A Turning Part 2


A Turning àPart 2ß
(Ify : lo tau gak tempat kerja yang bagus buat gue?
Sivia : Lo sahabat gue  yang paling hebat.
Rio : gue Cuma mau kenalan hehe)
                   

====A Turning====

Ify memasuki kelasnya yang sudah terisi setengah. Dia berjalan ke arah bangkunya. Diliriknya Sivia yang sedang sibuk dengan buku pr-nya. Ify sedikit mengernyitkan dahinya melihat gelagat Sivia yang tidak bisa diam.

“kenapa lo?” Tanya Ify. Sivia menoleh.

“eh? Mm..lo udah ngerjain pr matematik belum?” Tanya Sivia. Ify mengangguk pertanda bahwa ia telah mengerjakannya. Sivia langsung tersenyum sumringah.

“hehe..boleh ya, Fy..?” pinta Sivia memelas. Ify tersenyum tipis dan mengeluarkan pr matematikanya.

“nih.” Sivia mengambilnya cepat dan langsung focus terhadap buku dihadapannya itu. Ify duduk dikursinya sambil memikirkan pekerjaan apa yang bisa dia ambil untuk menghasilkan uang. Dia tidak ingin membuat orang lain susah, apalagi sang mama tercinta. Dia tidak bisa melihat mamanya yang harus setiap hari kerja membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Dia melirik lagi sahabatnya itu. Mungkin saja Sivia tahu tempat kerja yang bagus untuk dirinya.

“Vi..” panggil Ify. Sivia menoleh sekilas dan kemudian kembali focus.

“apa, Fy?” Tanya Sivia tanpa mengalihkan pandangannya.

“mmm..lo tau gak tempat kerja yang bagus buat gue?” Sivia berhenti menulis dan menoleh ke samping kanannya.

“kok lo nanya tempat kerja sih? emang lo mau kerja? Tapikan lo masih SMA, Fy. lo itu masih kelas sepuluh” cerocos Sivia.

“tapi lo tau gak?” Tanya Ify lagi. Sivia nampak berfikir.

“mmm…gue rasaa..gue..tau deh. Bentar gue inget-inget dulu…” Sivia berfikir.

“naahh! Gue tau. Nanti gue tunjukkin ke elo. Eh..tapi emang kenapa lo mau kerja?” Sivia kembali memfokuskan ke bukunya.

“gue Cuma gak mau nyusahin orang lain. Terutama mama gue. Gue gak bisa liat dia yang seharian kerja banting tulang buat menuhin kebutuhan keluarganya. Gue Cuma mau coba mandiri kok. Yaa..gitu jadinya. Gue harus cari kerja sampingan, biar bisa cari uang sendiri” tutur Ify. Sivia tertegun mendengar penuturan sahabatnya itu. Memang Ify adalah anak yang tegar, mandiri walaupun terkesan cuek bebek. Tapi tidak bagi Sivia, Ify adalah seorang perempuan yang baik, selalu mengalah demi dirinya. Sivia kembali menoleh ke Ify. Mendapati gadis itu tengah sibuk dengan komik doraemonnya. Menatap wajah cantik itu.

‘lo emang cewe hebat, Fy. gue mungkin aja gak bakalan bisa kayak lo kalo gue berada di posisi elo sekarang. Lo sahabat gue  yang paling hebat’ batin Sivia. Merasa diperhatikan seperti itu Ify menoleh.

“kenapa lo ngeliatin gue kayak gitu? Naksir ya? Vi..sadarr..gue itu masih normal..” dumel Ify. Sivia menoyor Ify.

“wooo..gue juga normal kali..” Sivia kembali memfokuskan ke bukunya. Ify tersenyum kecil dan kembali ke komiknya.


====A Turning====

Rio melangkah menuju ke kelasnya. Melihat Alvin yang sedang menelungkupkan kepalanya diatas meja dengan kedua tangannya, setan jail dipikirannya muncul. Rio mengendap-ngendap kearah bangkunya. Dia mendekatkan mulutnya ke telinga Alvin.

“KEBAKARAAANNNN….” Teriak Rio. Alvin terlonjak.

