CINTA PANGERAN ELANG (RIFY)


Nampak sebuah senyuman bangga yang terpancar di paras cantik itu. Ah! Tidak menyangka kalau hari ini ia bisa memakai seragam putih biru setelah melepas masa-masa bermainnya di sekolah dasar. Tak salah-salah, sekolahnya pun sekolah unggulan di kota-nya.
            Setelah mengetahui kelas mana yang akan menjadi tempatnya belajar, gadis itu langsung bergegas menuju kelas barunya. Sesampainya, kelas sudah ramai. Tetapi, hanya beberapa yang ia kenal. Bisa dihitung lah. Gadis itu memilih duduk di dekat jendela. Pikirnya sih biar lebih adem.
            Ia menghela nafas panjang.

            ‘bosan’ batinnya. Bagaimana tidak bosan. Di kelas ini ia sama sekali belum ada teman. Teman yang ia kenal itu hanya sekedar kenal, bukan berarti teman dekat. Matanya terus jelalatan menyusuri ke seluruh sudut kelas. Namun tatapannya terhenti ketika pandangannya bersirobok dengan sebuah mata tajam seperti elang. Perasaan aneh menjalar dalam hatinya. Ia membuang muka guna menutupi wajahnya yang tengah memanas. Pemilik mata elang itu tanpa sadar tersenyum kecil ketika ia tanpa sengaja melihat semburat merah di kedua pipi gadis itu.

            ‘gue kenapa sih?’ batin gadis itu heran. Perlahan ia meraba detak jantungnya. Kencang sekali. Ia terlonjak kaget tatkala seseorang menepuk pundaknya.

            “eh? Maaf. Ngagetin ya?” Gadis itu menggeleng dan tersenyum. “boleh duduk sini? Sudah penuh semua.”

            “tentu.” Siswi itu mengambil posisi duduk di bangkunya. Kemudian ia mengulurkan tangan kanannya.

            “Sivia Azizah, panggil aja Sivia.” Gadis itu menyambut uluran tangan siswi tersebut yang bernama Sivia.

            “Alyssa Saufika Umari, panggil Ify.” Dan itulah permulaan dari persahabatan mereka.

##

            Tak terasa sudah lebih satu bulan ia bersekolah di sana. SMP Negeri *sensor* Dan tak terasa pula sudah lebih satu bulan gadis itu terus mengalami perasaan aneh ketika bertatap muka dengan pemilik mata elang tersebut yang bernama Rio. Jangankan bertatap muka, mendengar namanya disebut saja jantungnya sudah jumpalitan, bagaimana dengan menatap mata tajam nan lembutnya itu? Mungkin ia sudah mati konyol. Well, mungkin itu terlalu lebay, but it’s the fact.
            Hari ini, wali kelas mereka masuk kelas, tetapi bukan saatnya pelajaran beliau. Tidak seperti biasanya. Anak-anak kelas VII c itu langsung diam seketika. Dan tentunya menatap heran.

            “baiklah, mungkin kalian bingung kenapa Ibu datang kesini. Ibu meminta sedikit waktu ke Pak Anto. Sekarang Ibu akan mengacak tempat duduk kalian.” Dan langsung keadaan menjadi gaduh. “tolong diam” ucap Ibu Febi yang membuatnya langsung diam. Wali kelas mereka termasuk guru yang tegas dan disiplin. Jadi mereka tidak akan berani untuk membantah.

            “Ibu mengacak tempat duduk kalian, karena Ibu mendapat laporan bahwa ada yang bertengkar kemarin.” Ya! Sion dan Dayat kemarin bertengkar yang membuat semuanya kacau. Entahlah. “mau tidak mau, suka tidak suka. Kalian harus menurut.” Ify hanya bisa menghela nafasnya. Padahal ia sudah sangat suka duduk disini, ditambah duduk dengan sahabat barunya. Eh? Sekarang malah ingin dipindah saja.

            “emm, Angel, kamu berganti posisi dengan Riko.” Terdengar desahan kecewa dari Angel. Sedangkan Riko sudah komat-kamit tidak jelas. Karena dia akan duduk paling depan tepat di depan meja guru. Ify sama sekali tidak tertarik untuk mendengarkannya. Ia berharap ia tidak berpindah dari tempat duduk ini. Dan sangat berharap ia akan tetap duduk bersama Sivia.

            “Sivia, tukar posisi dengan Rio.” Ify yang memang tidak mendengar, ingin menoleh sebentar ke arah Sivia yang semula memandang ke luar jendela, seketika mendelik.

            “Vi, mau kemana?” bisik Ify. Sivia menoleh heran.

            “mau pindah. Tuh disuruh. Kita gak satu bangku lagi deh” ucap Sivia kecewa. Ify cemberut. “tapi tenang aja, lo bakal lebih seneng setelah gue gak satu bangku lagi sama lo.” Ify melongo.

            “maksudnya?” Sivia tersenyum misterius.

