Tak Padam -Cerpen RIFY-



“Hai”.
            “Eh? H..hai juga”.
            “Mario Kesnan. Rio”.
            “Aify Saufika. Ify”.
---
            “Haha serius lo? Gila!”
            “Hehe yah habisnya, tuh Bapak segitunya sih”.
            “Gokil lo! Gue suka”.
            “....”
            “Eh? Pipi lo merah”.
---
            “Eng..sebenernya, gue..cinta sama lo”.
            “...”
            “Ma..mau jadi pacar gue gak?”
            “Eng...”
            “Gimana?”
            “Eh? I..iya, gue mau”.
---
“Eh..eh, liat bintangnya cantik banget”.
            “Halah, cantiknya elo gak kalah kali dari bintang-bintang itu”.
            “.....”
            “Cieee..pipinya merah tuh”.
            “Iihh, apaan sih? Gombal basi lo”.
            “Haha, gue keren kok”.
            “Kagak nyambung, cakep”.
            “Makasih”.
            “Sama-sama”.
            “Hahahahaha”.
---
“Jadi, lo beneran mau pergi?”
            “Iya, maafin gue”.
            “...”
            “Yah, jangan nangis dong. Gue gak lama kok”.
            “Lo bilang 6 tahun itu sekejap apa? Kayak nunggu dari senin ke rabu, gitu?”
            “Maaf. Gue disana buat ngejar impian gue. Please, jangan nangis”.
            “Gue..gue..gak bisa kalo harus LDR”.
            “Ma..maksud lo?”
            “Lebih baik...kita gak ada hubungan apa-apa. Maaf. Bukan bermaksud buat egois, tapi gue gak mau selalu dihantui kecurigaan. Gue gak mau kalo nanti ujung-ujungnya kita putus dengan cara yang nyakitin banget. Seenggaknya hari ini kita pisah bukan karena kesalah pahaman baik dari elo maupun gue”.
            “....”
            “Maafin gue”.
            “Hh..kalo memang itu yang terbaik buat lo. Gue terima”.
            “Maaf”.
            “Udah, gakpapa kok. Gue akan selalu jaga hati gue buat lo. Sampai kita ketemu lagi nantinya”.
            “Hhmh...gue sayang sama lo”.
            “Iya. Tungguin gue ya. Gue bakal balik dengan kesuksesan yang udah gue genggam”.

