KEMBALI HADIR -Sequel of 'SAYAP PELINDUNG'-
Langit malam itu masih
sama. Angin malam pun berhembus menusuk kulit. Bintang di langit hanya ada
beberapa. Tidak ada bulan. Dan masih sama seperti malam biasanya, gadis
berparas manis itu pun juga tak berniat untuk beranjak dari tempatnya saat ini
sampai sesuatu itu datang. Sesuatu yang tidak akan mungkin terjadi. Dia sadar
akan hal itu, tetapi apa salahnya jika dia berharap semuanya kembali menemani
dan mewarnai hidupnya yang telah kelam.
Tersungging
sebuah senyuman tipis dikala ia melihat ada empat bintang berkelip dan kemudian
bersinar paling terang. Disana mereka. Apa mereka juga melihat ku? Pikirnya. Apa
yang sedang mereka lakukan saat ini? Bermain PS-kah? Bersenda gurau kah? Mengingat semua itu membuat buliran-buliran
air mata yang bersarang di kedua matanya itu menyeruak keluar.
“Hei…gak
dingin malem-malem disini?” tanya seseorang yang tiba-tiba sudah berada di
samping gadis itu. Dia menoleh sebentar dan setelahnya kembali mendongak ke
atas. Empat bintang itu masih bersinar terang disana. “Masuk yuk, udah malem
banget nih. Gak bagus buat kesehatan”.
Gadis
itu menghela nafas dan kemudian mengangguk pelan. Orang itu yang selama ia
terpuruk selalu ada disampingnya. Sahabat yang selalu mengerti perasaan dan kondisinya.
“Tidur
ya”. Baru ingin beranjak, lengannya ditahan gadis itu, membuat ia berhenti dan
kembali menoleh. “Kenapa?”
“Temenin
gue, Ray” ujarnya pelan. “Sebentar aja”. Pemuda yang bernama lengkap Raynaldo
Saputra itu tersenyum dan mengangguk. Dia mengambil kursi kecil di depan meja
belajar yang kemudian ia letakkan disamping kasur sahabatnya. Menemaninya
hingga terlelap. Menembus semua tirai mimpi yang mungkin dapat membawanya
melambung jauh, hingga terjatuh kembali ketika ia tersadar bahwa kenyataannya
yang pahit. Tak sesuai dengan apa yang dimimpikannya.
Ray
menatap lirih sahabatnya yang telah memejamkan matanya itu. Terlihat berusaha
untuk tidur. Dia menghela nafas. Mengerti akan perasaannya. Dan juga ikut
terbawa suasana sedih yang mendalam ketika sesuatu yang berharga untuk
sahabatnya itu telah hilang dan tidak akan lagi kembali. Sudah mencapai satu
bulan lamanya, namun dia tetap seperti seseorang yang tidak layak untuk hidup
di bumi. Seperti zombie yang sedang
kebingungan dalam mencari tempat ataupun mangsa.
Pemuda
itu menoleh ke arah pintu kamar sahabatnya ketika mendengar langkah seseorang
mendekat. Mendapati keponakan dari sahabatnya itu berdiri dengan bersandar di
pinggiran kusen pintu itu. Ray melemparkan senyum dan dibalas si lawan. Kemudian
dia kembali menoleh, menatap gadis itu yang telah terlelap.
“Semoga
mimpi lo malam ini bisa buat lo kembali tersenyum. Good night, Alifya Safanah Utari”.
**
Pagi
ini terlihat cerah. Tetapi tidak untuk gadis itu. Baru saja semalam ia bermimpi
bertemu dengan mereka. Sayap pelindungnya yang kini telah terbang tinggi
meninggalkan dirinya sendiri. Mengingat itu, air matanya kembali meluruh. Dan
hari ini adalah genap satu bulan mereka pergi tanpa mengucapkan kata
perpisahan. Dan genap satu bulan pula dia tinggal di rumah keponakannya.
Setelah peristiwa itu, dia sangat terpukul, tertekan, hingga orang tuanya pada
malam itu juga memberesi semua barang-barang anak perempuan mereka yang tinggal
satu-satunya itu menuju rumah keponakannya yang berbeda komplek perumahan.
Begitu pula dengan kedua orang tuanya yang juga ikut menginap sementara di
rumah itu, selagi rumahnya masih dibatasi dengan Police Line.
Setelah
semuanya beres, kedua orang tuanya kembali ke rumahnya, tetapi tidak untuk
anaknya. Dia masih belum bisa tinggal di tempat banyak kenangan yang mungkin
bisa saja membuatnya kembali tertekan ataupun trauma. Tak jarang disaat orang
tuanya free dari pekerjaan, mereka
datang untuk melihat anak mereka itu.
“Pagi,
Ify” sapa seseorang tiba-tiba yang berada di ambang pintu kamar Ify. Gadis itu
menoleh dan kemudian mengusap air matanya.
“Pagi”
balasnya sambil tersenyum tipis yang membuat seseorang tersebut sedikit
bernafas lega. Ya, setidaknya dia tidak terlalu diam dan murung.
“Lima
hari lagi kita bakal masuk SMA nih. Harus nyiapin segala peralatan MOS. Gimana
kalo hari ini kita cari barang-barangnya? Lebih cepat lebih baik”.
