CINTA MASA PUTIH BIRU (RaFy)


Notification : cerita ini hanya fiktif belaka yang terinspirasi oleh imajinasi seorang penulis amatir.



*

Tahun ajaran kedua di SMP Prasska Junior Intern School kini sudah dimulai. Para murid baru terlihat berbondong-bondong memasuki pekarangan luas sekolah itu. Mereka akan segera menjalankan kewajiban mereka terlebih dulu sebelum resmi menjadi seorang murid disana. Pakaian seragam putih merah terlihat masih melekat ditubuh mungil mereka. Mereka harus siap untuk diperintahkan apapun dari para senior.
Dikoridor terlihat tiga siswi yang tengah berdiri santai sambil mengamati murid-murid baru itu. Satu diantara mereka bertiga terlihat memakai sebuah bet dengan tulisan PENGURUS OSIS.

“lo kalo mau ngerjain mereka jangan keras-keras deh” ucap salah satu siswi tersebut.

“emang kenapa, Vi?” Tanya temannya.

“soalnya mereka masih polos banget. Kasian jadinya” jawab siswi tadi yang bernama Sivia.

“emang sih mereka masih terlalu polos. Tapi ya…inilah yang harus para pengurus osis lakuin. Ngerjain mereka” ucap siswi yang memakai bet pengurus osis itu.

“iya sih. kayaknya lo harus ekstra hati-hati deh, Fy pas mereka minta tanda tangan. Mereka bisa jadi brutal. Walaupun tuh muka polos banget” ucap temannya.

“haha..lo bener, Shill” ucap si pengurus osis –Ify- mereka tertawa. Hening sesaat diantara mereka. Tidak ada pembicaraan yang mereka lakukan. Tiba-tiba seorang siswa menghampiri mereka.

“Fy..” panggil siswa tersebut. Sontak mereka bertiga menoleh ke sumber suara.

“eh elo, Ray? Kenapa?” Tanya Ify.

“enggak. Cuma mau balikin komik yang waktu itu gue pinjem. Thank’s banget ya. kapan-kapan gue pinjem lagi series yang lainnya” ucap Ray-siswa tadi- sambil mengulurkan komik doraemon milik Ify. Ify menerimanya dengan tersenyum.

“oke. dirumah masih banyak kok series yang lain. elo bisa pinjem kapan aja” ucap Ify. Ray tersenyum.

“siplah. Makasih sekali lagi. gue duluan” ucap Ray.

“sama-sama.” Ray berlalu. Sepeninggal Ray, Shilla dan Sivia tersenyum menggoda Ify.

“cie elah. Mau balikin komik apa Cuma mau nyamperin? Haha” ledek Shilla.

“apaan sih lo?” sanggah Ify sambil menepuk pundak Shilla dengan komiknya.

“lo kalo diliat-liat cocok loh sama Ray. Klop banget haha” goda Sivia. Ify blushing, malu.

“kalian apa-apaan sih? gue sama dia gak ada apa-apa. Kita kan Cuma temen.”

“temen apa temen?” ledek Shilla lagi. Pipi Ify semakin memanas.

“iihh udah deh. Gue ngambek nih” cemberut Ify.

“hahaha..iya iya. Tapi ya, Fy..gosip kalo lo sama Ray jadian itu udah nyebar loh. Anak kelas 9 aja udah pada tau” ucap Sivia.

“iya, Fy. soalnya lo deket banget sama Ray. Terus gak tau kenapa setiap ada lo pasti ada Ray. Buktinya waktu MOS elo sama dia sekelas, pembagian kelas tujuh juga sekelas. Terus setiap pembagian kelompok, elo pasti kedapetan kelompok yang juga ada Ray disana” tambah Shilla.

“bener banget tuh. Waktu itu gue pikir kalian itu jodoh.” Ify terdiam.

‘bener juga ya? tapi…kok bisa sih? …au ah!’ batin Ify.

“ck! Lo berdua hobi banget ngeledekkin gue. Udah ah, udah mau mulai nih MOS. Gue kelapangan ya. bye” pamit Ify. Shilla dan Sivia geleng-geleng kepala melihat tingkah Ify sambil terus menatap punggung Ify yang menjauh.

*

MOS telah selesai, kini saatnya pembagian kelas. Ify, Shilla dan Sivia telah berada didepan papan pengumuman untuk melihat kelas VIII apa yang akan menjadi kelas mereka.

