OUR FRIENDSHIP’s STORY

Notification : cerita ini hanya fiktif belaka yang terinspirasi oleh imajinasi seorang penulis amatir.



*

Kisah persahabatan gokil yang telah diciptakan oleh lima orang sahabat yang-mungkin-tidak bisa dipisahkan sejak SMP ini. Sebut saja mereka Rio, Cakka, Gabriel, Alvin dan Ify. Bagaimana cerita kisah persahabatan mereka? Apa keseruan-keseruan yang telah mereka perbuat?

*

RIO P.O.V

Kalo cerita tentang persahabatan, persahabatan kami gak kalah seru tuh! Bisa dibilang menarik, gokil, aneh bin ajaib. Mm..kayak nano-nano gitu. Ada manis, asem, asin pokoknya ramee deh. Gue masih inget kejadian sewaktu kami masih pake putih biru. Waktu itu kami pergi sekolah bareng…

>>>

Rio, Gabriel, Cakka, Alvin dan Ify memutuskan untuk pergi sekolah bersama. Dan mereka memutuskan untuk tidak membawa kendaraan alias ‘jalan kaki.’ Rio, Gabriel, Cakka dan Alvin telah sampai didepan rumah Ify.

“permisiii..Ifyyy…” teriak Gabriel. Tidak ada sahutan dari dalam.

“kemana sih nih anak? Telat nanti” dumel Rio.

“Ifyyyyy….banguunn wooy” teriak Cakka.

“iyaaa…tungguu bentar. Aduuhh..Deppaa…sepatu gue satunya kemanaa?” teriak Ify dari dalam.

“yee..manaa gue tau..” balas Deva. C.R.A.G hanya bisa menggelengkan kepala mendengar keributan antara kakak beradik itu. Ify keluar dengan wajah cemberut dan berdumel ria (?)

“dasar Belooo..jail banget sih. gue kan juga mau sekolah. Telat dah gara-gara dia. Awas aja nanti. Belom tau dia siapa gue” dumel Ify.

“udah nyerocosnya?” Tanya Alvin. Ify cengengesan.

“nyeehh malah cengar-cengir. Ayo jalan. Keburu telat nih” ajak Gabriel. Mereka berlima langsung bergegas pergi menuju sekolah. Ternyata dewi fortuna lagi tidak berpihak kepada mereka berlima. Karena.. GERBANG TELAH DITUTUP!! Mereka terus mengeluarkan jurus andalan mereka kepada Pak Asnan-satpam sekolah-yaitu memelas. Tapi tetap saja, Pak Asnan tetap tidak mau membukakan gerbang. Dan pada keputusan akhir, mereka memilih jalan pintas yaitu MEMANJAT PAGAR. Mereka langsung pergi kebelakang sekolah dan berusaha memanjat pagar yang terbilang-cukup-tinggi.

“iihh..gue kan pake rok. Nanti kalian ngintip lagi” kesal Ify.

“yee..ngapain juga ngintipin elo. Gak sudi” lebay Cakka. Ify menoyor Cakka.

“eehh udah udah, ribut mulu. Kalo gitu kita duluan yang naik, baru elo. Gimana?” usul Rio. Ify nampak berfikir.

“yaelah mikir aja lama bener. Ya udah kalo lo gak mau. Kita naik duluan” kata Gabriel sembari memanjat pagar disusul Cakka, Alvin dan Rio.

“ayoo cepetan, gue bantu” ucap Rio sambil mengulurkan satu tangannya.

“heuh, apa boleh buat” pasrah Ify. akhirnya dia menerima uluran tangan Rio dan mulai memanjat pagar.

“gimana turunnya?” Tanya Ify takut.

“yaa tinggal lompat aja” ujar Alvin santai kemudian melompat kebawah.

“hah? Lompat?” cengo Ify.

“iya. Daripada nanti ketahuan sama bapak kumis taplak” ujar Cakka dan kemudian mengikuti Alvin.

“tapi gue takut” ucap Ify yang hampir menangis.

“yaahh jangan mewek dong. Kita tungguin elo dibawah” ujar Gabriel. Gabriel dan Rio melompat bersamaan.

“ayoo.” Ify menghela nafas sejenak.

“jangan ngintip.”

“GAK” ucap mereka kompak.

‘bismillah..’ batin Ify dan akhirnya melompat kebawah dengan menutup kedua matanya.

“mamaaa..” teriak Ify.