            “nanti juga lo bakal tau, kok. Daaah, Ify.” Ify hanya menatap Sivia yang berlalu menuju bangku barunya. Hey! Itu ‘kan bangku punya Rio. Jadi...

            “ehem” deheman seseorang membuat Ify terlonjak. Benarkah ini? Atau ini hanya mimpi? Halusinasi? Atau..atau... “kenapa?” tanya seseorang tersebut yang ternyata Rio. Ify tersentak dan kemudian menggeleng. Ia kembali menghadap depan. Berusaha menetralisir irama detak jantungnya yang sudah tidak karuan. Sejurus Ify menoleh ke arah Sivia yang tengah menatapnya dengan cengiran khas Sivia.
            Rio yang sedari tadi melirik dan mengetahui gelagat Ify, hanya tersenyum kecil. Menurutnya tingkah gadis itu sungguh lucu.
            Selesai sudah acara pergantian tempat duduknya. Setelah Ibu Febi keluar kelas, Pak Anto masuk sembari membawa buku-buku tebal. Ify yang melihat itu langsung mual. Uh! Ekonomi. Membuat otak pusing saja. Coba saja ia sudah kelas 2 SMA, dan tentunya sudah memilih jurusan. Tak akan ada lagi pelajaran itu, karena ia ingin memilih jurusan IPA. Ya, walaupun hitung-menghitung membuat otak juga pusing, namun setidaknya tidak banyak hafalan.
            Ify mencari-cari buku ekonomi-nya di dalam tas. Sial! Buku itu tertinggal di atas meja belajar. Dengan wajah mengkerut, ia harus menikmati dongengan dari Pak Anto. Rio yang menyadari itu mngerutkan kening heran.
           
            “kenapa, Fy?” tanya Rio yang membuat Ify berdebar. Baru kali ini Rio memanggil namanya.

            “eh? Ee..anu..itu..aduuh” Rio tertawa kecil melihat kegugupan Ify. Ify yang tahu Rio tertawa itu pun langsung manyun. “kok ketawa sih?” ucap Ify pelan. Rio menggeleng sembari tersenyum.

            “lucu aja.” Lagi-lagi Ify blushing. Kira-kira ini sudah yang ke berapa puluh kali ya Rio membuatnya merona? “lo kenapa?”

            “buku cetak ekonomi gue tinggal.” Rio tersenyum dan serentak menyodorkan buku cetak ekonomi-nya hingga ke tengah-tengah meja.

            “satu buku berdua” ucap Rio. Ify tersenyum malu-malu. Ah! Mungkin hari itu tidak akan pernah Ify lupakan.

##

            Akhir-akhir ini, Ify dan Rio sering sekali digoda oleh teman-teman sekelasnya. Contohnya saja seperti sekarang ini.

            “cieeee, yang lagi belajar berdua” celetuk Sion.

            “belajar atau mau pdkt sih?” sambung Riko.

            “cieeeeeee” koor sebagian anak kelas itu. Mumpung guru yang mengajar lagi tidak masuk, mereka bebas saat ini. Rio dan Ify yang disoraki seperti itu langsung tersipu. Jantung mereka berdetak lebih kencang.

            “Rio, Rio..kapan sih nembaknya?” tanya Dayat menggoda.

            “diem deh” ujar Ify yang mulai jengah.

            “aduh, kayaknya keganggu deh. cieeee.” Ify mendengus sebal. Rio hanya tersenyum kecil. Tidak tahu kenapa rasanya ia senang disoraki seperti itu.

            “Yo, jawab dong. Kapan acara nembak-menembaknya?” timbrung Sion lagi. Rio menoleh.

            “menunggu waktu yang tepat” jawab Rio singkat yang serentak membuat semuanya heboh. Ify yang mendengar itu kembali tersipu.

            “asiiikkkk, ada cinlok nih yeee” kini Angel yang bersuara.

            “cieeeeeee” kali ini anak-anak satu kelas yang heboh. Ify menutup wajah dengan buku tulisnya. Malu? Pastinya. Tapi..senang. Rio melirik ke arah Ify yang tengah tersipu. Lagi-lagi gadis itu membuatnya tergelitik. Ify mendongak menatap Sivia yang ikut-ikutan.

            “Siviaa, kenapa lo ikutan? Jahat ih” ucap Ify setengah berteriak. Membuat semuanya tertawa tak terkecuali Rio yang disampingnya.

            “habisnya seru, Fy. Masa’ sih yang seru-seru begini harus dilewatkan” jawab Sivia yang semakin membuat Ify manyun.

            “oke, kalo gitu. Lo gue end. Istirahat kita nyambung lagi” ujar Ify ngawur. Rio mengacak rambut Ify gemas membuat pipi gadis itu merona kembali. Aduh, ini yang sudah ke berapa kalinya untuk hari ini?

            “CIEEEEEEEEEE..”

##

            “gimana, Fy, lo sama pangeran elang lo itu?” tanya Sivia pada Ify yang tengah melahap baksonya. Mereka saat ini sedang berada di kantin sekolah. Seperti biasa lah.