Ify nampak berpikir
untuk menyetujui ajakan keponakannya itu. Sebenarnya dia malas untuk pergi dari
rumah, tetapi apa salahnya menghirup udara segar lagi setelah dia betah
bekurung di rumah itu seusai kelulusan. Pada akhirnya, Ify mengangguk pelan.
Keponakannya yang bernama Devada Gandria itu tersenyum sumringah melihat Ify
menyetujui ajakannya.
“Oke. Siap-siap gih.
Langsung ke bawah ya. Gue tunggu” ujarnya yang kemudian berlalu pergi.
**
Sudah lebih setengah
jam mereka berkeliling mall itu. Saat
ini hanya tinggal satu barang lagi yang belum mereka dapatkan. Deva tersenyum
senang melihat Ify yang sudah kembali tersenyum. Semoga ini adalah awal dari
segalanya. Ya..awal dari segala kehidupannya yang baru.
“Capek nih. Makan yuk”.
Ify mengangguk.
“Disana aja ya” tunjuk
Ify ke arah restaurant kecil yang
sedikit ada corak suasana Jepang. Deva mengangguk dan sedikit tersentak ketika
Ify menarik tangannya dengan semangat. Lagi-lagi dia mengucap syukur dalam
hati, rencananya berhasil.
Cukup ramai dan mereka
cukup kesulitan dalam mencari tempat di restaurant
kecil itu. Hingga Deva mendapat tempat yang cukup nyaman. Satu meja yang cukup
lebar dan panjang dengan empat kursi.
Setelah memesan
makanan, mereka sibuk masing-masing. Deva memainkan iPhonenya, sedangkan Ify hanya diam melamun, menerawang jauh. Apa
yang akan terjadi selanjutnya?
“Hei, boleh join gak? Semua tempat penuh sih hehe”
ujar seseorang yang mengagetkan mereka.
Ify terbelalak melihat
orang itu. Deva tersentak, hingga ia tersadar segera.
“Ah, boleh, boleh,
silahkan”.
“Thanks banget ya”. Deva mengangguk. Ini kebetulan atau memang udah
takdir sih? Pikir Deva. Ia melirik Ify yang masih terlihat shock. Menatap pemuda itu dengan terbelalak.
“Kak Cakka” lirih Ify
yang membuat dua pemuda di hadapannya menoleh serempak.
“Eh…kok, lo..bisa tau
sih nama gue?” tanya pemuda itu yang mengaku namanya Cakka. Ify semakin kaget,
begitupun Deva. Dengan cepat dia menoleh ke arah pemuda di sebelahnya itu.
“Jadi, na..nama lo…”
“Iya, kenalin nama gue
Cakka Graha Putra” sambung Cakka yang membuat Deva tersentak dan membuat Ify
terlihat menahan gejolak air matanya. Pemuda itu yang tidak tahu apa-apa
terlihat mengernyit heran melihat reaksi dua insan itu. “Kalian?”
“Ah..gue Devada
Gandria, cukup Deva” jawab Deva sambil tersenyum. Kemudian dia beralih ke Ify
yang masih terus menatap Cakka dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Kedua matanya
terlihat berlinang.
‘Dia
bukan Kak Cakka-nya elo, Ify. Sadar. Sadar dong! Cukup kuatin hati lo. Elo
kuat!’ batin Ify berbicara. Gadis itu menghela nafas dan
memejamkan matanya. Memaksakan dirinya tersenyum.
“Sorry. Gue Alifya Safanah Utari, panggil Ify”. Cakka tersenyum.
Entah seperti
kebetulan, Cakka memiliki sifat yang sama persis dengan salah satu kakak
kembarnya itu. Humoris dan jahil. Dua sifat itu yang membuat dia seperti
replika dari saudaranya. Hanya saja yang berbeda, Kak Cakka dulu jangan sampai
melihat cewek cantik lewat, digodain habis-habisan deh. Tapi si Cakka ini,
terlihat masa bodo’ lah sama cewek
cantik yang lewat di depannya.
**
Di
perjalanan pulang, Ify lebih banyak berdiam diri. Deva yang mengerti keadaan
gadis itu pun juga ikut diam. Bukan hanya Ify, tetapi dia juga kaget. Deva
berpikir bahwa ini adalah awal dari semuanya. Entah itu apa dan bagaimana
prosesnya. Pemuda itu menghela nafas, sesekali ia melirik ke arah spion
motornya, dimana dia dapat melihat jelas gadis yang sedang diboncengnya saat
ini. Semoga ini adalah awal dari kebahagiaan yang hilang, bukan awal dari
sebuah bencana.
Hingga
motor Deva memasuki garasi pun, Ify tetap diam. Gadis itu melangkah mendahului
Deva yang disusul oleh pemuda itu. Deva melihat Ify yang terduduk di sofa ruang
keluarga. Setelah meletakkan barang-barang yang mereka beli tadi, Deva
menghampiri Ify. Menatap wajah Ify yang kini kembali bersedih.
“Fy..”
