Karena Hanya Kamu (FyIel)
Notification : cerita ini hanya fiktif belaka yang terinspirasi oleh imajinasi seorang penulis amatir.
*
Gadis manis ini telah bersiap untuk pergi ke sekolah barunya. Dia baru saja pindah ke Jakarta kemarin. Perjalanan Bandung-Jakarta cukup melelahkan baginya. Selama di Bandung, ia hanya tinggal dengan nenek dan kakek tercintanya. Dan kali ini, ia akan berkumpul kembali dengan keluarganya. Ia tampak sangat bersemangat untuk menjalani hari yang cerah ini. Dia menuruni tangga satu persatu dengan senyuman yang terus mengembang di wajah cantiknya.
“pagi semuaa..” sapanya ceria.
“pagi sayang. Ceria banget sih anak mama satu ini” ujar mamanya.
“hehe mama bisa aja. Aku kan selalu ceria tiap harinya.”
“halah. Ceria tiap hari? Mana ada orang ceria tiap hari nangis Cuma gara-gara cowo” cibir adiknya.
“apaan sih lo. Ngikut-ngkut aja. Ngungkit masa lalu lagi. Anak kecil gak boleh ikut masalah orang besar.”
“eh udah udah. Kebiasaan ya kalian ini. Pagi-pagi udah ribut. Telat baru tau nanti” tegur sang mama.
“sih dedep ma duluan.” Deva-adiknya-yang merasa disebut-sebut namanya langsung melotot.
“apaan..elo tuh.”
“iihh…” belum sempat gadis itu melanjutkan kata-katanya, sang kakak menyapa mereka.
“haai adik-adik ku yang manis” ujarnya sambil merangkul Deva dan gadis itu.
“haaii kakak ku yang jelek” ucap Deva dan gadis itu serempak. Sang kakak langsung memajukan bibirnya.
“ya elah, ganteng gini dibilang jelek” ujarnya sambil melepaskan rangkulannya.
“udah terima kenyataannya aja, Yo” timbrung papa yang sedari tadi hanya diam.
“yaahh..papa kok jadi belain mereka sih. jagoan papa kan Rio” ucap Rio-sang kakak-
“yee..jagoan papa tuh gue, Kak Yo” ucap Deva tidak mau kalah.
“gue Depaa.”
“gue.”
“iihh ribut mulu nih. Mama papa Ify berangkat dulu ya” ucap Ify-gadis itu-sambil menyalami kedua orang tuanya.
“iya. Hati-hati sayang” pesan mama.
“ayo, Kak kita berangkat sekarang” ucap Ify sambil menggeret lengan Rio.
“aduuhh…iya iya. Gak usah narik-narik. Ma Pa, Rio pergi yaa..” ucapnya sambil menyalami kedua orang tuanya.
“iya. Hati-hati, Yo. bawa motornya jangan ngebut-ngebut” pesan mama. Dibalas Rio dengan acungan jempol.
*
‘TEVEUM SCHOOL INTERNATIONAL’ begitulah nama sekolah ini terpampang begitu jelas didepan gerbangnya. Bangunan yang mewah, bertingkat tiga, berfasilitas lengkap, terlebih memiliki kualitas yang tinggi. Sekolah terkenal di kota Jakarta. Disiplin dan tepat waktu, itulah ciri khas dari sekolah ini. Tidak mengenal dengan kata ‘terlambat.’
Motor cagiva biru milik Rio baru saja memasuki area depan sekolah. Mereka melangkah sesaat setelah memarkirkan motornya diparkiran. Setiap pasang mata memandangi mereka atau lebih tepatnya ke arah Ify dengan tajam. Bagaimana tidak, sang ketua osis sekolah ini terlihat berjalan beriringan dengan seorang perempuan yang mereka sendiri tidak tahu siapa. Ify mulai ketakutan saat dipandangi seperti itu. Dia menarik-narik ujung lengan baju Rio.
“Kak Yo..kok mereka ngeliatinnya kayak gitu sih?” Tanya Ify berbisik.
“cuek aja. Gue kan ganteng” jawab Rio asal.
“apaan sih? gak nyambung tau.” Sebuah ide terlintas dibenak Rio. Ide yang mungkin siapa saja melihat pasti akan terbelalak kaget dibuatnya. Rio merangkul Ify dan merapatkan tubuh mungil gadis itu ketubuh tegapnya. Benar saja semua pasang mata itu melebar. Kasak-kusuk mulai terdengar dari segerombolan siswi-siswi. Ify sedikit kaget dengan perlakuan kakaknya satu ini. Dia memberontak untuk dilepas.
“kak, apa-apaan sih?” tanyanya.
“udah, lo diem aja” bisik Rio. Ify menurut. Mereka terus berjalan beriringan menyusuri koridor sekolah menuju ruang kepala sekolah SMA ini. Sesampainya disana, Rio langsung melepaskan tangannya.
“gue nganter lo sampe sini aja ya. soalnya masih ada perlu di RO. Oke?” ucap Rio. Ify mengangguk.
“bye, sist” ucapnya sambil mengacak-ngacak rambut Ify. Ify melotot.
“Kak Riooo. Tunggu pembalasan gue dirumah” kata Ify sambil membenahi tatanan rambutnya yang berantakan karena ulah jahil kakaknya itu. Rio tersenyum sekilas kearahnya.
