A Turning Part 15


A Turning àPart 15ß
The Last Part!

====A Turning====

Bahagia itu kembali. Sebuah harapan agar kebahagiaan itu tidak hilang seperti dulu lagi. Senyuman ceria pun tak pernah lepas. Selalu merekah layaknya mekarnya kelopak bunga kebahagiaan itu saat ini. Tidak ingin lagi menutup kelopak itu. Akan selalu dijaga agar tetap mekar dengan indahnya.

“Kak Cakkduuttt..lo itu bisanya Cuma bikin gue keseeeel. Balikin hp gueee” teriak Ify kesal pada Cakka yang tengah duduk di sampingnya. Mereka saat ini sedang dalam perjalanan untuk pergi ke sekolah. Shilla mengantar mereka semua. Mumpung hari ini dia jadwal siang. Sekali-sekali mengantar adik-adiknya itu sekolah. Deva yang berada di samping kiri Ify menutup telinganya. Gabriel dan Shilla yang berada di depan tertawa kecil melihat kelakuan kedua adiknya. Bernafas lega, mengucap syukur karena gadis itu kembali.

“gue pinjem bentar, Fy, pelit banget sih lo” balas Cakka sambil menjauhkan hp Ify dari jangkauan tangan gadis itu.

“gak boleh. Lo itu tukang ngerusak privasi tau.”

“ah, gak mungkin itu mah. Gue tau nih, pasti ada apa-apanya di hp ini. Ngaku lo?”

“apaan sih? Kagak ada. Hp gue bebas dari virus maupun situs yang gak banget.”

“masa’ sih? Gue cek deh. Eh? Ada pesan masuk nih.” Ify melotot. Ia tahu itu dari siapa. Dengan sekuat tenaga ia ingin merebut hp dari tangan Cakka. Namun tetap tak bisa. “cieeee, dari Rio nih yeeee.” Benar apa yang Ify pikirkan, Cakka tukang perusak privasi orang.

“Kak Cakkduuuuuuttttt. Balikiin hp gueeee. Gue sumpahin lo gak bisa dapetin Kak Agni, mampus-mampus deh lo sana” ucap Ify kesal sembari mengerucutkan bibirnya dengan melipat kedua tangannya di dada.

“yah, Fy, jangan gitu dong. Gue liat dikit aja deh ya, penasaran nih hehe.”

“Kak, baca apa isi sms-nya” ucap Deva yang ikut nimbrung. Ify melotot ke arahnya.

“lo mau ikut-ikutan? Dasar kakak beradik yang durhaka. Kak Shilla, Kak Iel..” rajuk Ify kepada Shilla dan Gabriel. Gabriel menoleh ke belakang dan mengacak-ngacak rambutnya gemas.

“doain aja si Cakka biar gak bisa dapetin Agni. Kalo si Belo sih, doain biar gak bisa dapet gebetan” ujar Gabriel. Cakka dan Deva melotot mendengarnya. Ify tersenyum senang. Memang kakaknya yang satu ini bisa sekali ia andalkan.

“waaahhh, kurang asem lo, Kak” ujar Cakka dan Deva kompak. Ify langsung merebut hp nya dari tangan Cakka dan kemudian memeletkan lidahnya ke arah Cakka.

====A Turning====

“Pagi, Rio..” sapa Ify ceria pada Rio yang tengah melangkah santai di koridor sekolah. Rio yang mengenali suara itu langsung menoleh dengan tatapan tidak percaya. Benarkah Ify menyapanya? Atau ini bukan Ify yang asli, tapi Ify jadi-jadian? -_- Ify menatap Rio heran. “Yo, woy! Kenapa sih?”

“eh? Eng..enggak. Cuma..Cuma heran aja” ujar Rio terbata.

“heran kenapa?”

“ah, lupain aja. Pagi juga, Fy.” Ify geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Rio. Rio melihat Ify ada yang berbeda pagi ini. Em..senyumnya begitu lebih lepas. Warna raut wajahnya pun lebih terang dari kemarin-kemarin. Dan lebih..-ehem-cantik.

