SAYAP PELINDUNG -Oneshoot-



Rumah besar itu terdengar ramai. Bukan. Bukan karena ada pesta atau semacamnya. Namun, keributan itu berasal dari anak-anak sang empunya rumah itu. Karena jumlah mereka lebih dari sekedar 2 atau 3 orang. Lima bersaudara. Empat orang kembar yang berkelamin laki-laki semua. Kemudian, anak bungsu yang berkelamin perempuan.
            Seling waktu 4 kembar itu lahir tidak jauh. Yang pertama Briel Stevan. Panggilannya Iel. Karena dia yang bisa dibilang anak pertama, sifatnya terbilang dewasa. Namun juga humoris. Dapat mengontrol emosinya yang terkadang bisa labil. Penengah di antara saudara-saudara nya yang bertengkar. Penasehat yang baik. Sangat menyayangi adik bungsunya, sehingga membuat dia sedikit lebih protect.
Kemudian, lahir lima menit setelah Briel itu Gandrio Stevan. Kerap dipanggil Rio, sangat tidak suka dipanggil Gandri. Karena, alasannya “Aneh aja. Gak cocok dengan wajah tampan gue”. Sifatnya jahil. Tetapi tingkat kejahilannya belum dapat mengalahkan tingkat kejahilan dua saudara kembarnya. Jika diposisikan, Rio berada di urutan terakhir. Itu dikarenakan Rio sering tidak tega dengan orang lain, apalagi dengan perempuan. Dan korban kejahilannya mereka di rumah itu adalah adik bungsunya. Adiknya itu adalah perempuan yang paliiiinngg dia sayangi. Rasa sayang itu setara dengan rasa sayangnya ke sang Bunda. Karena mereka adalah berlian berharga untuknya. Rio itu tempat yang pas jika sedang mencari ketenangan. Sang adik jika sedang dirundung masalah yang membuatnya sedih, langsung lari ke pelukan Rio. Memang tidak jauh beda dengan Iel. Tetapi, yang sangat membedakannya adalah emosi Rio yang kadang tak terkendali.
Selanjutnya, lima menit setelah Rio ada Jonalvin Nugraha. Bisa dipanggil Alvin. Yang satu ini, berkepribadian cuek, jutek, dan dingin pada seseorang yang tak ia kenal. Tentu saja kepribadian itu tidak berlaku untuk keluarganya. Itu hanyalah topeng untuknya. Sifat yang sebenarnya itu jahil. Nah, tingkat jahilnya ini berada satu tingkat dari Rio. Di urutan ke-dua. Tetapi, jika sudah bergabung kekuatan (?) dengan saudara kembarnya, kejahilan mereka sudah pada status SUPER POWER(?) Bukan hanya adik bungsunya saja, terkadang saudara kembar mereka juga. Bahkan orang tua mereka sudah pernah menjadi korban. Sama dengan Rio dan Iel. Sangat menyayangi adik bungsunya. Juga terkadang terlihat over protect dengannya. Dia juga bisa menjadi penasehat yang baik.
Kemudian setelah lima menit dari Alvin, Pracakka Nugraha. Ini anak yang paling jahil di rumah. Dia lah yang paling sering menjahili adik bungsunya. Terkadang bersekongkol dengan Alvin yang menjadikan kejahilannya pada tingkat SUPER POWER._. Paling bisa mencairkan suasana. Emosinya paling labil. Paling sering bertengkar dengan Alvin. Paling suka melihat raut kekesalan sang adik. Menurutnya itu sangat menggemaskan. Tetapi, paliiinngg benci melihat adiknya menangis ketika dia digeluti masalah yang menyangkut dengan hati. Nah, Pracakka atau yang sering dipanggil Cakka ini, adalah tempat curhat masalah hati yang paling top.
