A Turning Part 13
A Turning àPart 13ß
(Shilla: well, lo butuh waktu untuk itu. Lebih baik lo
instropeksi diri)
====A Turning====
Ify yang baru saja pulang sekolah dengan Gabriel, heran
melihat mobil mama nya yang sudah bertengger di depan garasi. Biasanya, mama
pulang sudah larut malam. Sekitar jam 10. Tapi, ini...
“kok mama udah pulang, Kak?” tanya Ify heran pada
Gabriel. Gabriel yang baru saja keluar dari mobilnya juga melihat mobil mama.
“gue juga gak tahu, Fy. Tumben banget.” Ify segera masuk
ke dalam rumah. Ia mencari-cari Bi Ina yang tengah bekerja di dapur.
“Bi” panggil Ify. Bi Ina menoleh.
“ada apa, Non?” tanya Bi Ina.
“mama udah pulang? Jam berapa pulangnya? Terus bibi tau
gak kenapa mama cepetan pulang hari ini?”
“iya, Non. Sekitar jam 9 tadi. Bibi juga kurang tau, Non.
Tapi pas nyonya pulang tadi mukanya rada pucet gitu. Pas bibi tanya kenapa,
nyonya Cuma bilang dia gak enak badan.” Ify menjadi khawatir. Apa yang
ditakutinya selama ini terjadi. Ia tidak ingin melihat mama nya sakit. Melihat
mama nya menderita.
“Mama sekarang dimana, Bi?”
“di kamarnya, Non.” Ify segera berlari menuju kamar sang
mama. Sesampainya ia membuka pintu kamar itu pelan-pelan. Kemudian ia melangkah
masuk. Terlihat mama nya yang sedang terbaring lemah. Air matanya menetes,
tetapi dengan sigap ia menghapusnya. Ia memposisikan dirinya duduk di tepi
ranjang tempat mama terbaring.
“Mama” panggil Ify lembut. Sang mama membuka matanya
perlahan. Melihat anak gadisnya disana, ia tersenyum. “Mama kenapa sih bisa
sakit begini?”
“Mama gakpapa, sayang. Mama Cuma kecapek’an aja” ucap
Mama sembari mengusap lembut rambut Ify. Ify menatap Mama nya lirih. Teringat
kejadian dulu dimana Mama nya jatuh sakit akibat dari perpisahannya dengan
papa.
Flashback On---
Ify yang masih berumur 8 tahun terus menangis melihat
Mama nya terbaring lemah. Saat ini sang Mama sedang diperiksa oleh dokter yang
sengaja dipanggil oleh Shilla.
“gimana, Dok?” tanya Shilla kepada Dokter itu yang
bernama Indra.
“Mama kamu hanya demam karena dari banyak pikiran dan
kelelahan” jawab Dokter Indra. Kemudian dia beralih ke Mama di ranjang itu.
“Sebaiknya Ibu jangan terlalu banyak pikiran. Dan juga
kurangi aktivitas yang kurang penting demi menjaga stamina Ibu sendiri” pesan
dari Dokter Indra. Mama hanya mengangguk mengerti.
“Terima kasih, Dok” ucap Mama lemah. Dokter Indra
mengangguk. Ia berpaling lagi ke Shilla.
“Ini obat untuk Mama mu. Diminum dua kali sehari sehabis
makan.” Shilla mengangguk mengerti. “Baiklah kalau begitu. Saya permisi dulu.
Mari Bu.” Dokter Indra berlalu pergi. Ify yang sedari tadi hanya bisa diam dan
terisak.
“Mama cepet sembuh yaa..hiks. Biar kita bisa main
sama-sama lagi” ucap Ify. Mama nya hanya tersenyum dan kemudian merengkuh gadis
kecilnya itu.
“Pasti, sayang.”
---Flashback Off
“Ify?” panggil Mamanya. Ify tersentak dari lamunannya.
“eh? Mm.. mama udah minum obatnya?” ucap Ify yang melirik
ke arah obat di meja rias Mama.
“sudah kok. Sehabis makan tadi.” Ify mengangguk.
“Mama tiduran aja dulu deh. Istirahat. Jangan mikirin
apa-apa dulu.”
“iya, sayang. Kamu makan sana. Pasti kamu belum makan
siang ‘kan? Baju sama tas aja belum lepas tuh.” Ify mengangguk dan tersenyum.
====A Turning====
Ify tengah menonton tv di ruang keluarga bersama Cakka,
Gabriel, Shilla dan Deva. Lengkap. Suasana juga sedang riuh. Tetapi tetap saja
gadis satu itu hanya diam. Menatap kosong ke arah tv yang dia sendiri tak tahu
acara apa itu. Gabriel, Cakka dan Deva yang sedang bersenda gurau,
tertawa-tawa. Sedangkan Shilla yang sedang membaca sebuah majalah. Deva yang
menyadari kakak nya itu hanya diam, menyikut pinggang Cakka yang ada di sebelahnya.