“huh dasar kakak durhaka” gumamnya. Dia mengetok pintu ruangan yang cukup besar itu.
‘tok..tok..tok..’
“masuk” terdengar samar-samar suara orang di dalam. Ify membuka pintu ruangan itu.
“oh, Alyssa ya?” Ify mengangguk.
“kamu emm…dikelas XI-IA 2 ya. Pak Kusno..tolong antar Alyssa ke kelas mengajar mu sekarang” ucap sang kepsek.
“oh baik, Pak. Ayo, Nak. Kebetulan dikelasmu jam pelajaran bapak.” Lagi-lagi Ify hanya mengangguk dan melangkah mengikuti Pak Kusno setelah mengucapkan terima kasih pada kepsek.
*
“pagi anak-anak..” sapa Pak Kusno.
“pagi pak..” balas mereka semua.
“hari ini kelas kalian akan bertambah satu murid lagi. silahkan, perkenalkan dulu diri kamu.” Ify mengangguk sopan.
“hai semua. Perkenalkan nama saya Alyssa Saufika Umari. Kalian bisa panggil saya Ify. saya pindahan dari Bandung. Semoga kita bisa berteman baik. terima kasih.”
“baik, Ify. kamu boleh duduk di sebelah Gabriel.”
“pak..kok gak ada sesi pertanyaan sih?” celetuk seorang siswa.
“kalo mau nanya. Nanti saja. Silahkan duduk, Fy.” Ify mengangguk dan berjalan menuju kursinya.
“Hai..gue Ify” ucapnya sambil mengulurkan tangannya. Gabriel hanya melirik sekilas kemudian kembali focus ke depan.
“udah tau.” Ify menarik tangannya kembali.
‘iihh..kok gue bisa ya sebangku sama nih anak? Cuek banget sih’ batinnya. Merasa bahunya di colek, Ify menoleh kebelakang.
“Gabriel emang kayak gitu. Cuek bebek. Kenalin gue Cakka Kawekas. Elo bisa panggil gue Cakka. Tapi kalo mau manggil JB juga boleh hehe” ucapnya sambil berbisik. Ify tersenyum.
“gue Ify. kalo gue panggil elo ganteng gimana?” canda Ify.
“hah? Boleh boleh. Boleh banget malah. Gue kan emang ganteng” ucapnya. Teman sebangkunya langsung menoyor Cakka. Cakka hanya meringis. Ify cekikikan.
“elo jangan sebut kata-kata ganteng didepan dia, Fy. entar yang ada, penyakitnya kambuh. Oh iya, kalo gue Ray. Si gondrong imut-imut.” Ify terkekeh melihat tingkah laku mereka berdua. Mereka ternyata anak yang asik pikirnya.
*
Bel istirahat telah berbunyi. Semua anak-anak berbondong-bondong keluar kelas menuju kantin. Dikelas XI-IA 2 masih tersisa empat orang anak. Cakka, Ray, Ify dan Gabriel. Ify menoleh kebelakang tepatnya kemeja Cakka dan Ray. Dia mendapati Cakka yang tengah asik bercermin sedangkan Ray sepertinya sedang berjalan-jalan kealam mimpi indahnya.
“udah ganteng kok, Kka” ujar Ify tiba-tiba. Sontak Cakka memberhentikan aktivitasnya dan menoleh kearah Ify dengan mata berbinar-binar.
“yang bener, Fy?” tanyanya ceria. Ify terkekeh melihatnya.
“kok ketawa sih?” tanyanya lagi dengan wajah yang heran.
“gak. Lucu aja. Mau aja sih diboongin haha.” Cakka mengerutkan kening tidak mengerti.
“jadi tadi elo boong dong bilang kayak gitu?” ujarnya yang baru nangkep. Ify cengengesan. Ray yang mendengar suara berisik-berisik langsung terbangun dan mengangkat kepalanya.
“ada apaan sih? eh..? kok sepi? Pada kemana?” tanyanya histeris. Cakka menoyor Ray sedangkan Ify tertawa.
“sakit, Cak” ringis Ray.
“heh! Jangan manggil gue ‘Cak’ emang lo kate gue cicak apa?” ujarnya.
“lah kalo kenyataannya gimana? Gak bisa diubah dong. Terus juga lebih gantengan cicak daripada elo wleek” kata Ray.
“dasar gondrong” ujar Cakka sambil mengacak-ngacak rambut Ray. Ify hanya geleng-geleng melihat kelakuan kedua teman barunya itu. Dia kembali menghadap kedepan. Kemudian dia menoleh kesebelah kirinya. Gabriel masih disana. Dia terlihat keren seperti itu. Headseat putih bergelantung di kedua telinganya, menyandarkan tubuhnya didinding kelas sambil memejamkan mata.
‘kalo diliat-liat dia manis juga ya? keren lagi. eh? Gue apaan sih. mikirin tuh anak yang cueknya minta ampun. Emang gue peduli? Huuu’ batinnya kemudian memfokuskan pandangannya pada novel yang dibawanya. Gabriel yang sedari tadi mendengarkan lagu dari I-pod silvernya sambil memejamkan mata, ternyata mengetahui bahwa Ify memandangi dirinya.