            “ya gak gimana-gimana. Emang harus gimana?” ucap Ify berbelit. Sivia mendengus sebal.

            “maksud gue. Ada kemajuan gak? Lo ‘kan lagi pdkt tuh. Ecieeeee..” Ify tersipu.

            “Via, udah deh. Gue malu tau. Lo jadinya ikut-ikut komplotan sama anak sekelas tuh ya? Dasar, sahabat macam apa itu.” Sivia tertawa melihat ekspresi kesal Ify yang lucu.

            “haha iya deh, maaf. Cuma ya seru aja ngegodain lo berdua.” Ify semakin cemberut. “eh? Tapi ya, Fy, gue liat-liat elo sama Rio, cocok loh. Ada suatu chemistry yang beda dari pasangan-pasangan yang biasa gue liat.”

            “halah. Lo jangan ngomong yang bisa buat gue terbang deh, Vi. Nanti ujung-ujungnya gue jatuh, sakit tau.” Sivia cengengesan.

            “kagak, Fy. Gue beneran. Serius deh. Kemarin gue sama yang lain baru diskusiin tentang itu.” Ify terbelalak. Tentang seperti itu pun sampai harus  berdiskusi? Dasar!

            “kalian itu ya, uh.” Belum selesai Sivia ingin menggoda Ify lagi, ia melihat pangeran elang-nya Ify berjalan ke arah kantin.

            “eh, eh, Fy. Ada Rio tuh.”

            “biarin ah. Gue malu tau.”

            “yeee, nih anak. Gue panggil aja deh.” Ify melotot. Belum sempat ia mencegah Sivia, gadis putih itu sudah meneriaki nama Rio. Membuat semuanya tak terkecuali Rio menoleh. Sivia menyeringai lebar. Meminta maaf pada pelanggan kantin yang menurutnya terganggu. Rio dan sahabatnya melangkah menghampiri.

            “ada apa, Vi?” tanya Rio setelah melirik Ify terlebih dulu yang terlihat diam dan menunduk menatap dengan galau mangkuk bakso itu.

            “hehe gak ada sih. Cuma mau manggil aja. Mau makan ‘kan? Disini aja deh. Bangkunya masih banyak kosong nih.”

            “oke deh.” Rio dan sahabatnya itu langsung mengambil posisi duduk tepat dihadapan Sivia dan Ify.

            “siapa nih?” tanya Sivia pada pemuda disamping Rio.

            “Alvin Jonathan, panggil Alvin. Sohib Rio dari orok” ucap pemuda sipit di samping Rio.

            “ooh, Sivia Azizah, Sivia.” Merasa tidak ada respon dari gadis di sampingnya itu, Sivia menyikut pelan lengan Ify.

            “ah? Iya. Kenapa, Vi?” Sivia melengos.

            “ngelamun aja sih. Ada kenalan baru tuh.” Ify mengalihkan pandangannya ke arah Alvin.

            “Alvin Jonathan, panggil Alvin.” Melakukan hal yang sama seperti dengan Sivia, Alvin mengulurkan tangan kanannya. Ify menyambutnya dengan tersenyum.

            “Alyssa Saufika, Ify.”

            “oh, jadi ini yang namanya Ify” ucap Alvin setelah melepaskan jabatan tangan mereka. Ify mengerutkan keningnya heran. Begitu pun Sivia dan Rio. “hehe. Cantik juga. Pilihan lo bagus, Yo.” Rio terbelalak. Dasar Alvin! Congornya tidak bisa dijaga apa? Ify tersipu malu. Sivia sudah cekikan. Sedangkan Rio menjitak kepala Alvin.

            “lo malu-maluin aja sih, Vin. Asal ceplos tuh mulut” bisik Rio. Alvin cengengesan.

            “hehehe.”

            “ada yang merona, euy” teriak Sivia yang mengundang perhatian pelanggan kantin lagi. Sebagian pelanggan kantin yang dari anak-anak kelas VII c, langsung bersorak heboh. Rio dan Ify satu meja di kantin? What the hell?

            “CIEEEEEEE.” Sebagian lagi yang tidak tahu apa-apa langsung ikut-ikutan. Ify semakin malu. Rasanya ingin sekali ia menyelupkan wajahnya ke mangkuk bakso ini. Rio menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal. Salah tingkah. Sedangkan Alvin dan Sivia dengan semangat ikut menyoraki Rio dan Ify.

            “seandainya ada pintu kemana saja-nya doraemon” gumam Ify yang sudah menahan malu. Rio sedikit terkikik geli mendengar gumaman Ify tadi.

##

            “yah, hujan” gumam Ify sembari menatap miris alam yang tengah diguyuri hujan deras. Gara-gara ia harus mencatat panjangnya rumus-rumus fisika tadi, ia terjebak di sekolah dan terlebih lagi, Sivia sudah duluan ngacir pulang. Ify mengamati sekitar sekolah yang sudah tampak sepi. Gadis itu bergidik ngeri. Jika sekolah sepi seperti ini, ternyata cukup mengerikan. “ya ampun, jangan sampai ada yang nyamperin gue di tengah siang gak bolong tapi hujan begini” gumam Ify lagi yang sudah ngelantur.
            Hawa dingin mulai menusuk tubuhnya. Ify memeluk dirinya guna mengusir rasa dingin itu.