‘BRUUKK…’ Perlahan Ify membuka matanya dan sontak berdiri melihat teman-temannya ditimpa olehnya.

“aduuhh” ringis C.R.A.G. Ify garuk-garuk kepalanya sambil cengengesan. C.R.A.G mengambil posisi berdiri kembali.

“hehe..maaf” cengir Ify.

“lo kurus-kurus berat juga ya. makan apaan sih?” ujar Cakka sambil meringis kesakitan. Ify manyun.

“hei kalian!” tegur seorang lelaki paruh baya. Mereka sontak menoleh dan terbelalak kaget.

“ahilah..kita ketahuan sama Pak Kum” gumam Gabriel. Lelaki yang menjabat sebagai guru BP itu langsung mendekati Rio, Gabriel, Cakka, Alvin dan Ify.

“sekarang kalian tertangkap basah oleh saya yang sedang berusaha masuk melalui pagar..” ujar Bapak Yono atau Bapak Kumis-julukan dari C.R.A.G.I-

“darimana basah, Pak? Perasaan gak hujan tuh” ucap Cakka polos. Rio, Gabriel, Alvin dan Ify menepuk jidatnya kompak.

“dasar murid yang tidak tahu diuntung. Bagaimana mau maju kalau semua siswa siswi seperti kalian ini? Kalian tidak kasihan apa sama orang tua kalian yang telah bersusah payah menyekolahkan kalian..bla..bla..bla..” mereka sama sekali tidak mendengar pidato dari Pak Yono. Mereka menyusun strategi agar bisa kabur dari Pak Yono.

“1…2…” ucap Gabriel pelan sambil melangkah mundur diikuti oleh Rio, Cakka, Alvin dan Ify.

“3..” wusshh! Mereka berlima langsung menancap gas menghindari si Bapak Kumis.

“hei kalian! Astaga! Murid macam apa kalian ini, hah? Hei! Tunggu..” Pak Yono tidak ambil diam, dia mengejar kelima murid yang mungkin dianggapnya berandal itu. Sedangkan Rio, Cakka, Gabriel, Alvin dan Ify masih terus berlari menghindari kejaran si Pak Kumis sambil tertawa geli. Hingga terjadilah kejar-kejaran antara Guru dan Murid yang menyita perhatian murid-murid lain.

>>>

Hahaha…kalo nginget kejadian itu, ketawa ngakak dah gue. Hahaha… :D

*

CAKKA P.O.V

Weeii si Rio, ketawa lo pengen dibayar? Sampe guling-guling kayak gitu. Sarap lo! /bodo. Wleekk :P\ yee..eh..giliran gue yak? Ya udah deh. Gue juga nih, pengen ceritain tentang persahabatan kami yang pokoknya seru abiss. Masih SMP juga tentunya. Mmm..waktu itu kita lagi dikelas terlebih lagi pelajaran kosong…

>>>

Suasana kelas IX.6 sudah seperti pasar. Semuanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Disudut meja pojok kanan terdapat empat orang siswa yang-sepertinya-sedang tidak mood untuk melakukan apa-apa. Mereka asik dengan pikiran masing-masing. Sampai akhirnya lamunan mereka buyar ketika salah satu sahabat mereka menghampiri.

‘BRAKK..’
“woyy…melamun aja lo pada” ucap Ify. Rio, Gabriel, Cakka dan Alvin terlonjak kaget.

“woelah, Fy. bikin orang jantungan aja lo..” dumel Gabriel.

“hehe..abis lo semua kayak gak semangat hidup gitu.”

“yee..kita lagi gak mood aja” ujar Rio.

“nyeehh. Kita main aja yuk” usul Ify.

“kayak anak kecil aja lo” Alvin angkat bicara.

“iihh, mumpung pelajaran lagi kosong. Ayolah” rengek Ify sambil menarik-narik kuat lengan Gabriel.

“aduuhh…lo cewe kok tenaga cowo sih, Fy?” ringis Gabriel. Ify menggembungkan kedua pipinya.

“ayolah. Pelajaran lagi kosong nih, guru pada rapat. Yayaya?” akhirnya mereka meng‘iya’kan permintaan Ify. Ify tersenyum sumringah.

“wooyy kawan-kawan! Siapa yang mau ikut main petak umpet?” teriak Ify didepan kelas. Hampir satu kelas yang antusias dengan ajakan Ify tadi.

“ada-ada aja tuh anak” gumam Cakka. Sekitar 15 orang yang ikut. Mereka memulai permainan dengan ‘hompimpa.’ Dan pada akhirnya Ray yang harus menerima kekalahan.