‘ngapain tuh anak ngeliatin gue? Emang sih gue cakep, tapi gak segitunya kali ya. mmm..tapi nih bocah satu kalo diliat-liat manis juga, cantik lagi. lah? Kenapa gue mikir kayak gini sih?’ batin Gabriel. Seorang siswa menghampiri meja Ify.
“hay Ify..” sapanya genit. Ify mendongak.
“eh? Hay. Mm..siapa ya?” tanyanya. Siswa itu mengulurkan tangannya.
“kenalin gue Debo. Cowo terganteng disekolah ini.” Ify meringis mendengarnya. Ragu-ragu dia menyambut uluran tangan Debo.
“woo..cowo terganteng disekolah ini Cuma gue. Cakka Kawekas Nuraga” ujar Cakka bangga sambil menepuk-nepuk dadanya.
“yeee..gue kali. Seorang Muhammad Raynald Prasetya si Gondrong Cakep.” Ify tidak menggubris penuturan Cakka dan Ray, dia berusaha melepaskan tangannya dari tangan Debo yang sedari tadi menjabat tangannya.
“mm..Deb. tangan lo?” tunjuk Ify.
“oh. Maaf. Oh iya, Fy, pulang sekolah nanti pulang bareng gue yaa” tawarnya. Ify terbelalak.
“hah? Gu-gue pulang bareng kakak gue, Deb. Sorry” ujar Ify.
“yaaahh. Gimana kalo elo sms aja kakak lo. Elo gak bisa pulang bareng dia hari ini.” Ify semakin kaget.
“hah? Tapi..mm..gu..gue..gue pulang bareng Cakka. Iya gue pulang bareng Cakka.” Cakka yang merasa disebut-sebut namanya langsung menoleh.
“kok gue, Fy? emang kita tadi bikin janji buat pulang bareng ya?” Tanya Cakka polos. Ify menepuk jidatnya.
“tuh kan, Fy. udahlah elo pulang bareng gue ya nanti.”
“aduuhh. Gue gak bisa, Deb.”
“kenapa?”
“soalnya..gue..”
“dia pulang bareng gue” ucap Gabriel tiba-tiba. Ify sontak menoleh. Cakka dan Ray langsung menganga tidak percaya.
“bener, Fy?” Tanya Debo. Ify mengangguk pelan.
“ya udah deh kalo gitu.” Debo langsung berlalu pergi.
“makasih” ucap Ify.
“lain kali kalo mau bohong, dipikir-pikir dulu. Biar gak ketahuan bohongnya.” Gabriel kembali ke aktivitasnya semula. Ify mengerutkan keningnya bingung. Dia menoleh kearah Cakka dan Ray. Mengisyaratkan wajahnya mengatakan –kenapa-nih-bocah?- Cakka dan Ray yang seakan mengerti hanya menggedikkan bahunya tidak tahu.
*
Sepulang sekolah Ify langsung melangkah ke kamarnya tanpa mengucapkan salam atau apapun. Ia sangat lelah saat ini. Dengan segera dia langsung mengganti pakaian dan kemudian merebahkan tubuhnya dikasur. Baru saja ingin memejamkan matanya, sang mama berteriak-teriak memanggil namanya.
“IFYYY…” teriak mama. Mata Ify yang hampir saja terpejam langsung terbuka lebar.
“aduuhh mama apaan sih?” dumelnya. Ify langsung menghampiri sang mama di meja makan. Dengan langkah gontai dia menuruni tangga.
“kenapa sih ma? Ify mau tidur nih. Ngantuk berat” ujarnya lemas. Mama geleng-geleng kepala melihat tingkah laku anak perempuannya satu ini.
“kamu ini. Makan dulu baru tidur” tegur mama.
“iya iya. ADAAWWW..” Ify berteriak tatkala Deva yang baru saja turun dari tangga menjambak rambut Ify.
“DEVAAAA…” Ify mengejar Deva yang sudah berlari keruang tamu.
“haduuhh. Mereka itu yaa..” gumam mama.
“kenapa sih ma? Dari tadi ngomel mulu deh” ujar Rio sambil mengambil posisi duduk di kursi meja makan.
“itu tuh. Adik-adik kamu yang bandelnya minta ampun.”
“oalaahh. Namanya juga anak kecil haha.” Rio terdiam saat mamanya melotot padanya.
“aduuhh, sakit Kak Ipoonngg” ringis Deva yang rambutnya dijambak Ify.
“ini pembalasan tau” balas Ify yang masih saja menjambak rambut adiknya.
“ayo jalan. Kenapa berenti?” Tanya Ify. Deva melanjutkan langkahnya ke arah meja makan. Ify mengambil posisi duduk disamping Rio, dan Deva disamping kanan Ify.
“aduuhh kalian ini ya. mau mama jewer hah?” Tanya mama galak. Ify dan Deva langsung ciut. Ify melepaskan tangannya dari rambut Deva.
“hehe..mama cantik deh. Pantes aja anaknya cantik ini” ujar Ify cengengesan.
“narsis lo” cibir Deva. Ify melotot ke Deva.
“sudah. Cepat makannya..” ujar sang mama. Rio, Ify dan Deva menurut.
“mama duluan ya sayang. Soalnya mama mau arisan dulu. Baik-baik dirumah. Daa sayang..” pamit sang mama.
“daa ma. Hati-hati ya” ucap mereka serempak. Keadaan hening. Hanya terdengar dentingan sendok garpu yang beradu dengan piring. Setan jahil muncul di otak Ify. secara diam-diam dia mengambil sehelai rambut Deva dan menariknya kuat hingga putus.
