Sahabat Selamanya (Last)

************************************************************************

(SMA GHS, Kantin)

“woelah..jadi si Ify toh Ichanya..” kata Sivia yang telah mendengar cerita Rio Iel Alvin dan Ify.

“udah muter-muter, eh taunya si Icha ada dideket kalian sendiri ckck..” ceplos Shilla.

“hehehe…habis mereka gak ngomong sih kalo mereka itu sobat kecil gue. Ya mana gue tau. Tiba-tiba ketemu di taman dulu tempat kita main. Hihihi..geli sendiri gue kalo ngingetnya..” kata Ify dengan pandangan menerawang. Yang lain Cuma bisa geleng-geleng melihat tingkah Ify yang ceria.

“eh..bukannya kalian berlima ya?” Tanya Sivia. Rio, Iel dan Alvin kaget mendengarnya dan langsung menoleh kea rah Ify. Takut jika dia menjadi sedih lagi mengingat Aga. Senyum Ify terlihat memudar. Shilla menyikut lengan Sivia. Dia tahu bagaimana perasaan Ify saat mengingat salah satu sahabatnya belum bertemu dengannya.

“apaan sih, Shil?” Tanya Sivia kesal dengan perlakuan Shilla. Shilla menunjuk Ify dengan dagunya. Sivia menepuk jidatnya.

“astaga..gue lupa. Sorry..sorry..beneran.. gue lupa. Aduuhh!” rutuk Sivia pada dirinya sendiri. Ify menoleh kearah teman-temannya yang tengah menatapnya dengan pandangan yang seakan dia mengerti. Lalu dia tersenyum lebar.

“tenang gue gak papa. Aga pasti balik. Dia gak bakalan lupa sama kita semua..” kata Ify. Sebenarnya di dalam hati kecilnya menangis. Rio, Iel, Alvin, Shilla dan Sivia bernafas lega.

“Fy, nanti kenalin Aga ke kita ya..” pinta Sivia. Ify mengangguk dan tersenyum senang.

“pasti..eh, nanti kita main bola yok di taman biasa” ajak Ify pada tiga sahabatnya.

“heh? Main bola? Bola kaki maksud lo?” Tanya Shilla tidak percaya. Ify mengangguk mantap.

“dulu Icha itu tomboy banget. Gitu-gitu dia jago main sepak bola..” kata Iel. Ify cengengesan.

“ckck…kok lo bisa feminim gini, Fy?” Tanya Shilla lagi.

“wesss..gini-gini juga gue ngikutin trend, sob. Biar keren gitu hahaha…” kata Ify sambil tertawa renyah. Teman-temannya tertawa kecil melihatnya.

“cara ngomongnya aja udah keliatan kalo dia itu TOMBOY..” kata Rio sambil menekankan kata ‘tomboy.’

“eh? Emang iya ya?” tanyanya pada siapa saja dengan wajah polos. Teman-temannya tertawa melihat wajah polos Ify. Ify mengkerutkan keningnya sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.

“kenapa sih?” Tapi mereka tetap tertawa.

“isshh..udah pada gila semua nih temen-temen gue. Helloo…kalo kalian mau gila-gilaan jangan disini. Ini sekolah you know? Tempat orang belajar” kata Ify. Tapi mereka masih tetap tertawa.

“lagak lo udah kayak orang tua aja” kata orang yang sudah berdiri disamping tempat Ify duduk. Ify menoleh lalu menaikan alisnya. Teman-temannya masih saja tertawa, tidak menyadari kedatangan seorang siswi di meja mereka.

“siapa lo?” Tanya Ify. Siswi itu mendelik.

“what? Lo gak tau siapa gue?”

“yee..kalo gue tau lo siapa, gue gak bakalan nanya. Odong..”

“apa lo bilang odong? What’s that mean?”

“iihh sok bule lo..”

“emang gue bule kok, lo aja yang gak tau..”

“kan udah gue bilang, gue emang gak tau siapa lo..masih aja nyolot..”

“oke, kenalin gue Angelica Martha Pieters call me Angel. Anak kelas X.1”

“oh.” Siswi yang bernama Angel tadi mendelik kesal.

“heuh! Susah ngomong sama orang kayak lo. Temen-temennya aja udah pada gila. Lo jangan deket-deket sama mereka deh, nanti lo juga ikut gila loh..bla..bla..bla..” Angel terus berkicau. Ify yang mendengar Angel itu sudah sangat panas.

