Tak Padam -Cerpen RIFY-
“Hai”.
“Eh? H..hai juga”.
“Mario Kesnan. Rio”.
“Aify Saufika. Ify”.
---
“Haha serius lo?
Gila!”
“Hehe yah habisnya, tuh Bapak
segitunya sih”.
“Gokil lo! Gue suka”.
“....”
“Eh? Pipi lo merah”.
---
“Eng..sebenernya,
gue..cinta sama lo”.
“...”
“Ma..mau jadi pacar gue gak?”
“Eng...”
“Gimana?”
“Eh? I..iya, gue mau”.
---
“Eh..eh, liat bintangnya cantik
banget”.
“Halah, cantiknya elo gak kalah kali
dari bintang-bintang itu”.
“.....”
“Cieee..pipinya merah tuh”.
“Cieee..pipinya merah tuh”.
“Iihh, apaan sih? Gombal basi lo”.
“Haha, gue keren kok”.
“Kagak nyambung, cakep”.
“Makasih”.
“Sama-sama”.
“Hahahahaha”.
---
“Jadi, lo beneran mau pergi?”
“Iya, maafin gue”.
“...”
“Yah, jangan nangis dong. Gue gak
lama kok”.
“Lo bilang 6 tahun itu sekejap apa?
Kayak nunggu dari senin ke rabu, gitu?”
“Maaf. Gue disana buat ngejar impian
gue. Please, jangan nangis”.
“Gue..gue..gak bisa kalo harus LDR”.
“Ma..maksud lo?”
“Lebih baik...kita gak ada hubungan
apa-apa. Maaf. Bukan bermaksud buat egois, tapi gue gak mau selalu dihantui
kecurigaan. Gue gak mau kalo nanti ujung-ujungnya kita putus dengan cara yang
nyakitin banget. Seenggaknya hari ini kita pisah bukan karena kesalah pahaman
baik dari elo maupun gue”.
“....”
“Maafin gue”.
“Hh..kalo memang itu yang terbaik
buat lo. Gue terima”.
“Maaf”.
“Udah, gakpapa kok. Gue akan selalu
jaga hati gue buat lo. Sampai kita ketemu lagi nantinya”.
“Hhmh...gue sayang sama lo”.
“Iya. Tungguin gue ya. Gue bakal
balik dengan kesuksesan yang udah gue genggam”.
---
Rumah itu tidak begitu ramai, hanya saja suara-suara dari
beberapa orang yang membuatnya seperti ramai sekali. Entah itu celotehan yang
mungkin tidak penting, atau mungkin teriakan histeris, dan atau juga
pembicaraan yang serius.
Terdapat lima orang pemuda. Dua diantaranya tengah asyik
bermain playstation yang tak jarang
berseru hebat. Kemudian sisanya, terlihat menyimak satu orang dari mereka
bertiga yang tengah menjabarkan kegiatan-kegiatan yang akan memenuhi jadwal
seminggu ini.
“Jadi, besok ada manggung tuh di café Roseus. Dari jam 4 sampe jam 7. Manager café itu berharap kalian bakal bawain lagu kesukaannya dia”. Kening
dua pemuda itu secara serentak berkerut. “Udah gue tanya, tapi masih belum ada
jawaban. Entar deh gue kasih tau kalo udah ada konfirmasi” lanjutnya yang
seakan tahu arti tatapan itu.
“Bilangin, jangan mepet banget buat kasih tau lagu
kesukaannya itu”.
“Iyeee, gue sms lagi nih”. Selama orang itu yang
berstatus sebagai manager mereka tengah berkutat dengan I-Phonenya, kedua pemuda tadi melihat daftar kegiatan yang telah
tersusun rapi di buku khusus schedule
mereka.
“Woy! Melamun mulu lo”. Pemuda yang dikejutkan tadi
tersentak kaget. Memang pandangannya mengarah ke daftar kegiatan itu, tetapi
pandangannya kosong.
“Apaan sih, Yel? Orang ganteng ‘kan jadinya kaget” ujar
pemuda itu. Pemuda yang dipanggil ‘Yel’ tadi melongo tidak jelas. Gabriel Saputra.
“Ha? Apaan? Lo? Orang ganteng?” sahut pemuda yang tadinya
asyik bermain playstation sembari
mengorek-ngorek telinganya, seakan sedang membersihkan telinganya saat itu.
