A Turning Part 7
by
Indah Sekar Sari
- 07.00
A Turning à Part 7ß
(Special RiFy)
====A Turning====
Minggu. Bagi semua orang, minggu itu adalah hari yang menyenangkan.
Merefresh otak dan juga tenaga yang sempat terkuras di hari-hari sebelumnya. Tapi
sepertinya itu semua tidak untuk gadis satu ini. Berbanding terbalik dengan
semuanya. Merenungi tentang kejadian semalam yang hampir saja membuat ia tidak
bisa tidur. Ternyata papanya dan juga sang mama, sudah bisa membuka pintu maaf
satu sama lain. Kakak-kakaknya dan juga si bungsu, Deva pun sudah memaafkan
papanya itu. Peluang untuk terikat hubungan dengan keluarga ini sudah sangat
kentara. Tinggal satu masalah yang masih harus diselesaikan. Yaitu, gadis satu
ini. Dia masih saja bersikeras untuk menolak. Untuk menjernihkan pikirannya, ia
memilih untuk pergi ke atas bukit ini. Tenang dan sejuk. Seakan membawa
kedamaian dalam jiwa. Berkali-kali ia menghela nafas. Dan berkali-kali pula ia
mencari sebuah kepastian.
“hey..” sapa seseorang dari arah belakangnya. Ify –gadis itu- menoleh dan
membalas sapaan itu dengan senyuman tipis.
====A Turning====
Hari minggu ini, Rio gunakan waktunya untuk jalan-jalan santai. Hanya
ditemani oleh motor ninja birunya. Sedari tadi ia terus berkeliling. Tidak tahu
kenapa, ia ingin sekali mengunjungi bukit ‘Kedamaian’ nya. Nama itu adalah
sebuah nama bukit yang Rio berikan saat ia masih SMP dulu. Dengan segera ia menancapkan
gas ke tempat tujuan. Sesampainya disana, Rio memarkirkan motornya di tempat biasa
ia memarkirkan motor jika sedang berkunjung ke bukit ini. Saat melangkah
menaiki bukit, tidak sengaja ia melihat seorang gadis berambut panjang disana.
Sepertinya Rio mengenalnya. Tanpa ragu Rio mendekati gadis itu.
“hey..” sapa Rio. Gadis itu menoleh dan kemudian tersenyum tipis. Ternyata
dugaan Rio benar. Gadis itu adalah Ify. Rio mengambil posisi duduk disamping
Ify.
“ngapain?” tanya Rio. Ify menghela nafas sejenak.
“nenangin diri” jawabnya singkat tanpa menoleh ke arah Rio.
“masalah lagi ya?” tanya Rio sambil menoleh ke arah gadis manis itu. Ify
mengangguk masih dengan posisi yang sama. Rio terdiam memperhatikan lekuk wajah
cantik itu. Menyimpan sejuta rahasia, menyimpan beribu masalah, menyimpan
beratus kerapuhan. Pintar sekali gadis ini untuk menyimpan semuanya. Buktinya
sekarang, wajah cantik itu terlihat biasa saja. Tidak menampakkan ekspresi
apapun. Ify yang merasa diperhatikan menoleh.
“kenapa?” tanya Ify. Rio terkesiap.
“eh? Eng..kenapa?” tanya Rio balik. Ify melongos.
“elo itu yang kenapa mandangin gue gitu amat?” ucap Ify. Rio menggaruk
tengkuknya, salah tingkah.
“hehe enggak kok. Abis elo cantik banget” ucap Rio jujur. Ify memalingkan
wajahnya yang memerah.
“ngerayu nih ceritanya?”
“enggaakk. Gue jujur loh.” Ify terkekeh.
“oh iya, kenapa elo bisa tau tempat ini? Nih tempat terpencil banget loh”
tanya Rio. Ify kembali menghela nafas.
“gue juga gak tau. Gue tadi muter-muter aja, terus ketemu sama tempat ini.