“eh gila. Gue di kelas VIII e. buset jauh amat yak?” celetuk Sivia.

“yaahh kita gak sekelas, Vi” ucap Shilla sedih.

“emang lo berdua dimana?” Tanya Sivia.

“kita di VIII d” ucap Shilla.

“yaaahh…tapi gak papa deh, kan tetanggan itu mah” ucap Sivia. Shilla dan Ify mengangguk sambil tersenyum. Shilla kembali mencermati nama-nama murid yang berada di kelas VIII d.

“tuh kan. Bener apa kata gue” ucap Shilla tiba-tiba.

“apaan sih, Shill? Ngagetin aja sih lo?” kesal Ify.

“coba lo liat. Nih” tunjuk Shilla pada sebuah nama siswa pada Ify dan Sivia. Mereka berdua terbelalak kaget.

“mungkin kalian emang jodoh kali” ceplos Sivia.

“apaan sih? kebetulan aja itu mah. Jodoh ada ditangan Tuhan tau. Ya udah lah biarain aja. Emang mau diapain lagi coba?” elak Ify. Sivia dan Shilla Cuma mengangguk setuju. Bagaimana tidak, tahun ini adalah tahun kedua dimana Ify satu kelas dengan seorang siswa bernama MUHAMMAD RAYNALD PRASETYA. Mereka kemudian berjalan beriringan menuju kelas masing-masing. Sesampainya dikelas Ify dan Shilla langsung memilih tempat duduk di dekat jendela.

“kita duduk sini aja, Shill” usul Ify. Shilla mengangguk. Dikelas ini mereka tidak banyak mengenali murid-murid itu. Mungkin hanya beberapa saja yang dulunya adalah teman sekelas. Maklum saja mereka baru satu tahun berada di sekolah ini. Bel masuk telah berbunyi. Para murid sudah mengambil posisi duduk dibangku masing-masing. Seorang guru memasuki kelas dengan santai. Sebut saja beliau Ibu Nervi.

“selamat pagi anak-anak” sapa Ibu Nervi.

“pagi buu..” koor murid VIII d.

“baiklah. Disini Ibu akan menjadi wali kelas kalian sekaligus akan mengajar pelajaran bahasa Inggris. Hari ini kita cukup perkenalan, pemilihan perangkat kelas dan menata kembali tempat duduk. Formasi tempat duduknya akan Ibu acak menjadi laki-laki perempuan” jelas Ibu Nervi. Kasak kusuk mulai terjadi disana.

“yaahh, Shill. Gimana nih? Kita bakal gak satu bangku lagi” ucap Ify.

“iya, Fy. udahlah terima aja” balas Shilla. Ibu Nervi mulai membagikan tempat duduk secara acak.

“Ashilla dan Deva.” Shilla segera mengambil posisi duduk disebelah Deva.

“Alyssa dan Raynald.” Ify terbelalak kaget mendengarnya. Suara anak-anak VIII d bergemuruh.

“cieee….”

“prikitiww..” sorak mereka semua. Ray berjalan menuju bangku sebelah Ify.

“aduuhh. Kalo soulmate emang gak bakalan bisa jauh” celetuk seorang siswa dari arah belakang meja Ify dan Ray. Ify hanya bisa menunduk malu. Sedangkan Ray menoleh kearah siswa itu.

“apaan sih? nyantai aja lagi” sanggah Ray yang kemudian kembali berbalik kedepan. Setelah Ibu Nervi mengacak ulang formasi tempat duduk, ia kemudian membentuk perangkat kelas.

“jadi siapa yang mau mencalonkan diri sebagai ketua kelas, bendahara dan sekretaris?” Tanya Ibu Nervi. Tidak ada satupun yang menyahut.

“kalau begitu, siapa yang ingin kalian calonkan?” Tanya Ibu Nervi sekali lagi.

“Raynald…” sorak sebagian murid. Dan sebagian lagi menyebutkan nama Ify.

“Alyssa, buu…” Ify sontak menoleh.

“kok gue? Gak mau ah” sangkal Ify.

“baik. jadi kita akan mengadakan vote. Antara Raynald dan Alyssa.” Ify terbelalak kaget.

“kalian sih” tuduh Ify. Sedangkan Ray menanggapinya cuek. Akhirnya poling tertinggi dipegang oleh Ray. Otomatis Ify menjadi wakil ketua kelas.