“aduh, Deva. Sakit woy. Maen nyikut aja lo. Sikut lo
tajem tuh” ringis Cakka. Deva mendengus kesal. Dasar kakak nya yang satu ini,
memang tidak bisa diajak kompromi. “lo kenapa sih?” tanya Cakka yang masih
mengelus-ngelus pinggangnya yang sakit. Deva menunjuk Ify. Cakka, Gabriel, dan
Shilla-yang tadi mendongakkan kepalanya akibat
mendengar ringisan Cakka-mengikuti arah tunjuk Deva.
“emang Ify kenapa? Dia ‘kan lagi nonton. Biarin aja lagi”
ucap Cakka yang tidak mengerti. Gabriel menoyor Cakka. “apaan sih? Aduh, hari
ini gue dianiaya oleh dua curut.” Shilla meletakkan majalah yang dibacanya dan
kemudian melangkah menghampiri Ify dan menariknya keluar. Ify tersentak kaget.
“ikut gue bentar yuk” ajak Shilla. Ify hanya menurut,
mengikuti langkah kaki kakaknya itu.
====A Turning====
Shilla dan Ify duduk di bangku taman komplek perumahan
mereka. Sedari tadi mereka hanya diam. Bergelayut terus dengan pikiran
masing-masing. Ify menyebarkan titik pandangannya ke seluruh penjuru taman ini.
Terlihat menikmati taman yang kini cukup ramai dikunjungi orang.
“Fy” panggil Shilla. Ify menoleh dan menatap Shilla
dengan arti –ada-apa?- “Mau cerita?” Ify mengernyit bingung.
“cerita?” Shilla mengangguk dan mengarahkan pandangannya
lurus ke depan.
“daritadi gue liat lo kayak terbebani.” Ify menghela
nafas panjang. Berusaha menghilangkan sesak yang telah bersarang lama di
dadanya. Ia memalingkan wajahnya sama seperti Shilla. Menatap lurus ke depan,
namun kosong.
“gue Cuma khawatir ngeliat mama sakit.”
“iya, gue tau. Gue juga begitu. Yang gue maksud masalah
yang lain.”
“gak ada masalah yang lain, Kak.”
“jangan bohong, Fy. Gue tau elo, gue ini Kakak lo.” Ify
membuang nafas berat.
“kenapa ya, Kak, gue berat buat terima ‘dia’ lagi di
keluarga kita? Gue benci banget sama ‘dia’? Gue bingung. Sedangkan kalian semua
sudah maafin ‘dia’ sepenuhnya.” Shilla tahu siapa yang disebut Ify tadi ‘dia.’
“gue gak tau, Fy. Yang tau jawaban semuanya adalah hati
lo sendiri.”
“terus gimana cara yang terbaik buat gue?”
“dan itu lo tanya sendiri sama sikap lo. Gimana nentuin
sikap yang terbaik untuk semuanya.” Ify menunduk diam. Ia merasa ia sudah
sangat kejam membiarkan papa nya seperti itu. Sebenarnya, ia masih sayang
dengan papa nya, namun rasa sayang itu seakan musnah ketika ia melihat papa nya
dan wanita lain di cafe waktu itu. “kenapa lo gak coba buat terima ‘dia’ lagi?
Bukannya yang lo mau keluarga yang utuh? Yang bahagia?”
“gue gak tau, Kak. Rasanya gue pengen banget kayak dulu
lagi, tapi hati gue terus berontak.”
“well, lo butuh waktu untuk itu. Lebih baik lo
instropeksi diri.” Ify mengangguk mengerti. “lo kerja di cafe ya?” Ify sontak
kaget atas pertanyaan Shilla.
“lo tau darimana?” Shilla mengendikkan bahu.
“beneran lo kerja di cafe?” Lagi-lagi Ify menghela nafas
panjang. Ia mengangguk pelan. “kenapa harus kerja, Fy? Lo ‘kan masih sekolah.”
“gue Cuma mau bantu mama, Kak. Gue gak bisa ngeliat mama
yang kerja keras banget buat keluarga. Dan gue berusaha coba untuk ngebantu.
Dan akhirnya terjadi yang paling gak gue pengenin dari dulu, mama sakit.”
Shilla terdiam mendengar penuturan dari Ify. Sungguh mulia hatinya. Shilla
meraih tangan Ify dan menggenggamnya hangat. Shilla tersenyum.
“lo anak baik, Fy.” Ify pun ikut tersenyum tipis. “dan
gue mohon, lo berhenti dari kerja, ya?” Ify terbelalak.
“tapi kenapa, Kak?”
“masalah ini udah cukup jadi beban lo, jangan tambah lagi
beban yang buat fisik lo semakin lemah. Lo tau, sewaktu lo sakit kami semua
khawatir banget.”
“gak bisa, Kak. Gue gakpapa kali. Waktu itu gue Cuma
kecape’an aja.”
“maka dari itu, lo berhenti kerja biar gak kecape’an.”
Ify menggeleng.
