TERNYATA CINTA [RIFY]
Tampak
matahari yang sudah tertutup awan. Kini alam terlihat mendung. Rintik-rintik
air hujan sudah turun sedikit demi sedikit. Sehingga membuat semua orang saat
itu tergesa-gesa melangkah untuk menuju ke tempat yang mereka tuju. Tak
terkecuali muda-mudi itu. Mereka berlari dengan pemuda yang sembari menggiring
sepedanya menuju sekolah tercinta. Ternyata bukan hanya mereka berdua yang
tergesa menghindari guyuran hujan, tetapi beberapa murid di sekolahnya juga
terburu-buru bahkan juga terlihat beberapa guru ikut berlari.
Setelah memarkirkan sepeda gunung pemuda tersebut, kedua
insan itu kembali melangkah menuju kelas masing-masing masih dengan beriringan.
“Tumben banget hujan-nya turun pagi” ujar perempuan manis
itu.
“Yee, nggak tumben-tumbenan kali. Kemarin pagi juga hujan
tuh” sahut pemuda hitam manis di sebelahnya.
“Oh iya, gue lupa hehe.”
“Dasar Alyssa pikun.” Perempuan yang bernama Alyssa
tersebut seketika menjambak rambut ber-style
spike pemuda itu yang tidak terima
mendapat celaan ‘pikun’.
“Gue kagak pikun, Mario, gue cuma lupa.”
“Sama aja” ucap Mario sembari meringis dan kembali
membenahi tatanan rambutnya.
Mereka sahabat baik sejak kelas satu SMA hingga mereka
beranjak naik kelas. Lebih kurang sudah setengah tahun lebih mereka menjalin tali
persahabatan itu. Persahabatan itu dimulai ketika Alyssa dan Mario yang memang
satu kelas mendapat hukuman dari guru pengajar Biologi yang dikarenakan tidak
mengerjakan tugas.
Mereka mendapatkan hukuman untuk meneliti kerja
fotosintesis dari tumbuhan hijau seperti hydrila
ataupun semacamnya. Bekerja sama untuk membuat hasil karya tulis tersebut. Dari
situlah mereka menjadi lebih dekat.
Tak jarang pula mereka digosipi memiliki suatu hubungan
khusus. Namun mereka hanya menganggap itu adalah angin lalu saja.
**
Mario sudah bertengger di depan pintu kelas Alyssa.
Seperti biasa ia menunggu gadis itu untuk pergi ke kantin bersama. Tidak tahu
mengapa, rasanya ia tidak ingin sekali berjauhan dari gadis itu. Tidak bertemu
beberapa jam saja, gadis itu sudah membuat dirinya gelisah ingin segera
bertemu. Kangen? Rindu? Ada apa ini?
Ia melihat dua sejoli tak jauh dari sana. Sedang
bercengkrama mesra. Ia terus menatap mereka. Terbayang itu adalah dirinya
dan...Alyssa? Ia segera menggelengkan kepala untuk membuang bayang-bayang itu.
Yang benar saja? Ada apa dengan dirinya saat ini? Gadis itu adalah sahabatnya
sejak kelas satu. Tetapi, mengapa sekarang ia seperti ingin menganggap gadis
itu lebih dari sahabat? Pertanyaan yang membuat dirinya bingung sendiri itu terus
bersarang di pikirannya saat ini. Sampai seseorang mengagetkannya yang membuat
semuanya buyar tak karuan.
“Ada apa kesini?” tanya siswi yang mengagetkannya tadi.
“Ah..Dea, gue kira siapa.” Dea –siswi itu- tersenyum
malu-malu.
Jantungnya
berdegup kencang tatkala bertatap muka dengan pemuda idamannya sejak semester
awal kelas dua ini. Dea memang baru di sekolah itu, ia baru pindah tepat saat
kenaikan kelas. Ia mengetahui pemuda itu karena Mario selalu menghampiri Alyssa
yang juga satu kelas dengannya saat itu. Sedangkan Mario mengenal Dea dari
gadis itu yang memang sengaja mengajak Mario untuk berkenalan.
“Eh,
Alyssa kemana ya? Daritadi kok nggak juga keluar kelas.”
Hati
gadis itu mencelos ketika Mario hanyalah menanyakan keberadaan Alyssa. Sakit.
Tetapi, apa daya, dia siapa-nya Mario untuk melarang bertemu dengan gadis itu?
