STILL REMEMBER! (RIFY)
Aku menatap
lurus ke arah bangunan bertingkat itu. Bangunan yang menyimpan semua kisah ku
semasa aku menjadi pelajar SMP dulu. Disini aku, duduk di sebuah ayunan taman
depan gedung itu. Aku tersenyum lirih. Mengingat semua peristiwa yang mungkin
tak pernah aku lupakan.
=====
Hari ini adalah hari dimana aku
menginjakkan kaki ku di SMP. Aku bangga karena sekarang aku telah memakai
seragam putih biru. Dan aku pun lega setelah selama 1 minggu kemarin aku
menghadapi MOS dan juga LDK tanpa ada hambatan.
Aku melangkah ringan di koridor
sekolah baru ku menuju mading tempat dimana sebuah pengumuman pembagian kelas.
Ah, setelah melakukan perjuangan
menerobos gerombolan siswa-siswi disana, aku kembali melangkah menyusuri
koridor untuk mencari kelas baru ku. Tak butuh waktu lama, aku sudah menemukan
kelas itu. Kelas VII c. Kelas pertama ku di sekolah ini.
Aku sedikit terdorong ke depan
tatkala seseorang menabrak ku. Aku berbalik dan menatap orang itu dengan
tercengang. Siswa baru juga mungkin. Gayanya yaa keren lah. Tapi bukan itu yang
membuat ku terpesona, namun senyumannya yang manis. Dia juga sedikit salah
tingkah ketika aku menatapnya. Terlihat wajahnya yang memerah.
“Maaf, gue gak sengaja” ucapnya
tulus. Aku mengangguk. Berusaha bersikap cuek untuk menutupi diriku yang sempat
terpana.
Aku kembali berbalik dan melangkah
memasuki kelas. Setelah memposisikan duduk di sebuah bangku yang masih kosong
dekat jendela. Lagi-lagi aku kembali tercengang ketika siswa yang menabrak ku
tadi masuk kelas ini juga. Ia kembali tersenyum ketika dia juga melihat ku. Aku
menunduk malu. Sial! Hanya gara-gara senyumannya, pipi ku harus terus memanas.
Tak ku sadari dia duduk tepat di belakangku! Aku merasakan seseorang mencolek
bahu ku dari belakang. Aku menoleh dan benar, dia yang mencolek bahu ku tadi.
“Maaf buat yang tadi.”
“Gakpapa” ujarku yang baru membuka
suara. Ia mengulurkan tangan kanannya.
“Gue Mario Stevano, lo bisa panggil
gue Rio.” Aku membalas uluran tangannya dengan gugup.
“Gue Alyssa Saufika, panggil Ify.”
Ia tersenyum. Kami melepaskan jabatan tangan satu sama lain. Dan serentak aku
kembali menghadap ke depan. Berusaha menyibukkan diri dengan apa saja yang ada
di sekitar.
=====
Aku menghela nafas panjang. Yaahh,
seperti itu lah ketika aku pertama kali mengenalnya. Perkenalan yang singkat.
Masa-masa SMP tidak begitu buruk menurutku.
Masa-masa yang dominan dengan fase
persahabatan. Mencari seorang sahabat yang dapat berbagi suka dan duka. Dan
kelas pertama itu pun aku mendapat seorang sahabat yang baik, namun
penampilannya terkesan cuek. Namanya Agni.
Oh, ya, aku pun masih ingat ketika
suatu peristiwa yang membuat jantungku terus berdebar tak karuan kala itu.
=====
Cakka, sahabat dari Rio memanggil ku
ketika aku tengah berbincang dengan Agni di kelas. Aku menatapnya seolah-olah
berkata –apaan?- Dan dia yang mengerti arti tatapan ku itu pun berteriak.
“Sebentar aja.” Teriakannya
menggelagar hingga aku dan Agni harus menutup kedua telinga. Ia hanya tersenyum
lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya. Tak mau ambil pusing aku
menghampirinya.
“Ada apaan sih?” Aku sontak kaget
ketika ia menarik tangan ku menuju taman belakang. “Woy, Cakka. Ngapain sih lo?
Gue gak mau mesum sama lo tau” ucap ku yang memang sedikit ngeri. Ia menoyor
kepala ku.
“Enak aja. Gue juga gak mau. Gue
anak suci tau.”
“Muka lo, muka mesum, Kka.”
“Ifyyy, lo suka banget sih cari ribut
sama gue.” Aku menjulurkan lidah ku ke arahnya.
“Ada apaan? To the point aja. Gue banyak job.”
“Lagak lo. Gini, gue punya informasi
hot buat lo.” Aku menyernyit heran.
“Rio suka sama lo.” Aku terbelalak kaget. Aku tertawa dan berpikir kalau itu hanya
candaan Cakka saja.
“Jangan becanda deh, Kka. Kali ini
lelucon lo gak lucu.”
“Gue gak becanda, Fy. Beneran deh.
Kemarin dia bilang sendiri ke gue.” Aku terdiam. Ternyata ini keseriusan. Oh god! “Cuma dia belom berani
ngungkapinnya ke elo.”
=====
Aku tertawa kecil ketika mengingat
peristiwa itu. Dan saat itu, aku terus malu-malu kalau bertemu ataupun
berpapasan dengannya. Jantung ku terasa berdebar kencang. Dan aku juga
terkadang tak sengaja melihat dia salah tingkah ketika kami berpapasan.
Dan satu peristiwa yang membuat ku
terus tersenyum ketika mengingatnya. Peristiwa yang tak akan pernah aku
lupakan.
