THIS OUR LOVE [10] (Last Part)
Cerita Sebelumnya:
“tapi...kalo nanti mereka ngejauhin gue,
gimana?” Deva menggeleng dan tersenyum meyakinkan.
“enggak. Dijamin deh, mereka gak akan
ngejauhin lo.” Ify menatap Deva. Dan kemudian tersenyum. “gak bakal juga kali
mereka ngejauhin orang yang mereka suka. Ecieeeeeee” goda Deva yang membuat wajah
Ify bersemu.
“Devaaaa, please deh. Gue tau gue cantik, tapi gak digodain juga kali.”
“wooooo, narsis lo udah melebihi batas
tau” toyor Deva. Ify tertawa.
‘ini baru kakak gue’ batin Deva
tersenyum.
====
Ify melangkah riang menuju kelasnya.
Semangatnya kembali tumbuh setelah mendapatkan pencerahan dari sang adik.
‘yaa walaupun lo sering ngeselin,
ternyata lo berguna juga, Dev’ batin Ify terkekeh. Setelah memasuki kelasnya.
Ia telah melihat empat sahabatnya yang telah duduk di bangku masing-masing dan
melamun berjamaah -_- Ify menghela nafas. Ia harus bisa menekatkan hatinya.
Kemudian ia menghampiri Dayat yang duduk di bangkunya yang tepat di sebelah
Rio.
“Dayat, lo boleh pindah lagi deh
sekarang” ucap Ify. Dayat menoleh heran.
“aduh, Fy. Pindah-pindah mulu deh. Gue
udah PeWe nih.” Ify menatap Dayat garang. Nyali lelaki itu langsung ciut.
“eehh, iya iya. Gue pindah sekarang” ucap Dayat dan langsung ngibrit ke
bangkunya yang dulu. Ify tersenyum. Ia meletakkan tasnya di atas meja dan
kemudian mengambil posisi duduk. Namun, ke-empat pemuda itu masih belum
menyadari bahwa gadis yang selama beberapa hari ini menjadi bahan pikiran
mereka itu telah duduk di tempat semula.
“woy! Kok pada ngelamun sih? Ada orang
cantik nih disini” ucap Ify yang mengagetkan Rio, Alvin, Cakka dan Gabriel.
“Ify?” ucap Rio kaget. Ify tersenyum
lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya. Alvin dan Gabriel menoleh, tak
kalah kagetnya. Cakka pun sama.
“kenapa sih pada kaget gitu? Kaget
kenapa gue tambah cantik ya? Hehehehe” ujar Ify narsis. Empat pemuda itu hanya
saling pandang. Hati mereka tersenyum dan lega. Akhirnya gadis ini kembali
ceria.
TUK! Sebuah buku tulis yang digulung
mendarat mulus di kepala Ify.
“aduuhh, Cakkaaaa. Lo bisa gak sih
sehari aja gak nganiaya gue?” Cakka tersenyum lega. Gadis itu kembali.
“hehe. Maaf, Fy. Gue Cuma mau mastiin
aja.” Ify manyun.
“mastiin apa sih? Pakai pukul-pukul
segala.”
“mastiin kalo lo udah balik lagi kayak
dulu” ucap Cakka yang membuat Ify diam. C.R.A.G menatap Ify heran. “woy,
Fy..kenape lo?” tanya Cakka yang mengagetkan Ify.
“eh? Kagaakkk.” C.R.A.G mengerutkan
keningnya serempak. “Pak Dodi tuh” ucap Ify kembali yang membuat semuanya
memposisikan duduk seperti semula. Takut jika guru itu sudah marah. Maklum
saja, Pak Dodi termasuk salah satu guru yang killer di sekolah itu.
====
Hari ini, Ify ingin menyatakan
perasaannya kepada mereka semua. Mereka harus tahu bagaimana perasaan Ify saat
ini. Gadis itu tidak ingin memberi harapan palsu yang lebih lama lagi. Rio,
Cakka, Alvin dan Gabriel sedikit heran dengan pesan teks yang dikirim Ify tadi.
Kira-kira berisi seperti ini:
“Ke
taman biasa, sekarang.”
Ify datang lebih awal dari mereka semua.
Ia termenung sembari duduk di ayunan yang sudah cukup lama dibuat itu. Walaupun
sudah lama dibuat, ayunan itu masih cukup kokoh. Ia mengayun-ayunkannya
sedikit.
