A Turning Part 14
A Turning àPart 14ß
(Ify: thanks buat malam ini. Gue
merasa lebih baik sekarang.)
====A Turning====
“iya, Yo. Cantik banget.” Keheningan kembali terjadi di
antara mereka berdua. Jarak mereka yang jauh seakan begitu dekat malam ini.
“Yo, nyanyi buat gue dong” pinta Ify yang membuat Rio terkejut.
“ha? Nyanyi?”
“iya, nyanyi. Gue tau lo pasti lagi megang gitar ‘kan?”
“i..iya sih. Tapi gue gak bisa nyanyi, Fy.”
“jangan bohong deh, gue juga tau lo bisa nyanyi.”
“iya deh, gue nyanyi buat bidadari gue hehe” ujar Rio
yang berhasil memunculkan semburat merah di kedua pipi Ify. Suara intro gitar
mengalun lembut terdengar sampai ke telinga Ify. Ia memejamkan mata untuk
menghayati lagu itu.
Melihat
tawamu, mendengar senandungmu
Terlihat
jelas di mata ku warna-warna indahmu
Menatap
langkahmu, meratapi kisah hidupmu
Terlukis
jelas bahwa hati mu
Anugerah
terindah yang pernah ku miliki
Sifatmu
nan s’lalu redakan ambisi ku
Tepikan
khilafku dari bunga yang layu
Saat
kau disisiku kembali dunia ceria
Tegaskan
bahwa kamu
Anugerah
terindah yang pernah ku miliki
Belai
lembut jarimu
Sejuk
tatap wajahmu
Hangat
peluk janjimu..
Belai
lembut jarimu
Sejuk tatap wajahmu
Hangat
peluk janjimu
Anugerah
terindah yang pernah ku miliki...
Ify terdiam mendengar suara lembut Rio yang sangat
berhasil menyentuh hatinya. Ia sebenarnya baru tahu kalau suara Rio selembut
itu.
“Fy? Kok diem sih? Tidur ya?” tanya Rio. Ify tersentak.
“ah, enggak. Gue masih melek nih.”
“gimana? Suara gue bagus ‘kaann?”
“narsis banget lo.”
“biarin, lo tuh bohong banget. Jujur aja deh hehehe.” Ify
melengos. Kambuh lagi sifatnya.
“iya deh, iya. Gue ngaku, suara lo bagus.” Rio bersorak
girang karena telah dipuji oleh bidadari hatinya.
“sekarang giliran elo nyanyi buat gue.” Ify melotot.
“haa? Kagak. Gue gak bisa nyanyi tau.”
“jangan bohong deh, gue tahu lo bisa nyanyi.”
“ih, copas tuh.”
“biarin, wlek. Ayo nyanyi buat gue doonng.”
“gue ‘kan udah bilang, gue gak bisa nyanyi Mario
Stevano.”
“elo bisa nyanyi Alyssa Saufika. Ayo dong, Fy, sekali ini
aja.” Ify menghela nafas. Ia melangkah menuju grand piano di sudut kamarnya.
Memposisikan dirinya duduk di bangku kecil depan piano itu. Membuka penutup
dari tuts-tuts piano tersebut. Ify meletakkan handphonenya di atas piano. Rio
mendengar intro lagu yang dimainkan Ify dengan cantik.