Suasananya sejuk, tenang. Klop banget buat gue yang lagi stres gini” jawab Ify
santai dibarengi dengan senyuman manis yang sekian lama telah hilang terkubur.
Rio terpana.
“kalo elo? Gimana? Kenapa bisa tau tempat ini?” tanya Ify. Merasa tidak ada
jawaban, Ify sontak menoleh. Dan saat itu, mata beningnya bertemu dengan mata
elang Rio. Seakan waktu berhenti. Membiarkan kedua insan ini menikmati
masa-masa itu walaupun sejenak.
‘mata lo terlalu bening buat nyembunyiin masalah lo itu’ batin Rio.
‘apa bener gue udah mulai punya rasa ke dia?’ batin Ify. Hembusan angin
yang menerpa wajah mereka berdua, membuat keduanya kembali ke alam sadar
masing-masing.
“mm..maaf, Fy. Elo tadi nanya apa?” tanya Rio.
“elo kenapa bisa tau tempat ini?”
“gue emang udah tau bukit ini sejak SMP. Setiap gue suntuk, pasti gue
kesini. Suasananya yang tenang dan sejuk, buat gue betah lama-lama disini.
Sampe-sampe gue kasih nama nih bukit, Bukit Kedamaian” jawab Rio. Ify
tersenyum.
“oh gitu. Boleh dong kalo gue dateng kesini kalo lagi stres kayak gini?”
“tentu boleh dong. Apa sih yang gak boleh buat si cantik.” Ify tertawa.
“gombal lagi nih.” Rio tersenyum melihat perubahan dalam diri pujaan
hatinya itu.
“eh? Kita ke dufan yuk” ajak Rio.
“ha?”
“ayo. Biar elo sedikit terhibur laahh.” Ify berfikir sejenak dan kemudian
tersenyum. Mereka berdua melangkah meninggalkan bukit itu menuju satu tujuan
bersama.
====A Turning====
Bersenang-senang bersama, tertawa bersama, bersenda gurau bersama ternyata
lebih mengasyikkan daripada mengerjakan semuanya seorang diri. Sudah
bertahun-tahun tawa itu lenyap, senyuman itu musnah. Dan kini semuanya kembali.
Berkat seorang pemuda yang saat ini tengah menganggumi dirinya. Sedikit dari
wahana disana telah mereka coba, dan kini mereka memilih untuk beristirahat
sejenak sambil menikmati sebuah es krim.
“gimana?” tanya Rio.
“seru. Thanks ya udah bawa gue kesini” ucap Ify sambil tersenyum tulus
kearah Rio.
“anything for you, girl” ucap Rio lembut yang sedikit membuat Ify blushing.
“iihh pipinya merah. Hayooo...ketahuan nih yee, elo suka sama gue” ucap Rio
PD. Ify terbelalak.
“apaan sih? Elo kali yang suka” sanggah Ify.
“hehe iya, emang gue suka elo” ucap Rio frontal. Ify menoleh.
“sejak kapan?”
“sejak waktu itu kita tabrakan di koridor, inget gak? Gue kira elo itu
bidadari loh haha” jawab Rio santai.
“oh waktu itu. Elo sih pake acara lari-larian segala” ucap Ify. Sedikit
rada kesal juga jika mengingat kejadian itu.
“ya maaf, gue juga gak tau kalo bakal nabrak elo. Abis si Alvin waktu itu
mau nerkam gue hehe.” Ify geleng-geleng kepala melihat tingkah konyol Rio
tetapi mengasyikkan.
“dasar aneh” gumam Ify. Rio menoleh.
“lo bilang apa tadi?” tanya Rio.
“hah? Enggak. Gue Cuma bilang kalo elo itu keren. Iya keren” dusta Ify.
“beneran Fy? Waduhh baru kali ini gue di puji sama bidadari gue” ucap Rio.
Ify meringis mendengarnya.
