THIS OUR LOVE [6] (Special Rify)


Cerita Sebelumnya: 
PLAK! Sebuah tamparan dari Dea yang cukup keras mendarat di pipi kanan Ify yang mulus. Ify terdiam. Jujur saja, ini adalah pertama kalinya ia merasakan sebuah tamparan. Orang tuanya saja tidak pernah melakukan hal seperti ini kepadanya. Ify sudah ingin menangis sekarang, namun ia tidak mungkin terlihat lengah oleh mereka. Ia merasakan perih di ujung bibir kanannya. Dan terasa sangat perih ketika ia memegangnya dengan ibu jarinya.

‘darah’ batin Ify memekik. ‘memang dasar kakak-kakak senior menang tampang doang.’

“ada apaan nih?” tanya seseorang yang datang tiba-tiba. Tiga serangkai itu gelagapan. Ify bergeming.

“Ri..o” ucap Dea pelan. Rio yang ternyata orang itu menatap Ify heran yang terus menunduk. Ia beralih ke tiga serangkai tersebut.

“ada apa ini?” tanya Rio tenang. Dea memasang wajah manis.

“gak ada apa-apa kok, Yo. Kami Cuma..” Rio menatapnya bingung.

“Cuma apa?”

“Cuma..”

“jangan sok manis lo di depan Rio. Lawan gue di depan dia sekarang kalo lo berani” ucap Ify tiba-tiba. Rio tersentak ketika melihat ada darah di sudut bibir kanan mungil gadis itu.

“Fy? kok..”

“minta penjelasan sama mereka, Yo. Gue udah capek daritadi berkoar-koar.” Rio mengalihkan pandangannya pada tiga serangkai itu. Rio menatapnya tajam. Ia tidak bisa terima kalau gadis pujaannya itu disakiti seperti itu.

“kita gak ngapa-ngapain dia, Yo. Pas kita ketemu sama dia, dianya udah berdarah gitu” elak Dea.

“alah, bulshit lo! Jelas-jelas elo nampar gue tadi.” Rio terlonjak. Tiga serangkai itu semakin gelagapan. “lo hebat, udah ngalahin orang tua gue. Mereka gak pernah ngelakuin hal ini ke gue! Tapi kalian... Memang bener ya, kalian itu Cuma menang tampang doang! Tampang kalian bernilai seratus, tapi kalo masalah sikap, kalian nol besar!” Ify berbalik.

“Yo, kita pulang sekarang. Gue udah enek ngeliat mereka” ucap Ify sambil berlalu. Rio masih terus menatap tajam Dea, Zevana dan Angel yang masih terdiam.

“sekali lagi gue tau kalian nyakitin Ify, kalian bakal tau akibatnya” ucap Rio tajam dan kemudian berlalu.

“elo sih, De” ujar Angel.

“kok gue sih? Kalian gak belain gue tadi, argh!”

“elo juga sih, De, pakai tampar-tamparan segala” ucap Zevana.

“terus aja mojokin gue. Udah deh, gue mau pulang.”

====

“aww, pelan-pelan, Yo. Sakit tau” keluh Ify yang tengah di obati Rio. Mereka sedang berada di rumah Rio, tepatnya di ruang tamu -,-

“gue udah pelan, Fy. Lo-nya aja gak bisa diem.” Ify cemberut. “lo juga cari gara-gara sama mereka” sambung Rio yang masih mengobati Ify.

“bukan gue yang mulai duluan. Mereka aja yang sok jago. Belom tau mereka lagi ngadepin siapa.” Ify terdiam. Rio menatapnya heran. Kenapa lagi nih anak, pikir Rio.

“kenapa diem?”

“sakit tau kalo ngomong.”

“makanya jadi cewek kok cerewet banget.” Ify memukul pundak Rio. “aduh, seneng banget lo mukulin orang.”

“bodo. Mukulin orang enak tau.” Rio memandangnya heran. Mukulin orang kok enak. Memang sih dianya yang enak, tapi orang yang dia pukulin itu tidak enak.