Lagipula mereka juga sudah lama berteman, daripada Dea yang baru mengenal
Mario. Ia juga sering sekali mendengar gosip dari teman-teman barunya disini
tentang hubungan Mario dan Alyssa yang selalu dekat.
“Oh,
dia...”
“Kangen
gue nih ye” ucap Alyssa yang tiba-tiba dan memotong pembicaraan Dea. Mereka
mengalihkan pandangan serempak.
Berbeda
dengan Mario yang terlihat sumringah mendapati gadis itu, Dea terlihat menunduk
sedih.
“Eh,
Dea, thank’s ya catatannya. Udah gue
balikin. Gue taruh di laci meja lo.” Dea sontak mendongak dan berusaha
tersenyum ramah pada Alyssa. “Disana gue juga taruh cokelat buat tanda terima
kasih gue ke elo” lanjut Alyssa berbisik.
Hatinya
terenyuh. Ia tidak berhak untuk melarang, memarahi, melabrak ataupun semacamnya
pada gadis itu. Alyssa terlalu baik untuk dijadikan seorang musuh. Lagipula, ia
siapa disini? Anak pejabat? Anak kepala sekolah yang selalu digambarkan di
cerita-cerita itu adalah siswi paling sengak di sekolah?
“Lo
berlebihan. But thank’s a lot.”
“Gue
yang berterima kasih. Yaudah gue cabut dulu ya. Yuk, Yo.”
“Bye, Dea” ucap Mario sebelum mereka
melangkah pergi meninggalkan gadis itu yang mematung di depan pintu.
Sungguh
senang walaupun pemuda itu hanya mengucapkan kata selamat tinggal untuknya. Itu
yang pertama kali. Ia menghela nafas, membuang semuanya jauh-jauh. Sebelum
obsesi itu menggeluti benaknya untuk melakukan hal yang tidak-tidak, lebih baik
ia melupakan rasa itu pada Mario.
“Lagipula,
mereka cocok” gumam Dea pelan nan lirih.
**
“Kelihatannya, Dea suka sama lo, Yo” celoteh Alyssa
sambil melangkah menyusuri rak buku-buku yang tinggi dengan Mario yang terus
mengikutinya dari belakang yang terlihat seperti bodyguard gadis itu. “Matanya itu beda sewaktu dia natap elo.”
Mario masih diam menanggapi argumen Alyssa.
Ia terlihat asyik memandang gadis itu dari belakang.
Rambut panjang bergelombangnya itu membuat dirinya ingin mengelus rambut hitam
milik gadis tersebut. Badannya yang ramping menggambarkan cantiknya gadis di hadapannya
ini.
Lagi, lamunannya itu membuat dirinya bingung. Mengapa
akhir-akhir ini ia sering sekali memikirkan gadis itu?
“Gue juga sering nangkep basah dia mandangin elo
diem-diem sewaktu elo lagi ngobrol bareng gue. Menurut lo gimana, Yo?” Mario
masih bergeming sambil terus mengikuti langkah gadis itu dan kemudian berhenti.
Walaupun ia diam, namun Mario masih tetap mendengar dan menangkap apa yang
sedang dibicarakan Alyssa.
Gadis itu terlihat meloncat-loncat kecil untuk berusaha
mengambil buku di tempat yang tak terjangkau olehnya. Alyssa berhenti meloncat
tatkala tangan Mario menggapai buku yang ia maksud dan langsung berbalik
menghadap pemuda itu. Ia merapatkan tubuhnya dengan rak buku itu ketika Mario
menatapnya tajam nan lembut yang juga jarak wajahnya terbilang cukup dekat. Ada
yang berdegup kencang di dadanya. Ia berharap, Mario tidak mendengar detak
jantungnya saat ini.
“Gue nggak suka dia. Cukup jelas buat jawab semua argumen
lo.” Alyssa diam mematung. “Nih.” Alyssa menerima buku itu dengan diam tanpa
mengalihkan pandangannya dari mata itu.
Gadis itu pun masih mematung ketika Mario sudah melangkah
pergi dari hadapannya. Ada yang menggelitik perutnya saat itu. Ada yang
berdesir di dadanya ketika wajah itu tampak sangat jelas dari pandangannya. Ada
yang menghipnotis dirinya ketika mata itu bersirobok dengan pandangannya.