“AWWW…” teriak Deva sambil mengelus-ngelus kepalanya yang sakit. Rio sontak menoleh. Ify bersikap seperti biasa.
“kenapa, Dev?” Tanya Rio.
“gak tau. Kayak ada yang narik rambut gue. Sakit bangeett..” ringis Deva. Ify berusaha menahan tawanya.
“ada-ada aja sih lo.” Rio melanjutkan aktivitasnya kembali. Deva masih terus memikirkan siapa pelakunya. Deva menoleh ke arah Ify dan menatapnya tajam. Ify yang merasa diperhatikan sontak menoleh.
“apa lo?” tanyanya galak.
“elo kan yang narik rambut gue?” tanyanya.
“kok lo nuduh gue sih? emang ada bukti yang jelas apa?”
“kan elo yang dari tadi duduk disamping gue ini.”
“yee..jangan karena gue duduk disamping lo, elo jadi nuduh gue gitu dong. Kali aja adaa….” Ucap Ify menggantung. Deva penasaran.
“ada apa?” Ify tersenyum devil.
“ada..setan” bisiknya. Deva melotot dan mematung. Dia paling takut kalau sudah disangkut pautkan dengan yang namanya makhluk gaib.
“hahaha…” tawa Ify pecah. Rio sontak menoleh.
“hus. Cewe gak boleh ketawa kayak gitu” ujarnya. Ify langsung diam.
“tumben lo dewasa, Kak? biasanya juga ngeselin” cibir Ify. Rio melongos.
“yee..gue kan bentar lagi mau kuliah. Jadi sikap dewasa harus dimulai dari sekarang dong.” Ify mendengus sebal. Dia kembali lagi menoleh kearah Deva yang masih mematung.
“lama amat sih, Dev jadi patungnya? Gue bercanda kali. Mana ada setan secantik gue ini” ujarnya santai setelah berhasil menyuapkan sesendok nasi terakhirnya.
“jadi bener kan elo pelakunya?” Tanya Deva garang. Ify cekikikan sambil berlalu kedapur.
“dasar Ipooonngg” teriak Deva.
“Deva…jangan teriak-teriak. Tetangga nanti keganggu loh. Abisin dulu tuh makan” tegur Rio sambil melangkah kedapur. Deva menuruti sambil bersungut-sungut kesal.
*
Ify masih terus cekikikan geli melihat raut wajah Deva tadi yang menurut dia lucu. Saat dia berbalik badan..
“AAAAAAAAAAAAAmngmagjakjsd.” Rio membekap mulut Ify.
“kenapa sih lo?” Tanya Rio. Ify menggeleng.
“gue kira elo tadi setan, Kak” ujar Ify polos setelah Rio melepaskan tangannya dari mulut Ify. Rio cengo.
“setan seganteng gue? Mana ada kali, Fy. ada-ada aja sih lo” ucap Rio sambil mengacak-ngacak rambut Ify. Ify manyun.
“mau minta dicium tuh bibir? Hah?” goda Rio. Ify langsung menutup mulut dengan kedua tangannya sambil berlari menuju kamar.
“hahahaha…dasar Ipong.”
*
Hari ini Ify datang ke sekolah terlalu pagi. Sekolah masih sepi. Mungkin hanya ada 1-5 anak yang baru datang. Ia memasuki kelasnya yang saat ini masih sepi. Cuma ada satu orang yang baru datang. Tepatnya disebelah bangkunya sendiri. Hei! Apa? Sebelah bangku? Berarti si Mr. Cuek dong, pikirnya.
‘bodo amat. Emang gue pikirin’ batinnya sambil melangkah menuju kursinya.
‘selalu aja gitu. Tapi…keren banget’ lanjut batinnya sambil terus memperhatikan Gabriel yang tengah memejamkan mata dengan headseat yang menggantung dikedua telinganya.
“ngeliatinnya jangan gitu amat” ucap Gabriel tiba-tiba. Ify salah tingkah dan langsung membalikkan badannya kedepan.
‘kok dia bisa tau sih? aahh..gue kan malu’ batin Ify. Dia mengedarkan pandangan keseluruh penjuru kelas. Saat matanya melihat kearah ambang pintu, Debo memasuki kelas dengan santainya. Ify langsung gelagapan sendiri. Dia segera menutupi wajahnya dengan buku sejarah yang dia ambil dari dalam laci. Tapi tetap saja Debo melihatnya.
“pagi Ify..” sapa Debo. Ify meringis mendengarnya.
“eh? Hehe..pagi juga, Deb” balas Ify.
‘kenapa harus ada nih bocah sih?’ batin Ify kesal.
“Fy…hari ini pulang bareng gue yuk” ajaknya sambil mengedipkan matanya genit.
“hah? Eh..ee..gue hari ini ada janji sama Kak Rio” ucapnya spontan. Debo dan Gabriel kaget. tapi Gabriel masih bisa bersikap biasa.
“kak Rio, ketua osis itu?” Tanya Debo. Ify mengangguk.
“dia siapa elo, Fy?” tanyanya.
“mm..dia..dia..ah! pacar gue” jawabnya. Debo semakin kaget.
‘kok gue panas ya dengernya?’ batin Gabriel.
“yang bener?” Ify mengangguk.