“udah ah, pulang yuk. Udah sore nih” ajak Ify.
“yaah kok pulang?” tanya Rio kecewa.
“emang elo mau nginep disini apa? Udah sore ini, oh iya.. gue mesti ke cafe
dulu bentar” ucap Ify.
“cafe? Cafe mana?”
“Stesa’s.”
“gue anter ya.”
“kalo gak ngerepotin sih.”
“gue gak ngerasa direpotin kok. Gue malah seneng jalan berdua bareng elo”
ucap Rio tulus. Ify menatapnya dalam sejenak dan kemudian tersenyum.
“ya udah, yuk.”
‘begitupun gue. Gak tau kenapa, gue seneng banget ada di samping elo, Yo’
batin Ify.
====A Turning====
“hai, Fy. Gue seneng banget bisa ngeliat elo lagi. Kemaren-kemaren kemana
sih? Kok gak kerja?” tanya Debo girang saat Ify memasuki cafe. Ify melongos.
“gue sakit. Maaf gue mau ketemu sama manager dulu” ucap Ify sambil bergegas
pergi. Tapi tangannya dicekal oleh Debo.
“buru-buru amat sih? Gue pengen banget ngobrol berdua sama lo.” Ify geram.
“lepasin tangan lo. Gue gak ada waktu buat itu. Ada hal yang lebih penting
daripada harus ngobrol berdua sama elo. Permisi” ucap Ify dingin dan berlalu
pergi. Debo menatap kepergian Ify dengan kecewa.
‘susah banget sih buat dia luluh. Tetep optimis Debo, elo pasti bisa
dapetin dia’ batin Debo. Beberapa menit kemudian, Ify keluar dari ruangan
managernya itu setelah ia membicarakan ketidak hadirannya 2 hari kemarin.
“mau pulang, Fy? Bareng gue aja yuk” ajak Debo. Ia semakin gencar mendekati
gadis manis ini.
“gak perlu.” Saat ingin melangkah pergi, lagi lagi tangannya dicekal oleh
Debo.
“mau lo itu apa sih?” tanya Ify kesal.
“gue maunya elo” jawab Debo singkat. Ify menaikkan satu alisnya.
“oh. Itu aja kan? Ya udah gue pulang dulu” ucap Ify sambil bergegas pergi.
Tapi cengkraman tangan Debo di tangannya masih belum terlepas.
“Deb! Tolong lepasin tangan lo itu” bentak Ify.
“gak akan. Sebelum gue dapetin elo.”
“maksa banget sih lo.”
“ini lah gue.”
“gue gak mau sama lo!!”
“tapi gue mau. Gak ada yang ngelarang kan?”
“gue udah ada yang punya. Ngerti lo?!” Debo terdiam.
“siapa?” tanyanya dingin.
“elo gak perlu tau” jawab Ify singkat.
“siapaa?!!” tanya Debo garang sambil memperkuat cengkraman tangannya pada
gadis itu. Ify meringis kesakitan.
“gue pacarnya” ucap seorang pemuda hitam manis secara tiba-tiba. Debo dan
Ify menoleh.
“gue pacar dia” lanjutnya lagi. Debo menatapnya sinis. Debo mencengkram
pergelangan tangan Ify semakin kuat.
“sakit, Deb” lirih Ify. Air matanya jatuh perlahan. Pemuda tadi yang
melihat air mata pujaan hatinya itu, semakin geram dengan sikap Debo.
“lepasin tangan lo dari tangan dia. Kalo cowo gentle gak bakal pake
kekerasan sama cewe. Berarti elo itu pengecut, beraninya Cuma sama cewe. Kalo
elo emang merasa gentle, lawan gue sekarang” ucap pemuda tadi. Debo tertantang.
Ia melepaskan cengkraman tangannya dan maju melangkah mendekati pemuda tadi.
