THE REAL FACT OF LOVE


Cinta itu tidak bisa dipaksakan dan cinta itu adalah salah satu kebahagiaan. Tetapi, terkadang cinta itu menyakitkan. Kadang, cinta itu kekecewaan. Dan kadang, cinta itu kepahitan.

***

            Aku Emil, Emilia Sabrin. Cewek tomboy yang tidak suka dengan cewek feminim. Menurutku, cewek feminim itu manja, lembek, dan banyak deh. Namun, kebanyakan para lelaki berstatement kalau perempuan feminim itu manis, cute. Tidak juga, tuh. Aku paling enggan jika harus disuruh untuk pakai rok. Yuck! Itu menjijikkan bagiku. Kecuali rok sekolah, itupun terpaksa. Sudah berkali-kali mama ku memaksa aku untuk memakai rok yang sengaja ia belikan untuk penampilanku. Tetapi aku tetap pada pendirianku.
Aku memiliki seorang sahabat sejak SD. Namanya Dirma.J.B. Mungkin kalian bertanya-tanya apakah dia itu seorang penggemar salah satu penyanyi Hollywood terkenal itu. Tentu saja tidak. Nama panjangnya adalah Dirma Jason Biantara, maka dari itu aku sering menyingkatnya dengan JB, hehe.

***
           
Hujan mengguyur komplek perumahanku dengan derasnya. Terpaksa aku dan Dirma yang sedang asyik bermain badminton di lapangan komplek berhenti sejenak. Sialnya aku tidak membawa jaket. Hanya kaos oblong putih dan celana pendek batas sedikit bawah lutut yang terlihat kebesaran.
            “Dingin, Mil?” tanya Dirma yang mengagetkanku. Aku hanya mengangguk pelan tanpa suara. Sebuah uluran jaket berwarna merah hitam yang aku kenali lagi-lagi mengagetkanku. “Nih, pakai aja. Daripada elo kedinginan.” Ah! Kalimat yang penuh perhatian itu membuat sebuah debaran aneh yang muncul di dalam hatiku. Belakangan ini aku merasakan perasaan aneh ketika melihat senyum dan matanya yang setiap kali menatapku. Debaran dan sebuah sengatan menjalar di hati. Tidak mungkin aku merasakan perasaan lebih dari sahabat terhadap Dirma. Dia sahabatku sejak kecil dulu hingga sekarang.
            Aku mengambil jaket itu dengan perasaan yang campur aduk.
            “Thank’s” ucapku dan kemudian mengenakan jaket itu yang sedikit kebesaran untukku. Dia tersenyum. Lagi dan lagi, debaran itu muncul disertai sengatan yang menggelitik perutku.
            Tiba-tiba suara percikan air karena hentakan kaki terburu-buru memecah keheningan sekitar. Serentak aku dan Dirma menoleh. Seorang perempuan yang menurutku sangat cantik dan manis ikut berteduh. Merasa diperhatikan, ia menoleh dan tersenyum. Senyumnya sangat, sangat, sangaaat manis. Oke, mungkin aku terlalu lebay, tetapi memang itu kenyataan yang saat ini aku lihat.
            Join boleh ‘kan? Deras sekali hujannya” ucapnya dengan suaranya yang lembut. Aku tersenyum.
            “Tentu boleh dong. Ini ‘kan tempat umum.”
            “Oh iya, kenalin nama ku Sarah Darmawitajaya” ucapnya sembari mengulurkan tangan. Aku membalasnya dan tersenyum.
            “Gue Emilia Sabrin.” Kami melepaskan tangan yang berjabat satu sama lain. Aku yang merasa tidak ada suara pun yang keluar dari Dirma, menoleh ke arahnya. Menurut pengelihatanku, dia seperti terpana sembari memandangi Sarah. Ada sedikit rasa tidak senang dalam hatiku ketika mengetahuinya. Apa itu cemburu? Tidak mungkin. Aku menyikut pinggangnya.
            “Aww! Apaan sih, Mil?” tanyanya sembari meringis kesakitan.
            “Orang kenalan gak ditanggepin. Gak baik tau.” Ia cengengesan sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang menurutku itu tidak gatal! Sarah tertawa kecil melihat tingkah kami berdua.
            “Hai, nama gue Dirma Jason Biantara. Elo?” ucapnya. Sarah tersenyum.
            “Nama aku Sarah Darmawitajaya.” Sekilas aku lihat merah merona di wajah lelaki itu.
            “Kalian sekolah dimana?” tanyanya.
            “Di SMA Negeri 9. Elo sendiri dimana, Sar?” tanyaku yang mulai akrab dengannya.
            “Aku di SMA Negeri 7. Pantas saja aku tidak pernah melihat kalian walaupun kita satu komplek hehe” ucapnya dengan tawa kecil yang manis. Aku ikut tersenyum. Hujan masih saja turun. Hingga beberapa menit kemudian, hujan menjadi redah. Membuka peluang untuk pulang ke rumah kembali. Hari sudah menjelang sore. Terlihat cahaya matahari di ufuk barat yang akan turun dari singgahannya.
            “Mm, aku duluan ya. Sudah sore. Senang bisa kenal dengan kalian. Kapan-kapan kita kumpul lagi ya. Daah, Emil. Daah, Dirma” pamitnya yang kemudian berlalu pergi dengan lari-lari kecil.
            “Daah, Sarah. Oke! Kita kumpul lagi nanti yaa” ucapku setengah berteriak ketika ia belum sepenuhnya pergi dari sana. Aku berpaling ke Dirma yang masih termangu.
            “Pulang, yuk. Udah sore nih. Kenapa sih lo? Dari tadi diem aja.” Dirma tersadar dan mengangguk setuju.
            “Ayo, pulang. Enggaaak, gue gakpapa. Cuma menikmati hujan aja hehehe.” Aku tidak ingin memperpanjangnya, karena aku tahu itu adalah sebuah kebohongan.

