Untitled -RIFY-



            Seperti biasanya, seusai upacara, SMA Negeri 77 itu membersihkan lingkungan sekolah dari sampah. Atau yang sering mereka sebut dengan ‘Operasi Semut’. Kegiatan itu memakan waktu sekitar 10 menit, hingga selesai mereka kembali ke kelas untuk memulai akitvitas wajib mereka sebagai seorang pelajar.
            Kelas XII IPA 2 terdengar masih ramai, menandakan belum adanya guru yang datang untuk mengajar. Ada yang mengobrol, selfie bareng, tidur, menonton film bareng dari laptop, bergosip ria, mencoret-coret papan tulis, membaca buku –bagi yang rajin, dan sebagainya. Mereka tidak berani untuk keluar kelas. Keluar sedikit saja, terlihat guru berjaga di luar, jangan berharap bisa lolos dari hukuman.
            Tepat di belakang kelas terdapat segerombol siswa yang berkumpul entah membicarakan apa. Di sebelah yang tak jauh dari mereka, terdapat tiga orang siswi yang sedang bergosip. Salah satu dari mereka bertiga itu berseru ke arah segerombol siswa tersebut.
            “Heh, cowok-cowok ganteng, bisa kecilin dikit gak sih volume suara kalian itu? Bisa budek gue”. Mereka menoleh serempak. Yang lainnya hanya menoleh sekilas, mereka sudah terbiasa dengan genk cowok dan genk cewek kelas ini, setiap bertemu pasti ada saja adu mulut dari mereka. Entah itu dari pihak cowok atau pihak cewek yang memulai.
            “Yaelah , Fy, kita bersuara merdu kali. Apa lagi gue” sahut salah satunya. Jangkung, hitam manis. Lawan adu mulut dari Zilify Kiran. Setiap Ify berbicara, pemuda itu tidak pernah absen untuk menyahutinya. Gandrio Putra.
            Ify bergidik geli mendengarnya. “Apanya yang merdu? Kaleng rombeng iya”.
            “Lo kalo marah nambah cantik deh”. Ify mendelik dibuatnya. Malu. Ucapan Rio tadi mengundang sorakan heboh dari seisi kelas. Gadis itu memilih diam dan kembali menghadap teman-temannya.
            “Elo juga sih malah ngerusuhin mereka. Udah tau ada Rio disana” ujar Diagni –Agni. Ify memajukan mulutnya.
            “Iya nih si Ify cemong, tuh kunyuk mana bisa denger suara lo sekecil apapun” sambung Sabrina Dilsivia –Via.
            “Cinta kali tuh” ujar Agni yang diikuti tawanya, juga Via. Ify bertambah merengut dibuatnya. Bukannya dibantuin malah diledekin, keki berat.

**

            Ify terlihat mencari-cari sesuatu. Wajahnya panik. Semua murid sudah berhamburan keluar kelas untuk pulang. Agni dan Via masih setia menemani Ify.
            “Emangnya lo taruh mana tadi tuh kunci?” tanya Agni.
            “Seinget gue, gue taruh tas, Ag. Seriusan deh, gue inget banget” jawab Ify masih dalam keadaan panik.
            “Lo gak nyimpen kunci cadangan gitu?” kali ini Via bertanya.
            “Ada. Tapi ya di rumah”. Gadis itu sudah lemas karena kunci motornya hilang entah kemana. Pikirannya sudah kemana-mana saat itu. Bagaimana dia bisa pulang. Ada salah satu cara, namun tidak terlalu efektif –bagi dia, karena dia pasti kena amuk sang Bunda. Ia terduduk lemas di bangku nya. Matanya sudah berlinang. Agni dan Via masih mencari-cari kunci motor di laci-laci meja, mungkin saja ada yang jahil dan menyembunyikannya.
            “Ada apaan sih?” Mereka semua menoleh ke ambang pintu. Terlihat Gabriel yang menyembulkan kepala-nya ke dalam kelas.
            “Kunci motornya Ify hilang” jawab Agni dan kemudian kembali mencari-cari. Gabriel mengerutkan kening bingung.
            “Kunci motor Ify?” Gabriel beralih ke Ify yang sudah bersiap menangis. Gabriel menggaruk kepalanya. “Motor lo matic kan? Beat biru-putih?” Ify mendongak dan mengangguk semangat. “Bukannya udah dibawa Rio ya? Tuh udah parkir di depan kelas sepuluh”. Ify melongo begitu juga Agni dan Via.
            “Serius?” tanya Ify yang langsung bangkit dan keluar kelas, melihat ke arah bawah. Dan ternyata benar. Rio melambai-lambaikan tangannya sembari tersenyum manis tanpa dosa. Saat itu, Ify sudah mengeluarkan asap. Bersiap menyemprot Rio. Dasar tuyul!! Seru nya dalam hati.
            “Eh, Ag, Vi, makasih udah bantu nyariin. Si tuyul pelakunya” ujar Ify sambil mengambil tasnya di meja dan menyandangnya. “Gab, thanks ya”.
            Yeah, no problem. Hati-hati ya kalo sama Rio”.
            “Emang kenapa?”
            “Lo kayak gak tau Rio aja sih, Fy. Dia kan liar hahaha”.
            “GABRIEEELL”. Mereka semua cengo. Rio kok bisa mendengar dengan jarak yang terbilang agak cukup jauh.
            “Buset, dia denger. Gue duluan ya”. Gabriel berlalu dengan berlari dari sana.
            “Pulang yuk”.