“yaahh..gue jaga.” Ray mengambil posisi untuk memulai permainan mereka. Dia memulai menghitung. Semua anak-anak langsung berlari mencari tempat persembunyian yang bagus.

“…20. kemana ya mereka?” ujar Ray sambil berjalan keliling mencari teman-temannya. Sekitar 20 menit, Ray telah menemukan beberapa anak. Tinggal Rio, Cakka, Gabriel, Alvin dan Ify. Ray terus mencari mereka disekitar kelasnya dan luar kelasnya. Tapi tetap saja, Ray tidak bisa menemukan mereka.

“yaelah, tuh tuyul-tuyul pada kemana sih?” gumam Ray putus asa sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Ternyata Rio, Cakka, Gabriel, Alvin dan Ify sudah duduk manis di kantin. Masa bodo lah si Ray pikir mereka.

>>>

Haha…itulah kami. Paling suka jailin anak-anak. Apalagi adik kelas tuh, wiihh…pokoknya seruuuu….!!

*

GABRIEL P.O.V

Sabar, Kka. Gak usah pake toa bisa kali -__- /hehe\ heuh! Nah, sekarang giliran gue yang cerita. Mmm…Rio sama Cakka udah nyeritain yang seru-seru. Kalo gue bakal ceritain tentang kekompakkan persahabatan kami. Waktu itu kita lagi ada kerja kelompok. Kebetulan Bu Maria-guru pembimbing-minta biar kita sendiri yang cari tuh kelompok. Yang pasti kami tetep berlima.

>>>

“eh..kita ngerjainnya di rumah Alvin aja ya” usul Cakka saat mereka menyusuri koridor sekolah sewaktu pulang sekolah.

“selalu rumah gue sasarannya” gumam Alvin. Cakka menyeringai lebar.

“gak papalah, Vin. Rumah lo kan enak. Kasihanilah kami ini. Beramal lah sedikit” ujar Ify lebay. Rio, Cakka dan Gabriel menoyor kepala Ify.

“aduuhh, sakit iihh.” Ify memajukan mulutnya sambil mengelus-ngelus kepalanya.

“lo kira kita fakir miskin?” ucap Gabriel garang.

“hehe ampuun. Jangan melototin kayak gitu dong. Mata kalian udah pada mau keluar noh. Coba liat Alvin, melotot segede apapun, tuh mata tetep aja merem.” Alvin menoyor Ify. Gabriel, Rio dan Cakka tertawa terbahak-bahak.

“sakiit Apiinn.”

“elo sih, pake nyari ribut segala sama gue” dumel Alvin. Mereka terus bercanda sampai parkiran menuju motor masing-masing. Sedangkan Ify, dia berlari menuju mobilnya yang telah menjemput didepan gerbang.

Pukul 14.00 mereka telah berkumpul dirumah Alvin untuk mengerjakan tugas. Mereka mengerjakan tugas di gazebo halaman belakang rumah Alvin.

“kita mulai dari mana nih?” Tanya Rio. Semua menggeleng.

“yaelah, gimana mau kelar nih tugas.”

“mm..gue mau nanya. Tugasnya disuruh ngapain sih?” Tanya Cakka polos.

GUBRAAKK!!

“dasar Cakduutt. Makanya kalo guru ngomong itu didengerin..jangan molor mulu” kata Ify sambil mengacak-ngacak rambut Cakka.

“eh, Ipoongg..apa-apaan sih lo? Rambut gue rusak nih” keluh Cakka sambil membenahi tatanan rambutnya.

“ya elah lo berdua, ribut mulu. Jadi elo beneran gak tau, Kka?” Tanya Gabriel. Cakka menggeleng-lagi,lagi-polos.

“kita disuruh mengamati bagian-bagian bunga sama mengamati kerja fotosintesis..” jelas Alvin. Cakka manggut-manggut mengerti.

“bahan-bahannya udah ada semua nih. Tinggal kita amati, terus kita susun secara rinci..” ujar Rio.

“kita bagi-bagi tugas aja kalo gitu” usul Gabriel.

“ide bagus! Jadi, Alvin sama Cakka tugasnya amati tuh bunga-bunga. Gue sama Iel bagian fotosintesisnya. Kalo elo Ify..pasti lo taukan?” jelas Rio.

“iyee..selalu gue. Secara tulisan gue kan cantik. Gak kayak elo-elo pada. Yang gimanaaa gitu..” ucap Ify narsis.