***
           
            Sudah lebih dua minggu kami akrab dengan Sarah. Ketika kami tidak mempunyai kerjaan apa-apa di rumah, kami selalu berkumpul entah di rumah ku, di rumah Dirma, maupun di rumah Sarah. Dan Dirma ternyata memiliki suatu perasaan berbeda terhadap Sarah. Aku sakit mengetahuinya. Masih ingat di perjalanan pulang ketika kami baru saja habis berkumpul di rumah Sarah.
            “Gue kayaknya suka sama Sarah, Mil. Dari pertama ngeliatnya, gue udah deg-degan aja. Mungkin sekarang rasa suka itu udah berubah jadi sayang dan cinta. Menurut elo gimana, Mil? Gue butuh pendapat elo” ucapnya yang waktu itu ia ceritakan kepadaku. Sial! Ternyata aku memang sudah benar-benar jatuh cinta terhadap sahabatku satu ini. Sungguh sakit mendengarnya, aku cemburu.
            “Mil? Kok diem aja sih? Jawab dong?” Aku menjadi kesal.
            “Tau ah! Terserah elo aja. Gue duluan” ucapku sedikit membentak dan kemudian berlalu pergi meninggalkannya yang mematung.
            “Loh? Kok jadi marah sih? Salah gue apaan?” ucapnya bingung.
            Malamnya Dirma terus mengirimi aku sms, tetapi aku malas untuk membalasnya. Sudah mungkin kira-kira belasan sms dari Dirma. Dan terlebih lagi, Dirma sudah lebih dari lima kali menelfon ke handphone ku. Aku berpikir, mengapa aku harus marah dengannya? Mungkin Dirma bisa berubah pikiran dengan melihat perubahan penampilanku. Mungkin saja. Aku akan menanyakan Dirma bagaimana tipe perempuan yang ia sukai. Aku mengirim sms  ke nomornya yang berisi:
            Dir, tipe cewek yang elo suka gimana?
            Oke! Sudah terkirim. Aku sungguh harap-harap cemas menunggu balasan darinya. Getaran dari handphone yang terus aku genggam mengagetkan ku yang sedang melamun.
            Tumben tanya gitu? Gue sih suka cewek yg manis, lucu, imut, feminim, baik, pinter. Emg knp Mil? Oh, ya, elo marah sama gue, Mil? Maaf deh klo emg elo marah sma gue.
            Owh, enggak kok, gakpapa. Enggak Dir, gue cuma lagi gak enak badan dan pikiran aja. Gue mnta maaf.