**

            Ify menghampiri Rio yang masih asik bertengger di atas motornya. Pemuda itu tidak mengetahui kedatangan Ify karena ia tepat membelakanginya. Ify menghampirinya dengan kesal. Dia berdiri di hadapan Rio dengan berkacak pinggang dan memasang wajah sangar. Rio yang tengah menatap ke arah jalan, melirik –ketika ia merasakan ada seseorang yang sedang memperhatikannya. Kemudian menoleh sepenuhnya ke arah Ify dengan tampang tak berdosa.
            “Ayo pulang” ajak Rio seenaknya, seakan dia lah tuan dari kendaraan itu. Rio sudah bersiap menyalakan motor.
            “Iiihhhh, Rioooooooooooo”.
            “Apa sih, Fy? Gue gak budek kali”. Ify bertambah geram dibuatnya. Ia mencubit-cubit lengan Rio.
            “Ih, ih, ih tuh rasain”. Rio meringis dibuatnya.
            “Aw aw aw aw, sakit woy. Apaan sih?” Ify menyudahi aksi cubitannya dan kembali menatap Rio geram. Kemudian ekspresinya berubah menjadi menahan tangis, dan akhirnya air mata Ify keluar. Rio tersentak. “Oy, kok lo nangis sih? Ada yang jahatin elo ya? Siapa? Bilang ke gue. Biar gue kasih bogem”. Tangis Ify makin kencang. Rio makin panik melihatnya. “Aduh, kok makin nangis sih”. Ia menggaruk-garuk kepalanya bingung.
            “Elo yang jahatin gue tau” ujar Ify kesal disela isakannya. Rio menatapnya heran.
            “Kok gue? Emang gue ngapain lo?” Ada perasaan dalam hati Ify ingin mencekik Rio. Namun perbuatan itu dapat membuatnya dikenai hukuman dan dikeluarkan dari sekolah. Ify menghapus air matanya.
            “Gue udah panik nyariin kunci motor gue tadi. Dan tanpa dosa-nya elo yang ngebawa motor gue”. Rio menatapnya datar.
            “Lah? Gue kan tadi udah bilang ke elo”.
            “Bilang apaan?”
            “Gue bilang kalo gue mau pulang bareng elo, terus gue bilang kalo gue ngambil kunci motor lo. Elo sih, sibuk ngegosip mulu”. Ify memicingkan matanya. “Beneran”.
            “Kenapa lo asal ambil aja tanpa seizin gue? Gue kan belum tentu ngizinin elo pulang bareng gue. Lo itu nyebelin”. Rio tertawa dibuatnya. Gadis ini memang masih memiliki sifat kanak-kanak. Lucu juga.
            “Abisnya elo diem aja. Dan diem berarti setuju. Yaudah, gue ambil”. Ify mengangkat kedua tangannya seakan ingin mencekik Ify dengan memasang wajah geramnya. Rio terkekeh. Pemuda itu menangkap lembut tangan kiri Ify dan menyeretnya ke belakang. “Ayo naik, kita pulang”. Ify mendelik ke arahnya. Rio menoleh. “Gue tinggal nih”.
            “Emangnya tuh motor punya siapa? Seenak udelnya aja lo”. Rio kembali tertawa dibuatnya. Beberapa anak kelas sepuluh yang belum pulang dan masih menunggu jemputan di beranda kelasnya, memperhatikan mereka dengan menahan tawa. Dua kakak kelasnya itu memang akan kocak jika dipertemukan. Semua sudah tahu pada saat MOS berlangsung saat itu.
            Ify menaiki boncengan motor. Ia sedikit mendongak, melihat parameter bensin motornya.
            “Eh, isi bensin dulu. Sekarat tuh”. Rio melihat parameter bensinnya dan tanpa mengangguk atau menjawab ‘iya’, Rio kemudian menstrater motor Ify. “Lo denger gue gak sih, Yo?” ucap Ify yang sedikit berteriak di telinga Rio. Pemuda itu refleks menutup telinga kirinya.
            “Gue gak budek wooyyy!” balas Rio teriak.
            “Lo sih, gak jawabin gue”. Rio memutar bola matanya dan geleng-geleng kepala, tak habis pikir dengan sikap Ify. Memang dasar gadis satu ini sangat menguji kesabarannya. “Ayo jalan. Jangan berasa jadi pembalap lo di jalan. Gue gak mau kalo nanti gue yang cantik ini bakal ada lecet-lecet. Bunda gue bisa ngamuk. Dan kalo itu terjadi, lo yang...RIOOOOOO”. Ify refleks mencengkram baju Rio atau pinggang Rio, karena dengan sengaja Rio meng-gas motornya tiba-tiba.

