A Turning Part 6


A Turning àPart 6ß
(Gabriel : Masa depan disana, Fy. masa depan nunggu elo disana. Lo harus sabar. Hadapi semua masalah dengan senyuman)
                

====A Turning====

Ify masih terbaring lemas di kasurnya. Dia menerawang kejadian kemarin, dimana ia bertemu dengan papanya. Ya walaupun orangtuanya sudah bercerai, tapi ia masih menganggap laki-laki itu sebagai sang papa. Tapi rasa sayangnya musnah begitu saja saat kejadian kemarin siang di café. Rasa sayang itu telah terkubur dalam berganti dengan rasa benci. Ify tidak menyangka papanya akan mengingkari janjinya dulu yang akan selalu setia sama mama. Ify kecewa terhadapnya sekarang. Kalau terus mengingat kejadian itu, kepalanya semakin tambah pusing. Sejenak ia memejamkan mata untuk menghilangkan rasa berat di kepalanya. Namun yang ada kenangan-kenangan semasa ia dengan papanya dulu kembali berputar di memory otaknya. Ia berusaha menghilangkan semua kenangan-kenangan itu, tapi tetap saja tidak bisa. Ify menggelengkan kepalanya. Ia sudah tidak kuat lagi, kepalanya bertambah pusing. Kenangan itu kembali berputar. Ia terus memegangi kepalanya.

“ARRRGGHHH….” Teriak Ify.

====A Turning====

Gabriel masih berada di ruang tamu. Seragam putih abu-abunya kini telah ia ganti dengan pakaian santainya. Pandangannya terus tertuju pada tv yang mungkin saja ia tak tahu acara apa saat ini ia tonton. Karena pikirannya saat ini tertuju pada ucapan adiknya tadi. Lamunannya buyar ketika terdengar teriakan Ify dari dalam kamarnya. Sontak Gabriel langsung berlari menghampiri sang adik dengan perasaan cemas. Ia langsung membuka pintu kamar Ify. Terlihat Ify yang sedang duduk menekuk lututnya dengan wajah yang ia benamkan pada kedua lutut sudut kasurnya. Gabriel menghampiri adiknya yang saat ini sedang kacau.

“Ify..” panggil Gabriel. Ify tetap tidak bergeming. Gabriel duduk didepannya sambil mengusap lembut rambut Ify.

“Fy.. elo kenapa?” tanyanya lembut. Bahunya sedikit bergetar. Terdengar isakannya oleh Gabriel.

“elo istirahat aja ya. Kalo lo kayak gini terus, nanti malah tambah sakit” ucap Gabriel. Ify tidak bisa menahan semua ini. Dia begitu tersiksa. Dengan gerakan cepat, Ify menubruk tubuh Gabriel dan memeluknya erat. Gabriel sontak kaget melihat kelakuan adiknya ini. Gabriel membalas pelukan Ify.

“gue gak kuat, Kak. gue..gue..kesiksa kayak gini terus. Kenangan-kenangan itu terus ada dipikiran gue. Gue pengen balik kayak dulu lagi. keluarga yang utuh, keluarga yang bahagia. Tapi semuanya hancur karena laki-laki itu. Gue benci dia! Gue benci papa!” Ify mengeluarkan segala unek-uneknya sambil terus terisak. Gabriel yang menjadi pendengar menjadi iba terhadap adiknya satu ini. Ify yang dulu tidak seperti ini, Ify yang dulu adalah anak yang ceria, lucu, bawel tapi sekarang…semuanya telah berubah sejak orang tua mereka berpisah.

“lo sabar Ify. ini cobaan dari tuhan. Semua akan indah pada waktunya. Lo harus bisa menahan semua itu. Lo yang tegar, jangan kayak gini terus. Semuanya butuh proses, Fy. dan elo jangan terpuruk dengan masa lalu. Masa depan disana, Fy. masa depan nunggu elo disana. Lo harus sabar. Hadapi semua masalah dengan senyuman” jelas Gabriel lembut. Ify mulai sedikit tenang, ia melepaskan pelukannya. Gabriel menghapus air mata Ify sambil tersenyum.