“hah? Kebakaraann? Air..air…” kaget Alvin sambil berlari sana-sini. Rio tertawa terbahak-bahak termasuk semua murid yang berada di kelas itu. Dengan satu pengecualian..seorang gadis yang kini tengah menatap Alvin aneh sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sedangkan disebelah gadis itu terlihat sama dengan mereka semua. Alvin yang merasa telah dibohongi, mendaratkan jitakannya di kepala Rio.

“eh kunyuk. Dasar sarap lo. Untung gue ganteng, jadi gak malu gue” narsis Alvin.

“wooooo…” koar murid-murid di kelas itu. Kecuali..Ify. Rio menoyor Alvin.

“gak nyambung begoo..” Belum sempat Alvin protes, bel masuk pun berbunyi. Mereka langsung mengambil posisi duduk mereka masing-masing, sebelum seorang guru terkiller berkicau terlebih dahulu. 


====A Turning====

Bel surga telah berkumandang. Menyelamatkan para umat kelas X.1 dari sebuah monster yang sedari tadi berkoar-koar panjang lebar. Tapi tak satupun dari mereka yang memperhatikan guru itu.

“baiklah. Minggu depan kita sambung lagi. selamat pagi..” guru itu melangkah keluar. Sontak semua murid X.1 berbondong-bondong keluar kelas. Hanya tersisa beberapa murid.

“kantin, Fy?” Tanya Sivia. Ify menoleh.

“gak deh. Males. Lo aja.” Sivia mengangguk.

“gue kekantin yaa..” Sivia melangkah keluar. Ify kembali membaca komik favoritnya itu. Seorang pemuda berjalan ke arah mejanya.

“ehemm..” Ify menoleh ke sumber suara. Mendapati seorang laki-laki hitam manis, tinggi. Ify menaikkan alisnya.

“kenapa?” pemuda itu terlihat kikuk.

“mm..gue Cuma mau kenalan hehe..” Ify semakin bingung dibuatnya.

“na..nama..lo siapa?” Tanya pemuda itu.

“Ify.” Pemuda itu tersenyum sambil mengulurkan tangannya.

“kenalin gue Mario Stevano, tapi lo bisa panggil gue Rio.” Ify menyambut uluran tangan Rio. DAG! DIG! DUG! Jantung Rio berdetak lebih cepat, saat Ify menjabat tangannya.

“gue Alyssa Saufika. Panggil Ify.” Ify melepaskan tangannya, tapi Rio masih tidak bergeming. Dia mematung di sana.

“sampe kapan lo mau berdiri di situ terus?” Tanya Ify jutek. Rio tersadar.

“eh..hehe..gue..mm..gue pergi dulu ya..bye..” Rio berlalu. Ify geleng-geleng melihat tingkah aneh laki-laki itu.


====A Turning====

Diluar kelas, Rio terus melangkah dengan senyuman sumringahnya. Hatinya saat ini tengah berbunga-bunga. Akhirnya dia bisa berkenalan dengan seorang wanita yang telah membuatnya jatuh hati. Dia harus menceritakan ini ke sohibnya. Dia berlari menuju kantin. Sesampainya dikantin, matanya terus mencari-cari keberadaan sahabatnya itu. Senyuman kembali mengembang saat mendapati Alvin yang sedang duduk di salah satu meja kantin. Dia kembali melangkah mendekati sahabatnya itu.

“Alviinn, gue hari ini seneng banget” kata Rio tiba-tiba sehingga membuat Alvin tersedak.

“uhuukk..uhukk..” Alvin meraih gelasnya kemudian meneguknya.

“kenapa lo? Keselek ya?” Tanya Rio watados. Alvin menoleh dengan muka geram.

“iya. Gue keselek. Karena elo!”

“kok gue? Emang gue kenapa?” tunjuk Rio pada dirinya sendiri.

“elo tuh ngagetin orang gak ngira-ngira. Gue kan lagi makan” protes Alvin.

“woelah, Vin. Maap deh. Gue kan lagi seneng banget hari ini hehe..”

“seneng kenapa lo?”

“Vin..gue udah kenalan sama bidadari cantik gue. Teruss..dia megang tangan gue, Vin” kata Rio histeris.

“lo cinta mati banget ya sama dia?” Tanya Alvin sambil menyuapkan sendok baksonya.

“banget. Gue cinta mati banget sama dia. Dia udah ngerebut hati gue, Vin. Haaahh! Dia itu kayak bidadari cantik yang dikirimin oleh Tuhan buat seorang pangeran yang sangat tampan.” Rio menghayal dengan terus tersenyum bahagianya. Alvin sedikit bergidik geli melihatnya.