            “brr..dingin juga. Gak bawa jaket lagi.”
            Sudah hampir lebih dari 15 menit Ify menunggu di koridor sekolah itu. Sampai sebuah suara mengagetkannya.

            “Fy?” Ify terlonjak dan serentak menoleh ke arah sumber suara. Ia sedikit terhenyak ketika dihadapannya adalah pangeran elangnya, Rio.

            “eh? Rio.” Rio sedikit heran melihat Ify yang masih di sekolah.

            “ngapain masih disini?” Ify menghela nafas.

            “tuh, hujan deras banget. Mau ke halte, tapi gak bisa. Jadi kejebak deh disini.” Rio membulatkan mulutnya dan mengangguk-ngangguk mengerti. Rio mengambil posisi duduk di samping Ify pada bangku panjang koridor sekolah. Hening. Hanya suara derasnya hujan yang terdengar. Kedua insan itu berusaha menetralisir detak jantung yang sudah tidak karuan.

            “emm..kok lo belum pulang, Yo?” tanya Ify memecah keheningan dan berusaha sebiasa mungkin. Rio menoleh sekilas dan tersenyum.

            “nungguin lo.” Jantung Ify semakin cepat berpacu. Wajahnya memerah merona. “takut ada apa-apa cewek sendirian disini” ujar Rio sambil tersenyum. Ify membalas senyumannya dengan kikuk.

            “lagipula, gue juga harus ke halte.”

            “gak bawa kendaraan?” Rio menggeleng.

            “belum boleh sama papa. Katanya sih takut gue kenapa-napa karena gue juga baru masuk SMP.” Ify manggut-manggut mengerti. Rio menoleh pada Ify. “dingin gak, Fy?”

            “banget, Yo. Sialnya, gue gak bawa jaket lagi.” Rio melepas jaketnya dan kemudian mengulurkannya ke hadapan Ify. “eh?” Ify menoleh ke Rio. Pemuda itu tersenyum.

            “pakai gih. Bisa masuk angin nanti.”

            “gak usah, Yo. Gakpapa. Itu ‘kan jaket punya elo, jadi lo yang pakai.” Rio menggeleng.

            “gue gakpapa, Fy. Gue cowok. Fisik cewek ‘kan sedikit lebih lemah daripada cowok.” Ify menatap Rio ragu. “udah pakai aja.” Ify mengambilnya dan memakainya dengan perasaan campur aduk.

            “makasih” ucap Ify pelan. Rio tersenyum manis dan kemudian mengacak pelan pucuk kepala Ify. Wajah Ify semakin memanas dibuatnya.
           
            ‘harumnya. Serasa gue lagi meluk dia’ batin Ify tersenyum.
            Tak terasa hujan sudah mulai redah. Ify berjalan ke ujung koridor dan menengadahkan tangannya.

            “udah redah nih” ucap Rio sembari melangkah menghampiri Ify. “naik bus di halte depan ‘kan?” Ify mengangguk. “bareng aja yuk.” Tanpa sadar Rio menggandeng tangan Ify. Tangannya hangat sekali. Ify berharap Rio tidak melepaskan genggamannya. Dan Ify berharap jikalau ini mimpi, ia tidak ingin terbangun.

##

            Hari ini Ify piket kelas. Ia komat-kamit karena hanya ia seorang diri yang piket. Dasar pemalas, rutuk Ify dalam hati. Ia berjalan ke arah jadwal piket dan membaca siapa saja yang piket hari ini.

            “Irsyaaaddd..lo hari ini piket. Hapusin tuh papan tulis. Siramin bunga di depan” ucap Ify garang. Irsyad yang berada disana pasrah dan menurut. “Oik, Angel, Acha..kalian hari ini piket. Sapu kelas. Bantuin gue. Jangan jadi pemalas. Mau jadi apa bangsa ini kalau anak-anak bangsanya sendiri pemalas.” Oik, Angel dan Acha langsung menurut. Ify memang wakil ketua kelas. Ia bisa bersikap tegas dan galak, maka dari itu, wali kelas menunjuk Ify sebagai wakil dari ketua kelasnya yang bernama, Rio. Memang deh, sepertinya mereka berdua tidak bisa berjauhan.

            “iye dah, Fy, galak banget lo kayak emak-emak.” Ify melotot ke arah Angel yang ngoceh. Angel yang dipelototi seperti itu langsung cengengesan. Cakka yang baru datang langsung terkena semprot dari Ify.

            “Cakkaaa, lo kurang siang datengnya. Hari ini lo piket. Seharusnya jam setengah tujuh teng, lo udah ada di kelas. Ini udah mau masuk baru dateng. Cepet bantuin Irsyad sana nyiramin bunga.” Anak-anak yang lain sudah pada cekikikan sendiri. Cakka memelas dan akhirnya menurut juga. Karena tidak hati-hati, Ify tersandung sapu yang tengah dipakai oleh Angel. Gadis itu terhuyung ke depan.