“inget kata-kata gue tadi.” Ify mengangguk dengan senyuman tipis di wajahnya.

“lo istirahat ya. badan lo makin panas. Gue mau beli obat lo dulu, soalnya obat di dirumah kita abis. Gue gak bakal lama kok.” Ify menurut, ia merebahkan tubuhnya sambil memejamkan mata. Gabriel menarik selimut Ify hingga lehernya. Dan mengkompres Ify yang kini tengah terlelap. Dia menatap adiknya miris.

‘gue sayang elo, Fy. gue janji, bakal buat elo tersenyum lagi’ batin Gabriel dan kemudian melangkah keluar kamar Ify.

====A Turning====

Rio, Alvin dan Sivia telah sampai didepan rumah yang terbilang cukup mewah. Mereka mulai menginjakkan kaki di teras rumah dengan keramik putih. Baru saja Sivia ingin mengetuk pintunya, seseorang dari dalam telah membukakan pintu.

‘Ceklekk..’

“eh?” kaget Sivia. Orang itu pun tak kalah kagetnya. Mendapati ketiga adik kelasnya telah berada didepan pintu rumahnya.

“kalian? Mau jenguk Ify ya?” Tanya orang itu.

“iya, Kak Iel. Ifynya ada?” jawab dan Tanya Rio.

“ada kok. Cuma dia lagi tidur dikamarnya. Gak papa masuk aja. Sekalian gue mau minta tolong jagain Ify, gue mau ke apotek dulu” ucap Gabriel.

“nanti kita-kita ganggu lagi” ucap Alvin.

“enggak. Gue pergi dulu ya.” Gabriel berlalu menuju garasinya dan menancap gas motor ninja putihnya. Rio, Alvin dan Sivia memasuki rumah Ify yang sepi.

“kamarnya dimana?” Tanya Rio.

“gue tau kok. Ayo” ucap Sivia. Mereka melanjutkan langkahnya ke kamar Ify. Sivia membuka pintu kamar Ify secara perlahan agar tidak membangunkan si empunya yang sedang tertidur pulas saat itu. 

‘Ceklek..’ Sivia tersenyum melihat wajah sahabatnya yang begitu polos saat tidur. Tapi disana, dia menyimpan banyak kesedihan, kepedihan dan kerapuhan. Sivia ingin sekali Ify berubah menjadi Ify yang seperti dulu lagi. Sivia ingin melihat senyuman manis sahabatnya itu.

“unyu banget sih” gumam Rio pelan sambil tersenyum.

“iya. Wajahnya kalo lagi tidur keliatannya tenaaanngg banget” tambah Sivia pelan.

“iya bener. Padahal masalah yang nimpa dia berat banget” tambah Alvin. Rio dan Sivia menagangguk setuju tanpa mengalihkan pandangannya dari Ify yang masih saja terlelap.

“mm..Vi. kita berdua tunggu diluar aja ya. gak enak kalo disini, nanti dikira ngapain lagi. Ify nya juga belum bangun tuh” kata Alvin tiba-tiba. Sivia hanya mengangguk. Alvin dan Rio berlalu keluar menuju ruang tamu. Sivia mendudukkan dirinya pada kursi di samping kanan kasur Ify. Ia menggenggam erat tangan Ify yang panas.

“gue mau elo balik kayak dulu lagi, Fy. dulu kita sering main bareng. Elo selalu ngomelin gue kalo gue nakal dan gak nurutin kata-kata mama gue dulu. Gue mau elo kayak Ify yang 7 tahun lalu. Bukan yang kayak sekarang. Gue gak tega ngeliat elo kayak gini, Fy. Elo sahabat terbaik gue yang pernah gue milikin. Dan gue bakal jadi sahabat yang akan selalu ada disamping lo. Gue bakal buat elo tersenyum lagi. Gue janji” ucap Sivia panjang lebar sambil meneteskan satu persatu butiran bening dari pelupuk matanya. Ify menggeliat kecil. Sivia yang menyadarinya buru-buru menghapus air matanya yang masih membekas dipipi chubbynya itu. Perlahan Ify membuka kedua matanya. Terlihat Sivia yang tengah tersenyum manis kearahnya.

