AWALNYA DARI JASON MRAZ (RIFY) (Bag. B)
“Yo, lo ada masalah apa sama Ify sampai
dia nangis begitu?” tanya Cakka sedikit kesal. Rio yang sedang membaca komik di
bangkunya hanya menoleh sekilas.
“gak
ada apa-apa” jawabnya singkat.
“gak
ada apa-apa gimana maksud lo? Gak mungkin gak ada masalah. Masa’ dia nangis
tanpa sebab gitu.” Rio berusaha bersikap cuek. Padahal hatinya sudah gelisah
tidak karuan. Gadis itu menangis karenanya. Ia merasa sangat bersalah. Dia
lebih menginginkan gadis itu tersenyum-walaupun bukan untuknya-daripada ia
harus mengeluarkan air mata seperti itu.
“gue
Cuma minta dia jauhin gue.” Cakka terbelalak. Ada apa dengan sahabatnya satu
ini? Tidak biasanya.
“atas
dasar apa lo bilang itu ke dia, Yo? Ha?” Gabriel dan Alvin yang baru datang
langsung mengernyitkan dahinya heran.
“weits,
ada apa nih?” tanya Gabriel.
“Cakka,
gue bilang jangan pakai emosi” ujar Agni yang baru saja menghampiri kekasihnya
itu. Tadi ia menaruh tas dulu di kelasnya, baru kembali ke kelas Cakka. Ia
menarik tangan Cakka tengah menarik kerah baju Rio.
“gue
Cuma gak mau merusak hubungan dia dengan Debo.”
“Debo?
Maksud lo Andryos Aryanto?” Rio mengangguk tanpa mengalihkan tatapannya dari
komik.
“ada
apaan sih ini?” tanya Alvin yang memang tidak tahu menahu. Anak-anak di kelas
itu pun sepertinya tertarik dan ikut menonton.
“nanti
gue jelasin, Vin” ucap Agni.
“Yo,
Ify gak ada hubungan apa-apa dengan Debo. Debo Cuma sobat kecilnya di Bandung.”
Baru saja Cakka ingin melanjutkan kata-katanya, bel masuk berbunyi. Membuat
semuanya mendesah kecewa karena tontonan itu harus bersambung -_- Agni kembali
melangkah ke kelasnya setelah berpamitan pada keempat pemuda itu.
Ada
perasaan aneh ketika ia membuat gadis itu terluka. Perasaan marah pada dirinya
sendiri. Perasaan kecewa karena tidak bisa menjaga senyuman gadis itu. Dan
perasaan sesak ketika harus melihat butiran bening yang keluar dari kedua
pelupuk mata beningnya.
*
Sedari
tadi Sivia terus menatap miris sahabatnya satu itu. Ia sudah mengetahui
semuanya dari cerita Ify tadi. Ia terkejut ketika Ify masuk dengan mata yang
sembab. Ia kembali mengelus punggung Ify yang masih sedikit bergetar.
“udah
dong, Fy. Nanti kita bicarain aja baik-baik sama Kak Rio. Biar semuanya jelas”
ucap Sivia. Ify menggeleng pelan.
“dia
udah nyuruh gue buat jauhin dia, Vi. Dia pasti gak mau ketemu gue lagi.” Sivia
menghela nafas. Sulit juga kalau seperti ini jadinya.
“ya
udah. Lo berdua saling instropeksi diri dulu aja deh. Lo juga harus tenangin
diri dulu.” Ify hanya mengangguk pelan. “lo ke UKS aja. Biar gue izinin.”
“gak
usah, Vi. Gue gak mau ketinggalan pelajaran Cuma karena masalah ini” ucap Ify
sambil berusaha untuk tersenyum. Sivia yang melihat itu pun ikut tersenyum dan
mengangguk mengerti.
*
Sudah
tiga hari Rio dan Ify saling diam. Tidak bertegur sapa. Jangankan say ‘hello’, bertatapan pun saja
sepertinya enggan. Ify sudah mengetahui permasalahan Rio yang memintanya untuk
menjauhi dirinya dari Cakka. Sudah beberapa cara Ify ingin memberikan
penjelasan pada Rio, tetapi tetap saja Rio tidak ingin menemuinya, mendengarnya
pun tidak.