***
            “Mamaaa” panggil ku yang sedikit berteriak. Mama muncul dari arah dapur.
            “Ada apa, Mil? Teriak-teriak gitu, gak baik ah. Mama lagi buat sarapan nih.” Aku mengerutkan kening heran. Tumben-tumbenan mama buat sarapan.
            “Tumben mama bikin sarapan?”
            “Gak usah komentar deh kamu. Ada apa manggil-manggil mama?”
            “Sini dulu, Ma. Emil mau minta pendapat Mama nih. Ayo, Ma” ucapku yang segera menarik mama menuju kamar.
            “Aduh, kenapa memangnya?”
            “Gini, Ma. Emil mau tampil beda nih. Mau tampil feminim hehe.” Mama terlihat berbinar-binar mendengarnya.
            “Kenapa gak dari dulu kamu mau? Aduh, Emil. Sini mama yang ambil alih.” Mama mendudukkanku di depan meja rias. Kemudian melepas kuncir rambutku dan menggerainya. Mama mengambil sebuah jepit rambut berwarna pink yang ia belikan untukku. Tetapi, dari dulu hingga sekarang, aku tidak pernah menyentuhnya. Mataku melebar ketika mama ingin menyematkan jepit itu ke rambutku. Aku mengelak.
            “Kok pakai gituan sih, Ma?”
            “Katanya mau tampill feminim, ya gini. Gimana sih kamu? Diem aja pokoknya.” Aku pasrah menuruti perintah mama demi tampil cantik di mata Dirma.
            ‘Ini semua gue lakuin buat elo, Dir. Supaya elo jadi jatuh cinta dengan gue, bukan dengan Sarah’ batin ku bertekad.

***
           
Semua siswa-siswi SMA Negeri 9 yang melihatku terbengong heran. Siapa juga yang tidak heran jika cewek tomboy berubah drastis menjadi cewek feminim, dan jika cewek tomboy yang tidak suka feminim menjadi lebih feminim. Sama seperti siswa-siswi yang lain, Dirma terbengong heran melihatku ketika aku berhadapan dengannya.
            “Hei, Dir” sapa ku yang membuat ia menoleh dan langsung mulutnya terbuka lebar yang nyaris air liurnya keluar. Iyuuhh!
            “Woy, kenapa sih lo?” Dia pun tersadar.
            “Ah, eng..enggak, Mil. Gue cuma heran aja, elo jadi feminim begini. Kesambet setan apaan lo? Tumben.”
            “Hehe gue cuma kepingin tampil beda. Gimana menurut lo? Gue cantik ‘kan?” tanyaku sambil berputar-putar dihadapannya.
            “Cantik, Mil. Cuaantik banget. Tapi, aneh aja sih liat elo yang tomboy jadi gini hehe.” Aku cemberut.
            “Cantik apa aneh?” Dirma gelagapan.
            “Cantik, Mil. Cantik. Aduuhh.” Aku menyeringai senang.
            “Masuk kelas yuk, bentar lagi masuk nih.” Dirma mengangguk setuju dan kemudian kami melangkah beriringan menuju kelas.