BRAAKK! Semua sontak menoleh. Angel pun langsung berhenti berbicara.

“Fy? lo kenapa?” Tanya Sivia lembut. Ify tidak menghiraukannya. Kemudian dia bangkit dan berdiri di depan Angel. Angel yang melihat itu hanya tersenyum meremehkan sambil melipat kedua tangannya didada.

“jangan sekali-kali lo bilang temen-temen gue gila. Kalo sampe lo ngomong kayak gitu lagi didepan gue, lo bakal tau urusannya” kata Ify dengan penekanan di setiap katanya sambil menunjuk tepat di depan wajah Angel. Para sahabatnya telah siap siaga jika terjadi apa-apa. Pertengkaran Angel dan Ify menjadi pusat perhatian kantin.

“kalo itu kenyataannya gimana? Lo masih mau nyangkal, udah jauhin aja mereka. Mereka itu udah gak tau aturan disini..lo mes…” kalimat Angel terpotong

“DIEM LO! Mereka sobat gue, dan gue punya hak buat bergaul dengan siapa aja. Emang lo siapa ngatur-ngatur gue seenak jidat lo itu? Hah? SIAPA??!!” bentak Ify dengan nafas tersengal-sengal menahan emosi. Rio, Iel dan Alvin menarik Ify menjauh dari kantin itu. Tapi Ify memberontak. Sedangkan Sivia dan Shilla menenangkan Ify.

“HEH! Gue ini anak kepsek disini. Jadi gue berhak buat ngatur siapa aja yang sekolah disini!! Lo anak baru jangan belagu deh, jangan sok jadi pahlawan ya!! Baru masuk 2 hari aja udah belagu banget!!” bentak Angel.

“jangan mentang-mentang lo anak kepsek disini, lo bisa ngatur kami semua. Sadar diri dong lo!! Semua orang segan buat berteman sama lo juga karena sikap lo itu!! Makanya, ubah sikap lo yang arogan itu, semua sikap-sikap buruk lo!! Lo masuk sini juga karena BOKAP lo kan? IYA KAN??” bentak Ify. Para sahabatnya sudah kewalahan menenangkan Ify. Angel diam.

“kenapa diem? Gak bisa jawab? Berarti bener dong, kalo lo itu…”

“DIEM LO! Lo itu…” geram Angel. Tangan kananya sudah terangkat bersiap melayang ke pipi mulus Ify.

“kenapa? Mau tampar? Silahkan..” Angel menyentakkan tangannya kasar lalu pergi dengan kesal meninggalkan. Ify tersenyum meremehkan.

“dasar PENGECUT lo!!” teriak Ify. Rio, Iel, Alvin, Sivia dan Shilla menggeret Ify menjauhi kantin. Dan pergi ke taman belakang. Ify di dudukkan ke bangku panjang disana.

“aduuhh Ifyy..lo apa-apaan sih? dia itu anak kepsek disini. Bisa-bisa dia ngadu sama bokapnya terus lo dikeluarin dari sekolah ini” kata Sivia gemas.

“iya, Fy. kalo lo dikeluarin, gimana?” sambung Shilla. Ify tertawa meremehkan.

“kalo gue dikeluarin, ya pindah lah. Gue yakin dia gak bakal ngadu sama bokapnya” jawab Ify sekenanya. Rio berjongkok didepan Ify sambil memegang kedua bahu Ify.

“lo masih aja kayak dulu. Tetep ngelawan. Tapi masalahnya, nanti lo bisa-bisa dipanggil. Kasihan sama ortu lo” kata Rio lembut.

“Rio..kan udah gue bilang, kalo gue yakin dia gak bakal ngadu sama bokapnya. Liat aja nanti..” kata Ify sambil tersenyum miring. Iel mengacak rambut Ify. Ify cemberut.

“masih kayak dulu. Keras kepala” kata Iel sambil menekankan kata ‘keras kepala.’ Ify nyengir.

“ya udah yuk. Masuk. Udah bel” ajak Alvin. Mereka masuk ke kelas masing-masing.


************************************************************************

Bel pulang sekolah telah berbunyi. Para siswa siswi berbondong-bondong keluar kelas. Ada yang langsung pulang dan mungkin ada pula yang masih ke kantin, perpus, toilet ataupun ruang guru. Seperti ke tiga gadis ini. Mereka baru saja keluar dari kelas. Dengan perbincangan hangat layaknya sahabat.