Rio
semakin merasa bersalah. Coba saja ancaman itu tidak ada. Rio pasti sudah dari
kemarin mendengarkan Ify. Sebenarnya bukan hanya pernyataan yang ia ucapkan
pada Cakka waktu itu saja menjadikan Rio seperti ini pada Ify, tetapi ada suatu
kecaman yang membuatnya menjauh dari gadis itu. Dengan alasan tidak ingin gadis
itu terluka.
---
“siapanya, Ify?”
tanya Debo. Rio menoleh.
“kakak
kelasnya.”
“oh.
Gue harap lo jauhin dia.” Rio yang tengah minum es teh-nya, tersedak.
“uhuk..”
Rio segera menetralisirkannya. “maksud lo apaan nih?” tanya Rio sinis. Debo
tersenyum miring.
“karena
gue..pacarnya Ify.” Rio menaikkan satu alisnya.
“gue
gak pernah denger tuh isu-isu kalo Ify punya pacar.” Debo tertawa sinis.
“memang.
Disini isu itu gak beredar, tapi gak untuk di Bandung. Gue harap lo jauhin dia,
atau dia bakal jadi sasaran bahaya” ucap Debo yang membuat Rio terbelalak.
“pengecut
banget lo ngejadiin Ify sasaran begitu.”
“ya
udah sih kalo gak mau. Ingat aja, gue gak pernah main-main sama ucapan gue.”
Debo pun berlalu.
---
Ya,
memflashback kejadian itu membuatnya
kembali tersulut emosi. Tangannya mengepal keras. Ingin sekali rasanya meninju
muka Debo waktu itu. Tapi ia masih ingat itu adalah tempat umum.
“Kak.
Kak Rio” panggil seseorang. Ia sangat mengenali suara itu. Rio mempercepat
langkahnya yang tengah menyusuri koridor sekolah. “Kak, tunggu.” Niatnya ingin
ke kantin, tetapi ia urungkan. Karena disana pasti Ify akan mengikutinya. Ia
melangkah menuju toilet cowok yang pasti Ify tidak akan mengikutinya.
Ify
mendesah kecewa ketika melihat Rio memasuki toilet. Tidak mungkin dia harus
mengikuti Rio sampai dalam. Ify segera mengambil hp-nya dari saku rok dan
kemudian mengetik sebuah pesan singkat. Setelah selesai, ia kembali menuju
kelas.
*
“Hai,
Fy. Lama ya? Maaf deh, tadi ada urusan bentar dengan nyokap” ucap Debo yang
baru datang dan langsung mengambil posisi duduk di depan Ify. Ify hanya
mengangguk tanpa ekspresi. Ia kesal dengan sahabatnya satu itu. Kenapa ia harus
melakukan perbuatan yang membuat dirinya terluka? Padahal dulu ia berjanji
tidak ingin membuat Ify menangis. “ada perlu apa, Fy?”
“lo
pesen dulu deh.” Debo menurut. Ia memanggil waitress
café itu dan kemudian memesan makanan
dan minum.
“ada
apa, Fy?” tanya Debo lagi.
“tunggu
pesenan lo dateng” ujar Ify dingin. Debo mengerutkan keningnya heran. Ada apa
ini? Atau jangan-jangan...
Setelah
pesanan Debo datang, pemuda itu kembali menanyakan hal yang sama.
“maksud
lo apa bilang gue pacar lo ke Kak Rio?” Debo mendongak.
“gue
gak bilang kalo lo pacar gue ke dia.” Ify menatapnya tajam.
“gue
gak suka kebohongan.”
“oke.
Gue ngaku.”
“dan
lo minta Kak Rio buat jauhin gue? Gitu?” Debo mengendikkan bahunya santai.
“bisa
jadi.”