For all those
times you stood by me
For all the truth that you made me see
For all the joy you brought to my life
For all the wrong that you made right
For every dream you made come true
For all the love I found in you
I’ll be forever thankful baby
You’re the one who held me up
Never let me fall
You’re the one who saw me through through it all
You were my strength when I was weak
You were my voice when I couldn’t speak
You were my eyes when I couldn’t see
You saw the best there was in me
Lifted me up when I couldn’t reach
You gave me faith ’coz you believed
I’m everything I am
Because you loved me
You gave me wings and made me fly
You touched my hand I could touch the sky
I lost my faith, you gave it back to me
You said no star was out of reach
You stood by me and I stood tall
I had your love I had it all
I’m grateful for each day you gave me
Maybe I don’t know that much
But I know this much is true
I was blessed because I was loved by you
You were my strength when I was weak
You were my voice when I couldn’t speak
You were my eyes when I couldn’t see
You saw the best there was in me
Lifted me up when I couldn’t reach
You gave me faith ’coz you believed
I’m everything I am
Because you loved me
You were always there for me
The tender wind that carried me
A light in the dark shining your love into my life
You’ve been my inspiration
Through the lies you were the truth
My world is a better place because of you
You were my strength when I was weak
You were my voice when I couldn’t speak
You were my eyes when I couldn’t see
You saw the best there was in me
Lifted me up when I couldn’t reach
You gave me faith ’coz you believed
I’m everything I am
Because you loved me
You were my strength when I was weak
You were my voice when I couldn’t speak
You were my eyes when I couldn’t see
You saw the best there was in me
Lifted me up when I couldn’t reach
You gave me faith ’coz you believed
I’m everything I am
Because you loved me
I’m everything I am
Because you loved me
For all the truth that you made me see
For all the joy you brought to my life
For all the wrong that you made right
For every dream you made come true
For all the love I found in you
I’ll be forever thankful baby
You’re the one who held me up
Never let me fall
You’re the one who saw me through through it all
You were my strength when I was weak
You were my voice when I couldn’t speak
You were my eyes when I couldn’t see
You saw the best there was in me
Lifted me up when I couldn’t reach
You gave me faith ’coz you believed
I’m everything I am
Because you loved me
You gave me wings and made me fly
You touched my hand I could touch the sky
I lost my faith, you gave it back to me
You said no star was out of reach
You stood by me and I stood tall
I had your love I had it all
I’m grateful for each day you gave me
Maybe I don’t know that much
But I know this much is true
I was blessed because I was loved by you
You were my strength when I was weak
You were my voice when I couldn’t speak
You were my eyes when I couldn’t see
You saw the best there was in me
Lifted me up when I couldn’t reach
You gave me faith ’coz you believed
I’m everything I am
Because you loved me
You were always there for me
The tender wind that carried me
A light in the dark shining your love into my life
You’ve been my inspiration
Through the lies you were the truth
My world is a better place because of you
You were my strength when I was weak
You were my voice when I couldn’t speak
You were my eyes when I couldn’t see
You saw the best there was in me
Lifted me up when I couldn’t reach
You gave me faith ’coz you believed
I’m everything I am
Because you loved me
You were my strength when I was weak
You were my voice when I couldn’t speak
You were my eyes when I couldn’t see
You saw the best there was in me
Lifted me up when I couldn’t reach
You gave me faith ’coz you believed
I’m everything I am
Because you loved me
I’m everything I am
Because you loved me
Rio tercengang mendengar suara
Ify yang menurutnya sangat bagus. Sedangkan Ify tertunduk diam. Mengapa bisa ia
menyanyikan lagu itu untuk Rio, pikirnya. Ia menghembuskan nafas berat, dan
kemudian ia mengambil perlahan handphone yang sedari tadi bertengger di atas
piano.
“Yo?” panggil Ify lirih.
“eh? Iya, Fy? Kenapa? Suara lo
kok lemes banget sih? Ngantuk ya? Tidur aja gih, udah malem juga nih.” Ify
kembali ke balkon kamarnya.
“enggak, gue belum ngantuk. Besok
juga hari minggu.” Rio manggut-manggut mengerti. Lagi-lagi ia mendengar desahan
nafas berat dari seberang sana.
“lo kenapa lagi, Fy?” tanya Rio
lembut.
“gue Cuma keinget kejadian dulu,
Yo.”
“kejadian apa? Cerita aja, Fy.”
Flashback On---
Terdengar lantunan piano yang
dimainkan sangat apik dari ruang keluarga itu. Ify yang tengah menonton di
kamar Gabriel, langsung berlari keluar menuju ruang keluarga. Ia melihat papa
nya yang bermain piano dan mama nya yang berdiri di samping papanya,
menyanyikan lagu Celine Dion-Because You Loved Me. Ify bertepuk tangan heboh
ketika mereka menyelesaikan permainan musik yang bagus itu. Ia berlari ke
tengah-tengah papa dan mama.
“papa, ajarin Ify main piano dong.
Ify juga pengen bisa main piano kayak papa” ucap Ify polos. Papa nya tersenyum
sambil mengusap lembut rambut Ify.
“boleh, pasti papa ajarin.”
Kemudian Ify beralih ke sang mama.
“mama nanti ajarin Ify nyanyi ya,
biar suara Ify bagus kayak suara mama.” Mama nya tersenyum.
“iya, sayang. Kami berdua pasti
akan menjadi kan Ify yang terbaik.” Ify tersenyum riang dan kemudian bergelut
memainkan asal piano di depannya.
Itulah permulaan dimana ia bisa
mahir dalam bermain piano dan bernyanyi. Berkat orang tua nya lah, ia bisa
menjadi yang terbaik.
---Flashback Off
“tapi tadi, lo nyanyiin lagu yang
sama persis, Fy? Maafin gue yang udah maksa lo..” Ify memotong pembicaraan Rio.