“hey! Baru keluar neng?” Tanya Iel.

“nang neng nang neng, lo kate kita oneng?” jawab Ify.

“masih kayak dulu. Bawel” kata Alvin. Ify tersenyum tipis.

“udahlah ribut mulu. Ayo sama-sama aja ke gerbang” ajak Shilla.

“let’s go..” kata Ify sambil berjalan duluan didepan. Teman-temannya hanya bisa geleng kepala. Ify melihat seorang gadis duduk ditaman belakang sekolah. Dia mengenali gadis itu. Dia berhenti.

“kenapa lagi, Fy?” Tanya Sivia. Ify terlonjak.

“hah? Gak. Mm..itu..anuu..” kata Ify terbata-bata.

‘kalo gue kasih tau mau ngelabrak Angel lagi. pasti gak bakal boleh sama mereka’ batin Ify. Semua mengerutkan keningya.

“kenapa lo?” Tanya Alvin bingung.

“ngg..gue..kebelet..iya hehe gue kebelet..kalian duluan aja pulangnya. Gue pulang sendiri, oke?” kata Ify sambil ngibrit ke arah toilet.

“ada-ada aja tuh anak. Ya udah yuk pulang” ajak Iel. Rio masih memandangi Ify yang menjauh.

“woy, Yo!”

“eh? Apaan?”

“lo mau pulang gak?” Tanya Alvin.

“iya iya..” sebenarnya Rio tau ada yang disembunyiin Ify tadi. Mereka akhirnya pulang bersama.


************************************************************************

(SMA GHS, Toilet)

Ify mengintip dari balik tembok toilet wanita. Sebenarnya dia tidak ingin buang air kecil. Dia hanya ingin menasihati Angel. Mumpung sekolahnya sudah sepi. Mungkin dia bisa merubah sifat Angel. Dia berusaha menghindar dari sahabatnya. Kalau sahabatnya tahu dia akan menemui Angel, pasti dia akan dilarang mereka semua. Ify kembali mengintip memastikan sahabatnya sudah pulang. Bagus! Mereka semua sudah pulang. Ify berlari menuju taman belakang.

(SMA GHS, Taman Belakang)

‘apa bener gue gak punya temen karena sikap gue? Apa bener gue masuk sini Cuma karena bokap gue?’ batin gadis itu. Dia merenungi kejadian tadi pagi di kantin.

“eheemm..” deheman seseorang membuyarkan lamunannya. Dia menoleh.

“ELO? Mau ngapain lagi lo? Mau ngajak ribut lagi?” katanya ketus. Orang itu tertawa remeh.

“yang ngajak ribut itukan lo sendiri. Gue kesini Cuma mau ngasih saran buat lo..” gadis bernama Angel itu mengerutkan kening bingung.

“..kalo lo mau dapet temen, buang sifat buruk lo itu. Yang arogan, egois, sombong, dan yang lain-lainnya. lo maukan punya temen? Lo maukan punya sahabat? Gue yakin kalo lo nurutin semua saran gue tadi, lo pasti bakal dapet temen dalam waktu dekat. Bersikaplah ramah, baik, sopan, jangan suka ngatur-ngatur orang. Terus, kalo lo gak mau dibilangin lo masuk di sekolah ini Cuma karena bokap lo, lo jangan sombong. Jangan bawa jabatan bokap lo ke kehidupan sehari-hari lo di sekolah ini. Mereka punya hak sendiri, punya aturan sendiri. Mereka taulah peraturan-peraturan di sekolah. Mereka pasti akan mengikuti tata tertib sekolah ini. Jadi..intinya lo jangan pernah lagi ngatur semua murid GHS buat nurutin semua perintah lo itu” jelas Ify sambil berdiri didepan Angel dengan kedua tangan dilipat didada. Angel mencerna kata-kata.

“kalo lo mau…gue mau kok jadi temen lo. Asal..semua sifat buruk lo itu, lo buang jauh-jauh dari diri lo itu” lanjut Ify. Angel mendongakkan kepalanya.

“lo..mau..jadi te..temen gue?” Ify mengangguk. Angel tersenyum senang.

“tapi ada syaratnya..” kata Ify.

“apa syaratnya?” Tanya Angel bersemangat.

“gak ada lagi semua sifat buruk lo itu. Mulai besok, gue mau lihat Angel yang ramah, Angel yang baik, dan Angel yang gak ngatur-ngatur lagi. dan satu lagi…jangan pernah lo bawa-bawa jabatan bokap lo dikehidupan sehari-hari lo disekolah ini..” kata Ify. Angel berdiri sambil tersenyum.

