A Turning Part 15
A Turning àPart 15ß
The Last Part!
====A Turning====
Bahagia itu kembali.
Sebuah harapan agar kebahagiaan itu tidak hilang seperti dulu lagi. Senyuman
ceria pun tak pernah lepas. Selalu merekah layaknya mekarnya kelopak bunga
kebahagiaan itu saat ini. Tidak ingin lagi menutup kelopak itu. Akan selalu
dijaga agar tetap mekar dengan indahnya.
“Kak Cakkduuttt..lo
itu bisanya Cuma bikin gue keseeeel. Balikin hp gueee” teriak Ify kesal pada
Cakka yang tengah duduk di sampingnya. Mereka saat ini sedang dalam perjalanan
untuk pergi ke sekolah. Shilla mengantar mereka semua. Mumpung hari ini dia
jadwal siang. Sekali-sekali mengantar adik-adiknya itu sekolah. Deva yang
berada di samping kiri Ify menutup telinganya. Gabriel dan Shilla yang berada
di depan tertawa kecil melihat kelakuan kedua adiknya. Bernafas lega, mengucap
syukur karena gadis itu kembali.
“gue pinjem bentar,
Fy, pelit banget sih lo” balas Cakka sambil menjauhkan hp Ify dari jangkauan
tangan gadis itu.
“gak boleh. Lo itu
tukang ngerusak privasi tau.”
“ah, gak mungkin itu
mah. Gue tau nih, pasti ada apa-apanya di hp ini. Ngaku lo?”
“apaan sih? Kagak
ada. Hp gue bebas dari virus maupun situs yang gak banget.”
“masa’ sih? Gue cek
deh. Eh? Ada pesan masuk nih.” Ify melotot. Ia tahu itu dari siapa. Dengan
sekuat tenaga ia ingin merebut hp dari tangan Cakka. Namun tetap tak bisa.
“cieeee, dari Rio nih yeeee.” Benar apa yang Ify pikirkan, Cakka tukang perusak
privasi orang.
“Kak
Cakkduuuuuuttttt. Balikiin hp gueeee. Gue sumpahin lo gak bisa dapetin Kak
Agni, mampus-mampus deh lo sana” ucap Ify kesal sembari mengerucutkan bibirnya
dengan melipat kedua tangannya di dada.
“yah, Fy, jangan
gitu dong. Gue liat dikit aja deh ya, penasaran nih hehe.”
“Kak, baca apa isi
sms-nya” ucap Deva yang ikut nimbrung. Ify melotot ke arahnya.
“lo mau ikut-ikutan?
Dasar kakak beradik yang durhaka. Kak Shilla, Kak Iel..” rajuk Ify kepada
Shilla dan Gabriel. Gabriel menoleh ke belakang dan mengacak-ngacak rambutnya
gemas.
“doain aja si Cakka
biar gak bisa dapetin Agni. Kalo si Belo sih, doain biar gak bisa dapet
gebetan” ujar Gabriel. Cakka dan Deva melotot mendengarnya. Ify tersenyum
senang. Memang kakaknya yang satu ini bisa sekali ia andalkan.
“waaahhh, kurang
asem lo, Kak” ujar Cakka dan Deva kompak. Ify langsung merebut hp nya dari
tangan Cakka dan kemudian memeletkan lidahnya ke arah Cakka.
====A Turning====
“Pagi, Rio..” sapa
Ify ceria pada Rio yang tengah melangkah santai di koridor sekolah. Rio yang
mengenali suara itu langsung menoleh dengan tatapan tidak percaya. Benarkah Ify
menyapanya? Atau ini bukan Ify yang asli, tapi Ify jadi-jadian? -_- Ify menatap
Rio heran. “Yo, woy! Kenapa sih?”
“eh? Eng..enggak.
Cuma..Cuma heran aja” ujar Rio terbata.
“heran kenapa?”
“ah, lupain aja.
Pagi juga, Fy.” Ify geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Rio. Rio melihat
Ify ada yang berbeda pagi ini. Em..senyumnya begitu lebih lepas. Warna raut
wajahnya pun lebih terang dari kemarin-kemarin. Dan lebih..-ehem-cantik.
