Friendship or Love -C-

>>>>>Friendship or Love<<<<<


(Kamar Ify)

Rio merebahkan tubuh Ify di kasurnya.

‘lo kenapa sih, Fy? lo udah bikin gue khawatir tau gak?’ batinnya.

“Yo..nih. airnya..” Cakka menyerahkan baskom berisi air dan handuk kecil yang diambil dari Deva tadi. Rio mengambilnya dan segera mencelupkan handuk kecil itu kedalam air kemudian memerasnya dan diletakkan di kening Ify.

“gue udah nyangka..” kata Cakka tiba-tiba. Rio menoleh dan menatap Cakka bertanya.

“iya..dari tadi pagi kelakuan Ify aneh. Badan lemes, terus mukanya pucet, yang biasanya ngomel mulu ini malah jadi pendiem. Gue udah nebak-nebak kalo dia pasti sakit..” jelas Cakka sambil memperhatikan Ify yang tengah tak sadarkan diri. Rio mengalihkan pandangannya kembali ke Ify. Hening. Tidak satupun berbicara. Masing-masing masih sibuk dengan pikirannya. Tak lama dari itu..

“aww..” ringis Ify yang telah sadar. Rio dan Cakka langsung mendekat.

“Fy..” panggil Rio.

“kok gue bisa disini? Kalian berdua ngapain?” tanyanya lemah.

“lo kenapa? Bisa kayak gitu?” Tanya Cakka yang menghiraukan pertanyaan Ify tadi.

“gue Cuma gak enak badan aja kok.”

“gak enak badan? Gak enak badan gimana? Badan lo panas banget, Fy..” kata Rio. Ify tersenyum.

“lo pulang naik apa tadi?” Tanya Cakka lagi.

“hehe..jalan kaki..” Rio dan Cakka cengo.

“jalan kaki? Lo kan tau lo lagi sakit, kenapa jalan kaki? Mana di luar panas lagi. pantesan pulang-pulang langsung tumbang gitu..” kata Rio.

“abis mobil mogok, terus taksi gak ada yang lewat, ya udah gue jalan kaki aja daripada gak pulang hehe..” Rio dan Cakka menggeleng-gelengkan kepalanya.

“lo kan bisa nelfon kita, Fy..” kata Cakka lembut. Rio mengangguk setuju.

“gue gak mau ngerepotin kalian. Udahlah gak usah dibahas udah terlanjur. Lo berdua udah makan belom?” mereka berdua menggeleng kompak. Ify beranjak dari tempat tidurnya.

“ya udah gue masak dulu ya..”

“lo masih sakit, Fy. kita gak papa kok. Iya kan, Cak..” Cakka mengangguk.

“iihh..udah gak papa. gue udah sehat. Kalian tunggu ya. gue masak dulu..” kata Ify sambil berlalu.

“bandelnya kok ningkat ya?” gumam Cakka. Rio menoyor Cakka.

“lo kira apaan pake ningkat-ningkat segala..” Cakka mengeluarkan cengirannya.

“abiss..dia dulu walaupun bandel gak sebandel sekarang deh..” kata Cakka. Rio melongos dan keluar kamar Ify.

“ehh..Yo..mau kemana?” Cakka berlari menyusul Rio keluar.



>>>>>Friendship or Love<<<<<


Hari ini Ify tidak masuk sekolah karena badannya masih panas. Sebenarnya pagi tadi dia sudah memohon-mohon kepada mamanya. Tapi mamanya tetap tidak mengizinkan dia sekolah. Bukan Ify namanya kalo menyerah. Dia mengeluarkan alasan-alasan agar dia diperbolehkan sekolah. Tapi mamanya tetap tidak mengizinkan dia sekolah. Akhirnya Ify pun mengalah. Dia masih bersungut-sungut didalam kamarnya. Masih memasang wajah yang tidak enak dipandang (?)

“iihh..gue bosen disini. Gue mau sekolah. Ketemu temen-temen. Belajar bareng. Ke kantin bareng. Gue kan udah sehat…” Dia memeriksa keningnya.

