A Turning Part 3
A Turning àPart 3ß
(Cakka : There
still a turning, you know? Nothing impossible)
====A
Turning====
Keesokan
harinya, Ify telah bersiap untuk pergi kesekolah. Tidak lupa membawa pakaian
ganti untuk kerjanya. Dia terus berdoa dalam hati agar diberi kelancaran dalam
menjalankan kerja hari pertamanya ini. Ify menuruni tangga satu persatu. Di
meja makan sudah ada tiga orang menempatinya. Ify menghela nafas, ketika dia
lagi lagi tidak melihat sang mama disana. Bukan hanya mamanya tidak berada
disana, tetapi salah satu saudaranya juga tidak ada disana. Tapi, Ify tidak
ambil pusing. Mungkin si Cakka masih ngurusin rambutnya dikamar, pikirnya.
‘lagi lagi mama
gak ada waktu sarapan. Rasanya gak komplit kalo kayak gini terus. Gue takut
kalo mama sakit karena kecapean habis dia kerja. Mudah-mudahan uang hasil gue
kerja bisa bantu kami sedikit..’ batin Ify yang masih terus memandangi kursi
makan dimana tempat mama yang selalu duduk disana dengan pandangan kosong.
Shilla, Gabriel dan Deva yang berada disana mengerutkan kening heran melihat
Ify yang masih mematung di atas tangga terakhir.
“DOOORR..” kejut
Cakka yang habis keluar dari kamarnya. Ify tersentak. Dia menoleh kebelakang.
“iihh, apa-apaan
sih lo? Kaget tau gak. Kalo gue jantungan gimana? Ha? Mau tanggung jawab?” kata
Ify mencak-mencak. Cakka menyeringai lebar. Memperlihatkan deretan gigi
putihnya.
“abiss, lo
sendiri yang berdiri disini kayak patung selamat datang. Gue kira lo udah
dikutuk jadi patung sama Kak Shilla..” Ify melotot.
“apa hubungannya
dengan Kak Shilla? Dasar Cakkdut reseee.. lo itu kakak gue yang paling
nyebelin.”
“yeee..ganteng
gini juga..” Ify mengacak rambut Cakka kesal.
“gak ada
hubungannya Cakkdut jeleeekk..”
“ah Ify mah.
Rambut gue rusak nih” protes Cakka cemberut sambil membenahi kembali rambutnya.
Semua yang berada di meja makan hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah laku
kakak beradik itu.
“udaaahh.
Sarapan dulu. Udah hampir telat kalian. Kakak duluan ya semuaa. Bye.. yuk, Dev”
pamit Shilla sambil melangkah keluar rumah. Deva juga beranjak dari situ.
“duluan ya kakak
kakakku. Byee..” tinggallah Gabriel, Cakka dan Ify disana. Keheningan terjadi.
mereka masih melahap sarapan paginya dengan nikmat.
“Kak Iel, gue
bareng elo ya, perginya..” kata Ify.
“kenapa gak
bareng Cakka?” Tanya Gabriel.
“gak ah. Males.
Gue udah bosen bareng dia mulu. Ayolah, Kak. yayaya?” pinta Ify. Gabriel
mengangguk.
“maksud lo apa
bosen sama gue?” Tanya Cakka. Ify menoleh.
“ya iyalah.
Gimana gak bosen tiap hari elo nebeng gue, dengan alesan motor lo dibengkel.
Emang tuh motor kagak keluar-keluar apa dari bengkelnya?”
“woelah, Fy.
motor gue itukan keren, jadi harus lama dibenerinnya. Biar fresh gitu..”
“ngeekk. Lo kira
apaan, pake fresh segala.”
“udah udah,
ribut mulu. Fy, gue tunggu di mobil.” Gabriel berlalu. Tidak lama Ify beranjak
dari tempat duduknya.
“gue duluan,
Cakkdut. Byee…” Ify langsung berlari keluar sebelum Cakka mencak-mencak.
“yaelah..nasib
gue hari ini. Mesti ngeluarin tuh motor satu. Kan sayang..” dumel Cakka.
====A
Turning====
Rio masih terus berdiri di
koridor sekolah. Matanya terus mengawasi daerah gerbang sekolah. Senyum lebar
menghiasi wajah manisnya ketika melihat seseorang yang telah ditunggunya
datang.
‘wiihh..bidadari
gue emang mau digimanain tetep cantik hihi..’ batinnya. Rio
mulai mendekati seseorang tersebut.
“Pagi, Fy..” Ify
menoleh dengan wajah datar.
“pagi..” mereka
berjalan beriringan ke kelas. Rio terus
menatap wajah cantik itu. Ify menoleh. Sempat mata mereka beradu.
“kenapa lo
liatin gue gitu?” Tanya Ify jutek.
“yaelah, Fy.
jutek amat hehe. Abis lo cantik sih. jadinya gue gak bosen ngeliatin lo mulu..”
jawab Rio jujur. Ify yang mendengar itu
mendadak wajahnya memanas.
‘apaan sih gue?’
batin Ify.
“lo tau gak. Kalo
gue perkirakan, elo itu pasti lebih manis kalo senyum. beneran deh suerr..”
lagi lagi dia berkata jujur.
