Sahabat Selamanya (Cerpen Bag. B)

Keesokan harinya, Ify sudah siap dengan seragam SMA barunya. Dengan segera dia menghabiskan sarapannya dan langsung ke sekolah bersama papanya.

(SMA Gamca High School, Ruang Kepsek)

“baiklah, Pak. Saya akan mengantarkan Alyssa ke kelas barunya” kata kepsek.

“terima kasih, Pak. Ify..papa pulang dulu ya. Belajar yang rajin. Jangan ngecewain papa sama mama..” kata Papa Ify. Ify hanya mengangguk sambil tersnyum.

“permisi Pak” kata Papa Ify.

“iya silahkan.” Papa Ify keluar dari ruangan.

“ayo, Nak. Kita ke kelasmu” ajak kepsek itu. Ify menurut dan mengikuti Pak kepsek dari belakang.


(SMA GHS, X.4)

Suasana dikelas ini riuh. Ada yang sedang mengobrol, menulis, membaca, tidur intinya kelas ini seperti pasar.

“eheemmm” deheman keras membuat anak-anak kembali ke tempat duduk masing-masing.

“hari ini kelas kalian bertambah satu murid. Silahkan masuk dan perkenalkan diri kamu” tegas Pak Kepsek. Ify memasuki kelas barunya.

“hai semua. Perkenalkan nama saya Alyssa Saufika Umari tapi kalian bisa panggil saya Ify. Saya pindahan dari Bandung. Mohon bantuannya. Terima Kasih” kata Ify sambil tersenyum ramah.

“silahkan kamu duduk disana.” Pak kepsek menunjuk satu kursi kosong yang disebelahnya terdapat seorang gadis cantik berambut panjang.

“baik, Pak.” Ify menuju kursi itu.

“bapak permisi.” Pak kepsek keluar kelas X.4. suasana pasar kembali terjadi.

“haii..nama gue, Shilla” kata gadis itu sambil mengulurkan tangannya.

“gue Ify” kata Ify sambil membalas uluran tangannya.

“Gue Sivia tapi panggil Via aja..” kata gadis didepan meja ShilFy.

“gue Ify..” Ify tersenyum manis.

“eh..kantin yok..” ajak Shilla.

“hah? Bukannya masih pelajaran?” Tanya Ify.

“gurunya lagi gak ada. Ayo..kalo udah istirahat, kantin penuh” ajak Shilla lagi sambil menarik tangan Ify.

“eh..tunggu guee…” teriak Sivia sambil berlari menyusul Shilla dan Ify yang sudah berada di luar kelas.


(SMA GHS, Kantin)

“duduk sana yok..” ajak Sivia sambil menunjuk sebuah meja yang berisikan 3 orang cowo.

“yeee..itu sih mau lo, liatin Iel mulu.” Shilla menoyor kepala Sivia.

“hehe..udah ah..ayoo..” Kali ini Sivia menarik tangan Ify sambil melangkah menuju meja itu. Shilla mengikuti mereka dari belakang.

“haaii..boleh gabung?” Tanya Sivia. Sontak tiga pemuda itu menoleh.

“boleh. Duduk aja” respon seorang cowo hitam manis. Mereka bertiga mengerutkan kening saat melihat seorang perempuan disamping Sivia.

“siapa Vi?” Tanya cowo hitam manis tadi.

“oh iya, kenalin murid baru namanya Ify.” Ify mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Mereka membalas satu persatu.

“Alvin..”

“Gabriel tapi panggil Iel aja..”

“Rio..”

“Ify..” Dia mengeluarkan senyum manisnya.

‘senyum itu mirip…Icha..’ batin mereka kompak.

“mau pesen apa, Fy?” Tanya Sivia.

“jus jeruk aja deh.”

“lo Shil?” Tanya Sivia lagi.

“sama kayak Ify.”

“oke..tunggu ya.” Sivia melangkah menuju penjual kantin.

‘kok gue ngerasa familiar banget ya sama mereka bertiga. Gue jadi ke inget sobat-sobat kecil gue. Guys..kalian dimana? Gue harus cari kalian dimana? Heuh! Gue kangeeenn..banget sama kalian berempat’ batin Ify.

“IFYYY…” teriak Shilla. Ify terlonjak

“aduuhh…apaan sih, Shil? Ngagetin aja” kata Ify sambil mengelus-ngelus telinganya.

“hehe..abis lo gue panggilin gak nyaut-nyaut. Kenapa lo?” Ify menggeleng sambil tersenyum.