“Orang ganteng disini, cuma gue. Pracakka Nugraha” lanjutnya sambil
menepuk-nepuk dadanya, bangga. Selanjutnya, pemuda disampingnya menoyor kepala
Cakka. “Wah, lo nyari ribut nih, Pit”.
“Pat, pit, pat, pit”.
“Lah? Terus?”
“Nabrak” balasnya cuek. Cakka kemudian menggulati pemuda
tadi yang bernama Calvin Jonathan.
Tiga pemuda tadi hanya geleng-geleng kepala menatap
kelakuan mereka yang konyol. Kemudian, manager itu menoleh ke arah dua pemuda
disampingnya.
“Oi, Yo. Masih galau lo?” Pemuda hitam manis itu, Mario
Kesnan, menatap managernya bingung. “Gak usah pura-pura deh lo. Gadis lama itu,
ya ‘kan?” lanjutnya. Rio melengos. Mereka semua tahu kejadian masa lalu itu.
Kenangan itu. Belum lama mereka bersama, namun waktu berjalan begitu cepatnya.
Entah kemana gadis itu. Tak ada kabar apapun. Semenjak dia pergi dari kota ini
dulu. Sempat dia memberi kabar bahwa pemuda itu telah sampai, dan gadis itu
membalas pesannya. Tetapi, setelah itu, mereka lost contact.
Setelah Rio pulang ke kota asalnya. Kota yang menurutnya
menyimpan banyak kenangan bersama gadis itu, dia langsung ke kediaman sang
gadis, bermaksud untuk menemuinya. Tetapi, yang ditemukan hanya rumah kosong
yang sudah tak berpenghuni. Apa gadis itu telah pindah? Tapi kemana? Kenapa tak
ada kabar apapun? Bertanya ke tetangga sebelah rumah itu juga percuma, karena
penghuninya juga baru menempati rumah itu. Dengan perasaan yang bercampur aduk,
akhirnya Rio menyerah. Toh, jika jodoh pasti akan bertemu kembali dengan
sendirinya. Bukan menyerah akan perasaannya, tetapi hanya untuk saat ini ia
menyerah untuk mencari keberadaannya.
“Apapun
masalah lo, lo harus tetap profesional”.
“Apaan sih?” ujar Rio sedikit kesal sembari menepis
tangan managernya yang semula menepuk pundak kanan Rio. Manager itu, Tian
Maulana, menyeringai lucu.
---
Café itu sudah
terlihat ramai dikunjungi orang-orang, terutama para fans dari band bintang
tamu yang akan tampil pada hari ini. Mereka yang terlihat dominan memenuhi
ruangan café itu. Setelah sang MC
berkata-kata, dan kemudian ia memanggil band yang tengah naik daun di kota ini.
Band ini memang belum memiliki single album, mereka masih ingin mencari pengalaman dari aksi
panggung mereka dari café ke café atau dengan mengikuti ajang
festival band. Tetapi, walaupun belum mengeluarkan single album, band yang
beranggotakan 5 personil ini sudah memiliki beribu-ribu fans, atau mungkin
sudah berjuta fans.
Para fans itu berteriak histeris tatkala melihat para
idolanya menaiki panggung. Mereka mengambil posisi masing-masing. Rio pada
posisi vocalist, Gabriel rythm, Alvin bass, Cakka melody, dan
pada drum ada Raynald Muhammad yang
kemarin tidak dapat datang dalam acara kumpul mereka di markas tempat biasa
mereka berkumpul untuk membahas schedule
mereka.
“Selamat sore semuanya..”
“SOREEEE”.
“Senang sekali bisa menghibur kalian lagi di café ini. Kami, SkyBand, akan membawakan 5 lagu. Semoga kalian pada gak bosan ya..”
“GAK BAKAALLL”.
Rio terkekeh melihat fans-fansnya itu. “Baiklah, lagu
pertama ini, lagu kesukaannya manager café
Roseus. Dan juga khusus untuk seseorang yang sekarang entah dimana
keberadaannya, yang sudah berhasil membuat saya merasakan kegalauan,
kehilangan, dan juga kesedihan. Tak Pernah Padam”. Mendengar ‘curahan hati
colongan’ Rio tadi, para fansnya berteriak histeris. Tanpa memperdulikan
mereka, Rio menoleh ke belakang dan mengangguk, mengisyaratkan untuk mulai
intro lagu itu.
Senyumanmu
masih jelas terkenang
Hadir selalu seakan tak mau hilang dariku..oo..dariku..yeyeye..
