CINTA MASA PUTIH BIRU (RaFy)
Notification : cerita ini hanya fiktif belaka yang
terinspirasi oleh imajinasi seorang penulis amatir.
*
Tahun ajaran
kedua di SMP Prasska Junior
Intern School
kini sudah dimulai. Para murid baru terlihat
berbondong-bondong memasuki pekarangan luas sekolah itu. Mereka akan segera
menjalankan kewajiban mereka terlebih dulu sebelum resmi menjadi seorang murid
disana. Pakaian seragam putih merah terlihat masih melekat ditubuh mungil
mereka. Mereka harus siap untuk diperintahkan apapun dari para senior.
Dikoridor
terlihat tiga siswi yang tengah berdiri santai sambil mengamati murid-murid
baru itu. Satu diantara mereka bertiga terlihat memakai sebuah bet dengan
tulisan PENGURUS OSIS.
“lo kalo mau
ngerjain mereka jangan keras-keras deh” ucap salah satu siswi tersebut.
“emang kenapa,
Vi?” Tanya temannya.
“soalnya mereka
masih polos banget. Kasian jadinya” jawab siswi tadi yang bernama Sivia.
“emang sih
mereka masih terlalu polos. Tapi ya…inilah yang harus para pengurus osis lakuin.
Ngerjain mereka” ucap siswi yang memakai bet pengurus osis itu.
“iya sih.
kayaknya lo harus ekstra hati-hati deh, Fy pas mereka minta tanda tangan.
Mereka bisa jadi brutal. Walaupun tuh muka polos banget” ucap temannya.
“haha..lo bener,
Shill” ucap si pengurus osis –Ify- mereka tertawa. Hening sesaat diantara
mereka. Tidak ada pembicaraan yang mereka lakukan. Tiba-tiba seorang siswa
menghampiri mereka.
“Fy..” panggil
siswa tersebut. Sontak mereka bertiga menoleh ke sumber suara.
“eh elo, Ray?
Kenapa?” Tanya Ify.
“enggak. Cuma
mau balikin komik yang waktu itu gue pinjem. Thank’s banget ya. kapan-kapan gue
pinjem lagi series yang lainnya” ucap Ray-siswa tadi- sambil mengulurkan komik
doraemon milik Ify. Ify menerimanya dengan tersenyum.
“oke. dirumah
masih banyak kok series yang lain. elo bisa pinjem kapan aja” ucap Ify. Ray
tersenyum.
“siplah. Makasih
sekali lagi. gue duluan” ucap Ray.
“sama-sama.” Ray
berlalu. Sepeninggal Ray, Shilla dan Sivia tersenyum menggoda Ify.
“cie elah. Mau
balikin komik apa Cuma mau nyamperin? Haha” ledek Shilla.
“apaan sih lo?”
sanggah Ify sambil menepuk pundak Shilla dengan komiknya.
“lo kalo
diliat-liat cocok loh sama Ray. Klop banget haha” goda Sivia. Ify blushing,
malu.
“kalian
apa-apaan sih? gue sama dia gak ada apa-apa. Kita kan Cuma temen.”
“temen apa
temen?” ledek Shilla lagi. Pipi Ify semakin memanas.
“iihh udah deh.
Gue ngambek nih” cemberut Ify.
“hahaha..iya
iya. Tapi ya, Fy..gosip kalo lo sama Ray jadian itu udah nyebar loh. Anak kelas
9 aja udah pada tau” ucap Sivia.
“iya, Fy.
soalnya lo deket banget sama Ray. Terus gak tau kenapa setiap ada lo pasti ada
Ray. Buktinya waktu MOS elo sama dia sekelas, pembagian kelas tujuh juga
sekelas. Terus setiap pembagian kelompok, elo pasti kedapetan kelompok yang
juga ada Ray disana” tambah Shilla.
“bener banget
tuh. Waktu itu gue pikir kalian itu jodoh.” Ify terdiam.
‘bener juga ya?
tapi…kok bisa sih? …au ah!’ batin Ify.
“ck! Lo berdua
hobi banget ngeledekkin gue. Udah ah, udah mau mulai nih MOS. Gue kelapangan
ya. bye” pamit Ify. Shilla dan Sivia geleng-geleng kepala melihat tingkah Ify
sambil terus menatap punggung Ify yang menjauh.
*
MOS telah
selesai, kini saatnya pembagian kelas. Ify, Shilla dan Sivia telah berada
didepan papan pengumuman untuk melihat kelas VIII apa yang akan menjadi kelas
mereka.