“Heh, sampe kapan lo mau jadi patung disana?” ucap Mario
sedikit berteriak yang mengagetkan Alyssa.
“Sssstttt” tegur siswa-siswi lain yang saat ini
konsentrasinya buyar oleh teriakan Mario. Pemuda itu meminta maaf dengan
cengiran khasnya.
Alyssa segera menghampiri Mario sebelum kondisi semakin
memburuk karena ulahnya yang terkadang aneh.
Jujur saja, ada sesuatu yang menyesakkan di dada Alyssa ketik
ia berpendapat perihal perasaan Dea terhadap Mario.
**
Seperti hari-hari yang lalu, Alyssa dan Mario pulang
sekolah masih bersama. Berjalan kaki beriringan dengan Mario yang menuntun
sepeda gunungnya yang biasa ia pakai ke sekolah. Rumah mereka masih berada di
satu jalan yang sama. Jadi tidak menyulitkan kedua insan itu untuk bertemu.
Tak sengaja, di tengah perjalanan mereka bertemu seorang
senior di sekolah mereka. Sebut saja dia Alvin.
“Hey” sapa Alvin yang menghentikan langkah Alyssa dan
Mario serta perbincangan mereka. Dengan serempak mereka menoleh ke sumber
suara.
“Oh hai, Kak, ada apa?” tanya Alyssa ramah. Mario
tersenyum ramah. Alvin mematikan mesin motornya itu.
“Ee..aku mau ngajak Alyssa pulang bareng.” Alyssa serta
Mario sontak kaget.
“Tapi..aku pulang bareng Mario, Kak.”
“Boleh ya, Yo, pinjem Alyssa-nya buat pulang bareng?”
tanya Alvin to the point pada Mario.
Rasa amarah, cemburu, sesak itu mulai menjalar di
hatinya. Namun ia tak pantas berperilaku yang tidak-tidak pada seniornya. Dan
dia pun hanya sekedar sahabat Alyssa, bukan pacarnya yang berhak marah ketika
gadis itu di ajak untuk pulang bersama dengan lelaki lain.
“Ah, boleh, Kak.”
Tidak mungkin Mario harus melarang Alyssa untuk pulang
bersama Alvin. Kecuali dia adalah pacar sah dari Alyssa.
“Gue duluan ya, Mario.”
Mario hanya tersenyum paksa untuk menanggapi Alyssa dan
Alvin yang berpamitan pulang. Ia terus menatapi kedua insan itu hingga
menghilang di suatu titik. Pemuda itu menghela nafas. Rasa nya itu menyesakkan
di dada. Apa mungkin ia benar-benar sudah jatuh cinta pada sahabatnya itu?
**
Malam ini cukup dingin untuk bersantai di luar rumah. Dan
awannya pun terlihat pekat dari biasanya. Bintang-bintang dan bulan tak nampak
di langit. Sepertinya malam ini akan turun hujan.
Dinginnya malam berhembus, tidak membuat Mario beranjak
dari tempatnya. Duduk di ayunan depan rumahnya sembari menatap langit gelap
polos tak berhias. Pikiran pemuda itu masih saja melambung tinggi. Memikirkan
Alyssa dan Alvin. Bertanya-tanya.
Mario terlonjak kaget tatkala kepala Alyssa menyembul
dari pagar pembatas rumah mereka.
“Hehe maaf ngagetin.” Mario menghela nafas. “Eh, ngapain
lo di luar? Malam ini dingin lho. Masuk angin baru tau.” Mario bergeming. Hanya
terus menatap langit tanpa menghiraukan Alyssa yang tengah di depannya.
Alyssa menautkan alisnya bingung. Sebenarnnya ada apa
dengan pemuda ini? Tidak seperti biasanya.
“Cuek banget sih.”
Mario hanya mampu menangkap ekspresi itu dari lirikan
matanya. Tidak tahu mengapa, sejak Alyssa dan Alvin pulang bersama tadi, ia
hanya ingin memilih untuk diam saat ini.
“Yo?”
“Kayaknya sih enak pulang bareng tadi. Disuguhin apa aja
di jalan?”
Alyssa bertambah bingung. Pemuda satu ini terlihat sangat
aneh. Ada rasa sakit saat ia merespon seperti itu. Ada rasa sesak di dada. Air
mata itu serasa ingin menyeruak keluar.
