A Turning Part 1


A Turning èPart 1ç
(Ify : bintang, kenapa ini harus terjadi? Kenapa harus terjadi begitu saja? Aku tidak ingin seperti ini. Aku ingin bahagia..
Rio : alamak..bidadari dari mana ini?)
                                       

====A Turning====

Gadis manis ini masih saja termenung di balkon kamarnya. Menatap ke atas langit malam yang bertabur bintang serta ditemani bulan. Langit malam ini sungguh indah. Dia masih mengingat kejadian 7 tahun yang lalu. Dimana orangtuanya berpisah.


Flashback On---

7 tahun yang lalu. Saat itu mama dan papanya bertengkar hebat. Keempat saudaranya hanya berdiam diri dikamar masing-masing. Tapi tidak untuk gadis kecil satu ini. Dia menatap miris perkelahian orangtuanya dari atas tangga.

“papa itu yang apaan. Tiap pulang kerja selalu larut malam. Ngapain saja papa di kantor? Apa ada wanita lain?” bentak mama.

“jaga mulut kamu. Tidak ada wanita lain disana. Papa lembur, Ma” balas papa dengan nada tinggi.

“alaahh! Alasan. Bilang saja kalo papa itu sudah ada wanita simpanan. Iya kan?”

‘PLAKK’ gadis kecil itu tercengang melihat papanya menampar sang mama.

“jangan ucapkan kalimat itu lagi. Papa tidak ada wanita simpanan atau apapun itu.”

“seharusnya papa mendidik anak-anak kita dengan baik. bukan seperti ini. Pulang selalu malam. Gimana caranya agar anak kita menjadi anak yang baik?”

“papa itu lembur, Ma. Kerjaan sedang banyak dikantor.”

“ya..ditemani dengan seorang wanita.” Papa terlihat geram. Dia sudah mengangkat tangan kanannya untuk menampar mama untuk kedua kalinya. Tangannya sudah ingin melayang ke pipi mama. Tapi..

“STOOPP!” teriak gadis kecil itu. Dia tidak tahan melihat mamanya harus ditampar lagi. dia turun dari sana menghampiri kedua orangtuanya. Sontak mereka menoleh.

“papa jangan pukul mama lagi. kasian mama. Nanti mama sakit. Jangan pukul mama lagi, Pa..” pipi mulusnya telah dialiri air mata. Mereka menatap lirih anak mereka.

“Ify..” lirih mamanya.

“papa jangan pukul mama. Kalo papa mau pukul, pukul Ify aja, Pa. Ify gak papa, asal jangan mama. Ya, Pa..” lirihnya. Papanya hanya bisa diam.

“Ify kamu masuk kamar ya..” suruh mamanya. Ify menggeleng.

“gak! Ify mau nemenin mama. Ify gak mau masuk kamar. Ify takut nanti mama di pukul lagi.” mamanya tersenyum miris melihatnya.

“Ify…kita masuk kamar yuk. Kita main disana..” ajak kakak pertamanya yang baru saja turun, Kak Shilla. Ify tetap menggeleng.

“ayo, Ify. Kita main boneka dikamar” ajak kakak keduanya, Kak Iel. Ify menatap lirih mamanya. Kemudian mamanya tersenyum dan mengangguk. Ify pasrah dan mengikuti kedua kakaknya.

“lihat. Kamu lihat kan? Kasihan anak kita. Kamu masih ingin bersama wanita lain itu?” bentak mamanya.

“aku tidak pernah punya wanita simpanan. Tidak percaya sekali kamu. Kalau kamu ingin cerai bilang saja. Jangan berbelit-belit seperti ini.”

“oke. kita…cerai.” Papa dan mama langsung masuk kamar mereka. Dari atas tangga Shilla dan Gabriel mematung mendengar pernyataan kedua orangtuanya. Sedangkan Ify yang tidak tahu apa-apa hanya diam.

“kakak…kalo mereka cerai, berarti mereka mau pisah dong..” kata Ify polos. Mereka berdua menoleh. Shilla memeluk adiknya erat.