=====
Hujan mengguyur dengan derasnya. Dan
aku pun terjebak di sekolah. Tak bisa pulang. Melangkah menuju halte pun aku
tak punya peluang. Hujan deras itu tidak memberikan ku sedikit celah untuk
menebus tirainya. Dengan terpaksa aku duduk di bangku panjang ujung koridor
sekolah. Sialnya aku tidak membawa jaket hari ini. Hawa dingin mulai menusuk
kulit.
“Belum pulang, ya?” tanya seseorang
dengan lembut. Aku terhenyak mendengar suara itu. Suara yang sangat aku kenali.
Aku menoleh dan tersenyum kikuk. Aku menggeleng pelan, merespon pertanyaannya.
“Belum. Hujannya deras, jadi gak
bisa pulang.” Ia tersenyum dan memposisikan duduk di sampingku yang membuat ku
semakin berdebar. Sekilas ku lihat wajahnya yang memerah.
“Gue kira lo udah pulang sebelum
hujan tadi.” Aku tertawa kecil. Aku memberanikan diri untuk bertanya balik
kepadanya.
“Lo sendiri belum pulang, Yo?” tanya
ku yang sudah nervous setengah mati.
“Belum. Tadi ada urusan sebentar di
perpus. Pas keluar, ternyata udah hujan deras aja.” Aku tersenyum. Masih terus
menunduk, tak berani menatapnya, terlebih menatap matanya yang tajam namun
dapat menenangkan.
Aku memeluk diriku, guna mengusir
hawa dingin yang terus menyeruak mengerubungi tubuhku. Dan lagi-lagi aku
kembali terhenyak dibuatnya, ketika sebuah jaket tersampir di tubuhku. Aku
menoleh kaget. Ia tersenyum.
“Lo dingin ‘kan? Pakai aja, gue
gakpapa.” Aku kembali menunduk menutupi kedua pipi ku yang telah merona.
“Makasih.” Aku memakai jaket biru
putih itu dengan perasaan campur aduk. Wangi parfum jaketnya membuat ku ingin
terus memeluknya. Seakan aku memeluk dirinya.
“Ikut gue yuk, Fy” ajaknya. Aku
menoleh.
“Kemana?”
“Kantin. Beli yang anget-anget.
Mumpung kantin belum tutup.” Dan untuk ketiga kalinya, ia membuatku tersentuh.
Tangan kokohnya menggenggam tangan ku. Hangat ku rasakan. Serasa ingin terus
berada dalam genggamannya. Aku mengikutinya dengan hati yang terus berbunga.
Seandainya, waktu berhenti disini...
=====
Aku tersenyum geli mengingat
peristiwa itu yang menurutku lucu. Dua siswa-siswi yang tengah dilanda cinta
monyet.
Namun, semuanya terasa begitu cepat.
Kini kami telah keluar dari sana sebagai alumnus. Dan kembali melangkah menuju
jenjang yang lebih tinggi. Sampai saat ini, aku tidak tahu ia bersekolah
dimana. Kami berpisah sejak saat itu. Menimbulkan percikan rasa sedih dalam
benak ku. Aku menunduk dan berusaha menahan gejolak air mata ini yang ingin
keluar dari tempat persembunyiannya.
“Gue kangen elo, Yo” ucap ku lirih.
“Gue juga kangen elo, Fy.” Aku
terbelalak dan seketika mendongak. Suara itu. Suara yang sangat aku kenali.
Hanya saja lebih berat dari SMP dahulu. Aku menoleh ke sumber suara yang berada
tepat di belakang ku. Lagi-lagi aku terpana menatapnya. Dia berdiri gagah.
Masih dengan gayanya yang sama. Namun, kini ia tampak lebih tinggi dari
sebelumnya. Aku berdiri menghadapnya. Terdiam lama menikmati makhluk ciptaan
Tuhan yang menurutku sangat indah. Dan pada akhirnya, air mata ku jatuh
terurai. Dia berhasil menerobos pertahananku.
“Ri..Rio.” Ia tersenyum khas dan
kemudian melangkah menghampiri ku. Menghapus air mata ku dengan kedua ibu
jarinya. Tanpa aba-aba apapun aku menubruk tubuh tegapnya. Memeluknya erat.
Seakan tidak ingin lagi kehilangan dirinya setelah berbulan-bulan, bahkan
bertahun-tahun, hingga sekarang yang sebentar lagi kami akan mencapai kelulusan
SMA. “Gue..gue...”
“Iya, Fy, gue tau. Gue juga kangen
sama lo.” Aku terdiam dan terus terisak. Ku rasakan belaian lembut di rambutku
dan rengkuhan hangat di pundakku. “Gue juga masih sayang sama lo” ucapnya yang
kini terdengar lirih. Aku melepaskan pelukan ku, begitu pun dia.
“Gue masih sayang sama lo, Fy.
Bahkan gue cinta sama lo.” Aku menatapnya. Menyelami matanya guna mencari
sebuah kepastian dan keseriusan. Dengan perlahan ia menggapai kedua tangan ku
dan menggenggamnya hangat yang mengingatkan ku kembali pada peristiwa dulu,
dimana pertama kalinya ia menggenggam tangan ku. Ia tersenyum manis yang
membuat ku refleks menunduk untuk
menyembunyikan semburat merah yang muncul di kedua pipi ku.
“Fy?” panggilnya lembut. Aku
mendongakkan kepala, menatapnya dengan perasaan yang telah mantap.
“Gue juga sayang sama lo, Yo.”
Happy end~
0 komentar