***

            Ketika istirahat, aku dan Dirma tidak nongkrong seperti biasa di kantin. Kami saat ini berada di taman belakang sekolah. Dirma mengajakku kesana, katanya sih ingin berbicara kepadaku. Atau jangan-jangan ia ingin memintaku menjadi pacarnya? Ia ingin menyatakan cintanya padaku? Sulit aku bayangkan. Secepat itukah ia berpindah hati? Jantungku mulai berdetak tidak karuan. Darahku mengalir dengan derasnya. Tubuhku menjadi panas dingin. Aku akan langsung menerimanya jika memang itu yang terjadi. Tapi..ah, gengsi jika langsung menerimanya, basa-basi dulu lah. Ia mengajakku duduk di bawah pohon yang lumayan besar dan rindang. Sejuk. Sedari tadi aku hanya diam, mengatur irama detak jantungku yang masih saja tidak bisa diajak kompromi.
            “Mil?” panggilnya yang membuatku semakin panas dingin.
            “I..iya?” jawabku grogi.
            “Gue..mm, gimana ya bilangnya? Malu nih.” Detak jantungku mulai tak karuan saja.
            ‘Ayo dong, please. Tembak gue. Bilang I love you, kek. Aishiteru, kek, Sarangheo, Je’taime. Lama banget sih’ batinku yang tidak sabar.
            “Gak usah malu kali, Dir” ucapku yang setengah terbata.
            “Gini loh. Elo tau kan perasaan gue ke Sarah?” Aku mengangguk pelan. Dia pasti ingin bilang kalau perasaan itu tidak ada lagi untuk Sarah. Dia pasti bilang kalau perasaannya kini berpaling padaku.
            “Gue..rencananya pingin nyatain ke dia secepatnya. Tapi kapan ya, Mil, waktu yang tepat?” ucapnya yang langsung saja mengundang suara petir yang hebat di hatiku. Jantungku yang semula berdetak tidak karuan, mendadak seperti berhenti berdetak. Perasaan marah, kesal, kecewa, sakit langsung beradu dalam hatiku. Mungkin aku telah membayangkan sesuatu yang sangat aku harapkan dan itu tidak akan pernah terjadi, menghasilkan sebuah kekecewaan yang sangat besar. Air mataku menetes satu per satu. Dirma yang melihatnya menjadi cemas.
            “Mil? Kok elo nangis sih? Ada masalah ya? Cerita dong. Mungkin aja gue bisa bantu atau kasih solusi.” Aku bergeming. Tidak meresponnya. Tangisku semakin menjadi.
            “Mil? Elo kenapa sih?” tanya Dirma yang ingin mengusap air mataku, tetapi dengan segera aku menepis tangannya. Aku berlari meninggalkannya yang penuh dengan berjuta pertanyaan.

***

            Selama pelajaran Biologi yang biasanya aku selalu aktif dalam pelajaran ini, mendadak diam. Ibu Kirna yang mengenalku dengan sebutan “cewek bio” menatapku heran yang sedari tadi hanya diam. Teman-teman sekelas ku pun memandangku heran. Tetapi mereka tidak bertanya-tanya kepadaku. Mungkin saja mereka tahu aku sedang ada masalah dan membiarkan untuk menenangkan diri. Secarik kertas terulur dari arah kanan ku. Pasti Dirma, tentu saja, karena teman sebangku ku adalah dia. Ku lihat dua kalimat dan beberapa kata di kertas itu.
            Mil, gue ada slah dgn elo ya? Maaf deh, gue gak brmksd bikin elo nangis.
            Aku membalasnya yang masih dengan perasaan kesal.
            Pulang sklh, ke bukit biasa. Jgn gnggu gue dlu.
            Aku mengulurkan kertas itu kembali ke Dirma yang sekilas aku lihat raut wajah yang sedih sekaligus senang.