“kelas bareng?” tanya Ify yang menyentak Rio. Pemuda itu mengangguk. Mereka berjalan beriringan menuju kelas. Rio melirik Ify dari ekor matanya. Gadis itu memang berbeda sekarang. Lebih sering tersenyum dan menyapa siswa-siswi yang berlalu lalang di hadapannya. Ada apa dengan gadis ini? Tak dipungkiri memang, hatinya berdesir melihat senyuman manis dan lepas itu.  Rio menarik tangan Ify sebelum melangkah memasuki kelas. Ify berbalik dan menatap bingung Rio.

“lo keliatan beda hari ini.” Ify menaikkan satu alisnya. Ia tahu apa yang dimaksud Rio, namun ia berpura-pura tidak tahu.

“beda? Maksdunya?”

“emm..ya beda dari kemarin-kemarin. Lo tau lah pasti. Hutang cerita lo sama gue.”

“gak ada yang perlu diceritain, Rio.”

“gak. Pokoknya, istirahat nanti gue tunggu di taman belakang sekolah. Gue tau banyak cerita yang lo hutangin ke gue.” Ify mendengus sebal. Tahu saja pemuda satu ini. “jangan lupa ya. Istirahat nanti di taman belakang sekolah. Gue tunggu, bidadari ku” ucap Rio sembari menyentil hidung Ify dan kemudian berlalu. Dada gadis itu berdesir ketika mendengar Rio memanggilnya ‘bidadari ku.’ Perutnya serasa tergelitik. Wajahnya seketika memanas.

‘wah, gue kenapa nih?’ batinnya heran. Ify mengendikkan bahunya dan kemudian melangkah menuju kelas. Sesampainya di bangku, ia menyapa Sivia masih dengan ceria. Sivia yang menyadari itu langsung ternganga tidak percaya. Benarkah ini sahabatnya yang dulu? Sahabat dengan keceriaannya, senyumannya yang telah terkubur sejak lama kini kembali?

“Via? Lo kenapa? Hati-hati loh, iler-nya ngalir semua” ujar Ify sembari terkikik geli. Sivia langsung menutup mulutnya.

“Ify? Bener ‘kan ini lo? Gue gak salah liat ‘kan? Apa gue lagi mimpi ya?”

“lo berlebihan deh, Vi.” Sivia memeluk tubuh Ify erat. Ify mendelik. “Via, lo apa-apaan sih? Gue masih normal tau. Lepas deh.” Sivia menggeleng dan masih memeluk Ify.

“kagak, gue masih mau melepas rindu gue dengan Ify yang dulu hehe.” Ify melengos. Tidak Sivia, tidak saudara-saudaranya sama saja. Sebegitunya kah ia berubah?

====A Turning====

“yah, hujan” ujar Rio sembari menatap hujan yang deras mengguyur bumi. Rencana curhat di taman belakang sekolah sepertinya gagal.

“biarin deh. Seru juga kalo basah kuyup” ucap Ify yang membuat Rio melotot. “ayo kesana.” Ify yang ingin melangkah menuju taman belakang sekolah tertahan ketika Rio menarik tangannya kembali hingga Ify sedikit terseret ke sampingnya.

“lo udah gak waras ya.” Ify mendengus sebal. “gak inget akhir-akhir ini lo sering sakit. Gue gak mau ya ngeliat elo sakit lagi. Cukup kemarin-kemarin aja.” Ify tersentuh mendengar penuturan Rio.

“yaudah, gak jadi deh gue ceritanya.”

“jadi dong. Kita ke ruang musik.” Rio menarik tangan Ify menuju ruang musik. Ify yang ditarik seperti ini hanya pasrah.

“Yo, bisa pelanan dikit gak? Sakit tau.” Rio berhenti dan berbalik.

“maaf deh.” Tangan Rio berganti menjadi menggenggam tangan Ify, hangat. Wajah gadis itu seketika memanas. “kalo begini gue jamin gak bakal sakit. Tapi malah bikin ketagihan” ujar Rio sembari melemparkan senyum manisnya. Ify refleks menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah. Rio kembali menarik tangan Ify menuju ruang musik. Sesampainya disana, Rio melepaskan genggaman tangannya dan segera melangkah mendekati sebuah gitar. Mengambil benda itu dan kemudian memainkannya sedikit. Ify mematung disana.

‘bener deh jaminan Rio. Gue kok gak mau dia ngelepas genggaman dia dari tangan gue ya? Hii..gue kenapa sih?’ batin Ify bingung.

“Fy? Kenapa?” Ify tersentak.

“ah, enggak.” Ify mengambil posisi duduk di depan Rio.