“gimananya gimana?” Tanya Cakka.

“yaa kayak gitulah…ceker ayam hahaha.” Ify tertawa terbahak-bahak.

“wooo dasar” keluh Gabriel.

“udaahh..sekarang kita mulai tugas kita masing-masing.” Mereka berlima bekerja serius untuk mendapatkan hasil yang memuaskan. Sekitar 1 jam setengah hasil kerja mereka pun selesai.

Dan pada keesokan harinya, hasil kerja mereka dinyatakan paling bagus dari yang lain. Ternyata kerja keras dan kekompakkan mereka membuahkan hasil yang sangat baik.

“yeee..kita dapet A+ ..” mereka saling bertos ria.

>>>

Gimana? Kita kompakkan? Wo iya dong pasti itu mah..hehe ^^

*

ALVIN P.O.V

Woelah si Iel, nanya sendiri jawab sendiri ckck. /yee..biarain :P\ au ah! Hei! Mereka udah pada cerita yang seru-seru tuh. Kalian pasti nanya-nanya, kisah mellow persahabatan kami. Itu pasti ada. Dan tentunya, kita selalu bersama. Waktu itu gue lagi kehilangan banget..

>>>

Rio, Alvin, Gabriel, Cakka dan Ify kini tengah berada di RS Ordyhealthy Care. Mereka terduduk lemas di kursi depan ruang ICU. Karena beberapa menit yang lalu, kakek Alvin mendadak penyakit jantungnya kambuh dan kondisi tubuhnya down. Alvin sangat dekat dengan kakeknya. Karena beliau adalah seseorang yang murah hati. Alvin paling senang bermanja dengan kakeknya itu. Rio, Gabriel, Cakka dan Ify pun sudah menganggap beliau sebagai kakek mereka sendiri. Kini Alvin sudah dibanjiri air mata. Ify yang berada disampingnya berusaha menenangkan.

“lo harus berdoa, biar Opa-panggilan kakek Alvin-cepet sembuh. Jangan nangis begini. Kalo lo sedih, kita juga bakalan ikut sedih, Vin” ucap Ify sambil mengusap lembut punggung Alvin. Tak disadari Ify juga meneteskan air mata. Alvin masih diam tidak bergeming.

“Ify bener, Vin. Kita harus berdoa buat kesembuhan Opa” sambung Gabriel. Alvin mendongak menatap satu-persatu sahabatnya lalu tersenyum dan mengangguk. Mereka berempat yang melihat reaksi Alvin ikut tersenyum. Tidak lama, dokter keluar dari ruangan. Dengan sigap Alvin menghampiri sang dokter.

“Dok..gimana Opa saya, dok?” Tanya Alvin cemas. Dokter menghela nafas.

“maaf. Kami sudah berusaha semampu mungkin. Tapi ternyata…tuhan berkehendak lain, nak. Kami minta maaf sekali lagi” ucap Dokter. Alvin shock begitupun Rio, Gabriel, Cakka dan Ify. mereka berlari memasuki ruangan ICU. Mendapati sekujur tubuh yang telah ditutupi dengan kain putih. Alvin melangkah pelan mendekati sang kakek yang sudah tak bernyawa. Diikuti Rio, Gabriel, Cakka dan Ify.

“Opa…” lirihnya. Air matanya semakin deras.

“OPAAAA…” teriak Alvin kalut. Rio, Gabriel dan Cakka menatap sedih Alvin yang shock. Butiran bening pun keluar dari pelupuk mata mereka. Ify yang memang sudah menangis kini tangisannya semakin menjadi-jadi.

“Alvin yang sabar. Elo harus rela, Vin. Jangan terpuruk dalam kesedihan lo terus. Kalo elo begini, Opa gak bakalan tenang. Elo harus rela…” ucap Ify disela isak tangisnya.

“elo gak boleh terus bersedih kayak gini. Bukan Cuma elo yang kehilangan Opa, tapi kita semua juga kehilangan Opa” ujar Rio. Alvin diam. Alvin membenarkan penuturan Rio dan Ify tadi. Kemudian dia tersenyum.

“Opa..yang tenang ya disana. Alvin bakal kangen sama Opa. Alvin gak bakal ngelupain semua kenangan kita dulu” ujarnya pelan. Semua tersenyum.

“selamat jalan Opa..” ujar Cakka.

“kita selalu doain Opa..” sambung Gabriel.

“kita akan selalu tersenyum buat Opa..” sambung Rio.