“Tadi
itu apa, Dev?” tanya Ify lirih. Masih memandang kosong ke depan. Kini kedua
matanya terlihat berkaca-kaca. Deva menghela nafas. Jawaban apa yang tepat,
karena sebenarnya ia juga tidak tahu. Kenapa sosok tadi seperti replika yang
benar-benar mirip. Kenapa semuanya seakan sudah direncanakan. “Gue jadi gak
bisa keluar dari ruang kesedihan gue. Disaat gue udah mau ngelupain semuanya,
tapi takdir gak begitu. Apa Tuhan bener-bener ngabulin doa gue, tapi dengan
cara yang gak pernah tepikirkan? Apa ini salah satu rencana Tuhan buat
ngegantiin sayap pelindung gue yang udah patah?” Kini air mata itu meluruh
dengan isakan-isakan kecil yang menyayat hati pendengar. Tanpa sadar, Deva
meneteskan air mata, namun dengan segera dia menghapusnya. Tangannya terulur,
merengkuh dan mendekap hangat tubuh mungil itu.
“Gue
gak tau, Fy. Gue gak tau” jawab Deva lirih. “Mungkin emang bener. Ini rencana
Tuhan buat ngembaliin kebahagiaan lo itu. Lo harus kuat, Fy. Mungkin
selanjutnya takdir akan ngasih lebih daripada yang saat ini, dan elo harus
bertahan dan kuat buat ngadepin semuanya. Tunggu rencana Tuhan selanjutnya.
Karena gak selamanya Tuhan biarin umatNya selalu dirundung kesedihan. Dengan
cara yang memang gak akan tepikirkan oleh manusia, Tuhan akan kasih jalan
kebahagiaan buat mereka yang emang mau bersabar. Ingat kata-kata ‘Akan indah
pada waktunya’? Itu bukan sekedar kata-kata doang, tapi itu kata-kata motivasi
yang bisa buat orang-orang percaya, kalo emang akan ada pelangi setelah hujan”.
Mendengar
tutur kata Deva tadi, Ify menjadi lebih sedikit tenang. Isak tangisnya pun
mereda. Dia melepaskan diri dari pelukan Deva. Gadis itu menghapus air matanya
dan kemudian tersenyum ke arah keponakannya itu.
“Makasih,
Dev. Makasih makasih banget” ucap Ify pelan. Deva ikut tersenyum lega
melihatnya. Pemuda itu mengacak pelan rambut Ify dan mengangguk.
“Gue
harap, gak akan ada lagi air mata setelah ini”.
“Gak
janji ya”. Deva terkekeh mendengarnya.
‘Kebahagiaan
lo akan datang pada waktunya, Fy. Gue percaya itu’ batin Deva lirih.
**
Hari dimana masa orientasi siswa di
SMA Budi Bangsa telah tiba. Yang biasanya masa orientasi memakai
atribut-atribut beraneka macam dan sangat aneh, membawa barang-barang yang
diwajibkan dengan menggunakan otak untuk memecahkan teka-tekinya, di Budi
Bangsa ini hal-hal itu ditiadakan sejak dua tahun yang lalu karena sebuah kejadian,
dimana salah satu para wali murid dengan kejamnya mempubliskan kegiatan itu
secara diam-diam di koran dan menjelek-jelekkan nama baik SMA itu. Pihak
sekolah tidak melaporkan ke polisi karena menurut mereka hal itu malah akan
memperpanjang masalah. Dengan tegas, pihak sekolah meminta maaf dan langsung
mentiadakan hal masa orientasi yang seperti biasanya. Dan hal-hal itu
digantikan dengan masa orientasi yang dimana para murid mendapat sebuah
pelajaran awal. Anggap saja itu adalah pemanasan untuk belajar dengan kegiatan
belajar mengajar yang seperti biasa. Selain itu, mereka akan dibawa
mengelilingi ke setiap sudut sekolah untuk mengenalkan tiap-tiap tempat.
Hari pertama pengenelan tiap panitia
–dan pengurus OSIS tentunya serta pembagian kelas. Selebihnya diserahkan kepada
panitia dan juga guru-guru yang juga ikut andil. Ify dan Ray mendapat kelas
yang sama. Namun tidak untuk Deva. Dia harus rela berpisah dengan saudara dan
juga sahabatnya itu.
Di kelas, Ify dan Ray memutuskan
untuk satu bangku. Karena sejauh ini mereka tak banyak mengenal dengan yang
lain. Hanya empat orang yang mereka kenal karena berasal dari SMP yang sama.
Yang awalnya ribut, mendadak sepi karena panitia telah memasuki ruangan.
Ada dua orang panitia. Tidak ada
wajah –sok-garang, sinis, dan lainnya. Hanya wajah ramah yang mereka tunjukkan.
“Selamat pagi, adik-adik” seru salah
satu panitia yang memiliki surai hitam dan panjang bergelombang. Terlihat
sangat cantik dengan senyuman ramahnya. Yang dibalas semangat oleh para
murid-murid baru itu. “Nah, ini hari pertama ya. Biasanya hari pertama itu
belum pada kenal siapa aja temen-temen sekelas kalian, kakak-kakak panitia,
kakak-kakak OSIS, kakak-kakak kelas, dan juga pasti guru-guru” sambungnya. “Jadi,
untuk sekarang kita perkenalan dulu ya. Dimulai dari kakak. Nama kakak Kashilla
Tania Putri. Cukup panggil Shilla”.
“Hai. Nama kakak Tiara Azzahra.
Panggil Zahra”.
“Sebenernya ada dua panitia lagi di
kelas ini. Tapi mereka lagi ada kerjaan, jadi agak telat ya” sambung Shilla.