“eh gila. Gue di
kelas VIII e. buset jauh amat yak?” celetuk Sivia.
“yaahh kita gak
sekelas, Vi” ucap Shilla sedih.
“emang lo berdua
dimana?” Tanya Sivia.
“kita di VIII d”
ucap Shilla.
“yaaahh…tapi gak
papa deh, kan
tetanggan itu mah” ucap Sivia. Shilla dan Ify mengangguk sambil tersenyum.
Shilla kembali mencermati nama-nama murid yang berada di kelas VIII d.
“tuh kan. Bener apa kata gue”
ucap Shilla tiba-tiba.
“apaan sih,
Shill? Ngagetin aja sih lo?” kesal Ify.
“coba lo liat.
Nih” tunjuk Shilla pada sebuah nama siswa pada Ify dan Sivia. Mereka berdua
terbelalak kaget.
“mungkin kalian
emang jodoh kali” ceplos Sivia.
“apaan sih?
kebetulan aja itu mah. Jodoh ada ditangan Tuhan tau. Ya udah lah biarain aja.
Emang mau diapain lagi coba?” elak Ify. Sivia dan Shilla Cuma mengangguk
setuju. Bagaimana tidak, tahun ini adalah tahun kedua dimana Ify satu kelas
dengan seorang siswa bernama MUHAMMAD RAYNALD PRASETYA. Mereka kemudian berjalan
beriringan menuju kelas masing-masing. Sesampainya dikelas Ify dan Shilla
langsung memilih tempat duduk di dekat jendela.
“kita duduk sini
aja, Shill” usul Ify. Shilla mengangguk. Dikelas ini mereka tidak banyak
mengenali murid-murid itu. Mungkin hanya beberapa saja yang dulunya adalah
teman sekelas. Maklum saja mereka baru satu tahun berada di sekolah ini. Bel
masuk telah berbunyi. Para murid sudah
mengambil posisi duduk dibangku masing-masing. Seorang guru memasuki kelas
dengan santai. Sebut saja beliau Ibu Nervi.
“selamat pagi
anak-anak” sapa Ibu Nervi.
“pagi buu..”
koor murid VIII d.
“baiklah. Disini
Ibu akan menjadi wali kelas kalian sekaligus akan mengajar pelajaran bahasa
Inggris. Hari ini kita cukup perkenalan, pemilihan perangkat kelas dan menata
kembali tempat duduk. Formasi tempat duduknya akan Ibu acak menjadi laki-laki
perempuan” jelas Ibu Nervi. Kasak kusuk mulai terjadi disana.
“yaahh, Shill.
Gimana nih? Kita bakal gak satu bangku lagi” ucap Ify.
“iya, Fy. udahlah
terima aja” balas Shilla. Ibu Nervi mulai membagikan tempat duduk secara acak.
“Ashilla dan
Deva.” Shilla segera mengambil posisi duduk disebelah Deva.
“Alyssa dan
Raynald.” Ify terbelalak kaget mendengarnya. Suara anak-anak VIII d bergemuruh.
“cieee….”
“prikitiww..”
sorak mereka semua. Ray berjalan menuju bangku sebelah Ify.
“aduuhh. Kalo
soulmate emang gak bakalan bisa jauh” celetuk seorang siswa dari arah belakang
meja Ify dan Ray. Ify hanya bisa menunduk malu. Sedangkan Ray menoleh kearah
siswa itu.
“apaan sih?
nyantai aja lagi” sanggah Ray yang kemudian kembali berbalik kedepan. Setelah
Ibu Nervi mengacak ulang formasi tempat duduk, ia kemudian membentuk perangkat
kelas.
“jadi siapa yang
mau mencalonkan diri sebagai ketua kelas, bendahara dan sekretaris?” Tanya Ibu
Nervi. Tidak ada satupun yang menyahut.
“kalau begitu,
siapa yang ingin kalian calonkan?” Tanya Ibu Nervi sekali lagi.
“Raynald…” sorak
sebagian murid. Dan sebagian lagi menyebutkan nama Ify.
“Alyssa, buu…”
Ify sontak menoleh.
“kok gue? Gak
mau ah” sangkal Ify.
“baik. jadi kita
akan mengadakan vote. Antara Raynald dan Alyssa.” Ify terbelalak kaget.
“kalian sih”
tuduh Ify. Sedangkan Ray menanggapinya cuek. Akhirnya poling tertinggi dipegang
oleh Ray. Otomatis Ify menjadi wakil ketua kelas.