            “huwaaaa..” Semua yang melihat langsung berdoa agar Ify tidak kenapa-napa. Ify yang memejamkan matanya erat menjadi heran karena tidak merasakan sakit.

            ‘kok? Gue udah mati apa? Cepet banget. Cuma karena jatuh doang kok udah mati aja sih? Gue belum siap. Masih banyak dosa di dunia’ batin Ify ngawur. Sorakan dari teman-temannya membuat Ify tersadar. Ia membuka matanya, kemudian mendongak. Dan..O ow. Ify ternyata jatuh ke pelukan Rio.
            Rio yang tadi memang baru datang refleks menangkap Ify ketika gadis itu terhuyung tepat dihadapannya. Aksi tatap-menatap pun terjadi. Tapi tak berlangsung lama. Ify yang tersadar langsung menegakkan tubuhnya kembali. Berusaha menutupi wajahnya yang merona. Rio menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

            “maaf, Fy” ucap Rio.

            “eng..gakpapa, Yo. Gue makasih sama lo.”

            “CIEEEEEEEEE..”

            “diem deh. Gue tabokin lo semua pakai sapu” ujar Ify garang sembari mengacungkan sapu di tangannya yang membuat semuanya ciut tetapi tetap menahan tawa geli mereka.

            “Ifyy..hehehe, ciee deehh” goda Sivia. Ify memelas pada Sivia.

            “Viaaaa...jangan nurutin mereka-mereka yang kafir itu dong.”

            “woooooo, kita berimaaannn” sorak satu kelas kompak. Ify cengengesan. Rio yang melihat tingkah Ify dari tempat duduknya, tersenyum geli.

##

            “mau sampai kapan lo sembunyiin perasaan lo ke dia, bro?” tanya Alvin pada Rio yang tengah menatap seorang gadis manis yang tak jauh dari tempatnya. Sedang bermain basket bersama teman-temannya. Ternyata, gadis itu jago juga bermain basket. Rio menghela nafasnya.

            “gak tau” jawabnya lirih. Alvin menepuk pundak Rio. Seolah memberikan semangat pada sohibnya itu. Sahabat yang tengah dilanda cinta monyet.

            “lembek banget sih? Mantepin dulu deh hati lo itu. Takutnya elo nembak dia karena Cuma didasari keegoisan lo doang buat dapetin dia seutuhnya.” Rio membenarkan pernyataan Alvin. Dia harus meyakinkan, apakah ia benar-benar cinta atau hanya sekedar kagum?

            “tumben lo bener.” Alvin menjitak kepala Rio. Pemuda hitam manis itu hanya meringis.

            “samperin tuh” suruh Alvin sambil menunjuk Ify yang tengah bermain sendirian di lapangan basket itu. Rio menggeleng pelan. “yah, sejak kapan lo jadi pemalu begini? Samperin sana.” Alvin mendorong tubuh Rio sehingga pemuda itu beranjak dari tempat duduknya. Belum jauh Rio melangkah, ia berbalik lagi menghampiri Alvin dengan wajah memelas.

            “gak ah.” Alvin berdecak kesal. Tanpa segan, ia mendorong-dorong kembali tubuh Rio hingga sampai di hadapan gadis itu. Rio cengengesan ketika gadis itu menatapnya heran.
           
            “ha..hai, Fy.” Ify-gadis tadi- tersenyum.

            “hai juga, Yo. Ada apa?” ujar dan tanya Ify sembari terus mendrible bola oranye itu. Rio menggaruk-garuk tengkuknya, salah tingkah.

            “ee...gue..” Rio menoleh ke arah Alvin, dan tersentak ketika ia tidak menemukan Alvin disana. Dasar bocah! Awas aja kalo ketemu. Seenaknya aja main tinggal setelah dia membuatnya malu di depan gadis pujaannya itu, pikirnya berkecamuk. Ify menatap Rio heran.

            “lo kenapa, Yo?” Rio tersentak dan langsung menoleh ke arah Ify.

            “ah? Gue? Gak..gakpapa hehe.”

            “bener?” tanya Ify lagi. Pemuda ini tidak seperti biasanya. Rio ‘kan selalu bersikap tenang. Tetapi sekarang..?

            “suer.” Ify mengangguk mengerti. Tidak ingin memperpanjang.

            sparing yuk?” ajak Ify sambil menyodorkan bola bulat oranye ke hadapan Rio.

            “siapa takut.”
            Lapangan basket yang tadinya lumayan sepi, mendadak ramai oleh siswa-siswi yang tengah berolahraga-kelas VII c dan VII b(kelas Alvin)-karena pertandingan dari Ify dan Rio. Cukup sengit. Semua heboh. Apalagi para anak-anak kelas VII c. Hingga akhirnya skor seri karena bel pergantian pelajaran berbunyi. Rio dan Ify yang tengah berhadapan, saling tersenyum walaupun nafas mereka sama-sama masih terengah. Seseorang menepuk pundak mereka bersamaan. Sontak kedua insan itu menoleh.