“So,
sekarang giliran kalian yang ngenalin diri satu-satu. Cukup berdiri, gak usah
maju ke depan” timbrung Zahra. “Di mulai dari kamu yang pojok kanan”.
Semuanya berjalan lancar, hingga
tiba pada saat Ify yang akan memperkenalkan diri. Gadis itu dengan sedikit
semangat melontarkan senyum tipis ramahnya berdiri dari tempat duduknya
menimbulkan sedikit bunyi gesekan dari bangku dan lantai kelas itu.
“Perkenalkan, nama saya –” ucapannya
terpotong karena sebuah suara yang tiba-tiba terdengar dari arah pintu.
“Sorry
banget telat” ujar seseorang itu yang kemudian melangkah masuk dengan salah
satu temannya yang mengikutinya dari belakang.
“Oke, gakpapa, kita menoleransi
keterlambatan kalian kok, Kak. Iya ‘kan adik-adik?”
“Iya, Kak” seru semuanya kompak.
Terkecuali Ify dan Ray. Entah apa yang membuat semuanya seperti ini. Ify hanya
terbengong melihat itu. Begitupun Ray. Mereka siapa? Mereka berdua siapa? Itu
yang ada di pikiran Ify.
“Terima kasih ya”.
“Oh ya, maaf tadi sempat terpotong.
Ayo silahkan dilanjut, dik” suruh Zahra kepada Ify yang masih menatap mereka
dengan tidak percaya.
Mendengar tidak ada suara, semuanya
menoleh serempak ke arah Ify. Menatap gadis itu bingung. Shilla yang melihat
keanehan itu mendekati Ify.
“Hei, kenapa?” pertanyaan Shilla
tadi membuat Ify tersadar.
“Ah, maaf, Kak. Maaf”. Shilla
tersenyum dan mengangguk, kemudian memberinya kode untuk melanjutkan
perkenalan. Ify menghela nafas sejenak sembari melirik dua pemuda tadi. Kenapa
semuanya seakan terencana, Tuhan?
Yang awalnya Ify terlihat
bersemangat untuk memperkenalkan diri, kini terlihat lesu. Ray yang melihat itu
hanya menatap Ify iba. Dia menyadari semuanya. Dia tahu apa yang tengah gadis
itu rasakan. Sangat tahu.
“Nama saya, Alifya Safanah Utari,
cukup panggil Ify. Asal sekolah SMP Bakti Luhur. Terima kasih”. Ify segera
mendudukkan dirinya.
“Terima kasih Ify. Ada yang ingin
ditanyakan?”
“Hobinya apa, dik?” tanya pemuda
tadi yang membuat tubuh gadis itu menegang. Kenapa suaranya sama. Dia siapa,
Tuhan?
Lagi-lagi Ify terdiam membuat
semuanya bingung. Sentuhan lembut di punggung tangannya yang tengah berpangku
membuatnya sadar.
“Eh..ee, hobi saya musik dan basket,
Kak” jawab Ify terbata.
“Wahh, keren. Nanti ikut klub musik
dan basket ya” sambung pemuda itu lagi sembari tersenyum. Ify membalas senyuman
canggung dan mengangguk kaku.
“Ada lagi?” tanya Shilla.
“Nomor hapenya berapa, dik?” tanya
pemuda yang satu angkat bicara.
“Modus banget sih, Kak. Haha. Tapi
jarang banget loh, si kakak satu ini ngomong, apalagi minta nomor hape ke adik
kelas” ujar Zahra yang membuat semuanya bersorak menggoda. Pemuda tadi salah
tingkah, menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.
“Udah, nanti aja kalo mau nomor
hape. Ngomong-ngomong nama kakak berdua ini siapa sih?” sambung Shilla
menenangkan keributan yang terjadi.
“Oh iya, kami belum memperkenalkan
diri ternyata. Perkenalkan nama saya, Fabrio Saputra. Panggil Rio” ujar pemuda
hitam manis itu dengan ramah.
“Saya Dika Geralvin. Sering
dipanggil Alvin” kini pemuda berwajah oriental yang bersuara, yang tadi
menanyakan nomor handphone.
Nama itu? Kenapa begitu sama?
Walaupun hanya nama panggilan. Wajah. Nama. Tingkah laku. Apakah itu replika
mereka? Atau malaikat yang sengaja Engkau turunkan? Tanpa sadar, Ify
mencengkram erat baju Ray yang ada di sebelah kirinya. Sontak membuat pemuda
itu menoleh. Menatap gadis itu yang tengah menunduk dengan tangannya yang
sedikit gemetar. Ray menggapai tangan itu dan menggenggamnya lembut.
Meletakkannya di pangkuan Ray. Ify menoleh. Kedua matanya sudah berlinang. Ray
tersenyum menguatkan. Memerintahnya untuk kuat dan tidak menangis. Ify menghela
nafas dan kembali menghadap depan tanpa melepaskan genggaman tangannya pada
Ray. Malah genggaman itu semakin erat.
**
Hari terakhir MOS telah tiba. Hari
terakhir ini dipakai untuk memperkenalkan klub-klub yang ada di SMA Budi
Bangsa. Yang biasanya akan ada demo dari tiap klub kini juga ditiadakan karena
memakan waktu yang cukup lama. Sebab ada banyak sekali klub di SMA ini. Maka
dari itu, pihak sekolah mengakalinya dengan tiap klub akan diberi satu ruangan
yang akan menjadi tempat mereka stay.
