THIS OUR LOVE [2]


Cerita Sebelumnya:
“haha gakpapa lagi. Lo lucu.” Ify blushing. “Gue kelas XII Ipa 1.” Ify manggut-manggut mengerti. Ia tidak ingin lagi angkat bicara, bisa-bisa ia menyebutkan hal-hal yang aneh karena sikapnya yang selalu seperti itu. “gue duluan, Fy. Ada urusan di kantor guru. Seneng bisa kenal sama lo. Bye.” Debo berlalu. Ify kembali merona dibuatnya. Tak jauh dari tempat itu, seorang siswa menatap mereka dengan tatapan yang tak bisa dimengerti.

====

“si kunyuk satu itu kemana sih? Daritadi gak nongol-nongol” ujar Cakka sambil menyantap baksonya.

“dasar lo, Kka. Ketemu kerjaannya perang mulut terus, pas orangnya gak ada, elo cari-cari” celetuk Alvin. Cakka cengengesan.

“sepi tau, gak berantem sama dia.”

“lo cek dia, Vin, ke kelas” perintah Gabriel. Alvin menghela nafas dan kemudian berlalu.

“Woy, diem mulu lo” ujar Cakka yang niatnya ingin membuat Rio terkejut, namun Rio menoleh ke arahnya dengan ekspresi wajah datar. “asem lo, Yo. Kok gak kaget sih.” Rio melengos. Ia menyadari Alvin yang sudah tidak ada di sampingnya.

“Alvin kemana?”

“ya ampun, jadi tadi elo ngelamun aja kerjaannya, sampai-sampai lo gak tau Alvin kemana” cerocos Cakka.

“diem deh lo. Gue gak nanya elo, Kka. Gue nanya Iel.” Cakka manyun.

“Alvin lagi ngecek Ify ke kelas. Daritadi gak nongol-nongol tuh orang.” Rio mengangguk mengerti. Ia kembali menyeruput es jeruknya, tetapi fikirannya terus melayang.

====

Alvin melangkah santai menuju kelas. Gayanya yang cool membuat semua siswi sedikit terpana. Ditambah lagi tampangnya yang mendukung. Tiba-tiba ia berhenti mendadak. Ia bingung, kenapa hatinya seperti memanas melihat adegan itu.

‘gue kenapa sih?’ batin Alvin heran. ‘apa mungkin gue...ah! itu gak mungkin.’ Ia terus melihat kedua insan tersebut terlebih terus menatap ke satu titik. Ia tersenyum kecil ketika melihat wajah siswi itu malu-malu yang menurutnya lucu dan menggemaskan. Akhir-akhir ini ia sering merasakan jantungnya berdegup kencang ketika ia dekat dengannya. Menatap matanya yang bening. Ia terus menatapnya hingga tak sadar seseorang itu mendekat. Siswi itu menatap Alvin heran.

“Vin? Lo kenapa?” Alvin bergeming, ia terus menatap siswi itu dengan senyuman misteriusnya. Siswi itu menepuk keras pundak Alvin yang membuat Alvin tersadar.

“aduh, kenapa sih, Fy? Sakit tau.” Ify-siswi tadi-melongo.

“lo tuh yang kenapa? Ngeliatin gue kayak gitu banget, gue ‘kan malu” ujar Ify yang membuat sebuah merah merona muncul di kedua pipinya. Alvin mencubit pipi Ify gemas. “aduuuhh, sakit Alpiinnnn” ujar Ify kesal sembari mengejar Alvin yang sudah berlari menuju kantin lebih dulu.

====

Sudah dua minggu mereka belajar di SMA Valyan School Intern. Hari ini Ify sangat malas mengikuti pelajaran di sekolah, tidak tahu kenapa. Padahal hari ini pelajaran yang sangat ia sukai. Dan dengan malas-malasan ia mengikuti pelajaran hari ini. Beberapa kali ia menghela nafas. Pikirannya sudah melambung jauh. Mungkin pengaruh dari kejadian kemarin. Ify menegakkan bukunya guna menutupi wajahnya yangia tidurkan di meja. Rio menoleh karena sedari tadi merasa ada yang aneh dengan gadis satu itu. Ia menatap Ify seakan bertanya –kenapa?- Ify menggeleng pelan. Rio mengangguk mengerti.

“Alyssa Saufika” panggil Ibu Jully yang sedang mengajar saat ini. Ify yang merasa dipanggil langsung menegakkan badannya kembali.

“saya, Bu.”