**

            Sesampai di rumah Rio. Ify masih memasang wajah cemberutnya.
            “Heh, turun lo” ujar Rio sembari menoleh ke belakang. Melihat Ify yang melipat kedua tangannya sambil memajukan bibirnya, lucu. “Minta cium ya?” bisik Rio di telinga Ify. Mendengar itu Ify mendelik dan menghujati Rio dengan pukulan-pukulan di lengannya. Rio tertawa. “Udah woy, sakit nih”. Ify menghentikan pukulan-pukulannya. Dan kembali memasang wajah cemberut. “Lo ternyata nantangin ya”. Ify kembali melotot ke arahnya. “Haha makanya, manyun mulu”.
            “Elo sih, nyebelin banget jadi orang”. Rio terkekeh dan menstandarkan motor Ify. Melepas helmnya dan memberikan ke Ify. Ia turun dari motor.
            “Udah sana pulang”.
            “Ish. Terima kasih Rio” ucap Ify kesal. Rio lagi-lagi tertawa. Ia mengacak pucuk kepala Ify. Gadis itu memasang helmnya.
            “Hati-hati dijalan. Gak usah berasa jadi pembalap”. Ify memeletkan lidahnya ke arah Rio. “Makasih ya” kini Rio mengucapkannya tulus sambil tersenyum manis. Melihat itu Ify merona dibuatnya. Jantungnya berdegup lebih kencang. Rio yang menyadari itu, menjadi gemas.
            “Gue pulang. Daah” Ify pamit tanpa menoleh ke Rio dan kemudian melajukan motornya. Rumahnya satu komplek dengan Ify. Rio masih terus menatap kepergian Ify dengan senyuman tipisnya. Sulit diartikan.

**

            Hari ini entah kenapa Ify merasa tubuhnya sedikit lemas. Dia berpikir, apa mungkin akibat bergadang semalaman kemarin? Yang biasanya menjawab sapaan teman maupun juniornya dengan ceria, kini dia hanya membalasnya hanya dengan senyuman.
            “Ify” sapa Agni yang baru datang. Ify menoleh dan berhenti melangkah.
            “Hey”. Agni mengamatinya seksama. “Kenapa lo?”
            “Lo kali yang kenapa?”
            “Gue?”
            “Iya. Tuh muka lo pucet. Dan gak biasanya lo lemes gini”. Sahabat satunya ini memang sangat peka dengan sahabatnya sendiri. Padahal Ify sudah berusaha menutupi kondisinya saat ini, tapi masih dapat diketahui oleh Agni. Dia mana bisa bohong dengan Agni yang kepo-nya pakai banget. Jawab ‘gakpapa’, dia akan terus mendesak hingga orang tersebut mengatakan yang sebenarnya.
            “Gak tau, Ag. Badan gue lemes. Apa karena gue begadang semalem ya?” ucap Ify lemas. Agni memegang pipi kanan Ify.
            “Rada anget. Pusing?”
            “Lumayan”.
            “Lo gak usah apel deh. Daripada ambruk”. Ify menggeleng. Sendirian dalam kelas? Mana mau. Guru-nya bisa saja tidak percaya dengan alasan Ify. “Lo begini mau apel?”
            “Ada apaan sih? Ngobrol di tengah koridor” ujar Via yang baru datang.
            “Si Ify nih”. Via menoleh ke arah Ify yang tengah menutup mulutnya karena menguap.
            “Lo pucet deh, Fy”.
            “Iya tuh. Badannya rada anget lagi. Keras kepala mau tetep ikut apel”. Ify menyeringai.
            “Udah ah, yuk ke kelas. Udah mau mulai tuh”.
            Via dan Agni pasrah. Mereka memilih untuk menurut. Ify tidak ingin dibantah. Bisa-bisa dia marah. Yang penting mereka harus siaga jika terjadi apa-apa pada sahabat mereka itu.
            Pembina apel mereka hari ini ternyata bukan dari pihak sekolah, melainkan dari pemerintah kota mereka. Memberikan amanat yang cukup panjang. Ify terlihat terus menunduk, menahan badannya yang sudah sangat lemas seakan ingin terjatuh dan pusingnya yang terus menyerang.
            “Vi” panggil Ify pada Via yang di sebelah kirinya dengan nada yang lemas. Via menoleh dan terkejut.
            “Ify, kenapa? Pusing ya? Lo pucet banget, Fy” ujar Via panik. Rio yang saat itu baris pada barisan ketiga, dan tak sengaja terdengar suara Via yang panik menyebut-nyebut nama Ify, menoleh ke belakang. Ia melihat wajah Ify yang sudah pucat. Entah kenapa, ia menjadi kuatir dan panik. Rio yang berniat ingin mundur begitu saja ditegur temannya yang berdiri tepat di belakang Rio.
            “Oy, ngapain lo?” tanyanya berbisik pada Rio.
            “Gue mau ke belakang”.
            “Sstt, lo diliatin Pak Kemas tuh”. Rio dengan langsung berbalik badan ke depan kembali. Mendengar nama bapak itu sungguh menakutkan, lebih baik jangan disebut namanya, seperti dalam film Harry Potter, dia layaknya Voldemort bagi murid-murid SMA itu. Rio terlihat gelisah.
            ‘Kenapa gue gelisah begini? Kenapa gue panik banget begini? Kenapa gue kuatir banget dengan dia sekarang?’ batin Rio meracau.
            PMR sekolah itu yang memang berjaga di setiap barisan kelas-kelas, mendatangi Via dan Ify yang menurut mereka ‘mencurigakan’. Rio masih bisa mendengar omongan-omongan yang terdengar dari mulut Via dan seseorang yang ia tak tahu. Namun, ia sama sekali tidak mendengar suara Ify yang sangat ia kenali.