“tapi kok gue gak percaya ya? gue Tanya langsung aja ya sama Kak Rio” ucapnya sambil berlalu. Ify gelagapan sendiri.
“aduuhh..tuh bocah satu aahh! Susah banget sih diboongin. Deboo…” Ify langsung berlari mengejar Debo.
‘diboongin? Berarti bukan pacar dong? Jadi siapa? Lah? Kenapa gue jadi kayak gini sih? tau ah’ batin Gabriel.
*
Debo menemui Rio yang tengah di ruang Osis.
“permisi, Kak.” Rio menoleh.
“eh? Ada apa ya?” Tanya Rio.
“kenalin, Kak. saya Debo anak XI IA-2. saya disini Cuma mau Tanya, apa bener kakak pacarnya Ify?” Tanya Debo. Rio tersentak kaget. maksud nih bocah satu apa coba, nanya kayak gini? Pikirnya. Saat Rio melihat kebelakang Debo, ternyata dia sudah melihat Ify dengan wajah memelas. Rio yang mengerti pun segera menjawab.
“kalo iya, kenapa?” tanyanya balik. Ify bernafas lega.
“jadi bener, Kak?”
“iya. Emang kenapa?”
“ooh gitu. Gak papa sih Cuma nanya doang.”
“terus kenapa lo nanya kayak gitu?” Tanya Rio lagi.
“soalnya saya suka sama Ify” jawabnya mantap. Ify menepuk jidatnya. Rio terbelalak.
‘aduuhh. Nih anak kok blak-blakkan banget sih?’ batin Ify.
“tapi dia udah punya gue sekarang.”
“iya saya tau, dan saya juga tidak akan menyerah untuk dapetin dia. Karena saya cinta mati sama dia. Permisi, Kak.” Ify segera bersembunyi dibalik pintu. Debo berlalu keluar. Setelah dia mengetahui Debo sudah jauh, Ify pun keluar dari tempat persembunyiannya.
“huwaa..kakak makasih banget udah nolongin. Makasih..makasih..makasih..” ucap Ify histeris sambil memeluk kakaknya itu.
“aduuhh..iya iya. Gak bisa nafas gue, Fy” ringis Rio. Ify melepaskan pelukannya.
“hehe maap. Makasih ya kakakku yang jelek.” Rio mendelik.
“yaelah, Fy. udah gue tolongin juga..”
“iya iya. Makasih ya kakakku yang super duper ganteng hehe.” Rio tersenyum sumringah mendengarnya.
“nah gitu dong. Kan enak didengernya. Lo masuk sana, udah mau bel nih” ucapnya sambil mengacak-ngacak rambut Ify.
“kebiasaan ya lo, ngerusakin rambut gue.” Rio cengengesan.
“gue duluan kak..daahh.” Ify berlari kecil menuju kelasnya. Rio yang melihat kelakuan adik perempuannya itu hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum.
*
Pulang sekolah, Ify tidak pulang bersama kakaknya. Saat ini dia sedang berlari buru-buru untuk mengambil buku catatannya yang tertinggal dalam kelas. Ia bernafas lega saat mengetahui buku catatan itu masih utuh. Saat didepan pintu, Debo telah menghadangnya dengan senyum devil diwajahnya.
“ngapain lo disini?” Tanya Ify kaget. Debo tetap tersenyum licik.
“gue Cuma mau nyamperin elo doang kok, cantik” ucapnya sambil berusaha mencolek dagu Ify. Ify menepisnya kasar.
“heh! Jangan pernah elo sentuh gue. Inget itu” bentak Ify. Debo mulai melangkah mendekati Ify. Ify sudah mulai ketakutan melihat tingkah aneh Debo saat ini. Dia berjalan mundur berusaha menghindari Debo.
“jangan jauh-jauh dong. Gue gak bakal ngapa-ngapain kok. Cuma….gue mau milikin elo seutuhnya.” Ify terbelalak kaget.
“elo udah tau kan kalo gue udah punya Kak Rio?” bentaknya lagi. Debo tertawa sinis.
“haha…iya gue tau kok. Elo itu adiknya Rio. Iya kan?” Ify mendelik. Kenapa dia bisa tahu, pikirnya.
“haha…sudahlah manis. Elo itu orang baik, jadi gak pinter buat bohong.” Debo terus mendekati Ify.
“jangan deketin gue. Pergi lo!” teriaknya.
“gak bakal, sayang.” Ify telah terpojok didinding. Dia tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali menangis.
“pliss, Deb. Jauhin gue. Gue gak mau. Gue gak mau!!” isak Ify. Debo telah mengurung Ify dengan kedua tangannya yang ia sandarkan pada tembok.
“elo cantik kalo diliat dari deket. Gak sia-sia gue cinta mati sama elo. Dan hari ini elo bakal jadi milik gue sepenuhnya, sayang” ucap Debo sambil mengamati wajah Ify. Ify masih terus terisak.
“pliss, Deb. Gue mohon. Gue gak mau!”
“ouh. Cup..cup..jangan nangis dong sayang. Udah..udah haha.”
‘kak Rio..tolong Ify’ batin Ify menjerit. Debo mulai mendekatkan wajahnya ke Ify.
‘Kak Rioooo….’ Batin Ify teriak. Wajah mereka semakin dekat daann…
‘BUUKK..’ Sebuah kepalan tangan mendarat mulus dipipi kanan Debo. Debo jatuh tersungkur.