“kamu mengantuk? Daritadi Ibu perhatikan kamu seperti tidak semangat belajar” ujar Ibu Jully lembut sambil mendekat ke arah Ify. Ify salah tingkah, menggaruk-garuk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. “ya sudah, kamu cuci muka saja, biar lebih segar.” Ibu Jully tersenyum.

“iya, Bu.” Ify berjalan gontai ke luar kelas. Sahabat-sahabatnya melihat Ify aneh. Tidak seperti biasanya.

“kenapa dia, Yo?” tanya Gabriel berbisik. Rio hanya mengendikkan bahunya tak tahu.

====

Ify keluar toilet sedikit lebih segar.

“huft, gara-gara kemarin nih gue begini” ujar Ify dalam langkahnya menuju kelas. “Kak Debo matahin semangat gue deh.” Wajahnya kembali murung. Ia melihat jam putih di tangan kirinya. Sebentar lagi akan bel istirahat. Dan tak lama dari itu, bel berbunyi. Semua murid berbondong keluar kelas, setelah mendahulukan guru yang mengajar keluar. Ify mengurungkan niat menuju kelas. Ia melangkah menuju taman belakang sekolah.

====

“Ify kemana sih? Daritadi gak balik-balik” ujar Gabriel yang mungkin sedikit khawatir.

“nyasar dianya” celetuk Cakka. Rio menoyor Cakka.

“gak mungkin lah. Udah dua minggu sekolah disini, masa’ nyasar” ucap Rio.

“di kantin mungkin” ujar Alvin. Semua mengangguk setuju. Dan melangkah serempak menuju kantin. Namun, sesampainya mereka disana, tidak ada satupun dari mereka yang melihat keberadaan gadis itu.

“gak ada” ujar Alvin.

“ya elah tuh anak, minggat kemana sih” ucap Cakka yang sebenarnya protes karena lapar. Coba saja Ify disini, pasti dia langsung memesan mie ayam.

====

Ify tengah duduk di bangku panjang taman belakang sekolah. Ingatannya terus-menerus memutar memori kejadian kemarin. Padahal ia sangat enggan sekali untuk mengingatnya. Kejadian kemarin hanya membuatnya sakit hati.

“ada apaan sih, Deb? Ngapain kita kesini?” Ify mendengar samar-samar suara seseorang. Orang itu juga menyebut ‘Deb.’ Ify berpikir kalau itu Debo. Ia menoleh ke sumber suara. Tak jauh dari tempatnya, ia melihat Debo yang tengah menarik tangan seorang siswi. Dadanya yang sesak bertambah sesak melihat adegan itu. Dengan diam, ia terus menonton apa selanjutnya yang akan terjadi.

“gue mau ngomong sama lo” ucap Debo. Siswi tersebut kaget ketika perlahan Debo menggenggam kedua tangannya. Ify pun tak kalah terkejutnya.

‘jadi dia orangnya, Kak. Yaaa..memang sih dia lebih cantik dari gue’ batin Ify lirih.

“Oik, aku sayang sama kamu. Cinta sama kamu. Udah lama banget. Sejak kelas sebelas. Aku ngerasa tenang, nyaman kalau ada di dekat kamu. Aku memang bukan cowok romantis, Ik. Aku cowok yang suka langsung to the point gitu aja. Jadi, kamu mau gak jadi pacar aku?” Siswi yang bernama Oik tersebut tersipu malu. Terlihat semburat merah muncul di kedua pipinya. Perlahan Oik mengangguk yang membuat dada Ify semakin sesak. Tanpa perintah, butiran bening itu jatuh dari pelupuk matanya. Debo terlihat bahagia, telrihat gembira. Ify mengalihkan pandangannya ketika melihat Debo memeluk mesra Oik. Ia menunduk dalam-dalam. Menyembunyikan air matanya. Ia terus menghapus air mata itu, tetapi tetap saja masih ingin mengalir.

“ternyata lo disini. Kita cariin kemana-mana juga” ujar Cakka yang mengagetkan Ify. Ia segera menghapus jejak-jejak air matanya.

“ngapain disini, Fy? Kita tungguin lo gak balik-balik ke kelas” sambung Alvin.

“Fy, lo kenapa sih?” tanya Gabriel khawatir yang melihat Ify terus menunduk. Ify menggeleng pelan tanpa suara. Rio mendongakkan wajah Ify. Mereka terkejut.