“oke semuanya.
Ketua kelas, wakil, bendahara dan sekretaris telah ditentukan. Jadi untuk murid
yang sudah terpilih, bekerjalah dengan baik. jangan merusak nama kelas sendiri.
Mengerti?”
“mengerti buu..”
sorak anak-anak.
*
Saat istirahat,
Ify, Shilla dan Sivia segera menyerbu kantin untuk mengisi perut mereka yang
sejak tadi telah mengadakan musik keroncong.
“eh…gue satu
kelas sama Alvin
loh hihi…” ucap Sivia.
“yang bener, Vi?
Wah keberuntungan banget buat elo” ucap Ify.
“iya bener banget.
Kalo gue satu bangku ama si Belo. Ya ampun! Orangnya kayak cacing kepanasan tau
gak. Gak bisa diem. Ribet sendiri gue liatnya” ucap Shilla.
“haha..yang
tabah deh, Shill. Elo gimana, Fy?”
“kalo dia satu
bangku ama si soulmatenya” sahut Shilla jahil. Ify melotot.
“apaan sih?
kebetulan aja kali” sanggah Ify.
“cieelah, Fy.
perangkat kelas aja udah deket banget tuh jabatannya. Duduk berdua lagi” ledek
Shilla lagi.
“yang bener, Fy?
jadi elo satu bangku ama si gocap? Terus perangkat kelas itu gimana ceritanya?
Ah! Gak enak banget gue gak sekelas sama kalian lagi” ucap Sivia.
“yee..perangkat
kelas kan
anak-anak yang lain ngusulin, bukan gue. Kalo gue mah mana mau calonin diri gue
sendiri” ucap Ify cemberut.
“haha…iya iya.
Jangan cemberut gitu dong cantik. Nanti abang Ray-nya ilfeel loh” goda Shilla.
Sivia tertawa.
“apaan sih? lo
berdua suka banget godain gue? Jahat” ambek Ify sambil memajukan bibirnya.
Shilla dan Sivia tertawa. Dari kejauhan tampak seorang pemuda menarik kedua
sudut bibirnya keatas membentuk senyuman tipis yang samar saat memperhatikan
tingkah laku gadis yang akhir-akhir ini terus menghantui pikirannya.
‘elo berhasil
bikin gue jatuh cinta’ batin pemuda itu.
*
“Alyssa..tolong
bawakan buku-buku ini ke meja ibu dikantor ya” suruh Ibu Mona selaku guru
Fisika. Ify hanya mengangguk sopan.
“baiklah
anak-anak. Pelajaran kita sampai disini. Minggu depan kita lanjut kembali.
Permisi..” pamit Ibu Mona kemudian berlalu keluar kelas. Ify mulai membawa
setumpuk buku tulis yang lumayan banyak. Sedikit kesusahan saat membawa buku
itu.
“gue bantu,
Fy..” ucap Ray tiba-tiba sambil mengambil sebagian buku tulis itu. Ify sontak
menoleh dan tersenyum.
“cieeeee….”
“ehemm..ehemm..”
gemuruh sorak sorai anak-anak kelas VIII d terdengar. Ray dan Ify salting.
“apaan sih? gue kan Cuma bantuin”
sangkal Ray. Ify hanya menunduk malu. Mereka tetap menyeruakkan sorakkan demi
sorakkan yang membuat Ray dan Ify tambah malu saja. Akhirnya tanpa menghiraukan
sorakkan dari teman-temannya itu, Ray dan Ify melangkah keluar kelas. Selama perjalanan mereka berdua ke kantor,
tidak ada satupun yang berani membuka suara. Keduanya masih terlihat malu dan
canggung karena kejadian di kelas tadi.
“mm.. Fy”
panggil Ray ditengah kesunyian mereka berdua. Ify menoleh.
“ya?”
“jangan dengerin
anak-anak dikelas ya? Mereka emang suka kayak gitu.” Ify tersenyum manis.
“gak papa kok,
Ray. Gue udah biasa yang kayak gituan.” Ray mematung melihat senyuman itu.
Senyuman manis seorang Alyssa. Jantungnya sudah tidak bisa diajak kompromi
lagi. Darahnya mengalir deras.