“kelas bareng?”
tanya Ify yang menyentak Rio. Pemuda itu mengangguk. Mereka berjalan beriringan
menuju kelas. Rio melirik Ify dari ekor matanya. Gadis itu memang berbeda
sekarang. Lebih sering tersenyum dan menyapa siswa-siswi yang berlalu lalang di
hadapannya. Ada apa dengan gadis ini? Tak dipungkiri memang, hatinya berdesir
melihat senyuman manis dan lepas itu. Rio
menarik tangan Ify sebelum melangkah memasuki kelas. Ify berbalik dan menatap
bingung Rio.
“lo keliatan beda
hari ini.” Ify menaikkan satu alisnya. Ia tahu apa yang dimaksud Rio, namun ia
berpura-pura tidak tahu.
“beda? Maksdunya?”
“emm..ya beda dari
kemarin-kemarin. Lo tau lah pasti. Hutang cerita lo sama gue.”
“gak ada yang perlu
diceritain, Rio.”
“gak. Pokoknya,
istirahat nanti gue tunggu di taman belakang sekolah. Gue tau banyak cerita
yang lo hutangin ke gue.” Ify mendengus sebal. Tahu saja pemuda satu ini.
“jangan lupa ya. Istirahat nanti di taman belakang sekolah. Gue tunggu,
bidadari ku” ucap Rio sembari menyentil hidung Ify dan kemudian berlalu. Dada
gadis itu berdesir ketika mendengar Rio memanggilnya ‘bidadari ku.’ Perutnya
serasa tergelitik. Wajahnya seketika memanas.
‘wah, gue kenapa
nih?’ batinnya heran. Ify mengendikkan bahunya dan kemudian melangkah menuju
kelas. Sesampainya di bangku, ia menyapa Sivia masih dengan ceria. Sivia yang
menyadari itu langsung ternganga tidak percaya. Benarkah ini sahabatnya yang
dulu? Sahabat dengan keceriaannya, senyumannya yang telah terkubur sejak lama
kini kembali?
“Via? Lo kenapa?
Hati-hati loh, iler-nya ngalir semua” ujar Ify sembari terkikik geli. Sivia
langsung menutup mulutnya.
“Ify? Bener ‘kan ini
lo? Gue gak salah liat ‘kan? Apa gue lagi mimpi ya?”
“lo berlebihan deh,
Vi.” Sivia memeluk tubuh Ify erat. Ify mendelik. “Via, lo apa-apaan sih? Gue
masih normal tau. Lepas deh.” Sivia menggeleng dan masih memeluk Ify.
“kagak, gue masih
mau melepas rindu gue dengan Ify yang dulu hehe.” Ify melengos. Tidak Sivia,
tidak saudara-saudaranya sama saja. Sebegitunya kah ia berubah?
====A Turning====
“yah, hujan” ujar
Rio sembari menatap hujan yang deras mengguyur bumi. Rencana curhat di taman
belakang sekolah sepertinya gagal.
“biarin deh. Seru
juga kalo basah kuyup” ucap Ify yang membuat Rio melotot. “ayo kesana.” Ify
yang ingin melangkah menuju taman belakang sekolah tertahan ketika Rio menarik
tangannya kembali hingga Ify sedikit terseret ke sampingnya.
“lo udah gak waras
ya.” Ify mendengus sebal. “gak inget akhir-akhir ini lo sering sakit. Gue gak
mau ya ngeliat elo sakit lagi. Cukup kemarin-kemarin aja.” Ify tersentuh
mendengar penuturan Rio.
“yaudah, gak jadi
deh gue ceritanya.”
“jadi dong. Kita ke
ruang musik.” Rio menarik tangan Ify menuju ruang musik. Ify yang ditarik
seperti ini hanya pasrah.
“Yo, bisa pelanan
dikit gak? Sakit tau.” Rio berhenti dan berbalik.
“maaf deh.” Tangan
Rio berganti menjadi menggenggam tangan Ify, hangat. Wajah gadis itu seketika
memanas. “kalo begini gue jamin gak bakal sakit. Tapi malah bikin ketagihan”
ujar Rio sembari melemparkan senyum manisnya. Ify refleks menunduk
menyembunyikan wajahnya yang memerah. Rio kembali menarik tangan Ify menuju
ruang musik. Sesampainya disana, Rio melepaskan genggaman tangannya dan segera
melangkah mendekati sebuah gitar. Mengambil benda itu dan kemudian memainkannya
sedikit. Ify mematung disana.
‘bener deh jaminan
Rio. Gue kok gak mau dia ngelepas genggaman dia dari tangan gue ya? Hii..gue
kenapa sih?’ batin Ify bingung.
“Fy? Kenapa?” Ify
tersentak.