‘kok gue seneng
gini pas dia bilang gitu. Apa jangan jangan guee..arrgghh! lo apa-apaan sih,
Fy. gak mungkin itu. Gue kan
baru kenal dia kemarin’ batin Ify lagi.
“Fy..kok melamun
sih? nanti kesambet loh.” Ify tersadar.
“oh enggak. Gue
duluan.” Ify tersenyum tipis sambil berlalu. Rio
mematung melihatnya.
‘whatt!?
Di..dia..senyum sama gue? Ini bukan mimpi kan? Huwaaa…elo udah buat gue kesemsem, Fy’
batin Rio. Alvin
yang baru datang melihat Rio mematung di
tengah koridor sekolah mengernyitkan dahinya.
‘kenapa nih
anak? Liat apaan sih?’ batin Alvin.
Dia mengikuti arah pandangan Rio.
‘gak ada
apa-apa’ batinnya lagi.
“Yo..” panggilnya.
“…” Rio tetap tidak bergeming.
“RIOOOO..”
teriak Alvin di telinga Rio.
“woooo…mantap
suara lo. Huh, budek nih kuping gue” kata Rio
sambil mengusap-ngusap telinga kirinya.
“ngeliat apaan
sih lo?” Rio senyum-senyum.
“hehe..gue
ngeliat bidadari gue senyum, Vin. Senyum! Bayangin ya, Vin. Biasanya dia itu
dingin banget sama cowo, tapi tadi dia senyum ke gue, Vin. Huwaaa! Dia buat gue
tambah kesemsem sama bidadari gue.” Alvin
bergidik ngeri melihat tingkah sobatnya yang histeris itu.
“iye iye. Masuk
kelas yuk. Udah mau bel nih.”
“ayooo..” kata Rio semangat.
====A
Turning====
Pulang sekolah
Ify langsung pergi ke tempat kerjanya. Dia mengetik sebuah sms untuk kakaknya,
bahwa hari ini dia tidak bisa pulang bersama. Ify mulai memasuki café dan
menghampiri sang manager yang telah menunggunya.
“siang, Pak..”
sapa Ify ramah. Pak manager menoleh.
“oh, sudah
datang. Bagus. Kamu tepat waktu. Kamu cepat ganti baju sana. Sebentar..Oik..” seorang gadis cantik
menghampiri mereka.
“iya, Pak?”
Tanya gadis itu yang tak lain adalah Oik.
“tolong kamu
antarkan…mm..namamu siapa, Nak?”
“Ify, pak..”
jawab Ify.
“oh oke.. tolong
kamu antarkan Ify ke ruang ganti. Dia baru disini. Jadi tolong kamu ajarkan dia
bagaimana menjadi waitress yang baik.”
“siap, Pak.
Ayo..kita keruang ganti.” Ify dan Oik berlalu meninggalkan Pak manager dan
berjalan ke ruang ganti.
“oh iya, kita
kenalan dulu. Nama gue Oik Cahya, lo bisa panggil gue Oik..” kata Oik sambil
memperkenalkan dirinya.
“gue Alyssa
Saufika, lo bisa panggil gue Ify..” kata Ify sambil membalas uluran tangan Oik.
“elo kenal sama
Sivia?” Tanya Ify.
“iya gue kenal.
Dia temen gue SMP, elo kenal?” kata + Tanya Oik balik.
“iya. Dia
sahabat gue.” Oik mengangguk mengerti. Mereka berdua saling berbincang-bincang.
Dan Oik pun mengajarkan bagaimana menjadi seorang waitress yang baik. Ify pun
siap. Di hari pertamanya bekerja, Ify sangat semangat. Manager café pun
tersenyum bangga melihat kerja Ify saat ini. Setelah semua selesai, Ify kembali
keruang ganti. Disana sudah ada Oik dan beberapa teman kerjanya.
“Ify.. elo hebat
hehe. Hari pertama kerja, udah maksimal banget” puji Oik. Ify hanya tertawa
kecil.
“oh iya, Fy. ini
kenalin mereka temen-temen gue disini..Debo, Obiet, Ourel, Osa, Bastian sama
Dayat..” kata Oik sambil menunjuk satu persatu teman-temannya. Ify tersenyum
tipis.
“hei, gue Ify”
kata Ify singkat.
‘nih cewe cantik
banget’ batin seseorang.
“oke, hari ini
pekerjaan kita selesai. Jadi kalian bisa pulang sekarang” perintah Oik yang
memang berstatus sedikit lebih atas dari mereka semua. Satu persatu dari mereka
mulai meninggalkan café.
“Fy gue duluan
yaa..bye..” pamit Oik sambil berlalu. Ify mengangguk sambil tersenyum. Masih
tersisa Ify dan Debo yang berada di café tersebut. Ify mengemasi barang-barangnya
kedalam tas. Setelah semua beres Ify langsung melangkah keluar. Saat di depan
pintu, Debo mencegatnya. Ify mendengus kesal.
“hay, Fy. elo
pulang bareng siapa?” Tanya Debo sambil tersenyum ramah.
“naik bus” jawab
Ify singkat.