***

            Sesuai janji, aku dan Dirma tidak langsung pulang ke rumah, melainkan ke sebuah bukit tempat biasa aku bermain dengannya sejak kecil dulu. Tidak jauh dari komplek perumahan kami. Sehingga kami dengan leluasa bisa kapan saja pergi kesana.
            Selama perjalanan menuju ke bukit tadi, tidak ada satupun yang membuka topik pembicaraan. Aku masih sangat kecewa dengannya. Dan Dirma mungkin saja tidak berani untuk memulai duluan. Ia tahu kelakuanku jika aku sedang marah maupun kesal.
            Sesampainya, kami langsung duduk di tepi bukit yang langsung memandang ke arah komplek perumahan seberang. Angin sepoi-sepoi menambah kesejukan di bukit ini.
            “Mil, gue..” Aku memotong pembicaraannya.
            “Gue kecewa. Gue kesel. Sia-sia pengorbanan gue hari ini.” Dirma menoleh dan memandangku heran.
            “Elo gak tahu ‘kan gimana perasaan gue? Elo gak tahu gimana perasaan hati gue. Elo gak tahu gimana rasa sakit hati yang gue derita. Dan elo gak akan pernah tau, Dir. Gak akan pernah dan gak mau tahu. Iya ‘kan?” Dirma termangu. “Dan elo juga gak tahu gimana perasaan gue ke elo. Asal lo tahu, gue berubah jadi feminim begini cuma buat ngundang perhatian elo. Cuma buat elo. Mungkin aja dengan gue yang tampil berbeda seperti ini bisa merubah pikiran elo dan hati elo. Gue suka sama elo, sayang, bahkan cinta. Lebih dari sebuah perasaan sahabat. Dan elo gak pernah tahu” ucapku dengan nada tinggi yang diiringi derai air mata.
            “Mil, gue..” Lagi-lagi aku memotong pembicaraannya.
            “Sudahlah, Dir. Semua sudah terlanjur. Mungkin aja gue memang bukan pilihan hati elo. Biarin aja gue nampung rasa kekecewaan yang sangat sangat ini dengan sendiri..” Aku terkejut ketika Dirma membentakku. Baru kali ini aku mendengarnya membentakku.
            “Emil! Dengerin gue dulu! Gue minta maaf kalau gue emang gitu! Tapi gue memang gak akan tahu kalau elo gak cerita sama gue! Elo gak pernah cerita apapun ke gue! Sedangkan gue sendiri, selalu siap dan berharap elo cerita perasaan elo ke gue. Gue sempat berpikir, kenapa sih harus selalu gue yang cerita, selalu gue yang curhat, nah elo kapan? Kapan, Mil?! Begitu juga dengan perasaan elo ke gue. Apa gue bakal tahu perasaan elo ke gue tanpa cerita apapun dari elo. Dan elo tahu sendiri gue orangnya gimana. Gue kurang peka dengan perasaan seseorang!” Aku terdiam. Itu benar, aku lupa jika ia orang yang kurang peka terhadap perasaan seseorang kecuali seseorang tersebut sudah menyatakannya. Aku memang bodoh. Untuk apa aku memarahi Dirma hanya karena perasaanku yang tak terbalas ini? Emil, kamu memang bodoh, batinku.
            “Gue minta maaf, Dir. Gak seharusnya gue gini ke elo. Gak seharusnya gue punya perasaan lebih ke elo. Maafin gue, Dir.” Aku terhenyak ketika Dirma merengkuhku ke dalam dekapannya yang hangat. Air mataku terus terurai.
            “Elo gak perlu minta maaf, Mil. Seharusnya gue yang ngucapin kata-kata itu, karena gue gak bisa balas perasaan elo. Dan elo gak perlu mengubah gaya lo demi perhatian gue. Tanpa gaya feminim lo, gue akan selalu menaruh perhatian lebih ke elo, sebagai sahabat.” Sedikit kecewa mendengar kata-kata ‘sebagai sahabat’ ternyata memang hanya sebatas itu hubungan kami berdua. Tetapi, aku akan lebih bahagia jika melihat dia bahagia dengan seseorang yang mungkin ia cintai dengan tulus.
            Dirma melepaskan ku dari dekapannya. Seandainya ini adalah mimpi, aku tidak ingin terbangun, dan ingin selamanya berada di dekapan hangat itu. Ia mengusap lembut air mataku dengan kedua ibu jarinya.
            “Apapun gaya lo, gue pasti suka.” Aku tersenyum mendengarnya.
            “Nah, gitu dong, senyum. Daritadi nangis mulu. Gak enak liatnya.” Aku terkekeh mendengar celotehannya itu. “Mil? Elo mau bantuin gue?”
            “Apa?”
            “Comblangin gue dengan Sarah dong.” Masih ada rasa cemburu di hatiku. Tetapi apa boleh buat, demi kebahagiaannya aku rela melakukan apapun. Itulah realita sebuah pengorbanan cinta.
            “Itu masalah gampang. Elo tenang aja, Sarah bakal jadi milik elo.”
            “Thank’s, Emil. Elo emang sahabat gue yang paliiinngg baik.” Senyuman lagi-lagi ku lontarkan untuknya.
            “Tapi lo harus janji kalau elo bakal selalu peka apa yang dirasain dia, apa yang dia mau. Mencobalah.”
            “Gue janji.”