“kita akan jadi cucu kebanggaan Opa kelak..” sambung Ify.

“dan…akan buat Opa tersenyum bangga di alam sana..” sambung Alvin.

“we love you, Opa” ucap mereka kompak.

>>>

Kalo nginget cerita itu, gue jadi inget sama Opa. Semoga dia tenang disisi Tuhan. Dan gue bakal selalu tersenyum buat dia. :’)

*

IFY P.O.V

Huwaaa..kenapa lo harus ceritain yang itu sih, Pin? Gue kan jadi sedih.. :’( /yee suka-suka gue dong\ iiihh dasar cina glodok! /apa lo bilang?\ kagak ada..wlekk :P /dasar!\ eh? Haii…gara-gara si Apin gue jadi nangis deh. Mmm…kalo Alvin ceritain yang mellow-melow, gue bakal ceritain yang seru-seruuu! Waktu itu kami habis UN terakhir, artinya penyiksaan otak telah selesai. Kejadian ini berlangsung saat kami pulang bareng…

>>>

“eh..kalian gak pada bawa motor kan?” Tanya Ify. semua mengangguk.

“kita kerumah gue aja yuk. Mama lagi masak banyak dirumah.” Wajah Rio, Gabriel, Alvin dan Cakka langsung berbinar mendengar kata ‘masak’ yang berarti ada makanan. Apalagi yang masak mamanya Ify, dijamin bakal ketagihan deh.

“boleh..boleh..yuk” ajak Rio sambil menarik paksa tangan Ify.

“aduuhh..sakit soplak!” mereka memilih untuk berjalan kaki menuju rumah Ify. didalam perjalanan mereka terus bercanda tawa. Kegelisahan membuncah benak Ify, dikala dia merasa diikuti. Ify sesekali menoleh kebelakang tapi yang dilihatnya hanya seseorang dengan pakaian compang-camping yang terus menatapnya.

‘waduuhh..siapa tuh ngikutin? Orang gila apa ya?’ batin Ify. dia kembali menoleh kebelakang. Orang itu terus menatapnya kemudian menyeringai lebar sambil melambaikan tangannya. Ify mendadak mematung. Orang itu semakin mendekat. Ify mengambil ancang-ancang untuk kabur. Orang gila itu terus melangkah mendekat.

“huwaaa….orang gilaaa…” teriak Ify sambil berlari kencang hingga melewati Rio, Gabriel, Cakka dan Alvin yang sedari tadi berjalan didepannya. C.R.A.G mengerutkan kening.

‘orang gila?’ batin mereka. Sontak mereka menoleh kebelakang, dan…

“orang gilaaaa…” mereka berlari kencang. Orang gila itu masih terus mengejar. Mereka berlima memilih bersembunyi dibalik pagar rumah orang lain yang ditutupi semak-semak. Orang gila itu celingak-celinguk mencari keberadaan Rio, Gabriel, Cakka, Alvin dan Ify. sementara di tempat persembunyian.

“tuh orang gila mau bunuh kita apa ya? ngejar orang gak kira-kira” dumel Cakka.

“sstt..nanti ketahuan” bisik Gabriel yang dibelakang Cakka. Ify yang berada paling depan sudah kotar-katir. Saat menoleh kearah kirinya, tidak sengaja ia melihat ulat bulu yang menempel dibahu kirinya. Dia terbelalak kaget. Ulat bulu? Binatang yang paling dia benci, kini ada dibahunya?

“AA..mgmfnsjdjkfsjd.” Rio membekap mulut Ify yang sudah ingin teriak.

“ssstt..”

“mmbbhbmmm…” Ify mengasih isyarat pada Rio melewati matanya, bahwa ada ulat bulu dibahu kirinya.

“apaan?” bisik Rio.

“mmmbhhmmb” tunjuk Ify dengan matanya. Rio melihat dibahu kiri Ify.

“ooh..ulat bulu doang. Tenang aja, biar gue nanti yang buang. Yang penting kita kagak ketahuan tuh orang sarap” bisik Rio lagi. Ify pasrah. Akhirnya orang gila itu pergi jauh. Ify yang mengetahui itu langsung lompat-lompat tidak jelas.

“huwaa…ulet bulu…tolongg ambilin. Gue takutt…hiii..” ujar Ify. yang lain hanya memandang heran.

“iihh kenapa Cuma diliatin doang? Ambilin…gue takut. Huwaa mamaaaa…” mereka gelagapan sendiri. Rio mengambil kayu kecil dari semak-semak itu dan berusaha mengambil ulat bulunya.