“hehe…ternyata masih panas. Argghh! Gue gak peduli. Gue bosen disini!” sungutnya lagi. dia masih terus berfikir untuk menghilangkan rasa bosan itu.

“gue tau! Hehe…” Ify mengambil jaket birunya, kemudian mengambil bola basket kesayangannya. Membuka pintu perlahan. Mengendap-ngendap seperti seorang maling. Sampai bawah tangga dia celingukan memerhatikan keadaan sekitar. Aman! Pikirnya. Baru beberapa langkah dia menuju pintu, terdengar suara..

“non..mau kemana?” Ify menoleh.

“eh, bibi. Bi, mama mana?” tanyanya.

“nyonya udah pergi kerja tadi..” Ify tersenyum lega.

“oke kalo gitu. Bi, Ify mau main dulu ya. kalo misalnya mama pulang ataupun nelfon nanyain Ify. Bilang aja, Ifynya lagi tidur oke?”

“tapi Bibi gak berani, Non.”

“Ck! Udah, Bi. Gak papa. biar Ify yang tanggung nanti.” Bibi berfikir sebentar.

“mm..oke deh, Non.” Ify tersenyum lebar.

“naahh..bagus. Ify keluar dulu ya..” Ify berjalan riang keluar rumah menuju lapangan basket di kompleknya.


>>>>>Friendship or Love

Seorang gadis tomboy mendribel bolanya dan kemudian dia siap mengshoot bola ke arah ring di area three point. Masuk!

‘prok..prok..prok..’ terdengar tepuk tangan seseorang. Gadis tomboy itu menoleh lalu mengerutkan keningnya.

“permainan lo bagus. Tapi sayang, lo main terlalu emosi” komentar orang tadi.

“siapa lo?” Tanya gadis tomboy itu. Orang itu tersenyum ramah. Lalu mengulurkan tangannya.

“kenalin nama gue Alyssa Saufika Umari lo bisa panggil gue Ify..” gadis tadi menerima uluran tangan Ify. Sedikit terkejut saat menyentuh tangan Ify yang panas. Namun, dia berusaha bersikap santai.

“gue Agni Tri Nubuwati, Agni..” Ify mendrible bola basketnya, berlari kecil menuju ring, tepat di area three point dia berhenti tapi tangannya masih tetap memantulkan bola bundar oranye itu. Agni mengamati gerak-gerik gadis itu. Tidak percaya apa yang dilihatnya. Dia melihat Ify memasukkan bolanya dengan…sempurna! Ify kembali mendrible bolanya namun kali ini mendekati Agni. Ify tersenyum lebar, senyuman cirri khasnya.

“lo pasti lagi ada masalah..” Agni menaikkan alisnya. Dia benar pikirnya.

“mm…pasti masalah cowo kan?” Skak mat! Tepat sekali!

‘kok tahu?’ batin Agni.

“gue tahu dari permainan lo yang emosi itu. Kalo lo mau curhat, lo bisa curhat sama gue. Mungkin gue bisa kasih solusi.” Agni masih diam.

“duduk sana aja yuk..” Ify menunjuk dibawah pohon besar. Terasa sejuk untuk duduk disana. Agni hanya menurut. Tidak tahu kenapa dia bisa menuruti gadis satu ini. Mereka duduk sambil bersandar di batang pohon yang cukup lebar itu.

“kenapa?” Tanya Ify lagi. Agni menghela nafas sejenak.

“lo bener. Ini masalah cowo gue. Atau lebih tepatnya mantan gue..” Ify mengerutkan kening. Dia tidak berkomentar masih tetap setia mendengar.

“…dua jam yang lalu, gue mutusin dia. Padahal kita baru jalan dua minggu..” Ify terbelalak.

“…gue bingung sama jalan pikirannya. Dia minta gue buat ngertiin dia, oke..gue turutin. Terus dia juga minta gue buat merhatiin dia, fine..masih gue turutin. Dia deket-deket sama cewe lain, gue masih bisa tahan emosi gue, padahal hati gue…panas banget. Sedangkan dia…liat gue deket-deket sama cowo lain itupun Cuma sekedar buat kerja kelompok, eh..dia malah marah-marah. Ck! Kesel gue sama dia. Kesabaran gue abis. Maka dari itu hari ini gue ngajak ketemuan sama dia. Dan tepat dua jam lalu…gue mutusin dia. Gue nyesel bisa suka sama cowo kayak gitu. Apaan coba? Bisa-bisanya gue suka sama dia” jelas Agni panjang lebar.