---
           
            Rumah itu tidak begitu ramai, hanya saja suara-suara dari beberapa orang yang membuatnya seperti ramai sekali. Entah itu celotehan yang mungkin tidak penting, atau mungkin teriakan histeris, dan atau juga pembicaraan yang serius.
            Terdapat lima orang pemuda. Dua diantaranya tengah asyik bermain playstation yang tak jarang berseru hebat. Kemudian sisanya, terlihat menyimak satu orang dari mereka bertiga yang tengah menjabarkan kegiatan-kegiatan yang akan memenuhi jadwal seminggu ini.
            “Jadi, besok ada manggung tuh di café Roseus. Dari jam 4 sampe jam 7. Manager café itu berharap kalian bakal bawain lagu kesukaannya dia”. Kening dua pemuda itu secara serentak berkerut. “Udah gue tanya, tapi masih belum ada jawaban. Entar deh gue kasih tau kalo udah ada konfirmasi” lanjutnya yang seakan tahu arti tatapan itu.
            “Bilangin, jangan mepet banget buat kasih tau lagu kesukaannya itu”.
            “Iyeee, gue sms lagi nih”. Selama orang itu yang berstatus sebagai manager mereka tengah berkutat dengan I-Phonenya, kedua pemuda tadi melihat daftar kegiatan yang telah tersusun rapi di buku khusus schedule mereka.
            “Woy! Melamun mulu lo”. Pemuda yang dikejutkan tadi tersentak kaget. Memang pandangannya mengarah ke daftar kegiatan itu, tetapi pandangannya kosong.
            “Apaan sih, Yel? Orang ganteng ‘kan jadinya kaget” ujar pemuda itu. Pemuda yang dipanggil ‘Yel’ tadi melongo tidak jelas. Gabriel Saputra.
            “Ha? Apaan? Lo? Orang ganteng?” sahut pemuda yang tadinya asyik bermain playstation sembari mengorek-ngorek telinganya, seakan sedang membersihkan telinganya saat itu. “Orang ganteng disini, cuma gue. Pracakka Nugraha” lanjutnya sambil menepuk-nepuk dadanya, bangga. Selanjutnya, pemuda disampingnya menoyor kepala Cakka. “Wah, lo nyari ribut nih, Pit”.
            “Pat, pit, pat, pit”.
            “Lah? Terus?”
            “Nabrak” balasnya cuek. Cakka kemudian menggulati pemuda tadi yang bernama Calvin Jonathan.
            Tiga pemuda tadi hanya geleng-geleng kepala menatap kelakuan mereka yang konyol. Kemudian, manager itu menoleh ke arah dua pemuda disampingnya.
            “Oi, Yo. Masih galau lo?” Pemuda hitam manis itu, Mario Kesnan, menatap managernya bingung. “Gak usah pura-pura deh lo. Gadis lama itu, ya ‘kan?” lanjutnya. Rio melengos. Mereka semua tahu kejadian masa lalu itu. Kenangan itu. Belum lama mereka bersama, namun waktu berjalan begitu cepatnya. Entah kemana gadis itu. Tak ada kabar apapun. Semenjak dia pergi dari kota ini dulu. Sempat dia memberi kabar bahwa pemuda itu telah sampai, dan gadis itu membalas pesannya. Tetapi, setelah itu, mereka lost contact.
            Setelah Rio pulang ke kota asalnya. Kota yang menurutnya menyimpan banyak kenangan bersama gadis itu, dia langsung ke kediaman sang gadis, bermaksud untuk menemuinya. Tetapi, yang ditemukan hanya rumah kosong yang sudah tak berpenghuni. Apa gadis itu telah pindah? Tapi kemana? Kenapa tak ada kabar apapun? Bertanya ke tetangga sebelah rumah itu juga percuma, karena penghuninya juga baru menempati rumah itu. Dengan perasaan yang bercampur aduk, akhirnya Rio menyerah. Toh, jika jodoh pasti akan bertemu kembali dengan sendirinya. Bukan menyerah akan perasaannya, tetapi hanya untuk saat ini ia menyerah untuk mencari keberadaannya.
“Apapun masalah lo, lo harus tetap profesional”.
            “Apaan sih?” ujar Rio sedikit kesal sembari menepis tangan managernya yang semula menepuk pundak kanan Rio. Manager itu, Tian Maulana, menyeringai lucu.

---

            Café itu sudah terlihat ramai dikunjungi orang-orang, terutama para fans dari band bintang tamu yang akan tampil pada hari ini. Mereka yang terlihat dominan memenuhi ruangan café itu. Setelah sang MC berkata-kata, dan kemudian ia memanggil band yang tengah naik daun di kota ini.
            Band ini memang belum memiliki single album, mereka masih ingin mencari pengalaman dari aksi panggung mereka dari café ke café atau dengan mengikuti ajang festival band. Tetapi, walaupun belum mengeluarkan single album, band yang beranggotakan 5 personil ini sudah memiliki beribu-ribu fans, atau mungkin sudah berjuta fans.
            Para fans itu berteriak histeris tatkala melihat para idolanya menaiki panggung. Mereka mengambil posisi masing-masing. Rio pada posisi vocalist, Gabriel rythm, Alvin bass, Cakka melody, dan pada drum ada Raynald Muhammad yang kemarin tidak dapat datang dalam acara kumpul mereka di markas tempat biasa mereka berkumpul untuk membahas schedule mereka.
            “Selamat sore semuanya..”
            “SOREEEE”.
            “Senang sekali bisa menghibur kalian lagi di café ini. Kami, SkyBand, akan membawakan 5 lagu. Semoga kalian pada gak bosan ya..”
            “GAK BAKAALLL”.
            Rio terkekeh melihat fans-fansnya itu. “Baiklah, lagu pertama ini, lagu kesukaannya manager café Roseus. Dan juga khusus untuk seseorang yang sekarang entah dimana keberadaannya, yang sudah berhasil membuat saya merasakan kegalauan, kehilangan, dan juga kesedihan. Tak Pernah Padam”. Mendengar ‘curahan hati colongan’ Rio tadi, para fansnya berteriak histeris. Tanpa memperdulikan mereka, Rio menoleh ke belakang dan mengangguk, mengisyaratkan untuk mulai intro lagu itu.
Senyumanmu masih jelas terkenang   
Hadir selalu seakan tak mau hilang dariku..oo..dariku..yeyeye..  