**

            Sampai jam pelajaran kedua, Ify juga belum kembali ke kelas. Hingga salah satu anggota pengurus UKS datang ke kelasnya. Ia terlihat berbincang dengan guru yang mengajar di kelas itu. Semua perhatian di kelas itu tertuju ke mereka –terutama Via, Agni dan Rio yang sepertinya tahu bahwa petugas itu memberitahu keadaan Ify.
            Seusai berbincang dan menulis sesuatu tadi, petugas UKS itu bertanya pada salah satu murid. Murid itu menunjuk ke arah bangku Ify yang kosong. Petugas itu berterima kasih dan kemudian melangkah menuju bangku Ify dan kemudian membawa tas Ify dan jaket biru langit yang tergeletak asal di mejanya.
            “Bu, Ify gakpapa?” tanya Via yang memang sebangku dengan Ify. Petugas yang dipanggil Ibu tadi menoleh dan tersenyum menenangkan.
            “Dia pingsan di jalan sewaktu ke UKS. Dan belum sadar sampai sekarang” ucapan itu yang mungkin dapat didengar semuanya, membuat seisi kelas terkejut. “Kalian doakan saja dia tidak apa-apa”. Via yang masih shock hanya mengangguk. Tidak biasanya Ify seperti itu. Ify gadis kuat. Bukan seseorang yang lemah. Dia tidak pernah seperti ini. Begitupun Agni yang berada di belakangnya. Tak jauh beda, Rio pun sama. “Permisi, Pak” pamit petugas itu. Guru itu mengangguk tersenyum.
            “Kita doakan saja yang terbaik”. Semua mengangguk setuju. “Baiklah, kita lanjutkan pelajaran tadi..”
            Via menoleh ketika pundaknya dicolek oleh seseorang dari belakang.
            “Pulang sekolah kita langsung jenguk Ify” bisik Agni. Via mengernyit bingung.
            “Kita gak tahu mereka bawa Ify kemana” bisik Via balik.
            “Agni, Via, sedang apa kalian?” tegur bapak itu. Agni dan Via langsung diam. Via langsung menghadap ke depan kembali.
            “Nggak ada apa-apa, Pak” jawab Agni dengan menunduk.