“kurang ajar lo ya sama cewe” bentak orang itu. Debo tersenyum sinis.
“owh. Mau jadi pahlawan kesiangan lo? Haha…ayo maju kalo berani” tantang Debo. Mereka terus berkelahi. Ify terduduk lemas disana sambil terus menangis. Ketakutan telah melandanya. Baku hantam terus terjadi diantara mereka berdua. Hingga pada akhirnya, Debo dikalahkan oleh orang itu.
“jangan pernah ngeremehin gue lagi. ngerti lo? Pergi sana!” Debo melangkah keluar dengan tertatih-tatih. Orang itu menghampiri Ify yang masih terus menangis.
“hei! Udah jangan nangis lagi” ucap orang itu lembut. Ify langsung memeluk orang itu. Orang itu yang tidak sigap hampir saja terjengkang kebelakang.
“gue takut, Yel” isak Ify dalam dekapan Gabriel-orang itu- Gabriel membelai lembut rambut panjang Ify.
“udah gak usah takut. Ada gue disini.” Mendengar pernyataan Gabriel tadi, Ify sudah sedikit tenang. Ify melepaskan pelukannya.
“makasih” ucapnya lirih. Gabriel mengangguk sambil tersenyum kemudian menghapus air mata Ify lembut.
“biar gue anter lo pulang.” Gabriel menarik tangan Ify lembut, menuju tempat motornya diparkirkan.
*
Dikamarnya, Ify selalu senyum-senyum sendiri jika mengingat kejadian tadi siang saat ia bersama Gabriel. Dia melihat sisi lain dari seorang Gabriel yang cuek.
‘ternyata Iel itu baik, manis, care, lembut lagi. hhhh…gue kok jadi mikirin dia terus ya? tapi…arrrgghh! Gabriel elo udah buat gue jatuh cintaa…’ batinnya. Ify terus tersenyum sambil mendekap erat boneka moomoonya. Boneka sapi lucu kado ulang tahun pemberian Rio dan Deva itu. Mereka sengaja patungan buat membelikan satu kado untuk Ify yang saat itu masih berumur 15 tahun.
*
Ditempat yang lain, dengan waktu yang sama. Kejadian serupa dengan Ify, terlihat dikamar pemuda tampan ini. Terukir senyuman manis diwajahnya sambil pandangan menerawang kearah jendela.
‘gue kok ngerasa nyaman sih kalo deket dia? Apa mungkin gue suka sama Ify? atau…..aaaaaa Ify..elo udah buat gue jatuh cintaa..” batin Gabriel tersenyum.
*
3 minggu telah berlalu. Sejak kejadian waktu itu, Ify dan Gabriel semakin dekat. Semua anak mengira mereka mempunyai suatu hubungan special. Tapi nyatanya tidak. Dan itu membuat Cakka dan Ray yang notabennya juga teman Ify tidak percaya dengan semua itu.
“Fy..kok elo bisa deket banget sih sama Gabriel?” Tanya Cakka saat mereka tengah pelajaran olahraga. Dia dan Ray saat ini ingin mengintrogasi Ify terlebih dulu. Mumpung si Gabrielnya lagi asik main basket.
“kita kan temenan, emang kenapa?” Tanya Ify balik.
“yaelah nih anak. Gue nanya lo nanya balik. Yaa gak sih, Cuma kita heran aja liat elo yang deket banget sama si Mr. cuek itu. Padahal banyak loh cewe-cewe disini naksir sama dia, tapi yaa..karena dia terlalu cuek, mereka Cuma bisa jadi penggemar rahasianya aja” ucap Cakka panjang lebar.
“iya, Fy. lo tau? Mungkin elo adalah cewe pertama yang bisa deket sama dia di sekolah ini. Sewaktu elo jalan bareng sama dia, cewe-cewe yang naksir sama si Iel itu, pada gigitin jari semua hahaha” sambung Ray. Ify mengerutkan kening.
“heh? Gigitin jari? Maksud lo?” Tanya Ify yang tidak mengerti. Cakka dan Ray menepuk jidatnya.
“ya ampun. Ify cantik, Ify manis, Ify baik…masa’ gak ngerti sama kiasan kata sih? maksud si gocap itu IRI. Tuh pelajaran udah diajarin di smp loh” jelas Cakka geregetan sambil menekankan kata iri.
“oohh. Hehe sorry sorry, gue kan lupa. So? Kalo gue deket sama dia, kenapa coba?”
“yaa gak papa aja sih. kita kan Cuma heran aja, ngeliat dia bisa deket sama cewe. Apalagi cewe bawel kayak elo” ucap Cakka santai. Ray mengangguk setuju. Ify mendelik.
“maksud lo cewe bawel apaan, Cakduuutt??” Tanya Ify garang. Cakka dan Ray sudah siap siaga untuk berlari.
“hehe..keceplosan, Fy” ujar Cakka.
“tapi kata orang kalo keceplosan itu dari hati loh” sambung Ray memanas-manasi Ify yang sudah mengeluarkan asap dari.
“CAKKAAA….RAYYY….” teriak Ify kesal. Cakka dan Ray sudah kabur entah kemana sambil tertawa terbahak-bahak.