“lo
kenapa sih, Deb? Gue gak ngerti jalan pikiran lo. Lo picik tau.”
“karena
gue sayang sama lo, Fy. Lebih dari seorang sahabat. Gue memang egois. Karena
gue Cuma mau milikin elo seutuhnya. Karena gue Cuma mau lo jadi milik gue,
bukan orang lain.”
“lo
dulu janji kalo lo gak bakal buat gue nangis, gak bakal nyakitin gue. Tapi
sekarang apa? Secara gak langsung lo buat gue sakit, Deb. Dengan Kak Rio
ngejauhin gue, hati gue sakit.” Debo terdiam. Kemudian ia tertawa sinis.
“itu
dulu, nona cantik. Tapi sekarang, mungkin semuanya berubah seiring dengan
berubahnya perasaan gue ke elo.” Ify menatapnya sinis sedangkan Debo menatap
Ify sayu. “please, jadi milik gue,
Fy.”
PLAK!
Satu tamparan cukup keras mendarat mulus di pipi kiri Debo. Semua pengunjung café menatap mereka berdua. Sebagian
dari mereka kembali ke aktivitas masing-masing, karena mereka pikir itu sudah
biasa di kalangan anak muda. Dan sebagian lagi masih betah untuk menonton.
Jarang-jarang menonton sinetron secara langsung -___-
“memang
picik lo. Gue gak nyangka punya sahabat kayak lo.” Debo bergeming. Mengelus
pipinya yang sakit. “sampai kapanpun, gue gak akan pernah jadi milik lo. Gue
Cuma sayang dan cinta sama Kak Rio, inget itu. Dan satu lagi, kalo sampai gue
tau Kak Rio kenapa-napa karena lo, gue gak akan segan-segan berbuat yang lebih
ke elo” ucap Ify seraya beranjak dari tempat duduknya. Setelah membayar
minumnya, Ify melangkah keluar café.
“sepicik
itukah gue sampai sahabat yang paling gue sayang sendiri bilang begitu?” gumam
Debo.
*
Ify
benar-benar frustasi saat ini. Rio masih saja tidak ingin mendengarkannya. Ia
ingin menyerah, tetapi kekuatan cinta itu berkata untuk tetap berusaha. Namun,
apa yang harus ia lakukan lagi? Sudah berpuluh-puluh kali ia ingin
menjelaskannya pada Rio. Butiran bening itu kembali jatuh. Ia kembali terisak.
Cakka
yang berada di depan pintu kamar adiknya itu terdiam mendengar isakan lirih
gadis itu. Niatnya yang ingin mengajaknya makan malam diurungkan sejenak.
Untung saja orangtuanya sedang ada tugas di luar kota, jadi Ify mungkin tidak
akan ada pengintrogasian. Deva adik terakhirnya yang baru pulang, heran melihat
kakak pertamanya itu berhenti di depan pintu kakak perempuannya. Ia menepuk
pundak Cakka yang membuat pemuda itu terlonjak kaget.
“buset.
Gue kira siapa. Ngagetin aja sih lo” ucap Cakka pelan. Deva melengos. Memang
kakaknya ini selalu suka berlebihan.
“lo
tuh yang kenapa? Mau jadi patung selamat datang kamarnya Kak Ify?” Cakka
menjitak kepala Deva.
“diem
deh lo.” Cakka kembali mendengarkan dari dalam kamar Ify. Deva ikut-ikutan.
“yang
nangis itu Kak Ify?”
“iyalah,
lo kira hantu gitu.” Deva meringis mendapat semprot dari Cakka.
“kenapa
dia?”
“gak
tau.” Mereka diam. Hening. Ify masih saja terisak di dalam. “lo bujuk dia deh buat
makan. Dari siang tadi dia gak makan tuh. Ngakunya sih pergi ke café, pas gue tanya dia Cuma pesan
minum.”
“kenapa
gak lo aja sih?”
“gue
udah berkali-kali tau bujukin dia. Masih aja ngotot gak mau.”
“gak
ahli sih lo. Sini biar gue aja. Pasti dia bakal nurut” ucap Deva bangga. Cakka
menoyor Deva.