“Ah, mau hujan nih. Masuk deh.” Mario berlalu. Melangkah
masuk ke rumahnya tanpa menghiraukan Alyssa yang terus menatap dirinya dengan
tatapan yang tak bisa dimengerti.
“Lo marah sama gue, Yo?” tanya Ify lirih yang tersamar
dengan desahan angin malam.
Air mata itu perlahan jatuh menyusuri lekukan pipinya.
Ternyata lebih sakit jika tak dihiraukan oleh sahabat dengan tambahan orang
tersayang dalam hidupnya.
Gabriel yang berstatus kakak kandung Mario yang baru saja
pulang dari rumah teman kuliahnya, menatap Alyssa sejenak yang diam mematung di
dekat pagar pembatas rumah mereka. Pemuda itu menuntun motornya masuk ke
pekarangan rumahnya dan kemudian berhenti tepat dihadapan Alyssa. Namun
tampaknya gadis itu tak menyadari, karena sedari tadi hanya menatap miris rumah
itu.
Gabriel melambai-lambaikan tangannya di depan wajah gadis
itu. Tetapi tetap bergeming.
“Alyssa?” panggil Gabriel yang kontan membuat Alyssa
sedikit tersentak.
Gadis itu menghapus jejak air matanya dengan cepat dan
kemudian menoleh dengan tersenyum. “Kamu nangis?” Alyssa menggeleng.
Perlahan, air mata itu kembali meluruh. Gabriel yang
melihatnya tidak tega.
“Kenapa?” Alyssa kembali menghapus air mata itu.
“Ah..nggak kok, Bang. Hati aku lagi sensitif aja malam
ini, tadi habis nonton drama. Ceritanya sedih banget” dustanya. Gabriel hanya
menatapnya lirih. Ia tahu bahwa kata-kata itu hanyalah kebohongan belaka.
“Lebih baik kamu masuk. Sudah larut.” Gabriel menepuk
puncak kepala Alyssa lembut layaknya seorang kakak.
Alyssa hanya mengangguk dan kemudian melangkah berlalu
setelah mengucapkan selamat malam pada Gabriel. Pemuda itu menghela nafas
berat. Ia sudah menganggap Alyssa sebagai adiknya sendiri. Dan tidak biasanya
gadis itu menangis di hadapan orang lain termasuk mereka yang terbilang dekat
dengannya. Gabriel mengira bahwa penyebab tangisan Alyssa itu adalah Mario.
Bergegas ia memasukkan motornya ke dalam garasi dan
melangkah bermaksud menghampiri adiknya itu. Sebelum ke kamarnya, ia singgah
terlebih dulu ke kamar Mario yang tepat bersebelahan dengan kamarnya.
“Ada perselisihan apa sama Alyssa?” tanya Gabriel yang
membuat Mario menghentikan aktivitasnya. Gitar itu ia pangku sembari menatap
Gabriel seakan tidak tahu apa-apa. Gabriel bersandar di pinggiran bingkai pintu
kamar Mario. “Jangan seakan lo nggak ngelakuin apa-apa. Dia nangis tadi.”
Mario terhenyak. Alyssa menangis? Gadis itu menangis
karenanya. Hatinya bergemuruh. Pikirannya berdemo saat itu. Apa yang telah dia
lakukan. Karena hanya keegoisan dirinya semata, ia membuat gadis paling berharga
di matanya itu kini mengeluarkan air mata.
“Gue..gue..udah keterlaluan sama dia. Gue egois, Bang.
Gue nyuekin dia gara-gara gue gak suka dia pulang bareng Kak Alvin tadi siang.
Gue nyesel.”
Kini Gabriel mengerti permasalahannya. Mario cemburu terhadap
Alyssa. Ia tersenyum dan kemudian mendekati adiknya itu. Menepuk pundak sebagai
tanda saudara.
“Lo cemburu, bro.
Wajar sih, tapi lo nggak mesti bersikap gitu ‘kan ke dia.”
“Itu bukan maunya gue, Bang. Gue nggak tahu kenapa gue
gitu.” Gabriel tertawa kecil.
“Lo udah cukup dewasa buat tahu gimana cara mengendalikan
emosi lo.”
**
Sejak kejadian semalam, Mario dan Alyssa sama sekali
tidak bertegur sapa. Mereka terlihat canggung. Layaknya orang yang tidak
mengenal satu sama lain. Sebenarnya pagi tadi Alyssa ingin melupakan kejadian
semalam dan seperti sebelumnya bersama Mario. Tetapi, ketika melihat wajah
Mario yang masih terlihat dingin dan menyeramkan baginya, ia mengurungkan niat
itu.
