THIS OUR LOVE [5]


====

Ify berjalan menyusuri koridor dengan langkah riang. Tidak tahu kenapa, hari ini ia semangat sekali untuk bersekolah. Tidak seperti kemarin-kemarin. Ia berhasil melupakan Debo. Kini, semangatnya kembali tumbuh berkat dari para sahabatnya tentu.

“bukalah, bukalah semangat baru. Bukalah, bukalah semangat baru..” senandungnya kecil.

“kecentilan” sergah seseorang, yang tengah berdiri di depannya. Tiga orang perempuan yang sepertinya mereka adalah kakak kelasnya. Ify memandang heran mereka semua.

“maksudnya?” tanya Ify yang memang tidak mengerti.

“jangan pura-pura bego deh lo” ucap salah satu dari mereka yang berambut pendek sebahu.

“lo tuh kecentilan jadi orang. Ngedeket-deketin mereka” sambung seorang cewek yang berambut agak lebih panjang. Ify menggaruk kepalanya bingung.

“mereka? Mereka siapa? Kalo ngomong yang jelas dong” ucap Ify yang rasa kesalnya mulai terpancing. Di persimpangan koridor ini, lumayan banyak yang berlalu lalang. Namun, tak ada satupun dari mereka yang berusaha untuk melerai. Atau mungkin mereka tidak tahu kalau itu adalah sebuah pertengkaran.

“heh! Berani lo, ya sama senior” gertak seseorang diantara mereka yang bernama Angel.

“senior? Yang begini dibilang senior?” ucap Ify yang meremehkan.

“kurang ajar banget lo jadi adik kelas” ucap Dea kesal.

“ada apaan nih?” tanya Alvin yang baru datang dan tak sengaja melihat Ify yang menurutnya tengah dilabrak. Mereka yang melihat Alvin datang langsung memasang raut wajah manis.

“eh, Alvin. Ini nih, Ify ngelabrak kita bertiga” ucap Zevana. Ify yang mendengar itu langsung mendelik. Apa-apaan itu? Padahal jelas-jelas mereka yang melabraknya, pikir Ify kesal.

“woy! Kalian bertiga tuh yang tiba-tiba nyegat gue disini” ujar Ify kesal.

“tuh ‘kan, Vin, dia kurang ajar banget deh ya jadi adik kelas. Masa’ seniornya di bentak begitu” lanjut Zevana yang semakin gencar untuk meminta belaan dari Alvin. Namun, Alvin memang tidak percaya kepada mereka bertiga. Ia memasang raut wajah dingin.

“itu karena dia tidak dicontohkan dengan baik oleh para seniornya” ucap Alvin yang membela Ify. Mereka melongo, sedangkan Ify tersenyum kemenangan.

“tuh. Memang bener kok. Seniornya aja kayak begini, gimana dengan juniornya” ucap Ify tak mau kalah. Dea yang sudah geram, berniat melayangkan tamparan ke arah Ify. Ia sudah mengangkat tangan kanannya. Mata Ify sudah terpejam erat. Namun, Alvin melindungi Ify layaknya sebagai tameng.

“seorang senior bijak gak bakal melakukan kekerasan ke adik kelasnya. Dan kalian gak pantes dibilang senior” ujar Alvin dingin dan segera menarik Ify menjauh. Dea menyentak tangannya kesal. Zevana melihat adegan Alvin menarik tangan Ify itu memanas.

====

“mereka ngapain elo sih, Fy?” tanya Alvin yang terus menarik tangan Ify.

“tau tuh. Tiba-tiba aja mereka nyegat gue disana” ucap Ify yang masih kesal.

“kalo mereka gitu lagi sama lo, bilang ke gue.” Ify hanya mengangguk. Saat mereka memasuki kelas. Semua pandangan tertuju kepada mereka berdua. Alvin dan Ify kaget ketika teman-teman sekelasnya tak terkecuali Rio, Cakka, dan Gabriel pun memandang mereka dengan tatapan yang tak bisa diartikan.

“cieeeeeee..” tiba-tiba sorakan mereka menggelegar. Namun, tiga diantara mereka, terus memandang dengan panas.

“kenapa sih?” tanya Alvin heran.

“tau nih. Gue tau gue cantik, tapi gak gitu juga kali” ujar Ify narsis.

“woooo, narsis lo, Fy” celetuk Agni. Ify cengengesan.

“kayaknya sih udah di lem” ujar Sion yang menambah kebingungan Alvin dan Ify.

