THIS OUR LOVE [3] (Special Cafy)

Cerita Sebelumnya:
 

“Cakkaaaaaa, lo cari ribut aja sama guee. Gue lagi galau juga” ucap Ify yang kembali ingin menangis.
                               
“eeehh, iya iya. Gue hari ini gak cari ribut sama elo deh. Jangan nangis lagi tapi.” Ify tersenyum dan mengangguk. Ia melihat baju Rio yang basah.

“ya ampun, Yo, baju lo basah gara-gara gue nangis tadi. Sini gue bersihin” ucap Ify sambil membersihkan baju Rio dengan saputangannya yang baru saja diambil dari saku rok abu-abunya itu.

“eh? Gakpapa, Fy, biar gue aja” ucap Rio yang mengambil alih saputangan Ify.

“udah bel tuh, masuk yuk” ucap Alvin yang ingin segera pergi dari pemandangan yang membuatnya panas itu.

====

Pulang sekolah ini, Ify menunggu di halte depan sekolahnya. Supirnya kebetulan lagi tidak bisa jemput. Ia termenung lagi. Dua kejadian yang membuatnya sakit hati dan tak bisa ia lupakan. Gadis itu menghela nafas berat. Namun, kata-kata dari para sahabatnya tadi kembali terngiang. Kata-kata dari para sahabat yang membuat semangatnya kembali tumbuh. Ia tersenyum. Membenarkan perkataan mereka tadi.

‘thanks, guys. Berkat kalian, gue merasa jadi lebih baik’ batin Ify tersenyum. Suara klakson motor mengagetkan Ify. Ia menatap orang itu geram dan ternyata dia..

“Cakkaaaaaaa. Lo ngagetin gue aja. Kalo gue jantungan gimana coba? Lo mau tanggung jawab? Haa?” Cakka cengengesan.

“ya elah, Fy, maaf atuh. Habisnya elo sendiri senyum-senyum sendiri gitu. Gue kira ya elo-nya kerasukan.” Ify menghampiri Cakka dan langsung memukulinya geram. “aduh, aduuhh. Sakit, Ifyyy. Gue ‘kan udah minta maaf.”

“elo ngeselin sih.” Cakka terkekeh.

“lo ngapain disini? Bukannya pulang.”

“sopir gue lagi gak bisa jemput. Nungguin taksi gak ada yang lewat. Bus, gak tau kemana. Angkot, gak ada juga. Ojek, apalagi, gak keliatan batang hidungnya.”

“bareng gue aja deh kalo gitu.” Ify tersenyum senang dan langsung menaiki boncengan Cakka. “buset dah. Semangat banget lo dianterin sama cowok cakep.” Ify menepuk sedikit keras helm yang Cakka pakai saat ini.

“ayo jalaaaaannn.” Cakka hanya menggeleng-geleng heran menghadapi sikap sahabatnya satu ini. Ia memakai kaca helm fullfacenya itu. “Kka, gue pengen beli es krim dulu nih.”

“dimana tuh?”

“di dekat taman komplek perumahan kita itu ada kok.” Cakka mengangguk mengerti dan melajukan motornya menuju taman komplek. Untung saja rumah mereka dalam satu komplek, hanya saja tidak begitu dekat jarak rumahnya.
Sesampainya disana, Ify sudah semangat sekali untuk membeli es krim. Ia menarik tangan Cakka untuk menghampiri tempat jualan es krim tersebut.

“sabar, Fy. Ya ampuunn, lo semangat banget sih kalo udah nyangkut-nyangkut es krim begini” keluh Cakka yang masih digeret Ify. Ify tidak meresponnya. Jika seperti di kartun-kartun begitu, mata Ify sudah bergambarkan es krim saat ini.

“mas, es krim cornetto coklatnya 2 ya.”

“lo mau ngabisin dua es krim, Fy? Rakus bener lo.” Ify menjitak kepala Cakka.

“gue lagi baik nih. Gue traktir elo es krim deh, sebagai tanda terima kasih gue karena elo udah mau nebengin gue pulang hehehehe.”

“waahh, beneran, Fy? Asik dah. Sering-sering deh gue nganterin elo pulang. Biar di traktir terus.” Lagi-lagi Ify menjitak Cakka. “sadis banget lo, Fy.”

