Sahabat Selamanya (Cerpen Bag. A)

************************************************************************

Di sebuah taman, terlihat empat orang anak kecil berumur 7 tahun sedang bermain.

“kita mau main apa?” Tanya seorang anak laki-laki bermata sipit.

“main kelereng aja yuk” ajak anak laki-laki berpipi chubby.

“gak ah! Aku bosen main kelereng” kata anak laki-laki berwajah manis.

“gimana kita main sepeda aja?” usul anak laki-laki hitam manis.

“boleh. Kita lomba ya. Dari sini sampe sana. Oke?” kata yang berpipi chubby.

“oke. 1…2….3….” Aba-aba dari anak bermata sipit memulai permainan mereka.

Mereka terus berlomba menuju garis finish. Dan pada akhirnya..

“yeee…aku menangg…” sorak anak berwajah manis.

“yaaahh…adit menang..” sesal anak berpipi chubby.

“gak papa, Ga. Ini kan Cuma permainan” kata anak hitam manis.

“iya…Stev bener” setuju anak bermata sipit.

“kita main yang lain aja yuk” usul anak berwajah manis itu.

“kita main bola” kata anak hitam manis sambil menunjuk bola kaki ditangannya.

“ayoo..” kata mereka kompak.

Mereka bermain dengan gembira. Mereka selalu bersama. Selalu ada tawa di dalam persahabatan mereka. Saling menyemangati satu sama lain. Selalu berbagi. Mungkin kalau mereka bertengkar itu tidak berlangsung lama. Karena mereka selalu saling memaafkan.

“ayoo..Aga..tendang bolanyaa..” teriak anak berwajah manis yang sedang berdiri di depan gawang timnya. Tidak sadar, anak berpipi chubby itu menendang bola terlalu kuat hingga terpental ke jalan.

“yaahhh…aku ambil dulu deh..” kata anak berpipi chubby itu. Dia berjalan kearah jalan raya. Dia menoleh kanan kiri tidak ada kendaraan yang lewat lalu dia berjalan mendekati bolanya dan mengambilnya. Sampai ada mobil yang melaju cepat dari arah kirinya. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia takut. Kakinya terasa tidak bisa digerakkan. Mobil itu masih terus melaju.

“AGAAA….” Teriak ketiga temannya.

TIN..TIIIINNNNN……….

“AWAAASSS…….”

************************************************************************

Seorang gadis lucu dan manis sedang mengendarai sepedanya dengan riang. Rambut sebahu yang terurai dengan topi yang dipasangnya terbalik. Sambil bernyanyi kecil dia terus menggayuh sepedanya.

“la..la..la…la…” Dia melihat kearah jalan raya. Terlihat seorang anak laki-laki yang memegang bola dan dari arah kirinya sebuah mobil melaju kearah anak itu. Dia memberhentikan sepedanya di situ. Dan turun dari sepedanya.

“AGAAA….”

TIN..TIIIINNNNN……….

“AWAAASSS…….” Teriak gadis itu. Sontak dia berlari kerah anak itu lalu mendorongnya ke tepi jalan.

‘BRUUKK..’ Mereka berdua terjatuh ke tepi jalan. Mobil itu masih terus melaju. Tanpa berhenti.

“kamu gak papa?” Tanya gadis itu. Anak itu hanya menggeleng. Dia masih terlihat syok atas kejadian tadi.

“ayo kita duduk disana dulu.” Gadis itu memapah anak itu menuju sebuah bangku di dekat situ.

“Agaa..kamu gak papa?” Tanya anak bermata sipit yang berlari menuju kerah mereka berdua dan diikuti kedua sahabatnya. Anak itu masih diam.

“kamu siapa?” Tanya anak berwajah manis kepada gadis itu. Gadis itu menoleh.

“aku Icha.”

“oohh..Icha. Kenalin aku Adit” kata anak berwajah manis sambil mengulurkan tangannya. Gadis yang bernama Icha itu menerima uluran tangan Adit.

“aku Stev..” sambil berjabat tangan dengan Icha.

“aku Nathan..” sambil berjabat tangan dengan Icha.

“dia Aga. Makasih ya udah nolongin temen kita” kata Adit. Icha mengangguk sambil tersenyum senang.

“sama-sama. Kata mama kita itu harus saling tolong-menolong. Walaupun kita tidak mengenal orang itu.” Adit, Nathan dan Stev tersenyum.

“Aga, kamu gak papa kan?” Tanya Icha. Aga masih terdiam mematung.

“kamu gak usah takut lagi. Disini kamu udah aman kok. Temen-temen kamu udah pada dateng tuh.” Aga menoleh kearah Icha lalu tersenyum.

“makasih ya..” kata Aga tulus. Icha tersenyum lebar sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya.

“sama-sama. Aku pulang dulu ya” kata Icha. Terlihat raut wajah kecewa dari mereka berempat. Mereka terasa sudah sangat nyaman dengan Icha. Walaupun baru kenal beberapa menit yang lalu.