“lem apaan sih, Vin, Fy? Sampe tuh tangan gak lepas-lepas” kali ini Dayat berkomentar. Alvin dan Ify melihat ke arah tangan mereka. Dan dengan refleks Alvin melepaskan cengkraman tangannya dari tangan Ify. Wajahnya memanas.

“diem deh lo” ujar Alvin sambil melangkah menuju bangkunya, yang diikuti oleh Ify.

“cieeeeee, merah tuh muka.” Alvin mendelik ke arah Sion.

“cieee Ifyyyyyy.”

“iiihh, please deh, jangan ganggu gue yang cantik ini.”

“woooooooo” sorakan mereka semua membuat Ify menutup kedua telinganya. Tanpa disadari ke empat pemuda tersenyum kecil melihat tingkah laku Ify.

====

Pulang sekolah, Ify berencana pulang ke rumah Rio. Karena ajakan dari Rio untuk menemaninya di rumah sekaligus memasak untuknya. Orang tua Rio sedang pulang kampung ke Manado untuk melihat neneknya yang sakit. Sebenarnya, Rio dan Ray, adiknya, juga ikut kesana, namun dikaranekan mereka masih sekolah, jadi mereka menetap di rumah, berdua saja.
Sebelum pulang, Ify pergi ke toilet karena sudah kebelet pipis -__- Rio menunggunya di depan kelas. Namun, ketika dipersimpangan dari toilet menuju jalan kelasnya, lagi-lagi ia dicegat oleh tiga serangkai. Ify memutar bola matanya sebal. Mau apalagi mereka, pikirnya.

“ada perlu apa lagi, kakak-kakakku” ujar Ify. Mereka menatap Ify tajam. Seakan menusuk.

“kita mau, lo jauhin mereka” ujar Dea yang memulai duluan. Ify menautkan alisnya heran.

“mereka itu siapa? Gue gak tau, dari pagi tadi kalian nyebut-nyebut ‘mereka.’ Gue bukan paranormal bisa nebak-nebak gitu aja tanpa ada penjelasan.”

“oke. Gue jelasin. Yang kita maksud mereka itu, Alvin, Cakka, Rio, sama Gabriel. Ngerti lo?!” ujar Zevana.

“oh, ternyata.”

“iya! Jadi elo jauhin mereka! Elo tuh kecentilan banget deket-deket sama mereka. Sok cantik aja.” Ify tertawa sinis.

“hellooo, kakak-kakakku, mereka itu sahabat gue dari SMP. Jadi, gue gak akan bisa dan gak akan pernah ngejauhin mereka, sekalipun elo-elo semua ngancemin gue!” Emosi Ify sudah terpancing. Cukup sudah ia menahan kesabarannya. Jika mereka dilawan dengan sikap yang lembut, mereka malah makin menjadi. Dan Ify bukan tipe orang yang suka diinjak-injak, walaupun itu adalah kakak kelasnya sendiri.

“owh, elo ngelawan bener ya sama kita. Lo tau gak siapa kita?! HA!?” bentak Angel.

“gue bakal cemen kalo gak berani sama elo-elo semua. Iya, gue tau kalian itu para kakak senior yang cantik, imut, manis, lucu. Tapi kalian semua itu kakak senior yang bersikap seenak udelnya aja! Bisanya cuma nginjak-nginjak adik kelas doang! Dan gak pernah berpikir panjang untuk bisa bersikap bijak. Seharusnya kalian itu sebagai contoh yang baik buat adik-adik kelas, bukannya begini! Kalian gak pantes tau dibilang senior.”

PLAK! Sebuah tamparan dari Dea yang cukup keras mendarat di pipi kanan Ify yang mulus. Ify terdiam. Jujur saja, ini adalah pertama kalinya ia merasakan sebuah tamparan. Orang tuanya saja tidak pernah melakukan hal seperti ini kepadanya. Ify sudah ingin menangis sekarang, namun ia tidak mungkin terlihat lengah oleh mereka. Ia merasakan perih di ujung bibir kanannya. Dan terasa sangat perih ketika ia memegangnya dengan ibu jarinya.

‘darah’ batin Ify memekik. ‘memang dasar kakak-kakak senior menang tampang doang.’

“ada apaan nih?” tanya seseorang yang datang tiba-tiba. Tiga serangkai itu gelagapan. Ify bergeming. 

To Be Continued~

You May Also Like

0 komentar