CINTA DI BULAN RAMADHAN -CaFy-


-------

Ramadhan. Bulan yang penuh berkah. Bulan yang ditunggu-tunggu oleh segenap orang muslim. Bulan dimana para umat muslim berlomba-lomba mencari sebuah pahala. Dan juga bulan yang penuh cobaan. Kini bulan itu telah datang. Menghampiri seluruh umat muslim didunia ini. Sesuatu yang wajib dilakukan, sesuatu yang melatih kesabaran kita. Puasa. Menahan hawa nafsu dari fajar hingga magrib nanti.

-------

Tidak terasa, Ramadhan telah tiba. Sudah sekian lama aku menunggu bulan yang penuh berkah ini, akhirnya datang juga. Mungkin pada bulan Ramadhan tahun ini, aku akan lebih giat pergi ke masjid. Setiap sore, malam dan subuh. Mungkin kalian bertanya-tanya apa yang ku kerjakan pada waktu itu. Sore, aku pergi ke masjid untuk mengaji bersama teman-teman ku. Malam, kalian pasti tahu. Yap! Aku pergi shalat tarawih tentunya. Sedangkan subuh, sesudah imsak aku langsung pergi ke masjid untuk menjalankan shalat subuh. Rajin kan? Hehe. Aku lebih semangat untuk melakukan semua kegiatan itu saat aku mengenal sesorang yang mungkin telah berhasil mengikat hatiku. Mm..waktu itu pertemuan yang sangat singkat bagiku.

====

“semuanya, aku duluan ya..assalamu’alaikum” pamitku kepada teman-teman.

“iya. Hati-hati dijalan..wa’alaikumsalam” balas temanku. Aku hanya tersenyum kemudian kembali melanjutkan langkah kakiku yang sempat tertunda tadi.

Saat di tengah jalan, tidak sengaja aku melihat sebuah dompet hitam tergeletak tak berdaya. Perlahan aku ambil dompet itu lalu membukanya. Astaghfirullah! Banyak sekali uangnya. Aku mencari-cari KTP di dompet itu. Mungkin saja aku bisa mengembalikannya. Ah! Dapat! Tertera namanya disana CAKKA KAWEKAS NURAGA. Ku lihat alamat rumahnya. Tidak jauh dari arah rumah ku. Aku berniat untuk mengembalikan dompet milik laki-laki ini. Tidak baik jika terlalu lama aku simpan. Saat ingin melangkahkan kaki, aku melihat seorang pemuda. Sepertinya sedang mencari sesuatu. Lalu aku hampiri dia.

“assalamu’alaikum..” sapa ku. Pemuda itu menoleh. Seperti pernah melihatnya. Tapi dimana?

“wa’alaikumsalam..” balas pemuda itu.

“mm..kalau boleh tau, mas ini sedang apa ya?”

“aku lagi cari dompetku. Sewaktu sampai dirumah, dompetku sudah tidak ada. Aku pikir dompet itu jatuh disini” katanya sambil kembali mencari-cari dompet yang dimaksudnya. Tunggu dulu. Apa yang dia bilang tadi? Dompet? Apa mungkin..?

“dompetnya seperti apa mas?” tanyaku.

“dompetnya berwarna hitam ada corak kecoklatan juga disana.” Pantas saja wajahnya familiar sekali bagiku. Ternyata dia Cakka.

“apa ini dompetmu?” tanyaku sambil menyodorkan dompet yang kutemukan dijalan tadi. Dia mendongak. Seketika senyumnya merekah.

“iya. Ini dompetku. Alhamdulillah.” Dia mengambilnya dan membukanya.

“tenang saja, masih utuh kok. Aku tadi menemukannya dijalan.” Aku tersenyum manis. Dia membalas tersenyum. Senyumnya sangat manis menurutku.

“makasih ya. oh iya, kenalin nama ku Cakka Kawekas Nuraga.”

“nama ku Alyssa Saufika Umari tapi kamu bisa panggil aku Ify.”

