A Turning Part 4


A Turning àPart 4ß
(Ify : He’s my brother
Sivia : elo terlalu tertutup, Fy
Rio : akhirnya gue bisa liat elo ketawa)

====A Turning====

Kelas X.1 saat ini sedang pelajaran kosong. Dikarenakan para guru sedang melaksanakan rapat. Suasana riuh terjadi. sedangkan gadis satu ini, terlihat sangat tidak tertarik dengan acara teman-temannya sendiri. Ada yang sedang bergosip, bermain tidak jelas, tertawa dan masih banyak lagi. dia memilih untuk membaca komik kesayangannya sambil mendengarkan lagu dari Ipod silvernya. Headseat putih menggantung di kedua telinganya. Sementara sahabatnya, Sivia kini sedang bercanda gurau dengan Alvin.

‘sungguh..ciptaan tuhan paling indah..’ batin Rio sambil terus memandang lekukan wajah cantik Ify. merasa diperhatikan, Ify menoleh. Dia mendapati Rio yang tengah memandanginya dengan sebuah senyuman lebar diwajahnya.

‘ngapain sih tuh anak, ngeliatin gue gitu amat? Bodo deh..’ batin Ify. setelah beberapa menit kemudian, Ify melepaskan headseat putihnya dan menutup komiknya sambil meletakkannya di laci meja. Dia berjalan keluar kelas santai.

“yaahh. Kok pergi sih?” gumam Rio kecewa sambil menatap kepergian Ify.

“yaelah, Yo. muka lo melas amat. Hahaha” ledek Alvin. Rio menoleh.

“bodo. Wlee..” Rio melangkah keluar kelas.

====A Turning====

Ify mendrible bola basket dan kemudian mengshootnya. MASUK! Ify berlari kecil menghampiri bola basket itu. Sebelum Ify mengambilnya, tangan seseorang telah mengambilnya duluan dan mendrible bola itu. Seakan Ify tertantang untuk menghadapinya. Ify melongos dan kemudian ikut berlari ketengah lapangan, berhadapan dengan sang lawan.

“gue tantang lo on one dengan gue” tantang orang tersebut. Ify tersenyum miring.

“dulu, lo bisa kalah. Tapi sekarang…gak akan bisa” ujar Ify.

“oke. buktiin itu, Alyssa.”

“jangan pernah lagi ngeremehin gue….Gabriel.” Gabriel-orang itu-memulai permainan. Pertarungan antara dua kakak beradik. Permainan Ify sudah semakin lihai. Dengan lincah, gadis ini mendrible bolanya dan mengshootnya di area three point. Dan….MASUK! skor terus berkejar-kejaran. Lapangan pun sudah dipenuhi oleh murid-murid SMA A.I.S. menonton sebuah pertandingan seru antara Gabriel dan Alyssa. Skor sementara dipimpin oleh Gabriel dengan 16-13. Cakka yang melihat permainan adik perempuannya tersenyum tipis.

‘makin jago aja tuh anak’ batinnya. Rio, Alvin dan Sivia pun tak ketinggalan menonton pertandingan seru itu. Mereka bertiga celangap melihat permainan Ify yang menurut mereka-emm-keren. Tak bisa dipungkiri, Rio dan Alvin yang memang jago bermain basket harus mengakui permainan keren dari seorang Alyssa. Skor masih dipimpin oleh Gabriel dengan 18-16. tiga point lagi Ify akan memenangkan pertandingan antara dirinya dan kakak keduanya itu. Ify merebut bola dari Gabriel dan langsung berlari sambil mendrible bolanya dengan cepat. Mengshoot di area three point dan…YA! MASUK! Permainan dimenangkan oleh Ify. Ify tersenyum puas. Akhirnya dia berhasil mengalahkan sang kakak. Gabriel menghampiri Ify yang kini tengah menatapnya tersenyum miring.

“lo makin jago” puji Gabriel.

“gue udah bilang. Jangan pernah lagi ngeremehin gue” ujar Ify santai. Gabriel terkekeh.

“iya. Gue percaya sama lo. Belajar dimana tuh?”

“belajar sendiri lah.”

“bukannya papa yang ngajarin?”

‘DEG!’ peristiwa itu kembali terputar di memory otaknya.