Takkan mudah ku bisa melupakan     
Segalanya yang telah terjadi          
Di antara kau dan aku, di antara kita berdua         

Kini tak ada terdengar kabar dari dirimu          
Kini kau telah menghilang jauh dari diriku      
Semua tinggal cerita antara kau dan aku     
Namun satu yang perlu engkau tahu            
Api cintaku padamu tak pernah padam, tak pernah padam          

Takkan mudah ku bisa melupakan      
Segalanya yang telah terjadi           
Di antara kau dan aku, di antara kita berdua

Kini tak ada terdengar kabar dari dirimu          
Kini kau telah menghilang jauh dari diriku      
Semua tinggal cerita antara kau dan aku     
Namun satu yang perlu engkau tahu                     
Api cintaku padamu tak pernah padam, tak pernah padam
            
Api cintaku padamu wooo ooo yeah

Api cintaku padamu tak pernah padam, tak pernah padam

            Suara riuh tepuk tangan dan masih teriakan histeris dari para fans nya itu membahana ke seluruh penjuru café. Rio masih memberikan senyum terbaiknya. Namun saat itu, matanya menangkap sosok perempuan yang tak asing baginya. Seketika jantungnya seakan berhenti berdetak. Perempuan itu juga menatapnya dan kemudian tersenyum tipis. Senyuman di wajah pemuda itu hilang. Apakah gadis itu masih mengingatnya saat ini? Apakah gadis itu masih mengenang kenangan masa lalu itu? Rio menghela nafas, guna membuang rasa sesak yang bersarang di dadanya. Yang semula dia menunduk, kembali mendongak ke arah gadis tadi, namun ia tersentak ketika gadis kursi itu telah kosong.

---

            Gadis manis itu masih terus sibuk dengan laptop di hadapannya saat ini. Ia memilih tempat ini mungkin cukup tepat. Tempat tenang seperti ini yang dia butuhkan untuk mengerjakan tugas kuliahnya saat ini. Dengan secangkir cappucino hangat di atas mejanya saat itu.
            Dia baru saja sampai ke kota kelahirannya ini kemarin siang. Kebetulan, beberapa hari ke depan, dia sedang tidak ada kelas. Dan itu sudah fix. Jadi, ia menggunakan kesempatan free day itu dengan pulang ke rumah yang sebenarnya. Atau mungkin bisa dibilang pulang kampung.
Dia sedikit mengernyit heran ketika melihat ramai orang di luar. Ah, mungkin hanya rombongan remaja SMA yang mungkin akan merayakan pesta ulang tahun, pikir gadis itu. Tetapi, semakin lama, rombongan itu bertambah jumlah dan kemudian berbondong-bondong masuk ke café itu. Kalau begini jadinya, tugas ini tidak akan selesai, lanjut pikirannya. Gadis itu menghela nafas dan kemudian berusaha berkonsentrasi pada tugasnya. Tetapi teriakan-teriakan histeris itu membuat pikirannya tidak dapat fokus.
“Ck! Apa acara ulang tahun zaman sekarang harus begini?” gumamnya kesal. Dia menyudahi tugasnya yang masih setengah. Kemudian men­-shut downkan laptopnya. Dengan sedikit kesal dia mendongak, penasaran dengan apa yang telah diperbuat rombongan wanita-wanita tadi.
Matanya menyipit ketika melihat pemuda-pemuda yang naik ke atas panggung itu. Dan kemudian, mata yang menyipit itu sontak melebar.
“Di..dia” gumamnya.
“Selamat sore semuanya..”
            “SOREEEE”.
            “Senang sekali bisa menghibur kalian lagi di café ini. Kami, SkyBand, akan membawakan 5 lagu. Semoga kalian pada gak bosan ya..”
            “GAK BAKAALLL”.
            Tanpa sadar, sebulir air matanya menetes, ketika mendengar apa yang diucapkan vokalis itu. Apa rasa itu masih sama untuknya? Dengan cepat dia menghapus air matanya. Apa kata orang jika melihat dia menangis? Yang ada mereka pasti terheran dibuatnya.
            Suara tepuk tangan dan teriakan histeris itu membahana ketika satu lagu selesai dinyanyikan. Sang vocalist terlihat tersenyum kepada para fansnya. Jantungnya seakan berhenti berdetak ketika sepasang mata itu menatapnya. Menatap dengan pandangan yang sulit diartikan. Tanpa sadar –lagi, gadis itu menarik kedua ujung bibirnya. Tipis. Pemuda itu menunduk.
            Sesak. Itu yang dirasakan. Dengan cepat, dia beranjak dari sana. Sebelum pemuda itu kembali melihat dirinya. Tak ingin berlarut dalam kenangan masa lalu yang indah. Yang ada membuatnya hanya bisa terpuruk akan kesalahan dulu. Keputusan yang salah memang. Tapi mau bagaimana lagi, semua tak dapat diubah kembali.
            “Rio” gumam gadis itu lirih dalam langkahnya menuju mobilnya. Buliran itu kembali menetes. Namun, dengan cepat ia hapus kembali. Hingga sesampainya di mobil, tangisan itu pecah. Buliran itu menjadi deraian. Dia mencengkram erat setir dan kemudian memukul-mukulnya guna melampiaskan emosi yang tengah ia rasakan saat ini. “Gue kangen...”