“oke semuanya. Ketua kelas, wakil, bendahara dan sekretaris telah ditentukan. Jadi untuk murid yang sudah terpilih, bekerjalah dengan baik. jangan merusak nama kelas sendiri. Mengerti?”

“mengerti buu..” sorak anak-anak.

*

Saat istirahat, Ify, Shilla dan Sivia segera menyerbu kantin untuk mengisi perut mereka yang sejak tadi telah mengadakan musik keroncong.

“eh…gue satu kelas sama Alvin loh hihi…” ucap Sivia.

“yang bener, Vi? Wah keberuntungan banget buat elo” ucap Ify.

“iya bener banget. Kalo gue satu bangku ama si Belo. Ya ampun! Orangnya kayak cacing kepanasan tau gak. Gak bisa diem. Ribet sendiri gue liatnya” ucap Shilla.

“haha..yang tabah deh, Shill. Elo gimana, Fy?”

“kalo dia satu bangku ama si soulmatenya” sahut Shilla jahil. Ify melotot.

“apaan sih? kebetulan aja kali” sanggah Ify.

“cieelah, Fy. perangkat kelas aja udah deket banget tuh jabatannya. Duduk berdua lagi” ledek Shilla lagi.

“yang bener, Fy? jadi elo satu bangku ama si gocap? Terus perangkat kelas itu gimana ceritanya? Ah! Gak enak banget gue gak sekelas sama kalian lagi” ucap Sivia.

“yee..perangkat kelas kan anak-anak yang lain ngusulin, bukan gue. Kalo gue mah mana mau calonin diri gue sendiri” ucap Ify cemberut.

“haha…iya iya. Jangan cemberut gitu dong cantik. Nanti abang Ray-nya ilfeel loh” goda Shilla. Sivia tertawa.

“apaan sih? lo berdua suka banget godain gue? Jahat” ambek Ify sambil memajukan bibirnya. Shilla dan Sivia tertawa. Dari kejauhan tampak seorang pemuda menarik kedua sudut bibirnya keatas membentuk senyuman tipis yang samar saat memperhatikan tingkah laku gadis yang akhir-akhir ini terus menghantui pikirannya.

‘elo berhasil bikin gue jatuh cinta’ batin pemuda itu.

*

“Alyssa..tolong bawakan buku-buku ini ke meja ibu dikantor ya” suruh Ibu Mona selaku guru Fisika. Ify hanya mengangguk sopan.

“baiklah anak-anak. Pelajaran kita sampai disini. Minggu depan kita lanjut kembali. Permisi..” pamit Ibu Mona kemudian berlalu keluar kelas. Ify mulai membawa setumpuk buku tulis yang lumayan banyak. Sedikit kesusahan saat membawa buku itu.

“gue bantu, Fy..” ucap Ray tiba-tiba sambil mengambil sebagian buku tulis itu. Ify sontak menoleh dan tersenyum.

“cieeeee….”

“ehemm..ehemm..” gemuruh sorak sorai anak-anak kelas VIII d terdengar. Ray dan Ify salting.

“apaan sih? gue kan Cuma bantuin” sangkal Ray. Ify hanya menunduk malu. Mereka tetap menyeruakkan sorakkan demi sorakkan yang membuat Ray dan Ify tambah malu saja. Akhirnya tanpa menghiraukan sorakkan dari teman-temannya itu, Ray dan Ify melangkah keluar kelas.  Selama perjalanan mereka berdua ke kantor, tidak ada satupun yang berani membuka suara. Keduanya masih terlihat malu dan canggung karena kejadian di kelas tadi.

“mm.. Fy” panggil Ray ditengah kesunyian mereka berdua. Ify menoleh.

“ya?”

“jangan dengerin anak-anak dikelas ya? Mereka emang suka kayak gitu.” Ify tersenyum manis.

“gak papa kok, Ray. Gue udah biasa yang kayak gituan.” Ray mematung melihat senyuman itu. Senyuman manis seorang Alyssa. Jantungnya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Darahnya mengalir deras.

“oh..mm..ee..bagus..deh kalo gitu..hehe” ucap Ray gugup. Salah tingkah. Ify merasakan ada yang beda dalam dirinya saat ini. Dia merasa nyaman jika berada di dekat Ray. Jantungnya juga terkadang berdetak kencang ketika melihat senyum manis dari Ray. Apa ini sebuah pertanda kalau ia sudah terkena virus-virus merah jambu? Pikirnya.

