A Turning Part 5
A Turning àPart 5ß
(Ify : Mulai
sekarang gue gak mau ketemu dia lagi. gue benci dia
Gabriel : papa)
====A
Turning====
Hari ini Ify
tampak bersemangat untuk menjalani hari yang cerah ini. Seperti dunia tahu isi
hati Ify saat ini. Tidak tahu kenapa, dia tampak lebih semangat setelah kemarin
bersenda gurau dengan para sahabatnya itu. Ditambah kemarin Manager café tempat
ia bekerja sangat bangga melihat kerjanya yang dibuahi dengan sebuah bonus
yaitu uang sekitar Rp 150.000,- yaa..lumayanlah untuk tabungannya saat ini. Dia
terus menyusuri koridor sekolah yang sudah cukup ramai dengan langkah ringan.
Tapi tetap saja sifatnya belum berubah sama sekali. Eh? Ralat maksudnya baru
sedikit yang berubah dari sifatnya itu. Buktinya dia membalas sapaan dari
teman-temannya dengan seulas senyum tipis. Yaa..walaupun tipis yang penting
sifat cueknya sedikit berkurang.
“pagi, Via..”
sapanya sambil memposisikan dirinya duduk. Sivia menoleh.
“eh? Pagi, Fy.
ceria banget sih? ada apa?” Tanya Sivia antusias.
“gak ada kok.
Cuma lagi seneng aja. Ini juga berkat kalian semua.” Sivia mengerutkan kening
bingung.
“maksud lo?”
“iya. Berkat
hiburan kalian semua kemarin.”
“oalah, yang itu
toh. Haha..gak masalah lagi. itukan gunanya sahabat. Akan selalu ada dalam suka
dan duka.” Ify tersenyum lalu mengambil komik doraemonnya. Sedangkan Sivia
melanjutkan aktivitasnya yang tertunda tadi.
“Pagi Ify..”
sapa Rio yang baru saja datang. Ify menoleh
lalu tersenyum.
“pagi.” Rio mengucap syukur dalam hati karena Ify meresponnya
dengan baik.
“Ify doang nih
yang disapa?” sindir Sivia.
“eh?
Hehe..sorry, Vi. Ya udah deh. Pagi Viaa..” ujarnya. Sivia tertawa melihat
tingkah konyol Rio. Ify hanya tersenyum.
“haha..aneh lo,
Yo” ujar Sivia. Rio manyun.
“au ah. Yang
penting gue ganteng” ucapnya sambil melangkah kemejanya lagi. Sivia dan Ify
saling berpandangan heran. Dan kemudian menggedikkan bahunya tak tahu.
====A
Turning====
Sepulang
sekolah, Ify langsung pergi menuju tempat ia bekerja. Dengan semangat dia
memasuki café dan melangkah ke ruang ganti. setelah mengganti pakaian, ia
mengambil sebuah note kecil dan juga pena untuk mencatat pesanan para
pelanggan. Ify terus bolak-balik dari depan ke belakang. Mencatat semua pesanan
orang-orang dengan baik.
“Fy..tuh di meja
nomor 12. pelanggan baru dateng” ujar Ourel. Ify mengangguk sambil mengacungkan
jempol. Ia berjalan ke arah meja itu.
“mau pesan apa?”
tanyanya sopan. Pria itu mendongak, seketika pula tubuh Ify menegang. Pria itu
pun sama. Semangat yang ada dibenak Ify pun semuanya menghilang. Yang tersisa
hanya kesedihan dan kepedihan.
“papa?” ucap Ify
lirih. Wanita yang berada dihadapan pria itu mengangkat alis bingung.
“dia siapa,
sayang?” Tanya wanita itu. Apa? Sayang? Secepat itukah papa melupakan mama?
Pikirnya.
“eh? Ng..nggak
kok. Bu..bukan siapa-siapa. Iya” ucap pria itu gugup.
‘berarti papa
udah lupa sama gue? Lupa sama mama?’ batin Ify miris.
“mm..saya pesen
steiknya satu sama lemon teanya satu ya” ucap wanita itu. Sedangkan sang pria
hanya diam mematung.