“lo nangis, Fy?” tanya Cakka tidak percaya. Bisa juga ternyata sahabatnya ini menangis -,-

“lo kenapa, Fy? Cerita ke kita” ucap Rio lembut. Ify kembali menangis.

“huwaaaaaaa...gue..gue..hiks, gue sakit hatiiiiiii” isak Ify. Sahabat-sahabatnya itu berusaha menenangkan karena takut ada yang lihat, dan mereka lah yang dituduh membuat Ify menangis.

“jangan kuat-kuat, Fy, nangisnya, nanti dikira kita ngapain elo lagi” ucap Alvin yang diangguki setuju oleh yang lain.

“lo sakit hati kenapa?” tanya Gabriel.

“gara-gara Kak Debo.” Semuanya mengernyitkan keningnya bingung.

“Debo? Siapa Debo?” tanya Cakka.

“kakak kelas kita. Dari kemarin gue sakit hati gara-gara dia. Makanya gue hari ini males buat ke sekolah.”

“memangnya kemarin ada kejadian apa?” Rio angkat bicara. Ify mulai menceritakan kejadian kemarin.

====

Hari ini Ify terus-terusan mematut dirinya di cermin kamar. Hatinya terasa berbunga-bunga. Siapa yang sangka jika Debo mengajaknya jalan hari ini. Katanya sih ada yang ingin ia bicarakan. Pikiran Ify sudah melayang kemana-mana.

‘mungkin Kak Debo mau nembak gue..’ batin Ify yang ngawur. ‘ah tapi masa’ sih? Kenal aja baru dua minggu.’ Ia menyisir rambut panjangnya dan kemudian menyematkan jepit kecil di rambutnya yang warna senada dengan bajunya.

‘tapi bisa aja kalo Kak Debo udah kepincut sama gue, hihihi. Mudah-mudahan deh’ batinnya lagi. Ia kembali mematut dirinya di cermin. Yap! Perceft, pikirnya. Tak lama, suara bel rumahnya berbunyi. Dengan segera Ify menyambar tas kecilnya di atas kasur dan bergegas turun ke bawah.
Perlahan ia membuka pintu rumah. Ify meringis ketika melihat tampilan Debo yang sangat menawan menurutnya. Lagi-lagi ia terpesona.

“elo cantik, Fy.” Pipi Ify memerah. “ya udah, yuk kita pergi. Keburu sore.” Ify mengangguk dan mengikuti Debo dari belakang. Hatinya ingin sekali kalau Debo menggandeng tangannya lembut, tapi yaa apa boleh buat, yang penting jalan sama Debo. Selama perjalanan, mereka tak henti bersenda gurau. Dan akhirnya, Debo memberhentikan mobilnya di suatu taman.

“kok tamannya sepi sih, Kak?” tanya Ify sambil melangkah keluar dari mobil Debo. Ia berharap kalau Debo berkata ‘tamannya gue boking, biar Cuma kita berdua disini’ tapi..

“memang taman ini selalu sepi, Fy. Gak tau deh gue kenapa” jawab Debo yang membuat Ify sedikit kecewa.

‘lo terlalu berharap, Fy’ batin Ify mengeluh. Debo mengajaknya duduk di bukit taman itu. Dari bukit itu, terlihat jalanan yang masih banyak kendaraan. Entah jalan apa dan dimana, Ify tidak tahu dan tidak mau ambil pusing untuk tahu -___-

“jadi?” Debo menoleh dan mengernyit heran. Ify mengerti arti tatapan itu. “jadi maksud lo ngajak gue kesini, ada apa, Kak?” Debo kembali menoleh ke depan. Menatap lurus.

“oh itu, gue..” kalimat Debo yang menggantung membuat Ify semakin ‘dag-dig-dug’ saja. Ia terlihat gugup.

‘aduh, Kak Debo ngomong gitu aja lama bener deh’ batin Ify.

“gue mau curhat sama lo, Fy. Siapa tau lo bisa kasih gue solusi.” Ify kecewa. Ternyata, ia hanya ingin curhat. Tanpa sadar, Ify mendesah nafas berat. “gue lagi suka sama cewek nih” lanjut Debo yang mengembalikan ‘dag-dig-dug’nya jantung Ify.

“gue pengen banget nembak dia segera. Takut keburu diambil orang.” Ify semakin gugup. “kira-kira, waktu yang tepat buat nyatain perasaan gue ke dia, kapan ya, Fy?”