“mulai cerita deh sekarang.” Ify menghela nafas.

“tapi sebentar lagi bel masuk, Yo.”

“masih ada waktu 30 menit, sayang. Cepetan deh cerita.” Jantung Ify kembali berdegup kencang. Dadanya berdesir hebat ketika Rio memanggilnya ‘sayang.’ Lagi-lagi Ify tersentak tatkala Rio mencubit hidungnya gemas.

“Riooo, sakit tauuu.”

“elo sih jadi patung mulu. Disuruh cerita juga. Cepetan cerita sekarang.”

“dasar bossy.” Rio melotot ke arahnya. Ify membalasnya dengan memeletkan lidah. Gadis itu menghela nafas dan kemudian menceritakan semua kejadian yang membuatnya berbeda hari ini.

“..gue pikir-pikir, gue terlalu kejam biarin papa kayak gitu. Sampai-sampai dia mau berlutut. Gue..gue kejam banget, Yo. Kenapa gue bisa bersikap begitu sama papa sendiri?” ucap Ify lirih dengan air matanya yang mengalir. Rio yang tidak tega melihat bidadari-nya itu menangis, segera menghampiri dan kemudian merengkuh tubuh mungil itu.

“udah, Fy. Emang sih lo kejam banget, tapi itu bukan kemauan lo. Ego dan rasa kecewa  lo itu yang bikin lo begitu. Sorry, udah maksa lo buat cerita.” Ify masih terisak. “udah dong. Gue gak tega liat lo nangis begini.” Perlahan isakan Ify berhenti. Rio melepaskan pelukannya dan kemudian menghapus lembut air mata Ify yang membekas di pipi putih gadis itu. “maaf.” Ify tersenyum dan kemudian menggeleng.

“lo gak perlu minta maaf, Yo. Gue berterima kasih sama lo, berkat lo gue bisa sedikit lebih baik. Makasih, Yo.” Rio mengangguk dan tersenyum.

“daripada lo sedih-sedihan begini, kita nyanyi aja yuk. Mumpung masih ada waktu nih.” Rio mengambil gitar dan kemudian memainkan sebuah intro lagu.

(Rio)
Saat bahagia ku
Duduk berdua denganmu
Hanyalah bersama mu

(Ify)
Mungkin aku terlanjur
Tak sanggup jauh dari dirimu
Ku ingin engkau selalu

(Rio-Ify)
Tuk jadi milikku
Ku ingin engkau mampu
Ku ingin engkau selalu bisa
Temani diriku
Sampai akhir hayatmu
Meskipun itu hanya terucap
Dari mulutmu
Dari dirimu yang terlanjur mampu
Bahagiakan aku hingga ujung waktu ku
Selalu..

(Ify)
Seribu jalanpun ku nanti
Bila berdua dengan dirimu
Melangkah bersamamu

(Rio)
Ku yakin tak ada satu pun
Yang mampu merubah rasa ku untuk mu
(Rio-Ify)
Ku ingin engkau selalu

(Rio-Ify)
Tuk jadi milikku
Ku ingin engkau mampu
Ku ingin engkau selalu bisa
Temani diriku
Sampai akhir hayatmu
Meskipun itu hanya terucap
Dari mulutmu
Dari dirimu yang terlanjur mampu
Bahagiakan aku hingga ujung waktu ku
Selalu..

(Rio)
Mungkin aku terlanjur (Ify[Mungkin aku])
Tak sanggup jauh dari dirimu
(Rio-Ify)
Ku ingin engkau selalu

(Rio-Ify)
Tuk jadi milikku
Ku ingin engkau mampu
Ku ingin engkau selalu bisa
Temani diriku
Sampai akhir hayatmu
Meskipun itu hanya terucap
Dari mulutmu
Dari dirimu yang terlanjur mampu
Bahagiakan aku hingga ujung waktu ku
Selalu..

Tepuk tangan riuh membuat Rio dan Ify menoleh. Terlihat siswa-siswi yang heboh di sekitar ambang pintu ruang musik dan sebagian pun sudah masuk ke dalam, sebagian lagi ada yang melihat dari jendela. Termasuk Sivia dan Alvin disana.

“duet kalian bikin merinding” ujar Sivia yang diangguki setuju lainnya. Rio dan Ify salah tingkah. Tidak menyangka jika kepergok seperti ini.