“terus gimana reaksinya pas lo mutusin dia?” Tanya Ify.

“biasa aja. Dia bilang gini ‘oke kalo itu mau lo’ arrgghh! Cowo sialan.” Ify tersenyum lalu menepuk pundak Agni.

“lo yang sabar, Ag. Gue tau gimana perasaan lo saat ini. Kita sama-sama cewe. Tapi…lo jangan bawa-bawa emosi lo ke kehidupan lo itu. Itu bisa berpengaruh ke orang-orang sekitar lo. Kalo lo mau, lo bisa berbagi dan curhat sama gue, keluarga lo dan temen-temen lo. Mungkin gue ataupun mereka bisa kasih solusi yang bagus. Kalo lo lagi ada masalah, hadapi aja masalah itu dengan sabar dan senyuman. Kalo juga lo gak bisa ngadepin masalah itu sendirian, jangan sungkan-sungkan buat minta bantuan orang lain termasuk gue. Masalah jangan dipendem, Ag. Bisa-bisa masalah itu tambah rumit buat lo selesaiin. Oke?” Agni mencerna kata-kata Ify. Kemudian dia tersenyum dan mengangguk.

“thank’s Fy. lo udah bikin gue lega. Kapan-kapan gue bisa dong curhat lagi sama lo..” Ify tersenyum lebar.

“gue selalu siap sedia hehe…” Agni ikut tersenyum.

“oh iya, lo sekolah di mana?” Tanya Ify.

“gue sekolah dia Kaswa High School. Kalo lo?”

“gue di Gamca.”

“sebenernya lusa gue pindah sekolah..” Ify menoleh. Terpancar raut sedih di wajah Ify.

“jadi lo juga pindah keluar kota..” Agni tersenyum.

“pindah sekolah gak seharusnya harus pindah rumah juga kan. Gue masih netep di komplek ini kok. Gue bakal pindah ke SMA Gamca High School..” Ify tersenyum senang. Temannya bertambah satu saat ini.

“beneran?..” Agni mengangguk.

“yeee…temen gue bertambah satu hehe. Nanti gue kenalin deh ke sobat-sobat gue. Lo bisa gabung sama kita. Jadi lo gak susah-susah lagi buat nyari temen haha..” Mereka tertawa bersama. Bercanda bersama. Sejenak Agni melupakan masalahnya berkat gadis disampingnya ini yang selalu menghibur dirinya dengan tingkah konyol yang telah diperbuat gadis itu.

“eh, Ag. Gue pulang dulu ya udah sore. Nanti nyokap gue marah-marah, soalnya gue kabur dari rumah hehe..”

“hah? Kabur?”

“iya. Gue bosen dirumah sendirian. Mana gue gak sekolah hari ini..”

“gak sekolah? Maksud lo?”

“hehe gue sakit, demam..” Agni terbelalak.

“pantes aja waktu gue pegang tangan lo tadi panas banget. Lo mau gue anterin? Gue bawa motor tuh. Muka lo juga pucet.”

“gak usah, Ag. Rumah gue deket kok. Udah ya..gue duluan. Bye Agnii..sampai ketemu di sekolah gue nanti hehe..” Ify berlari kecil menuju rumahnya dengan tangan kanannya yang masih mengapit bola basket kesayangannya. Agni hanya tersenyum melihat tingkah gadis itu. Kemudian dia juga bergegas untuk pulang.



>>>>>Friendship or Love<<<<<


‘Ceklekk!’

Dia mengendap-ngendap memasuki rumahnya. Takut jika ketahuan sang mama.

“ehemm..” Dia panik. Keringat dingin bercucuran. Dia menghela nafas sejenak. Dia menoleh ke arah sumber suara dengan mata tertutup.