            Terakhir adalah adik bungsu mereka yang bernama Alifya Safanah Utari. Atau kerap dipanggil Ify. Anak terakhir dari keluarga harmonis ini. Anak yang periang, manja, tetapi bisa langsung down jika hatinya sudah disakiti. Dia bisa menjadi moodbooster kakak-kakaknya jika mereka sedang unmood. Dan dia pula yang paling sering menjadi korban kejahilan kakak-kakaknya. Paling suka bermanja dengan Iel. Paling suka memeluk Rio. Paling suka tiduran di kamar Alvin. Dan paling suka duel basket dengan Cakka. Menurutnya, kakak-kakaknya itu adalah sayap pelindung baginya. Karena, hanya disamping mereka lah, dia merasa aman jika sedang jauh dari orang tua.
            Kini empat kembar itu sudah duduk di bangku kelas satu SMA, sedangkan adiknya baru kelas tiga SMP.

**

            “KAK CAKKAAAAA GILAAAAA!!” teriakan itu menggema di seluruh penjuru rumah besar yang berlantaikan dua itu. Iel yang tengah menonton televisi di ruang keluarga sampai terjingkat kaget. Rio yang sedang minum di dapur tersedak. Sampai Alvin yang tengah menjalani tidur siang terbangun.
            Cakka yang menjadi tersangka tertawa terbahak-bahak sembari berlari menghindari amukan adik bungsunya itu dengan tangannya yang memegang sebuah kotak yang tidak terlalu kecil. Ify masih mengejarnya dengan penggaris besinya di tangan yang digunakan untuk menganiaya Cakka.
            Mereka hampir menabrak Rio yang membawa segelas sirop jeruk segar, dengan cekatan Rio mengelak dan menjaga sirop-nya. Dia menghela nafas yang sempat tertahan. Takut-takut sirop-nya tumpah akibat suatu kecelakaan itu. Kemudian dengan santai mengamati kelakuan Cakka dan Ify. Sesekali menyesap air berasa itu.
            “Woelah, santai kali, Fy. Lucu juga. Nih” ujar Cakka yang berhenti sejenak dari kegiatan berlarinya sembari menunjukkan isi dari kotak itu.
            “Iihhh. Kodok budukan gitu lo bilang lucu. Jauhin dari muka cantik gue!!” Tanpa disangka, kodok itu melompat dari tempatnya ke kepala Ify. “AAAAAAAAAAAAAAAAAA. KODOK JELEK!! NGAPAIN LO NGINGGEP DI KEPALA GUEEE!! KAK CAKKAA AMBILIN KODOKNYAAA!!” Ify kembali teriak histeris. Cakka gelagapan sendiri. Kodok itu masih setia nangkir di kepala Ify.
            Rio yang sedari tadi menonton aksi mereka berdua ikut kaget ketika kodok itu melompat ke kepala Ify.
            “Eh, eh..hus, hus, pergi lo dari sana” usir Cakka.
            “Ada apaan sih? Daritadi ribut mulu” ujar Iel yang diikuti Rio dan kemudian Alvin yang dengan muka bantal abis! “Eh..itu aksesoris lo terbaru, Fy? Kok jelek banget gitu sih?” tanya Iel.
            “Aaaaaa, Kak Iel, ini bukan aksesoris, ini kodok nya Cakkadut tau!! Singkiriiiinnnn dari kepalaaa gueeee!!” Kemudian kodok itu melompat ke arah Iel dan bertengger di kepala Iel.
            “Kodok gila!! Singkirin badan buduk lo dari rambut kece gue” seru Iel sembari menepis kodok itu.
            PLOK! Kodok itu terpental ke wajah Alvin yang masih merem-melek. Mereka melongo massal melihat itu. Merasa dihinggapi sesuatu, Alvin membuka matanya.
            “Huwaaaa, pantesan ada bau tidak sedap!!” Alvin mengambil kodok itu dan melemparnya asal.
            PLUNG! Lagi-lagi mereka dibuat kodok itu cengo.