“ah, enggak.” Ify
mengambil posisi duduk di depan Rio.
“mulai cerita deh
sekarang.” Ify menghela nafas.
“tapi sebentar lagi
bel masuk, Yo.”
“masih ada waktu 30
menit, sayang. Cepetan deh cerita.” Jantung Ify kembali berdegup kencang.
Dadanya berdesir hebat ketika Rio memanggilnya ‘sayang.’ Lagi-lagi Ify
tersentak tatkala Rio mencubit hidungnya gemas.
“Riooo, sakit tauuu.”
“elo sih jadi patung
mulu. Disuruh cerita juga. Cepetan cerita sekarang.”
“dasar bossy.” Rio
melotot ke arahnya. Ify membalasnya dengan memeletkan lidah. Gadis itu menghela
nafas dan kemudian menceritakan semua kejadian yang membuatnya berbeda hari
ini.
“..gue pikir-pikir,
gue terlalu kejam biarin papa kayak gitu. Sampai-sampai dia mau berlutut.
Gue..gue kejam banget, Yo. Kenapa gue bisa bersikap begitu sama papa sendiri?”
ucap Ify lirih dengan air matanya yang mengalir. Rio yang tidak tega melihat
bidadari-nya itu menangis, segera menghampiri dan kemudian merengkuh tubuh
mungil itu.
“udah, Fy. Emang sih
lo kejam banget, tapi itu bukan kemauan lo. Ego dan rasa kecewa lo itu yang bikin lo begitu. Sorry, udah
maksa lo buat cerita.” Ify masih terisak. “udah dong. Gue gak tega liat lo
nangis begini.” Perlahan isakan Ify berhenti. Rio melepaskan pelukannya dan
kemudian menghapus lembut air mata Ify yang membekas di pipi putih gadis itu.
“maaf.” Ify tersenyum dan kemudian menggeleng.
“lo gak perlu minta
maaf, Yo. Gue berterima kasih sama lo, berkat lo gue bisa sedikit lebih baik.
Makasih, Yo.” Rio mengangguk dan tersenyum.
“daripada lo
sedih-sedihan begini, kita nyanyi aja yuk. Mumpung masih ada waktu nih.” Rio
mengambil gitar dan kemudian memainkan sebuah intro lagu.
(Rio)
Saat bahagia ku
Duduk berdua denganmu
Hanyalah bersama mu
(Ify)
Mungkin aku terlanjur
Tak sanggup jauh dari dirimu
Ku ingin engkau selalu
(Rio-Ify)
Tuk jadi milikku
Ku ingin engkau mampu
Ku ingin engkau selalu bisa
Temani diriku
Sampai akhir hayatmu
Meskipun itu hanya terucap
Dari mulutmu
Dari dirimu yang terlanjur mampu
Bahagiakan aku hingga ujung waktu ku
Selalu..
(Ify)
Seribu jalanpun ku nanti
Bila berdua dengan dirimu
Melangkah bersamamu
(Rio)
Ku yakin tak ada satu pun
Yang mampu merubah rasa ku untuk mu
(Rio-Ify)
Ku ingin engkau selalu
(Rio-Ify)
Tuk jadi milikku
Ku ingin engkau mampu
Ku ingin engkau selalu bisa
Temani diriku
Sampai akhir hayatmu
Meskipun itu hanya terucap
Dari mulutmu
Dari dirimu yang terlanjur mampu
Bahagiakan aku hingga ujung waktu ku
Selalu..
(Rio)
Mungkin aku terlanjur (Ify[Mungkin aku])
Tak sanggup jauh dari dirimu
(Rio-Ify)
Ku ingin engkau selalu
(Rio-Ify)
Tuk jadi milikku
Ku ingin engkau mampu
Ku ingin engkau selalu bisa
Temani diriku
Sampai akhir hayatmu
Meskipun itu hanya terucap
Dari mulutmu
Dari dirimu yang terlanjur mampu
Bahagiakan aku hingga ujung waktu ku
Selalu..
Tepuk tangan riuh
membuat Rio dan Ify menoleh. Terlihat siswa-siswi yang heboh di sekitar ambang
pintu ruang musik dan sebagian pun sudah masuk ke dalam, sebagian lagi ada yang
melihat dari jendela. Termasuk Sivia dan Alvin disana.
“duet kalian bikin
merinding” ujar Sivia yang diangguki setuju lainnya. Rio dan Ify salah tingkah.
Tidak menyangka jika kepergok seperti ini.