“gak. Gak papa kok.”

“heeii..nih” kata Sivia sambil mengasih jus jeruk ke Ify dan Shilla. Sivia mengalihkan pandangan ke tiga orang cowo di depannya.

“WOY! Pada ngelamun aja.” Sontak Rio, Iel dan Alvin kaget.

“apaan sih, Vi? Ngagetin aja. Kalo gue jantungan gimana?” kata Iel sambil mengelus dadanya.

“mati dong” jawab Sivia sekenanya. Mereka semua tertawa, Iel cemberut.

‘tawa itu mirip…Icha..’ batin Alvin.

‘kok mereka mirip banget sama sahabat gue? Arrgghhh! Tuhan Bantu hamba…’ batin Ify. Ify menghela nafas berat.

“kenapa Fy?” Tanya Sivia.

“hah? Gue kenapa? Perasaan banyak banget yang nanyain gue kenapa. Gue gak papa kok. Beneran deh. Suerr..” kata Ify sambil meng ‘V’ jarinya. Sivia mengangguk.

“eh..kalian udah ketemu sama sobat kecil kalian itu?” Tanya Shilla pada Iel, Rio dan Alvin.

“belum. Kami udah nyari kemana-mana. Tapi…masih belum ketemu. Heuh!” jawab Alvin.

“sabar aja. Pasti kalian ketemu sama mereka. Siapa..tuh..namanya..aduuhh..I..I..” kata Sivia mengingat-ngingat.

“Icha…” jawab Iel. Ify yang sedang minum jus jeruknya tersedak.

“uhukk..uhukk..uhukk..”

“aduuhh…kalo minum pelan-pelan dong, Fy” kata Sivia sambil mengurut punggung Ify.

“nih.” Rio menyodorkan tissue pada Ify. Ify mengambilnya.

“makasih.” Ify tersenyum.

‘Icha? Apa mereka…? Ah! Gak mungkin! Gak! Nama Icha pasti banyak. Bukan Cuma gue doang. Iya..’ batin Ify.

“eh..kita duluan ke kelas ya. Yok Fy, Shil.. Bye semua..” pamit Sivia.

“duluan ya..” pamit Shilla.

“permisi..” pamit Ify sambil tersenyum khas. Semua mengangguk menandakan ‘iya’

“eh..kok gue ngerasa. Si Ify itu mukanya familiar banget ya?” kata Iel.

“gue ngerasa tawanya juga gue kenal..” kata Alvin.

“senyumnya mirip banget sama…” kata Rio.

“Icha” kata mereka serempak.

“ah! Gue gak yakin. Kalo dia Icha, gak ada gelang persahabatan kita. Dia gak pake gelang tadi gue liat. Mungkin karena kita terlalu kangen sama Icha kali ya..” kata Alvin.

“iya lo bener, Vin. Heuh! Udah lama gue gak ketemu sama dia. Gue udah nganggep dia adek gue sendiri” sambung Iel.

“gimana kabar Cakka ya. Katanya dia mau balik bulan ini. Tapi belum ada kabar” kata Rio. Hening. Semua masih dengan pikiran masing-masing.

“gimana kalo sore ini, kita ke taman biasa” usul Iel.

“boleh” setuju Rio dan Alvin serempak.


************************************************************************

(Kamar Ify)

Gadis ini sedang termenung di balkon kamarnya. Ditemani foto-foto masa kecilnya dulu bersama sobat kecilnya. Dia menghela nafas berat. Kemudian mengelus permukaan fotonya.

“gue kangen sama kalian..kangeeenn banget. Gimana kabar kalian semua? Pasti baik dong. Hehe..apa kalian masih inget sama gue..” pandangannya beralih ke gelang putihnya yang tengah digenggamnya.

“Adit, Aga, Stev, Nathan..Icha disini. Icha disini kangen sama kalian semua. Adit yang dewasa, yang selalu nenangin Icha kalo sedih. Aga yang lucu, yang selalu buat Icha ketawa. Stev yang udah Icha anggep sebagai kakak Icha sendiri. Dan..Nathan..yang pengertian, yang selalu ngertiin Icha sewaktu Icha sedang susah. Kalian masih inget kan sama Icha? Icha kangen kalian semuaa..” lirihnya sambil menggenggam erat gelang putihnya dan memeluk fotonya. Butiran bening sudah menetes perlahan di pipi tirusnya, tapi dengan sigap dia hapus. Sebersit kenangan masa kecilnya dulu terputar di otaknya. Saat bermain bersama, tertawa bersama, dan masih banyak lagi.