“gakpapa, Yo. Justru gue
berterima kasih, berkat lo gue bisa kuat nyanyiin lagu itu.” Ify menghela nafas
panjang dan kemudian menengadahkan kepalanya, menatap bintang-bintang yang
masih setia di atas langit. Angin malam berhembus menerpa. Hawa dingin menusuk
hingga tulang. Tidak ada yang membuka suara satu sama lain. Mereka berdua
berhasil menciptakan suatu keheningan.
“Rio?”
“ya?”
“thanks buat malam ini. Gue
merasa lebih baik sekarang” ucap Ify tulus. Rio yang diseberang sana tersenyum
manis.
“iya, Fy. Apapun bakal gue lakuin
asal itu bisa buat lo bahagia” balas Rio tidak kalah tulusnya. Lagi dan lagi,
wajah Ify memanas.
====A Turning====
Gadis itu menuruni tangga
rumahnya menuju lantai bawah. Ia melihat seseorang yang tidak ingin dia temui
di ruang tamu itu. Seorang pria paruh baya. Ya, siapa lagi kalau bukan sang
papa. Ah, ia tidak ingin memanggilnya lagi dengan sebutan papa. Dengan cuek ia
melangkah menuju ruang tamu dan duduk di sebuah sofa. Ify duduk di hadapan pria
itu. Pria tersebut menoleh ke arah Ify dan kemudian tersenyum ramah.
“ada perlu apa memanggil saya
kesini, Pak Dirma?” tanya Ify pada papa nya yang bernama Dirma itu. Pak Dirma
menghela nafas berat. Sangat sulit menaklukkan hati gadis kecilnya itu.
“papa mau meluangkan waktu buat
kamu. Ayo ikut papa sekarang.” Ify mengerutkan keningnya heran.
“punya waktu? Cih! Baru sekarang.
Dulu kemana kah Anda, Pak Dirma? Sedikit waktu saja tidak ada untuk keluarga”
ucap Ify sinis. Pak Dirma menunduk sedih. Sungguh ia menyesal telah
menelantarkan keluarganya begitu saja. Tapi murni dulu ia bekerja. Pekerjaannya
sangat banyak waktu itu. Namun, ada kesalahpahaman yang ditangkap oleh sang
mama. Dan papa yang terlihat lelah pun tidak bisa lagi mengatur emosinya untuk
tetap bersabar. Dan akhirnya, ini lah yang terjadi. Mereka berpisah.
“maka dari itu, Fy. Papa mau
memperbaiki semuanya. Papa akan menceritakan semuanya dari kesalahpahaman ini.
Kita bicarakan ini di taman, ayo.” Ify menimbang-nimbang ajakan dari Pak Dirma.
Ia sendiri juga ingin tahu, salah paham apa yang terjadi disini? Sampai-sampai
ia sendiri sangat berat menerimanya kembali lagi ke keluarga. Tapi dalam hati
kecilnya pun ia sangat menginginkan keluarganya kembali lagi utuh. Ify mengendikkan
bahu dan kemudian melangkah keluar rumah. Yang diikuti Pak Dirma dengan senyum
senang.
====A Turning====
“semuanya salah paham. Waktu itu,
papa lagi banyak pekerjaan, sampai-sampai papa lembur hingga larut malam. Mama
menangkapnya salah paham.”
“tapi kenapa waktu itu tidak
dijelaskan langsung? Malah langsung emosi” ucap Ify kesal ketika mengingat papa
nya yang menampar mama.
“saat itu papa sangat lelah. Jadi
tidak bisa mengatur emosi. Papa kalap. Papa menyesal menampar mama waktu itu.”
Ify melengos. Membuang mukanya ke arah lain. “dan papa menyesal telah
menceraikan mama. Setelah kami berpisah dan selama itu, papa berusaha mencari
pengganti mama. Dan akhirnya menjalin kasih dengan wanita yang kamu temui di
cafe waktu itu. Namun, semuanya begitu cepat. Ia pergi tanpa kabar setelah
memeras uang papa. Dan semenjak itu, papa tidak percaya lagi kepada wanita
lain, terkecuali mama kamu.” Ify membuang nafas kasar. “papa harap kamu bisa
membuka pintu maaf untuk papa. Sungguh, papa menyesal. Dan jika kita sudah
berkumpul kembali, papa janji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.”
“janji? Janji yang Anda bilang
dulu kemana? Sekarang, saya tidak percaya lagi dengan janji-janji Anda ya,
Tuan” ucap Ify sarkatis.
“papa janji dengan sebuah bukti.