“feel-nya dapet
banget, bro” sambung Alvin yang lagi-lagi diangguki setuju dari yang lain. Rio
menggaruk-garuk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal, sedangkan Ify menunduk
malu.
“udah deh, sana ke
kelas. Ganggu aja. Udah bel tuh” seru Rio yang mengundang sorakan heboh dari
mereka semua. Rio cengengesan.
“tau deh yang mau
berduaan. Lo juga kali harus masuk kelas” ucap Alvin.
“iye, entaran. Sana
lo.” Semuanya kembali melangkah menuju kelas masing-masing. Kini tinggal Rio
dan Ify yang berdua lagi disana. Rio menoleh ke arah Ify yang masih menunduk.
Pemuda itu tertawa kecil melihat tingkah laku pujaan hatinya. “Fy? Udah pada
pergi tuh.” Ify mendongak.
“eh? Eng..gue ke
kelas duluan” ujar Ify kikuk dan ingin beranjak dari sana. Namun, Rio menahannya.
“jam tiga gue tunggu
di bukit biasa. Tau ‘kan?” Ify mengangguk sembari mengernyit heran. “nanti juga
lo tau.”
“em, oke. Gue duluan
deh. Bye, Rio.” Ify berlari kecil keluar ruangan. Rio tersenyum menatap
punggung gadis itu. Dengan langkah santai dan kedua tangannya yang ia masukkan
ke saku celana abu-abunya, ia mengikuti langkah Ify, keluar ruangan musik itu
menuju kelasnya.
====A Turning====
Ify menghampiri Rio
yang telah duduk di puncak bukit dengan langkah sedikit terseret. Lelah juga
berjalan kaki dari rumah sampai bukit ini. Ternyata cukup jauh juga. Ia
langsung terduduk lemas di samping Rio. Rio yang merasakan kehadiran Ify
langsung menoleh dan menatapnya heran.
“lo habis mandi
keringat ya, Fy?” tanya Rio yang membuat Ify menoyor kepalanya.
“capek tau” ujar Ify
yang masih tersengal.
“lo marathon?” Kali
ini Ify menjitak kepala Rio. Pemuda itu hanya meringis.
“gue jalan kaki noh
dari rumah.” Rio melotot mendengarnya. Rumahnya ‘kan lumayan jauh dari sini,
bisa-bisanya jalan kaki, gempor deh tuh kakinya, pikir Rio.
“kenapa gak minta
anter apa naik mobil aja, Fy?”
“Kak Cakka molor,
Deva molor juga. Mereka itu paling males dan pelit bensin. Kak Gabriel lagi ada
kerjaan di sekolah. Kak Shilla ada jadwal kampus siang, belum pulang. Mobil gue
lagi mogok. Supir? Gak punya” jelas Ify panjang lebar sembari meluruskan
kakinya. Rio menatapnya dengan tersenyum. Ify yang merasa tidak ada respon
sontak menoleh. Kedua pasang mata itu bertemu. Membuat irama detak jantung
kedua insan itu lebih cepat dari biasanya. Membuat dada kedua insan itu
berdesir hebat. Membuat kupu-kupu di sekitar perut mereka berterbangan
menggelitik. Seakan waktu itu berhenti. Menyisakan satu titik harapan. Angin
berhembus yang menerpa wajah mereka membuat Rio dan Ify tersentak. Saling
memalingkan muka menyembunyikan semburat merah di kedua pipi mereka. Berusaha
menetralisir detak jantung itu.
“ah..emm, Yo. Disini
ada jual minum gak? Haus nih” tanya Ify yang berusaha sebiasa mungkin.
“ada kok. Tuh
disana” jawab Rio serileks mungkin sembari menunjuk gerobak penjual minum dan
makanan di kaki bukit.
“gue beli minum dulu
deh.” Belum Ify berdiri, Rio menahannya.
“biar gue aja. Lo
tunggu sini.” Rio beranjak sebelum Ify menolak. Ify menatap punggung tegap
pemuda itu. Mengapa akhir-akhir ini pikirannya selalu menyangkut tentang dia?
Apa benar ini jatuh cinta? Pikirannya terus berkecamuk. Ia menatap kosong ke
arah depan. Bertanya-tanya atas perasaannya saat ini. Hingga sesuatu yang
dingin menempel di pipi kanannya. Ify menoleh dan mendapati Rio yang tengah
tersenyum padanya sambil menempelkan botol air mineral dingin di pipi kanannya.