Pelajaran yang ia jalani hari ini sangat tidak menyenangkan
untuk Alyssa. Tak jarang juga para guru pembimbing yang mengajar mata pelajaran
di kelasnya menegur gadis itu yang tengah melamun sembari memandang jendela di
sebelah kiri-nya.
Untuk istirahat pun sepertinya tidak ia nikmati. Padahal,
istirahat adalah jam favoritnya di sekolah –bukan hanya Alyssa, seluruh murid
pun. Alyssa memilih untuk berdiam diri di kelas.
Ia menghela nafas. Ternyata memandang langit itu
mengasyikkan juga untuk para galau-ers.
Tampak langit itu yang semula berawan putih bersih, perlahan ditutupi awan yang
terlihat kelabu. Matahari pun kini bersembunyi di sekitar gumpalan awan suram
itu. Sepertinya siang ini akan turun hujan. Apakah benar perkataan orang yang
sering membicarakan bahwa alam ikut bersedih atas hatinya? Entahlah. Tak
penting untuk dipikirkan. Pikirannya saat ini hanyalah Mario.
“Lebih menyakitkan lo diam terhadap gue” gumamnya lirih.
Tetesan demi tetesan air hujan itu mulai turun. Hawa yang
tadinya panas perlahan mendingin. Embun mulai terbentuk di kaca jendela
sebelahnya itu. Tangannya bergerak menulis satu kata di kaca itu. ‘MARIO’.
“Alyssa”. Alyssa menoleh ke arah sumber suara. Mendapati
Dea yang terengah-engah dengan raut wajah cemas. “Mario pingsan, sekarang dia
di UKS”.
**
Pemuda satu ini tampaknya tak jauh berbeda dengan Alyssa.
Sedari pagi tadi ia hanya diam. Menanggapi pertanyaan ataupun pernyataan
teman-temannya hanya dengan anggukan-gelengan atau deheman kecil. Pelajaran
olahraga yang menjadi pelajaran favoritnya itu juga tak membuat dirinya
bersenang-senang. Hanya lamunan tentang gadis itu yang berada di benaknya saat
ini.
Tak sengaja saat istirahat dari bangku lapangan basket
sekolahnya, ia melihat gadis itu menatap keluar jendela. Terlihat pandangan
gadis itu menyimpan kesedihan dan kepedihan. Mario menyesal telah berbuat yang
tidak seharusnya ia lakukan. Yang seharusnya ia dapat mengontrol emosi-nya.
Ia terus memantau gerak-gerik gadis itu. Terlihat ia
tengah menggumamkan sesuatu namun tentu saja tak dapat ia dengar. Mario
mendongak ke atas tatkala setetes air jatuh di kepalanya. Langit terlihat
gelap. Rintik hujan mulai turun. Tetapi teman-temannya yang masih saja bermain
basket di lapangan itu tak menghentikan permainan mereka. Ia kembali memandang
gadis itu dengan hujan yang mulai menderas. Ia terpaku ketika gadis itu menulis
namanya di kaca jendela yang berembun. Hingga ia merasakan hantaman cukup keras
di kepalanya dan semua gelap.
**
Ia mengerjapkan matanya. Kepalanya terasa pening ketika
ia membuka matanya. Ia mendapati Alyssa yang menatapnya kuatir dan cemas.
Sedikit terkejut akan kehadiran gadis itu. Dengan gerakan refleks ia
mendudukkan dirinya dan kemudian sedikit meringis ketika ia merasakan pening
itu semakin kuat. Tampak Alyssa yang semakin kuatir. Mario mengisyaratkan bahwa
ia tidak apa-apa.
“Ngapain disini? Bukannya jam pelajaran?” tanya Mario
membuka suara disaat ia sudah dapat menetralkan semuanya.
“Gu..gue..gue..cuma mau jagain elo” jawab Alyssa dengan
lirih di akhir kata-katanya.
Ada yang berdesir di dada pemuda itu. Jawaban yang
mungkin ia nantikan saat itu juga. Alyssa menunduk takut-takut ketika
berhadapan dengan Mario. Ia hanya menatap jari-jemari mungilnya yang ia mainkan
untuk mengisi kekosongan di dirinya sendiri.