Di tiap klub pasti memiliki anggota yang banyak, sehingga mengharuskan mereka
untuk berbagi tugas. Ada yang menjaga tempat, ada yang berkeliling sekolah
untuk mempromosikan klub mereka, ada yang menjadi seksi perlengkapan, ada yang
mempromosikan lewat radio sekolah mereka, dan bermacam-macam, karena tidak
setiap klub itu sama.
Selain itu, hari terakhir ini juga
dipakai dengan adanya games outdoor yang diselenggarakan oleh para
OSIS. Games ini tentu bermacam-macam,
tetapi yang ikut hanya yang mau berpartisipasi saja, bukan karena dipaksakan
atau wajib, karena itu lah membuat games
outdoor ini terlihat sangat seru.
Di saat semuanya sibuk berkeliling
mencari klub-klub yang mereka sukai atau seru-seruan mengikuti games outdoor itu, tiga murid ini
terlihat tidak berminat apa-apa. Hanya duduk di bangku panjang koridor utama
lantai satu. Mereka terlihat sibuk sendiri. Satu terlihat memainkan handphonenya, yang satu tengah
mendengarkan musik lewat handphone
dengan headset putih menjuntai dari
dua telinganya, dan yang satunya tengah memandang lapangan yang cukup ramai itu
dengan pandangan kosong.
Mereka serentak menoleh tatkala
seseorang memanggil salah satu dari mereka dengan berteriak dikarenakan keadaan
sangat ramai, cukup menyulitkan untuk mengobrol dengan tenang.
Gadis itu kembali menegang. Kenapa
dia datang lagi? Dua hari cukup aku menahan semuanya. Dan hari ini aku ingin
menghindarinya, tapi kenapa? Batin gadis itu meracau. Dengan kikuk gadis itu
tersenyum tipis. Pemuda yang tadi memainkan handphonenya
menganga tidak percaya. Bu...bukan cuma satu? Kenapa? Batinnya.
“Maaf banget nih ganggu waktu
kalian. Em..gini, waktu itu ‘kan gue denger Ify punya hobi musik dan basket.
Dengan inisiatif gue sendiri, nih gue kasih formulir untuk masuk klub itu.
Berhubung gue bawa banyak buat sekalian promosi, gue bagi kalian deh satu satu”
ujar kakak kelas itu sembari memberikan dua formulir sekaligus ke tiga murid
baru itu.
“Makasih, Kak”.
“Sip. Nanti kumpul formulirnya di
ruangan klub ya. Kebetulan klub musik dan basket sebelahan tuh ruangannya, jadi
gak repot”. Mereka bertiga mengangguk serempak. Pemuda itu yang bernama Fabrio
melirik ke arah Ify yang tengah memandangi formulir itu dengan tatapan yang
sulit dia mengerti. “Oh ya, by the way,
ruangan klub musik sama basket ada di lantai dua, tepatnya di kelas XI IPA 1
sama XI IPA 2. Batas pendaftarannya sekitar 5 menit sebelum waktu MOS hari ini
selesai. Jadi..gue harap banget kalian bisa ikut join. Soalnya kalo gak ada lo, gak rame!” ujar Rio yang membuat Ray
dan Deva tertawa kecil. Lagi-lagi pemuda itu melirik Ify yang hanya diam. Namun
kali ini kertas formulir yang berada pada genggamannya terlihat mengerat,
membuat kertas itu sedikit lecek.
“Oke deh, gue mau nyampein itu aja.
Gue tunggu di ruangan klub ya” ujar Rio yang kemudian berlalu pergi.
Deva menghembuskan nafas yang tanpa
sadar ia tahan tadi. Pemuda itu menatap Ify yang masih menatap formulir itu
dengan tatapan yang....entahlah. Di beberapa bagian kertas itu terlihat lecek
akibat genggamannya yang sangat erat. Deva menyentuh pundak Ify lembut membuat
gadis itu sedikit tersentak dan kemudian menoleh.
“Deva” gumam Ify pelan dengan
suaranya yang bergetar menahan tangis.
“Jangan nangis” bisik Deva sambil
menghapus setitik air mata Ify yang jatuh dengan ibu jarinya. “Inget kata-kata
gue waktu itu”. Ify memejamkan matanya dan mengambil nafas panjang kemudian
menghembuskannya perlahan. Dia mengangguk tanda mengerti.
Ray yang berada di sebelah kanan
Ify, hanya diam mendengarkan. Dia tidak tahu harus berbuat apa saat itu. Cukup
dua hari kemarin Ify terlihat tak bersemangat di kelas. Bukannya dia tidak
tahu, karena mereka bukan bersahabat sejak beberapa hari yang lalu, mereka
menjalin persahabatan sejak kelas 1 SMP. Jadi apa yang tengah dirasakan gadis
itu, Ray pasti tahu.
**
Setelah berunding tadi, mereka
memutuskan untuk ikut dua klub itu. Selain itu adalah hobi, mereka ingin
mengasah kemampuan musik dan basket yang sejak kelas 3 SMP waktu itu terhenti
dikarenakan akan menghadapi ujian nasional sehingga membuat mereka harus
berhenti dari kegiatan ekskul SMP.