“enggak, Kak. Izinin gue ngejalanin ini semua. Gue Cuma
mau bantu mama. Gak lebih dari itu. Dan gue juga gak bakal pakai uang gaji gue
Cuma untuk foya-foya gue. Uang itu untuk keluarga kita. Semenjak ‘dia’ pisah
dari mama, gue tau, mama selalu kerja keras banget untuk keluarga. Dan gue Cuma
pengen bantu mama.” Shilla menatapnya lirih. “Please. Gue jamin, gue bakal
baik-baik aja” mohon Ify sembari tersenyum. Shilla mengangguk ragu dan membalas
senyum adiknya itu.
====A Turning====
Tidak tahu kenapa malam ini, gadis itu ingin sekali
mendengar suara seseorang. Ia sudah
menimbang-nimbang apakah ia akan menelfon orang itu atau tidak.
‘telfon, enggak, telfon, enggak...kenapa gue ngebet
banget sih buat denger suara dia malam ini?’ batin gadis itu bimbang. Setelah
beberapa menit, akhirnya ia menelfon seseorang itu. Terdengar nada sambung yang
tidak sampai hingga lima kali, sambungan telfon itu diangkat.
“halo?” sapa orang itu dengan nada girang. Namun gadis
itu tetap diam. Kenapa bisa ia menelfonnya, pikir gadis itu. “hey, kenapa?”
tanya orang itu lembut.
“eng, gu..gue..”
====A Turning====
Rio yang sedang bermain gitar di balkon kamarnya,
tiba-tiba langsung memikirkan gadis pujaan hatinya. Ia berhenti bermain gitar,
kemudian menengadahkan kepalanya menatap taburan bintang-bintang di langit yang
gelap itu. Ia menghela nafasnya berat.
‘dia terlalu misterius buat gue. Terlalu banyak rahasia
yang disimpan di mata beningnya’ batinnya galau. Ia tersentak ketika getaran
handphone di sakunya bergetar. Matanya terbelalak melihat nama yang tertera di
layar handphonenya. ‘hari ini hari apa sih? Kayaknya sih gue hoki banget’
batinnya lagi. Ia segera mengangkat panggilan itu dengan hati yang
berbunga-bunga. Jantungnya mulai berdetak tidak karuan, namun ia berhasil
menyembunyikan kegugupannya.
“halo?” sapanya. Tetapi tidak ada balasan sapaan dari
seberang telfon sana. Merasa tidak ada balasan, Rio mendadak khawatir. “hey,
kenapa?” tanya Rio lembut.
“eng, gu..gue..”
“lo kenapa, Fy?” Ify yang ternyata orang menelfon Rio
itu menghela nafas berat.
“gue gak tau, Yo” ucapnya lirih. “gue gak tau kenapa
malam ini gue rasanya pengen banget denger suara lo” lanjut Ify pelan namun
dapat terdengar oleh Rio. Rio yang mendengarnya justru senang, namun ada
sesuatu yang ia tidak tahu apa, mengganjal di hatinya.
“lo ada masalah, Fy? Mau cerita?” Terjadi keheningan
beberapa menit. Rio membiarkan Ify diam, ia tahu bagaimana perasaan gadis itu
saat ini.
“Yo.”
“hm?”
“perasaan lo gimana sih kalo seseorang yang lo sayang,
yang lo cinta, tiba-tiba ngehianati lo gitu aja. Ngelupain semua
janji-janjinya?” Rio mengernyit heran. Namun dengan segera ia memberi
jawabannya.
“yaa gue bakal ngerasa kecewa, Fy. Sakit banget pasti
kalo dikhianatin gitu aja. Seharusnya seseorang itu jangan memberikan janji
kalo janji itu gak bisa dibuktiin. Karena sekarang semua orang bukan hanya
butuh janji, tapi juga perlu bukti. Janji tanpa bukti gak bakal ngelahirin
sebuah kepercayaan.” Ify terdiam merenungi penjelasan Rio. Ia merasa Rio
bersikap dewasa malam ini. Dan Rio pun terkaget-kaget sendiri kenapa ia bisa
bersikap sedewasa ini. Ia menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal. “eee,
Fy. Gue..gue, bukannya..”
“enggak, Yo. Makasih ya” ucap Ify tulus yang berhasil
membuat Rio cengo. Mendadak wajahnya memanas.
“oh, ya, Fy. Lo coba deh keluar. Liat ke langit.
Bintangnya malam ini banyak banget. Ada bulan purnama juga. Cantik deh
pokoknya.” Ify yang di seberang sana menuruti perintah Rio. Ia melangkah menuju
balkon kamarnya. Hembusan angin malam menyapanya ketika ia sampai di balkon
kamarnya itu. “gimana?” Tanpa Rio sadari, Ify tersenyum manis. Seolah
mendapatkan sebuah ketenangan disana.
“iya, Yo. Cantik banget.” Keheningan kembali terjadi di
antara mereka berdua. Jarak mereka yang jauh seakan begitu dekat malam ini.
“Yo, nyanyi buat gue dong” pinta Ify yang membuat Rio terkejut.
“Ha? Nyanyi?”
0 komentar