“awas lo berdua. Bikin gue darah tinggi aja. Cakka, Ray..tunggu pembalasan dari seorang Alyssa” gumam Ify.
“sabar atuh neng” ucap seseorang tiba-tiba. Ify sontak menoleh. Dia mendapati Gabriel yang telah duduk disebelahnya dengan keringat bercucuran di sekitar wajahnya.
“eh? Nganggetin aja sih, Yel. Kalo gue jantungan gimana?” dumel Ify. Gabriel cengengesan.
“cape ya, Yel?” Tanya Ify.
“banget, Fy” jawab Gabriel. Ify mengambil sebotol aqua yang telah dia sediakan khusus untuk Gabriel.
“nih. Kalo gak minum nanti dehidrasi loh” ucap Ify sambil menyerahkan botol aqua tersebut terhadap Gabriel. Gabriel menerimanya sambil tersenyum.
“thank’s.” Ify mengangguk. Saat Gabriel tengah meneguk air minumnya, ia terlonjak saat Ify membersihkan keringat yang ada di sekitar wajahnya itu dengan saputangan birunya. Gabriel sontak menoleh. Ify tersenyum. Mata mereka bertemu.
‘perasaan gue udah yakin banget, kalo gue cinta sama lo’ batin Gabriel.
‘Iel…gue tambah cinta sama elo’ batin Ify. saat Ify ingin menurunkan tangannya, tangan Gabriel menahannya terlebih dulu. Dia menggenggam lembut tangan Ify.
“Fy..gue..” belum sempat Gabriel melanjutkan kalimatnya, suara penganggu itu datang lagi.
“hayoolooh, mau ngapain? Haha ketauan ya. ingat! Dilarang pacaran di sekolah” ucap Cakka yang tiba-tiba saja menampakkan diri diikuti Ray disampingnya dengan cengiran khasnya. Gabriel melepaskan genggamannya dan mendengus kesal. Ify menundukkan kepalanya malu.
“aduuhh..neng Ipy. Jangan malu-malu gitu dong” goda Ray sambil mencolek dagu Ify.
“iih kalian berdua apaan sih?” tanyanya malu. Gabriel melirik kearah gadis cantik disampingnya itu. Bibirnya tidak bisa menahan senyum saat melihat wajah malu Ify yang menurutnya lucu. Cakka dan Ray masih saja menggoda Ify. Ify menjadi tambah malu saja.
*
Hari ini lagi-lagi Ify pulang terlambat. Dia masih sibuk mencatat sederet rumus-rumus fisika yang baru saja diberi oleh Pak Norby-guru fisika-
“huaaa…akhirnya selesai juga” ucap Ify sambil merentangkan kedua tangannya ke udara. Dengan segera dia memasukkan buku dan peralatan tulisnya kedalam tas. Saat berdiri dia melihat Gabriel yang masih duduk di atas meja pojok kanan.
“masyaallah Iel..bikin kaget gue aja. Kok elo belum pulang sih? masih nangkring disana aja” ucap Ify. Gabriel cengengesan kemudian dia melompat dari atas meja.
“gak ada sih. Cuma nungguin elo aja.” Ify hanya bisa membulatkan mulutnya. Ify kembali melangkah diikuti Gabriel dibelakangnya yang masih terus berfikir bagaimana caranya dia berbicara dengan Ify tentang ini. Saat diambang pintu, Gabriel menarik tangan Ify dari belakang. Ify yang memang tidak siap, terhuyung kedepan. Dengan sigap Gabriel menangkap tubuh Ify yang limbung. Akhirnya Ify jatuh kedalam pelukan Gabriel. Mata mereka bertemu. Jarak wajah mereka sangat dekat.
‘tuhan…jangan biarkan hamba mati konyol disini Cuma karena serangan jantung mendadak’ batin Ify.
‘elo yang gue cari’ batin Gabriel. Tidak lama mereka kembali ke alam sadar masing-masing dan saling melepaskan pelukan itu. Kikuk dan salah tingkah. Gabriel menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal dan Ify menunduk malu sambil memainkan jari-jari mungilnya.
“ee..maaf, Fy. gue tadi gak sengaja” ucap Gabriel kikuk.
“gak papa kok, Yel. Emm..emang lo tadi kenapa?” Tanya Ify berusaha bersikap sebiasa mungkin.
“gue Cuma mau ngajak elo jalan doang kok. Lo ada waktu?”
“kapan?”
“mm..sore aja deh.” Ify menangguk pasti.
“boleh. Gue juga gak ada kerjaan dirumah hehe.” Gabriel tersenyum.
“ya udah gue nanti jemput elo jam setengah lima ya.” Ify mengangguk setuju.
“gue anter yuk” tawar Gabriel. Ify berfikir sejenak.
“boleh. Yuk..”
*
Sekitar pukul 15.45 Ify sudah bersiap-siap. Tinggal memakai bando..dan yap! Perfect. Ify terlihat cantik memakai dress baby blue selutut dengan sepatu flat shoes yang serasi dengan warna dressnya. Rambutnya yang sedikit bergelombang sengaja ia gerai dengan hiasan bando pita biru muda membuat ia semakin…beautiful!^^
Ify terus menunggu Gabriel dengan sabar. Ify seketika melompat dari tempat tidur-tempat ia duduki tadi-saat mendengar suara klakson mobil yang ia ketahui itu adalah Gabriel. Ify sedikit merapikan dandanannya. Ia langsung buru-buru keluar karena sedari tadi Rio terus berkoar-koar meneriaki namanya. Ify menuruni tangga dengan anggunnya. Semua yang berada di ruang tamu seketika cengo menatap Ify yang kelihatan begitu cantik yang dibaluti dress birunya. Ify sedikit terpana melihat Gabriel yang terlihat keren saat ini. Kemeja birunya dengan lengan yang ia tarik hingga siku, celana jeansnya dan sepatu keds putih.