“kamu pesen apa,
sayang?” Tanya wanita itu.
“hah? Ee..aku
samain aja..” wanita itu mengangguk.
“jadi steik 2
lemon tea 2 yaa..” sambung wanita itu. Ify mengangguk lemah.
“pesanan segera
datang” ucap Ify dengan seulas senyum lebih tepatnya dipaksakan dan kemudian
berlalu. Ia berjalan gontai menuju pantry.
“steik 2 lemon
tea 2..” teriak Ify malas.
“siipp” ucap
Dayat yang memang bertugas sebagai juru masak-koki-
“Rel, lo gantiin
gue ya” pinta Ify.
“kenapa?”
“gue lagi gak
enak badan nih. Tolong ya. itu yang steik sama lemon teanya tadi di meja 12.
gue duluan ya, Rel. makasih sebelumnya” ucap Ify sambil berlalu menuju manager
café.
‘aneh tuh anak.
Tadi semangat banget’ batin Ourel sambil geleng-geleng. Ify menghampiri manager
yang tengah sibuk dengan berkas-berkasnya.
“Pak..” panggil
Ify. Pak Manager menoleh.
“iya? Ada apa, Fy?” tanyanya
ramah.
“saya hari ini
boleh izin gak, Pak? Saya lagi gak enak badan” pinta Ify. sejenak Pak Manager
mengerutkan kening.
“ooh, ya sudah
kalo gitu. Gak papa. kamu istirahat ya. biar besok kerjanya maksimal lagi” ucap
Pak manger. Ya! beliau memang sangat baik terhadap anak-anak buahnya. Tidak
seperti kebanyakan orang yang kerjaannya Cuma bisa merintah dan marah-marah.
“makasih, Pak.
Saya pulang dulu ya, Pak. Permisi.”
“iya.” Ify
melangkah keluar menuju ruang ganti. mengemasi peralatannya.
“elo mau kemana,
Fy?” Tanya Debo tiba-tiba.
“pulang.” Ify
yang memang sedang tidak mood langsung saja melangkah meninggalkan Debo. Tapi
sesampai didepan pintu ruang ganti, Debo mencegatnya. Ify mendengus kesal.
Kenapa sih nih orang? Pikirnya.
“apalagi sih,
Deb. Gue lagi gak enak badan nih. Gue mau pulang dulu.”
“lo sakit, Fy?
kalo gitu biar gue anter aja ya. nanti elo malah pingsan dijalan.” Ify membuang
nafasnya kasar.
“gak usah.
Makasih. Karena gue mau pulang sendiri. Permisi.” Ify menyentakkan tangan Debo
kasar yang sedari tadi mencengkram bahunya.
“arrgghh! Susah banget sih ngedeketin dia doang” ucap Debo sambil
mengacak-ngacak rambutnya frustasi.
====A
Turning====
Ify memilih
untuk menenangkan pikiran sejenak ditaman. Ia terus menatap lurus kedepan
dengan pandangan kosong.
‘gue ketemu
papa. gue kangen papa. gue pengen peluk dia. Tapi kenapa dia udah lupa sama gue?
Dia dengan mudahnya ngelupain mama yang katanya adalah cinta sejati dalam
hidupnya itu. Apa dia lupa dengan kata-katanya dulu..?”
Flashback On---
“papa dulu
pacaran sama mama sejak kapan sih, Pa?” Tanya Ify polos. Papanya tertawa kecil
mendengar pertanyaan buah hati kecilnya itu.
“kamu ini
nanyanya ada-ada aja.” Papa mengacak-ngacak rambut Ify.
“iihh. Jawab
dong, Pa. Ify kan penasaran” ujar gadis kecil itu sambil
menggembungkan pipinya.
“haha..iya iya.
Papa dulu pacaran sama mama sejak kelas XI. Mama kamu itu adalah cinta pertama
papa. dan akan menjadi cinta sejati dalam hidup papa. papa gak akan pernah
ngelepas mama kamu yang cantik itu. Udah puas?” Ify manggut-manggut mengerti.
“oohh gitu. Kalo
cinta sejati, sampe kakek nenek dong?” tanyanya polos-lagi- Papa tersenyum.