“yaaahh..kok pulang” kata Stev. Icha menoleh.

“soalnya udah sore. Nanti mama nyariin. Kapan-kapan kita main lagi deh” kata Icha.

“janji ya” kata Adit. Icha mengangguk mantap.

“janji. Aku pulang yaaa..dadaaahh…” pamit Icha sambil berjalan menuju sepedanya kemudian berjalan pulang.


************************************************************************

Keesokan harinya mereka kembali bermain di taman itu. Mereka bermain sambil menunggu seseorang.

“halooo semuaa..” sapa Icha.

“hai, Icha. Ayo kita main” kata Adit.

“ayo..main apa?” Tanya Icha. Mereka berfikir sejenak.

“kita main…lomba lari aja yuk” ajak Nathan.

“oke. aku jadi jurinya ya” kata Stev. Icha, Adit, Nathan dan Aga mengambil posisi masing-masing.

“1…2…3…mulai..” teriak Stev. Mereka berempat langsung berlari cepat sampai garis finish yang telah ditentukan.

“yeee…aku menangg…” sorak Icha senang.

“Icha hebat..” puji Aga.

“hehe Icha gitu..” kata Icha bangga.

“kita beli es krim yuk..” ajak Nathan.

“ayyoo..” koor mereka serempak.

Tertawa bersama. Saling berkejaran. Mengisi satu sama lain. Lengkap semuanya. Sampai pada akhirnya salah satu dari mereka harus pergi meninggalkan kota Jakarta terlebih meninggalkan persahabatan mereka.

“Ichaa..hiks..hikss..” isak Aga.

“iihh..Aga jangan nangis. Aga kan cowo, masa kalah sama Icha yang gak nangis” kata Icha.

“Icha…kenapa harus pindah?” Tanya Stev.

“soalnya papa mau kerja di Bandung, jadi Icha ikut. Dirumah gak ada siapa-siapa. Kalo Icha sendirian, pasti Icha takut” jawab Icha polos.

“Icha jangan lupain kita ya..” kata Adit. Icha mengangguk mantap sambil tersenyum lebar.

“Icha punya ini untuk kalian semua..” Icha memberikan 4 buah gelang. Masing-masing tertulis inisial nama mereka.

Adit = ‘A’ (merah)
Stev = ‘S’ (biru)
Nathan = ‘N’ (hitam)
Aga = ‘A’ (hijau)
Icha = ‘I’ (putih)

“kalian pake ya..” kata Icha. Mereka mengangguk.

“temen-temen..Icha pergi dulu yaa…jangan lupain Icha dadaaahh..” pamit Icha sambil berjalan menuju mobilnya. Dan melaju meninggalkan mereka berempat.

‘dadaahh..Icha..kita pasti kangen kamu’ batin mereka kompak.


************************************************************************

8 tahun kemudian

Sinar mentari memasuki melalui celah-celah jendela kamar gadis manis ini. Tapi si empunya kamar masih jalan-jalan di alam mimpinya.

“KAAKKK IFFYYYY….BANGUUNNN….” teriak sang adik sambil menggedor-gedor pintu kamar kakaknya.

‘Cekleekk!’

“WOOYY….BANGUUNN…MAU SAMPE KAPAN LO TIDUR, HAH?” teriak Deva –adik Ify- di telinga kakaknya.

“aduuhh..berisik amat sih lo, Dep. Gue masih ngantuk juga” kata Ify sambil menarik selimut sampai menutupi kepalanya.

“heh! Hari ini kita mau pindah, Kak. jadi lo harus siap-siap sekarang” kata Deva sambil menarik selimut Ify.

“iihh..iya iya. Gue bangun..hhuuhh! ganggu aja!” kata Ify sambil melangkah ke arah kamar mandinya.

“cepetan lo. Kalo lama di tinggal” kata Deva sambil berjalan keluar kamar Ify.

“iya..bawel banget sih lo” dumel Ify.


************************************************************************

(Jakarta, Rumah Baru)

‘heuh! I’m back Jakarta. Guys tunggu gue. Gue balik buat kalian’ batin Ify sambil mengelus gelangnya. Dia memasuki rumah barunya dan menaiki tangga menuju kamarnya. Ify membanting tubuhnya di kasur yang empuk.

‘ke balkon ah’ batinnya lagi sambil berjalan menuju balkon kamarnya. Dia bisa melihat anak-anak bermain di taman.

“heuh! Gue udah gak sabar buat ketemu sama lo semua. Gimana kabar kalian. Gue baik nih. Malah lebih baik. Maaf ya gue buat kalian nunggu lama. Tapi sekarang gue bakal ketemu sama lo semua. Huft! I miss you all” gumamnya sambil tersenyum


>>>To Be Continued<<<

You May Also Like

0 komentar