**

            “Oy, Yo. Daritadi gue liat lo letoy banget deh. Kenapa sih?” tanya Cakka, sahabat sekaligus teman sebangku Rio. Pemuda itu hanya menggeleng lesu. “Gara-gara gak ada rival lo itu ya? Cieeeee. Beneran cinta lo?” Wajah Rio seketika memanas. Ia mengelak.
            “Sok tau lo”. Rio bangkit dan melangkah keluar kelas setelah menoyor kepala Cakka terlebih dulu. Cakka meringis sambil mengelus-ngelus kepalanya.
            “Mau kemana lo?” teriak Cakka.
            “Minggat”. Cakka mendelik dan segera menyusul Rio. Sesampai ambang pintu, ia melihat Rio yang berdiri di batas dinding lantai dua itu. Menatap lurus ke depan. Entah apa yang ia pikirkan.
            “Gue kira lo seriusan minggat” ujar Cakka sambil mengambil posisi berdiri di sebelah Rio. Pemuda itu tidak menyahut, masih dengan fokusnya. Cakka yang tak ingin mengganggu, juga ikutan menatap lurus ke depan. Sebenarnya, dia ingin sekali melihat ke bawah, ke arah junior-junior cantik yang berlalu lalang. Dari bawah pun, para junior perempuan pun selalu melirik ke atas karena ada pemandangan paling indah menurut mereka. Jarang-jarang dua cowok ganteng berdiri disitu. Itu peristiwa langka menurut mereka. Karena yang mereka tahu, cowok-cowok itu hanya betah di dalam kelas atau duduk di beranda kelas mereka yang terhalang oleh dinding pembatas sehingga tak terlihat dari bawah.
            Cakka dan Rio kaget tatkala seseorang berseru di belakang mereka.
            “Gabriel, kurang kerjaan lo!!” kesal Cakka. Dia menggulat Gabriel. Rio hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku mereka.
            “Mana sipit?” tanya Rio.
            “Ada tuh” tunjuk Gabriel setelah lepas dari gulatan Cakka. Ia membenarkan pakaian dan dasinya.
            “Hoy!” seru seseorang yang dipanggil ‘sipit’ oleh Rio tadi. Mereka bertos-ria. “Oh ya, Yo, nih” dia menyerahkan sebuah kunci. Rio seperti mengenali kunci motor itu. Dia mengernyit bingung.
            “Kenapa nih?”
            “Gue tadi ketemu Via sama Agni di kantin, mereka ngasih ini. Agni bilang, buat kasihin ke elo”. Rio menerimanya. Dia terus menatap kunci motor itu dan mengingat-ingat kunci motor siapa. Kemudian, terlintas bayangan wajah Ify, dan dia pun mengingatnya. “Katanya tolong anterin ke rumahnya. Soalnya tadi petugas UKS gak sempet buat nganterin”. Rio heran. Bukannya petugas itu bisa mengantar Ify ke rumahnya dengan membawa motor itu? Kecuali Ify dilarikan ke rumah sakit. Seketika Rio tersentak dengan pemikirannya saat itu.
            “Kenapa, Yo?” tanya Gabriel bingung. Rio menggeleng.
            “Emang punya siapa sih, Yo? Siapa yang sakit?” tanya Alvin yang memang sudah gatal ingin bertanya. Rio hanya diam.
            “Kayaknya punya Ify deh” jawab Cakka menebak.
            “Dia kenapa? Kok motornya dititipin gitu?” kini Gabriel bertanya.
            “Ify tadi sakit. Pendengaran gue kalo emang gak salah nih ya, dia pingsan sewaktu jalan ke UKS, dan belum sadar-sadar”. Gabriel dan Alvin sedikit kaget. Mereka mengenal bagaimana sosok gadis itu.
            “Becanda lo, Kka?”
            “Gue seriuuss, sipiiitt”.
            “Gue gak percaya. Yang gue tau Ify itu gak pernah deh kayak gitu” ujar Gabriel.
            “Yaah, Iel mah, Ify kan juga manusia kali. Gak selamanya dia selalu kuat”.
            “Tumben lo bener, Kka”. Cakka menjitak Alvin, tidak terima. Alvin meringis-ringis dan menjitak balik kepala Cakka.
            Rio sedari tadi hanya diam. Pikirannya telah bercabang kemana-mana. Kunci motor itu semakin erat ia genggam. Ia tidak memperdulikan ocehan-ocehan dari para sahabatnya saat itu.

**

            Ternyata, Ify dibawa ke rumah sakit dari sekolah tadi karena belum juga siuman. Orang tuanya pun telah dikabari oleh pihak sekolah. Via dan Agni yang berniat menjenguk ke rumah diurungkan karena Ify masih belum kembali ke rumahnya. Mereka belum sempat untuk ke rumah sakit tempat Ify berada saat itu, karena masing-masing mereka masih ada kegiatan yang tak bisa ditunda.
            Begitu pun Rio yang diberi amanat untuk mengantar pulang motor Ify ke rumahnya. Yang ia lihat hanya tukang kebun Ify yang saat itu sedang bekerja. Sebenarnya, ia sangat ingin menjenguk Ify saat itu, tetapi kegiatan pula lah yang menghambatnya.
            Hingga satu minggu, Rio belum sempat-sempat untuk menjenguk Ify. Dia hanya mendapatkan kabar dari Via dan Agni yang waktu itu sempat menjenguk. Gadis itu ternyata sakit tifus. Rio sedikit bernafas lega ketika Ify sudah dikabarkan telah pulang ke rumahnya, namun rasa pilu masih merayap karena Ify belum juga masuk sekolah. Apa benar rasa itu telah tumbuh untuk gadis itu? Ia terus bertanya-tanya.