“amin deh.” Ify
tersenyum senang.
---Flashback Off
Ify tersenyum
miris mengingat kejadian itu. Ternyata itu hanya bualan papa saja. Buktinya
dengan mudahnya dia mendapat wanita lain semenjak cerai dengan mamanya.
‘ternyata papa bohong
sama gue. Siapa sih wanita jelek itu? Kaganjenan banget jadi orang. Mulai
sekarang gue gak mau ketemu dia lagi. gue benci dia’ batinnya menjerit. Butiran
bening itu kembali meluncur dengan mulusnya dipipi putih gadis manis itu.
Hembusan angin menyapu wajahnya yang cantik. Seakan angin itu ingin menghapus
air mata kerapuhan yang telah dikeluarkannya. Tapi yang ada butiran bening itu
semakin enaknya mengalir dari kedua mata indahnya itu.
“Ify?” ucap
seseorang. Ify sontak menoleh.
“eh? Elo, Yo.
kenapa?” tanyanya. Rio-orang tadi- mengamati wajah Ify heran.
“elo kenapa
nangis?” tanyanya yang sama sekali tidak menghiraukan pertanyaan Ify tadi. Ify
kembali memandang lurus kedepan kemudian menghela nafas. Rio
mengambil posisi duduk disamping Ify sambil terus mengamati wajah cantik itu
yang terlihat sangat sedih.
“gue gak papa
kok, Yo. Cuma kelilipan doang tadi.” Rio
mengernyitkan dahinya. Kelilipan kok banjir gitu? Pikirnya.
“jangan bohong,
Fy. cerita aja sama gue. Biar beban lo berkurang” pinta Rio
lembut. Ify kembali menangis. Kerapuhan itu ternyata tidak kuat untuk Ify
sembunyikan.
“hiks..gue..sakit,
Yo..sakit. gue..sakit hati, liat orang yang gue sayang ternyata dengan mudahnya
ngelupain cinta pertamanya hiks. Gue benci dia. Gue benci papa!” ucapnya
sesenggukkan. Rio yang tidak tega melihat
pujaan hatinya itu menangis, langsung direngkuhnya tubuh mungil itu kedalam
dekapan hangatnya.
“walaupun gue
gak tau masalah keluarga lo, gue siap kok jadi tempat curhat lo. Gue siap jadi
sandaran elo. Elo boleh nangis sepuasnya kalo itu emang bisa bikin lo tenang”
ucap Rio lembut sambil mengusap rambut Ify
lembut. Ify masih terus terisak didalam dekapan Rio.
Setelah berapa lama, isakan Ify mulai mereda. Rio
melepaskan pelukannya. Kemudian dia menghapus air mata kepedihan itu dari wajah
manis Ify.
“kalo lo udah
lebih tenang. Kita balik yuk” ajaknya. Ify mengangguk.
“elo gak usah
anter gue, Yo. gue bisa pulang sendiri” tolak Ify halus.
“yakin?” Tanya
Rio yang memang mengkhawatirkan kondisi Ify saat ini. Ify mengangguk sambil
tersenyum tipis.
“ya udah kalo
gitu. Hati-hati, Fy” ucapnya yang sedikit ragu.
“gue duluan,
Yo.” Ify melangkah menuju halte dan segera menaiki bus. Rio
masih terus menatapi kepergian Ify.
‘gue tau masalah
lo berat, Fy. lo harus bersabar. Ini cobaan dari tuhan buat elo. Gue bakal selalu
ada disamping lo, gue siap jadi sandaran elo, dan gue akan selalu buat lo
tersenyum’ batin Rio mantap.
====A
Turning====
‘Ceklekk..’ Baru
saja Ify memasuki rumah, ia sudah seperti artis yang diberikan
pertanyaan-pertanyaan oleh wartawan. Tapi suasana yang satu ini beda.
“Fy, kok jam
segini baru pulang?” Tanya Shilla.
“terus tadi kok
elo gak sms?” tambah Gabriel.
“darimana aja
sih?” tambah Cakka.
“kok mata elo
jadi sipit sih? nangis ya? kenapa?” tambah Deva.