“oh..mm..ee..bagus..deh
kalo gitu..hehe” ucap Ray gugup. Salah tingkah. Ify merasakan ada yang beda
dalam dirinya saat ini. Dia merasa nyaman jika berada di dekat Ray. Jantungnya
juga terkadang berdetak kencang ketika melihat senyum manis dari Ray. Apa ini
sebuah pertanda kalau ia sudah terkena virus-virus merah jambu? Pikirnya.
‘apaan sih gue?
Mikirin kayak gini?’ batinnya sambil menggelengkan kepala.
“Fy?” panggil
Ray. Ify tersentak dan menoleh.
“eh?”
“kenapa?” Tanya
Ray heran melihat sikap Ify tadi.
“oh..emm..gak
kok. Gue gak papa, Ray.” Ray mengangguk Ify menghela nafas dan membuang jauh
pikiran anehnya tadi.
*
“Ify..” panggil
seseorang. Ify yang semula tengah bercanda gurau bersama kedua sahabatnya
sontak menoleh kearah sumber suara. Shilla dan Sivia yang melihat siapa orang
memanggil Ify tadi, langsung senyum-senyum menggoda.
“ehem..” dehem
Sivia.
“aduuhh.. disamperin
pangerannya. So sweet” goda Shilla.
“kira-kira dia
mau ngapain ya? Aahh..gue tau, pasti mau ngajak pulang bareng elo” tambah
Sivia. Ify semakin bertambah malu. Mukanya mendadak memerah menahan malu.
“apaan sih lo
berdua?” Ray semakin mendekat.
“hai Ray” sapa
Shilla dan Sivia kompak. Ray tersenyum ramah.
“hai.” Kemudian
ia mengalihkan perhatiannya pada Ify.
“Fy..gue mau
pinjem komik doraemon yang series berikutnya lagi. Nanti sekitar jam tiga, gue
kerumah elo ya?”
“siipp” jawab
Ify.
“ya udah. Gue
duluan ya semua” ucap Ray sambil berlalu.
“ya elah. Jadi
Cuma mau ngomongin itu doang? Aahh gak seru banget sih” dumel Sivia.
“iya nih. Gue
kira tadi dia bakal ngajak pulang bareng elo, Fy” sambung Shilla.
“haha.. lo
berdua tuh ya, ngayalnya ketinggian, neng. Udah deh.. lebih baik sekarang kita
pulang, udah sepi banget nih sekolah” ucap Ify.
“oke deh.”
*
Sudah tiga
minggu ini Ray semakin dekat dengan Ify. Dalam kegiatan apapun mereka juga
keliatan kompak. Sudah banyak tersebar gossip kalau mereka sudah terikat suatu
hubungan. Tapi semua itu hanyalah sebuah gossip belaka. Ray dan Ify juga sudah
tidak terlalu menghiraukan gossip-gosip itu. Mereka menganggap layaknya angin
yang berlalu. Seperti saat ini, mereka pulang sekolah bersama. Saat mereka
sedang berbincang-bincang sambil berjalan dikoridor sekolah, dua orang adik kelas
menghampiri mereka.
“kak, kalian
berdua pacaran ya?” Tanya salah satunya sebut saja dia Ourel. Ray dan Ify kaget
dan kemudian salah tingkah.
“ha? Enggak kok.
Kalian dapet berita itu darimana?” jawab sekaligus Tanya Ify lembut.
“hampir semua
murid satu sekolah ini ngomongin itu, Kak. Kalian beneran gak pacaran?” ucap
satunya lagi –Acha-
“enggak kok”
kali ini Ray menjawab.
“kenapa gak
pacaran aja sekalian. Kalian cocok kok” ucap Ourel polos. Diikuti anggukan
setuju Acha. Ray dan Ify saling pandang.
“haha..kalian
ini ada-ada aja. Udah gak usah bahas yang itu lagi ya. Kalian gak pulang?” ucap
Ify.
“ini mau pulang
kok, Kak.”
“kita duluan ya,
Kak. Daaa..” pamit Acha dan Ourel yang kemudian berlari riang menuju depan
gerbang sekolah. Setelah kepergian dua orang adik kelas mereka yang masih
terlihat polos itu, Ray dan Ify masih terdiam dalam keheningan. Bergelayut
dengan pikiran masing-masing.
“eh? Kok jadi
diem gini sih?” ucap Ify tersadar. Ray menggaruk-garuk tengkuknya salah
tingkah.
“mm..ya udah.
Pulang aja yuk” ajak Ray. Ify mengangguk dan kemudian berjalan beriringan
dengan Ray menuju parkiran sekolah.