“feel-nya dapet banget, bro” sambung Alvin yang lagi-lagi diangguki setuju dari yang lain. Rio menggaruk-garuk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal, sedangkan Ify menunduk malu.

“udah deh, sana ke kelas. Ganggu aja. Udah bel tuh” seru Rio yang mengundang sorakan heboh dari mereka semua. Rio cengengesan.

“tau deh yang mau berduaan. Lo juga kali harus masuk kelas” ucap Alvin.

“iye, entaran. Sana lo.” Semuanya kembali melangkah menuju kelas masing-masing. Kini tinggal Rio dan Ify yang berdua lagi disana. Rio menoleh ke arah Ify yang masih menunduk. Pemuda itu tertawa kecil melihat tingkah laku pujaan hatinya. “Fy? Udah pada pergi tuh.” Ify mendongak.

“eh? Eng..gue ke kelas duluan” ujar Ify kikuk dan ingin beranjak dari sana. Namun, Rio menahannya.

“jam tiga gue tunggu di bukit biasa. Tau ‘kan?” Ify mengangguk sembari mengernyit heran. “nanti juga lo tau.”

“em, oke. Gue duluan deh. Bye, Rio.” Ify berlari kecil keluar ruangan. Rio tersenyum menatap punggung gadis itu. Dengan langkah santai dan kedua tangannya yang ia masukkan ke saku celana abu-abunya, ia mengikuti langkah Ify, keluar ruangan musik itu menuju kelasnya.

====A Turning====

Ify menghampiri Rio yang telah duduk di puncak bukit dengan langkah sedikit terseret. Lelah juga berjalan kaki dari rumah sampai bukit ini. Ternyata cukup jauh juga. Ia langsung terduduk lemas di samping Rio. Rio yang merasakan kehadiran Ify langsung menoleh dan menatapnya heran.

“lo habis mandi keringat ya, Fy?” tanya Rio yang membuat Ify menoyor kepalanya.

“capek tau” ujar Ify yang masih tersengal.

“lo marathon?” Kali ini Ify menjitak kepala Rio. Pemuda itu hanya meringis.

“gue jalan kaki noh dari rumah.” Rio melotot mendengarnya. Rumahnya ‘kan lumayan jauh dari sini, bisa-bisanya jalan kaki, gempor deh tuh kakinya, pikir Rio.

“kenapa gak minta anter apa naik mobil aja, Fy?”

“Kak Cakka molor, Deva molor juga. Mereka itu paling males dan pelit bensin. Kak Gabriel lagi ada kerjaan di sekolah. Kak Shilla ada jadwal kampus siang, belum pulang. Mobil gue lagi mogok. Supir? Gak punya” jelas Ify panjang lebar sembari meluruskan kakinya. Rio menatapnya dengan tersenyum. Ify yang merasa tidak ada respon sontak menoleh. Kedua pasang mata itu bertemu. Membuat irama detak jantung kedua insan itu lebih cepat dari biasanya. Membuat dada kedua insan itu berdesir hebat. Membuat kupu-kupu di sekitar perut mereka berterbangan menggelitik. Seakan waktu itu berhenti. Menyisakan satu titik harapan. Angin berhembus yang menerpa wajah mereka membuat Rio dan Ify tersentak. Saling memalingkan muka menyembunyikan semburat merah di kedua pipi mereka. Berusaha menetralisir detak jantung itu.

“ah..emm, Yo. Disini ada jual minum gak? Haus nih” tanya Ify yang berusaha sebiasa mungkin.

“ada kok. Tuh disana” jawab Rio serileks mungkin sembari menunjuk gerobak penjual minum dan makanan di kaki bukit.

“gue beli minum dulu deh.” Belum Ify berdiri, Rio menahannya.

“biar gue aja. Lo tunggu sini.” Rio beranjak sebelum Ify menolak. Ify menatap punggung tegap pemuda itu. Mengapa akhir-akhir ini pikirannya selalu menyangkut tentang dia? Apa benar ini jatuh cinta? Pikirannya terus berkecamuk. Ia menatap kosong ke arah depan. Bertanya-tanya atas perasaannya saat ini. Hingga sesuatu yang dingin menempel di pipi kanannya. Ify menoleh dan mendapati Rio yang tengah tersenyum padanya sambil menempelkan botol air mineral dingin di pipi kanannya.

