THIS OUR LOVE [8]
Cerita Sebelumnya:
“Alvin, gue malu tau diliatin begitu”
ucap Ify yang mengundang kekehan kecil dari Alvin. Ia mengacak lembut pucuk
kepala Ify. Kemudian, tangannya merangkul Ify sembari menatap lurus ke depan,
menghadap lengkungan indah yang memiliki tujuh warna itu. Begitu juga Ify.
“Vin?”
“hm?”
“kenapa ya akhir-akhir ini kalian suka
bertingkah aneh banget kalo sama gue?” tanya Ify polos. Alvin mengerutkan
keningnya bingung lalu menoleh.
“maksud lo?”
“kalian akhir-akhir ini suka aneh tau.
Kayak tadi tuh, suka banget ngeliatin gue begitu. Bukannya gue GR ataupun apa,
gue Cuma heran aja. Biasanya juga enggak.” Alvin terdiam. Kalian? Berarti bukan
hanya dia dong. Tetapi juga Rio, Cakka dan Gabriel.
‘apa kami sama-sama....’
====
Alvin, Cakka, Rio dan Gabriel berkumpul
di sebuah café sepulang sekolah. Cakka, Rio dan Gabriel sungguh heran karena
ajakan dari Alvin tersebut. Dan lebih heran lagi kalau Ify tidak diajak. Alvin
ingin membicarakan sesuatu yang telah mengganjal hatinya kepada mereka.
“ada apaan sih, Vin? Tumben ngajakin
ngumpul begini” tanya Gabriel.
“tau nih. Cuma kita berempat lagi”
sambung Cakka. Rio hanya diam menunggu jawaban dari Alvin. Baginya pertanyaan
dari Gabriel dan pernyataan dari Cakka sudah cukup mewakili dirinya. Alvin
menghela nafas sejenak.
“gue mau tanya sama lo semua” ujar Alvin
serius. Rio, Cakka dan Gabriel mengerutkan kening heran. Tumben-tumbenan dia
serius, pikir mereka. “jujur. Apa perasaan kalian ke Ify?” Serentak Rio, Cakka
dan Gabriel terlonjak kaget.
“maksud lo apa nih?” tanya Rio yang
mulai angkat bicara. Alvin menghembuskan nafasnya.
“perasaan kalian ke Ify gimana
sekarang?” Mereka hanya diam. Alvin yang merasakan hanya diam dari
sahabat-sahabatnya itu, melengos. “jangan bohongin perasaan kalian sendiri,
bro.” Tetapi ketiga pemuda tersebut masih tetap diam.
“oke kalo kalian gak mau ngaku. Biar gue
yang mulai. Jujur, gue suka Ify” ucap Alvin yang mengundang keterkejutan dari
ketiga pemuda itu. “sejak SMA ini, gue mulai suka sama dia.” Rio, Cakka, dan
Gabriel makin tersentak. Apa mungkin mereka harus bersaing dengan sahabat
sendiri?
“gue juga suka dia” ujar Gabriel
tiba-tiba yang membuat Rio, Cakka dan Alvin menoleh. “sama persis kayak lo,
Vin. Sejak SMA ini, gue suka sama dia. Gue juga bingung kenapa bisa perasaan
gue ke dia lebih begini.”
“iya deh gue ngaku. Gue juga suka sama
Ify” timbrung Cakka. Kini pandangan Rio, Gabriel dan Alvin beralih ke Cakka.
“sejak SMA, tepatnya sejak gue ngajak dia makan es krim di taman.”
“kapan lo ngajak dia makan es krim?”
tanya Alvin yang mungkin sedikit panas mendengarnya.
“nyantai, sob. Sewaktu dia gak dijemput
pulang. Pas dimana dia nangis gara-gara Debo di taman belakang sekolah waktu
itu. Kebetulan gue lewat halte tempat dia nunggu. Ya udah gue ajak dia pulang.
Tapi, sebelum itu dia minta gue buat nganterin dia beli es krim di taman dekat
komplek” jelas Cakka panjang lebar.
“elo, Yo?” tanya Gabriel pada Rio yang
masih diam. Rio menghela nafas dan kemudian mengangguk.
“sama” jawaban dari Rio membuat mereka
terlarut dalam keheningan. Selama beberapa menit mereka terdiam. Menjelajahi
pikiran masing-masing.