“sekali lagi makasih ya, Fy. kalo kamu gak nemuin dompet ku tadi. Mungkin habis semua tabunganku.” Aku tersenyum. Pria ini baik. aku kagum padanya.

“aku pulang dulu ya, Cakka. Sampai ketemu lagi. assalamu’alaikum..” pamitku dan kemudian berlalu. Sekilas kulihat dia tersenyum.

“wa’alaikumsalam.”

====

Ya! pertemuan yang sangat singkat. Ternyata dia juga ikut mengaji sewaktu sore di masjid yang sama dengan tempat aku mengaji. Ah! Kenapa aku tidak menyadarinya? Setahuku, anak laki-laki yang ku ketahui sering ikut mengaji disana itu Debo, Kak Riko, Kak Dayat, Ozy, Ray, dan Irsyad. Aku juga jarang melihat wajahnya itu. Atau mungkin dia anak baru? Besok sajalah aku cari tahu.

-------

Keesokan harinya, aku kembali pergi mengaji. Tentunya dengan sahabat-sahabatku. Mereka memang sahabat yang setia. Lihat saja, mereka telah menunggu ku dibawah. Bergegas aku menghampiri mereka semua.

“assalamu’alaikum. Maaf ya lama..” sapa ku.

“wa’alaikumsalam” jawab mereka serentak.

“gak papa, Fy. kita juga baru dateng kok” ucap sahabatku, Sivia. Aku hanya tersenyum.

“ya udah kalo gitu. Kita pergi sekarang aja yuk” ajak Acha. Kami mengangguk setuju dan kemudian melangkah menuju masjid. Di tengah perjalanan aku teringat Cakka. Mungkin saja mereka tahu tentangnya.

“eh, aku mau Tanya. Kalian kenal gak sama Cakka?” Tanya ku. Kulihat mereka mengerutkan keningnya.

“Cakka?” Tanya Shilla memastikan.

“iya. Cakka Kawekas Nuraga. Dia juga ikut mengaji di masjid kita.”

“Cakka ya? aku gak tau, Fy. Setahu ku laki-laki yang ikut mengaji disana Cuma Ray, Ozy, Kak Dayat, Kak Riko, Irsyad sama Debo. Tapi aku gak tau sama Cakka” jawab Oik. Shilla, Sivia dan Acha mengangguk setuju.

“oohh gitu ya? mm..ya udah deh nanti aku Tanya sama yang lain aja.”

“kamu kenal sama Cakka darimana?” Tanya Acha.

“aku kenal dia gak sengaja. Waktu itu aku….” Aku menceritakan semua kejadian saat aku menemukan dompetnya Cakka hingga kami saling berkenalan.

“oohh gitu. Aku jadi penasaran sama laki-laki yang udah berhasil ngerebut hati sahabatku satu ini” ujar Shilla sambil cekikikan.

“hah? Kok kamu bisa berpikiran seperti itu, Shil?” Tanya ku yang tidak percaya. Shilla bisa mengetahui bahwa laki-laki itu telah berhasil mengikat hati ku.

“haha.. ya aku tau lah, Fy. aku kan sahabatmu dari kecil. Tentu tau dong gimana perasaan sahabat sendiri saat ini” jawabnya. Yang lain hanya tersenyum geli.

“sebegitunya ya? ternyata aku tidak pintar buat nutupin perasaan ku sendiri.” Aku tersipu malu.

“hahaha..”

-------

Sesampainya di masjid aku menyuruh sahabatku untuk terlebih dahulu masuk. Aku ingin mencari tahu tentang Cakka. Seorang pemuda yang akhir-akhir ini sering sekali menghantui pikiranku.

“mm..kalian duluan aja masuknya. Aku nyusul. Mau nanya sama mereka dulu..” ujarku sambil menunjuk segerombolan anak laki-laki berpakaian muslim dan berpeci sambil membawa Al-Qur’an.

“iya iya. Yang mau cari tahu informasi tentang sang pujaan hati..” ledek Sivia.