            “Minuman gue” gumam Rio miris sembari melihat gelas yang berisikan sirop jeruk itu yang kini menjadi tempat berendamnya sang kodok.

**

            Gadis bertubuh mungil itu keluar kelas tergesa-gesa. Sekolahnya sudah sepi. Bel pulang sudah lebih dari 15 menit yang lalu. Namun, dia harus menyelesaikan catatannya terlebih dulu, sehingga membuat ia tertahan sebentar dan pulang terlambat. Kakak-kakaknya sudah ia beri tahu. Dia akan menghubungi salah satu dari mereka jika pekerjaannya sudah selesai. Gadis itu masih melangkah cepat sembari mengotak-atik handphone. Mencari kontak nama salah satu kakaknya itu. Kenapa disaat seperti ini, kontak nama itu seperti beribu-ribu, sehingga menyulitkan ia menemukannya.
            “Ify?” Gadis itu merasa terpanggil dan menoleh ke arah sumber suara.
            “Eh? Ray. Belum pulang?” Orang tadi yang bernama lengkap Raynaldo Saputra itu menggeleng. Ify mengambil posisi duduk disamping Ray di bangku panjang koridor. Dia masih sibuk mencari-cari kontak nama itu. Masih sulit menemukannya.
            “Gue lagi nungguin Ozy nih. Dia lagi rapat ekskul fotografi. Lo sendiri kenapa belum pulang?” tanya Ray. Ify menoleh sekilas.
            “Tadi belum selesai nyatet catatan pelajaran terakhir, jadi telat deh pulangnya”. Ray membulatkan mulutnya dan manggut-manggut mengerti. Ray seorang ketua OSIS dan ketua ekskul musik yang sebentar lagi akan melepas masa jabatannya, yang juga termasuk dalam band sekolah yang di dalamnya juga ada Ify sebagai keyboardist, sedangkan Ray sebagai drummer. Band yang sering mengharumkan nama sekolah. Mereka cukup dekat sehingga menimbulkan banyak gosip-gosip beredar di kalangan sekolahnya itu. Namun, mereka yang memang tidak memiliki hubungan apa-apa, tetap cuek menanggapi gosip tersebut.
            Keadaan hening. Hanya terdengar suara Ify yang menelpon kakaknya. “Woy” seru Ify –setelah menutup sambungan teleponnya sembari menepuk pundak Ray. Membuat pemuda itu terlonjak kaget.
            “Jantung gue copot”.
            “Haha lebay amat lo, Ndrong”.
            “Yee..apaan sih, Hel? Gak waras”. Ify memukul pundak Ray cukup keras. “Aduh. Sakit gila. Anarkis banget”. Ify memeletkan lidahnya. Membuat Ray gemas dan dibalas Ray dengan mencubit kedua pipi Ify.
            “Aaaa, sakitttt, Raayy”. Ray tertawa dan melepaskan cubitannya.
            “Oh iya, gue hampir lupa. Ada lagu baru nih”. Ify yang mengelus-ngelus kedua pipinya menoleh.
            “Mana? Mana?” Ray mengeluarkan Iphone dan headsetnya, kemudian menyambungkan dua benda tersebut. Setelah itu memasang satu headset ke telinga kirinya dan yang satu dipakai Ify di telinga kanannya.
            Sembari mendengar, tak jarang ada canda dan tawa disana. Entahlah. Mereka merasa nyaman satu sama lain jika bersama. Merasa nyaman layaknya seorang sahabat.
            Ify menoleh ketika pundaknya di tepuk seseorang. Ray pun ikut menoleh. Disana sudah ada Cakka yang datang menjemput. Ify terlihat sebal karena acara mendengar lagunya dengan Ray sedikit terganggu. Ditambah Cakka memasang wajah sok datar. Dih songong nih orang, pikir Ify. Dia melepaskan headsetnya dan memberikannya ke Ray kembali.