‘apaan sih gue? Mikirin kayak gini?’ batinnya sambil menggelengkan kepala.

“Fy?” panggil Ray. Ify tersentak dan menoleh.

“eh?”

“kenapa?” Tanya Ray heran melihat sikap Ify tadi.

“oh..emm..gak kok. Gue gak papa, Ray.” Ray mengangguk Ify menghela nafas dan membuang jauh pikiran anehnya tadi.

*

“Ify..” panggil seseorang. Ify yang semula tengah bercanda gurau bersama kedua sahabatnya sontak menoleh kearah sumber suara. Shilla dan Sivia yang melihat siapa orang memanggil Ify tadi, langsung senyum-senyum menggoda.

“ehem..” dehem Sivia.

“aduuhh.. disamperin pangerannya. So sweet” goda Shilla.

“kira-kira dia mau ngapain ya? Aahh..gue tau, pasti mau ngajak pulang bareng elo” tambah Sivia. Ify semakin bertambah malu. Mukanya mendadak memerah menahan malu.

“apaan sih lo berdua?” Ray semakin mendekat.

“hai Ray” sapa Shilla dan Sivia kompak. Ray tersenyum ramah.

“hai.” Kemudian ia mengalihkan perhatiannya pada Ify.

“Fy..gue mau pinjem komik doraemon yang series berikutnya lagi. Nanti sekitar jam tiga, gue kerumah elo ya?”

“siipp” jawab Ify.

“ya udah. Gue duluan ya semua” ucap Ray sambil berlalu.

“ya elah. Jadi Cuma mau ngomongin itu doang? Aahh gak seru banget sih” dumel Sivia.

“iya nih. Gue kira tadi dia bakal ngajak pulang bareng elo, Fy” sambung Shilla.

“haha.. lo berdua tuh ya, ngayalnya ketinggian, neng. Udah deh.. lebih baik sekarang kita pulang, udah sepi banget nih sekolah” ucap Ify.

“oke deh.”

*

Sudah tiga minggu ini Ray semakin dekat dengan Ify. Dalam kegiatan apapun mereka juga keliatan kompak. Sudah banyak tersebar gossip kalau mereka sudah terikat suatu hubungan. Tapi semua itu hanyalah sebuah gossip belaka. Ray dan Ify juga sudah tidak terlalu menghiraukan gossip-gosip itu. Mereka menganggap layaknya angin yang berlalu. Seperti saat ini, mereka pulang sekolah bersama. Saat mereka sedang berbincang-bincang sambil berjalan dikoridor sekolah, dua orang adik kelas menghampiri mereka.

“kak, kalian berdua pacaran ya?” Tanya salah satunya sebut saja dia Ourel. Ray dan Ify kaget dan kemudian salah tingkah.

“ha? Enggak kok. Kalian dapet berita itu darimana?” jawab sekaligus Tanya Ify lembut.

“hampir semua murid satu sekolah ini ngomongin itu, Kak. Kalian beneran gak pacaran?” ucap satunya lagi –Acha-

“enggak kok” kali ini Ray menjawab.

“kenapa gak pacaran aja sekalian. Kalian cocok kok” ucap Ourel polos. Diikuti anggukan setuju Acha. Ray dan Ify saling pandang.

“haha..kalian ini ada-ada aja. Udah gak usah bahas yang itu lagi ya. Kalian gak pulang?” ucap Ify.

“ini mau pulang kok, Kak.”

“kita duluan ya, Kak. Daaa..” pamit Acha dan Ourel yang kemudian berlari riang menuju depan gerbang sekolah. Setelah kepergian dua orang adik kelas mereka yang masih terlihat polos itu, Ray dan Ify masih terdiam dalam keheningan. Bergelayut dengan pikiran masing-masing.

“eh? Kok jadi diem gini sih?” ucap Ify tersadar. Ray menggaruk-garuk tengkuknya salah tingkah.

“mm..ya udah. Pulang aja yuk” ajak Ray. Ify mengangguk dan kemudian berjalan beriringan dengan Ray menuju parkiran sekolah.

*

“kalo enggak besok, lusa gue balikin” ucap Ray sambil menstarter motor cagiva birunya.