Hadir selalu seakan tak mau hilang dariku..oo..dariku..yeyeye..
Takkan
mudah ku bisa melupakan
Segalanya yang telah terjadi
Di antara kau dan aku, di antara kita berdua
Segalanya yang telah terjadi
Di antara kau dan aku, di antara kita berdua
Kini
tak ada terdengar kabar dari
dirimu
Kini kau telah menghilang jauh dari diriku
Semua tinggal cerita antara kau dan aku
Kini kau telah menghilang jauh dari diriku
Semua tinggal cerita antara kau dan aku
Namun
satu yang perlu engkau
tahu
Api cintaku padamu tak pernah padam, tak pernah padam
Api cintaku padamu tak pernah padam, tak pernah padam
Takkan
mudah ku bisa melupakan
Segalanya yang telah terjadi
Di antara kau dan aku, di antara kita berdua
Segalanya yang telah terjadi
Di antara kau dan aku, di antara kita berdua
Kini
tak ada terdengar kabar dari
dirimu
Kini kau telah menghilang jauh dari diriku
Semua tinggal cerita antara kau dan aku
Kini kau telah menghilang jauh dari diriku
Semua tinggal cerita antara kau dan aku
Namun
satu yang perlu engkau
tahu
Api cintaku padamu tak pernah padam, tak pernah padam
Api cintaku padamu tak pernah padam, tak pernah padam
Api cintaku padamu wooo ooo yeah
Api
cintaku padamu tak pernah padam, tak pernah padam
Suara
riuh tepuk tangan dan masih teriakan histeris dari para fans nya itu membahana
ke seluruh penjuru café. Rio masih
memberikan senyum terbaiknya. Namun saat itu, matanya menangkap sosok perempuan
yang tak asing baginya. Seketika jantungnya seakan berhenti berdetak. Perempuan
itu juga menatapnya dan kemudian tersenyum tipis. Senyuman di wajah pemuda itu
hilang. Apakah gadis itu masih mengingatnya saat ini? Apakah gadis itu masih mengenang
kenangan masa lalu itu? Rio menghela nafas, guna membuang rasa sesak yang
bersarang di dadanya. Yang semula dia menunduk, kembali mendongak ke arah gadis
tadi, namun ia tersentak ketika gadis kursi itu telah kosong.
---
Gadis
manis itu masih terus sibuk dengan laptop di hadapannya saat ini. Ia memilih
tempat ini mungkin cukup tepat. Tempat tenang seperti ini yang dia butuhkan
untuk mengerjakan tugas kuliahnya saat ini. Dengan secangkir cappucino hangat di atas mejanya saat
itu.
Dia
baru saja sampai ke kota kelahirannya ini kemarin siang. Kebetulan, beberapa
hari ke depan, dia sedang tidak ada kelas. Dan itu sudah fix. Jadi, ia menggunakan kesempatan free day itu dengan pulang ke rumah yang sebenarnya. Atau mungkin
bisa dibilang pulang kampung.
Dia sedikit
mengernyit heran ketika melihat ramai orang di luar. Ah, mungkin hanya
rombongan remaja SMA yang mungkin akan merayakan pesta ulang tahun, pikir gadis
itu. Tetapi, semakin lama, rombongan itu bertambah jumlah dan kemudian
berbondong-bondong masuk ke café itu.
Kalau begini jadinya, tugas ini tidak akan selesai, lanjut pikirannya. Gadis
itu menghela nafas dan kemudian berusaha berkonsentrasi pada tugasnya. Tetapi
teriakan-teriakan histeris itu membuat pikirannya tidak dapat fokus.
“Ck! Apa
acara ulang tahun zaman sekarang harus begini?” gumamnya kesal. Dia menyudahi
tugasnya yang masih setengah. Kemudian men-shut
downkan laptopnya. Dengan sedikit kesal dia mendongak, penasaran dengan apa
yang telah diperbuat rombongan wanita-wanita tadi.
Matanya
menyipit ketika melihat pemuda-pemuda yang naik ke atas panggung itu. Dan
kemudian, mata yang menyipit itu sontak melebar.
“Di..dia”
gumamnya.
“Selamat
sore semuanya..”
“SOREEEE”.
“Senang sekali bisa menghibur kalian lagi di café ini. Kami, SkyBand, akan membawakan 5 lagu. Semoga kalian pada gak bosan ya..”
“GAK BAKAALLL”.