“iihh, apaan sih? udah sana masuk.” Aku menahan malu. Wajahku memanas. Mereka hanya tertawa melihat ku salah tingkah.

“haha iya deh. Jangan lama-lama. Dimarahin Ustadz Duta nanti..” kata Acha.

“iyaa. Aku kesana dulu ya. assalamu’alaikum..” pamitku.

“wa’alaikumsalam.” Aku segera menghampiri mereka.

“assalamu’alaikum” sapaku. Mereka sontak menoleh.

“wa’alaikumsalam.”

“ada apa, Fy? tumben nyamperin kita” kata Ozy.

“mm..gak. aku Cuma mau nanya.”

“nanya apa?” Tanya Debo.

“kalian kenal sama Cakka?” Mereka berpikir sejenak.

“Cakka, Cakka Kawekas Nuraga?” Tanya Kak Riko. Aku mengangguk.

“pasti dong. Emang kenapa?” ucap Ray.

“tapi kok, aku gak pernah liat dia ya?”

“soalnya dia baru masuk dua hari yang lalu..” kali ini Kak Dayat menjawab.

“oohh gitu. Makasih yaa. Aku permisi dulu. Assalamu’alaikum” pamitku sambil berlalu.

“wa’alaikumsalam.”

-------

Pantas saja aku jarang sekali melihat wajahnya. Dugaan ku benar, dia anak baru di masjid kami. Aku memasuki masjid yang bertuliskan ‘Darussalam.’ Tentu saja setelah membaca doa masuk masjid terlebih dulu. Sudah ramai anak-anak disana. Aku segera menghampiri keempat sahabatku dan mengambil posisi duduk di samping Oik.

“gimana?” Tanya Acha.

“gimana apanya?” Tanya ku yang tidak mengerti.

“yeee..pura-pura gak tau nih anak. Gimana informasinya dapet gak?” Tanya Shilla gemas.

“oohh itu. Dapet kok. Emang kenapa?” Tanya ku balik.

“terus, apa yang kamu dapet?” Tanya Oik.

“ternyata Cakka itu baru masuk dua hari yang lalu. Pantes aja aku gak pernah ngeliat wajahnya.” Sahabat-sahabatku hanya bisa meng‘o’kan bibirnya. Obrolan kami terhenti ketika melihat Ustadz Duta telah memasuki ruangan masjid yang sederhana ini.

-------

“pulang bareng?” tawarku kepada sahabat-sahabatku.

“aku kayaknya gak deh, Fy. soalnya aku mesti ke rumah nenek di daerah sana” kata Sivia sambil menunjuk arah barat.

“aku juga. Aku mau ke pasar dulu sebentar, buat beli lauk untuk buka puasa..” ujar Shilla.

“kamu mau kepasar juga, Shill? Bareng aja yuk. Aku juga mau ke pasar” kata Oik. Shilla mengangguk.

“kamu, Cha?” tanyaku.

“maaf, Fy. bukannya gak mau, tapi aku masih ada perlu sama sepupu aku. Jadi gak bisa, kan beda arah..” sesal Acha. Aku mengangguk dan tersenyum.

“ya udah kalo gitu. Kalian hati-hati ya..” mereka mengangguk.

“kita duluan yaa. Assalamu’alaikum..” pamit mereka kompak.

“wa’alaikumsalam..” Heuh! Emang nasib aku hari ini pulang sendiri. Aku mulai melangkahkan kakiku menuju rumah tersayang. Baru beberapa langkah ada yang menyapaku dari belakang.

“assalamu’alaikum” sapa orang itu. Aku menoleh dan sedikit terlonjak ketika mengetahui siapa yang telah menyapaku tadi.

“eh? Wa’alaikumsalam. Cakka? Ada apa?” Cakka-orang tadi- tersenyum.

