A Turning Part 11


A Turning àPart 11ß
(papa : memang benar itu pacar papa..)

====A Turning====

Sore hari, Ify nekat buat main basket di lapangan komplek yang tidak begitu jauh dari rumahnya. Jalan kaki saja sekitar 15 menitan juga sudah sampai. Namun, kondisi badannya saat ini masih belum stabil.
Saat ingin melangkah keluar dengan mengapit bola oranye itu di tangan kanannya, papa memanggil dirinya.

“Fy, bisa kita bicara sebentar?” tanya papa. Ify hanya diam mematung di ambang pintu rumah. Kemudian ia bersiap untuk melangkah pergi kembali, tetapi langkahnya dicegah papa. “sebentar saja. Mau ya?” lanjut papa. Ify menghela nafas kasar.

“gak pakai lama.” Senyum senang terpancar dari wajah papa. Mereka berdua duduk di sofa ruang tamu. Keadaan rumah terlihat sepi. Bi Ina lagi ke pasar buat belanja kebutuhan. Mama yang pasti kerja. Shilla lagi ada tugas di rumah temannya. Gabriel lagi molor. Cakka pun sama. Sedangkan Deva lagi main ke rumah sahabatnya, Ray.

“Fy, kamu masih ingat tentang kejadian di cafe waktu itu?” tanya papa yang kembali mengingatkan kejadian pahit di cafe yang berusaha Ify lupakan.

“hmm” Ify meresponnya hanya berdehem.

“memang benar itu pacar papa..” Ify kembali panas mendengarnya. Sedari tadi ia tidak menatap papa sedikit pun. Ia hanya sibuk dengan bola basket yang ditangannya saat itu. “..tetapi, kami sudah tidak mempunyai hubungan apa-apa lagi sekarang.” Ify tertawa kecil sinis. Tersenyum miring dingin.

“jadi bisakah kamu buat nerima papa lagi di keluarga ini. Agar kita jadi keluarga yang harmonis lagi seperti dulu” ucap papa dengan penuh harap di setiap katanya. Ia sangat menyesal telah melukai hati istri dan anak-anaknya, terlebih Ify yang mungkin adalah salah satu orang yang sangat sulit untuk menaklukkan hatinya. Dia itu tipe orang yang sangat sulit untuk mendapatkan hatinya kembali jika ia sudah terlanjur kecewa.

“gak semudah itu. Setelah apa yang sudah Anda lakukan” ucap Ify membuka suara. Sepertinya sapaan ‘papa’ sudah tidak berlaku lagi untuknya. Papa menghembuskan nafas kecewa.

“kesempatan satu kali lagi, Fy? Apa perlu papa berlutut untuk memohon permintaan ini?”

“tidak perlu repot-repot. Saya bukan malin kundang.” Setelah mengucapkan kata-kata itu ia beranjak, melangkah keluar rumah.

====A Turning====

Gabriel yang semula terlelap tidur, terbangun karena mendengar sayup-sayup percakapan dari dua orang. Semua percakapan papa dan Ify telah ia dengar semuanya. Ia menghela nafas panjang. Tak tahu harus berbuat apa selain pasrah menunggu jawaban yang pasti. Ia berjalan menuju balkon kamarnya. Tanpa sengaja ia melihat Ify yang sedang melangkah di luar dengan bola basket di tangannya. Tanpa diberitahu pun ia sudah mengetahui tujuan adiknya itu.

“dasar bocah nekat. Belom juga sembuh, masih aja cari penyakit.” Gabriel bersiap-siap untuk mengikuti sang adik tanpa sepengetahuannya.