Bukti yang bisa membuat kamu percaya, bahwa papa memang sangat mencintai mama
dan kalian semua.” Ify diam. Memandang kosong ke arah lain. Rasanya dia ingin
sekali menerima Pak Dirma untuk menjadi papa-nya lagi, tetapi rasa kekecewaan
itu mengalahkan semuanya. Rasa kecewa itu lebih kuat dari segalanya. Tak
terasa, air matanya menetes dari pelupuk mata beningnya, namun dengan cepat ia
menghapus butiran bening itu. “Fy? Papa mohon. Kamu mau ‘kan keluarga kita
bahagia lagi, keluarga kita berkumpul seperti dulu lagi? Setidaknya papa tahu
itu keinginanmu yang papa dengar dari cerita saudara-saudara mu. Dan papa pun
bisa merasakan itu.”
“saya capek. Permisi.” Ify
beranjak dari tempat duduknya. Tetapi, langkahnya terhenti ketika Pak Dirma
kembali bersuara.
“papa akan berlutut kalau itu
bisa membuat pintu maaf itu terbuka untuk papa.” Pak Dirma perlahan menjatuhkan
lututnya ke tanah. Ify sedikit menoleh dan melihat itu dari ekor matanya.
Hatinya sedikit terenyuh. Air mata itu kembali menetes, hingga mengalir menjadi
deraian deras. “papa akan terus mencoba untuk membuka pintu maaf itu. Papa akan
terus mencoba untuk membuatmu menerima papa kembali.”
“tolong berdiri” ucap Ify tegas
dengan nada yang sedikit bergetar karena tangis.
“papa tidak akan berdiri sebelum
kamu bisa memaafkan papa. Papa sudah menyadari semua kesalahan papa. Papa
menyesali semuanya. Dan..”
“Saya bilang sekali lagi, tolong
berdiri” potong Ify lebih tegas.
“Dan papa ingin kembali membuka
lembaran baru dengan keluarga papa sendiri. Papa merindukan kebersamaan kita
dulu. Papa juga..”
“TOLONG BERDIRI!!” Pak Dirma
masih bergeming. Tetap berlutut disana.
“..sungguh menginginkan keluarga
kita kembali berkumpul. Menciptakan kebahagiaan-kebahagiaan yang berbeda. Ingin
tertawa bersama, suka duka pun bersama. Papa..” ucapan Pak Dirma berhenti
tatkala Ify menubruk tubuh Pak Dirma dan memeluknya erat. Pak Dirma terdiam.
“tolong, jangan jadikan Ify anak
durhaka. Tolong, jangan jadikan Ify semakin bersalah. Ify minta maaf.
Seharusnya, Ify tidak keras kepala. Seharusnya, Ify tidak sekeras ini. Ify
sudah memaafkan papa sejak dulu. Tapi, Ify terlanjur kecewa akibat perlakuan
papa di café waktu itu yang buat Ify menutup pintu maaf dan menutup pintu
kepercayaan itu. Walaupun Ify sempat membenci papa, tapi Ify tetap sayang papa,
tetap menganggap papa sebagai papa terbaik di dunia, sampai kapanpun itu.” Pak
Dirma ikut menangis dan memeluk tubuh putri mungilnya itu. Membelai rambut
panjangnya dengan kasih sayang.
“terima kasih, Fy. Sekali lagi
papa minta maaf.” Ify mengangguk. “jadi
kita bisa berkumpul kembali?” Ify mengangguk dengan tersenyum senang.
“pasti. Kita mulai dari awal.”
“papa janji dan akan membuktikan
bahwa papa sayang kalian semua.” Ah! Kebahagiaan itu akhirnya kembali lagi
setelah bertahun-tahun lenyap. Senyuman ceria gadis itu pun kembali. “sekarang
kita pulang dan mengumumkan ini ke semua yang ada di rumah.” Pak Dirma mengajak
Ify untuk beranjak. Ify mengangguk senang.
“ayo, Pa, kita pulang sekarang.”
Ify menarik tangan Pak Dirma menuju mobil yang terparkir di pinggir taman. Pak
Dirma tersenyum menatap keceriaan gadis kecilnya itu. Anak ini selalu bisa
membuatnya tersenyum bahagia.
====A Turning====
Ify segera memasuki rumahnya
dengan langkah ringan. Beban itu akhirnya pergi. Melayang jauh seiring dengan
datangnya kembali kebahagiaan itu. Ingin rasanya Ify berteriak senang saat ini.
Namun, mengumumkan ini kepada orang rumah jauh lebih penting.
“ada pengumuman penting untuk
kalian semua” teriak Ify yang membuat semua saudara-saudaranya keluar dari
kamar. Mereka menatap Ify heran. Benarkah ini Ify? Ify yang dulu? Dia kah
kembali? mungkin itulah pertanyaan-pertanyaan yang ada di pikiran mereka.