“gak. Cuma mau nawarin kamu pulang bareng aja. Mau?” ujarnya. Hah? Pulang bareng Cakka. Hatiku sudah bersorak kegirangan saat ini. Jantungku sudah tidak bisa diajak kompromi. Darahku sudah mengalir dengan derasnya.

“bo..boleh. kebetulan aku hari ini pulang sendiri.” Lagi-lagi dia tersenyum. Senyum yang bisa buatku terpana melihatnya. Kami mulai jalan beriringan. Keheningan terjadi diantara kami berdua. Sebenarnya aku sangat tidak suka dengan keadaan seperti ini.

“mm..Cakka” panggilku. Dia menoleh.

“ya?”

“kamu baru ya mengaji di masjid itu?” bodoh! Kenapa pertanyaan itu aku tanyakan? Jelas-jelas aku sudah tahu dia baru mengaji di masjid Darussalam.

“iya. Aku baru dua hari yang lalu mengaji di masjid itu.” Aku mengagguk mengerti.

“kamu pindahan ya?”

“iya. Aku pindahan dari Jogja. Aku ke Bandung ikut Papa yang kerja disini.” Aku mengangguk mengerti-lagi-

“kamu sekolah dimana?” tanyaku.

“di SMA Al-Alaq Intern kelas XI IPA-1.” Apa? Kelas XI? Masyaallah! Ternyata dia lebih tua setahun dariku.

“kamu kelas XI?” Cakka mengangguk.

“ya Allah! Maaf, Kak. aku gak sopan manggil Kakak Cuma manggil namanya doang.” Cakka mengerutkan keningnya.

“emang kamu kelas berapa?”

“kelas X, Kak.”

“ooh gitu. Gak papa lagi kamu kan baru tau sekarang” katanya sambil tersenyum manis kepadaku.

“oh ya. ngomong-ngomong kamu sekolahnya dimana?” Tanya Kak Cakka.

“kalo aku SMA Nur Arafah, Kak. gak jauh-jauh amat kok dari sekolah kakak.” Kami terus berbincang-bincang hangat. Ternyata Kak Cakka itu orangnya asik. Sampai tidak terasa kami sudah berada didepan rumahku saat ini.

“mm, Kak. aku duluan ya. kakak hati-hati dijalan. Assalamu’alaikum..” pamitku sambil melangkah memasuki pekarangan rumahku.

“wa’alaikumsalam..” Kak Cakka berlalu pergi. Hari yang menyenangkan bagiku.

-------

Keesokan harinya. Sepulang sekolah, aku begitu terkejut ketika melihat Kak Cakka telah berdiri didepan gerbang sekolahku. Mau ngapain dia? Pikirku.

“eh, Fy. itu..Cakka kan?” Tanya Shilla.

“hush! Gak sopan kamu. Dia itu kakak kelas kita. Dia udah kelas XI..” ujarku.

“hah? Yang bener? Waduh..” ceplos Acha.

“kayaknya dia nungguin kamu deh, Fy” kata Sivia.

“mana mungkin” gumamku.

“beneran. Udah sana samperin” kata Oik sambil mendorong-dorong tubuhku.

“aduuuhh! Iya iya aku kesana. Aku duluan ya. assalamu’alaikum.”

“wa’alaikumsalam.” Perlahan aku berjalan mendekati Kak Cakka. Apa mungkin dia menungguku? Aku sedikit ragu untuk menyapanya.

‘aduuhh! Sapa gak ya?’ batinku ragu.

‘sapa aja deh.’ Aku menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya. Mencoba menetralisir detak jantungku yang kini berpacu cepat.

“assalamu’alaikum” sapaku. Dia menoleh.

“wa’alaikumsalam” balasnya.

“kakak ngapain disini?”

“kamu ada waktu gak sekarang?” tanyanya yang sedikit agak gugup menurutku.

“ada kok. Kenapa, Kak?”

“ikut aku yuk.” Aku mengerutkan kening bingung.

“kemana?”

“udah ikut aja.” Aku mengangguk dan kemudian melangkah mengikuti Kak Cakka.