---

            “Becanda mulu lo, Yo. Haha” ujar Gabriel yang diiringi tawa renyahnya. Rio melengos. Berbicara serius namun ditanggapi hanya lelucon, bagaimana tidak kesal.
            “Gue sumpel tuh mulut lo. Yang lucu apaan coba?”. Mendengarnya Gabriel berhenti tertawa. “Gue serius pakek banget, Yel. Jarang-jarang nih gue bicara serius banget begini” lanjut Rio. Dan kali ini Gabriel terlihat percaya. Dia mengangguk-ngangguk mengerti.
            “Iya deh, sorry”. Rio mendengus. Untung saja hanya Gabriel disana, tidak ada tuyul-tuyul yang lainnya, yang sangat suka menimbrung dan menganggap semua pembicaraan mereka itu joke. “Jadi rencana lo selanjutnya gimana? Masih mau searching?”
            “Lo kata google”. Gabriel cengengesan. “Gue...gak tau mesti gimana. Gue rasa dia udah lupa sama gue. Gue rasa, perasaan dia gak sama lagi kayak dulu ke gue” tutur Rio lirih. Gabriel menggaruk-garuk pelipisnya.
            “Lo kok jadi loyo begitu? Coba deh lo analisa. Kalo emang dia gak inget lagi, kalo perasaan dia gak sama lagi kayak dulu, kenapa dia natap lo sebegitunya? Kenapa dia masih mau senyum ke elo walaupun itu cuma senyuman tipis?”. Rio tampak mencerna perkataan Gabriel tadi. Ada benarnya juga. Ya walaupun anak ini sangat suka melawak, namun terkadang nasihatnya itu membuat semangat kembali bangkit.
            “Iya sih. Tapi..”
            “Yaelah, masih ada tapi-tapi-an. Itu tandanya, elo meragukan dia. Seenggaknya lo percaya sama omongan dia dulu. Dan atau itu tandanya elo gak bisa dong nepatin janji lo dulu ke dia? Cowok sejati ingkar janji? Bukan kali, itu banci namanya”. Rio kembali merenung. “Come on, bro. Daripada lo bertahun-tahun dilanda kegalauan. Apa kata fans-fans kita coba?”
            “Oke. Thanks banget, Yel”.
            “Yayaya. Don’t mention it, soalnya gue ganteng”.
            “KAGAK NYAMBUNG!”