Flashback On---

“papa…ajarin Ify main basket dong. Ify pengen kayak Kak Iel sama Kak Cakka yang bisa main basket” rengek Ify. Papa tersenyum sambil mengusap puncak kepala Ify lembut.

“kenapa gak minta ajarin Kak Iel apa Kak Cakka aja?” Ify menggeleng.

“Ify maunya sama papa. ayoo Pa…biar waktu Ify besar, Ify bisa main basket sama mereka” rengeknya lagi. Papanya tertawa kecil.

“ya udah. Ayo..” Papa dan Ify melangkah menuju lapangan didekat rumah mereka. Papa mengajari Ify dengan sabar. Mereka bermain dengan diselingi canda tawa.

---Flashback Off.


“ayolah, Fy. mau sampe kapan lo mesti kayak gini? Moving On! Perjalanan elo masih panjang. Masa depan masih ada, Fy.” tutur Gabriel. Ify terdiam. Cakka yang melihat kejadian itu langsung menghampiri mereka berdua. Para murid yang berkerumun di pinggir lapangan tadi pun sudah melangkah menuju kelas masing-masing.

“Kak Iel bener, Fy” tambah Cakka tiba-tiba. Ify menghela nafas.

“gue ke kelas” pamit Ify dan berlalu meninggalkan kakak-kakaknya. Gabriel dan Cakka menatap punggung Ify yang menjauh dengan tatapan miris.

“susah banget sih, buat dia kayak dulu lagi” gumam Cakka resah. Gabriel tersenyum dan menepuk pundak Cakka.

“kita pasti bisa buat dia kayak dulu lagi. Tapi itu butuh proses yang lama.” Cakka menghela nafas dan kemudian mengangguk.

====A Turning====

Ify terus melangkah menuju kelasnya. Saat memasuki kelas, semua tatapan mata anak-anak kelas X.1 tertuju padanya. Sempat kaget saat dia melihat seisi kelas menatapnya dengan tatapan yang bisa diartikan bahwa mereka tidak percaya kalau Ify bisa bermain basket sekeren tadi. Kenapa tidak ikut club basket saja? Batin mereka bertanya-tanya. Tidak lama Ify langsung berjalan santai menuju kursinya. Sama halnya dengan yang lain, Sivia pun menatap Ify tidak percaya. Ify menoleh dan mengangkat satu alisnya, bingung. Ada apa dengan sobatnya satu ini? Emm..ralat maksudnya dengan anak-anak satu kelas ini mungkin.

“what?” Tanya Ify heran.

“tadi beneran elo yang main basket lawan Kak Iel?” Tanya Sivia balik dan sekaligus mewakili pertanyaan semua anak kelas ini. Kelas masih hening. Menunggu jawaban dari sang narasumber. Ify mengangguk acuh sambil mengambil komik kesayangannya dari dalam laci. Kemudian membukanya dan membacanya.

“kok elo bisa keren banget sih mainnya? Kenapa gak ikut club basket aja sih, Fy? mungkin aja lo bisa terpilih jadi kaptennya” pertanyaan Sivia masih berlanjut, dan seisi kelas masih hening.

“gak berminat” jawab Ify cuek tanpa mengalihkan pandangannya dari komik. Sivia menghela nafas. Harus bersabar menanggapi sahabatnya yang cuek ini.

“emm..tapi, kenapa lo bisa seakrab itu dengan Kak Iel?” pertanyaan Rahmi kali ini mengundang perhatian seisi kelas.

“He’s my brother” jawab Ify singkat. Semua terbelalak kaget. kecuali Sivia. Ya! dia sudah tahu keluarga Ify. APA? Jadi selama ini…Gabriel kakaknya dari Alyssa? Pikir mereka.

“yang bener?” Tanya Rahmi tidak percaya. Ify lagi lagi hanya mengangguk.

“oh iya, Fy. gue..boleh nanya satu pertanyaan gak sama elo?” Tanya seorang siswi ragu-ragu. Sebut saja dia Irva. Ify mengangguk.

“tadi pas gue liat elo selesai main. Elo disamperin juga sama Kak Cakka. Dan keliatan akrab. Jangan bilang Kak Cakka juga kakak elo?”