Tanpa sadar, sebulir air matanya menetes, ketika
mendengar apa yang diucapkan vokalis itu. Apa rasa itu masih sama untuknya?
Dengan cepat dia menghapus air matanya. Apa kata orang jika melihat dia
menangis? Yang ada mereka pasti terheran dibuatnya.
Suara tepuk tangan dan teriakan histeris itu membahana
ketika satu lagu selesai dinyanyikan. Sang vocalist
terlihat tersenyum kepada para fansnya. Jantungnya seakan berhenti berdetak
ketika sepasang mata itu menatapnya. Menatap dengan pandangan yang sulit
diartikan. Tanpa sadar –lagi, gadis itu menarik kedua ujung bibirnya. Tipis. Pemuda
itu menunduk.
Sesak. Itu yang dirasakan. Dengan cepat, dia beranjak
dari sana. Sebelum pemuda itu kembali melihat dirinya. Tak ingin berlarut dalam
kenangan masa lalu yang indah. Yang ada membuatnya hanya bisa terpuruk akan
kesalahan dulu. Keputusan yang salah memang. Tapi mau bagaimana lagi, semua tak
dapat diubah kembali.
“Rio” gumam gadis itu lirih dalam langkahnya menuju
mobilnya. Buliran itu kembali menetes. Namun, dengan cepat ia hapus kembali.
Hingga sesampainya di mobil, tangisan itu pecah. Buliran itu menjadi deraian.
Dia mencengkram erat setir dan kemudian memukul-mukulnya guna melampiaskan
emosi yang tengah ia rasakan saat ini. “Gue kangen...”
---
“Becanda mulu lo, Yo. Haha” ujar Gabriel yang diiringi
tawa renyahnya. Rio melengos. Berbicara serius namun ditanggapi hanya lelucon,
bagaimana tidak kesal.
“Gue sumpel tuh mulut lo. Yang lucu apaan coba?”.
Mendengarnya Gabriel berhenti tertawa. “Gue serius pakek banget, Yel.
Jarang-jarang nih gue bicara serius banget begini” lanjut Rio. Dan kali ini
Gabriel terlihat percaya. Dia mengangguk-ngangguk mengerti.
“Iya deh, sorry”.
Rio mendengus. Untung saja hanya Gabriel disana, tidak ada tuyul-tuyul yang
lainnya, yang sangat suka menimbrung dan menganggap semua pembicaraan mereka
itu joke. “Jadi rencana lo
selanjutnya gimana? Masih mau searching?”
“Lo kata google”.
Gabriel cengengesan. “Gue...gak tau mesti gimana. Gue rasa dia udah lupa sama
gue. Gue rasa, perasaan dia gak sama lagi kayak dulu ke gue” tutur Rio lirih.
Gabriel menggaruk-garuk pelipisnya.
“Lo kok jadi loyo begitu? Coba deh lo analisa. Kalo emang
dia gak inget lagi, kalo perasaan dia gak sama lagi kayak dulu, kenapa dia
natap lo sebegitunya? Kenapa dia masih mau senyum ke elo walaupun itu cuma
senyuman tipis?”. Rio tampak mencerna perkataan Gabriel tadi. Ada benarnya
juga. Ya walaupun anak ini sangat suka melawak, namun terkadang nasihatnya itu
membuat semangat kembali bangkit.
“Iya sih. Tapi..”
“Yaelah, masih ada tapi-tapi-an. Itu tandanya, elo
meragukan dia. Seenggaknya lo percaya sama omongan dia dulu. Dan atau itu
tandanya elo gak bisa dong nepatin janji lo dulu ke dia? Cowok sejati ingkar
janji? Bukan kali, itu banci namanya”. Rio kembali merenung. “Come on, bro. Daripada lo bertahun-tahun
dilanda kegalauan. Apa kata fans-fans kita coba?”
“Oke. Thanks
banget, Yel”.
“Yayaya. Don’t
mention it, soalnya gue ganteng”.
“KAGAK NYAMBUNG!”
---
“Hari berlalu bulan berlalu tahun pun berlalu. Lambang
kan segala resah yang ada pada orang yang sama...” senandung kecil Rio. Dengan headset putih yang menjuntai, kedua
tangannya dimasukkan ke dalam kedua saku celana jeansnya, dia melangkah santai memasuki sebuah toko. Seperti biasa,
pemuda itu mampir ke toko musik langganannya untuk melihat alat-alat musik
terbaru disana.
