AWALNYA DARI JASON MRAZ (RIFY) (Bag. A)


Sedari tadi gadis itu terus mencari-cari keberadaan kaset musik yang akan ia beli. Kaset musik Jason Mraz. Penyanyi internasional yang sangat terkenal dengan lagu I’m Yours.
            Cukup lelah setelah 20 menit lamanya ia tidak menemukan kaset itu. Ia berpikir bahwa kaset itu telah dibeli orang. Tapi padahal, baru saja kemarin ia melihat kaset itu tersusun rapi dan banyak di rak kaset tersebut. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

            “dimana sih?” gumamnya kelelahan. Kemudian matanya berbinar ketika melihat satu kaset yang sedari tadi ia cari. Dengan segera gadis itu menghampiri dan ingin mengambil kaset itu. Namun disaat ingin mengambil kaset itu, tangannya bertumbukan dengan tangan seseorang. Ia tersentak dan refleks menoleh. Gadis itu mendapati seorang pemuda hitam manis yang juga tengah menoleh padanya. Matanya yang tajam tetapi lembut itu menatap ke arahnya.
            Cukup lama aksi tatapan itu terjadi, hingga gadis itu tersadar dan segera menjauhkan tangannya.

            “eh? Ma...maaf. Ambil aja kasetnya” ucap gadis itu kikuk menahan malu. Pemuda itu bergeming. Hanya terus menatap sang gadis. Ia melepaskan headseat putih yang bergelantung di kedua telinganya. Gadis itu yang terus ditatap tajam, menunduk sedikit takut dan bercampur malu. Wajahnya sudah merona. Lagi-lagi ia tersentak tatkala sebuah kaset yang ia kenali terulur kehadapannya. “eh?” Ia kembali menoleh ke pemuda tersebut.

            “lo aja yang ambil. Gue cari kaset lain” ucap pemuda itu tanpa ekspresi. Gadis itu mengambilnya dengan gugup.

            “makasih” ucap gadis itu terbata. Tanpa disangka pemuda tersebut tersenyum kearahnya walaupun hanya sebuah senyuman tipis. Gadis tersebut terpana melihat senyuman itu. Senyuman yang menurutnya sangat manis. Lamunannya buyar ketika seseorang memanggil namanya.

            “Ify. Udah belom? Lama banget sih? Gue tungguin juga daritadi.” Ify yang ternyata nama gadis itu sontak menoleh. Mendapati kakaknya tengah menghampiri.

            “iya, Kak.”

            “ngapain aja sih?” Baru Ify ingin menjawab, pemuda disampingnya membuka suara.

            “Cakka?” Cakka-kakak Ify-menoleh dan kemudian tersenyum lebar.

            “woy, Yo. Ngapain lo disini?”

            “biasalah.”

            “ehem” deheman Ify mengalihkan pandangan Cakka. Ia cengengesan.

            “hehe. Oh, ya, Yo, ini adek gue, kenalan gih” -_- Ify melongo mendengar kalimat dari sang kakak tersebut. Memang kakaknya satu ini agak kurang gimanaaa gitu. Pemuda itu mengulurkan tangannya.

            “Mario Stevano Aditya, panggil aja Rio” ucap pemuda tersebut yang bernama Rio. Ify sedikit gugup ingin menjabat tangan Rio. Mungkin sudah kepincut hatinya.

            “Alyssa Saufika, panggil Ify.” Rio tersenyum. Mereka melepaskan tangannya yang saling bertaut satu sama lain. Ify merasakan genggaman Rio sangatlah hangat.

            “kok gue baru tau lo punya adek, Cak?”

            “Kka. Jangan Cak.”

            “iyee.”

            “pindahan dari Bandung, Kak” jawab Ify yang sudah mengetahui kalau kakaknya menjawab pasti akan bertele-tele. Rio hanya membulatkan mulutnya dan mengangguk-ngangguk mengerti.

            “kita duluan, Yo. Gue banyak job sih. Dasar adek gue ini maksa buat nemenin dia kesini.” Ify yang sudah geregetan dengan kakaknya itu, langsung saja mencubit lengan Cakka. “aduuhh. Lo di Bandung dikasih makan apaan sih? Ganas banget pindah kesini.” Ify melotot. Rio cekikikan melihat tingkah laku kakak beradik itu.

            “Kak, kita duluan ya. Gue juga mau kasih obat ke Kak Cakka. Habisnya dia kurang obat sih, jadinya begini deh.”

            “yaelah, Fy, emangnya gue sakit apaan? Sampe mau dikasih obat segala” sahut Cakka.