====A Turning====

Ify bermain basket sendirian. Walaupun raganya sedang bermain basket, namun pikirannya sedang melayang memikirkan percakapan antara dirinya dan papa tadi. Tidak tahu kenapa ia sangat berat untuk membuka pintu hatinya buat nerima papa lagi. Ia sudah terlanjur kecewa. Terlanjur sakit akibat perbuatan lelaki itu sendiri.
Sore ini permainnya menjadi tidak karuan. Permainannya terusik karena pikirannya saat ini sedang kacau. Mendrible bolanya memang biasa saja, tetapi saat ia meng-shoot bola ke ring basket, selalu meleset. Padahal, Ify paling jago menembak bola ke ring. Malahan ia di juluki ‘penembak jitu’ oleh Gabriel, Cakka dan Deva. Sayangnya, dia tidak mengikuti ekstrakurikuler basket di sekolah. Tidak berminat katanya.
Saking kesalnya, ia membanting bola basketnya keras ke lantai lapangan basket itu hingga bola oranye itu terpental entah kemana. Ia mengacak-ngacak rambutnya kesal.

“arrgghhh” erangnya kesal sedikit berteriak. Kemudian ia terduduk lemas di tengah lapangan itu. Membenamkan wajahnya di kedua lutut yang ia tekuk.

“shit!” umpatnya kesal. Seseorang menyentuh pucuk kepalanya dengan lembut.

“Fy” panggil orang itu dengan halus.

“hmm” responnya singkat tanpa mengubah posisinya yang semula.

“lo mesti istirahat. Jangan banyak pikiran dulu.” Ify menghela nafas. Gabriel yang ternyata orang itu dengan mengapit bola basket ify yang tadi terpental jauh di lengan kirinya itu membujuk Ify untuk duduk di bawah pohon pinggir lapangan. Untung saja Ify hanya menurut karena tak bisa dipungkiri badannya masih terasa tidak enak.

Dengan hening mereka berdua duduk di bawah pohon rindang itu. Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut mereka.

“gue sandaran di pundak lo boleh ‘kan, Kak? Gue capek” ucap Ify dengan nada yang sedikit lemah. Gabriel menoleh dan tersenyum.

“kapanpun lo butuh pundak gue, gue selalu bersedia, Fy.” Ify tersenyum tipis meresponnya dan kemudian ia sandarkan kepalanya ke pundak Gabriel. Terasa nyaman dalam sandaran sang kakak. Ia memejamkan matanya guna menenangkan diri.

“gue denger apa yang lo bicarain sama papa tadi.” Ify kaget tetapi masih bisa ia sembunyikan.

“gue kira elo molor tadi” ucap Ify sekenanya. Gabriel tertawa kecil.

“emang sih tadinya, gue kebangun karena denger sayup-sayup orang lagi ngobrol, jadi gue dengerin deh sampai kelar.”

“lo nguping dong.”

“kagak, Cuma denger dikit doang.”

“sama aja, Kak Iel sayang.” Gabriel tertawa. Keheningan kembali terjadi. Ify tetap memejamkan matanya. Kepalanya kembali terasa pusing. Hawa dingin mulai menjalari tubuhnya.

“Kak?”

“iya?”

“tolong peluk gue dong. Dingin disini” ucap Ify sedikit lemas. Gabriel terllihat panik. Ia berpikir kalau Ify sakit lagi.

“lo sakit lagi, Fy? Kita pulang aja yuk?” Ify menggeleng.

“sekarang gue lagi males pulang, Kak. Peluk gue.” Kali ini nadanya terdengar manja. Gabriel mengalah. Ia memeluk Ify dengan hangatnya. Sekaligus memakaikan jaketnya yang semula ia lepas dari tubuhnya.

“gimana, Fy?”

“anget, Kak. Thanks ya” ucap Ify sembari tersenyum.

“iya, Fy, sama-sama. Tiduran aja gih, gakpapa. Nanti gue bangunin kalo udah mau magrib.” Ify menurut. Ia tertidur pulas di pelukan hangat kakaknya. Jika melihat mereka berdua mungkin orang sudah mengira kalau mereka sedang pacaran, tapi nyatanya tidak.

‘sifat lo udah kembali seperti dulu, walaupun sedikit. Gue harap itu adalah sebagai permulaan buat elo kembali ceria’ batin Gabriel tersenyum ketika ia mengingat Ify yang tadi sedikit mulai ber-argumen dengannya.

Langit telah memulai berwarna jingga. Matahari perlahan-lahan beranjak untuk pulang dari tempat persinggahannya. Gabriel melihat jam dari handphonenya. Pukul 17:20. Sudah hampir magrib. Ia bersiap untuk membangunkan Ify, namun niatnya urung ketika Cakka menghampiri.