Geli melihat gadis itu salah tingkah. Jika kecanggungan
itu tidak terjadi di antara mereka saat ini, mungkin saja Mario telah tertawa
keras saat itu.
“Gue bisa sendiri”.
Mendengar itu, hati Alyssa bergemuruh layaknya guntur di
langit ketika hujan akan turun. Lututnya melemas saat itu. Tak mampu lagi
menopang beban tubuhnya. Alyssa terduduk lemas di kursi ruangan itu. Air
matanya pun kembali meluruh menyusuri lekukan kedua pipinya.
Hati Mario bergetar hebat saat melihat gadis itu menangis
dihadapannya. Tangannya terkepal kuat saat itu. Serasa ingin meninju dirinya
sendiri yang telah berbuat jahat. Ego-nya menjadikan dirinya seperti ini.
Melihat gadis itu teringat pula ia yang bersama dengan Alvin. Memang tak
sepantasnya ia seperti ini, tetapi entah setan apa yang kini ada di dalam
tubuhnya hingga bisa membuat orang yang ia cintai itu menangis untuk yang kedua
kalinya. Dengan langkah berat Mario meninggalkan Alyssa yang masih terduduk
disana.
Air mata itu mengalir deras. Isakannya mulai terdengar.
Rasa sesaknya tak dapat lagi ia tahan.
“Alyssa?” suara yang sedikit bariton itu menyapa.
Pemuda
yang memiliki darah Tiongkok itu melangkah mendekati Alyssa. Mengambil posisi
duduk di sebelahnya. Menyingkap helaian rambut yang menjuntai menutupi wajah
manisnya dan kemudian diselipkan di belakang telinga Alyssa.
“Kenapa?”
Alyssa bergeming. Hanya isakan demi isakan yang Alvin dengar.
Ia
tahu gadis itu hanya butuh ketenangan saat ini. Tanpa bertanya apa-apa lagi,
Alvin merengkuh tubuh mungil gadis itu ke pelukan hangatnya. Membiarkan ia
menangis di pelukannya.
Dari
luar jendela samping ruangan itu, terlihat Mario menatap miris mereka.
‘Mungkin memang dia yang pantas
buat elo dampingi. Maafin gue’.
Dengan
gontai ia melangkah menjauh.
**
Gabriel yang baru saja masuk ke dalam pekarangan rumahnya
melihat Mario yang tengah membaca buku sembari mendengarkan lagu dengan headsetnya yang menjuntai sedang duduk
di ayunan depan rumahnya itu. Dan Alyssa yang saat itu juga berada di luar
rumahnya tengah menyirami tanaman. Ia tahu, di sela kesibukan mereka ataupun
hanya menyibukkan diri mereka itu, diam-diam mereka saling lirik. Gabriel merasa
perselisihan di antara kedua adiknya itu telah melebihi batas waktu normal.
Sudah lebih dari 3 hari mereka seperti ini.
Ia menghela nafas berat. Mungkinkah ia harus turun tangan
juga? Padahal ia paling enggan untuk mencampuri urusan orang lain. Tetapi ini
menyangkut hati dan perasaan adik-adiknya. Dan lebih baik ia mendamaikan
mereka. Gabriel melangkah menuju pagar pembatas rumahnya dengan Alyssa.
Mario melihat kakaknya itu heran. Sedikit mencondongkan
tubuhnya namun tidak melepaskan headset
dari kedua telinga dan tidak mengalihkan pandangan dari buku yang ia baca, guna
untuk mendengar pembicaraan Gabriel dengan Alyssa secara diam-diam. Namun
nihil, ia tidak mendengar apapun. Mario kembali ke posisi semula ketika Gabriel
menyudahi pembicaraannya dengan Alyssa. Mario seolah acuh saat Gabriel mulai
mendekati dirinya.
“Apaan sih, Bang?” tanya Mario kesal ketika Gabriel
melepas headsetnya tanpa persetujuan.
“Marah mulu lo” ujar Gabriel sembari mengacak rambut
Mario. Mario mencibir. “Nanti malam lo ikut gue ya”.
“Mau kemana?”
“Ikut aja”. Gabriel melangkah memasuki rumahnya, di
ambang pintu ia berhenti dan menoleh. “Gak ada bantahan” lanjutnya yang seolah
tahu apa respon Mario selanjutnya.