            “sakit jiwa” jawab Ify singkat. Cakka menjitak kepala adiknya. Ify hanya meringis.

            “gue waras woy.”

            “au ah. Duluan ya, Kak” pamit Ify sambil tersenyum manis. Dan kemudian ia menggeret kakaknya menuju kasir.

            “duluan, Yo.” Rio hanya mengangguk yang masih saja terkekeh.
Ia akui, ada perasaan aneh ketika peristiwa tangannya dan tangan Ify bertumbukan tadi. Tetapi, ia tidak tahu perasaan apa itu. Ia juga mengakui, bahwa ada yang berdesir ketika melihat senyum manisnya Ify. Dan ia pun mengakui, bahwa ada yang bergetar hebat ketika menatap mata bening gadis itu. Apa mungkin...

            “jatuh cinta?” gumam Rio. Kemudian ia menggeleng-geleng pelan berusaha menepis apa yang ada dipikirannya.

*

“nama saya Alyssa Saufika Umari, bisa dipanggil Ify. Saya pindahan dari Bandung. Terima kasih” ucap Ify dengan tersenyum manis di depan kelas barunya.

“baiklah. Silahkan duduk disana ya” ujar Ibu Hetty sembari menunjuk sebuah bangku kosong disebelah bangku seorang siswi cantik berkulit putih dan bermata sipit. Ify menurut dan melangkah menuju bangku yang ditunjuk Ibu Hetty tadi. Sesampainya, siswi itu mengulurkan tangannya dan tersenyum ramah.

“gue Sivia Azizah, panggil aja Sivia.” Ify menyambut uluran tangan itu dan membalas senyum.

“udah tau ‘kan? Hehe.” Sivia terkekeh dan mengangguk.
Mereka serentak menoleh ke depan ketika Ibu Hetty mulai menjelaskan pelajarannya. Pikiran Ify seakan melayang jauh.

‘kata Kak Cakka kemarin, Kak Rio satu sekolah dengan dia. Dan gue juga sekolah di tempat Kak Cakka. Jadi..gue satu sekolah dong sama Kak Rio? Huwaahh. What a surprise for me’ batin Ify yang sudah ngelantur kemana-mana. Sivia yang iseng melirik ke arah Ify mengerutkan kening heran ketika mendapati Ify yang sedang senyum-senyum.
Tak lama suara bel istirahat pun berbunyi. Menyelamatkan sebagian murid di SMA Ganesh Intern yang mungkin sedang dibimbing oleh guru terkiller.

“Fy, kantin yok” ajak Sivia. Ify menoleh dan tersenyum.

“cabut.”

*

            Sivia menggeret Ify menuju satu meja kantin yang telah diisi oleh empat orang pemuda. Ify yang ditarik-tarik seperti itu hanya bisa pasrah dan komat-kamit merutuki Sivia yang menarik kuat lengannya.

            “boleh gabung, Kak?” tanya Sivia kepada siapa saja di meja itu. Namun yang paling bersemangat meresponnya seorang pemuda jangkung dan hitam manis.

            “boleh dong. Silahkan” ucap pemuda itu sembari menggeser sedikit duduknya ke samping yang memang berada diujung bangku. Terpaksa yang disebelahnya pun ikut bergeser. Ify duduk di sebelah Cakka yang duduk berhadapan dengan bangku yang ditempati Sivia dan tiga siswa itu.

            “siapa nih murid baru?” tanya pemuda bermata sipit.

            “adek gue nih. Fy, itu sobat-sobat gue yang kece. Tapi tetep masih lebih kece gue” ujar Cakka sekenanya. Pemuda sipit itu menoyor Cakka.

            “Ify”

            “Gabriel panggil aja Iel.”

            “Ify.”

            “Alvin.”

            “kalo gue udah tau dong” ucap pemuda hitam manis yang duduk di tengah-tengah Alvin dan Gabriel. Ify tersenyum malu-malu dan mengangguk.

            “beneran ini adek lo, Kka?” tanya Alvin tak percaya.

            “yeee, lo gak percaya banget sih. Ini adek gue kandung. Asli dari rahim emak yang sama.” Alvin menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “emang kenapa sih?” tanya Cakka.

            “enggak sih. Cuma...beda banget sama lo.”

            “ya iyalah, gue cowok, dia cewek. Gue cakep, dia jelek.” Ify yang jengkel menoyor kepala Cakka.

            “urusan lo sama gue, berlanjut di rumah” ujar Ify jutek. Cakka cengengesan.

            “salah, Kka. Yang ada dia cakep, elo jelek” sambung Rio yang langsung membuat pipi Ify merona.