“Ify” panggil C.R.A.G kompak yang juga
datang secara bersamaan. Memang sahabat sejati. Ify sedikit terlonjak. Ia
menoleh dan kemudian tersenyum.
“ada apa, Fy? Tumben ngajakin kesini”
ucap Alvin yang mewakili pertanyaan dari Rio, Gabriel dan Cakka. Mereka
menghampiri gadis itu.
“kalian duduk dulu deh” ucap Ify sambil
menunjuk bangku panjang tepat di depan ayunan yang sedang ia naiki. Mereka
hanya menurut.
“ada apaan sih, Fy?” tanya Gabriel yang
kali ini membuka suara. Ify menghela nafas. Menguatkan diri dan hatinya.
Membulatkan tekadnya.
“gue...gue mau ngomong soal perasaan gue
ke kalian” ucap Ify sedikit terbata. Empat pemuda itu menatap Ify serius. Lagi-lagi
ia menghela nafas. “jujur, gue gak nemuin perasaan yang sama kayak kalian. Gue
minta maaf karena gue gak bisa bales perasaan itu. Gue seneng kalian perhatian
ke gue, kalian care sama gue, kalian
selalu ada disisi gue, tapi gue gak mungkin bisa milikin kalian semua lebih
dari seorang sahabat. Gue gak mau kasih kalian harapan palsu. Gue gak mau
kalian sakit hati. Gue gak mau kalian sedih Cuma gara-gara gue..” Ify menarik
nafasnya panjang.
“..sumpah, waktu itu gue bingung banget
harus apa. Tapi, beruntung gue udah dapetin solusinya. Gue...gue minta maaf”
lirih Ify di akhir kalimatnya. Ia tertunduk. Tidak berani menatap wajah yang
mungkin kecewa ataupun sedih dari keempat sahabatnya itu. Ia sayang dengan
mereka. Sayang layaknya seorang sahabat. Tanpa diduga empat pemuda itu
tersenyum.
“lo gak perlu minta maaf, Fy. Kita yang
salah karena sudah punya perasaan ini ke elo” ucap Rio lembut yang diiringi
anggukan setuju dari yang lain. Ify mendongak. Mereka tersenyum. Ify ikut
tersenyum, lirih.
“gak. Kalian gak salah. Perasaan itu
muncul dengan sendirinya. Gue tau kalian juga mungkin gak akan pernah mau punya
perasaan itu.”
“ya. Perasaan ini memang muncul
tiba-tiba. Dan yang lebih mengejutkannya lagi. Kita harus punya perasaan yang
sama ke satu gadis yang sama” ucap Alvin tersenyum.
“gue mohon jangan ngejauhin gue
gara-gara perasaan gue ke kalian gak sama. Gue mohon kalian tetap jadi sahabat
gue yang terbaik” ujar Ify yang disertai meluncurnya setetes butiran bening
dari pelupuk mata beningnya itu. Empat pemuda itu menghampiri Ify.
“kita gak akan ngejauhin lo. Dan kita
akan tetap jadi sahabat terbaik buat lo” ucap Gabriel dengan lembut sambil
mengusap air mata dengan ibu jarinya.
“iya, Fy. Jangan nangis lagi dong. Keep Smile” sambung Cakka. Ify
tersenyum. Ia beruntung mempunyai sahabat seperti mereka. Sangat beruntung. Ify
berdiri dari ayunan itu. Dengan serentak empat pemuda tersebut memeluk Ify
erat. Gadis itu tersenyum bahagia. Mungkin memang inilah yang terbaik.
“udah dong. Sesak woy” seru Ify
kewalahan. C.R.A.G melepaskan pelukannya dengan cengengesan. “huh, serasa jadi
tuan putri yang lagi diperebutkan oleh para pangeran deh.”
“wooo, narsis lo” toyor C.R.A.G ke Ify.
“waaahh, sadis lo semua. Mainnya
keroyokan.” Empat pemuda itu tertawa dan kemudian berlari menghindari amukan
dari Ify. “kurang asem lo semuaaa. Jangan lari wooyy” teriak Ify.
‘ya, memang ini lah yang terbaik’ batin
Ify tersenyum.
==The
End==
0 komentar