Harus tidak harus Mario mengikuti perintah kakaknya itu.
**
“Yaelah, Bang, tumben banget ngajakin gue ke taman. Lo
mau ngedate sama gue? Sadar, Bang,
gue ini adek lo”. Gabriel menoyor Mario, pemuda itu meringis sembari
mengelus-ngelus kepalanya. “Kepala gue berkah nih”.
“Elo sih ngomong kagak di filter dulu. Mending ngedate
sama kebo daripada elo”. Mario mengerucutkan mulutnya.
Sedari tadi Gabriel terus melihat jam di handphone-nya. Orang yang sudah berjanji
akan datang itu sepertinya terlambat dari waktu yang dijanjikan. Sedangkan
Mario terlihat duduk santai di samping Gabriel.
Wajah Gabriel terlihat cerah ketika seseorang itu datang.
“Akhirnya dateng juga” ujar Gabriel tiba-tiba yang
serentak Mario menoleh.
Ia terkejut dibuatnya. Tak jauh beda, seseorang yang
ternyata itu adalah Alyssa juga terperangah.
“Bang? Elo gak bilang kalo dia juga ikut” ucap Mario
sedikit agak sewot.
Alyssa yang mendengarnya tertunduk. Memang benar,
sebaiknya ia menjauh daripada dia harus terus-menerus disakiti seperti ini.
Walaupun Mario tidak membentak, tetapi perkataan dingin dan cueknya itu lebih
menyakitkan daripada yang dibayangkan.
“Gue ‘kan udah bilang, kalau ngomong itu disaring dulu
deh. Nyakitin perasaan orang itu sama aja lo layaknya Fir’aun. Kejam”.
Gabriel menghampiri Alyssa yang berdiri mematung disana.
Menunduk sedih. Ia menarik tangan Alyssa yang mulai mendingin untuk mendekat.
Ia melepas jaket biru dongker yang ia
kenakan. Menyodorkannya ke hadapan Alyssa.
“Pakai jaket Abang nih. Nanti kamu masuk angin, Tante
repot deh”.
Alyssa mendongak dan tersenyum hangat.
“Nggak usah, Bang. Aku udah biasa”.
“Udah pakai aja nih”. Alyssa menggeleng masih dengan
tersenyum. Gabriel menghela nafas dan kemudian menyampirkan jaketnya ke pundak
Alyssa.
Gadis itu malam ini tidak memakai jaket, sweater, ataupun cardigan. Akibat terburu-buru tadi, ia tidak sempat mengambil
jaket, sweater maupun cardigannya.
“Gak ada bantahan ya” lanjut Gabriel.
“Makasih, Bang”.
Mario yang sedikit gerah melihat pemandangan itu,
beranjak dari tempat duduknya dan melangkah berlalu. Belum sempat ia
melanjutkan langkahnya, kerah baju belakangnya itu ditarik oleh Gabriel
sehingga ia kembali ke tempat duduknya.
“Cemburuan banget sih? Gue gak bakal kali ngambil gebetan
lo ini”.
Mario terbelalak mendengar Gabriel yang berbicara seperti
itu dengan santainya tepat di hadapan Alyssa. Gadis itu bergeming. Terpaku
mendengar apa yang dibicarakan oleh Gabriel tadi.
Mario berusaha membekap mulut Gabriel yang sepertinya
ingin kembali membeberkan aibnya itu.
“Mulut lo bocor banget ya” bisik Mario di telinga
Gabriel.
Gabriel tertawa tertahan. Ternyata adiknya ini cemen. Tidak gentle untuk mengungkapkan isi hatinya. Mungkin adiknya itu lebih baik
menderita daripada pujaan hatinya itu tahu apa isi dari hatinya. Gabriel
melepaskan tangan Mario yang membekap mulutnya itu.
“Gue mau lo sama Alyssa malam ini udah damai. Bila perlu
lo berdua jadian. Oke? Gue tinggal dulu” bisik balik Gabriel. Mario menatapnya
memelas. Sebelum ia sepenuhnya meninggalkan mereka, Gabriel berbalik ke arah
Alyssa. “Abang mau cari minum dulu ya, kalian berdua baik-baik disini. Jangan
nangis lagi”. Gabriel mengacak lembut pucuk kepala Alyssa dan kemudian ia
melangkah pergi.
Alyssa terus memandang ke arah langkah Gabriel pergi.