“jadi gimana?” tanya Alvin memecah
keheningan itu. Rio, Cakka dan Gabriel kompak menoleh. “kita harus bersaing
gitu?” Dan lagi-lagi dengan kompak mereka mengendikkan bahu tak tahu.
“kita ungkapin ke dia sekarang. Suruh
dia kesini” perintah Rio yang membuat Cakka, Gabriel dan Alvin terbelalak
kaget.
“cepet banget udah ngungkapin gitu aja”
ujar Gabriel yang diiringi anggukan setuju Alvin dan Cakka.
“Cuma sekedar ngungkapin, kita kasih
waktu ke dia.” Ketiga pemuda itu berpikir sejenak. Dan kemudian mereka setuju.
Rio segera mengetik sebuah pesan yang dituju ke Ify untuk menyuruhnya menemui
mereka di café itu. Hampir setengah jam mereka menunggu kedatangan gadis itu.
Namun tak lama sebuah suara seseorang mengejutkan mereka dari lamunan
masing-masing.
“sorry gue telat. Macet banget dijalan”
ucap seseorang itu yang ternyata Ify. Mereka hanya tersenyum penuh arti. Namun,
gadis itu tidak menangkap arti apa-apa dari senyuman itu. Ia memposisikan duduk
di kursi yang masih kosong di meja itu, tepat menghadap keempat pemuda
tersebut. “ada apaan sih nyuruh gue kesini? Tumben amat. Gue lagi tidur juga”
cerocos Ify.
“ya elah, Fy, nyerocos mulu kerjaan lo”
ceplos Cakka. Ify memeletkan lidahnya ke arah Cakka.
“oke, jadi kita mau ngomong sama lo”
ucap Alvin serius yang membuat Ify mengernyit heran.
‘tumben’ batinnya.
“kita jamin lo pasti shock denger ini”
sambung Gabriel.
“apaan sih? Sampe segitunya.” Alvin
memberi kode dengan mengangguk untuk menyuruh mereka menyatakan perasaan itu
secara bersamaan.
“gue suka lo” ucap keempat pemuda itu
kompak. Ify terbelalak kaget. Benar kata Gabriel tadi, dijamin dia pasti shock
mendengarnya. Sangat shock. Tapi, kenapa? Kenapa mereka memiliki perasaan itu
kepadanya? Tubuhnya seakan melemas setelah mendengar ungkapan itu.
“ma..maksudnya?”
“kita punya rasa yang sama ke elo, Fy”
ucap Gabriel. Ify menggeleng tak percaya.
“tapi ‘kan kalian...”
“iya, kita tau. Kita semua sahabat lo.
Kita berempat bersahabat. Tapi, perasaan kita ini muncul sendirinya, Fy” ucap
Alvin. Ify memejamkan matanya sejenak. Dan kemudian ia menghela nafas panjang.
“gue..gue..” Lagi-lagi ia menghela
nafas. “gue gak tau” lirihnya. Keempat pemuda tersebut menatap gadis itu iba.
Kenapa mereka harus membebani gadis yang mereka cintai itu? Pikiran mereka
telah berkecamuk.
“kita cuma ngungkapin kok, Fy” ucap Rio
lembut. Ify menggaruk-garuk kepalanya bingung. Kemudian ia mendongak.
“ya udah deh, gue terima lo semua” ucap
Ify ngawur yang membuat Rio, Cakka, Gabriel dan Alvin melotot.
“buset. Maruk amat lo” ujar Cakka. Ify
cengengesan.
“habisnya, gue gak mau nyakitin hati
kalian semua. Dan gue juga gak mau buat kalian nantinya berantem, berselisih
ataupun apa hanya karena gue. Gue gak mau itu terjadi” ucapnya sangat lirih.
Gadis itu menunduk dalam. Ia merasakan sentuhan lembut di kedua tangannya.
Usapan lembut di pundak kanannya. Dan sentuhan halus di pucuk kepalanya. Ify
mendongak dan menatap keempat pemuda itu yang telah berdiri di kedua sisinya.
Tersenyum manis.
“lo butuh waktu” Gabriel berujar lembut.
“maafin kita, Fy” sambung Alvin.
“iya, Fy, maafin kita semua” ucap Cakka.
“maaf karena udah buat pikiran lo
terbebani” ucap Rio. Ify tersenyum lirih.
‘gue seneng kalo kalian ada di sisi gue.
Heuh! Gue harus apa?’
0 komentar