“gue ada urusan.
Gue gak sempet sms elo, Kak. urusan di rumah temen.dan gue gak papa” jawab Ify
dan berlalu. Mereka saling berpandangan heran.
‘BRAAKKK..’
Semua terlonjak kaget, ketika mendengar suara menggelegar dari kamar Ify.
“kenapa dia?
Biasanya dia gak gitu-gitu amat?” Tanya Shilla. Semua mengangkat bahu tidak
tahu.
“emang disekolah
tadi, dia ada masalah?” Tanya Shilla lagi.
“gak ada kok,
Kak. tadi kita liat dia ke kantin bareng temen-temennya, malah lebih ceria kok.
Tapi sekarang…” jawab Cakka.
“mungkin ada
masalah diluar sekolah kali ya? susah banget sih nebak jalan pikiran tuh anak?”
sambung Gabriel.
“gue kangen kak
Ify yang dulu. Yang bawel” gumam Deva. Semua mengangguk setuju.
====A
Turning====
Pagi ini kepala
Ify terasa sangat berat. Wajahnya terlihat pucat. Mungkin efek dari menangis
semalaman ditambah tidur yang terlalu larut. Tapi ia tetap bertekad untuk pergi
ke sekolah. Dengan langkah lemas dia menuruni beberapa anak tangga. Dan
kemudian mengambil posisi duduk disebelah Deva. Shilla yang sedari tadi
memperhatikan wajah adiknya langsung bertanya.
“Fy..” Ify
menoleh.
“elo sakit?”
tanyanya. Ify menggeleng.
“gak kok. Gue
gak papa” jawabnya lemas.
“jangan ngeyel
deh. Gue tau elo itu gimana? Gue kakak elo, Fy. hari ini elo gak usah masuk
dulu ya..” ucap Shilla. Ify menggeleng sambil tersenyum.
“gak Kak. gue
gak papa.” Shilla menghela nafas.
“pagi semuaaa…”
sapa Cakka sambil mengambil posisi duduk disebelah Ify.
“pagi..” balas
Shilla, Gabriel dan Deva. Ify hanya tersenyum.
“tumben, Py lo
gak cerewet hari ini? Sariawan yaa?” Tanya Cakka.
“kagak tuh. Elo
kali.” Cakka reflek mencubit gemas pipi Ify. dengan seketika Cakka terbelalak.
“Fy..lo sakit
ya? badan lo panas banget” histeris Cakka sambil menempelkan punggung tangan
kanannya ke dahi Ify. Ify menepis tangan Cakka.
“enggak. Gue
sehat kok.”
“udah lah, Fy.
gue juga bisa liat kalo elo tuh sakit” sambung Gabriel dibarengi anggukan Deva
yang sedari tadi hanya diam.
“iya iya, gue
Cuma rada pusing doang kok. Ya udah deh, gue pergi dulu ya..” ucapnya sambil
berdiri perlahan. Kepalanya terasa sangat berat saat ini. Dia melangkah
sempoyongan. badannya semakin lemas. Gabriel langsung ambil tindakan menopang
tubuh adiknya yang hampir saja limbung.
“Fy..hari ini lo
gak usah masuk dulu. Gak ada protes, oke?” ucap Gabriel tegas sambil memapah
Ify ke sofa. Ify hanya pasrah.
“nanti siapa
yang mau jagain Ify? kakak ada kuliah pagi ini, terlebih tes lagi” ucap Shilla.
“gue aja, Kak.
gak papa kok, biar Cakka yang kasih surat
izin Ify sama gue” ujar Gabriel.
“yaahh..padahal
gue mau jagain Ify” ucap Cakka kecewa.
“halaah elo gak
bakalan becus kalo jagain Kak Ify. bilang aja lo gak mau masuk hari ini. Iya kan?” cibir Deva. Cakka
menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
“kok elo tau
sih, Dev? Udah ah..cepet mana suratnya? Gue mau berangkat nih.” Gabriel
menyerahkan dua surat
yang baru saja ia tulis.
“okelah. Gue
duluan ya” pamit Cakka sambil berlalu keluar.