“sekarang” ceplos Ify. Debo menoleh dengan alis yang bertaut. “eh? Ma..maksud gue..sekarang elo mantepin hati dulu, kalo emang elo udah yakin, baru deh lo tembak dia. Hehe.” Ify merutuki tindakannya tadi.

‘aduh, Ify, bego banget sih lo. Keceplosan mulu deh.’ Debo manggut-manggut mengerti.

“bener juga lo, Fy.” Ify sangat penasaran siapa yang Debo sukai saat ini.

“ngomong-ngomong, cewek yang lo suka itu siapa, Kak?” Debo tersenyum misterius ke arahnya. Ify semakin gugup saja. Apa mungkin dia yang Debo suka. Bisa jadi, pikirnya sudah jauh melayang.

“dia sekolah di SMA VSI juga kok.” Mendengar itu, Ify semakin kepedean. “akhir-akhir ini gue deket banget sama dia.” Ah! Hati Ify semakin kegirangan. “orangnya lucu, imut, suka ceplas-ceplos.”

‘gue bangeetttt’ batin Ify berteriak.

“Namanya..” Ify menunggu tak sabar. Debo menghela nafas sejenak dan kemudian menoleh ke depan dengan senyuman yang tak lepas dari wajahnya. “..Oik Cahya.”

PRANG! Hatinya hancur saat mendengar Debo menyebut nama seseorang. Dadanya menjadi sesak. Ia menunduk diam. Kecewa? Sangat.

“dia sekelas dengan gue.” Air mata Ify ingin menyeruak keluar, namun tetap ia tahan. Tidak mungkin ia menangis disaat seperti ini. Debo menoleh ke arahnya. “thanks ya, Fy, solusinya. Doain biar gue diterima sama dia.” Ify mendongak dan memaksakan untuk tersenyum. Ia mengangguk dengan berat.

“iya, Kak, gue doain.”

====

Rio, Alvin, Cakka, dan Gabriel yang mendengar cerita miris Ify tersebut, ikut sedih. Mereka bisa merasakan sakit hati dan sesaknya gadis itu. Rio yang duduk disamping Ify, merangkul hangat gadis itu. Berusaha menenangkannya. Sesuatu yang panas menjalar di hati Alvin dan Gabriel.

‘gue kenapa sih’ batin Gabriel yang bingung dengan perasaannya saat ini. Ify menenggelamkan wajahnya di pundak Rio dan menangis sejadi-jadinya.

“Ify jangan nangis dong. Gue ‘kan jadi ikut sedih” ujar Cakka yang juga tak tega melihat sahabatnya itu rapuh.

“iya, Fy. Cowok gak Cuma satu kok” sambung Alvin yang sebenarnya panas melihat adegan Rio dan Ify itu.

“bener, Fy. Lo juga gak sendiri, masih ada kita-kita” ujar Gabriel.

“iya, Fy, udahan ya nangisnya” ucap Rio lembut yang sudah jantungan gara-gara ia merangkul Ify dan terlebih lagi, Ify membenamkan wajah cantik itu di pundaknya. Ify menegakkan kepalanya kembali dan tersenyum lirih. Ia menghapus air matanya yang terurai banyak.

“makasih ya semua. Kalian memang sahabat gue yang paliinngg baik” ucap Ify dengan suaranya yang serak. Mereka tersenyum.

‘gue mau bukan hanya sekedar sahabat, Fy’ batin Rio dan Alvin yang serempak. Gabriel sedikit kecewa karena hanya dianggap sebagai sahabat. Ia sendiri pun bingung dengan perasaannya saat ini.

“naahh gitu dong, Fy. Senyuumm, elo tambah jelek kalo nangis” celetuk Cakka. Ify menatap Cakka garang.

“Cakkaaaaaa, lo cari ribut aja sama guee. Gue lagi galau juga” ucap Ify yang kembali ingin menangis.

“eeehh, iya iya. Gue hari ini gak cari ribut sama elo deh. Jangan nangis lagi tapi.” Ify tersenyum dan mengangguk. Ia melihat baju Rio yang basah.

“ya ampun, Yo, baju lo basah gara-gara gue nangis tadi. Sini gue bersihin” ucap Ify sambil membersihkan baju Rio dengan saputangannya yang baru saja diambil dari saku rok abu-abunya itu.

“eh? Gakpapa, Fy, biar gue aja” ucap Rio yang mengambil alih saputangan Ify.

“udah bel tuh, masuk yuk” ucap Alvin yang ingin segera pergi dari pemandangan yang membuatnya panas itu. 

To Be Continued~

You May Also Like

0 komentar