Kini mereka sudah berdiri di depan
kelas XI IPA 2, tempat dimana klub musik berada, menunggu murid-murid baru
memberikan atau mengambil formulir untuk ikut bergabung. Formulir klub basket
sudah mereka berikan. Tinggal klub musik. Dengan perlahan Deva mengawali masuk
ruang kelas itu yang diikuti oleh Ray dan Ify di belakang. Disana sudah
terlihat ada Rio dan Alvin.
“Ah, akhirnya datang juga” ujar Rio
sembari tersenyum yang dibalas oleh Deva.
“Ini formulirnya, Kak”. Deva
memberikan tiga formulir sekaligus yang sudah diisi. Rio menerimanya dan
sedikit melihat-lihat sebentar.
“Oke. Fotonya besok dikasih ke ketua
klub nya ya”.
“Eng...ketua klubnya, Kak Rio ‘kan?”
Rio tertawa kecil mendengarnya.
“Bukan, gue cuma anggota kok”
jawaban Rio membuat tiga murid baru itu bingung.
“Dia lagi keluar sebentar” kini
Alvin yang menjawab. Dan jawaban itu membuat mereka mengangguk-angguk mengerti.
Sampai tak lama terdengar suara yang mengejutkan mereka.
“Deva? Ify? Kalian juga masuk sini?”
tanya seseorang dari ambang pintu. Mereka menoleh serentak. Deva dan Ify
terbelalak kaget.
“Cakka? Ternyata kakak kelas” gumam
Deva. Pemuda yang bernama Cakka tadi melangkah menghampiri.
“Ngapain lo disini? Tempat lo di
sebelah” ujar Rio yang membuat Cakka cengengesan.
“Disana lagi sepi banget, jadi gue
mampir kesini”. Dua kakak kelas mereka itu hanya menggeleng-gelengkan kepala.
“Oh ya, kalian ikut klub musik? Klub basket ikut juga, yok” ajak Cakka.
“Kita udah kasih formulirnya tadi
kesana” jawab Deva yang membuat Cakka tersenyum senang.
“Waah, beneran? Bagus deh. Inget ya,
gue ketua klub basket, jangan sampe salah”. Dan kalimat itu mengundang toyoran
dari Alvin ke kepala Cakka.
“Aduh, aduh, sorry guys gue lama
banget. Tempat fotokopiannya rame. Tapi untung itu mbak-mbak kemakan rayuan
gue. Ini fotokopiannya, sebar lagi deh sebagian” ucap seseorang yang baru masuk
ruangan dengan langkah yang tergesa-gesa.
Lagi, lagi, dan lagi, seseorang yang
sama. Membuat Ify yang tanpa sadar mundur satu langkah akibat kekagetannya yang
tak terbendung. Jangan bilang namanya pun sama.
“Gakpapa. Kita juga lagi kedatangan
tamu kok” ucap Rio yang membuat pemuda itu sadar dan kemudian menoleh ke arah
tiga murid baru itu. Pemuda itu tersenyum ramah yang sekali lagi –ah bukan,
sudah berulang kali membuat mereka terbelalak kaget.
“Hai, udah kumpul formulir ‘kan?
Jangan sampe gak betah ya di klub ini” ujar pemuda itu. “Kenalin gue Gabriel
Dewantara, cukup panggil Iel. Ketua klub musik”.
DEG!!! Nafas Ify terlihat memburu.
Kepalanya pusing. Empat pemuda bernama sama, berparas sama, berwatak sama.
Mereka siapa? Mereka siapa? Kakak, ini apa? Ify gak tahan. Kenapa mereka semua
seperti replika kalian? Pikirannya sudah bercabang kemana-mana. Gadis itu
meremas rambutnya. Sedikit mengerang menahan pusing. Sudah cukup dengan semua
ini. Apa yang harus dia lakukan untuk menghadapi semuanya? Semuanya seakan
samar. Hingga panggilan dari Deva dan Ray dia abaikan. Begitupun panggilan dari
empat kakak kelasnya itu. Gadis itu berlari keluar. Ingin meluapkan segalanya.
Membuat semuanya tersentak.
“Maaf, Kak, kita pergi dulu” ucap
Ray yang segera menyusul keluar ruangan yang diikuti Deva. Mereka hanya
memandang tiga adik kelasnya itu bingung dan sedikit...khawatir.
“Apa tampang gue menyeramkan?” ucap
Gabriel pelan yang membuat tiga sahabatnya menoleh dan memperhatikan Gabriel
yang sedang bertampang polos dan bingung.
“Sepertinya” jawab Cakka
blak-blakkan.
**
Sudah genap sebulan Ify sudah
menjadi murid di SMA Budi Bangsa. Dan sudah genap sebulan pula dia sudah
menjadi anggota klub basket dan klub musik. Memang semuanya baik-baik saja.
Namun Ify masih belum bisa menerima dengan kenyataan yang ada di depan matanya
saat itu. Tiap Rio atau Alvin atau Cakka atau Gabriel yang tanpa sengaja ada
perlu dengan gadis itu, Ify hanya menunduk tak ingin menatap wajah mereka. Dia
hanya patuh untuk mengikuti perintah. Dan hal itu membuat keempat pemuda itu
bingung, hingga suatu hari mereka bertanya pada Deva dan Ray yang mereka tahu
sebagai orang terdekat dari gadis itu. Tetapi jawaban dua adik kelas mereka itu
tidak membuat mereka puas. Malah waktu itu Ray bertanya yang membuat semuanya
terdiam.