“ya
udah sono. Gue tunggu di bawah. Awas aja kalo gak berhasil.” Cakka berlalu.
Deva perlahan membuka pintu kamar Ify. Mendapati kakaknya itu sedang meringkuk
di bawah sudut kasurnya. Seperti orang depresi. Deva menghampiri Ify
takut-takut.
“Kak,
lo kenapa?” tanya Deva lembut. Ify hanya menggeleng tanpa mendongakkan
kepalanya yang tengah dibenamkan di kedua lutut yang ia tekuk. “lo makan dulu
ya. Kata Kak Cakka, lo dari siang tadi gak makan. Nanti lo sakit lagi.” Ify
menggeleng lagi. Deva menghela nafas.
“kalo
gitu gue bawa aja deh makanannya kesini.”
“gak
usah, Dev. Gue capek, mau tidur aja.” Ify beranjak ke atas kasurnya dan
kemudian terlelap tidur. Deva menatap miris kakaknya satu itu. Baru kali ini ia
melihat Ify begitu rapuh. Yang ia tahu, kakaknya itu gadis yang ceria, narsis,
yaa sebelas duabelas lah dengan Cakka dan Deva.
Deva
melangkah keluar kamar Ify dengan gontai. Menghampiri Cakka yang tengah
menunggunya di meja makan.
“gak
berhasil ‘kan lo?” Deva manyun. “gue bilang juga apa.”
“Kak
Ify kenapa sih, Kak? Gak biasanya deh” tanya Deva setelah memposisikan duduk di
bangku meja makan itu.
“entahlah,
Dev. Gue juga gak ngerti permasalahannya. Ya udah lah, kita makan dulu aja.”
“tapi
Kak Ify?”
“gue
juga khawatir. Tapi mau gimana lagi?” Deva hanya pasrah. Berharap kakaknya itu
tidak apa-apa.
*
Suara
pantulan bola basket itu terdengar menggema. Jelas saja, bola itu dimainkan di
lapangan basket indoor sekolah itu.
Pemuda yang memainkan bola itu sepertinya tidak tertarik pada bola oranye itu.
Hanya sekedar memainkannya saja. Pikirannya sudah melayang jauh entah kemana.
Perasaan bersalah itu semakin menyergap benaknya. Sudah berhari-hari ia saling
diam dengan gadis pujaan hatinya. Sudah berhari-hari ia mendiamkannya hanya
karena masalah yang mungkin menurut orang itu sepele, tapi tidak untuknya.
“Kak
Rio” suara seseorang yang memanggil namanya ikut bergema seiring suara pantulan
basket itu. Rio-pemuda itu-berlagak cuek. Ia terus memainkan bola itu. “Kak,
dengerin gue dulu” ucap seseorang itu lagi yang semakin mendekat.
“udah
jelas. Gak perlu lo jelasin lagi” ucap Rio dingin tanpa memberhentikan
permainan basketnya.
“semua
gak seperti yang lo kira, Kak. Maka dari itu, gue mau jelasin semuanya.”
“gue
udah bilang ‘kan? Semuanya sudah jelas. Cukup lo jauhin gue aja.” Ify yang
mendengar itu kembali terisak. Ah! Sudah berapa kali pria ini membuatnya
menangis. “gue gak mau ngeganggu hubungan orang lain. Gue bukan pengacau.” Hati
Rio seakan teriris mendengar isakan gadis itu. Rasanya ia ingin sekali berlari
dan memeluk tubuhnya.
‘maafin
gue, Fy. Gue lakuin ini karena gue gak mau lo kenapa-napa’ batin Rio lirih.
Bertepatan Rio mengshoot bola itu ke
ring, Ify menubruk tubuhnya dan memeluknya dari belakang. Ia merasakan
punggungnya yang basah akibat air mata itu. Rio bergeming. Menikmati hangatnya
pelukan itu. Dan rasanya ia ingin berbalik dan membalas pelukan itu.