“mereka ngapain sih, Fy, sampai main tampar-tamparan begini?” Ify menghela nafas.

“mereka nyuruh gue buat jauhin elo semua.” Rio menautkan alisnya bingung. “elo, Alvin, Cakka, sama Gabriel. Kalian ‘kan sahabat gue, ya jelas gue bilang gak mau dan gak akan pernah jauhin lo semua.” Rio sedikit menelan kecewa ketika ia mendengar kata sahabat untuknya. Ia berharap kalau Ify menganggapnya lebih. Rio tidak merespon dan kembali lanjut mengobati sudut bibir Ify.

“aduh, Yo, sakit” ringis Ify yang serentak menahan dan menggenggam tangan Rio yang tengah mengobati luka Ify tersebut. Rio terdiam. Menyelami mata bening itu. Terasa menghanyutkan ketika menatapnya.

‘seandainya lo tau, Fy, perasaan gue saat ini ke elo gimana’ batin Rio. ‘gue gak nyangka perasaan ini muncul.’ Tepukan lembut di pipi nya menyadarkan pemuda itu.

“Yo? Kenapa sih?” tanya Ify. Rio gelagapan.

“ah..e..enggak kok. Emangnya kenapa?” Ify geleng-geleng melihat tingkah Rio yang aneh itu.

“udah ya obatinnya.”

“masih belum tuh, main udahan aja.”

“aaa, udah dong, Yo. Sakit tau.”

“sebentar lagi, Fy. Tahan aja sedikit.”

“sakiiitt, Riooo, aduh, tuh ‘kan.”

“elonya juga sih, diem dikit deh.”

====

Seorang pemuda berambut gondrong itu tengah memasuki halaman rumahnya dengan terus bersiul. Jarak antara rumah dan sekolahnya lumayan dekat, jadi ia memutuskan untuk berjalan kaki menuju kesana. Beda usia Ray-pemuda itu- dengan Rio hanya satu tahun. Ketika sampai di teras dan melepaskan sepatunya. Ray mendengar samar-samar suara percakapan dua orang. Ia menajamkan pendengarannya. Ah, ia tahu siapa suara perempuan itu. Ray segera masuk takut terjadi apa-apa.

“heh, kalian ngapain?” tanya Ray ketika melihat Rio dan Ify sedang duduk berdua di sofa ruang tamu.

“ha? Ngapain gimana?” tanya Rio.

“kalian mesum yaaa?” tanya Ray dengan wajah serius. Rio dan Ify cengo mendengarnya. Hening~

“hahahahahahahaha” tawa Rio dan Ify meledak. Ray bingung, menggaruk-garuk tengkuknya yang sudah gatal memang daritadi.

“hahahahaha..Ray, Ray. Lo itu masih kecil tau. Mikirin mesum aja. Otak lo gak bener nih. Ngapain aja memangnya lo berdua sama Rio selama ini di rumah? Hahahaha. Aduh..aduh” ucap Ify yang diakhiri dengan ringisan karena saking puasnya ia tertawa.

“kalo sakit, udah deh, Fy, mingkem aja lo” ucap Rio yang masih menahan tawanya karena ulah dari adiknya itu.

“kalian itu kenapa sih?” tanya Ray bingung sambil memposisikan dirinya duduk di sofa. Rio menghela nafas dan tersenyum.

“aduh, Ray, elo itu yang kenapa. Itu yang seharusnya kita tanyain ke elo. Dateng-dateng nodongin pertanyaan yang begituan, haha.” Ray manyun.

“ya ‘kan gue kira..”

“gak mungkin itu, Ray. Gue cowok suci tau. Kita juga masih sekolah.”

“kalo udah gak sekolah, jadi mau dong” goda Ray.

“Raayyyyy” teriak Ify dan lagi-lagi diakhiri dengan ringisan.

“’kan udah gue bilang, lo mingkem aja.”

“Kak Ify kenapa sih?”