‘TAMAN’ satu kata itu muncul di otaknya. Dia bergegas meletakkan kembali album fotonya di meja belajar. Kemudian mengambil jaket birunya dan memakai gelang putihnya. Kemudian dia keluar kamarnya mungkin lebih tepat akan keluar rumah.


************************************************************************

(Taman)

‘masih seperti dulu’ pikir gadis manis ini. Dia menghirup udara sejuk. Kemudian pikirannya bernostalgia di taman ini. Taman yang menyimpan sejuta kenangan bersama para sahabat kecilnya dulu. Dimana ada suka dan duka yang mereka jalani bersama. Memang masih seperti dulu, hanya saja taman ini begitu sepi. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman. Ya siapa tahu masih ada satu atau dua orang yang berkunjung di taman ini. Tapi dugaannya salah, tidak ada satu pun orang disini. Teringat kata-kata Stev dulu.

“coba kamu teriak disini. Katakan apa yang mau kamu katakan. Pasti kamu tidak akan lagi sedih. Ayo coba..”

Ify menarik nafas dalam-dalam lalu dia berteriak..

“GUEE KANGEENN SAMA KALIAANNN SEMUAAA….ICHAAA KANGENN SAMA KALIAANN SEMUAAA…”

“ADIITT, AGAAA, STEEVV, NATHAANN…ICHA KANGEN KALIAANN…” Dia tersenyum dengan nafas yang tersengal-sengal.

“Icha kangen kalian semuaa..”

‘BRUUKK’ dia terduduk di rumput hijau taman itu sambil menundukkan kepalanya.


************************************************************************

Tiga pemuda tampan ini terus berjalan menuju taman biasa tempat mereka nongkrong. Sambil sedikit berbincang-bincang tentang masa lalu mereka. Hingga tak terasa mereka telah sampai di markas mereka –taman-

“masih sama..” kata Iel.

“yap! Seperti dulu..” sambung Rio.

“Cuma ada yang kurang..” sambung Alvin.

“Icha dan Aga..” lirih mereka kompak. Mereka duduk direrumputan taman itu. Sejuk. Itulah yang menjadi cirri khas taman ini. Ya..walaupun di Jakarta banyak polusi, tapi tetap saja taman ini sangat sejuk. Tidak ada topic pembicaraan yang mereka keluarkan. Hening.

“GUEE KANGEENN SAMA KALIAANNN SEMUAAA….ICHAAA KANGENN SAMA KALIAANN SEMUAAA…”

Sontak mereka kaget. Sambil mencari asal-usul suara itu.

“lo berdua denger?” Tanya Iel. Rio dan Alvin mengangguk.

“ADIITT, AGAAA, STEEVV, NATHAANN…ICHA KANGEN KALIAANN…”

“Icha..” kata mereka kompak. Mereka berlari kearah sumber suara. Akhirnya mereka bertiga mendapati sosok perempuan sedang duduk sambil menundukkan kepalanya. Mereka berjalan mendekat kearahnya. Rio membungkukkan badan sambil menepuk pundak gadis itu. Gadis itu pun mendongak.

“Ify?” kata mereka serempak. Ify pun tak kalah kagetnya.

“loh? Rio? Iel? Alvin? Ngapain kalian disini?” Tanya Ify.

“mm…lo sendiri ngapain disini? Sendirian lagi” Tanya Iel. Ify menghela nafas lalu memandang lurus kedepan.

“gue kangenn..Icha..kangenn..” lirihnya. Raut wajah terkejut terpancar dari ke tiga pemuda itu.

“lo..lo..beneran Icha?” Tanya Alvin. Ify mengangguk tanpa mengalihkan perhatiannya.

“Ichaa..ini..ini..gue…Adit..” kata Rio. Ify terlonjak dan mendongak.

“gue Stev..” kata Iel.

“dan gue, Nathan..” sambung Alvin. Ify berdiri dengan wajah tidak percaya.

“kalian..benerann…” belum sempat Ify melanjutkan kata-katanya, Iel memeluk Ify. Ify membalas pelukannya sambil tersenyum.

“Ichaa kangen kalian semuaa..maafin Icha udah buat kalian nunggu lama. Maafin Icha…” mereka tersenyum bahagia.

“iya, Icha. Kami semua juga kangen sama Icha. Stev juga kangeenn banget sama Icha…” Iel melepaskan pelukannya. Mereka agak sedikit terkejut, mendapati air mata dipipi gadis itu. Rio mendekat. Lalu menghapus air matanya lembut.