‘gila jutek
amat’ batin Debo.
“mm..mau bareng
gak?” tawar Debo.
“gak. Makasih.
Gue duluan.” Ify berlalu menuju halte dekat situ. Debo hanya bisa meneguk
ludah.
‘ajiibb tuh
cewe. Cuek amat dah. Tapi elo gak boleh nyerah, Deb. Dia Cuma bisa jadi milik
gue..’ batin Debo.
====A
Turning====
‘Ceklek..’ Pintu
rumah itu dibukanya. Dia melihat kakak-kakaknya sudah berada di ruang tamu
sambil menonton televisi. Mungkin juga sedang menunggu gadis satu ini.
“kok pulangnya
telat?” Tanya Shilla yang cukup khawatir. Ify tersenyum kecil.
“ada urusan,
Kak.” Ify melangkah menuju kamarnya. Saat berada di tengah tangga, Gabriel
bertanya.
“urusan sama
siapa?” Ify menoleh.
“temen kok. Gue
ke kamar..” Ify melanjutkan langkahnya.
“kenapa lagi tuh
anak?” Tanya Shilla. Gabriel dan Cakka hanya mengangkat bahu tidak tahu.
“DEVA YANG
PALING IMUT PULAANNGG…” teriak Deva saat memasuki rumah.
“Deva…gak usah
teriak-teriak. Ini rumah bukan hutan” tegur Shilla. Deva cengengesan.
“hehe…maap atuh
kak.”
“hehe…maap atuh
kak” ledek Cakka sambil menirukan gaya
Deva tadi. Deva mendelik.
“wesss mata lo,
Dev…” kata Gabriel.
“apa?” tanyanya
galak.
“gak” jawab
Gabriel santai dan kembali menonton tv. Cakka tertawa terbahak-bahak melihat
adiknya satu itu.
“kenapa lo?”
Tanya Deva pada Cakka. Cakka seketika diam.
“gak” jawabnya
singkat. Deva melongos dan melangkah menuju kamarnya sambil berdumel kesal.
====A
Turning====
“mamaa..papa..tungguin.
jangan cepet-cepet larinya. Dina kan
capek..” suara anak kecil itu terdengar hingga kamar Ify. Ify yang sedang duduk
di balkon kamarnya, hanya bisa menatap miris keluarga bahagia itu.
‘apa bisa, keluarga
gue kayak gitu lagi?’ batinnya lirih. Butiran-butiran bening itu perlahan jatuh
ke pipinya yang putih.
‘gue kangen
masa-masa itu..’ batinnya lagi.
Flashback On---
Sore ini, Ify
dan keluarganya sedang jogging bersama. Deva yang masih kecil juga ikut,
walaupun masih dituntun. Terpancar kebahagiaan di wajah mereka semua. Shilla,
Gabriel dan Cakka berlari di urutan pertama. Mama, papa dan Deva berada di
belakang mereka bertiga. Sedangkan Ify masih terus berlari dibelakang mengejar
mereka semua.
“iihh..jangan
cepet-cepet dong. Ify kan
capek..” ujarnya dengan nafas yang tak beraturan. Mama dan Papanya menoleh.
Kemudian Papanya menghampiri. Dan mengangkat Ify lalu didudukkannya di
bahu(ngerti? Gak ya? ngerti2in aja lah) Papanya berlari menyusul Shilla,
Gabriel dan Cakka.
“hahahaha..ayo, Pa. cepet..! dadahh
semuaa…” sorak Ify riang. Yang lain hanya tersenyum bahagia melihatnya.
---Flashback Off
“gue kangen semuanya”
gumamnya pelan. Seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Ify sontak menoleh.
“kenapa?” Tanya
orang itu lembut. Ify menggeleng pelan dan sejurus kembali menatap lurus
kedepan. Cakka-orang itu- menghela nafas berat melihat adik perempuannya. Dia
mengambil posisi duduk disamping kanannya.
“kalo lo terus
mikirin tentang itu, yang ada elo bisa stress, Fy. udah, jalani aja semuanya.
Lupain dulu kejadian-kejadian pahit itu. Gue juga dulu gak bisa nerima semua
ini. Tapi, gue berusaha buat jalani hidup yang mungkin sedikit miris ini dengan
tenang. So? Look at me, I’m look so fine, isn’t? semua juga bakal berubah, Fy.
dan semua itu juga butuh proses. There still a turning, you know? Nothing
impossible” jelas Cakka bijak. Ify mencerna semua kata-kata yang dilontarkan
dari Cakka. Seketika senyumannya merekah, menghiasi wajahnya yang cantik.
“yeah..nothing
impossible” gumamnya. Cakka mengacak rambut Ify.
“gitu dong.
Jangan mewek mulu. Muka lo kan
jelek, jadi nambah jelek deh..” kata Cakka. Ify menoleh.
“elo tuh yang
jelek” katanya yang tidak terima.
“gue ganteng
gini dibilang jelek. Waahh katarak lo, Fy.”
“iihh…elo tuh
sarap..” Ify melipat kedua tangannya di dada sambil memasang wajah cemberut. Cakka
tertawa.
0 komentar