“kenapa mereka harus pisah? Ify pengen keluarga kita utuh. Ify pengen keluarga kita bahagia, Kak.” Shilla masih terus menangis dalam pelukannya. Gabriel hanya bisa diam dan menatap lirih sang adik yang polos itu.


---Flashback Off.

Dia menghela nafas panjang. mengingat kejadian masa lalu itu membuat dadanya terasa sesak. Dia mengadahkan kepalanya keatas. Menatap langit yang kini berhiaskan bintang-bintang dan bulan.

“bintang, kenapa ini harus terjadi? Kenapa harus terjadi begitu saja? Aku tidak ingin seperti ini. Aku ingin bahagia..” gumamnya.
                               
“..kau tahu? Setiap kali aku berdoa kepada Tuhan, aku meminta kepada-Nya agar diberikan keluarga yang utuh, keluarga yang bahagia. Aku iri kepada mereka semua yang mempunyai keluarga yang lengkap. Aku ingin seperti mereka. Tapi kapan itu bisa terjadi? Apa aku salah meminta kepada-Nya seperti itu?” lanjutnya lirih. Dari balik pintu kamar gadis itu, kakaknya, Gabriel terdiam mendengar ucapan-ucapan adiknya itu. Tidak terasa air matanya jatuh begitu saja, tapi dengan cepat dia menghapusnya. Dia menghela nafas sejenak.

‘tok..tok..tok..’

“masuukk..” Gabriel membuka pintu kamar gadis itu.

“Fy..” gadis itu menoleh, mendapati kakaknya yang kini menatapnya miris.

“kenapa, Kak?” tanyanya sambil beranjak dari tempatnya duduk dan menghampiri sang kakak. Gabriel tidak bisa berkata apa-apa lagi. dengan cepat dia memeluk erat adiknya itu. Gadis yang bernama Ify itu mengerutkan kening. Hey! Ada apa dengan kakaknya satu ini?

“kakak kenapa sih?” Tanya Ify lagi sambil membalas pelukan Gabriel. Gabriel menggeleng.

“lo yang kuat. Lo yang tegar. Lo mesti sabar, Fy. Tuhan punya segala cara untuk umatnya. Baik itu yang pahit maupun yang manis. Lo kuat, Fy. Jangan lemah. Gue gak bisa kalo ngeliat lo sedih.” Ify sebenarnya bingung apa yang telah dibicarakan kakak keduanya ini. Tapi dia terus mencerna perkataan Gabriel. Dan pada akhirnya dia mengerti apa yang kini dibicarakan kakaknya itu. Ify mengangguk mengerti. Gabriel melepaskan pelukannya. Dan kemudian menatap adiknya.

“ayo kita makan. Semuanya udah pada nunggu disana.” Ify mengangguk dan tersenyum. Mereka melangkah keluar kamar yang didepan pintunya terdapat sebuah tulisan ‘THIS IS IFY’s ROOM.’


====A Turning====

Keesokan paginya. Ify telah bersiap untuk sekolah (waktu MOSnya gak di tulis. Males mikirnya hehe) Dia menuruni tangga dan menghampiri meja makan yang telah berisikan 5 orang. Agak sedikit bingung ketika dia tidak melihat sang mama di meja makan. Dia duduk di samping Cakka, kakak ketiganya. Dan berhadapan dengan Shilla.

“mama mana?” Tanya Ify kepada semua yang ada disana.

“udah pergi ke kantor, Fy” jawab Shilla. Ify terdiam.

‘kasihan mama, masa dia harus kerja banting tulang buat kita semua. Gue mesti bantuin mama, apapun caranya. Gue harus bisa cari uang sendiri’ batinnya.

“Fy..” panggil Shilla. Ify tersentak.

“eh..apaan, Kak?” Shilla menggeleng-gelengkan kepalanya.

“sarapannya kenapa dipelototin aja? Udah jam 7.45 tuh.” Ify melirik jam tangan putihnya yang melingkar di tangan kirinya. Melihat semuanya masih sibuk menghabiskan sarapan masing-masing. Ify beranjak dari situ. Semua sontak menoleh.

“kenapa?” Tanya Gabriel. Ify menggeleng.