“pasti. Gue akan memenuhi semua syarat lo itu. Tapi lo jadi temen gue kan?” kata Angel.
Ify tersenyum lebar.

“yap!” Angel memeluk Ify senang.

“makasih, Fy. lo udah nyadarin gue. Gue makasiiihhh banget sama lo…” Ify membalas pelukannya.

“iya, Angel. Sama-sama. Gue seneng kok Bantu lo..” Angel dan Ify melepaskan pelukannya.

“liat aja besok. Besok pasti bakal ada Angel yang ramah, Angel yang baik, Angel yang gak suka ngatur-ngatur lagi.” Ify tersenyum.

“gue tunggu. Ke gerbang bareng yok..”

“let’s go..” Mereka berdua berjalan ke gerbang saling berangkulan satu sama lain.


************************************************************************


(Taman)

Sesuai perjanjian. Mereka berempat akan bermain bola di taman ini. Sambil sedikit bernostalgia bersama.

“woyy, Bro..sorry lama” sapa Ify. Hari ini dia kelihatan sangat tomboy. Rambut dikuncir asal dengan topi standar dipakainya terbalik.

“kayak gini dibilang feminim?” sindir Iel.

“hehe..udah ah. Ayo kita maiinn. Udah lama gue gak main sama kalian semua. Yaa..walaupun anggota kita kurang” kata Ify sambil tersenyum miris. Dulu Ify sangat dekat dengan Aga. Sejak kejadian dia menolong Aga yang hampir ketabrak mobil. Maka dari itu Ify atau Icha sangat dekat sekali dengan Aga. Rio menepuk pundak Ify.

“ahh..kenapa jadi mellow begini sih? ayo kita cabut main..” kata Ify. Semua hanya bisa mengikutinya.

‘Aga..Icha..kangen sama Aga..’ batin Ify disela-sela permainannya.


************************************************************************

Rumah yang elegan. Yang hanya ditempati oleh satu orang tuan rumah, dua orang pembantu, satu orang tukang kebun dan satu supir pribadi. Terasa hampa baginya. Pemuda ini sedang termenung sambil menggenggam erat gelang hijau pemberian teman kecilnya dulu. Pikirannya terus memutar kenangan-kenangan indah yang telah dia buat bersama ke empat sahabatnya dulu. Sekitar dia berumur tujuh tahun. Pemuda ini menghela nafas panjang. Tebersit sebuah tempat dimana dia bermain bersama.

“taman” gumamnya. Kemudian dia menyambar jaketnya. Dan turun kebawah untuk pergi ke tempat itu. Mungkin tempat itu bisa menemukannya dengan para sahabat kecilnya. Ya! Pikirnya yakin.


************************************************************************

“tendang, Vin..” teriak Iel sambil menjaga gawang timnya.

“GOOOLLL!!” teriak mereka berdua sambil bertos ria.

“yaahh…gol lagii..awas ya. Aku akan membalas kalian berdua hahaha..” kata Ify sambil tertawa ala setan (?)

“ayo kalo berani..” ledek Alvin sambil menjulurkan lidahnya ke Ify.

“hajar, Fy..” teriak Rio yang berdiri di depan gawang timnya. Ify menggiring bolanya kearah gawang yang sudah dijaga Iel. Hap! Dia dihadang oleh Alvin. Ify terus menipu Alvin dengan gerakan lincahnya. Ya! dia berhasil melewati Alvin. Kali ini Iel di depannya. Dia bersiap untuk menendang dan….

“GOOOLLL!!” teriak Ify dan Rio. Mereka berdua berhi-five.

“seperti dulu. Penipuan yang bagus, girl..” puji Rio. Ify nyengir.

“hehe..pasti.” Rio mengacak rambut Ify gemas.


************************************************************************

Pemuda satu ini masih terus menelusuri jalanan komplek perumahannya. Rumahnya tidak jauh dari tempat dia bermain dulu. Sampai! Dia sampai disini.

‘mmm..gak berubah sama sekali. Cuma..sepi’ batinnya. Dia merasa tenggorokannya kering. Dia putuskan untuk beristirahat sebentar di warung yang tidak jauh dari situ.

“bu..es jeruknya satu ya” kata pemuda itu. Ibu itu mengangguk.