Rio melepas headset
sebelah kiri dan kemudian bersalaman ala-lelaki dengan penjaga toko itu.
Penjaga toko yang nampak sebaya itu kemudian memberikan segelas teh yang seakan
dia sudah tahu bahwa saat waktu ini adalah jam berkunjungnya Rio ke tokonya.
Dia banyak berhutang budi pada Rio. Karena pekerjaan haramnya dulu yang sudah
merusak semuanya telah berubah menjadi sesuatu yang sangat berharga berkat
vokalis band tersebut. Dan karena itu, dia memanggil Rio dengan sebutan ‘Bos’.
Sebenarnya Rio tidak ingin, tetapi dia masih saja memanggilnya seperti itu
walaupun sudah dilarang oleh Rio, dan hingga seterusnya Rio tak lagi canggung
dengan panggilan itu.
Mereka berbincang-bincang layaknya sahabat. Namun
kemudian mata Rio menangkap sosok gadis yang membelakanginya tengah melihat-lihat
ke tempat berbagai macam gitar. Rio menatap penjaga toko itu sambil menunjuk
gadis itu dengan dagunya seakan berkata ‘siapa?’.
“Cantik, Bos. Manis, imut. Samperin sono. Siapa tau
saling kenal, jodoh deh” ujarnya dengan tawa pada akhir kalimatnya.
“Heh! Ngomong apaan sih lo? Jodoh di tangan Tuhan, Jos”.
Josia namanya. Rio tidak mengalihkan pandangannya dari sosok yang masih
membelakanginya itu. Postur tubuh itu seperti tak asing lagi di matanya. Entah
kenapa, jantungya berdetak lebih kencang dari biasanya. Ada desiran halus di
dadanya.
“Yaelah, si Bos. Emang jodoh ditangan Tuhan, tapi siapa
tau ‘kan tuh cewek emang beneran jodoh lo”. Rio hanya diam, tak menanggapi.
Masih terus memandanginya. “Sana, sana” ujar Josia sambil mendorong-dorong
pundak Rio.
“Eh, eh. Tumpah woy” seru Rio yang memegangi cangkir
teh-nya itu dan kemudian menaruhnya kembali ke meja etalase disampingnya.
Gadis tadi yang mendengar keributan, menoleh dengan
tatapan bingung. Dan saat itu, Rio kembali menoleh ke arah sosok gadis tadi.
Keduanya terbelalak. Tersentak.
“Kenape lo, Bos?” tanya Josia pada Rio yang masih menatap
gadis tadi dengan keterkejutannya. Josia ikut menatap arah pandangan Rio. “Jadi
lo kenal? Bagus tuh. Udah sana samperin”. Josia kembali mendorong-dorong kuat
pundak Rio, hingga pemuda itu hampir terjungkal ke depan. Dan dengan terpaksa,
Rio melangkah mendekat ke arah gadis itu setelah melemparkan tatapan tajam ke
arah Josia yang menyeringai ke arahnya.
Keduanya masih dengan keterkejutannya. Masih dengan
perasaan campur aduknya ketika jarak mereka tak lagi jauh. Semuanya
terngiang-ngiang dalam otak masing-masing. Keduanya salah tingkah. Sang gadis
menunduk sembari memainkan jari-jari mungilnya. Dan Rio menggaruk-garuk
kepalanya. Tanpa sadar, mereka menghela nafas serentak.
“Emm..gu..gue..” kalimat gadis itu terpotong ketika
sebuah tangan menariknya keluar dari toko itu, yang kemudian cengkraman itu
berganti menjadi genggaman lembut yang menghadirkan desiran hebat pada diri
masing-masing. “Eh..”
Setelah berpamitan pada Josia, Rio membawa gadis itu
keluar toko dan mengajaknya ke taman. Hanya dengan berjalan kaki, karena letak
taman itu hanya beberapa meter dari toko musik tadi. Genggaman tangan Rio pada
tangan gadis itu tidak lepas, malah semakin mengerat dan lembut. Seakan tidak
ingin melepaskan kembali kebahagiaan itu.
---
Sesampainya, Rio berhenti melangkah dan kemudian berbalik
badan hingga menghadap gadis itu yang masih setia menunduk. Kini, genggaman itu
terlepas. Gadis itu seakan tidak rela.
“Ify” panggil Rio lembut yang membuat gadis itu
mendongak, menatap Rio yang kini merentangkan kedua tangannya dengan senyuman
manis yang selalu membuat hati Ify –gadis tadi, berdetak tidak karuan.