“nih.” Ify
mengambilnya.
“thanks” ujar Ify
yang kemudian meneguk air mineral itu hingga setengah botol.
“sama-sama” jawab
Rio sambil kembali memposisikan duduk disamping Ify.
“eh gila, gue udah
kayak orang dehidrasi aja deh.” Rio yang mendengarnya tertawa kecil. Ini yang
ia suka. Ia sangat suka dengan gadis ini dengan sifatnya yang seperti saat ini.
Ceria, penuh tawa, penuh senyum, penuh canda yang bisa membuatnya ikut
tersenyum dan tertawa. “ketawa lo.”
“haha kagak, gue
lagi konser.”
“waahh, konser lo
bikin gue merinding, Yo.” Rio menoyor Ify.
“kurang asem lo. Lo
kira tawa gue mirip mbak kunti gitu? Beda banget tau.” Ify cengengesan.
“hehe yaa..lo ‘kan
adiknya mbak kunti, jadi mirip-mirip lah.” Kali ini Rio mencubit pipi Ify.
“lo itu bisanya
ngeledekkin gue mulu. Sekali-sekali kek muji gue yang ganteng nan kece tiada
tara ini” ujar Rio sambil melepaskan cubitannya.
“iih, sakit. Lo
narsis banget jadi cowok. Gue penasaran gimana gaya lo kalau lagi difoto. Kayak
cowok-cowok alay begitu kali ya.”
“elah, Fy. Gue gak
alay tau, gue kalau difoto selalu cool.”
“wah, perlu
dipanasin dulu tuh.”
“lama-lama gue gigit
lo.”
“sejak kapan lo jadi
ganas begini, Yo?”
“sejak gue cinta
sama lo.” Ify terdiam. Rio tersenyum puas melihat keterdiaman Ify. “sejak itu
gue jadi ganas buat dapetin elo. Gue gak bakal tinggal diam kalau elo
digangguin orang, ataupun elo direbut orang lain.” Ify tertunduk. Lagi-lagi
pemuda ini berhasil membuatnya merona dan tersentuh. Perlahan, Rio menarik
tangan Ify dan menggenggamnya. Ify kembali terhenyak, kini ia sontak menoleh.
Menatap pemuda itu yang masih tersenyum manis padanya. “Fy, lo pasti udah tau
gimana perasaan gue ke elo. Rasa itu terus tumbuh seiring berjalannya waktu. Lo
tau? Selama elo sakit kemarin, gue gak bisa tenang. Rasanya gue selalu pengen
di samping lo, jagain lo. Tapi apa daya, elo dimana..sedangkan gue dimana”
jelas Rio yang diakhiri dengan tawa kecilnya.
“walaupun gue udah
lama nyimpen perasaan ini ke elo, tapi gue gak pernah berani buat nanya dan
minta satu hal sama lo. Lagipula, waktu itu masalah lo terlalu berat. Gue gak
mau buat lo tambah terbebani. Dan sekarang mungkin waktu yang tepat..” Rio menghela
nafas sejenak. Ify terus menunggu kalimat-kalimat yang dilontarkan dari Rio
dengan jantungnya yang sudah berdetak tak karuan. “..Fy, gue mau tanya dan
minta satu hal itu sekarang. Lo mau jadi pacar gue?” Ify bergeming. Masih diam
sembari menyelami mata tajam tetapi lembut dan menenangkan itu. Mencari sebuah
kepastian dan ketulusan. Rio dengan sabar dan cemas menunggu jawaban yang akan
Ify lontarkan atas pertanyaan itu. Tak lama, dengan perlahan Ify membalas
genggaman Rio. Gadis itu tersenyum manis yang semakin membuat jantung Rio
berdetak lebih kencang.
‘you’re smile make me crazy’ batin Rio
saat itu.
“rasa ini muncul
tiba-tiba waktu itu. Gue selalu bertanya-tanya tentang perasaan ini. Di
sela-sela beban masalah itu, gue merasa ada hal yang aneh dalam diri gue.
Pikiran gue selalu melayang ke satu titik. Satu titik yang buat gue bisa jadi
lebih baik. Lo tau? Satu hal yang sudah gue ketahui. Satu hal yang perlu elo
tau. Satu hal yang bisa jadi jawaban dari pertanyaan lo itu. Satu hal itu..”