**

            Hari ini, kakak Rio pulang dari Bogor tempat ia bekerja, sehingga membuat Rio bahagia karena ia dapat membawa motor dan tidak perlu mencari-cari teman untuk mengantarnya pulang maupun menjemputnya sekolah.
            Dengan langkah santai sambil bersiul, kedua tangannya dimasukkan ke kedua kantong celananya. Saat menaiki tangga menuju lantai dua tempat kelasnya itu, ia melihat Via dan Agni yang berdiri sambil memicing-micingkan mata mereka. Rio menatap mereka heran. Dan kemudian ia tersentak tatkala kedua gadis itu berseru.
            “Ify!!” teriak mereka bersamaan. Entah kenapa Rio mematung mendengar nama itu. Ada desiran halus dalam dadanya. Rio yang berniat ingin memastikan apakah mereka hanya bercanda atau memang benar-benar ada, membalikkan tubuhnya tiba-tiba.
            “Eh”. Rio sedikit terlonjak ketika membalikkan badannya, hampir saja menabrak seorang gadis yang belakangan ini telah mengganggu pikirannya. Seorang gadis yang telah menumbuhkan rasa rindu dalam hatinya.
            Gadis yang juga tersentak itu sedikit terhuyung ke belakang. Kaki kirinya yang akan melangkah menaiki satu anak tangga tadi, menjadi menyangga tubuhnya agar tidak terjatuh dengan menapak di anak tangga sebelum anak tangga yang dipijaki kaki kanannya.
            Keduanya saling menatap. Menyelami kehangatan satu sama lain. Gadis itu tersadar dan memalingkan wajahnya yang merona.
            “Fy” sapa Rio pada Ify –gadis tadi. Ify tersenyum.
            “Hai, Yo. Apa kabar?”
            “Seharusnya gue yang tanyain itu ke elo. Gimana keadaan lo sekarang?” Ify mengendikkan kedua bahunya.
            “Yah, yang pasti lebih baik daripada kemarin” jawabnya sembari memberi cengiran khasnya.
            “Bagus lah”. Ify tersenyum. “Gue harap akan selalu baik-baik aja” gumam Rio pelan, namun masih dapat terdengar oleh Ify.
            “Makasih doanya, Yo”. Rio tersentak dan menyeringai. Ia menggaruk-garuk kepalanya. Kedengaran rupanya, batinnya.
            “Oh ya, Fy, maaf gue gak sempat jenguk lo kemarin” ujar Rio dengan perasaan bersalah. Ify tersenyum tulus ke arahnya.
            “Gakpapa, Yo. Gue ngerti kok. Santai aja lagi”. Ify terkekeh dan menepuk-nepuk pundak kanan Rio.
            “Ifyyyy” teriak Via dan Agni yang masih berdiri disana. Mereka sengaja memberi waktu untuk Rio berbicara dengan Ify.
            Ify menoleh. Dengan senyum lebar ia melambaikan tangannya pada dua sahabatnya itu. “Eh, Yo, gue duluan ya”. Rio mengangguk. Ia masih terus menatap Ify yang berlalu di hadapannya, sampai gadis itu merentangkan tangannya di depan Via dan Agni, membuat kedua gadis itu menghambur ke pelukan Ify. Mereka berpelukan hangat. Rio tersenyum tipis melihatnya. Memang keabsenan gadis itu selama satu minggu ini telah membuat banyak orang kehilangan akan dirinya. Termasuk dia sendiri. Rio mengakui itu. Ia menghela nafas lega, dia masih dapat melihat senyuman hangat Ify walaupun rona wajahnya masih pucat.

**

            Kedatangan Ify ternyata disambut hangat oleh teman-teman sekelasnya. Bukan hanya teman sekelasnya, tetapi juga semua yang mengenalnya, termasuk guru-guru dan para pekerja di sekolah ini yang sangat mengenal gadis itu dengan baik.
            Sapaan hangat dan juga pertanyaan ‘gimana keadaan lo?’ itu selalu terlontar dari teman-temannya yang kebetulan berpapasan maupun yang memang sengaja ingin melihat Ify. Entahlah, Ify seakan sudah menjadi bagian dari mereka. Gadis itu adalah anak yang supel, ramah, sopan sehingga disenangi banyak orang. Tak ayal jika penjual di kantin sekolahnya pun merasa kehilangan sosok itu ketika seminggu kemarin ia absen dari sekolah.
            “Hai, Fy. Udah baikan?” sapa dan tanya Alvin yang memang sengaja ingin ke kelasnya. Sebenarnya dia ingin menghampiri para sahabatnya, namun melihat kehadiran gadis itu, ia mampir ke mejanya terlebih dulu. Ditemani Gabriel.
            Ify, Via dan Agni mendongak ke arah sumber suara.
            “Hai, Vin. Yah, lebih baik dari kemarin” jawab Ify sama.
            “Syukur deh”.
            “Eh, Fy, sorry banget nih kita gak jenguk lo kemarin” timpal Gabriel dengan wajah sesalnya. Mereka sudah cukup mengenal Ify dekat semenjak kelas XI kemarin. Ify tertawa kecil.
            “Santai kali, Yel. Gakpapa kok”. Gabriel menyeringai, Alvin tersenyum. Via dan Agni masih sibuk berceloteh.
            “Eh, kita kesana dulu ye”. Ify mengangguk sembari tersenyum.