“eh, Via. Kapan lo dateng? Udah lama ya?” Tanya Ify sambil mendudukkan badannya.

“gak juga kok. Baru 15 menit yang lalu. Kenapa lo bisa sakit, Fy? sejak gue kenal elo, gue jarang banget denger kabar kalo elo itu sakit” ucap Sivia. Ify tersenyum tipis.

“gue juga manusia, Via. Gue juga bisa sakit kapan aja” ucapnya. Sivia tersenyum.

“iya iya. Gue ngerti. Tapi…kalo elo lagi ada masalah, elo bisa cerita semuanya ke gue. Mungkin gue bisa bantu.” Ify tersenyum dan mengangguk.

‘gue gak tau, Vi. Gue gak mau nyusahin elo. Masalah gue terlalu besar’ batin Ify. Pintu kamar Ify terbuka.

“udah bangun, Fy?” Tanya Gabriel yang membawa sepiring nasi dan lauk serta obat yang dibelinya tadi sambil berjalan mendekati Ify diikuti Rio dan Alvin dibelakangnya. Ify hanya mengangguk.

“udah mendingan?” Tanya Gabriel lagi.

“udah kok” jawab Ify sekenanya. Gabriel menempelkan punggung tangannya ke dahi Ify. Gabriel melongos.

“udah baikan dari hongkong. Masih panas tuh. Elo makan dulu ya. sudah itu baru minum obat” suruh Gabriel.

“males ah” ucap Ify.

“yaelah tinggal makan doang juga. Apa mau gue suapin?” kata Gabriel. Ify mendengus kesal. Perasaan tadi baik banget deh? Pikirnya.

“gue mau disuapin sama si Cakdut” ucap Ify tiba-tiba.

“heh? Tumben-tumbenan elo mau minta suapin sama Cakka?” Tanya Gabriel heran.

“bodo amat. Pokoknya gue mau si Cakdut jelek itu yang nyuapin gue” tegas Ify. yang lain hanya cekikikan geli melihatnya.

“Cakka belum pulang.”

“lah? Sivia, Alvin ama Rio udah pulang sekolah tuh.”

“mana gue..” belum sempat Gabriel melanjutkan kata-katanya, terdengar teriakan yang berasal dari ambang pintu kamar Ify.

“waaahh! Pada kumpul ya? rame bener” teriak Cakka histeris.

“panjang umur tuh anak” gumam Gabriel kemudian melangkah menghampiri Cakka yang masih menampakkan senyuman lebarnya sambil membawa piring tadi.

“elo suapin ya si Ify” ucap Gabriel sambil menyerahkan piring itu kepada Cakka. Cakka mengernyit heran.

“lah? Kok gue sih?” tanyanya.

“dia maunya elo. Udah sana suapin. Udah itu lo bujuk dia buat minum obat. Okey? Gue tinggal dulu ya semua. Fy..jangan lupa obatnya diminum” ucap Gabriel panjang lebar dan kemudian menghilang dibalik pintu. Cakka masih dilanda kebingungan.

“kok gue sih?” Tanyanya lagi.

“gue maunya elo, Cakdut..” Cakka mendengus pasrah dan melangkah mendekati Ify.

“emm..Fy. kayaknya kita mesti balik nih, udah sore” ucap Sivia.

“iya, Fy. cepet sembuh ya..” sambung Alvin. Ify mengangguk.

“makasih ya udah jengukin gue.” Sivia dan Alvin mengangguk dan melangkah keluar.

“Fy…gue..pulang dulu ya. cepet sembuh. Jaga kesehatan. Jangan sakit lagi. gue pulang ya..bye..” ucap Rio terbata sambil melangkah keluar. Ify tersenyum dan mengangguk.

“oh iya, Fy…jangan lupa minum obat..hehe. bye..” lanjutnya tiba-tiba dari balik pintu kamar Ify. Ify hanya tersenyum dan kemudian mengalihkan pandangannya ke Cakka.

“kenapa mesti gue sih?” Tanya Cakka lagi.