---

            “Hari berlalu bulan berlalu tahun pun berlalu. Lambang kan segala resah yang ada pada orang yang sama...” senandung kecil Rio. Dengan headset putih yang menjuntai, kedua tangannya dimasukkan ke dalam kedua saku celana jeansnya, dia melangkah santai memasuki sebuah toko. Seperti biasa, pemuda itu mampir ke toko musik langganannya untuk melihat alat-alat musik terbaru disana.
            Rio melepas headset sebelah kiri dan kemudian bersalaman ala-lelaki dengan penjaga toko itu. Penjaga toko yang nampak sebaya itu kemudian memberikan segelas teh yang seakan dia sudah tahu bahwa saat waktu ini adalah jam berkunjungnya Rio ke tokonya. Dia banyak berhutang budi pada Rio. Karena pekerjaan haramnya dulu yang sudah merusak semuanya telah berubah menjadi sesuatu yang sangat berharga berkat vokalis band tersebut. Dan karena itu, dia memanggil Rio dengan sebutan ‘Bos’. Sebenarnya Rio tidak ingin, tetapi dia masih saja memanggilnya seperti itu walaupun sudah dilarang oleh Rio, dan hingga seterusnya Rio tak lagi canggung dengan panggilan itu.
            Mereka berbincang-bincang layaknya sahabat. Namun kemudian mata Rio menangkap sosok gadis yang membelakanginya tengah melihat-lihat ke tempat berbagai macam gitar. Rio menatap penjaga toko itu sambil menunjuk gadis itu dengan dagunya seakan berkata ‘siapa?’.
            “Cantik, Bos. Manis, imut. Samperin sono. Siapa tau saling kenal, jodoh deh” ujarnya dengan tawa pada akhir kalimatnya.
            “Heh! Ngomong apaan sih lo? Jodoh di tangan Tuhan, Jos”. Josia namanya. Rio tidak mengalihkan pandangannya dari sosok yang masih membelakanginya itu. Postur tubuh itu seperti tak asing lagi di matanya. Entah kenapa, jantungya berdetak lebih kencang dari biasanya. Ada desiran halus di dadanya.
            “Yaelah, si Bos. Emang jodoh ditangan Tuhan, tapi siapa tau ‘kan tuh cewek emang beneran jodoh lo”. Rio hanya diam, tak menanggapi. Masih terus memandanginya. “Sana, sana” ujar Josia sambil mendorong-dorong pundak Rio.
            “Eh, eh. Tumpah woy” seru Rio yang memegangi cangkir teh-nya itu dan kemudian menaruhnya kembali ke meja etalase disampingnya.
            Gadis tadi yang mendengar keributan, menoleh dengan tatapan bingung. Dan saat itu, Rio kembali menoleh ke arah sosok gadis tadi. Keduanya terbelalak. Tersentak.
            “Kenape lo, Bos?” tanya Josia pada Rio yang masih menatap gadis tadi dengan keterkejutannya. Josia ikut menatap arah pandangan Rio. “Jadi lo kenal? Bagus tuh. Udah sana samperin”. Josia kembali mendorong-dorong kuat pundak Rio, hingga pemuda itu hampir terjungkal ke depan. Dan dengan terpaksa, Rio melangkah mendekat ke arah gadis itu setelah melemparkan tatapan tajam ke arah Josia yang menyeringai ke arahnya.
            Keduanya masih dengan keterkejutannya. Masih dengan perasaan campur aduknya ketika jarak mereka tak lagi jauh. Semuanya terngiang-ngiang dalam otak masing-masing. Keduanya salah tingkah. Sang gadis menunduk sembari memainkan jari-jari mungilnya. Dan Rio menggaruk-garuk kepalanya. Tanpa sadar, mereka menghela nafas serentak.
            “Emm..gu..gue..” kalimat gadis itu terpotong ketika sebuah tangan menariknya keluar dari toko itu, yang kemudian cengkraman itu berganti menjadi genggaman lembut yang menghadirkan desiran hebat pada diri masing-masing. “Eh..”
            Setelah berpamitan pada Josia, Rio membawa gadis itu keluar toko dan mengajaknya ke taman. Hanya dengan berjalan kaki, karena letak taman itu hanya beberapa meter dari toko musik tadi. Genggaman tangan Rio pada tangan gadis itu tidak lepas, malah semakin mengerat dan lembut. Seakan tidak ingin melepaskan kembali kebahagiaan itu.