“Memangnya kenapa, Kak, kalo Ify begitu sama kalian?” dan pertanyaan itu
seketika membuat mereka bertanya-tanya. ‘Iya ya, memangnya kenapa? Kok jadi
ribet sendiri?’
Tetapi ada yang mengganjal di benak mereka ketika Ify bersikap seperti itu,
namun ke orang lain gadis itu bisa bersikap biasa saja. Ini memang tidak ada
yang beres. Sampai Deva menyarankan satu hal.
“Sebaiknya kakak-kakak berempat ini tanya langsung aja sama yang
bersangkutan, biar semuanya jelas”. Dan saran itu yang membuat mereka berempat
berada di taman belakang sekolah. Seusai jam pelajaran berakhir hari ini,
mereka berjanji untuk meminta penjelasan pada gadis itu.
Sudah sekitar 15 menit mereka menunggu, namun gadis itu juga tak kunjung
datang. Gabriel menghela nafas panjang. Dia menyimpan handphone yang tadi dia mainkan ke dalam saku celananya. Dan
kemudian menyandang kembali tasnya yang semula dia letakkan di bangku panjang
taman belakang sekolah itu. Gabriel beranjak dan melangkah yang membuat
semuanya menoleh.
“Mau kemana lo?” tanya Alvin datar.
“Gue rasa dia gak bakal dateng, jadi
jangan sia-siain waktu cuma buat nunggu dia”.
“Yel, kita udah sepakat gak akan
pulang sebelum dia dateng dan telat setengah jam dari yang dijanjiin” Rio
bersuara.
“Iya, Yel, seenggaknya lo percaya
kalo dia bakal dateng. Bukannya rencana ini lo yang usulin” timbrung Cakka yang
semula diam.
Belum sempat Gabriel menjawab, suara
lembut menghampiri indera pendengaran mereka. Dengan serentak mereka menoleh ke
sumber suara. Gadis itu datang dengan terengah-engah. Mungkin dia berlari
sampai ke sini. Memang letak kelas sepuluh cukup jauh dari taman belakang
sekolah.
“Maaf, Kak, aku telat” ujar Ify
dengan terbata. “Tadi ada bab tambahan di pelajaran terakhir, jadi –”
“Gakpapa. Duduk dulu, Fy,
keliatannya capek banget lari-larian” ujar Cakka. Gadis itu masih tidak ingin
menatap mereka. Dia hanya menunduk dan mengangguk. Dengan patuh dia duduk di
bangku panjang itu.
Terjadi keheningan beberapa saat,
sampai gadis itu jengah karena tidak mendapat tujuan datang kesini.
“Em..sebenernya ada perlu apa manggil aku kesini?” tanya Ify pelan.
“Maaf kalo ganggu waktu lo. Kita
cuma butuh penjelasan” jawaban dari Rio membuat Ify bingung. Dengan tatapan
yang masih menunduk, gadis itu bergumam menjelaskan bahwa dia tidak mengerti.
“Bisa tatap kita?” tanya Gabriel
yang kembali menghampiri. Ify tersentak. Untuk apa mereka meminta hal itu? Dia
masih belum bisa menerima semuanya. Padahal sudah satu bulan lamanya mereka
berada pada satu ruang lingkup sekolah dan dalam bidang klub yang sam. Tapi
sampai sekarang Ify belum bisa menerima semuanya.
“Ify” panggil Rio. Gadis itu
menggigit bibir bawahnya. Genggaman di tali tas yang dia sandang mengerat. Ada
yang menyumbat di bagian kerongkongannya sehingga membuatnya sedikit sesak.
Kedua matanya sudah mengabur akibat linangan air mata.
“Fy” Alvin membuka suaranya. Ify
menggeleng.
“Maka dari itu kami butuh
penjelasan. Kenapa lo gak pernah mau natap kita selayaknya elo berkomunikasi
dengan orang-orang lain? Kenapa hanya kita berempat?” tanya Gabriel.
Ify masih bergeming. Tidak mau
menjawab. Apa harus dia memberitahu segalanya. Apa harus? Kakak, apa yang harus
Ify lakuin? Bantu Ify, batinnya kembali meracau.
“Beritahu
lah yang sebenarnya”. Ify tersentak. Suara itu? Suara yang begitu familiar
itu berdengung.
“Mereka
berhak tau, Ify”.
“Karena
mereka...”
“Pengganti
sayap pelindungmu yang telah pergi”.
Air mata yang semula masih berlinang
kini meluruh tak terbendung.
“Kakak” gumamnya lirih. Isakan kecil
itu membuat empat pemuda itu tersentak. Mereka melangkah mendekat. Gabriel
menyentuh pundak gadis itu yang bergetar.
“Ify, kenapa?” tanyanya khawatir.
“A –aku bakal jelasin semuanya”
ucapnya dengan suaranya yang serak.
Dari situ, mengalir lah cerita dari mulut Ify. Memberi tahu yang sebenarnya
dimana dia mempunyai sayap pelindung yang sangat dia sayangi.