“Kak,
dengerin gue dulu. Ini semua gak seperti yang lo bayangin. Gue bukan pacar dia.
Dia yang picik. Ngaku-ngaku kalo dia pacar gue. Dia egois. Gue udah salah
memilih sahabat.” Ify terdiam sejenak. “..dengan ini gue harap lo ngerti. Gue
harap lo gak ngejauhin gue gini, Kak. Gue mau kita kayak dulu. Gue..gu..gue
sayang elo, Kak. Gue cinta sama lo” ucap Ify mantap disela isak tangisnya. Rio
terpaku.
Ada
yang berdesir ketika ia memeluk tubuhnya, ketika ia mengatakan perasaan itu
kepadanya. Pelukan Ify mengendor dan merosot ke bawah. Mungkin akibat tidak
makan dari kemarin, lelah pun menggerogoti tubuhnya. Rio berbalik dan kemudian
menahan tubuh Ify.
“Fy..”
Ify tersenyum lirih dengan wajahnya yang pucat. “kita ke UKS sekarang.” Ify
menggeleng pelan dan menahan langkah Rio.
“gue
harap..lo paham” ucap Ify lemah. Rio menatapnya cemas. Rio membelai pipinya
lembut.
“maafin
gue, Fy. Gue terlalu childish. Tapi,
semua ini gue lakuin semata Cuma karena gue gak mau lo kenapa-napa.” Ify
menggenggam tangan Rio yang membelai pipinya itu. “maafin gue, Fy.”
“sebelum
lo minta maaf pun, gue udah maafin lo. Dan lo juga gak perlu minta maaf. Jangan jauhin gue lagi, Kak.” Rio tersenyum
dan mengangguk.
“gue
janji bakal selalu ada buat lo, Fy.” Ify tersenyum. Rio berdehem pelan,
menetralisir detak jantungnya yang sudah tidak karuan. “kita ketemu karena
kaset Jason Mraz. Kita dekat pun karena kita sama-sama suka Jason Mraz. Dan
sekarang...so i won’t hesitate. No more,
no more. It cannot wait. I’m Yours..” Ify terpaku mendengar suara lembut
Rio.
“gue
harap dari lagu Jason Mraz itu pun, lo mau jadi pacar gue” lanjut Rio yang
membuat Ify terhenyak. “do you?” Ify
tersenyum.
“i do. Tanpa gue jawab pun mungkin lo
udah bakal tau jawaban gue.” Rio tersenyum. Ify berusaha melepaskan rengkuhan
Rio yang semula menopang tubuhnya. Namun, lemah dan kepalanya yang sedikit
berat tidak mendukung. Badannya kembali limbung. Rio segera menahannya kembali.
“lo
kenapa, Fy? Sakit? Muka lo pucet banget.” tanya Rio khawatir.
“gue
gakpapa, Kak.”
“gakpapa
gimana? Lemes begitu.”
“gue
Cuma gak makan dari kemarin.” Rio terbelalak.
“ya
ampun. Memangnya apa yang lo pikirin sih, Fy, sampai gak makan begitu?”
“mikirin
elo, Kak.” Rio terdiam. Ia berpikir kalau ini semua salahnya.
“maaf.”
Ify tertawa kecil.
“udah
ah, daritadi maaf terus. Lo gak salah kali. Gue aja yang berlebihan.” Rio
tersenyum.
“makan
yuk di kantin. Gue traktir deh.” Ify mengangguk pasrah dan menurut. Mereka
melangkah beriringan. Rio dengan setia memapah tubuh kekasihnya itu agar tidak
jatuh. Mungkin dia terlalu berlebihan karena ia tidak ingin tubuh kekasihnya
itu lecet sedikitpun.
“mungkin
awal kita kenal dari Jason Mraz sampai hati kita menyatu saat ini. Tapi,
mungkin kah semuanya bakal berakhir karena Jason Mraz?”
Ada
perasaan aneh dalam dirinya. Perasaan takut kehilangan setelah berhasil
mendapatkan hati itu.
TAMAT
0 komentar