            “permainan bagus. Bapak harap kalian mengikuti club basket sekolah ini. Silahkan ambil formulir pendaftarannya pada Bapak. Istirahat nanti, Bapak tunggu di ruang kantor” ujar Pak Jison selaku guru olahraganya sekaligus pembina dari club basket sekolah itu. Beliau berlalu.

            “ikut?” tanya Rio pada Ify.

            “boleh deh.”

            “lo ikut, gue juga ikut” ucap Rio. Ify tersenyum malu. Maksudnya apa tuh? Kode? Sign? Pikir Ify.

            “aduuhh, saking senangnya berdua, jadi lupa waktu deh” celetuk Sivia. Rio dan Ify menoleh dan mendapati beberapa teman-teman sekelasnya tengah menatap mereka dengan senyuman menggoda. Mereka pun sudah membawa baju putih biru, untuk berganti pakaian.

            “em, Yo, gue duluan ya” ucap Ify. Rio tersenyum dan menatapnya. Ah! Mata itu. Memang sangat tepat Ify memberikan julukan pada Rio dengan pangeran elang. Matanya tajam, bro, tapi lembut dan menenangkan.

            “silahkan. Gue juga mau ganti baju nih. Bareng aja deh.” Ify mendelik.

            “ih, Rio..” Rio tertawa geli. Pikiran gadis ini sudah kemana-mana ternyata.

            “otak lo tuh yang mesum. Maksud gue bareng ke kelas buat ambil bajunya.” Ify cengengesan dan salah tingkah. Ini yang Rio suka dari gadis itu. Melihat tingkah lucunya, melihat semburat merah di kedua pipinya yang menggemaskan. Apa benar ia sudah jatuh cinta padanya? Sungguh cepat memang. Tapi...

##

            Kini, sudah lebih satu bulan Rio memendam rasa pada Ify. Begitu pun sebaliknya. Namun, tak ada niat dari mereka yang terlihat untuk bersatu. Alvin dan Sivia yang notabennya sahabat dari mereka berdua juga heran. Alvin berkali-kali menanyakan perihal yang sama kepada Rio. Tetapi, Rio tetap menjawab dengan jawaban yang terus sama.

            “hei, ngikut ya” ucap Alvin pada Sivia dan Ify yang tengah menikmati mie ayam mereka di sebuah meja kantin.

            “duduk aja lagi. Biasanya juga lo langsung nimbrung aja” ucap Ify. Alvin cengengesan dan mengambil posisi duduk di hadapan dua siswi itu.

            “tumben sendiri, Vin?” tanya Sivia. Ify terhenyak, baru menyadari bahwa Alvin sendirian. Biasanya dua sohib itu selalu berdua. Ify berlagak cuek dengan terus melahap mie ayamnya. “Rio mana?”

            “oh, Rio, dia lagi ada urusan sama wali kelas katanya.” Alvin mulai melahap pesanan baksonya yang baru datang. “eh? Elo ‘kan wakil ketua kelas, Fy. Gak ngikut juga?”

            “memangnya urusan ketua kelas dengan wali kelas harus selalu wakilnya ikut serta ya? Enggak ‘kan? Bisa jadi itu urusan privasi antara wali kelas dan ketua kelas” jawab Ify sekenanya.

            “iya juga sih.” Hening diantara mereka. Hanya terdengar bising dari para siswa-siswi yang sedang berada di kantin. “Fy? perasaan lo ke Rio gimana sih?” tanya Alvin. Ify menoleh.

            “ha? Maksudnya?” tanya Ify berlagak tak tahu.

            “elah, sok gak tau dia. Lo itu cinta, sayang, suka atau hanya sekedar kagum ke Rio?” tanya Alvin lagi. Sivia hanya diam mendengar. Ikut menunggu jawaban pasti dari mulut Ify sendiri. Ify mendesah pelan.

            “gak tau.” Alvin melengos. Sama saja seperti Rio. Setiap ditanya seperti itu, jawabnya selalu tidak tahu. “gue seneng deket sama dia. Terus gue rasa selalu deg deg-an gitu kalo lagi deket dia, natap mata dia, lihat senyum dia. Perut gue juga serasa geli-geli gitu. Gak tau ah kenapa” jawab Ify yang membuat Alvin dan Sivia tersenyum geli dan menggoda.

            “elo suka sama Rio” ucap Alvin dan Sivia serempak, agak keras. Ify melotot. Apa-apaan mereka?

            “heh! Gak usah teriak juga bisa kali. Untung pada tuli semua” ucap Ify. Alvin dan Sivia hanya tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putih mereka.

            “lo berharap gak Rio nembak lo?” tanya Sivia yang membuat Ify tersentak.

            “pertanyaan lo gak ada yang lebih bermutu ya, Vi?” Sivia terkikik geli.

            “jawab aja deh, Fy” sambung Alvin. Ify mendengus sebal. Mereka berdua seperti sudah merencanakan pertanyaan ini semua.