“iya. Elo udah ngomong itu dari tadi. Gue udah tau ini” ucap Ify geram. Ray cengengesan.

“hehe..ya udah deh. Gue pulang dulu ya. Elo istirahat aja nanti. Pasti capek” ucap Ray perhatian sambil tersenyum manis.

DEG! Jantung Ify berdetak cepat ketika mendapat perhatian itu dari seorang Raynald dan juga mendapat senyuman manis darinya.

“eh..mm..i..iya, nanti gue istirahat hehe.”

“jangan lupa makan juga. Elo kan selalu lupa kalo masalah makan. Gue pulang yaa..” Ray berlalu. Ify masih terus memandangi Ray sampai ia jauh dan tidak terlihat lagi.

‘kenapa gue seneng banget kalo dia perhatian banget sama gue? Mamaaa.. anakmu udah kena virus merah jambu niihh..’ batin Ify. Ia menutup pintu gerbang rumahnya dengan senyuman yang masih melekat di wajah cantiknya. Dan kemudian melangkah riang menuju dalam rumahnya.

“aduuhh anak mama ini. Kayaknya lagi seneng banget? Ada apa sih? Cowo ya?” goda mamanya.

“iihh..mama. hehe Ify kan jadinya malu” ucap Ify malu-malu.

“jadi bener? Emang siapa cowonya?” Tanya sang mama.

“hehe..” Ify cengengesan.

“apa yang tadi? Yang rambutnya gondrong itu ya?” Ify mengangguk malu.

“boleh juga sih. Mm.. kamu boleh pacaran, tapi jangan sampe nilai kamu turun dan gak boleh pacarannya sampe keluar bates. Ngerti?” nasihat sang mamanya. Ify tersenyum lebar.

“sipp itu maaa..tapi kan belum tentu juga dia suka sama Ify. Mungkin aja dia suka sama orang lain” ucapnya. Kalimat terakhir terdengar lirih dari mulut kecilnya. Sang mama tersenyum dan kemudian menghampiri putri kecilnya itu. Membelai lembut rambutnya.

“hati orang mana kita tau sayang. Kalo emang jodoh, gak bakal kemana. Walaupun dia udah punya yang lain, tapi dia jodoh kamu.. pasti ujung-ujungnya bakal balik lagi ke kamu sayang. Sudah, nanti aja pikirin yang itu. Sekarang kamu makan siang dulu sana.” Ify mengangguk sambil tersenyum lucu. Sebelum pergi ia memeluk mamanya dulu.

“Ify sayang mama” ucapnya pelan dan kemudian pergi berlalu. Mamanya hanya tersenyum.

“mama juga sayang kamu.”

*

“eehh.. apaan sih? Sakit nih tangan gue” rintih Ify yang sedari tadi ditarik-tarik oleh kedua sahabatnya.

“udaahh pokoknya, lo ikut aja sama kita berdua” ucap Shilla sambil terus menyeret lengan Ify.

“iya. Gak pake bantah. Jadi elo diem aja” tambah Sivia. Ify menurut. Bungkam. Tapi dalam pikirannya masih terus bertanya-tanya. Ada apa sebenarnya? Akhirnya mereka sampai ditaman belakang sekolah. Shilla dan Sivia celingukan mencari keberadaan seseorang.

“aduuh..mereka kemana sih?” keluh Shilla.

“tau nih. Mana panas lagi” tambah Sivia. Shilla menoleh pada Ify yang masih membungkam.

“eh? Lo kenapa diem aja sih, Fy?” Sivia ikut menoleh.

“iya. Daritadi elo diem aja deh. Sariawan ya?”

“lo berdua gimana sih? Tadi nyuruh gue diem, sekarang malah ditanya kenapa gue diem. Ahelaahh…makan apaan sih tadi pagi?” ucap Ify. Shilla dan Sivia cengengesan.

*

Sementara ditempat lain.

“aduuhh..gue belom siap woy” ucap Ray.

“huuu..gak gentle lo kalo kayak gini” kata Deva.

“iya nih, tunjukkan kejantananmu” tambah Ozy.

“lo berdua bisanya ngomong doang. Lah, gue yang bakal ngelakuinnya ini. Gue kan belom persiapan.”

“banyak bacot lo. Mau persiapan apa? Emang lo kira mau lomba?” ucap Ozy.