“ngapain lo nutup mata lo gitu? Masuk rumah pake ngendap-ngendap lagi. kayak maling aja..” hah? Dia mengenali suara ini. Seperti suara..RIO. dia membuka matanya perlahan. Terbelalak kaget mendapati teman-temannya yang sudah duduk manis diruang tamu.

“kok kalian ada disini?” tanyanya. Iel melangkah mendekatinya. Lalu menjewer telinga Ify.

“aduuhhh sakit, dodol. Kayak emak gue aja lo..” Iel melepaskan jewerannya. Ify mengelus-ngelus telinganya dengan wajah cemberut.

“lo tuh bandel banget jadi anak. Udah tau sakit, malah pergi main basket.” Ify mengeluarkan cengirannya.

“hehe..bosen dirumah. Gak ada siapa-siapa. Ya udah gue pergi ke lapangan. Ternyata ada hikmahnya juga gue main basket tadi haha..” Semua menatap Ify heran. Hikmah?

“hikmah dari hongkong. Yang ada lo tambah sakit, Ipoonng..” gemas Alvin.

“yee…apaan sih, Apin. Gue udah sehat kok nih liat aja udah segar dan bugar hehe…” Iel memeriksa kening Ify. Kemudian menoyor Ify.

“aduuhh…lo dari tadi nyiksa gue mulu, Yel. Jangan deket-deket gue lagi deh, takut gue jadinya..” Ify sedikit menjauh dari Iel.

“sehat darimana coba? Badan masih panas gitu.” Ify cengengesan. Dia mengalihkan pandangannya ke arah dua orang cewe rambut panjang. Keringat dingin bercucuran. Wajahnya menjadi pucat. Badannya semakin gemetar. Dia bersembunyi di balik tubuh Iel. Semua menatap heran.

“lo kenapa sih?” Tanya Iel sambil menengok kebelakang tubuhnya. Ify menunjuk ke arah dua cewe itu.

“i..i..itu..ada..se..se..setan, Yel. Gue takut..” Iel melihat ke arah yang ditujukan.

“kita maksud lo, Fy?” Tanya mereka berdua kompak.

“huwaaaa…setannya manggil nama guee…kok mereka tau nama gue siapa? Terkenal banget sih gue. Sampe kalangan setan pun tau. Tapi gue gak sudiii….huwaaaa…mamaaa…” teriak Ify yang masih bersembunyi. Mereka semua menutup telinga masing-masing.

“buseett suara lo, Fy. melebihi toa masjid. Beneran deh, sumpah..” dumel Cakka.

“ahelah, Fy..Fy. itu bukan setan. Itu Via sama Shilla..” kata Iel. Ify melihat dari balik badan Iel.

“beneran?” tanyanya ragu.

“suer.” Ify keluar dengan nafas lega.

“kirain setan.”

“gilaa tangan lo sampe dingin kayak gini..?” kata Iel yang memegang pergelangan tangan kiri Ify.

“hehe..gue kan takut. Nonton film yuk..”

“boleh. Film apa?” Tanya Sivia semangat.

“mmm…kalo…horror gimana?”

“hah? Horror?” Tanya Shilla. Ify mengangguk semangat. Iel kali ini mencubit pipi Ify.

“aduuuhh…beneran deh gue mesti jauh-jauh dari lo, Yel. Bisa abis badan gue kalo kayak gini..”

“katanya lo takut tadi. Ngeliat Via sama Shilla aja udah keringet dingin kayak gitu. Apalagi nonton film horror, bisa mati kejang lo” tutur Iel. Cakka tertawa terbahak-bahak. Ify yang melihat itu langsung cemberut kemudian melempar bola basket yang sedari tadi dipegangnya ke arah Cakka.

‘BUGG..’ semua tertawa.

“aduuhh..gila lo, Fy. nanti muka gue yang ganteng ini rusak gimana?” Ify memeletkan lidahnya.

“bodo..lo sih ketawa gak kira-kira. Gue sumpel pake bola basket, nyaho lo. Gue ke kamar dulu..” Ify berlari menuju kamarnya. Cakka masih sibuk dengan jidatnya.

“hahahaha…sukurin lo, Cak. Main-main sama Ify, abis lo di satenya.” Semua tertawa, Cakka manyun.