“eh? Gue nebeng
elo” susul Deva ke Cakka.
“ya udah, Yel.
Kakak juga pergi ya. jagain Ify” pamit Shilla. Gabriel mengangguk.
“istirahat ya,
Fy. kakak pergi dulu” pamit Shilla. Ify hanya mengangguk lemas dan Shilla
berlalu.
“masih pusing,
Fy?” Tanya Gabriel.
“banget, Kak”
ucapnya lemah.
“lo tiduran aja
dulu disini. Gue ngambil kompresan dulu.” Ify hanya menurut. Gabriel berlalu
menuju dapur mengambil sebaskom kecil air dan handuk kecil. Kemudian dia
langsung melangkah keruang tamu dan mendekati sang adik. Dia memeras handuk
kecil itu dan diletakkannya di kening Ify.
“maafin Ify udah
ngerepotin kakak hari ini” ucapnya lirih. Gabriel tersenyum kemudian mengelus
lembut rambut Ify.
“kakak gak
merasa direpotin kok. Kakak malah seneng bisa ada waktu berdua sama Ify.
biasanya kakak selalu sibuk sama pekerjaan kakak di OSIS, jadi gak ada waktu
main berdua sama Ify” jelasnya. Ify tersenyum. Ify memeluk kakak keduanya itu
erat.
“Ify sayang
kakak. Kakak jangan pernah tinggalin Ify ya..” ucap Ify. Gabriel mengangguk
sambil membalas pelukan adik perempuannya.
“kakak janji gak
akan tinggalin Ify. percaya deh” ucap Gabriel yakin. Ify melepaskan pelukannya.
“Ify perlu
bukti, Kak. jangan kayak laki-laki gila itu yang udah ngelupain janji-janjinya”
ucap Ify pelan. Gabriel mengernyitkan dahinya.
“laki-laki gila?
Siapa, Fy?” Tanya Gabriel. Ify merutuki perkataannya sendiri dalam hati.
“hah? Emm..bukan
siapa-siapa, kak. bener kok” ucapnya gugup.
“jangan bohong
sama kakak, Fy. ayo kasih tau kakak, siapa laki-laki yang Ify maksud tadi?”
pinta Gabriel. Ify menghela nafas sejenak. Tidak ada salahnya jika ia beritahu
Gabriel.
“mm..papa”
ucapnya pelan tapi cukup untuk didengar oleh Gabriel. Gabriel terbelalak kaget.
“papa? kok
bisa?” Tanya Gabriel tidak percaya.
“kemarin di café
Stesa’s, Kak. kakak jangan kasih tau yang lain ya, Kak. Cuma kakak yang Ify
kasih tau” ucapnya lirih. Gabriel mengangguk sambil tersenyum.
“iya. Ify ke
kamar aja gih, istirahat.” Ify mengangguk kemudian berdiri dan melangkah menuju
kamarnya.
“papa” gumam
Gabriel.
====A
Turning====
Rio sedari tadi menatap bangku
kosong itu. Baru sehari saja tidak bertemu, dia sudah merindukan sifat cuek
gadis pujaan hatinya itu. Dia tidak tahu kenapa bidadari cantiknya itu tidak
masuk hari ini. Mungkin saja Sivia tahu kemana gadis itu. Rio
menghampiri Sivia yang sedang membaca novel.
“Vi..” panggil Rio. Sivia menoleh.
“eh? Kenapa Yo?”
“Ify kemana sih,
Vi?” tanyanya.
“ciee kangen nih
yee” goda Sivia. Rio salah tingkah.
“aduuh gak usah
salting gitu dong. Si Ify hari ini sakit jadi gak masuk.”
“hah? Sakit apa,
Vi?” tanyanya cemas.
“cieelah
khawatir banget sih haha. Ify Cuma sakit demam kok.” Rio
manggut-manggut mengerti.
“Yo, gue nanti
mau kerumah Ify, jenguk dia. Lo mau ikut?” Tanya Sivia.
“mau mau. Pulang
sekolah ya? nanti gue ajak Alvin
juga.” Sivia mengangguk. Rio berlalu menuju
mejanya.
0 komentar