“emang kenyataan” jawabnya singkat. Mata mereka semakin melebar. Kenapa kedua kakaknya yang begitu ramah sama semua orang, bisa sedarah dengan seorang perempuan yang cueknya minta ampun?

“kok elo gak kasih tau ke kita sebelum-sebelumnya sih, Fy?” Tanya Rio.

“penting?” Tanya Ify balik. Angel terlihat geram dengan kelakuan Ify yang ditanya dan dikasih sebuah jawaban singkat.

“elo tuh kenapa sih, Fy?” Tanya Angel yang mulai emosi. Ify melirik sekilas dan kemudian kembali memusatkan pandangannya ke komik.

“setiap ditanya, pasti elo jawab kayak gitu. Mau lo apa sih?” bentak Angel. Rahmi yang berada disamping Angel berusaha menenangkannya. Ify tidak bergeming.

“heh! Jawab dong? Gue gak yakin kalo Kak Iel sama Kak Cakka itu kakak elo. Mereka yang selalu ramah sama semua orang, tapi elo…elo yang cuek bebek gini, bisa sedarah sama mereka? Emang elo gak diajarin apa sama bonyok lo buat jadi anak yang sopan, ramah? Hah? Iya?” bentak Angel lagi. Ify sudah terlihat panas karena telah disangkut pautkan sama orang tua. Hatinya kembali sakit.

“apa mungkin elo itu anak…” BRAKKK! Belum sempat Angel melanjutkan kata-katanya, Ify telah menggebrak mejanya dan berdiri.

“elo gak tau apa-apa tentang keluarga gue” ucap Ify dengan setiap penekanan disetiap kata-katanya.

“dan elo gak berhak tau itu!” ucap Ify dengan nada tinggi. Semua terlihat kaget ketika melihat butiran bening itu meluncur perlahan dari mata beningnya. Mereka tidak menyangka, Ify yang mereka ketahui tidak pernah memperlihatkan air matanya didepan banyak orang.

“Ify..” ujar Sivia lirih. Sivia tahu bagaimana perasaan Ify saat ini. Dan mungkin masalah keluarga Ify hanya Sivia yang tahu dikelas ini.

“sekalipun elo tau, itu gak bakal bisa ngerubah semuanya” ucap Ify dan kemudian melangkah keluar kelas. Angel terlihat menyesal ketika melihat air mata Ify tadi.

“elo apa-apaan sih, Ngel?” Tanya Rio emosi.

“udah,Yo. jangan memperbesar masalah” ucap Alvin menenangkan. Sivia berlari menyusul Ify. Diikuti Rio dan Alvin.

“argghhh! Gue kenapa sih?” Tanya Angel sendiri yang mungkin kelihatan menyesal.

====A Turning====

Ify memandang lurus kedepan dengan tatapan kosong. Tempat inilah yang bisa membuat dia tenang. Taman belakang sekolah. Taman disini sangat sejuk. Tapi anak-anak tidak pernah datang kesini sebelumnya dengan sebuah pengecualian adalah dirinya. Ify menoleh ketika dia merasa pundaknya disentuh lembut.

“Fy..” Ify kembali memandang lurus kedepan. Sivia-orang itu-mengusap lembut pundak Ify.

“gue tau perasaan lo saat ini. Jangan pernah segan buat cerita semuanya ke gue” ujar Sivia. Ify menggeleng lemah.

“gue gak papa, Via.” Sivia menghela nafas.

‘elo terlalu tertutup, Fy’ batinnya. Butiran bening itu kembali meluncur mulus dipipinya. Sivia yang melihat itu seakan tau rapuhnya Ify. Hatinya ikut sakit jika melihat air mata kerapuhan itu keluar dari mata sahabatnya tercinta.

“gue siap jadi sandaran elo, Fy. lo boleh pinjam pundak gue. Dan elo boleh nangis sepuasnya kalo itu bisa bikin lo tenang” ucap Sivia. Ify menoleh. Dia mendapati sebuah ketulusan dari seorang sahabat yang siap menjadi sandarannya, yang siap menjadi penyangga saat ia jatuh. Ify tersenyum. Sivia membalas tersenyum. Ify menyandarkan kepalanya dipundak Sivia dan menangis sejadi-jadinya. Sivia mengelus lembut rambut Ify. Hening sejenak. Yang terdengar hanya isakan Ify dan hembusan angin. Sampai saat Ify membuka suaranya kembali.