“gue cariin kemana-mana, taunya disini.” Gabriel mengisyaratkan untuk menyuruhnya diam. “kenapa sih?” Cakka melirik ke arah Ify yang tertidur pulas.

“Fy? Udah mau magrib nih, kita pulang yuk.” Gabriel membangunkan Ify dengan lembut. Ify menggeliat kecil dan mengerjapkan matanya. Kepalanya bukan bertambah ringan, tetapi bertambah berat.

“Kak, sumpah, pucet banget” ujar Cakka ketika melihat wajah Ify yang begitu pucat. Gabriel bertambah panik. Ia menempelkan tangannya ke pipi kanan Ify, suhu badannya kembali naik.

“lo bandel sih, Fy, panas lagi ‘kan.” Ify menggeleng pelan.

“gue gakpapa, Kak” ucapnya dengan nada yang semakin melemah.

“ayo kita pulang. Pelan-pelan aja” ucap Gabriel sembari memapah Ify untuk berdiri dan kemudian melangkah pulang dengan Cakka yang mengiringi sambil membawa bola basket Ify.

Ify merapatkan jaket Gabriel yang ia kenakan. Kepalanya terasa sangat pusing.

“Kak, pusing banget” keluh Ify.

“masih kuat jalan?” tanya Gabriel yang menghentikan langkahnya.

“gak tau, Kak.”

“gendong aja, Kak” ucap Cakka yang juga sangat khawatir dengan kondisi adiknya itu. Gabriel berjongkok di depan Ify, bersiap untuk menggendongnya dari belakang. Ify mengaitkan kedua tangannya ke leher Gabriel, dan kemudian Gabriel berdiri dan melanjutkan langkahnya kembali yang masih setia diiringi Cakka.

“tiduran aja lagi, Fy” ucap Cakka. Ify memejamkan matanya, berniat untuk tidur. “akhir-akhir ini dia sering banget sakit” lanjut Cakka pelan, karena tak ingin membangunkan Ify.

“kebanyakan beban pikiran dan terlalu capek yang bikin dia begini” ujar Gabriel. Cakka menghela nafas. Ia memainkan bola basket di tangannya.

“setahu gue dulu, dia orang yang kuat. Gak gampang sakit.”

====A Turning====

Gabriel membaringkan Ify di kasurnya. Lumayan menguras tenaga menggendong adiknya sampai ke rumah, ralat, sampai ke kamarnya. Tak lama, Bi Ina datang membawa baskom kecil yang berisi air dingin dan handuk kecil. Disusul Shilla dan Deva masuk ke dalam kamar.

“sini, Bi, biar Shilla aja yang ngurus Ify.” Bi Ina mengangguk sopan dan berlalu pergi.

“Kak, Dev, gue mandi dulu deh, gerah.” Shilla mengangguk tanpa menoleh karena ia sedang meletakkan mengompres Ify.

“iya, Kak” sahut Deva. Gabriel melangkah pergi.

“kayaknya, Kak Ify belom sekolah besok kalo kondisinya masih begini” ujar Deva. Shilla mengendikkan bahu tak tahu.

“mungkin. Tapi kita lihat aja besok, dia orangnya bandel, Dev.” Deva mengangguk setuju.

“Kak, gue keluar dulu deh. Pr gue belom kelar.”

“ya udah sana kerjain dulu pr-nya.” Sepeninggal Deva, kini tinggal Shilla yang menemani Ify. Ia menatap miris wajah adiknya yang terlihat pucat. Banyak sekali rahasia-rahasia yang ia simpan disana. Sungguh pandai ia menyembunyikannya. Kerapuhan di dalam dirinya tidak terpancar di luar, sehingga mungkin orang-orang berpikir dia anak yang tegar.

‘kemana sih elo yang dulu?’ batin Shilla lirih. ‘ini bukan Ify yang gue kenal. Gue harap elo bisa seceria yang dulu.’ Shilla menghela nafas panjang.

You May Also Like

0 komentar