            “Eh, Ray, duluan ya. Ntar kirim aja lewat bbm ato gak line deh, atau terserah” cerocos Ify yang membuat Ray terkekeh.
            “Iyee. Udah sana”.
            Bubbay, Gondrong. Jangan miss me ya haha”.

**

            Tidak biasanya Cakka diam seperti ini. Sudah mendekati rumahnya, Cakka masih tetap diam. Ify yang dibuat bingung dan sudah gatal ingin bertanya pun akhirnya bersuara.
            “Lo kenapa sih, Cak?” Cakka yang sok-sok-an ngambek menoleh kesal dengan sekilas. Emangnya dia cicak, mana gak pakek embel-embel ‘Kak’ lagi, batinnya kesal. Setelah itu tetap diam. “Yee..lo songong banget jadi orang, ditanyain bukannya dijawab”.
            “Itu siapa lo tadi?” tanya Cakka sok garang tanpa memperdulikan pertanyaan Ify tadi.
            “Dia Ray. Perasaan sering main ke rumah deh. Lo pura-pura lupa ato emang pikun sih?”
            “Statusnya sama lo apaan?” Ify mengernyit bingung. Kemudian dia meletakkan punggung tangan kanannya di dahi Cakka.
            “Gak panas deh” gumam Ify.
            “Gue kagak sakit juga”.
            “Lo sakit ya nanya-nanya begitu? Gak biasanya deh”.
            “Jawab aja deh”.
            “Dia sahabat gue”.
            “Bukan pacar?” Ify mendelik.
            “Lo kok berpikiran begitu?”
            “Emangnya tadi gue gak liat apa kalian berdua? Mesra banget”.
            “Yeee..mesra apanya? Cuma dengerin lagu doang. Lo kenapa sih?”
            Cakka menatap sepenuhnya adik bungsunya itu setelah memarkirkan mobil city hitam itu di pekarangan rumahnya.
            “Lo gak boleh pacaran” ujar Cakka penuh dengan penekanan. Ify lagi-lagi mendelik.
            “Kok gitu sih?”
            “Jadi bener lo pacaran sama dia?” Ify menggaruk-garuk kepalanya, bingung dengan sikap Cakka saat ini.
            “Enggak. Dibilangin juga. Emang kenapa kalo gue pacaran?”
            “Lo masih kecil. Belum pantes buat pacaran. Nanti sakit hati baru tau lo. Mewek deh 7 hari 7 malam. Galau setiap waktunya”.
            “Iihh..terserah gue dong mau pacaran ato gak. Yang ngerasain ‘kan gue, bukan lo. Kok elo yang sewot sih?”
            “Yee..gue ini kakak lo”. Ify cemberut. “Lo itu berlian berharga buat gue. Jadi gue gak mau ada orang yang berani ngegores berlian gue” sambung Cakka dengan lirih. Lagi-lagi Ify dibuatnya bingung. Dia menggaruk-garuk dahinya.
            “Udah ah ayo masuk” ajak Ify sambil membuka pintunya. Diikuti Cakka.
            “Pokoknya lo gak boleh pacaran” seru Cakka dari arah belakangnya. Ify yang berada di teras menoleh dan memeletkan lidahnya ke arah Cakka. “Eh, kurang asem lo sama kakak sendiri”.
            “Huwaaaaaa...ada gorila ngamuukkk” teriak Ify sambil berlari menenteng satu sepatunya ke dalam rumah. Yang satunya masih terpakai manis di kaki karena belum sempat untuk melepasnya, Cakka sudah mengejar.
            “Heh, jangan deket-deket lo, gue timpuk juga nih” ujar Ify yang berhenti berlari di depan tangga sambil mengangkat satu sepatunya itu. Cakka yang melihat ciut sedikit. Muka keren kena timpuk sepatu? Apa kata cewek-cewek? Ify was-was, kalo seperti ini Cakka pasti akan menggelitikinya.