***

            Malamnya, aku menelfon Sarah selepas pr ku selesai sudah dan aman. Aku mencari kontak Sarah di handphone ku dan langsung saja segera menghubunginya. Terdengar empat kali nada sambung dan baru suara sambungan diterima.
            “Assalamu’alaikum. Ada apa, Mil?” sapanya di seberang sana.
            “Wa’alaikumussalam. Ah, enggak kok, Sar, lagi kangen aja sama lo hehe.” Terdengar suara tawa kecil yang manis darinya.
            “Kamu bisa aja deh. Gimana kabar kamu sama Dirma? Lumayan lama gak ketemu ya, banyak banget tugas sih.”
            “Kami sih baik-baik aja. Iya nih, Sar, banyak banget tugas, jadi udah jarang kumpul deh. Elo gimana kabarnya?”
            “Alhamdulillah baik, Mil. Oh, ya, Mil, besok kalau kalian gak ada kerjaan, kumpul bareng lagi ya, aku kangen berat nih.”
            “Iya, tenang aja. Ngomong-ngomong, kangen sama gue apaa.. sama Dirma? Ciyeeeee. Bilang aja gak sabar mau ketemu dengan Dirma.”
            “Ha? Kok kamu bilang gitu sih? Iih, eng..gak kali. Kangen sama dua-duanya lah.” Aku merasa Sarah menjadi grogi.
            “Iya sih kangen dua-duanya. Tapi paling kangen sama Dirma ‘kaan? Hayoo loohh, ngaku aja.” Aku terus menggoda-godanya.
            “Iih, Emil, seneng banget sih ngeledekin aku. Ya enggaklah, kata siapa coba?”
            “Kata hatimuu hehe.”
            “Emiill.” Aku geli mendengarnya.
            “Gue mau tanya nih, Sar. Elo punya perasaan lebih gak sih ke Dirma? Jawab jujur yaa.”
            “Kok nanya gitu? Yaa..seperti sahabat lah, Mil. Perasaan gimana lagi?”
            “Bohong tuh. Jujur aja, Sar. Gue gak bakal ngeledekin elo kok. Janji, suer.”
            “Mmm...sejujurnya sih, iya, Mil. Aku suka sama Dirma. Sejak kami mulai smsan, dan dia perhatian banget ke aku, aku jadi suka. Aku suka cara perhatiannya, aku suka kepribadiannya. Emang sih, cakep, tapi aku gak mandang kesitu kok, aku tahu hatinya pasti baik banget, makanya aku suka” jelas Sarah dengan nada malu-malu di akhir kalimat. Sarah benar, Dirma memiliki hati yang baik. Memiliki wajah yang tampan dan manis. Rata-rata, siswi di sekolah ku banyak sekali yang memujanya. Sejak mereka tahu Dirma dekat denganku, siswi-siswi itu hanya bisa gigit jari dan menjadi secret admirer saja. Jarang ada perempuan seperti Sarah yang memandang seseorang dari hati bukan dari fisik maupun materi. Kebanyakan perempuan itu melihat seseorang dari fisik ketampanannya dan materi kekayaannya.
            “Ooh, jadi gitu. Iya deh. Sedikit bocoran buat elo, Dirma juga suka sama lo sejak pertama kita ketemu di lapangan.” Aku tahu, pasti disana pipi Sarah yang sedikit chubby dan putih itu, memerah merona.
            “Masa’ sih?”
            “Iya, Sarah. Gak mungkin gue bohong. Ya udah deh, udah mulai larut nih, kita sambung kapan-kapan ya. Masalah kumpul nanti gue kabarin ke elo.”
            “Oke, Mil. Selamat malam aja ya. Assalamu’alaikum.”
            “Wa’alaikumussalam.” Hhah. Mungkin itu yang membuat Dirma jatuh cinta pada Sarah. Orang yang baik, alim, rendah hati pula. Sempurna deh! Jujur saja, baru kali ini sejak aku bertelfonan dengan Sarah, aku mengucapkan salam itu.
            Dan aku kini mendapat sebuah kabar gembira untuk Dirma. Dengan segera aku mengetik sebuah pesan yang dituju ke sahabatku satu itu.
            Dir, kabar gembira buat elo. Sarah jga suka sma elo.
            Begitulah isi pesan singkat yang aku kirimkan ke Dirma. Tanpa menunggu balasan darinya, aku langsung terlelap tidur.