“Icha jangan nangis. Icha yang kami kenal gak pernah nangis. Icha yang kami kenal, anaknya lucu, riang, gak suka mewek kayak gini..” Rio mendekap Ify erat, melepaskan kerinduan yang sangat mendalam. Tidak lama Rio melepaskan pelukannya. Kali ini Alvin mendekat. Lalu memeluknya erat.

“Icha..Nathan kangen sama Icha. Nathan kangeenn banget sama Icha..Icha jangan pergi lagi yaa..” kata Alvin. Ify mengangguk. Mereka melepaskan pelukannya. Ify memandangi mereka bertiga.

‘kok berasa ada yang kurang?’ batin Ify.

“kenapa?” Tanya Iel.

“Aga?” Tanya Ify. Mereka semua tertunduk sedih. Heran dengan sikap sobat-sobatnya ini.

“Aga mana?” tanyanya lagi.

“Aga pindah ke Singpore. Ikut Ayahnya” jawab Alvin.

“hah? Kalian bercanda kan? Kalian pasti bohong. Iya kan?” kata Ify yang tidak percaya. Berharap mereka bertiga tertawa dan berkata ‘iya kita Cuma bercanda.’ Tapi…

“gak. Kita gak bohong. Kita serius. Dia pindah udah lama. Sejak kelulusan SMP waktu itu” jawab Rio. Ify membuang mukanya. Sedih. Iya! Sangat, itulah yang dirasakan Ify saat ini. Butiran-butiran bening itu kembali jatuh.

“Aga..kenapa harus pindah?” lirihnya. Ketiga sahabatnya tak tega melihat gadis itu menangis. Iel menggenggam tangan Ify erat. Memberikan kekuatan untuknya. Ify menoleh. Mendapati Iel yang tengah tersenyum kearahnya, bukan hanya Iel tapi juga Alvin dan Rio. Seakan mereka sedang memberikan kekuatan padanya. Butiran bening itu dihapus oleh Iel dengan lembut.

“jangan nangis. Aga pasti balik buat kita semua..” tutur Iel. Ify menghela nafas sejenak. Lalu mengangguk dan tersenyum lebar seperti dulu.


************************************************************************

Seorang pemuda tampan menginjakkan di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Baru saja pesawatnya mendarat dengan sempurna. Perjalanan dari Singapore ke Indonesia membuatnya sedikit lelah. Ia menghirup udara sebentar. Lalu tersenyum.

‘guys gue dateng. Gue balik buat kalian. Dan..Icha…Aga..kangeenn..’ batin pemuda itu. Dia melangkahkan kakinya menuju tempat yang telah menjemputnya. Dia mengedarkan pendangannya ke penjuru Bandara. Matanya berhenti di salah satu lelaki paruh baya yang sedang membawa kertas karton bertuliskan ‘CAKKA KAWEKAS’ Lalu pemuda yang bernama Cakka itu menghampiri lelaki itu.

“Pak..”

“eh den Cakka. Ayo den, kita pulang..” kata lelaki itu sambil menarik koper Cakka. Sedangkan Cakka berjalan mengikuti lelaki itu yang berstatus sebagai supir pribadinya dari belakang. Mereka berjalan menuju mobil Alphard yang telah bertengger di lapangan parkiran Bandara.


************************************************************************

‘Ceklekk’

Pintu rumah itu terbuka. Elegan. Satu kata untuk rumah ini. Pemuda itu memasuki ruangan yang mungkin itu adalah ruang tamu.

“selamat datang den Cakka. Ayo saya tunjukkan kamarnya” ucap seorang wanita paruh baya. Dia mengambil alih untuk membawakan tas-tas pemuda itu lalu melangkah menuju kamar Cakka. Cakka hanya mengikutinya dari belakang.

“ini den kamarnya.” Cakka mengamati sekeliling kamar lalu kemudian mengangguk sambil tersenyum tipis.

“makasih, Bi..” ucapnya. Wanita itu hanya mengangguk.

“saya permisi dulu den..” Cakka mengangguk yang menandakan ‘silahkan.’ Wanita yang berstatus sebaga pembantu di rumah ini melangkah keluar kamar. Dia merogoh saku celananya dan kemudian mengeluarkan gelang berwarna hijau lalu mengenggamnya.

“guys gue dateng. Gue kangen kalian semua. Terutama lo, Cha. Semoga lo gak lupa sama gue.”


>>>To Be Continued<<<

You May Also Like

0 komentar