>>>>>Friendship or Love


Tidak terasa 1 bulan telah berlalu. Agni kini telah menjadi salah satu murid GHS dan terlebih lagi telah menjadi salah satu sahabat dari Ify. Sahabat Ify telah bertambah menjadi delapan orang. Siviel dan Alshill kini telah menjalin hubungan. Mereka menjadi pasangan yang romantis. Tapi bagaimana dengan Cakka, Rio, Ify dan Agni? Yang kini tengah menjomblo. Single. Rupanya Cakka dan Rio masih memendam rasa itu dari Ify. Rio semakin lama semakin perhatian kepada Ify. Mereka semakin dekat. Cakka hanya bisa menahan cemburu. Tapi dia tidak akan merebut kebahagiaan itu dari sahabat tercintanya. Ify pun merasakan yang sama. Setiap kali dia dekat dengan Rio, jantungnya selalu berdegup kencang, darahnya mengalir deras. Dia selalu bertanya-tanya. Apakah dia sudah jatuh cinta terhadap pemuda manis itu? Pemuda itu telah merebut mahkota hati Ify. Dia selalu berharap akan selalu bersama dengannya. Tapi keraguan itu selalu muncul setiap Ify berharap. Keraguan jika laki-laki itu tidak mencintai dirinya. Keraguan jika laki-laki itu hanya menganggap dirinya hanya sebatas sahabat, tidak lebih.

Hari ini Cakka menunggu seseorang di depan kelas X.4. Sendiri. Iel dan Alvin telah pulang duluan dengan pujaan hati masing-masing. Rio pergi sebentar ke perpustakaan. Muncul sosok perempuan dari pintu kelas X.4. Perempuan itu agak sedikit bingung mendapati Cakka sedang berdiri bersandar di pintu kelasnya. Jantungnya berdegup kencang saat mengamatinya lekat. Dia sudah menyimpan rasa terhadap Cakka sejak masuk sekolah ini. Dia memberanikan diri untuk menyapanya.

“Cakka?” Pemuda itu menoleh.

“eh lo, Ag” kata Cakka sambil tersenyum. Agni terdiam terpaku. Jantungnya berdetak semakin cepat. Darahnya mengalir semakin deras.

“Ag?” Cakka mengibaskan tangannya di depan wajah Agni. Agni tersadar.

“eh..apaan, Cak?” Cakka tersenyum tipis.

“Ify ada?” Hati Agni mencelos.

‘heuh! Kirain kenapa? Nyari Ify..’ batinnya.

“ada kok. Lagi nyalin catetan. Biasalah, lo tau sendiri kan Ify gimana? Lelet.”

“eheemm…” Agni menoleh kearah belakangnya kemudian mengeluarkan cengirannya. Sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.

“hehe…Ify. Gue duluan ya. duluan, Cak.” Agni langsung kabur takut kena amukan Ify. Bukan hanya itu, dia juga takut air matanya keluar jika melihat dua insan itu begitu dekat. Ify hanya geleng-geleng kepala sambil memperhatikan Agni yang telah menjauh. Lalu dia alihkan pandangannya ke Cakka.

“ngapain, Cak?” Cakka terlihat kikuk.

“mm..lo ada waktu gak sekarang?” Ify mengerutkan keningnya kemudian menggeleng.

“gak ada. Emang kenapa?” Cakka tambah gugup.

“mmm..hehe..ikut gue bentar yuk. Bentaran doang kok..” Ify mengangguk dan tersenyum. Saat ingin berjalan Ify menahan.

“tunggu..kita mau kemana?” Cakka menoleh.

“mau ke café favorit gue..” Mata Ify langsung berbinar. Gimana tidak, sejak tadi cacing-cacing diperutnya sudah demo untuk dikasih makan.

“ayoo..gue udah laper nih hehe…” Cakka tertawa geli melihatnya. Ify reflek menarik tangan Cakka. Sedangkan Cakka hanya diam. Seketika wajahnya memanas, jantungnya berdegup kencang. Mereka terus melangkah ke arah parkiran. Dari kejauhan seseorang menatap miris mereka berdua. Hatinya panas. Dia berfikir untuk mengikuti mereka berdua.