“ini nih, habis kena gampar” ucap Ify sambil menunjuk sudut bibirnya yang luka. Ray mengerutkan keningnya.

“dari bonyok lo ya, Kak?”

“bukan. Dari orang sengak” jawab Ify yang kesal.

“udah deh, sekarang lo masak buat kita. Udah laper banget nih” sela Rio.

“bantuin gue, Yo.”

====

Setelah memasak dan tentunya makan, Ify duduk santai di ruang keluarga rumah Rio. Ia sudah terbiasa ke rumah Rio. Mungkin sudah dianggapnya rumahnya sendiri. Ia menyalakan tv dengan malas-malasan. Matanya sudah mulai mengantuk. Ify menoleh sekilas ketika Rio duduk di sampingnya.

“nonton apaan sih? Diganti-ganti mulu” ucap Rio. Ify menggeleng malas. Rio mencubit hidung Ify iseng.

“aduh, sakit, Rio. Lo suka banget deh nyubitin hidung gue” ringis Ify cemberut. Rio terkekeh pelan.

“habis, lo males-malesan begitu. Semangat dong.”

“gue ngantuk tau.”

“tidur kalo ngantuk. Gakpapa lagi.”

“iya deh.” Rio terlonjak kaget tatkala Ify menjatuhkan kepalanya di pundaknya itu. Jantungnya mulai berdetak tak karuan. Wajahnya memanas. Ia menatap wajah Ify yang tengah tertidur pulas. Senyuman kecil pun terlukis di wajahnya. Satu kata di benaknya.

‘cantik’ batin Rio. Ia merangkul Ify secara perlahan agar gadis itu tidak terbangun dari mimpi indahnya. Ify menggeliat kecil, namun tetap terpejam. Rio merangkulnya hangat. Dan akhirnya kini, Ify tertidur dalam rangkulan hangat Rio. ‘tidur yang nyenyak, bidadari ku’ lanjut batin Rio. Ia menghela nafas. Tidak percaya dengan adanya perasaan ini. Muncul begitu saja. Ia tidak menyangka jika ia harus jatuh cinta pada sahabatnya sendiri. Sahabatnya sejak SD dulu. Ia masih ingat ketika pertama kali ia mengenal gadis ini.

---

Rio murid pindahan dari Manado ke SD Negeri *sensor.* Saat itu ia masih duduk di bangku kelas 4. Ia sedikit canggung karena masih baru di sekolah itu. Masih terus duduk diam dikala istirahat pun. Teman-temannya pun hanya sekedar berkenalan saja, tidak adakah yang berniat untuk mengajaknya bermain mungkin. Namun, dalam kesendiriannya dalam diam, Rio dihampiri oleh seorang siswi yang juga sekelas dengannya.

“hai, Rio” sapanya ceria. Rio menoleh.

“hai juga..eng..” Rio bingung harus memanggilnya apa, karena ia sama sekali tidak tahu nama siswi tersebut.

“kenalin, nama aku Alyssa Saufika, panggil aja Ify” jawabnya masih dengan nada riang.

“oke, hai juga Ify.” Ify tersenyum senang.

“kamu kok Cuma diam di kelas sih?”

“habisnya aku gak ada temen” jawab Rio polos.

“ya udah, kamu main sama aku aja yuk. Sekarang kita sahabat.” Rio tersenyum lebar mendengarnya dan serentak mengangguk semangat.

---

Rio tertawa kecil ketika mengingat kembali kejadian dulu, dimana ia pertama kali mengenal gadis yang selalu ceria ini. Dia lah teman pertamanya di sekolah itu dan mungkin dia juga lah teman pertamanya di Jakarta ini. Ia merasakan Ify yang menggeliat kecil dalam rengkuhannya itu. Gadis itu terbangun.

“jam berapa nih?” tanya Ify yang masih setengah sadar.