“nih.” Ify mengambilnya.

“thanks” ujar Ify yang kemudian meneguk air mineral itu hingga setengah botol.

“sama-sama” jawab Rio sambil kembali memposisikan duduk disamping Ify.

“eh gila, gue udah kayak orang dehidrasi aja deh.” Rio yang mendengarnya tertawa kecil. Ini yang ia suka. Ia sangat suka dengan gadis ini dengan sifatnya yang seperti saat ini. Ceria, penuh tawa, penuh senyum, penuh canda yang bisa membuatnya ikut tersenyum dan tertawa. “ketawa lo.”

“haha kagak, gue lagi konser.”

“waahh, konser lo bikin gue merinding, Yo.” Rio menoyor Ify.

“kurang asem lo. Lo kira tawa gue mirip mbak kunti gitu? Beda banget tau.” Ify cengengesan.

“hehe yaa..lo ‘kan adiknya mbak kunti, jadi mirip-mirip lah.” Kali ini Rio mencubit pipi Ify.

“lo itu bisanya ngeledekkin gue mulu. Sekali-sekali kek muji gue yang ganteng nan kece tiada tara ini” ujar Rio sambil melepaskan cubitannya.

“iih, sakit. Lo narsis banget jadi cowok. Gue penasaran gimana gaya lo kalau lagi difoto. Kayak cowok-cowok alay begitu kali ya.”

“elah, Fy. Gue gak alay tau, gue kalau difoto selalu cool.”

“wah, perlu dipanasin dulu tuh.”

“lama-lama gue gigit lo.”

“sejak kapan lo jadi ganas begini, Yo?”

“sejak gue cinta sama lo.” Ify terdiam. Rio tersenyum puas melihat keterdiaman Ify. “sejak itu gue jadi ganas buat dapetin elo. Gue gak bakal tinggal diam kalau elo digangguin orang, ataupun elo direbut orang lain.” Ify tertunduk. Lagi-lagi pemuda ini berhasil membuatnya merona dan tersentuh. Perlahan, Rio menarik tangan Ify dan menggenggamnya. Ify kembali terhenyak, kini ia sontak menoleh. Menatap pemuda itu yang masih tersenyum manis padanya. “Fy, lo pasti udah tau gimana perasaan gue ke elo. Rasa itu terus tumbuh seiring berjalannya waktu. Lo tau? Selama elo sakit kemarin, gue gak bisa tenang. Rasanya gue selalu pengen di samping lo, jagain lo. Tapi apa daya, elo dimana..sedangkan gue dimana” jelas Rio yang diakhiri dengan tawa kecilnya.

“walaupun gue udah lama nyimpen perasaan ini ke elo, tapi gue gak pernah berani buat nanya dan minta satu hal sama lo. Lagipula, waktu itu masalah lo terlalu berat. Gue gak mau buat lo tambah terbebani. Dan sekarang mungkin waktu yang tepat..” Rio menghela nafas sejenak. Ify terus menunggu kalimat-kalimat yang dilontarkan dari Rio dengan jantungnya yang sudah berdetak tak karuan. “..Fy, gue mau tanya dan minta satu hal itu sekarang. Lo mau jadi pacar gue?” Ify bergeming. Masih diam sembari menyelami mata tajam tetapi lembut dan menenangkan itu. Mencari sebuah kepastian dan ketulusan. Rio dengan sabar dan cemas menunggu jawaban yang akan Ify lontarkan atas pertanyaan itu. Tak lama, dengan perlahan Ify membalas genggaman Rio. Gadis itu tersenyum manis yang semakin membuat jantung Rio berdetak lebih kencang.

you’re smile make me crazy’ batin Rio saat itu.

“rasa ini muncul tiba-tiba waktu itu. Gue selalu bertanya-tanya tentang perasaan ini. Di sela-sela beban masalah itu, gue merasa ada hal yang aneh dalam diri gue. Pikiran gue selalu melayang ke satu titik. Satu titik yang buat gue bisa jadi lebih baik. Lo tau? Satu hal yang sudah gue ketahui. Satu hal yang perlu elo tau. Satu hal yang bisa jadi jawaban dari pertanyaan lo itu. Satu hal itu..” Ify terdiam dan kemudian perlahan mencium pipi kiri Rio yang membuat pemuda itu terbelalak tak percaya. Ify tersenyum padanya setelah kembali ke posisi seperti semula. “..gue sayang lo, Mario.” Rio masih tak habis pikir. Pemikirannya tentang Ify tidak memiliki perasaan apa-apa terhadapnya ternyata tidak benar. Gadis ini mempunyai perasaan yang sama sepertinya. Ify melengos melihat Rio yang masih diam.