**

            Ify yang sedang menunggu jemputan, duduk di bangku koridor kelas sepuluh. Ia menatap sekitarnya. Masih ada beberapa siswa-siswi yang berada disana. Tak terlalu banyak yang masih menunggu jemputan. Ia sedikit tersentak ketika melihat Rio yang masih stay di atas motornya yang terparkir di depan salah satu kelas sepuluh. Ia bertanya-tanya, sedang apa pemuda itu disana? Menunggu seseorang untuk diantar pulang kah?
            Satu-persatu murid-murid yang menunggu jemputan itu berkurang. Tak lama pula, Rio melajukan motornya pelan hingga tepat berhenti di hadapan Ify. Gadis itu menatap Rio bingung.
            “Nungguin siapa, Yo?” tanya Ify. Rio membuka kaca helmnya.
            “Nungguin lo”.
            “Ha?” Rio tersenyum yang seketika membuat dadanya berdesir halus. Perasaan itu kembali hadir. Jantungnya berpacu sedikit lebih kencang dari biasanya. “Kok?”
            “Daerah disini sedikit gak aman. Apalagi lo perempuan nunggu jemputan sendirian disini”. Ify merasakan wajahnya memanas kali ini. Menunduk malu. Memainkan handphone-nya mencari kesibukan sendiri untuk menutup kesalah tingkahannya itu. Rio yang melihatnya terkekeh.
            Masih di atas motor cagiva-nya, Rio menatap sekeliling. Ternyata sekolah ini sudah benar-benar sepi. Apa benar Ify akan dijemput? Rio jadi curiga, kalau Ify tidaklah dijemput, atau yang menjemputnya ada kendala sehingga tidak bisa menjemput Ify. Ia melirik gadis itu melalui ekor matanya. Gadis itu terlihat memainkan handphone, menekan-nekan tombol qwerty layar sentuh itu. Dia mendengar helaan nafas Ify. Rio melipat kedua tangannya di dada. Masih setia menunggu.
            Rio yang merasakan Ify beranjak dari tempat duduknya, menoleh. Menatapnya seakan bertanya –gimana?-. Ify menggeleng lemah. Gadis itu mendekat ke arah Rio. Dengan guratan wajah yang terlihat sedikit lelah.
            “Supir gue gak bisa jemput. Dia mesti nganter papa ke bandara”. Rio mengangguk mengerti.
            “Ya udah, naik gih”. Ify menatapnya.
            “Eng...gak ngerepotin, Yo?” Rio terkekeh.
            “Kalo gue repot, gak mungkin nawarin elo. Lagian lo mau pulang naik apa?” Ify menatap sekitarnya. Benar-benar sepi. Ojek, taksi, angkot ataupun bis tidak terlihat. Entah kenapa sudah sepi seperti ini. Ify mengangguk kecil dan kemudian menaiki ke boncengan Rio.

**

            Ify mengernyit heran. Benaknya bertanya-tanya. Mengapa Rio mengajaknya kesini? Apa dia lupa harus mengantarkan anak gadis orang terlebih dulu?
            “Yo, lo kok..” belum selesai Ify berbicara, pemuda hitam manis itu telah memotongnya terlebih dulu.
            “Makan dulu lah sebentar. Laper nih”.
            “Makan di rumah ‘kan bisa, Tem”.
            “Sialan lo”. Ify cengengesan. Rio sedikit bernafas lega ketika melihat respon gadis itu yang seperti dulu. Bukan Ify yang lemah. “Gue lagi ngidam pengen makan bakso nih” lanjut Rio sembari menstandarkan motornya yang kemudian melepas helm dan bergegas turun. Ify melengos. Ada-ada saja pemuda satu ini. Gadis itu tersentak dan kemudian turun dari motor Rio ketika pemuda itu berseru menyuruhnya untuk turun.

**

            “Ngidam beneran lo?” tanya Ify heran ketika melihat Rio yang lahap menyantap semangkuk bakso dihadapannya. Rio hanya mengangguk tanpa bersuara. Terus menyuap bulatan-bulatan daging kecil itu ke dalam mulutnya. “Udah berapa bulan?” tanyanya lagi yang mulai ngelantur.
            Rio menyeruput es jeruknya “9 bulan”.
            “Wah, bentar lagi lahiran dong”.
            “Masih lama. Jangka waktu gue mencapai 12 bulan”. Ify tergelak mendengarnya dan menepuk pundak pemuda itu yang tepat berada di sampingnya. Rio meringis yang kemudian mengusap-ngusap pundaknya yang sedikit ngilu akibat tepukan yang lumayan keras dari gadis manis itu.
            “Lo beneran gak mau pesen?” Ify hanya menggeleng. “Sakit baru tau lo”. Ify terkekeh geli mendengarnya.
            “Gue udah nginap kok di sana, satu minggu”.
            “Seenggaknya lo makan satu nih. Aakkk..” Ify menggeleng dan menjauhkan kepalanya dari Rio yang berusaha untuk menyuapkan satu pentol bakso kecil. “Satu aja”. Ify masih menggeleng. Rio mendengus sebal melihatnya. “Makan atau gue tinggal?” Ify tertawa melihat ekspresi Rio saat itu. Dengan perlahan Ify membuka mulutnya. Rio tersenyum dan memasukkan bakso kecil itu yang ditusuk garpu olehnya ke dalam mulut Ify. “Enak ‘kan? Daripada kambuh gara-gara lo gak makan. Apa kata orang tua lo nanti? Diamukin deh gue”. Ify hanya tertawa geli melihatnya.
            “Bawel banget sih, Yo. Udah cepetan makannya, udah mau hujan tuh”.