“Fy…ini…beneran elo?” Tanya Rio tidak percaya. Gabriel dan Deva masih terdiam menatap Ify. Ify mengerutkan kening.
“ya iyalah. Lo kira siapa? Emang yang namanya Ify itu ada dua apa?” Tanya Ify sewot.
“yee..gak usah nyolot gitu dong. Lo beneran beda, Fy hari ini ckck. Kalo gue gak inget elo adik gue, udah gue pacarin lo.” Ify menoyor Rio.
“sarap. Udah ah, ngomong sama lo makin ngawur aja. Ayo, Yel kita pergi sekarang” ajak Ify sambil menggeret lengan Gabriel.
“eh..iya iya. Kak, Dev kita pergi ya” pamit Gabriel. Rio dan Deva hanya mengangguk kemudian melanjutkan aktivitas mereka yang tertunda.
*
Gabriel mengajak Ify ke pantai. Ia sengaja kesini karena disini tempat yang paling tepat untuk melihat sunset.
“pantainya kok sepi sih, Yel?” Tanya Ify.
“soalnya hari ini, Cuma kita berdua yang menguasai daerah pantai ini” jawab Gabriel santai tanpa mengalihkan pandangannya yang menatap lurus kedepan. Ify mengerutkan kening.
“maksud lo? Elo..udah boking duluan nih pantai?” Tanya Ify. Gabriel mengangguk.
“yaps! alasan gue boking nih tempat, itu karena…” ucap Gabriel menggantung yang membuat Ify penasaran.
“karena apa, Yel?” Tanya Ify. Gabriel menoleh dan berdiri menghadap Ify. perlahan Gabriel meraih kedua tangan Ify dan menggenggamnya lembut.
“karena gue mau pantai ini menjadi saksi bisu antara kita berdua, Fy..” ucapnya lembut. Ify masih diam menunggu Gabriel melanjutkan kata-katanya.
“..detik ini, menit ini, jam ini dan tempat ini, gue mau ngungkapin perasaan gue ke elo, Fy. Pertama elo masuk kelas gue, elo adalah seseorang yang berhasil menyita perhatian gue. Saat elo disuruh Pak Kusno buat duduk disebelah gue, gak tau kenapa…ada perasaan seneng di hati gue. Saat elo digangguin oleh Debo, gak tau kenapa..gue selalu pengen ngelindungi elo saat itu. Saat elo hadir dalam hidup gue, hari-hari gue kembali seperti dulu..yang penuh warna. Bayangan diri elo..selalu mampir dipikiran gue, saat gue merenung. Dan elo adalah cewe pertama yang berhasil ngerebut hati gue setelah nyokap. Today..I’ll asking you. Do you want to be a Princess in my heart, Alyssa? Karena hanya kamu… yang bisa membuat aku jatuh cinta” Ify sangat tersentuh mendengar penuturan Gabriel tadi. Ify tersenyum bahagia saat mengetahui bahwa pujaan hatinya juga memiliki perasaan yang sama sepertinya. Dia langsung memeluk erat tubuh tegap Gabriel.
“yes, I would. I want to be a Princess in your heart, Gabriel.” Gabriel tersenyum senang. Dia membalas pelukan Ify dengan erat. Ify melepaskan pelukannya.
“hey! Why you crying?” Tanya Gabriel lembut saat melihat butiran bening mengalir di pipinya. Dia mengahapus air mata itu dengan ibu jarinya lembut. Ify menggeleng sambil tersenyum.
“aku Cuma tersentuh sama kamu tadi. Dan aku bahagia, karena aku udah milikin hati kamu” ucap Ify tersenyum. Gabriel ikut tersenyum.
“aku janji..bakal selalu buat kamu tersenyum” bisik Gabriel. Ify tersenyum senang.
“aku sayang kamu, Gab” ucap Ify. Gabriel mengernyitkan dahinya bingung.
“kok ‘Gab’?” Tanya Gabriel.
“hehe…itu panggilan sayang aku ke kamu” ucap Ify cengengesan. Gabriel tertawa kecil.
“ada-ada aja sih kamu. Makin gemes deh” ucap Gabriel sambil mengacak-ngacak rambut Ify.
“iihh..rambut aku rusak tau..” ucap Ify cemberut.
“tetep cantik kok” puji Gabriel. Muka Ify memerah dan tersenyum malu.
“jangan malu-malu gitu dong. Eh..liat tuh, sunsetnya udah keliatan” kata Gabriel sambil mengahadap ke arah depan. Ify pun begitu dengan tangannya yang masih senantiasa memegang lengan Gabriel. Mereka menikmati keindahan matahari yang baru saja tenggelam. Pantai ini adalah saksi kisah cinta mereka yang baru saja dimulai. Mencintai sepenuh hati.
“love you, Fy. Karena hanya kamu yang ada dihatiku ..”
-THE END-
0 komentar