*
“kalo enggak
besok, lusa gue balikin” ucap Ray sambil menstarter motor cagiva birunya.
“iya. Elo udah
ngomong itu dari tadi. Gue udah tau ini” ucap Ify geram. Ray cengengesan.
“hehe..ya udah
deh. Gue pulang dulu ya. Elo istirahat aja nanti. Pasti capek” ucap Ray
perhatian sambil tersenyum manis.
DEG! Jantung Ify
berdetak cepat ketika mendapat perhatian itu dari seorang Raynald dan juga
mendapat senyuman manis darinya.
“eh..mm..i..iya,
nanti gue istirahat hehe.”
“jangan lupa
makan juga. Elo kan
selalu lupa kalo masalah makan. Gue pulang yaa..” Ray berlalu. Ify masih terus
memandangi Ray sampai ia jauh dan tidak terlihat lagi.
‘kenapa gue
seneng banget kalo dia perhatian banget sama gue? Mamaaa.. anakmu udah kena
virus merah jambu niihh..’ batin Ify. Ia menutup pintu gerbang rumahnya dengan
senyuman yang masih melekat di wajah cantiknya. Dan kemudian melangkah riang
menuju dalam rumahnya.
“aduuhh anak
mama ini. Kayaknya lagi seneng banget? Ada
apa sih? Cowo ya?” goda mamanya.
“iihh..mama.
hehe Ify kan
jadinya malu” ucap Ify malu-malu.
“jadi bener?
Emang siapa cowonya?” Tanya sang mama.
“hehe..” Ify
cengengesan.
“apa yang tadi?
Yang rambutnya gondrong itu ya?” Ify mengangguk malu.
“boleh juga sih.
Mm.. kamu boleh pacaran, tapi jangan sampe nilai kamu turun dan gak boleh
pacarannya sampe keluar bates. Ngerti?” nasihat sang mamanya. Ify tersenyum
lebar.
“sipp itu maaa..tapi
kan belum
tentu juga dia suka sama Ify. Mungkin aja dia suka sama orang lain” ucapnya.
Kalimat terakhir terdengar lirih dari mulut kecilnya. Sang mama tersenyum dan
kemudian menghampiri putri kecilnya itu. Membelai lembut rambutnya.
“hati orang mana
kita tau sayang. Kalo emang jodoh, gak bakal kemana. Walaupun dia udah punya
yang lain, tapi dia jodoh kamu.. pasti ujung-ujungnya bakal balik lagi ke kamu
sayang. Sudah, nanti aja pikirin yang itu. Sekarang kamu makan siang dulu sana.” Ify mengangguk sambil
tersenyum lucu. Sebelum pergi ia memeluk mamanya dulu.
“Ify sayang
mama” ucapnya pelan dan kemudian pergi berlalu. Mamanya hanya tersenyum.
“mama juga
sayang kamu.”
*
“eehh.. apaan
sih? Sakit nih tangan gue” rintih Ify yang sedari tadi ditarik-tarik oleh kedua
sahabatnya.
“udaahh
pokoknya, lo ikut aja sama kita berdua” ucap Shilla sambil terus menyeret
lengan Ify.
“iya. Gak pake
bantah. Jadi elo diem aja” tambah Sivia. Ify menurut. Bungkam. Tapi dalam
pikirannya masih terus bertanya-tanya. Ada
apa sebenarnya? Akhirnya mereka sampai ditaman belakang sekolah. Shilla dan
Sivia celingukan mencari keberadaan seseorang.
“aduuh..mereka
kemana sih?” keluh Shilla.
“tau nih. Mana
panas lagi” tambah Sivia. Shilla menoleh pada Ify yang masih membungkam.
“eh? Lo kenapa
diem aja sih, Fy?” Sivia ikut menoleh.
“iya. Daritadi
elo diem aja deh. Sariawan ya?”
“lo berdua
gimana sih? Tadi nyuruh gue diem, sekarang malah ditanya kenapa gue diem.
Ahelaahh…makan apaan sih tadi pagi?” ucap Ify. Shilla dan Sivia cengengesan.
*
Sementara
ditempat lain.
“aduuhh..gue
belom siap woy” ucap Ray.
“huuu..gak
gentle lo kalo kayak gini” kata Deva.
“iya nih,
tunjukkan kejantananmu” tambah Ozy.
“lo berdua
bisanya ngomong doang. Lah, gue yang bakal ngelakuinnya ini. Gue kan belom persiapan.”