“gue terlalu rapuh, Via. Gue gak bisa setegar yang seperti kalian kira. Gue juga manusia biasa. Tapi...gue akan berusaha setegar mungkin dihadapan kalian semua. Gue gak mau kalo gue dibilang cewe lemah, cewe cengeng yang kerjaannya Cuma bisa nangis Cuma karena masa lalu. Dan gue bakal buktiin kalo gue nggak kayak gitu. Karena masa depan gue udah nunggu kedatangan diri gue.” Ify mengeluarkan unek-uneknya yang selama ini dipendamnya. Sivia tersenyum. Ify kembali ke posisi semula sambil menghapus air matanya.

“jadi…elo bakal balik lagi kayak dulu?” Tanya Sivia senang. Ify mengangkat bahunya tidak tahu.

“mungkin, belom bisa sekarang. Tapi lo tunggu aja” ujarnya sambil tersenyum manis. Ah! Akhirnya senyuman itu keluar juga yang selama bertahun-tahun lenyap begitu saja.

“kalo gue diposisi elo, mungkin gue udah bunuh diri kali. Masalah lo terlalu rumit.” Ify terkekeh.

“Ify..”

“Sivia..” panggil dua pemuda hitam manis dan Chinese sambil menghampiri mereka berdua.

“eh..Alvin, Rio? Ngapain kalian disini?” Tanya Sivia. Ify hanya diam. Sifatnya kembali cuek.

“nggak ada sih. Cuma mau nyamperin kalian. Mumpung istirahat” jawab Alvin. Sivia mengangguk mengerti.

“Fy..lo gak papakan?” Tanya Rio. Ify menggeleng.

“gak” jawabnya singkat.

‘yaahh..baru aja dia senyum’ batin Sivia.

“ciee Rio perhatian amat sih? amat aja gak perhatian tuh” ledek Alvin. Rio menoyor Alvin.

“yee..soalnya gue ganteng dari amat.” Alvin menoyor Rio balik.

“odong lo. Kagak nyambung, bego.” Rio cengengesan. Sivia tertawa melihat kelakuan mereka berdua.

“Fy kok gak ketawa sih?” Tanya Rio. Ify mengerutkan kening.

“maksud lo?” tanyanya balik.

“kan gue lucu imut-imut gimana gituu..” Alvin kembali menoyor Rio.

“aduuhh dasar cina glodok. Sakit woy!” Rio membalas toyoran Alvin.

“sakit, Tem” balas Alvin.

“iihh..Apin mah gitu ama Iyo..” ujar Rio layaknya anak kecil ngambek.

“Iyo sih duluan noyor Apin. Ya udah Apin bales deh” balas Alvin tidak mau kalah. Sivia sudah tertawa terbahak-bahak melihat aksi kedua pemuda tampan itu. Ify tertawa kecil melihatnya. Bagaimana juga mereka seru pikirnya.

“yee…Ipy udah ketawa” ujar Rio girang. Ify tersenyum manis.

“ih si Ipy jangan senyum kayak gitu dong. Nanti Iyo pingsan loh.” Ify, Alvin dan Sivia mengerutkan kening.

“pingsan?” Tanya mereka serempak.

“iya. Abisnya manis bangeettt” jawab Rio.

“wooo…belajar darimana lo ngegombal?” Tanya Alvin.

“kan elo, Pin. Gimana sih? udah pikun apa ya?” Alvin menggaruk-garuk kepalanya bingung.

“iya ya?”

“woo..dasar pikun.”

“gue gak pikun, Rioo..”

“yee..kenyataan Alviin..”

“iih au ah” ujar Alvin sambil menggembungkan pipinya.

“ih ngambek. Jangan ngambek dong, Pinsay” kata Rio sambil mencolek dagu Alvin.

“isshh. Jijay gue Rioo..” Rio, Sivia dan Ify tertawa melihatnya.

‘akhirnya gue bisa liat elo ketawa’ batin Rio.

‘gue seneng kalo elo kayak gini, Fy’ batin Sivia.

You May Also Like

0 komentar