“ini mas.” Ibu itu menyodorkan gelas yang berisi es jeruk segar. Dalam waktu singkat es jeruk itu sudah setengah gelas.

‘gila. Baru jalan segitu aja udah capek banget gue’ batinnya.

“Ibuu..biasa. empat ya bu..” panggil seorang gadis manis.

“oke neng..” jawab Ibu itu. Pemuda itu terlonjak.

“empat? Buat lo semua?” Tanyanya. Gadis itu menoleh. Seketika bayangan Icha muncul. Tidak jauh beda dengan pemuda itu, gadis ini juga berpikiran sama.

‘mirip Aga’ batin gadis itu.

“hehe..buat temen..” jawabnya.

‘matanya mirip..Icha..apa mungkin..?’ batinnya.

“temen lo dimana?” tanyanya lagi.

“tuh ditaman sana. Abis main bola. Capek banget” jawab gadis itu.

‘bola? Taman?’ batinnya lagi.

“ini neng..” kata Ibu itu.

“oke bu. Pitinya sekalian sama gelas ya, bu hehe.”

“beres, neng.”

“eh? Duluan ya. apa lo mau ikut? Biar gue kenalin sama temen-temen gue” katanya sambil membawa nampan dengan 4 gelas es teh diatasnya.

“hah? Ng..ntar aja deh..gue nyusul..” katanya. Gadis itu hanya mengangguk.

“oke. gue duluan. Bye ganteng haha kidding” katanya sambil berlalu pergi. Pemuda itu tersenyum geli.

‘mirip banget’ batinnya lagi lagi.


************************************************************************

(Taman)

“nih..minum kalian.” Ify menyodorkan nampan. Rio, Iel dan Alvin mengambil gelas satu-satu.

“lama banget sih lo. Ngapain dulu? Mojok sama bapak-bapak yang biasa nongkrong di sana?” ceplos Iel. Ify menoyor Iel.

“apaan sih? gue sama bapak-bapak itu gak level. Cuma tadi ada…” kalimat Ify menggantung. Dia menerawang kejadian tadi, saat dia melihat mata laki-laki tadi sangat mirip dengan mata Aga. Para sobatnya menunggu kelanjutan kalimat Ify.

“ada apaan?” Tanya Alvin bingung.

“hah? Itu…tadi ada..cowo. dia mirip banget sama…” kalimatnya lagi-lagi menggantung.

“sama siapa?” kali ini Rio bertanya.

“Aga..” jawabnya pelan. Rio, Iel dan Alvin terlonjak.

“yakin lo?” Tanya Iel meyakinkan.

“mmm…gak tau juga sih hehe. Cuma tadi gue nyuruh dia kesini, buat kenalan sama kalian semua. Gak tau deh dia nyusul apa enggak..” kata Ify.

“okelah. Nih..balikkin nampan, gelas plus uangnya…” kata Iel sambil menyodorkan nampan, gelas dan uang untuk membayar es teh mereka. Ify cemberut.

“gue lagi, gue lagi. untung hari ini gue lagi baik. kalo enggak, gue telen lo satu-satu..” dumel Ify. Yang lain hanya cekikikan. Ify beranjak dari situ.

“oh iya satu lagi..” teriak Iel. Ify menoleh.

“Makasih..” kata mereka serempak. Ify melongos.

“iye..” dia kembali melanjutkan langkahnya.


************************************************************************

(Warung)

“buu..nih saya balikkin nampan sama gelasnya. Terus..ini uangnya” teriak Ify. Dia menoleh ke arah kanan.

“eh? Lo masih di sini? Katanya mau nyusul..” kata Ify.

“lain kali aja. Gue juga udah mau pulang” jawab pemuda itu. Ify manggut-manggut mengerti. Pemuda yang bernama Cakka itu merogoh sakunya dan mengeluarkan uang lima ribu.

“nih bu..” katanya sambil menyodorkan uang itu.

“makasih, nak. Kesini lagi ya..” Cakka tersenyum tipis lalu beranjak dari situ. Ify masih memandangi Cakka.

“neng? Ada yang mau dibeli lagi?” panggil Ibu itu. Ify menoleh.

“eh..gak bu. Ya udah deh, Ify pulang dulu ya.” Ibu itu hanya tersenyum.

“anak muda jaman sekarang” gumam ibu itu sambil geleng-geleng.