            “elah, gue kece juga.”

            “wooooo” sorak Alvin semangat. Cakka hanya menutup kedua telinganya.

            “waahh ada yang blushing nih” ucap Gabriel yang membuka suara. Sivia yang disebelahnya ikut melihat ke arah Ify. Ia terkikik geli.

            “haha. Muka lo kenapa, Fy? Kok merah merona gitu sih?” goda Sivia. Ify bertambah malu karena ketangkap basah malu-malu seperti itu. Yang lain ikut memperhatikan. Rio yang melihat itu hanya tersenyum kecil. Lucu, pikirnya yang kira-kira seperti itu.

            “iihh, jangan ngeliatin gitu dong. Gue malu nih” ucap Ify sambil menutup wajah dengan kedua tangannya. Semuanya tergelak melihat tingkah Ify.
            Tak lama, datang dua orang siswi yang seketika menghentikan tawa mereka.

            “hey. Gabung, boleh?” tanya siswi yang berambut panjang. Cantik. Alvin melihatnya semangat dan kemudian menggeser duduknya. Rio semakin terhimpit.

            “sini, Shill.” Siswi yang dipanggil ‘Shill’ itu langsung tersenyum manis dan mengambil posisi duduk di samping Alvin.

            “buset. Gue kegencet nih” keluh Rio.

            “pindah sono. Ganggu aja yang jomblo” ujar Alvin. Rio menoyor Alvin dan kemudian beranjak dari tempat duduknya. Ify yang melihat Rio mengarah ke sampingnya langsung kotar-katir.

            “Fy, gue duduk sini ya” ujar Rio meminta izin. Ify hanya bisa mengangguk malu tanpa menatap wajah Rio. Senang? Pastinya.

            “Ag, sini dong, sama abang Cakka yang paling ganteng dan kece ini.” Siswi yang agak tomboy itu hanya pasrah menurut duduk disamping Cakka.

            “narsis lo udah kelebihan batas, Kka” ujar siswi itu. “eh? Siapa nih” ceplos siswi tomboy itu yang tak sengaja melihat ke arah Ify dan mengundang perhatian semua yang ada di meja itu.

            “adek gue nih.” Ify tersenyum.

            “Alyssa Saufika Umari, panggil aja Ify.”

            “gue Agni Tri Nubuwati panggil Agni.”

            “gue Ashilla Zahrantiara, Shilla.”

            “jadi ini yang namanya Kak Agni” ceplos Ify. Agni menoleh dan mengerutkan keningnya. “Kak Cakka sering cerita tentang elo, Kak. Lo hebat, Kak, bisa naklukin jiwa playboynya dia.” Agni tertawa kecil. Cakka melotot ke arah Ify. Dia siap-siap untuk menjitak kepala adiknya itu. Aib kok diumbar-umbar. Ke pacarnya lagi.

            “huwaaaaaa, Kak Rio tolongin gue. Ada  yang ngamuk” ucap Ify sembari menarik-narik lengan Rio yang disampingnya dan mengamankan kepalanya dari serangan Cakka. Rio hanya pasrah ditarik-tarik seperti itu. Ada sesuatu yang aneh bergetar di dalam raganya ketika gadis itu memegang lengannya, ketika gadis itu berteriak manja padanya, ketika gadis itu berada disampingnya.

*

            Ify berjalan sedikit terseok. Lelah. Mungkin itulah yang tergambarkan pada gadis satu ini.

            “kita mau kemana sih, Kak? Daritadi ngelilingin taman doang” ucap Ify lemas. Rio yang berjalan disampingnya menoleh dan tersenyum.

            “sebenernya sih gue mau survei tempat” jawab Rio. Ify menoleh pada Rio yang kini tengah menatapnya.

            “survei tempat? Buat apaan? Buat piknik ya? Ikut dong, Kak.” Rio tertawa melihat tingkah gadis satu ini. Ia mengacak-ngacak rambut Ify yang seketika membuat Ify manyun.

            “bukan. Disuruh bokap. Entahlah buat apa. Mungkin mau dinner sama nyokap.”

            “iihhh..sweet banget sih.” Rio kembali tertawa.

            “kita kesana yuk. Lo pasti laper” ajak Rio ke tempat warung bakso yang tak jauh dari taman itu. Ia menggandeng tangan Ify tanpa sadar. Ify yang diberlakukan seperti itu spontan merona. Tetapi tetap diam.
            Sesampainya, Rio langsung memesan dua mangkuk bakso dan dua es teh. Ia sedikit heran karena tidak mendengar celotehan dari Ify. Biasanya gadis satu itu paling anti diam.