***

            “Yakin lo dia juga gitu?” tanya Dirma meyakinkanku.
            “Gue yakin, Dir. Seratus persen yakin. Orang dia bilang sendiri ke gue tadi malam.” Dirma melonjak-lonjak kegirangan. Tidak peduli orang-orang yang berlalu-lalang di koridor yang saat itu memerhatikannya heran.
            “Heh! Gak usah lebay kali. Malu diliatin orang. Masa’ kapten basket kelakuannya, lebaaayyy.” Dirma berhenti melonjak dan memandang sekelilingnya.
            “Ayo kita cabut” ajak Dirma yang menarikku pergi dari sana. Dasar kapten basket lebay! Ah! Sekarang aku punya sebutan untuknya. 

***

            Saat istirahat, Dirma uring-uringan di kantin. Aku yang sedang melahap makanan favoritku yaitu semangkuk mie ayam sedikit terganggu.
            “Diem dikit dong, Dir. Gue mau menikmati mie ayam gue nih. Ganggu aja sih lo” keluhku. Tetapi tetap saja dia tidak bisa diam.
            “Aduh, gue gak bisa diem, Mil. Gue bingung nih. Pingin cepat-cepat nembak Sarah, tapi gue gak tau kapan. Menurut elo kapan, Mil?” Aku sedikit tidak mendengar apa yang dibicarakannya karena terlalu asyik melahap mie ayam ku.
            “Ha? Apaan? Gue kurang denger. Elo tau sendiri ‘kan gimana kalo gue lagi makan makanan favorit gue?” Dirma mendengus sebal.
            “Ya udah, abisin dulu tuh mie ayam lo.” Aku menurut dan kemudian menghabiskan mie ayam ku dengan lahap. Ukh! Sungguh enak, apalagi kalau aku sedang lapar. Kata Dirma kalau melihatku makan pasti orang mengira sudah tidak makan selama beberapa hari. Dirma setia menungguku hingga tandaslah semangkuk mie ayam yang semula penuh tadi.
            “Ah, kenyang. Lo tadi nanya apaan?” Dirma mengulang pertanyaan yang tadi ia tanyakan kepadaku. “Oh, itu sih terserah elo aja, Dir. Elo maunya kapan? Yang penting mantepin hati lo dulu. Kalau elo emang udah siap pakai banget, langsung sikat aja hehe” jelasku yang sambil menahan hati. Jujur saja, perasaan itu terhadap Dirma masih ada. Tetapi, aku tidak bisa memaksakan Dirma untuk menerima perasaanku ini. Cinta itu tidak bisa dipaksakan, bukan?
            “Emangnya wc pakai disikat-sikat segala. Tapi gue udah siap banget pakai banget lagi, Mil. Apa gue tembak dia hari ini aja ya?”
            It’s up to you, bro.”