---

            Sesampainya, Rio berhenti melangkah dan kemudian berbalik badan hingga menghadap gadis itu yang masih setia menunduk. Kini, genggaman itu terlepas. Gadis itu seakan tidak rela.
            “Ify” panggil Rio lembut yang membuat gadis itu mendongak, menatap Rio yang kini merentangkan kedua tangannya dengan senyuman manis yang selalu membuat hati Ify –gadis tadi, berdetak tidak karuan.
            Tanpa perintah apapun, Ify menghambur ke pelukan Rio. Melepaskan semuanya. Melepaskan rasa beban tersendiri itu. Melepaskan kerinduan yang telah membuncah. Pelukan erat itu, apakah akan berakhir kembali?
            Ify membenamkan wajahnya pada dada bidang Rio. Sedangkan pemuda itu mengeratkan pelukannya. Dia merasakan bajunya basah. Dan dia pun mendengar isakan tangis dari gadis cantik itu.
            “Hei, hei, jangan nangis dong. Lagi kangen-kangenan begini kok malah nangis. Jelek deh” ujar Rio yang terlihat ingin melepaskan pelukannya guna ingin melihat wajah Ify. Namun, Ify menolak, dia masih ingin berada di pelukan itu. Hangat dan nyaman sekali.         “Apaan sih?” ujar Ify dengan suara serak. Rio tertawa kecil. “Yo, gue..”
            “Gue kangen sama lo, Fy” sambar Rio yang memotong kalimat yang akan diucapkan Ify. Seakan Rio tahu apa yang akan diucapkan pujaan hatinya itu. Ya! Gadis itu masih menempati ruang spesial di hatinya. Ify melepaskan pelukannya, begitupun Rio.
            Pemuda itu tersenyum dan kemudian menghapus lembut air mata Ify yang berbekas di kedua pipinya. Ah! Pemuda ini memang paling bisa membuat jantungnya berdetak tidak karuan seperti ini. Dia kembali menunduk, mengingat kesalahan yang telah ia perbuat pada waktu dulu.
            “Yo, gue..gue..minta maaf”. Rio mengernyit bingung.
            “Untuk?”
            “Keputusan gue dulu” jawab Ify lirih.
            “Ify...” Rio menangkup wajah Ify lembuat dan kemudian mengangkatnya sehingga membuat gadis itu menatapnya. Mengelus-ngelus lembut kedua pipinya dengan kedua ibu jarinya. “Keputusan lo itu gak salah. Buat apa minta maaf? Seandainya kita masih dalam status terikat hubungan waktu itu, gue juga pasti ngerasain hal yang sama. Dan tentu gak bisa konsen dengan apa yang bakal jadi tugas gue saat itu. So, gak ada yang perlu dimintai maaf dan gak ada yang perlu dimaafin. Oke?” Ify menatap Rio dengan matanya yang kembali berlinang.
            “Tap..tapi, Yo..”
            “Gak ada, Fy. Gak ada” potong Rio sambil menepuk-nepuk pelan kedua pipi Ify.  Ify menghela nafas dan kemudian tersenyum.
            “Makasih”. Rio kembali memeluknya erat.
            “Lo itu ngegemesin ya”. Ify membalas pelukan Rio. Air matanya kembali meluruh saat itu. “Buat apa sih lo berterima kasih? Hm? Ify, Ify” lanjutnya dengan terkekeh geli.
            “Itu..”
            “Udah ah, gak kelar-kelar jadinya”. Mereka melepaskan pelukan satu sama lain.
            “Emm, Yo..” Rio menatapnya dengan kedua alis terangkat dan senyuman manisnya. Seolah bertanya ‘apa?’. “Ap..apa..rasa..itu..”
            “Lagu yang gue nyanyiin di café itu sebagai pembuktiannya. Tanpa gue jawab, lo pasti udah tau”.
            “Jadi..”
            “Iya, rasa yang dulu. Rasa buat lo, gak pernah padam”. Ify tersenyum senang mendengarnya. Apa mungkin mereka akan kembali bersatu? Ah! Mungkin saja jika memang keduanya masih memiliki rasa yang sama. “Balikan, yuk?” ujar Rio yang seperti anak kecil yang mengajak main temannya. Ify tertawa dan mengangguk. Kemudian, pemuda itu tersenyum lebar melihat tanggapan dari sang gadis.
            Serpihan kenangan dulu kini kembali dengan membawa sebuah angan dan cita-cita. Sebagai pendorong untuk terus melangkah maju tanpa harus terus menatap ke belakang. Karena yang terdahulu hanya sebagai pembelajaran untuk seseorang.
            “Gue nepatin janji ‘kan?” Ify  menatapnya bingung. “Gue kembali dengan menggenggam kesuksesan itu”.

You May Also Like

0 komentar