“Rioooo” panggil Ify setengah berteriak. Rio tersentak.

“eh? Iya. Jadi..lo...?” Ify mengangguk. Ify menahan Rio yang ingin memeluknya. “yaahh..kenapa? Lo ‘kan udah jadi milik gue” ujar Rio memelas. Ify tertawa melihat raut wajah pemuda itu yang menurutnya lucu.

“haha melas amat, Yo. Emang sih gue udah jadi milik lo, tapi apa udah direstuin sama keluarga gue?”

“ah, itu mah gampang kali minta restu sama keluarga lo. Entaran aja. Gue mau peluk elo ini, udah gatel.”

“yaelah, ya udah, pulang dari sini lo ke rumah gue, minta izin sono. Garukin, Yo, kalau gatel.”

“tanpa lo suruh juga gue ke rumah lo. Gue ‘kan nganterin elo pulang. Elo yang garukin.”

“iya deh. Yeeee..maunya elo itu mah. Gue ogah.”

“yaah, Fy, garukinnya pakai pelukan.”

“pelukan tuh sama botol minum” ujar Ify sambil menyodorkan botol minum air mineralnya.

“gak mau, gue maunya sama lo.”

“ogah.” Ify berlari menghindari Rio, tetapi pemuda itu tidak ambil diam. Hingga terjadilah aksi kejar-kejaran di puncak bukit yang cukup luas itu. Seperti mendapat pencerahan, di atas kepala Rio muncul lampu yang berisi satu ide.

“aww..” ringis Rio sembari memegangi perutnya. Ify yang mendengar ringisan Rio menoleh dan berlari menghampiri kekasihnya.

“kenapa, Yo?” tanya Ify cemas.

“perut..gue..sakit, Fy” ucap Rio. Hatinya tersenyum puas melihat Ify yang telah terjebak dengan tipuannya. Gadis itu terlihat khawatir.

“aduh, sakit gimana? Lo ada maag ya? Atau lo mau...panggilan alam?” Ingin rasanya Rio tertawa saat itu ketika mendengar pertanyaan lucu Ify, namun jika ia tertawa aksi tipu ini akan gagal.

“gak tau, Fy, mungkin maag. Tapi gue gak inget kalau gue punya maag.”

“elo sih, pasti gak makan siang tadi.” Rio terus meringis. Ify bertambah khawatir. “aduh, gimana nih..”

“mungkin..satu yang bisa buat perut gue sembuh.” Ify menatapnya bertanya.

“apa itu?” Dengan sigap Rio memeluk Ify. Ify mendelik.

“Yo..” Rio tertawa kecil sambil terus memeluk Ify.

“apa, Fy? Maaf ya, elo kena tipu.” Ify melotot. Dasar bocah, umpat Ify dalam hati.

“ih, Rio. Gue udah khawatir banget elonya malah nipu gue. Jahat ah.”

“hahaha, maaf deh. Tapi kalau gue gak tipu lo begini, gue gak bakal bisa meluk elo.” Ify tersenyum dan kemudian membalas pelukan Rio.

‘kalau elo gak tipu gue, gue gak bakal bisa ngerasain nyamannya di pelukan elo, Yo’ batin Ify. “dasar tukang tipu lo. Liat aja nanti pembalasan gue.”

“gue tunggu itu, Nyonya Mario.”

“apaan sih. Norak lo.”

“walapun norak, elo tetep suka ‘kan?” Wajah Ify memanas. Ify memukul pelan punggung Rio.

“diem deh.” Secepat kilat, Rio mencium pipi kanan Ify.

“balasan yang tadi” ucap Rio dan kemudian berlari.

“Riooooo.”

-TAMAT-

You May Also Like

1 komentar

  1. Where to Bet on Sports To Bet On Sports In Illinois
    The best 토토사이트 sports bet types and bonuses available in Illinois. The most common sports betting deccasino options available. Bet $20, Win $150, 바카라 Win herzamanindir.com/ $100 or goyangfc

    BalasHapus