“gue bukan pengecut” ucap Debo dengan penekanan setiap kata-katanya. Pemuda
itu tersenyum miring. Debo melayangkan tinjunya ke arah pemuda tersebut, tetapi
berhasil dihindarinya. Baku hantam terus berlanjut. Ify meringis kesakitan
sambil memegangi pergelangan tangannya yang tadi di cengkram oleh Debo. Seseorang
menyentuh pundaknya lembut. Ify mendongak menatapnya.
“lo gak papa?” tanyanya lembut. Ify menggeleng.
“makasih, Yo” lirihnya. Rio-pemuda tadi-tersenyum.
“anything for you, dear” ucap Rio. Ify tersenyum.
“pulang yuk” ajak Rio. Ify mengangguk. Perasaan itu semakin kuat saat ia
bersamanya. Perasaan itu semakin besar saat ia menatapnya. Perasaan itu adalah
perasaan yang sudah biasa dirasakan oleh setiap remaja. Dan perasaan itu kini
tengah ia rasakan. Perasaan yang berbunga-bunga saat ia bertemu dengannya. Cinta.
====A Turning====
“Ifyyy.. elo darimana sih? Kita ribet tau nyariin elo” sambar Shilla sesaat
Ify telah memasuki rumahnya itu.
“tau nih anak. Pergi gak bilang-bilang. Kita kan khawatir” tambah Gabriel.
“dari mana sih lo? Coba elo bilang sama gue tadi, gue kan pengen ngikut”
ucap Cakka. Dan kemudian dihadiahi toyoran gratis dari Gabriel. Cakka meringis.
“iya, kak. Papa khawatir banget tadi” timbrung Deva. Ify tersenyum miring.
“gue Cuma mau nyari ketenangan doang kok. Gak jauh. Gue juga gak sendirian
tadi. Jadi gak perlu khawatir” jawab Ify.
“lain kali, kalo mau pergi bilang-bilang ya” nasihat Shilla. Ify mengangguk
dan kemudian bergegas pergi menuju kamarnya. Saat di anak tangga rumahnya, Ify
berbalik.
“lo tadi bilang apa, Dev?” tanya Ify.
“papa khawatir banget sama lo tadi. Emang kenapa?” jawab dan tanya Deva
balik.
“oh, enggak. masih peduli dia dengan anaknya?” ucap Ify dingin dan kemudian
berlalu. Semuanya mendengar. Dan menghela nafas.
“ternyata dia masih gak terima dengan sikap papa” ucap Gabriel.
“iya. Heuh! Mungkin suatu saat dia bisa nerima papa lagi” tambah Shilla.
Cakka dan Deva mengangguk setuju.
====A Turning====
Di dalam kamarnya, ia terus merenungi perasaannya ini. Mencari jawaban
pertanyaan hati kecilnya. Perasaan apa ini? Apa ini perasaan yang dirasakan
oleh setiap remaja. Kata orang-orang sih, falling in love. Apa mungkin?
‘gue kenapa sih? Dari tadi mikirin dia terus?’ batin Ify.
‘bingung ah!’ batinnya lagi. Ia melangkah menuju balkon kamarnya. Menatap
langit biru yang luas.
“heuh..Tuhan, kenapa sih cobaan hamba begitu berat?” gumamnya.
‘drrt..drrt..drrt’ Ponselnya bergetar.
“nomor siapa nih?” ucapnya. Ditekannya tombol ‘accept.’
“halo?” sapa Ify.
“halo, bidadari kuu.” Ify mengernyit. Dia kenal dengan suara ini.
“Rio ya?” tanya Ify.
“ih kok tau sih? Hayoo.. kenapa tuh bisa tau?”
“siapa lagi yang manggil gue bidadari kalo bukan elo?” tanya Ify sewot.
“hehe iya deh. Jangan sewot gitu dong cantik.” Ify blushing. Pembicaraan
terus berlanjut hingga sore. Itupun Ify yang mengakhirinya dengan rasa berat
hati.