“mm..gue duluan ya.”

“gak makan?” Tanya Cakka. Lagi lagi dia menggeleng.

“gak. Biar disekolah aja. Duluan ya..bye semuaa..” Ify melenggang keluar rumah. Cakka buru-buru menghabiskan sarapannya.

“eh..semua gue duluan…” Cakka langsung berlari menyusul Ify.

“Fy..tungguin gue. Gue nebeng lo..” teriak Cakka. Semua yang melihat tingkah laku Cakka hanya bisa geleng-geleng. Di luar rumah, Ify sudah membuka pintu mobil Toyota Yaris birunya.

“Fyy..” panggil Cakka sambil berlari kearahnya. Ify menoleh.

“apaan Kak Cakkdut?” Cakka cengengesan.

“gue nebeng lo ya.” Ify mengangkat alisnya.

“kok? Tumben bener lo.”

“motor gue lagi dibengkel, Fy. yayaya? Pleaseee..” kata Cakka memelas.

“iya iya. Muka lo aneh, Kak. nih. Lo yang bawa.” Ify melempar kunci mobilnya ke Cakka. Dengan sigap Cakka menangkapnya dan berjalan kearah tempat duduk kemudi sedangkan Ify berjalan berlawanan. Cakka tancap gas kesekolahnya. Dalam perjalanan Ify hanya diam. Tidak seperti biasa dia yang selalu ribut apalagi dengan Cakka. Cakka melirik adik perempuannya itu.

“Fy..” panggilnya.

“…” tidak ada jawaban.

“Ifyy..” panggilnya cukup keras.

“…”

“Ippyyyy..” kali ini dia berteriak.

“apaan sih lo? Teriak-teriak gak jelas gitu? Ntar orang diluar ngiranya kenapa.” Cakka melongos.

“lo tuh yang apa-apaan? Pagi-pagi udah ngelamun. Mikirin siapa lo? Mikirin gue yang kenapa ganteng banget ini ya?” Ify bergidik geli.

“gak penting gue mikirin lo. Ganteng dari mana coba? Kalo diliat dari monas pake sedotan, baru gue akuin lo ganteng.” Cakka mendengus.

“whatever you dah..”

“lo bisa bahas inggris gak sih? kalo whatever gak pake you kali. Yang ada up to you..”

“yee..serah gue dong. Mulut gue juga..”

“au ah!” Mereka memasuki gerbang yang bertuliskan diatasnya ‘ASMIC INTERNATIONAL SCHOOL.’ Sekolah menengah atas yang terkenal elite. Mempunyai banyak prestasi. Baik di bidang akademik maupun non akademik. Ify berjalan menjauh dari parkiran. Sedangkan Cakka masih sibuk berkaca di spion mobilnya sambil membenarkan rambutnya.

“heuh! Lo itu makhluk ciptaan tuhan paling ganteng hehe. Go to class” gumamnya. Cakka berjalan menuju kelasnya. Di koridor telah banyak murid yang sudah berlalu lalang disana. Ify yang memang tidak memperhatikan jalan dan dari arah berlawanan seorang pemuda sedang berlari tak tentu arah. Akhirnya..

‘BRUUKK..’ mereka berdua terjatuh.

“aww..”

“aduuhh..” pemuda itu langsung bangkit membersihkan celananya yang kotor. Diikuti Ify, dia membersihkan roknya yang kotor.

“aduuhh..sorry ya. gue gak sengaja. Maaf ya..” kata pemuda itu memohon. Ify mendongak. Seketika pemuda itu cengo.

‘alamak..bidadari dari mana ini?’ batin pemuda itu.

“iya, gak papa. lain kali hati-hati. Gue duluan” katanya cuek. Ify berlalu meninggalkan pemuda tadi yang masih mematung memandangi dirinya.

“eh..ya ampun. Gue lupa nanya namanya. Dodol lo , Rio. Tapi tuh cewe cuek bener ya. bodo deh, gue harus bisa dapetin dia.” Pemuda yang ternyata bernama Rio itu berlari kecil menuju kelasnya.

You May Also Like

0 komentar