            “kenapa, Fy?” Ify yang ditanya seperti itu langsung menoleh dan refleks menggeleng. “bener?” Ify hanya mengangguk. “serius?” Ify lagi-lagi hanya mengangguk. “gak bohong?” Karena jengkel juga ditanya-tanya terus, Ify memukul pelan lengan Rio. Pemuda itu tertawa kecil.

            “lo cerewet, Kak.”

            “siapa yang lebih cerewet?” Ify memajukan bibirnya sembari mengembungkan kedua pipinya. Membuat Rio semakin gemas. Ia mencubit pipi Ify.

            “aduuuhh, sakit tau, Kak.”

            “hehe maaf, maaf. Habisnya gue geregetan sama lo sih. Lo lucu.” Seketika pipinya kembali blushing. Ah! Pemuda satu ini memang paling suka membuatnya merona. Senda gurau mereka berhenti ketika pesanan mereka datang.
           
            “hai, Fy” sapa seseorang yang tiba-tiba. Membuat Ify maupun Rio menoleh serempak. Ify sedikit mengerutkan kening heran. Berusaha mengingat-ngingat siapa orang itu. “Debo. Masa’ lo lupa sih?” Ify langsung berbinar.

            “Debo? Waahhh, gue sampe pangling liat lo. Gue kirain siapa.” Debo tersenyum. “lo makin kece deh haha.” Ada perasaan aneh ketika mengetahui gadis itu dekat dengan seseorang lain. Perasaan marah? Kecewa? Sedih? Entah apalah. Ia sendiri pun tak tahu.

            “memang lo paling bisa ngegombal.” Ify terkekeh. “siapa, Fy?” Ify menoleh ke arah Rio sekilas dan tersenyum.

            “kenalin, Deb, ini Kak Rio. Kakak kelas gue yang paliiiinngg handsome.” Wajah Rio seketika memanas ketika gadis itu memujinya. Debo mengulurkan tangannya dan disambut baik oleh Rio.

            “Andryos Aryanto, Debo.”

            “Mario Stevano Aditya, Rio.” Mereka saling melepaskan tangannya satu sama lain. Namun, Rio merasakan pandangan Debo ke arahnya sungguh berbeda ketika Debo memandang Ify. Tersirat suatu pandangan sinis. Rio melanjutkan melahap baksonya, tidak ingin mengambil pusing dengan itu.

            “kapan lo sampai kesini, Deb?” tanya Ify.

            “baru kemarin kok.”

            “lagi liburan ya?”

            “iya nih. Guru-guru pada ada tour gitu ke Bangka. Jadi kami diliburkan selama satu minggu.”

            “waahh, enak banget deh.” Debo tersenyum. “eh? Makan dulu, Deb.” Debo hanya mengangguk.

            “Kak Rio” panggil Ify. Rio menoleh. “disini ada jual es krim gak?” Rio mengedarkan pandangannya ke seluruh taman itu.

            “tuh. Disana” tunjuk Rio pada gerobak es krim. Lumayan jauh dari tempat mereka makan.

            “gue mau beli es krim nih, Kak. Kakak mau?” Rio tersenyum kecil dan menggeleng.

            “gak usah, Fy.”

            “lo, Deb?” Sama hal-nya dengan Rio, Debo menggeleng.

            “gak usah.”

            “ya udah deh, gue kesana dulu ya” ucap Ify sambil beranjak. Namun, langkahnya tertahan ketika Rio menahan lengannya. Ify menoleh dengan wajah yang merona.

            “perlu gue temenin?” Ify menggeleng.

            “gak usah, Kak.” Rio tersenyum dan kemudian melepaskan tangannya yang semula menahan lengan Ify. Gadis itu berlalu. Rio menatapnya yang menjauh. Entah sejak kapan perasaan ini muncul. Debo berdehem pelan membuat Rio menoleh sekilas dan kemudian menyeruput es teh-nya.

            “siapanya, Ify?” tanya Debo. Rio menoleh.

            “kakak kelasnya.”

            “oh. Gue harap lo jauhin dia.” Rio yang tengah minum es teh-nya, tersedak.
           
            “uhuk..” Rio segera menetralisirkannya. “maksud lo apaan nih?” tanya Rio sinis. Debo tersenyum miring.

            “karena gue..”

*

            Ify tersenyum sumringah ketika melihat Rio melangkah santai di koridor sekolah. Ia segera menghampiri pemuda tersebut. Cakka yang berada disampingnya mendengus sebal.