            “Sepatu bau gitu. Letakin gak tuh sepatu?” Ify menggeleng kuat-kuat.
            “Ada apaan sih?” tanya seseorang tiba-tiba dari arah belakang Ify. Ify sigap menoleh dan bersiap menimpuknya pakai sepatu karena kaget.
            “Eh, eh, gue Alvin, bukan Cakka” ujar orang itu yang ternyata Sipit eh Alvin.
            “Wah, maksud lo apaan tuh, Pit?”
            “Hehe lo lebih pantes ditimpuk sepatu daripada gue”.
            “Huwaaaaa..Kokooo, Cicak mau ngebully gueeee” ujar Ify heboh sambil bersembunyi di balik tubuh Alvin.
            “Fitnah lo” balas Cakka.
            “Kakak gak bener lo, Cak. Masa’ adek sendiri mau di bully sih” ucap Alvin sambil mengerlingkan matanya. Mengkodekan untuk bersengkongkol. Cakka yang melihat itu langsung menyeringai layaknya setan.
            “Ah iya. Maafin gue deh, Fy. Gak lagi lagi, gue mau jadi kakak yang baik buat lo” ujar Cakka sembari mendekat. Ify yang mendengar itu tersenyum dan keluar dari persembunyiannya. Sampai...
            “Huwaaaaahahahahahaha..geliiii..hahahaha, udahan dong. Hahaha” serunya kegelian ketika Cakka dan Alvin mulai menggelitiki gadis itu. “Aaaaa hahaha kak Ieeell, kak Rioo, hahahaha tolongin hahaha gueeee, huwaaaaa”.
            “Hahaha gak ada yang bisa nolong lo” ujar Cakka dengan tawa setannya.
            “Huwaaaa..ahahahaha. Uang siapa tuh? Hahaha”. Mendengar kata-kata ‘uang’ Cakka dan Alvin langsung menoleh ke arah yang ditunjuk Ify. Kesempatan itu langsung Ify pakai dengan mengambil langkah seribu. Masih dengan menenteng sepatunya.
            “Woy, jangan kabur lo” seru Alvin seperti meneriaki maling-_-
            Ify berlari ke arah kamar Rio. Dengan segera dia menutup pintu kemudian melepas sepatu yang masih melekat di kakinya. Dan meletakkan sepatu dan tasnya sembarang di kamar Rio.
            Ify bersembunyi di balik selimut yang disana terdapat Rio sedang terlelap. Merasa ada sesuatu yang mengganjal di sebelahnya, Rio terbangun.
            “Aduh, apaan sih ini? Gue lagi tidur juga” keluh Rio sambil membalikkan badannya yang semula membelakangi Ify. “Eh? Fy, ngapain lo?” Rio langsung mengambil posisi duduk.
            “Ssstttt, gue lagi ngumpet”. Rio menggaruk-garuk kepalanya bingung. Dan kebingungannya pun terjawab ketika Cakka dan Alvin membuka pintu kamar Rio dengan tidak sabaran.
            “Woy, kalo pintu kamar gue rusak nanti, tanggung jawab lo berdua”. Duo kembar itu cengengesan. “Ngapain lo?”
            “Ituuu” tunjuk Cakka pada Ify yang masih bersembunyi.
            “Udah, udah, sana. Kerjaan lo gangguin adik doang, cari kerjaan yang lebih bermutu dong” nasehat Rio. Cakka dan Alvin mencibir.
            “Woelah, lo juga kali suka begitu”. Rio yang mendengar ucapan Alvin cengengesan tidak jelas.
            “Nyengir lo”.
            “Yee, udah sana, hus hus” usir Rio seperti mengusir ayam.
            “Buset dah, lo kira kita ayam apa?”
            “Kita? Lo aja, gue gak mau jadi ayam”.
            “Sialan lo, Pit” Cakka menjitak kepala Alvin yang dibalas sang empunya kepala(?)
            “Selesaikan dengan tanding PS. Yang kalah jadi babu” lanjut Cakka.
