THIS OUR LOVE [4] (Special Fyel)
Cerita Sebelumnya:
Malam hari di rumah, Ify terlihat
gelisah. Tidak bisa diam. Tidak ada kerjaan saat ini. Membosankan untuknya.
Deva yang ada di dekatnya saat itu, menatap kakaknya heran. Akhirnya, Ify
berlalu menuju kamarnya yang menambah membuat Deva melongo. Ia geleng-geleng
melihat tingkah aneh Ify. Sungguh ajaib!
“kenapa lo, Dev? Geleng-geleng.
Ngedugem?” ucap seseorang tiba-tiba yang mengagetkan Deva.
“buset, Kak Iel. Lo ngagetin gue aja
deh.” Gabriel yang ternyata orang itu cengengesan. “mau ngapain lo kesini?”
“yaelah, Dev, gitu amat sama gue. Amat
aja gak gitu sama gue.” Deva melempar bantal sofa ke arah Gabriel dan tepat
mengenai wajahnya. “sadis lo kayak Ify.” Deva memeletkan lidahnya.
“lo kesini ada tujuan apa sih, Kak?
Tumben banget malem-malem begini. Sendirian lagi. Biasanya juga pada rame,
kayak mau demo.” Gabriel sekarang tidak meragukan lagi kalau Deva adalah adik
dari Ify. Karena, cerewetnya sama persis!
“Ify ada?”
“tuh dikamar.” Gabriel melangkah menuju
kamar Ify.
“ngapain lo, Kak? Jangan macem-macemin
kakak gue lo di kamar.”
“kagak. Malahan gue yang dimacem-macemin
sama dia. Orangnya ‘kan sama kayak elo.” Gabriel terus berlalu tanpa
menghiraukan dumelan dari Deva. Setelah sampai di depan kamar Ify, ia mengetuk
pintunya. Takut kalau ia buka langsung, terjadi suatu kejadian yang tidak
mengenakkan.
“Fy? Temenin gue beli buku yuk.” Dengan
cepat pintu itu terbuka dengan seorang gadis yang menyambutnya dengan wajah
ceria.
“boleh. Gue bosen di rumah. Sebentar,
gue ganti baju dulu. Lo sana, jangan ngintipin gue.”
“yaelah, gak mau juga gue ngintipin
elo.” Gabriel kembali melangkah menuju ruang tamu dengan pikirannya yang terus
melayang. Senyuman kecil tergambar di wajahnya mengingat sikap Ify yang
menurutnya lucu itu.
‘Ify, Ify. Kayaknya beneran deh, gue
suka sama lo’ batin Gabriel.
====
Di toko buku, Ify selalu menghilang dari
hadapan Gabriel. Memang dasar anaknya tidak bisa diam. Jadi, Gabriel pun
terus-terusan mencari Ify ketika Ify tidak ada dalam penglihatannya.
“aduh, Fy, lo ngilang mulu deh.” Pandangan
Ify terus terfokus pada rak buku-buku novel itu.
“gue bukan anak kecil, Yel. Elo cari
buku lo sana gih, gue gak bakalan ilang kok.” Gabriel menggaruk-garuk
tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Memang benar, dia bukan anak kecil
lagi. Hanya saja, Gabriel tidak ingin jauh darinya.
“gue denger-denger sih, disini juga
banyak penjahatnya, Fy. Suka nyulik anak-anak cewek kayak lo gitu.” Ify menoleh
dengan raut wajah takut.
“yang bener lo, Yel?” Yes! Dia memang
mudah untuk dibohongi, pikir Gabriel girang. Gabriel mengangguk dengan wajah
serius. Ify menarik tangan Gabriel untuk mendekat padanya. Gabriel yang
diperlakukan seperti itu, sontak kaget. Wajahnya memanas. “tungguin gue. Gue
mau cari novel dulu. Baru kalo sudah itu, gue temenin lo cari buku yang lo
cari.” Gabriel hanya menurut. Bagaimana tidak menurut, karena ini yang dia
inginkan. Berada pada jarak dekat dengan gadis yang kini tengah ia sukai.
Jantungnya sedari tadi sudah berdetak tidak karuan. Tangan Ify pun sepertinya
enggan lepas dari tangan Gabriel yang terus menggenggam, karena perasaan takut
tadi.