“banyak bacot
lo. Mau persiapan apa? Emang lo kira mau lomba?” ucap Ozy.
“tau nih. Kalo
lo gak mau ngelakuinnya sekarang, bakal gue embat tuh. Kan lumayan udah cantik, pinter lagi. Bisa
privat gratis sama dia” kata Deva. Ray melotot.
“itu mah elo
manfaatin dia, Devaa..” geram Ray. Deva cengengesan.
“udahlah
ayoooo…”ajak Ozy sambil mendorong-dorong tubuh Ray.
*
“aduuhh..ngapain
sih kita disini? Panas tau gak. Bentar lagi masuk nih” keluh Ify.
“sabar dong.
Bentar lagi juga dateng orangnya” ucap Shilla sambil terus mengedarkan
pandangannya ke penjuru taman.
“emang nungguin
siapa sih?” Tanya Ify.
“nungguin orang.
Naah itu dia” ucap Sivia. Shilla dan Ify ikut menoleh kearah yang ditunjuk oleh
Sivia. Seketika Ify melotot.
“eeehh..gue
belom siap” bisik Ray. Ozy dan Deva tidak menghiraukannya. Mereka masih saja
terus mendorong Ray. Shilla dan Sivia pun mulai beraksi menggeret lengan Ify
mendekat pada mereka bertiga.
“good luck”
bisik Deva.
“semoga
beruntung” bisik Ozy. Shilla dan Sivia menggeret Ify hingga ia berada tepat
didepan Ray. Ray berdiri terpaku menatap wajah manis itu. Seakan ia tidak bisa
untuk mengeluarkan sepatah kata pun. Shilla, Sivia, Deva dan Ozy melangkah
menjauh dari mereka berdua.
“emm..Fy” ucap
Ray gugup.
“i..iya” balas
Ify tak kalah gugup.
“gue..gue ..mau
bicara satu hal sama elo.”
“apa?” Ray
menggaruk tenguknya yang sama sekali tidak gatal. Ia mulai salah tingkah.
“gue..gue..mm..”
“elo kenapa,
Ray?” Ray menghela nafas sejenak. Dan mulai memberanikan diri untuk berbicara.
“mm, gue…suka
sama lo. Mau nggak lo..jadi pacar gue?” Ify terdiam. Matanya menatap mata Ray.
Sebuah kepastian, harapan dan juga ketulusan terpancar jelas dimata bulatnya.
Mereka terdiam. Hening.
“Fy?” suara Ray
menyadarkan lamunan Ify.
“eh? Iya?”
“mm, gimana
jawaban lo?” Ify menghela nafas. Ray menunggu dengan cemas. Shilla, Sivia,
Deva, dan Ozy yang sedari tadi menjadi penonton dari mereka berdua terdiam
menunggu jawaban kepastian dari Ify.
“gue…terima lo,
Ray” jawab Ify. Ray terpana. Tidak percaya. Shilla, Sivia, Deva dan Ozy spontan
bersorak.
“bener?” Tanya
Ray memastikan. Ify mengangguk sambil tersenyum manis. Ray langsung mendekap
tubuh mungil itu. Ify tersentak. Wajahnya mendadak bersemu.
“cieee..tau deh
yang udah resmi” sorak Shilla.
“iya niihh. Udah
main peluk-pelukkan segala” ujar Sivia. Ray melepaskan pelukkannya malu.
“bikin kita envy
aja deh” kata Deva.
“tau nih. Udah
tau kita belom pada punya. Udah main nyosor aja lo” tambah Ozy. Ray dan Ify
hanya tersenyum malu. Shilla dan Sivia merangkul sahabatnya itu.
“selamat ya
sayang. Moga langgeng deh” ucap Shilla.
“PJ-nya jangan
lupa aja buat kita-kita” ucap Sivia.
“iyaa deh. Tapi
minta bayarin sama Ray aja ya. Lagi buntu nih hehe” ucap Ify. Ray mengacak
rambut Ify gemas. Wajah Ify bersemu kembali.
“cieeeee….” Koor
yang lain.
“huuu pada iri
semua nih. Udah ah. Masuk yuk. Udah bel” ucap Ray sambil menggandeng tangan
pacar barunya itu-Ify- menuju kelas. Shilla, Sivia, Deva dan Ozy yang melihat
itu hanya tersenyum-senyum penuh arti. Dan kemudian mengekori mereka berdua
dari belakang.
“love you,
sayang” bisik Ray. Ify tersenyum malu.
“love you too.”
==The End==
0 komentar