Seperti ia enggan untuk ditinggalkan berdua dengan Mario. Siapa yang akan
menenangkan pemuda ini jika Gabriel tidak ada? Sesampainya di rumah mungkin dia
akan menyiapkan banyak tisu.
Hening. Hanya hembusan angin malam yang berhembus dengan
nyanyian malam jangkrik yang terdengar. Memang benar, kecanggungan itu sudah
keterlaluan. Tidak seperti dulu mereka yang selalu bersenda gurau bersama.
Setiap pertemuan mereka pasti ada saja topik pembicaraan yang mereka bahas.
Tetapi sekarang perbedaan itu telah mencapai titik di 360 derajat mungkin.
“Gue..gue...”
“Gue minta maaf” potong Mario. Alyssa sedikit terlonjak.
Ia mendongak menatap Mario yang kini berdiri tepat di hadapannya. “Maaf atas
perbuatan gue ke elo akhir-akhir ini. Sumpah, gue nggak bermaksud buat lo
nangis, buat lo murung, buat lo sedih. Gue cuma mau elo bahagia.”
“Gue nggak bahagia tanpa elo dekat gue, Mario. Karena elo
sumber kebahagiaan gue.” Mario terhenyak. Air mata itu kembali menetes. “Mungkin
rasa sayang gue ke elo itu udah melebihi batas dari sekedar sayang buat
sahabat. Apa gue salah punya perasaan kayak gini ke elo? Gue bahagia dengan
perasaan yang gue miliki. Tapi gue sakit saat elo jauh dari gue. Seakan gue mau
capai bintang di langit sana. Gue..gue..”
Mario memeluknya. Memeluk Alyssa erat dan hangat. Gadis
itu menangis terisak. Mario berjanji dalam hati kecilnya untuk tidak mengulangi
perbuatan seperti ini lagi. Batinnya tersiksa melihat gadis pujaannya itu
mengurai air mata.
“Maafin gue. Maaf buat semuanya. Gue sayang elo, Alyssa”.
Alyssa tersenyum dalam tangisnya. Ia membalas pelukan
Mario tak kalah eratnya. Seakan mereka enggan untuk melepas satu sama lain.
“Udah lama gue ngerasain perasaan ini. Ternyata perasaan
itu cinta. Cinta gue ke sahabat gue sendiri” lanjut Mario. Ia melepaskan
pelukannya dan kemudian menghapus air mata Alyssa. Mario memegang pundak Alyssa
dan menatap matanya dalam. “Jadi pacar gue ya.”
Alyssa memukul-mukul pelan lengan Mario. Sedikit tidak terima
karena ‘penembakan’ itu tidak romantis. Sangat tidak romantis baginya, walaupun
di awal sudah cukup romantis. “Sumpah ya, elo itu nggak ada
romantis-romantisnya sama sekali”. Mario tertawa kecil melihatnya.
“Mau romantis gimana? Gue yang berlutut di hadapan elo
sambil nyodorin bunga gitu? Norak tau”. Alyssa mengerucutkan bibirnya dan
mengembungkan pipinya lucu. Mario mengacak-ngacak rambut Alyssa. “Gak ada
bantahan, mulai sekarang elo jadi pacar gue”.
“Itu pemaksaan”.
“Tapi lo mau ‘kan?” goda Mario sembari menaik turunkan
alisnya. Wajah gadis itu memerah. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya
malu-malu.
Getaran handphone
di saku celana Mario membuat sang empunya merutuki orang yang mengirimkan pesan
itu karena mengganggu acara pacarannya.
Gw blik. Nungguin lo berdua kelmaan.
Bkin gw envy pula.
But, congrats ya bro, udh jdian nih yee :D
From: Gabriel
16/05/2014 19:25:42
Mario senyum-senyum sendiri ketika
membaca pesan singkat dari kakaknya itu. Dia memang paling jago kalau urusan
seperti ini. Mario bersyukur dalam hati
karena memiliki kakak yang sangat care
seperti itu.
“Ih, gila, senyum-senyum sendiri”. Mario menoleh dan
menatap Alyssa garang.
Gadis itu tersenyum dengan memperlihatkan deretan gigi
putihnya. “Damai deh”. Alyssa berlari menjauhi Mario.
“Untung lo pacar gue. Kalo bukan, udah gue jadiin pecel
lo” ucap Mario sedikit berteriak.
0 komentar