***

            Ternyata, Dirma memang sudah memantapkan hatinya untuk menyatakan cintanya kepada Sarah. Setelah mendapat pencerahan dariku tadi, ia langsung saja mengirim sms kepada Sarah yang berisi untuk bertemu di lapangan komplek sepulang sekolah. Aku pun ikut. Sebenarnya, aku sangat malas untuk ikut, selain malas, aku tidak ingin air mataku jatuh kembali, cukup sekali itu di hadapan Dirma, tidak untuk kedua kalinya di hadapan Sarah dan Dirma yang sedang berbahagia, tetapi Dirma tetap memaksaku. Katanya sih aku sebagai saksi. Seperti ingin menikah saja.
            Sepulang sekolah, sesuai dengan janji, aku dan Dirma segera melesat ke lapangan komplek. Terlihat jelas kegugupan yang dialami sahabatku itu. Selama sekitar lima belas menitan kami menunggu, Sarah datang dengan seragam sekolah khas SMA-nya yang terlihat pas dengan tubuhnya yang langsing.
            “Hey, sudah lama ya? Maaf bikin kalian nunggu, tadi ada urusan sebentar, jadi pulangnya agak lambat” ucapnya dengan suara yang masih sama lembutnya.
            “Gakpapa kali, Sar. Nyantai aja mah sama kita. Iya gak, Dir?” Dirma hanya mengangguk menahan kegugupannya. Sarah terlihat malu-malu ketika memandang Dirma.
            “Oh ya, ada apa? Gak biasanya ngajak kumpul pulang sekolah?”
            “Ini loh, Sar. Dirma ada urusan sama lo. Berdua aja, jadi gue tunggu disana aja ya” ucapku sembari menunjuk bangku panjang yang tersedia tidak begitu jauh dari tempat kami berdiri ini.
            “Oh, ya udah deh.” Aku berlalu meninggalkan mereka berdua yang masih mematung satu sama lain. Aku serasa menjadi penonton telenovela. Perlahan ku lihat, Dirma menarik dan menggenggam tangan Sarah. Pipi Sarah tampak merah merona. Hatiku menahan sesak. Tapi apa daya ku? Terlihat Dirma yang mengucapkan kata-kata yang samar-samar aku dengar.
            “Sar, aku suka sama kamu, sayang, bahkan cinta sejak pertama kita ketemu. Aku suka kepribadianmu. Aku suka caramu. Aku suka semua apa yang ada di dalam diri kamu. Ternyata aku gak salah cinta sama kamu. Sar, kamu mau gak jadi pacar aku? Buat ngisi kekosongan hati aku.” Sarah tersenyum malu-malu.
            “Aku..aku juga suka sama kamu. Sejak kamu perhatian banget ke aku. Aku juga sayang, bahkan cinta sama kamu. Dan aku..mau jadi pacar kamu, Dir.”
            “Bener, Sar? Gak bohong ‘kan?” Sarah mengangguk penuh keyakinan. Dirma memeluk Sarah dengan girang. Ah! Rasanya sangat-sangat menyakitkan tapi turut bahagia melihat kebahagiaan terpancar di kedua sahabatku. Mungkin memang sudah nasibku jika mereka sedang pacaran, aku hanya menjadi nyamuknya. Ukh! Sungguh tidak menyenangkan. Aku menghampiri mereka berdua yang tengah asyik berpelukan.
            “Heh, heh. Bukan muhrim woy. Peluk-pelukan gitu. Please, deh.” Mereka melepaskan pelukannya satu sama lain dengan wajah malu-malu.
            “Hehe nanti gue traktir lo sebagai pajak traktiran dan pajak sebagai mak comblang. Thank’s, Mil.” Aku tersenyum senang ketika mendengar kata-kata traktiran.
            “Asiiikk. Awas kalau elo gak nepatin janji. Gue gorok sekaligus gue gantung lo di tiang bendera.” Sarah tertawa geli. Dirma meringis mendengarnya.
            “Sadis banget kamu, Mil.”
            “Woohoho, iya dong, Emil gitu. Makanya jangan main-main sama yang namanya Emil Sabrin.”
            “Iya, nanti bisa diceburin ke dalem sumur.” Dirma dan Sarah tergelak bersama. Aku menyeringai lucu.

***

            Ternyata, lebih bahagia ketika melihat seseorang yang dicintai tersenyum bahagia bersama orang yang lebih ia cintai. That’s the real fact of love.

You May Also Like

0 komentar