“jangan lompat-lompat Ipyy..gue susah jadinya” keluh Rio.

“guee takut Rioo..” Alvin mengambil alih kayu yang dipegang Rio kemudian menahan tubuh Ify yang sedari tadi lompat-lompat tidak jelas.

“lo diem. Biar gue buang tuh ulet.” Perlahan Alvin mengambil ulat bulu itu dan membuangnya. Ify bernafas lega.

“huwaa makasih koko Apiinn. Koko emang baiikk hehe.” Yang lain hanya bisa geleng-geleng.

“BAAAA…” kejut orang gila tadi dari belakang Ify.

“AAAAAAAAA….” Mereka kembali berlari kencang menuju rumah Ify. sesampainya dirumah Ify mereka langsung terkulai lemas diteras.

“orang gila sarap. Kalo mau ngajak olahraga bilang-bilang dong” keluh Cakka.

“dasar Cakdutt. Sama gilanya elo sama tuh orang” ledek Ify. Cakka manyun.

“eh..tapi lucu juga ya kita dikejer-kejer orang gila kayak gini” ucap Gabriel sambil menerawang. Diikuti oleh para sahabatnya.

“iya yaa. Gak nyangka aja. Ini pengalaman pertama gue dikejer orang gila..hahaha” ujar Rio.

“bener..bener..hahaha.” mereka tertawa sendiri jika menerawang kejadian yang baru saja terjadi. /ketuleran gilanya tuh hehe\

>>>

Hahahaha…gue ngakak bener hahahaha…./sadar, Fy. sadar\ apaan sih Cakkdut? /eh, hobby banget sih lo manggil gue Cakdut?\ yee serah gue dong wleekk :P

*

Sebuah cerita putih biru yang sangat menarik. Apa mungkin cerita itu akan berhenti sampai sini? Tentu tidak. Cerita itu akan terus menyambung seperti persahabatan mereka yang masih terjalin dan terikat kuat. Hingga datang masa itu. Dimana mereka harus menjalani layaknya sebagaimana pelajar sekolah menengah atas atau yang lebih singkat SMA. Masa putih abu-abu. Yang kata orang adalah masa para anak-anak remaja yang telah mengetahui apa arti sebenarnya dari kata ‘falling in love’ ataupun ‘love at the first sight.’

*

Kini mereka telah menginjakkan kaki disebuah SMA ternama di kota mereka, Jakarta. SMA Valyan School Intern, sekolah menengah pertama yang dikategorikan sebagai SMA terkenal di Jakarta. Memiliki segudang prestasi dibidang akademik maupun non akademik. Harus mempunyai otak berkualitas agar dapat menyandang predikat murid disana. Tak ayal jika ingin menerima predikat itu harus dengan sebuah perjuangan keras. Menguras otak dan juga tenaga. Menghadapi 120 soal dari 4 mata pelajaran membuat kepala ingin pecah begitu saja. Ditambah kegiatan MOS dan juga LDK-nya yang begitu disiplin dan tegas.

Dan kini, mereka baru saja menyandang predikat itu. Terlihat senyuman bangga diwajah mereka masing-masing. Bagaimana tidak bangga? secara…masuk sekolah terkenal gitu. Mereka terus melenggang meyusuri koridor sekolah yang megah. Perhatian salah satu dari mereka berhenti pada satu titik. Seorang pemuda keren yang tengah menggiring bola dan meliuk-liuk menghindari musuhnya. Seketika pula keempat pemuda itu ikut berhenti dan menatap aneh kearah sahabat mereka yang satu-satunya perempuan itu, kini tengah tersenyum-senyum sambil memandang kearah lapangan.

“kenapa lo?” Tanya Alvin. Ify masih terus menatap pemuda keren itu sambil terus tersenyum.

“apa ini yang dinamain dan dirasain love at the first sight?” ujarnya tanpa menoleh sedikitpun. Keempat pemuda itu mengangkat alis heran.

‘love at the first sight?’ batin mereka bereempat. Apa mungkin nih bocah udah kena virus merah jambu? Tapi kok…cepet banget? Pikir mereka.

“maksud lo?” Tanya Gabriel.

“kayaknya gue bakalan betah sekolah disini” ucap Ify tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya. Keempat pemuda itu tambah bingung dibuatnya.

“dia udah buat gue jatuh cintaaa…”


-THE END-

You May Also Like

0 komentar