“bangkrut gue kalo tiap hari nraktirin elo.” Ify mengambil dua es krim yang dipesannya dan kemudian membayarnya. “makasih, mas.”

====

Di bangku sebuah taman, kedua insan ini sungguh menikmati es krim mereka masing-masing.

“cocok deh, panas-panas begini makan es krim.” Ify hanya mengangguk. Cakka mempunyai ide untuk menjahili Ify. “Fy, coba deh, es krim gue enak banget.” Ify menoleh dengan muka heran.

“enak? Es krimnya sama aja deh.”

“yeee, walaupun sama, punya gue enak banget nih. Cobain nih” ujar Cakka sembari ingin menyuapi Ify es krimnya. Ify yang penasaran ingin memakan es krim itu. Namun, dengan jahilnya, Cakka mencolekkan es krim tersebut ke hidung Ify.

“Cakkaaaaaaa, iiihhh lo tuh jail banget deh.” Ify berniat untuk membalas.

“eehh, gak bakal bisa lo bales” elak Cakka. Ify cemberut sembari memakan es krimnya dengan kesal.

“nanti gue jelek. Bersihin gaakk.”

“gak mau. Lo cantik kalo digituin hahaha.” Kali ini Ify memukuli Cakka brutal. “eh buset. Iya iyaaa, gue bersihin. Sadis lo.” Lagi-lagi Ify manyun.

“bersihiinnn.”

“iyeee.” Cakka mengeluarkan saputangan coklatnya dari saku.

“lo bawa saputangan, Kka? Heran deh gue. Cowok bawa saputangan, sedangkan gue sendiri yang cewek gak pernah tuh. Eh? Bukan gak pernah, jarang sih.”

“biarin weeek. Daripada gue bawa tissue, cucok banget deh ah” ucap Cakka dengan nada seperti banci di akhir kalimatnya. Ify tertawa ngakak. “heh, diem lo. Gak gue bersihin nih.”

“eehh, iya iya.” Ify masih menahan tawanya ketika Cakka mulai membersihkan hidung Ify yang sudah belepotan es krim. Setelah bersih, dengan geram Cakka mencubit hidung Ify.

“aduuhhhhh” ringis Ify dan refleks memegang tangan Cakka yang mencubit hidungnya tadi.
DEG! Kala itu, Cakka menatap beningnya mata Ify. Ternyata sahabatnya itu terlihat manis dan cantik dengan mata yang menghanyutkan itu.

‘aduh, jantung gue kenapa nih? Masa’ gue suka sama Ify siihhhh?’ batinnya. Ify yang melihat Cakka bengong hanya menatapnya heran. Malu juga ditatap dalam seperti itu oleh lelaki, yaaa walaupun dia itu sahabatnya sendiri.

“Kka? Jangan natepin gue begitu dong, gue malu tau.” Ify blushing yang tanpa sengaja tatapan Cakka terus terfokus. Terlihat lucu ketika ia malu-malu.

‘nah loh, nambah kenceng. Lucu banget sih dianya kalo lagi malu-malu begitu’ batin Cakka lanjut.

“Cakka?” panggil Ify yang kali ini mengagetkan Cakka.

“eh? Kenapa, Fy?” Ify melengos.

“elo tuh yang kenapa? Daritadi ngeliatin gue mulu. Baru tau ya gue cantik.”

“idih, ge-er banget sih lo jadi orang.” Cakka mengacak-ngacak gemas rambut Ify. “udah ah, pulang yuk. Nanti gue diamukin Deva lagi gara-gara nyulik kakaknya siang ini.” Ify memeletkan lidahnya ke arah Cakka.

====

Malam hari di rumah, Ify terlihat gelisah. Tidak bisa diam. Tidak ada kerjaan saat ini. Membosankan untuknya. Deva yang ada di dekatnya saat itu, menatap kakaknya heran. Akhirnya, Ify berlalu menuju kamarnya yang menambah membuat Deva melongo. Ia geleng-geleng melihat tingkah aneh Ify. Sungguh ajaib!

“kenapa lo, Dev? Geleng-geleng. Ngedugem?” ucap seseorang tiba-tiba yang mengagetkan Deva. 

To Be Continued~

You May Also Like

0 komentar