“tau nih. Kalo lo gak mau ngelakuinnya sekarang, bakal gue embat tuh. Kan lumayan udah cantik, pinter lagi. Bisa privat gratis sama dia” kata Deva. Ray melotot.

“itu mah elo manfaatin dia, Devaa..” geram Ray. Deva cengengesan.

“udahlah ayoooo…”ajak Ozy sambil mendorong-dorong tubuh Ray.

*

“aduuhh..ngapain sih kita disini? Panas tau gak. Bentar lagi masuk nih” keluh Ify.

“sabar dong. Bentar lagi juga dateng orangnya” ucap Shilla sambil terus mengedarkan pandangannya ke penjuru taman.

“emang nungguin siapa sih?” Tanya Ify.

“nungguin orang. Naah itu dia” ucap Sivia. Shilla dan Ify ikut menoleh kearah yang ditunjuk oleh Sivia. Seketika Ify melotot.

“eeehh..gue belom siap” bisik Ray. Ozy dan Deva tidak menghiraukannya. Mereka masih saja terus mendorong Ray. Shilla dan Sivia pun mulai beraksi menggeret lengan Ify mendekat pada mereka bertiga.

“good luck” bisik Deva.

“semoga beruntung” bisik Ozy. Shilla dan Sivia menggeret Ify hingga ia berada tepat didepan Ray. Ray berdiri terpaku menatap wajah manis itu. Seakan ia tidak bisa untuk mengeluarkan sepatah kata pun. Shilla, Sivia, Deva dan Ozy melangkah menjauh dari mereka berdua.

“emm..Fy” ucap Ray gugup.

“i..iya” balas Ify tak kalah gugup.

“gue..gue ..mau bicara satu hal sama elo.”

“apa?” Ray menggaruk tenguknya yang sama sekali tidak gatal. Ia mulai salah tingkah.

“gue..gue..mm..”

“elo kenapa, Ray?” Ray menghela nafas sejenak. Dan mulai memberanikan diri untuk berbicara.

“mm, gue…suka sama lo. Mau nggak lo..jadi pacar gue?” Ify terdiam. Matanya menatap mata Ray. Sebuah kepastian, harapan dan juga ketulusan terpancar jelas dimata bulatnya. Mereka terdiam. Hening.

“Fy?” suara Ray menyadarkan lamunan Ify.

“eh? Iya?”

“mm, gimana jawaban lo?” Ify menghela nafas. Ray menunggu dengan cemas. Shilla, Sivia, Deva, dan Ozy yang sedari tadi menjadi penonton dari mereka berdua terdiam menunggu jawaban kepastian dari Ify.

“gue…terima lo, Ray” jawab Ify. Ray terpana. Tidak percaya. Shilla, Sivia, Deva dan Ozy spontan bersorak.

“bener?” Tanya Ray memastikan. Ify mengangguk sambil tersenyum manis. Ray langsung mendekap tubuh mungil itu. Ify tersentak. Wajahnya mendadak bersemu.

“cieee..tau deh yang udah resmi” sorak Shilla.

“iya niihh. Udah main peluk-pelukkan segala” ujar Sivia. Ray melepaskan pelukkannya malu.

“bikin kita envy aja deh” kata Deva.

“tau nih. Udah tau kita belom pada punya. Udah main nyosor aja lo” tambah Ozy. Ray dan Ify hanya tersenyum malu. Shilla dan Sivia merangkul sahabatnya itu.

“selamat ya sayang. Moga langgeng deh” ucap Shilla.

“PJ-nya jangan lupa aja buat kita-kita” ucap Sivia.

“iyaa deh. Tapi minta bayarin sama Ray aja ya. Lagi buntu nih hehe” ucap Ify. Ray mengacak rambut Ify gemas. Wajah Ify bersemu kembali.

“cieeeee….” Koor yang lain.

“huuu pada iri semua nih. Udah ah. Masuk yuk. Udah bel” ucap Ray sambil menggandeng tangan pacar barunya itu-Ify- menuju kelas. Shilla, Sivia, Deva dan Ozy yang melihat itu hanya tersenyum-senyum penuh arti. Dan kemudian mengekori mereka berdua dari belakang.

“love you, sayang” bisik Ray. Ify tersenyum malu.

“love you too.”


==The End==

You May Also Like

0 komentar