“bidadari cantiknya sih gak masalah. Yang jadi masalahnya tuh, kenapa harus pangeran yang sangat tampan coba? Heuh! Itukan gue banget.” Rio menoyor Alvin.

“wooo…narsis dikit gak papalah, Vin. Udah ah males gue ngomong sama orang narsis kayak elo.”

“yee..elo juga kali..” Rio cemberut, Alvin tertawa.


====A Turning====

Sepulang sekolah Sivia sudah berjanji pada Ify, untuk mengajaknya ke tempat kerja yang pas buat sahabatnya itu. Mereka memilih untuk berjalan kaki menuju tempat tujuan mereka. Tempatnya tidak lumayan jauh dari sekolah, jadi Ify bisa langsung ke tempat kerjanya sepulang sekolah.

“tapi lo harus bisa bersikap ramah ke orang-orang. Kalo lo tetep cuek, jutek plus dingin kayak biasa, pelanggan gak bakal ada yang mau makan disana..” jelas Sivia. Ify hanya mengangguk mengerti. Akhirnya mereka sampai di salah satu café. ‘STESA’s CAFÉ’ begitulah namanya. Mereka –Ify dan Sivia- memasuki café tersebut. Lumayan, pikir Ify. Dia mengamati ke setiap penjuru café. Ternyata banyak juga pelanggannya. Sivia terus berjalan menuju tempat manager café tersebut.

“permisi pak..” sapa Sivia saat bertemu dengan managernya.

“iya. Ada apa ya?” Tanya Pak Manager itu ramah.

“ini, teman saya ingin bekerja disini. Apa bisa, Pak?” Tanya Sivia sopan.

“oohh, kebetulan kami saat ini membutuhkan satu orang lagi untuk waitressnya.” Mereka tersenyum sumringah.

“betul, Pak?” Tanya Ify. Pak manager mengangguk mantap.

“kapan saya bisa bekerja, Pak?” Tanya Ify.

“kalau mulai besok, bisa?” Ify mengangguk cepat.

“bisa, Pak. Bisa.”

“ya sudah, kalau begitu besok kamu jam 1 datang kesini.”

“baik, Pak. Terima kasih ya, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu.”

“iya, silahkan.”

“permisi, Pak” pamit Sivia.

“iya.” Mereka berdua melangkah keluar café.

“Vi, lo tau tempat kerjanya dari mana?” Tanya Ify saat mereka tengah berjalan kaki menuju sebuah halte.

“gue tau dari temen gue yang kebetulan kerjanya disitu. Namanya, Oik. Dia temen SMP gue. Emang sih kita udah lama gak ketemu, tapi kami masih saling calling” jelas Sivia. Ify manggut-manggut mengerti. Mereka terus berbincang-bincang hangat sambil menunggu jemputan Sivia datang. Kalau Ify.. mungkin dia akan naik bus.

“eh, gue udah di jemput. Lo yakin gak mau ikut pulang bareng gue?” Ify menggeleng sambil tersenyum.

“gak usah, Vi. Lain kali aja.”

“oke deh kalo gitu. Tapi inget ya, lo harus bersikap ramah sama pelanggan café tadi..” Ify tertawa kecil.

“iya iya. Lo percaya aja deh sama gue. Udah sana, kasian supir lo udah nunggu.”

“okee. Bye, Fy..” Ify melambaikan tangannya.

“bye..” mobil Sivia kini telah melaju meninggalkan Ify yang masih berdiam diri di halte tersebut.

‘drrtt..drrtt..’

1 New Messeage

=============
From : Kak Iel ^^

Fy, lo dimana?
Kok gak pulang bareng Cakka?
=============
To : Kak Iel ^^

Sorry kak, gue gak ngabarin lo semua.
Gue tadi masih ada kerjaan disekolah sama Via.
=============
From : Kak Iel ^^

Iya iya.
Tapi, lain kali lo kabarin kami dulu.
Cemas tau - -“
=============
To : Kak Iel ^^

Iyaa kakak sayang..
Maaf deh kalo gue bikin kalian semua cemas..
Udah ya, busnya udah dateng..
=============

You May Also Like

0 komentar