            “jujur, gue berharap dia nyatain cintanya. Tapi, gue gak mau berharap terlalu jauh. Nanti gue di PHP-in lagi. Gak banget. Galau deh seharian. Gue pun juga gak tau gimana perasaan dia ke gue. Belum tentu suka, terlebih cinta dan sayang.” Alvin dan Sivia tersenyum puas mendengar jawaban dari Ify. Gadis berwajah tirus itu mengerucutkan bibirnya lucu. “puas ‘kan lo berdua?” Mereka tertawa. Ify semakin cemberut.

##

            “Yo, lo tembak Ify secepatnya deh.” Rio yang sedang minum seketika tersedak.

            “ha? Lo gimana sih? Lo bilang, gue harus mantepin hati gue dulu. Lah? Sekarang? Malah disuruh nembak dia secepatnya.”

            “ya, elo mantepin hatinya kelamaan. Lo gak takut di keburu diambil orang? Banyak juga loh yang suka sama dia. Keburu juga dia udah capek nungguin lo buat nyatain cinta lo ke dia” ujar Alvin. Rio terdiam. Pandangannya menerawang ke depan. Memikirkan pernyataan Alvin tersebut.

            “emangnya lo tau gimana perasaan dia ke gue? Gue gak mau sewaktu nembak dia, dia bilang gak punya perasaan apa-apa ke gue. Malu banget tau.” Alvin menepuk jidatnya. Dosa apa dia punya sahabat yang tidak peka seperti ini? pikirnya kesal.

            “ya ampun, Yo. Lo itu jadi orang gak peka-an amat sih. Lo gak baca apa tanda-tanda yang udah dia kasih ke elo selama ini?” Rio terdiam. Benarkah gadis itu memiliki perasaan yang sama sepertinya? “buru deh. Kasian dia nunggu lama. Kurang apa lagi sign-nya buat elo?” Rio menghela nafas. Merasa tidak ada respon, Alvin kembali bersuara. “kalo lo gak mau sih, biar buat gue aja” ujar Alvin yang sengaja memancing Rio. Rio mendelik.

            “enggak.” Alvin cengengesan.

            “canda doang. Segitu cintanya ya? Hehe.” Rio salah tingkah. “tembak sekarang aja deh. Mumpung masih ada 20 menit lagi istirahatnya.”

            “yakin sekarang?”

            “iya lah. Mau kapan lagi? Minggu depan? Bulan depan? Atau tahun depan? Setelah dia punya seseorang lain yang beruntung ngedapetin hatinya.” Rio mendengus sebal. Dan akhirnya menurut. Melihat Rio yang sudah mengambil tindakan, Alvin segera menuju kelas VII c.

##

            Ify melangkah pelan ketika ia mendapati Rio yang tengah berdiri membelakanginya. Ia mendapatakan pesan teks dari Rio yang menyuruhnya untuk segera ke taman belakang sekolah. Ify yang tidak tahu menahu, hanya menurut. Tetapi, tidak tahu kenapa, jantungnya bekerja lebih cepat saat ini. Padahal, hal seperti ini sudah sering ia lakukan bersama Rio. Sesuatu apa yang akan terjadi sebenarnya?
            Ify menepuk pundak Rio pelan, membuat pemuda itu menoleh dan berbalik badan. Ia tersenyum. Ify membalasnya dengan senyuman kikuk.

            “ee..ada apa, Yo? Tumben” ujar Ify. Rio menghela nafasnya. Mentralisir irama detak jantungnya yang sudah tidak karuan, sekaligus memantapkan hatinya untuk segera mengungkapkan perasaannya kepada gadis itu.

            “gue...” ucapan Rio terpotong. Ia kembali menghela nafas. Ify menatapnya heran.

            “lo kenapa, Yo?” tanya Ify lagi.

            ‘ayo, Rio, lo bisa’ batin Rio menyemangati. Perlahan namun pasti, Rio meraih kedua tangan Ify dan kemudian menggenggamnya. Gadis itu tersentak. Seketika, wajahnya merah merona. Detak jantungnya semakin kencang. Ada yang berdesir tepat di dadanya. Dan ada yang menggelitik di sekitar perutnya. Rio menatap Ify tajam dan lembut. Ify yang menatap balik tidak bisa menahan lagi. Ia refleks menunduk.

            “hei. Tolong tatap aku” ucap Rio lembut sembari menegakkan wajah Ify dengan tangan kanannya. “mungkin kamu bingung kenapa aku suruh kamu kesini. Aku gak mau terlalu lama nyimpan perasaan ini.” Rio menarik nafas panjang dan kemudian kembali bersuara. “aku suka kamu, Fy. Mungkin cinta, mungkin sayang. Disini aku akan tanya sama kamu. Tapi sebelumnya..” Tangan kanan Rio terlihat mengambil sesuatu dari balik badannya. Ify terhenyak ketika melihat setangkai bunga lily putih yang disodorkan Rio ke hadapannya. “mau jadi pacar aku?” Ify menatap Rio. Pemuda itu tersenyum. Dan Ify menemukan sebuah keseriusan di mata elang itu.