“kalo gue maunya elo, kenapa?” Tanya Ify balik. Cakka mendengus pasrah kemudian ia pun melaksanakan tugasnya. Cakka menyuapi Ify dalam hening. Baik Cakka maupun Ify, tidak ada yang membuka topik pembicaraan.

“Kak?” panggil Ify sambil memandang lurus kedepan. Cakka menoleh sekilas.

“apa?”

“kalo misalnya orang yang elo sayang gak nepatin janjinya, gimana perasaan lo?” Tanya Ify. Cakka mengernyit heran.

“kalo gue sih kecewa lah. Masa’ Cuma janji doang gak bisa ditepatin? Tapi yaa.. gue gak perlu janji, gue perlu bukti.” Ify mencerna semua perkataan Kakaknya itu.

“woy..kenapa jadi melamun sih? Nih makan lagi” kata Cakka sambil menyodorkan sesendok nasi kearah Ify.

“gak. Gue udah kenyang.” Cakka menghela nafas.

“ya udah kalo gitu. Elo minum obat nih.” Ify menurut dan kemudian membaringkan tubuhnya kembali dalam keadaan diam. Ia memejamkan mata untuk menghilangkan semua penat dalam benaknya. Cakka masih terus menatap adik perempuannya itu. Dia tahu bagaimana rasa sakit yang Ify derita. Dia juga merasakannya.

‘gue harap, elo bisa membuka mata hati lo untuk masa depan elo sendiri, Fy. Dan gue harap elo balik jadi Ify yang dulu’ batin Cakka miris. Ia mengusap lembut rambut adiknya itu dan kemudian melangkah keluar kamar Ify.

====A Turning====

Malam harinya, Ify turun untuk menemui keluarga tercinta. Mungkin saja sang mama telah pulang. Ternyata semuanya sedang berada diruang tamu.

‘ada siapa sih?’ batinnya. Karena penasaran telah melanda, ia memutuskan untuk mengetahui siapa yang bertamu pada jam seperti ini. Tidak biasanya. Benar saja, mama sudah ada disana beserta kakak-kakak dan adik tercintanya.

“maa…ada sia..paa?” kalimat terakhir terdengar pelan ketika Ify mengetahui siapa yang menjadi tamu dirumahnya malam ini.

“Ify..akhirnya kamu turun juga. Sini sayang, mama ada kejutan buat kamu” ucap Mamanya gembira. Ify senang melihat sang mama seperti itu. Tapi, sepertinya Ify tidak begitu senang akibat dari tamu itu.

“lihat siapa yang datang? Kamu pasti seneng kan?” ujar sang mama. Ify tersenyum miring. Dingin.

“iya, Ma. Ify seneng banget. Kejutan yang sangat menarik. Seseorang yang tidak menepati sebuah janji. Menyampaikan sebuah janji palsu kepada anak kecil yang masih lugu. Dan sekarang anak itu tau, bahwa ia adalah seorang pengkhianat” ucap Ify sinis. Semua yang berada disana kaget mendengar penuturan dari Ify.

“Ify! Kamu apa-apaan sih? Mama tidak pernah mengajari kamu seperti ini!”

“iya, mama memang gak pernah ngajarin Ify kayak gitu. Tapi, mama gak sadar bahwa pengaruh dari kalian bercerai membawa dampak buruk bagi anak-anaknya!” Mamanya terdiam.

“Ify.. papa.. minta maaf sayang.”

“anda bukan papa saya lagi. Apa anda lupa, kalau anda sudah tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan mama saya?”

“Ify, udahlah” ucap Gabriel menenangkan.

“papa, papa.. janji, gak akan ngulangin hal buruk itu. Papa janji sayang.”

“saya tidak butuh janji Anda. Tapi saya perlu bukti. Bukti yang kuat untuk meyakinkan bahwa anda tidak akan pernah mengucapkan janji palsu itu kepada keluarga saya lagi.” Cakka tercengang. Dia sekarang tahu maksud dari Ify menanyakan hal tadi kepada dirinya.

“jika anda masih terus mengucapkan kata janji dan saya melihat anda bersama wanita itu lagi, saya tidak akan mau menerima anda lagi di keluarga ini!!!” Semua terbelalak kaget. Setelah menyelesaikan kalimat terakhirnya tadi, Ify melangkah keluar rumah.