“jam 3 sore.” Setelah sepenuhnya sadar, Ify merasakan kalau ia sekarang berada dalam rangkulan Rio. Ia menoleh pada Rio yang tengah menatapnya sambil tersenyum manis. Ditatap seperti itu, wajahnya mendadak merona. Ia menduduk refleks. Lagi-lagi Rio mencubit hidung Ify gemas.

“aduuuhh, Riooo. Sakit tauuu” ringis Ify. Rio tertawa geli.

“habis gue gemes, muka lo merah begitu.” Ify manyun sambil mengelus-ngelus hidungnya yang memerah. “masih perih gak bibir lo?”

“gak seperih yang tadi sih.” Rio mengangguk mengerti. “enak ya meluk gue?” tanya Ify sambil cengengesan. Rio yang ditanya seperti itu menatapnya heran. Ify melirik tangan Rio yang masih saja setia merangkulnya. Dengan malu, Rio segera melepaskan tangannya dari pundak Ify. Kini berganti wajah Rio yang memerah. Melihatnya, Ify tertawa kecil. Ia mencubit pipi kiri Rio gemas dan langsung berlari menghindari amukan Rio.

“Ifyyyyyy, sakiitttt wooyy” teriak Rio. Tak mau tinggal diam, ia mengejar Ify yang sudah di lantai bawah rumah Rio. “kurang asem lo, Fy. Tanggung jawab lo. Sakit nih pipi gue.” Ify memeletkan lidahnya, ia kembali berlari keluar rumah. Rio tetap mengejarnya, namun ia hanya melangkah biasa dikarenakan sudah kelelahan berlari untuk mengejar gadis lincah itu. Tiba di ambang pintu, Rio terlonjak kaget ketika Ify langsung berdiri tepat dihadapannya sembari menodongkan bola basket yang ia temukan di pekarangan rumah Rio.

“kenapa? Mau nodong lo? Nodong kok pakai bola basket sih.” Ify manyun. Ia kembali mencubit pipi Rio yang kini sebelah kanan dengan gemas.

“gue ngajakin elo tanding basket di lapangan komplek, Rio cakep, tapi masih cakepan gue.” Rio mengelus-ngelus pipi kanannya yang memerah ketika Ify melepaskan cubitannya.

“iya deh, ah. Sakit pipi gue lo cubitin mulu.”

“pembalasan tau. Hidung gue juga sakit lo cubitin, nanti hidung gue jadi kayak pinokio lagi.” Rio tertawa kecil dan kemudian mengacak rambut Ify gemas.

“ayo ke lapangan.”
====

Rio dan Ify seperti asyik menikmati permainan basket mereka. Itu bukan pertandingan menurut mereka, karena skor yang mereka cetak sampai sekarang pun mereka tidak tahu. Ketika Ify mendrible bola dengan berlari, ia tersandung batu. Rio yang berada di depannya berniat untuk menahan Ify agar tak jatuh, namun karena saking kuatnya dorongan dari Ify, ia pun ikut terjatuh. Alhasil, Ify menimpa Rio. Rio terdiam. Lagi dan lagi ia terhanyut karena mata bening itu. Jantungnya kembali berdetak tak karuan. Selama beberapa detik Rio menatap Ify dalam.

“Yo, udah dong ngeliatin gue gitu amat. Malu tau” ucap Ify sambil berdiri. Ify heran, akhir-akhir ini para sahabatnya sering sekali menatapnya seperti itu. Bukannya GR ataupun apa, tapi memang itu yang Ify rasakan. Rio tersadar dan menerima uluran tangan Ify untuk membantunya berdiri. Rio tersenyum kecil, mengacak pelan pucuk kepala Ify.

“pulang yuk, gue capek nih. Gue juga mesti pulang ke rumah, udah sore.” Rio mengangguk.

“gue anter lo pulang.” Ify memungut bola basket yang berada tepat di samping kaki kanannya.

“oke” ucap Ify sambil melangkah beriringan dengan Rio. Dengan santai, Rio kembali menyampirkan tangan kirinya di pundak Ify.

You May Also Like

0 komentar