Tanpa perintah apapun, Ify menghambur ke pelukan Rio.
Melepaskan semuanya. Melepaskan rasa beban tersendiri itu. Melepaskan kerinduan
yang telah membuncah. Pelukan erat itu, apakah akan berakhir kembali?
Ify membenamkan wajahnya pada dada bidang Rio. Sedangkan
pemuda itu mengeratkan pelukannya. Dia merasakan bajunya basah. Dan dia pun
mendengar isakan tangis dari gadis cantik itu.
“Hei, hei, jangan nangis dong. Lagi kangen-kangenan
begini kok malah nangis. Jelek deh” ujar Rio yang terlihat ingin melepaskan
pelukannya guna ingin melihat wajah Ify. Namun, Ify menolak, dia masih ingin
berada di pelukan itu. Hangat dan nyaman sekali. “Apaan sih?” ujar Ify dengan suara serak. Rio tertawa kecil.
“Yo, gue..”
“Gue kangen sama lo, Fy” sambar Rio yang memotong kalimat
yang akan diucapkan Ify. Seakan Rio tahu apa yang akan diucapkan pujaan hatinya
itu. Ya! Gadis itu masih menempati ruang spesial di hatinya. Ify melepaskan
pelukannya, begitupun Rio.
Pemuda itu tersenyum dan kemudian menghapus lembut air
mata Ify yang berbekas di kedua pipinya. Ah! Pemuda ini memang paling bisa
membuat jantungnya berdetak tidak karuan seperti ini. Dia kembali menunduk,
mengingat kesalahan yang telah ia perbuat pada waktu dulu.
“Yo, gue..gue..minta maaf”. Rio mengernyit bingung.
“Untuk?”
“Keputusan gue dulu” jawab Ify lirih.
“Ify...” Rio menangkup wajah Ify lembuat dan kemudian
mengangkatnya sehingga membuat gadis itu menatapnya. Mengelus-ngelus lembut
kedua pipinya dengan kedua ibu jarinya. “Keputusan lo itu gak salah. Buat apa
minta maaf? Seandainya kita masih dalam status terikat hubungan waktu itu, gue
juga pasti ngerasain hal yang sama. Dan tentu gak bisa konsen dengan apa yang
bakal jadi tugas gue saat itu. So, gak
ada yang perlu dimintai maaf dan gak ada yang perlu dimaafin. Oke?” Ify menatap
Rio dengan matanya yang kembali berlinang.
“Tap..tapi, Yo..”
“Gak ada, Fy. Gak ada” potong Rio sambil menepuk-nepuk
pelan kedua pipi Ify. Ify menghela nafas
dan kemudian tersenyum.
“Makasih”. Rio kembali memeluknya erat.
“Lo itu ngegemesin ya”. Ify membalas pelukan Rio. Air
matanya kembali meluruh saat itu. “Buat apa sih lo berterima kasih? Hm? Ify,
Ify” lanjutnya dengan terkekeh geli.
“Itu..”
“Udah ah, gak kelar-kelar jadinya”. Mereka melepaskan
pelukan satu sama lain.
“Emm, Yo..” Rio menatapnya dengan kedua alis terangkat
dan senyuman manisnya. Seolah bertanya ‘apa?’. “Ap..apa..rasa..itu..”
“Lagu yang gue nyanyiin di café itu sebagai pembuktiannya. Tanpa gue jawab, lo pasti udah
tau”.
“Jadi..”
“Iya, rasa yang dulu. Rasa buat lo, gak pernah padam”.
Ify tersenyum senang mendengarnya. Apa mungkin mereka akan kembali bersatu? Ah!
Mungkin saja jika memang keduanya masih memiliki rasa yang sama. “Balikan,
yuk?” ujar Rio yang seperti anak kecil yang mengajak main temannya. Ify tertawa
dan mengangguk. Kemudian, pemuda itu tersenyum lebar melihat tanggapan dari
sang gadis.
Serpihan kenangan dulu kini kembali dengan membawa sebuah
angan dan cita-cita. Sebagai pendorong untuk terus melangkah maju tanpa harus
terus menatap ke belakang. Karena yang terdahulu hanya sebagai pembelajaran
untuk seseorang.
“Gue nepatin janji ‘kan?” Ify menatapnya bingung. “Gue kembali dengan
menggenggam kesuksesan itu”.
0 komentar