“IFYY…” teriak Gabriel.

“ma, Iel nyusul Ify dulu ya..” Mamanya hanya mengangguk. Gabriel berlari menyusul Ify.

“mm..Cakka juga, ma.” Cakka langsung berlari keluar rumah.

“Kak, mau nyusul juga?” Tanya Deva berbisik. Shilla menoleh.

“gak usah. Kita disini aja.” Deva mengangguk. Shilla merangkul adik bungsunya itu dengan hangat.

====A Turning====

Ify berjalan setengah berlari keluar rumahnya. Kesal, marah, sedih semua tercampur jadi satu. Saat ingin membuka pagar gerbang rumahnya, seseorang berteriak memanggil namanya.

“IFYY..” teriak Gabriel-orang itu- Ify menoleh sejenak kemudian membuka pagar dan bersiap melangkah keluar sebelum tangannya ditahan oleh kakaknya itu.

“Fy..” tahan Gabriel. Ify tidak berbalik tetapi ia tetap diam di tempat.

“gue tau gimana perasaan elo saat ini. Gue tau. Tapi gak gini juga caranya. Mau gimana juga dia masih punya hubungan darah sama kita semua.”

“tapi hubungan dia dengan keluarga kita udah gak ada lagi” ucap Ify dingin.

“iya, gue tau itu. Tapi setidaknya elo lebih bisa ngehormatin dia sedikit. Dia juga pernah jadi orangtua kita. Menjadi seorang pemimpin di keluarga kita.”

“itu dulu. Tapi sekarang enggak.” Gabriel menghela nafas. Adiknya yang satu ini memang bersifat keras kepala.

“Kak Iel bener, Fy. Terserah elo mau benci apa enggak sama dia. Tapi… bukan gitu caranya. Dia lebih tua dari kita” ucap Cakka tiba-tiba. Ify berbalik.

“elo gak tau gimana rasanya jadi gue!! Elo gak pernah tau! Sakit, Kak.. sakitt, hiks… gue coba buat bertahan dengan cobaan ini. Tapi apa yang gue peroleh?? Gak ada! Nol besar! Gue gak bisa kalo gini terus. Gue gak bisa.. hiks.. hiks..” isak Ify. Gabriel dan Cakka menatap miris adiknya itu. Gabriel mendekap erat Ify. Membiarkan ia menangis dalam pelukan kakaknya.

“gue gak kuat, Kak. Kenapa sih tuhan gak adil sama gue? Hiks.. kenapa??” isak Ify. Cakka mengelus rambut Ify lembut.

“sstt..Tuhan selalu adil sama umatnya. Akan selalu adil. Elo gak boleh ngomong kayak gitu. Elo gak sendiri, Fy. Masih ada gue, Cakka, Kak Shilla, Deva, Mama.. sama sahabat-sahabat lo” ucap Gabriel lembut.

“iya, Fy. Elo gak bakal nanggung beban ini sendiri. Kita ada disini buat elo. Kita semua sayang sama elo” sambung Cakka.

“tapi gue benci sama dia! Kenapa dia bisa kayak gitu? Papa yang gue kenal gak bakal berkhianat. Papa yang gue kenal akan selalu ada disisi mama. Dia bukan papa gue!!” Gabriel melepaskan pelukannya dan kemudian menghapus air mata Ify dengan lembut.

“dia papa kita, Fy. Dia masih punya hubungan darah sama kita.” Ify masih diam.

“elo mesti coba buat nerimanya lagi di keluarga kita. Elo mau kan keluarga kita kayak dulu lagi?” sambung Cakka. Ify tetap diam memikirkan itu semua. Gabriel tersenyum dan mengacak rambut Ify lembut.

“elo pikirin itu mateng-mateng. Ya udah yuk, kita masuk. Elo kan baru sembuh. Nanti kalo kena angin malam, sakit lagi. Kita juga yang repot” ucap Gabriel sambil terkekeh. Ify menghela nafas dan kemudian mengangguk pelan. Gabriel dan Cakka tersenyum melihat adik perempuannya itu.

You May Also Like

0 komentar