify buru-buru
melangkah. Namun, langkahnya terhenti ketika Rio menahan lengannya. Ify
berbalik. “ada apa, Yo?”
“lo kenapa, Fy?” Ify menaikkan satu
alisnya, heran. “lo kayak ngejauhin gue. Bukan Cuma gue, tapi juga Gabriel,
Alvin dan Cakka?” Ify menunduk. Rio menggenggam hangat tangan Ify.
“Fy?” panggil Rio lembut. Ify masih
diam. “apa karena...”
“maaf, Yo. Gue harus ke perpus, mau
balikkin buku” potong Ify dan kemudian melepaskan genggaman Rio secara halus. Gadis
itu berlalu pergi meninggalkan Rio yang berdiri mematung di koridor itu. Rio
menghela nafasnya.
“maaf, Fy” gumam Rio lirih.
====
Deva heran melihat sikap kakaknya satu
ini sejak kemarin. Tidak seperti biasanya. Ia melirik Ify disampingnya yang
tengah mengaduk dan menatap makan siangnya tanpa ada niat untuk melahapnya.
Deva menghela nafas. Ia menatap Ify sesaat setelah meneguk air putihnya. Ify
yang merasa diperhatikan pun menoleh.
“kenapa lo?” tanya Ify heran.
“lo itu yang kenapa, Kak. Gue perhatiin
dari kemarin kelakuan lo aneh tau. Gak kayak biasanya.” Ify kembali menatap dan
mengaduk makanannya. Ify diam. Haruskah dia membicarakan ini kepada adiknya?
“Kak? Gue adek lo. Gue tau kapan lo seneng dan kapan lo lagi ada masalah. Jadi
jangan ditutup-tutupin deh.” Ify meletakkan sendok garpunya di atas piring itu.
Kemudian berbalik menghadap Deva.
“gue bingung, Dev.” Deva menaikkan satu
alisnya. “Rio, Gabriel, Alvin dan Cakka suka sama gue.” Deva terbelalak kaget.
“serius lo?” Ify mengangguk lesu.
“kemarin mereka ngungkapinnya di Yum Café. Sumpah, gue bingung banget.”
“lo ada perasaan gitu sama mereka?”
“gak tau. Jujur, gue gak ngerasain
apa-apa ke mereka saat ini. Gue seneng kalo mereka tetep di sisi gue. Dan gue
pun seneng kalo mereka perhatian ke gue.” Ify mendesah berat. “gue harus
gimana?” lanjutnya lirih. Deva menepuk pundak kakaknya itu.
“lo jelasin deh gimana perasaan lo ke
mereka. Mungkin aja mereka bisa ngerti, Kak.”
“tapi...kalo nanti mereka ngejauhin gue,
gimana?” Deva menggeleng dan tersenyum meyakinkan.
“enggak. Dijamin deh, mereka gak akan
ngejauhin lo.” Ify menatap Deva. Dan kemudian tersenyum. “gak bakal juga kali
mereka ngejauhin orang yang mereka suka. Ecieeeeeee” goda Deva yang membuat wajah
Ify bersemu.
“Devaaaa, please deh. Gue tau gue cantik, tapi gak digodain juga kali.”
“wooooo, narsis lo udah melebihi batas
tau” toyor Deva. Ify tertawa.
‘ini baru kakak gue’ batin Deva
tersenyum.
To Be Continued~
0 komentar