**

            Dua insan itu masih diam. Hanya bisingnya hujan yang terdengar. Sedari mereka berteduh di emperan toko itu, belum ada topik pembicaraan yang tercipta di antara keduanya.
            “Hujan, Yo”.
            “Gue juga tau kali kalo hujan. Kecuali kalo gue amnesia, sampe lupa sama yang namanya hujan”. Ify cemberut. Ia memukul-mukuli lengan Rio. Rio tertawa sembari meringis. “Udah woy, sakit nih”. Ify memeletkan lidahnya kepada Rio. Lagi-lagi gadis itu menghadirkan buncahan tersendiri dalam hatinya.
            “Dingin gak?”
            “Ya iyalah. Pakai nanya lagi” jawab Ify senewen. Gadis itu kaget ketika sesuatu berada di atas kepalanya. Sebagian menutupi penglihatannya. Seperti pakaian. Dia mengambil benda tersebut. Jaket! Sepertinya ia pernah lihat jaket ini. Ify menoleh ke arah Rio yang berdiri tegak disampingnya. Ah! Baru ingat, jaket ini punya Rio. Pemuda itu kini hanya berbalutkan seragam sekolahnya saja.
            Merasa diperhatikan, Rio menoleh. Kala itu, pandangan mereka bersirobok. Dan kala itu pula, pacuan jantung keduanya berada diatas normal. Tidak seperti biasanya. Rio yang dahulu tersadar, memecah keheningan.
            “Pakai aja” ujar Rio sambil melemparkan senyum manisnya. Ify tersentak dari lamunan dan kemudian merona ketika melihat senyuman itu. Dia kembali menghadap depan dan menunduk. Dengan perasaan campur aduk, Ify memakai jaket itu.
            Wangi tubuh Rio menyergap indera penciumannya. Tanpa sadar, Ify memeluk dirinya sendiri, seakan memeluk tubuh tegap itu.
            “Fy” panggil Rio yang kembali menyentak dirinya dari lamunan.
            Ify berdehem kecil meresponnya.
            “Kalo seandainya gue suka sama lo, gimana?” Ify mendelik. Dan dengan gerakan cepat ia menoleh ke arah Rio yang juga menatapnya dengan tatapan penuh arti. Ify kemudian tertawa. Rio melihatnya heran. Pemuda itu menggaruk-garuk kepalanya. Kayaknya sih nih anak belum sepenuhnya sehat. Diajak serius, malah ketawa, batinnya berdumel.
            “Candaan lo lucu banget, Yo”. Rio mendengus sebal.
            “Gue serius”. Ucapan itu membuat Ify terdiam. Kembali ia menoleh ke arah Rio. Kini dengan perlahan. “Gue waktu itu bingung, kenapa gue sebegitu khawatirnya disaat lo sakit. Gue juga bingung, kenapa gue selalu deg-degan dan nyaman sewaktu dekat dengan lo. Ternyata gue punya rasa sama lo”. Ify menunduk. Tak sanggup melihat tatapan tajam mata Rio yang berhasil membuat kerja jantungnya menjadi gila-gilaan seperti saat ini. “Fy, mau gak lo..” sebelum Rio menyelesaikan kalimatnya. Ify mengangguk perlahan. Rio yang melihatnya terbelalak kaget. “Serius?” Lagi-lagi Ify hanya mengangguk.
            Dengan cepat, Rio merengkuh tubuh mungil itu. Didekapnya erat, seakan tak ingin melepaskannya. Seakan anak kecil yang tak ingin mainannya diambil orang lain. Pemuda itu merasakan adanya balasan dari Ify. Walaupun tampak ragu.
            Pelukan Ify mengerat dan lebih menenggelamkan wajahnya dalam dekapan Rio tatkala suara petir memekakkan telinga. Rio tersenyum dan juga mengeratkan pelukannya. Meyakinkan bahwa ada dirinya disana yang senantiasa menjaga.
            Gumaman kecil Ify yang tak terdengar jelas, namun cukup tertangkap dalam indera pendengaran Rio, membuat pemuda itu terkekeh kecil dan kemudian berujar.
            “I love you too”. 

END
           

You May Also Like

0 komentar