            “aku..aku...mau” jawab Ify pelan ketika di akhir katanya. Rio mendelik tak percaya.

            “serius?” Ify mengangguk malu-malu. Rio tersenyum senang. “terima bunga ini, Fy. Aku rela ngambil bunga ini di taman rumah mama ku diam-diam Cuma untuk kamu.” Ify tertawa kecil dan kemudian mengambil bunga lily putih itu.

            “kamu bisa banget, Yo, buat aku selalu blushing begini.” Rio tertawa sembari mengacak-ngacak pucuk kepala Ify. “kamu tau sesuatu?”

            “apa itu?” Ify mendekatkan wajahnya ke wajah Rio dengan sedikit berjinjit, karena postur tubuh Rio sedikit lebih tinggi darinya.
           
            “aku cinta kamu, pangeran elang” bisik Ify lembut tepat di telinga Rio. Rio tersentuh mendengarnya. Rio menyelipkan sejumput rambut ke belakang telinga Ify setelah gadis itu kembali tegak seperti semula.

            “dan aku akan selalu cinta kamu, princess” balas Rio tak kalah lembut.

            “CIEEEEEEEEE. AKHIRNYA JADIAN JUGAAAA” sorak-sorai yang berasal balik semak-semak di sudut taman. Ify dan Rio serentak menoleh. Terlihat anak-anak kelas VII c bergerombol menyaksikan mereka berdua dengan tambahan Alvin disana. Rio menggaruk-garuk tengkuknya, salah tingkah. Sedangkan Ify menunduk malu.

            “Yo, cium pipinya dong” ujar Sivia yang membuat Rio dan Ify melotot.

            “Viaaaaa” teriak Ify gemas. Sivia cengengesan.

            “cium, cium, cium, cium” sorak mereka semua.

            “kita masih kecil, main cium-cium aja. Gak mau ah” ucap Rio.

            “sekali doang, Yo” ujar Alvin.

            “ini pasti kerjaan lo, Vin.” Alvin tertawa puas.

            “cium, cium, cium, cium, cium” sorak mereka yang bertambah heboh.

            “eh, jangan teriak-teriak woy! Di dengar guru baru tau lo semua” ucap Rio kesal. Ify hanya bisa diam. Tidak ingin berbuat apa-apa.

            “bodo amat. Kalo lo gak mau cium Ify, kita teriak lagi yang paling heboh” celetuk Sion.

            “iya, Yo, pipinya doang ‘kan? Gak lebih hehe” sambung Riko.

            “gak mau ah.”

            “cium atau kita teriak nih?”

            “pemaksaan ini namanya.”

            “temen-temen kita teriak paling heboh ya” ucap Alvin mengompori semuanya. Rio gelagapan melihat itu.

            “iya, iya. Gak usah teriak.” Mereka langsung diam dan siap menyaksikan tontonan paling asyik daripada sinetron. Dengan secepat kilat, Rio mencium pipi kiri Ify yang menimbulkan semburat merah di kedua pipi putih gadis itu. Teriakan heboh yang tertahan terdengar dari sebagian siswi disana. Mungkin saja iri atau apalah. Setelah semua berbalik menuju kelas, Rio menatap Ify yang masih menunduk. Pemuda itu tersenyum.

            “kamu lucu kalo lagi malu-malu begitu.”

            “Rio, jangan ikutan buat aku malu deh” ujar Ify manja. Rio tertawa. Ia kembali mengacak lembut pucuk kepala gadis yang telah menjadi miliknya itu.

            “ke kelas yuk. Udah bel masuk tuh.” Ify mengangguk. Rio menggandeng tangan Ify menuju kelas. Namun, ketika beberapa langkah mereka menjauh dari taman itu, Ify mengehentikan langkahnya. Rio yang merasa tidak ada gerakan dari Ify sontak menoleh dan memandang Ify heran. “kenapa?” Ify mendekat pada Rio. Dengan gerakan lumayan cepat, kecupan hangat mendarat di pipi kanan Rio.

            “itu balasan untuk yang tadi” ucap Ify malu-malu dan segera melangkah menuju kelas meninggalkan Rio yang masih mematung dengan wajah yang memanas. Rio tertawa kecil sesaat setelah sadar dari keterkejutannya. Ia pun melangkah menuju kelas dengan santai. Ia masih melihat Ify yang berjalan di depannya. Rio tersenyum menatap punggung gadis cantik itu.

            “aku bukan cowok romantis, Fy. Tapi aku akan berusaha buat jadi yang terbaik untuk kamu. I’ll try to be the first in your heart” ucap Rio yang masih bisa terdengar oleh Ify. Gadis itu berbalik dan berjalan mundur.

            “aku gak perlu kamu yang romantis. Aku hanya perlu kamu yang pengertian dan cinta tulus dari hati kamu. You’re the first and the last, my eagle prince.

-TAMAT-

You May Also Like

0 komentar