“...walaupun mereka terkadang ngeselin, tapi aku tetep sayang sama mereka.
Posisi mereka gak akan pernah tergantikan oleh siapapun disini, di hati aku.
Tempat yang paling spesial. Sampe di hari itu, tanpa pamit, tanpa ngucapin
apa-apa, bahkan ucapan ‘selamat tinggal’ pun gak ada, mereka..pergi. Pergi jauh
ke tempat yang gak akan pernah bisa aku jangkau. Dan saat itu aku sadar kalo
kita gak akan pernah ketemu lagi, gak akan pernah beraktivitas seperti biasanya
lagi, gak akan pernah ngejailin satu sama lain lagi. Aku sempet kecewa,
frustrasi, sampe aku berpindah tempat ke rumah keponakan yang beda komplek. Dan
selama satu minggu bahkan lebih dari hari itu, aku gak mau keluar kamar. Sampe
mereka datang ke dalam mimpi, dan hal itu membuat aku sadar bahwa tindakan yang
aku ambil itu salah. Tindakan itu gak akan merubah segalanya, malah membuat
mereka disana merasa sedih. Saat itu aku coba kembali jadi seperti biasanya
dengan pelan-pelan. Sampai aku balik sedih karena sewaktu aku dan Deva makan di
restaurant kecil, kami bertemu
seseorang yang sangat mirip dengan Kak Cakka. Bahkan namanya pun sama. Dan
hari-hari berikutnya pun ternyata kejutan-kejutan yang tidak terduga kembali
bermunculan. Aneh. Memang aneh. Aku sempat berpikir apa Tuhan ngabulin doa ku.
Tapi...kenapa seperti ini? Deva pernah bilang kalo gak
selamanya Tuhan biarin umatNya selalu dirundung kesedihan. Dengan cara yang
memang gak akan tepikirkan oleh manusia, Tuhan akan kasih jalan kebahagiaan
buat mereka yang emang mau bersabar”
Ify menjelaskan semuanya dengan sesekali terisak. Air mata itu masih mengalir
mulusnya. Dengan sesekali tersenyum miris dan sedih. Namun masih belum bisa
menatap mereka.
Empat pemuda itu terdiam. Menatap Ify yang masih terus terisak. Cerita itu
sangat menyedihkan. Mereka iba melihat Ify yang sangat rapuh. Seperti daun yang
telah kering. Bahkan mereka ikut menahan sesak yang gadis itu rasakan.
Gabriel yang berada di hadapannya berjongkok dengan menggenggam kedua
tangan Ify. Gadis itu tersentak dan saat itu dia menatap Gabriel yang tersenyum
ke arahnya.
“Mungkin kami emang gak tau apa-apa. Hanya tau dari cerita tadi. Tapi kami
yakin, kami emang diutus oleh Tuhan untuk ngegantiin sayap pelindung lo yang
udah pergi jauh kesana”. Ify masih terdiam dengan isak tangisnya, namun gadis
itu masih memandang Gabriel. Mereka memang sama. Sampai dia kembali merasakan
sentuhan lembut di pucuk kepalanya, membuat dia mendongak, menatap Rio yang
kini juga ikut tersenyum ke arahnya.
“Iel bener, Fy. Mungkin kita baru kenal satu bulan ini, tapi percayalah”
timbrung Rio. Dengan berani Ify menatap Cakka dan Alvin yang juga ikut
tersenyum dan kemudian mengangguk setuju.
Gadis itu tersenyum dan kembali menangis. Kini tangisan itu adalah tangisan
bahagianya.
“So, jangan pernah takut lagi
untuk ngehadepin semuanya. Karena gak selamanya kenyataan itu pahit” Gabriel
kembali bersuara. Ify mengangguk mengerti.
“Aku..punya satu permintaan untuk kalian”. Semuanya menatap Ify bingung.
“Hari ini tepat dua bulan kepergian mereka, kakak-kakak mau nemenin Ify ke
pemakaman mereka?”
“Dengan senang hati, cantik” jawab Cakka cepat dengan diiringi anggukan
setuju yang lainnya. Ify tersenyum senang dan kemudian mengajak mereka beranjak
bergegas karena posisi matahari telah menurun, menandakan ia ingin beranjak dari
persinggahannya.
Mereka memang sama, tapi tetap berbeda. Masing-masing mempunyai perbedaan
yang signifikan karena manusia itu unik. Walaupun mereka kembar identik
sekalipun, masih tetap ada yang membedakannya.
Kakak-kakak, Ify punya sayap pelindung lagi, tapi kalian tetap yang paling
spesial buat Ify, walaupun mereka sangat mirip dengan kalian. Kak, bahagia ya
disana, Ify janji gak akan lagi sedih, gak akan lagi nangis, apalagi nangisin
kalian. Ify pingin kalian tenang disana. Tetap jaga Ify ya dari sana, tetap
jadi sayap pelindung Ify yang selalu buat Ify aman dan nyaman dimanapun Ify
berada. Karena gak selamanya, mereka bisa ngejagain Ify terus. Terima kasih
untuk segalanya, Kak. Terima kasih atas kasih sayang dan cinta kalian. Terima
kasih udah ngelindungin Ify bahkan nyawa kalian yang jadi taruhannya. Terima
kasih. Ify sayang kalian.
END
0 komentar