“Fy?” panggil Gabriel sembari
melangkah menghampiri Ify yang masih berdiri di ruang tamu dengan senyuman yang
masih merekah di wajah cantiknya.
“ya? Kenapa, Kak?” Gabriel
memegang kedua pundak Ify erat. Ify menatap kakaknya bingung. “Kak? Kenapa sih?
Kok gitu amat? Serem deh. Lo lagi gak kerasukan ‘kan?” Gabriel tidak menjawab, namun
langsung memeluk Ify erat. Ify melongo melihat perlakuan aneh dari Gabriel.
Cakka, Deva dan Shilla yang juga turun, menatap gadis itu haru. Akhirnya, gadis
itu kembali seperti dulu. Siapa pun yang membuatnya kembali, mereka sangat
berterima kasih.
“lo..lo..akhirnya balik lagi. Ini
yang gue mau. Gue kangen elo yang ceria kayak dulu, Fy. Gue ngerasa kehilangan
senyuman ceria lo. Bukan Cuma gue, tapi juga Cakka, Deva, Kak Shilla, dan
tentunya mama.” Ify baru mengerti mengapa Gabriel bersikap seperti ini. Ia
tersenyum dan kemudian membalas pelukan Gabriel tanpa berniat untuk bersuara.
Mereka melepaskan pelukan satu sama lain setelah melepas rasa rindu. Deva yang
sudah kelewat senang langsung melompat ke pelukan Ify. Ify yang memang tidak
siap hampir terjatuh ke belakang jika tidak di tahan oleh Gabriel.
“Devaaa..lo gak bisa lebih
hati-hati ya? Kalo gue yang cantik ini jatuh gimana? Mau tanggung jawab? Ha?”
semprot Ify gemas. Deva tidak membalas, malah asyik memeluk Ify.
“bodo amat! Yang penting gue seneng
lo balik kayak dulu.” Ify tersenyum dan membalas pelukan Deva. “ini yang gue
mau dari lo, Kak” sambung Deva pelan namun cukup di dengar semua yang ada
disini.
“ehem.” Deheman seseorang membuat
semuanya tersentak. Deva dan Ify melepaskan pelukan mereka dengan serentak
menoleh ke arah sumber suara. Terlihat Pak Dirma yang tengah berdiri disana.
Gabriel, Shilla, Cakka dan Deva tanpa sadar menahan nafas dan bersiap untuk
melihat aksi pertengkaran dingin yang diciptakan oleh Ify seperti biasa.
“oh ya, gue jadi lupa mau ngumumin
sesuatu” ujar Ify. Mereka menoleh ke arah Ify.
“apaan?” tanya Cakka yang membuka
suara. Ify tersenyum dan berjalan mendekati Pak Dirma. Ify memeluk Pak Dirma
dari samping, sedangkan lelaki paruh baya itu mengusap lembut pucuk kepala Ify.
Semuanya terbelalak.
“se..serius?” tanya Shilla yang
memang sedikit tak percaya. Ify mengangguk senang. Shilla tersenyum lega dan
tanpa sadar menitikkan air mata keharuan.
“akhirnya” ucap seseorang dari
balik punggung Shilla. Semuanya menoleh.
“Mama? Udah sembuh?” tanya Shilla
sembari menghampiri Mama-nya dan memapah tubuh beliau. Mama mengangguk.
“akhirnya doa mama terkabul. Kamu
bisa menerima papa lagi. Walaupun membutuhkan waktu yang cukup lama.” Ify
menghampiri sang mama.
“maafin Ify, Ma, yang terlalu
keras kepala. Sekarang mama boleh deh nikah lagi sama papa” ceplos Ify pada
akhir kalimatnya. Sebuah toyoran dari Cakka. “ih, apaan sih? Ngiri lo?”
“yeee..gue ngiri sama lo? Perlu
dipertanyakan.”
“Mamaaaa, Kak Cakka nakal” adu
Ify ke mama. Mama hanya tertawa kecil. Bahagia melihat seperti ini lagi.
“ngadu lo bisanya.” Ify
memukul-mukuli Cakka dengan ganas. “sakit woy.”
“udah ah, Fy, kasian tuh Cakka”
lerai Mama.
“tau nih. Gue tau gue cakep, tapi
gak gini juga.”
“woooo, narsis lo, Kak” seru
Deva.
“kenapa? Ngiri?”
“elo yang ngiri” teriak Ify dan
Deva serempak. Cakka menutup kedua telinganya. Gabriel dan Shilla yang melihat
itu hanya bisa geleng-geleng kepala tak habis pikir.
0 komentar