>>>>>Friendship or Love<<<<<


Rio baru saja keluar dari perpustakaan. Dia melangkah cepat menuju kelas X.4. Mungkin saja gadis itu masih berada disana. Langkahnya terhenti saat melihat pemandangan yang membuat hatinya panas. Dia masih terus mengamati mereka berdua. Perbincangan mereka terdengar jelas. Karena disini sangat sepi. Mungkin hanya mereka bertiga sekarang dikoridor sekolah ini.

“ngapain, Cak?”.

“mm..lo ada waktu gak sekarang?”

“gak ada. Emang kenapa?”

“mmm..hehe..ikut gue bentar yuk. Bentaran doang kok..” Ify mengangguk dan tersenyum. Saat ingin berjalan Ify menahan.

“tunggu..kita mau kemana?” Cakka menoleh.

“mau ke café favorit gue..” Mata Ify langsung berbinar.

“ayoo..gue udah laper nih hehe…” Ify menarik tangan Cakka. Hati Rio semakin panas melihat Ify menarik tangan Cakka. Walaupun itu reflek, tapi rasa cemburu itu sudah bersarang dihatinya sekarang. Dia memutuskan untuk mengikuti mereka berdua.



>>>>>Friendship or Love<<<<<


Ify turun dari motor ninja putih Cakka. Matanya tertuju ke atas, tepatnya ke arah nama café itu.

“Cassa’s café” gumamnya. Cakka sudah berdiri disamping Ify lalu menoleh kearahnya.

“ayo. Tunggu apalagi? Katanya laper. Disini makanannya enak-enak loh..” Mata Ify kembali berbinar.

“ayooo..” lagi lagi dia menarik tangan Cakka. Cakka tersenyum kecil. Mereka memilih meja yang sedikit kearah jendela, dimana bisa melihat pemandangan bukit di belakang café. Mereka memesan makanan dan minum. Waitress datang memberi makanan dan minum ke meja mereka. Hening. Hanya terdengar kasak-kusuk di dalam café ini. Cukup ramai. Setelah selesai makan, Cakka kembali meneguhkan hatinya untuk semua ini. Dia menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dia memecahkan keheningan diantara mereka berdua.

“Fy..” Ify menoleh. Cakka menatapnya dalam. Kemudian dia meraih tangan Ify dan mengeggamnya. Ify kaget melihatnya.

“gue sayang sama lo..” tutur Cakka lancar. Ify masih dengan wajah kagetnya. Beberapa menit kemudian dia tersenyum.

“tapi rasa sayang ini beda. Rasa sayang gue ke elo, bukan rasa sayang ke sahabat ataupun saudara. Maksud gue..rasa sayang ini lebih dari itu..” Ify tercengang. Sangat sangat kaget ketika mendengar penuturan seorang Cakka Kawekas Nuraga sobatnya dari kecil yang telah dianggapnya sebagai kakaknya sendiri itu mengungkapkan perasaannya ke Ify.



>>>>>Friendship or Love<<<<<


Tidak jauh dari meja mereka –Cakka dan Ify- Rio masih memasang telinganya. Mendengar semua perbincangan serius mereka berdua.

“gue sayang sama lo..”

“tapi rasa sayang ini beda. Rasa sayang gue ke elo, bukan rasa sayang ke sahabat ataupun saudara. Maksud gue..rasa sayang ini lebih dari itu..” Rio mematung. Sahabatnya memiliki perasaan yang sama seperti dirinya sendiri yang tengah memendam perasaan terhadap seorang perempuan manis itu. Rio semakin menajamkan pendengarannya.

“gue juga sayang sama lo..” Mendadak tubuhnya lemas. Tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia berharap bahwa dia tadi salah mendengar atau dia berharap bahwa Ify tadi salah berbicara. Namun sayang..semuanya benar. Dan pada akhirnya dia memutuskan untuk pulang. Dengan langkah gontai dia keluar café setelah membayar minumnya terlebih dulu. Dia memacu motornya cepat. Meluapkan segala emosinya saat ini.


>>>To Be Continued<<<

You May Also Like

0 komentar