Kami terus berjalan. Hingga sampai di sebuah taman yang sangat cantik. Aku terkagum-kagum melihatnya. Pemandangannya tidak kalah menarik. Sungguh, ciptaan Allah memang sangat indah.

‘subhanallah’ gumamku dalam hati. Aku menarik kedua ujung bibirku menjadi sebuah senyuman manis.

“kak..ini..?”

“iya. Bagus kan?” kata Kak Cakka sambil menoleh ke arahku.

“banget, Kak. kakak tau tempat ini dari mana?” ujarku.

“waktu itu kakak baru pindah kesini. Kakak jalan-jalan buat ngeliat lingkungan disini. Terus gak sengaja kakak ngelewatin jalan ini dan ternyata ada tamannya.”

“ini tempat yang paling indah yang pernah aku temuin, Kak. subhanallah!” gumamku sambil mengedarkan pandanganku ke sekitar. Kak Cakka tertawa kecil mendengar penuturanku tadi. Kami terdiam sejenak. Aku masih sibuk memandangi pemandangan alam yang sangat menarik itu.

“mm..Fy” panggilnya. Aku menoleh. Seketika pandangan mata kami bertemu.

“iya, Kak?” Aku sedikit gugup ketika dipandangi Kak Cakka dengan begitu dalam.

“ada yang mau aku omongin sama kamu..” Aku mengerutkan kening. Kak Cakka menarik nafas dalam-dalam.

“waktu itu pertemuan yang sangat singkat tapi sangat berarti bagiku. Dari pertemuan itulah aku bisa mengenalmu. Sejak saat itu, bayangan wajahmu terus berada dipikiranku. Maka dari itu, aku berusaha mencari tahu tentang dirimu. Dunia memang sempit. Ternyata kamu juga ikut mengaji di masjid Darussalam. Aku sangat senang, karena aku bisa melihat kamu lebih lama. Kamu tahu..aku adalah orang yang tak pandai untuk jatuh cinta. Tapi, kamu sudah berhasil membuka perlahan hatiku yang selama ini tertutup rapat. Fy..do you want to be the Queen in my heart?” jelas Kak Cakka. Apa? Kak Cakka menyatakan cintanya kepadaku? Ini bukan mimpikan? Aku terbengong mendengar semua penjelasan Kak Cakka.

“ka..kak..se..serius?” tanyaku meyakinkan. Kak Cakka mengangguk mantap.

“sangat serius. Apa wajahku dan mataku terlihat berbohong?” tanyanya. Aku menatap matanya begitu dalam. Benar! Keseriusanlah yang terdapat disana. Aku tersenyum manis.

“iya, Kak. aku mau! Itu juga adalah pertemuan yang sangat berarti bagiku. Karena itu aku bisa bertemu dan berkenalan dengan seorang laki-laki yang telah berhasil merebut hatiku.” Kak Cakka tersenyum manis.

“makasih, Fy..” ujarnya sambil ingin memelukku.

“eittss..bukan muhrim, Kak” kataku.

“oh iya..hehe. maaf, maaf. Lupa” katanya sambil menggaruk-garuk tengkuk kepalanya. Salah tingkah! Aku tertawa geli melihatnya.

“pulang yuk, udah mau jam 3. nanti kan kita mesti pergi ke masjid” ajaknya. Aku hanya mengangguk dan tersenyum senang. Kami berdua meninggalkan taman yang telah menjadi saksi hubungan antara kita berdua. Melangkah menjauh menuju satu tempat tujuan masing-masing. Senyum kebahagiaan terpancar di wajah kami berdua hari itu.

-------

Bulan Ramadhan ternyata bukan hanya membawa berkah, tapi juga membawa cinta diantara aku dan dia. Senang? Tentu saja. Aku telah berhasil merebut hati seorang laki-laki yang selama ini terus membayangi diriku. Dari kejadian itu, aku tambah mencintai yang namanya Bulan Ramadhan.

-------


~THE END~

You May Also Like

0 komentar