************************************************************************

Ify masih mengikuti langkah Cakka. Dia ingin memastikan apakah dia Aga? Atau bukan? Cakka yang merasa diikuti sesekali menoleh kebelakang. Tapi tidak ada siapa-siapa. Dia melanjutkan jalannya lagi. Ify terus mengendap-ngendap. Saat Cakka menoleh, dia bersembunyi di tempat yang dekat dengannya. Cakka terus berjalan. Dia menyebrang jalan komplek itu. Tidak sadarkah dia? Bahwa ada mobil dari arah kanannya melaju kencang. Kejadian dulu membuatnya shock, mungkin hingga sekarang. Dia tidak bisa bergerak, kakinya seperti di paku. Tidak bisa digerakkan. Ify yang melihat itu terbelalak. Muncul bayangan Aga waktu dulu. Mobil itu masih terus melaju.

“AWAASSS…” Ify berlari kencang kearah Cakka dan mendorongnya ke pinggir jalan.

‘BRUUKK..’ Sama seperti dulu. Cakka diam mematung. Ify teringat pada kejadian dulu. Saat dia menolong Aga. Persis seperti saat ini.

“lo gak papa?” Tanya Ify. Cakka menoleh. Bayangan Icha kembali muncul.

“hey..” Ify melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Cakka.

“makasih..” Ify mengangguk sambil tersenyum.

“sama-sama..” Mereka masih terduduk di pinggir jalan itu. Bergelayut dengan pikiran masing-masing.

“Aga..Icha kangen” lirih Ify. Cakka yang mendengar itu terlonjak kaget lalu menoleh.

“Icha?” Tanya Cakka. Ify menoleh.

“kenapa?” Tanya Ify. Cakka tidak merespon. Masih menatap Ify tidak percaya. Cakka langsung memeluk Ify erat. Ify yang tidak tahu apa-apa hanya mengerutkan keningnya.

“Icha ini…Aga..” kata Cakka dalam pelukannya. Ify terbelalak.

“Aga kangen sama Icha. Icha jangan pergi lagi..” Kali ini Ify membalas pelukan Cakka.

“Aga…Icha janji, gak akan pergi lagi.” Ify dan Cakka tersenyum bahagia.

“Cakka?”

“Ify?” Mereka berdua menoleh dan melepaskan pelukannya. Mendapati ke tiga temannya telah berdiri di depan mereka.

“lo beneran Cakka?” Tanya Iel memastikan. Cakka mengangguk.

“Agaa…kita kangen sama lo..” kata Iel histeris sambil memeluk Cakka. Cakka melepaskan pelukannya.

“bro..kok lo gak ngomong-ngomong kalo mau pulang..” kata Rio.

“hehe…gue ganti nomor. Nomor kalian kehapus semua..” jawab Cakka. Mereka hanya manggut-manggut.

“impian lo sekarang ke wujud kan?” Tanya Alvin sambil melirik Ify. Cakka merangkul Ify.

“yap! Hehe…kali ini gue gak bakal lagi buat nyuruh lo pindah. Gue kesiksa tau gak. Kerjaannya mikirin lo terus. Sampe-sampe gue pindah ke Singapore.” Ify tertawa.

“segitunya? Mmm..emang sih orang cantik itu ngangenin..hehe.”

“wooo…” Cakka mengacak rambut Ify. Ify tersenyum lebar.

“ke taman yok..” ajak Rio.

“ayoo..” mereka saling berangkulan satu sama lain. Alvin-Rio-Ify-Cakka-Iel. Senyuman itu kembali. Persahabatan itu kembali. Setelah telah lama mereka terpisah akhirnya,  mereka kembali bersatu. Saling mengisi satu sama lain. Bertukar pikiran. Saling terbuka. Tidak akan ada lagi yang bisa memisahkan mereka. Waktu yang akan menjawab semuanya.
Sahabat, mereka saling mengerti.
Sahabat, mereka saling menyayangi.
Sahabat, mereka sebagai penopang disaat kita jatuh.
Dan Sahabat, sangat berarti dalam hidup kita.

“SAHABAT SELAMANYA….” Teriak mereka bersama. Tertawa, bermain akan mereka jalani bersama, lagi…


-kawan, Aku tidak mungkin ada jika Kau tak ada. Karenamu Aku berarti, karenamu juga Aku punya alasan untuk terus menatap masa depan, tanpamu Aku kosong. Karena memang hanya sahabat yang menjadikan Aku manusia bermakna-




===THE END===

You May Also Like

0 komentar