Ify terdiam dan kemudian perlahan mencium pipi kiri Rio yang membuat pemuda itu
terbelalak tak percaya. Ify tersenyum padanya setelah kembali ke posisi seperti
semula. “..gue sayang lo, Mario.” Rio masih tak habis pikir. Pemikirannya
tentang Ify tidak memiliki perasaan apa-apa terhadapnya ternyata tidak benar.
Gadis ini mempunyai perasaan yang sama sepertinya. Ify melengos melihat Rio
yang masih diam.
“Rioooo” panggil Ify
setengah berteriak. Rio tersentak.
“eh? Iya.
Jadi..lo...?” Ify mengangguk. Ify menahan Rio yang ingin memeluknya.
“yaahh..kenapa? Lo ‘kan udah jadi milik gue” ujar Rio memelas. Ify tertawa
melihat raut wajah pemuda itu yang menurutnya lucu.
“haha melas amat,
Yo. Emang sih gue udah jadi milik lo, tapi apa udah direstuin sama keluarga
gue?”
“ah, itu mah gampang
kali minta restu sama keluarga lo. Entaran aja. Gue mau peluk elo ini, udah
gatel.”
“yaelah, ya udah,
pulang dari sini lo ke rumah gue, minta izin sono. Garukin, Yo, kalau gatel.”
“tanpa lo suruh juga
gue ke rumah lo. Gue ‘kan nganterin elo pulang. Elo yang garukin.”
“iya deh.
Yeeee..maunya elo itu mah. Gue ogah.”
“yaah, Fy,
garukinnya pakai pelukan.”
“pelukan tuh sama
botol minum” ujar Ify sambil menyodorkan botol minum air mineralnya.
“gak mau, gue maunya
sama lo.”
“ogah.” Ify berlari
menghindari Rio, tetapi pemuda itu tidak ambil diam. Hingga terjadilah aksi
kejar-kejaran di puncak bukit yang cukup luas itu. Seperti mendapat pencerahan,
di atas kepala Rio muncul lampu yang berisi satu ide.
“aww..” ringis Rio
sembari memegangi perutnya. Ify yang mendengar ringisan Rio menoleh dan berlari
menghampiri kekasihnya.
“kenapa, Yo?” tanya
Ify cemas.
“perut..gue..sakit,
Fy” ucap Rio. Hatinya tersenyum puas melihat Ify yang telah terjebak dengan
tipuannya. Gadis itu terlihat khawatir.
“aduh, sakit gimana?
Lo ada maag ya? Atau lo mau...panggilan alam?” Ingin rasanya Rio tertawa saat
itu ketika mendengar pertanyaan lucu Ify, namun jika ia tertawa aksi tipu ini
akan gagal.
“gak tau, Fy,
mungkin maag. Tapi gue gak inget kalau gue punya maag.”
“elo sih, pasti gak
makan siang tadi.” Rio terus meringis. Ify bertambah khawatir. “aduh, gimana
nih..”
“mungkin..satu yang
bisa buat perut gue sembuh.” Ify menatapnya bertanya.
“apa itu?” Dengan
sigap Rio memeluk Ify. Ify mendelik.
“Yo..” Rio tertawa
kecil sambil terus memeluk Ify.
“apa, Fy? Maaf ya,
elo kena tipu.” Ify melotot. Dasar bocah, umpat Ify dalam hati.
“ih, Rio. Gue udah
khawatir banget elonya malah nipu gue. Jahat ah.”
“hahaha, maaf deh.
Tapi kalau gue gak tipu lo begini, gue gak bakal bisa meluk elo.” Ify tersenyum
dan kemudian membalas pelukan Rio.
‘kalau elo gak tipu
gue, gue gak bakal bisa ngerasain nyamannya di pelukan elo, Yo’ batin Ify.
“dasar tukang tipu lo. Liat aja nanti pembalasan gue.”
“gue tunggu itu,
Nyonya Mario.”
“apaan sih. Norak
lo.”
“walapun norak, elo
tetep suka ‘kan?” Wajah Ify memanas. Ify memukul pelan punggung Rio.
“diem deh.” Secepat
kilat, Rio mencium pipi kanan Ify.
“balasan yang tadi”
ucap Rio dan kemudian berlari.
“Riooooo.”
-TAMAT-
1 komentar
Where to Bet on Sports To Bet On Sports In Illinois
BalasHapusThe best 토토사이트 sports bet types and bonuses available in Illinois. The most common sports betting deccasino options available. Bet $20, Win $150, 바카라 Win herzamanindir.com/ $100 or goyangfc