            “elah, gue tau lo lagi kasmaran. Tapi gak pakai ngacangin gue yang ganteng ini  juga kali” gumam Cakka. Ia mengikuti Ify dari belakang.

            “pagi, Kak” sapa Ify. Rio berhenti sejenak. Kemudian ia melangkah kembali tanpa menoleh sedikit pun ke arah gadis itu. Ify mengerutkan keningnya heran. Rasa sesak menyergap dalam dada-nya ketika diperlakukan seperti itu. “Kak? Lo kenapa? Cuek banget deh. Tungguin gue yang cantik ini dong.” Rio ingin tertawa geli mendengar kata-kata narsis dari adik kelasnya itu. Tetapi, kejadian kemarin membuatnya menahan diri. Ify yang merasakan tidak ada respon sama sekali dari Rio, segera menahan lengannya. Rio berhenti, tetapi tetap tidak menoleh sama sekali.

            “Kak?” Rio menghela nafas berat.

            “jauhin gue.” Ify terbelalak. Kalimat singkat yang membuat hatinya seakan tertusuk. Nyeri. Ada apa sebenarnya yang terjadi dengan pujaan hatinya itu?

            “Kak? Ma..maksud lo apa sih?” tanya Ify yang nadanya mulai bergetar menahan tangis. Ingin rasanya Rio memeluk tubuh mungil itu. Ingin rasanya Rio membelai rambut panjang dan hitam itu. Sekedar menggenggam tangannya pun sudah cukup bagi Rio untuk mencegah air mata gadis itu keluar.

            “jauhin gue” ucap Rio sekali lagi dengan nada yang dingin. Butiran bening itu akhirnya jatuh juga. Satu-persatu turun dari pelupuk mata beningnya. Ify menggeleng tak percaya. Padahal baru kemarin mereka bercanda, mengurai tawa bersama, tapi sekarang..? Apa ataupun siapa yang membuat pemuda itu bersikap seperti itu padanya? Rio menepis sedikit kasar tangan Ify dari lengannya. Ify hanya mematung disana. Menatap miris kepergian Rio.
            Cakka yang baru datang menghampiri Ify bersama dengan Agni, sedikit heran melihat adiknya satu itu.

            “Fy? Kenapa lo?” tanya Cakka. Tak ada jawaban. Ia terkejut tatakala mendengar isakan Ify. “Fy? Lo nangis? Kenapa? Cerita sama gue. Siapa yang buat lo begini?” tanya Cakka lagi sembari memegang kedua bahu Ify yang sedikit terguncang itu.

            “Fy? Lo kenapa?” tanya Agni dengan lembut. Agni tahu kalau seseorang seperti itu harus ditanya dengan lembut. Ify hanya terus terisak. Kemudian ia memeluk Agni. Menumpahkan segala kesesakannya. Agni membelai lembut rambut Ify yang sudah dianggap adiknya sendiri. Cakka menatapnya miris. Seumur-umur dia belum pernah melihat Ify seperti ini.

            “Kak Rio..Kak Rio..kenapa..gitu..ke gue..Kak? Gue..gue salah..apa..sa..sama dia?” ucapnya terbata disela isak tangisnya. Cakka dan Agni mengerutkan kening heran. Rio? Perasaan Rio baik-baik saja dengan Ify kemarin.

            “udah, udah. Lo tenangin diri dulu ya. Nanti gue sama Cakka bakal tanya ke dia. Lo ke kelas dulu gih.” Setelah isak tangis Ify redah, ia melepaskan pelukannya. Dan kemudian mengusap air matanya yang bersisa di pipi putihnya itu.

            “makasih, Kak” ucap Ify parau. Agni tersenyum dan mengangguk. Ify berlalu.

            “Rio kenapa sih? Gak biasanya dia begini? Buat adik gue nangis lagi” ucap Cakka kesal. Ia tidak terima jika Ify disakiti. Walaupun mereka sering tidak akur, tetapi Cakka maupun Ify saling menyayangi satu sama lain.

            “udah, Kka. Gak usah pakai emosi. Bukan nyelesaiin masalah, malah jadi memperkeruh. Tanya dia baik-baik.” Cakka menghela nafas dan mengangguk. Ia menoleh ke arah Agni dan kemudian menyeringai lebar. Agni bergidik ngeri. “kenapa sih lo?”

            “hehehe gue gak salah pilih orang ternyata. Gue tambah cinta deh sama lo.” Agni semakin bergidik. Ia berlalu meninggalkan Cakka yang senyum-senyum tidak jelas. “Agniiii, tungguiiin Abang mu dong” teriak Cakka 

To be continued ..

You May Also Like

0 komentar