“Yel, novelnya udah dapet nih. Ayo, cari
buku lo sekarang. Nanti penjahatnya keburu nyulik gue lagi” ucap Ify yang
ngawur. Gabriel hanya tertawa kecil mendengarnya. Sahabatnya satu ini mudah sekali
dibohongi, untung dengan Gabriel. Bagaimana kalau dengan orang lain?
Malam itu seperti malam yang
menyenangkan bagi Gabriel. Karena, selama ia mencari buku, Ify tidak melepaskan
genggamannya sekalipun. Jika dilihat-lihat, mereka seperti orang pacaran.
Terlihat juga mereka menikmati. Terkadang mereka bersenda gurau ketika sedang
mencari buku itu.
“udah ketemu nih buku-nya. Ayo, kita ke
kasir” ajak Gabriel.
“jangan tinggalin gue, Yel. Nanti gue
diculik” ucap Ify ketakutan ketika Gabriel meninggalkan begitu saja. Gabriel
balik lagi ke Ify dengan terkekeh. Lucu juga melihat tingkahnya seperti itu.
“haha takut banget sih lo. Siapa juga
yang mau culik elo, Fy.” Ify cemberut. Kemudian Gabriel menggenggam hangat
tangan Ify dan menariknya menuju kasir. “ayo deh. Ada gue disini.” Sesampainya
di kasir, Ify merapatkan jaraknya dengan Gabriel. Sampai-sampai mbak kasirnya
bilang begini...
“kalian pacaran ya?” Gabriel dan Ify
melongo mendengarnya. “cocok kok.” Mereka semakin cengo. Wajah Gabriel sudah
memanas saat itu. Ify menggaruk-garuk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
“makasih, mbak” ucap Ify ramah ketika
menerima dan membayar buku itu. Mbak kasir itu tersenyum.
“langgeng ya” ucapnya yang sungguh
menggelikan.
====
“buset, Yel, mbak-mbak kasir itu seneng
banget godain kita tadi” ucap Ify dalam perjalanan pulang mereka. Gabriel hanya
tertawa merespon pernyataan Ify tadi. “emang keliatan kita pacaran ya?” Gabriel
menoleh ke arah Ify sekilas dengan tersenyum dan kembali fokus menyetir.
“mungkin. Habis elo tadi deket-deket gue
terus.”
“iihh, gue ‘kan takut kalo nanti gue
diculik.” Ify cemberut dan Gabriel tertawa.
“haha lo lucu deh, Fy.” Ify memandangnya
heran. Lucu? Lucu apanya coba, pikirnya.
“lucu apaan sih, Yel?”
“iya, lo lucu, mau banget dibohongin
sama gue.” Ify mendelik sebal ketika ia tahu hanya dibohongi oleh Gabriel. Ia
memukul-mukuli Gabriel. “eh, eh..sakit, Ify. Nanti nabrak nih.”
“biarin” ucap Ify cemberut sembari
memalingkan wajahnya ke arah luar dengan melipat kedua tangannya di dada.
“yaelah, ngambek nih ceritanya?”
“tau deh.” Gabriel tertawa kecil melihat
tingkah laku gadis itu.
“jangan ngambek dong, Fy. Gue ‘kan Cuma
bercanda.” Ify tidak merespon. “gue ada yupi deh tadi. Baru gue beli.” Ify yang
mendengar kata yupi langsung menoleh ke arah Gabriel dengan wajah berbinar.
Gabriel terkekeh.
“jangan bilang lo bohongin gue lagi.”
“haha enggak. Bener deh gue ada yupi,
nih” ucap Gabriel sambil mengeluarkan sebungkus yupi entah dari mana asalnya.
Ify ingin merebut bungkus permen yupi yang lumayan besar itu. “eh, entar dulu.”
Ify cemberut.
“elo jangan ngambek lagi.” Ify
mengangguk semangat dan kembali ingin merebut yupi tersebut. Lagi-lagi Gabriel
mengelak. Ify kembali manyun. “janji?”
“iyaaa, janji sejanji-janjinya. Iel
maahh, gue mau yupi” rengek Ify sambil menarik-narik lengan jaket Gabriel.
“iya deh. Nih.” Gabriel memberikan yupi
tersebut ke Ify tanpa mengalihkan konsentrasinya dalam menyetir. Ify
menerimanya dengan girang. Gabriel hanya geleng-geleng dan tertawa kecil
melihat tingkah lucu Ify.
To Be Continued~
To Be Continued~
0 komentar