            “Siapa takut”.
            Ify mengintip dan menyibak selimut itu ketika mendengar Cakka dan Alvin pergi menjauh. Dia bernafas lega. Kemudian menoleh ke arah Rio yang masih terduduk dengan mata yang terpejam.
            “Kebo banget” gumam Ify pelan membuat Rio kembali melek.
            “Ha? Apaan?”
            “Eh, eng..enggak hehe. Oh ya, makasih abangku yang caem sudah mengusir duo kembar gak jelas itu”. Rio yang ingin terpejam kembali langsung terlonjak ketika Ify memeluknya.
            “Ha? Ah, iyaiya” jawabnya yang seperti orang mengigau. “Hadiah nya apaan?”
            Ify menegakkan dirinya kembali. “Hadiah?”
            “Hadiah tanda terima kasihnya”.
            “Gak ada hadiah”.
            “Ini” tunjuk Rio ke pipi kanannya. “Cium dulu dong”.
            “Iihh, gak mau rugi lo” ujar Ify sambil mendorong wajah Rio.
            “Yee, masih untung gue usir tuh anak, sebenernya gue juga mau ikut bersekongkol tadi”.
            “Dasar”.
            CUUPP! Kecupan di pipi kanannya membuat Rio menyeringai lucu.
            “Makin sayang deh”. Kini balas Rio mengecup kening Ify lembut. Penuh kasih sayang kepada seorang adik.
            “Apaan sih? Udah kayak pacaran aja”.

**

            Gadis itu memasuki rumahnya dengan tampang yang sedikit lusuh. Di ruang tamu terdapat Iel yang sedang memainkan handphonenya. Ify mengambil posisi duduk di samping Iel. Pemuda itu menoleh sekilas.
            “Kak” panggil Ify.
            “Hmm”.
            “Kak Iel”.
            “Hmmm”.
            “Kak Ieeeeellllll”.
            “Apaan sih cantiikkk? Gue gak budek”. Ify cengengesan melihat Iel yang kesal. Dia menyimpan handphonenya di saku celana sekolahnya yang belum dia ganti. “Lecek amat tuh muka. Ada apa? Ada yang jailin di sekolah? Kasih tau gue siapa orangnya”.
            “Iihh bukan itu”.
            “Jadi kenapa? Cerita sama gue”.
            “Emm...huft! Gue sebel”.
            “Sebel kenapa, cantik?”
            “Gue suka sama seseorang, tapi dia gak peka. Dia cuma nganggep perhatian gue itu sebatas sahabat. Dan parahnya, dia tadi curhat sama gue kalo dia lagi naksir sama adik kelas, dan dia bakal nembak do’i hari ini juga. Huwaaaa...gue patah hati tau, Kak. Dia php-in gue” curhat Ify sambil menitikkan air matanya.
            “Cup cup cup, jangan nangis dong. Masa’ adiknya Kak Iel nangis sih? Sini, sini”. Ify menghambur ke pelukan Iel. “Cowok bukan dia doang kok. Masih banyak di luar sana yang lebih cakep yang bakal lebih sayang sama Ify. Dan lebih baik pastinya. Mungkin emang takdir menggariskan buat kalian cuma sebatas sahabat. Kalo kalian pacaran, tapi dia sama sekali gak punya rasa sama Ify, bakal lebih sakit lagi loh. Udah ya”.
            “Makasih Kak Iel, Kakak emang the best deh” ujar Ify sembari melepaskan pelukannya. Kemudian mengecup pipi kiri Iel. Pemuda itu tersenyum, menghapus air mata sang adik.
            “Udah. Kalo lagi begini, butuh ketenangan, sana ke Rio. Dia lagi di halaman belakang tuh”. Ify mengangguk.
            “Ify sayang Kakak” lirihnya yang kemudian berlalu pergi.
            “Kakak juga sayang kamu, Fy”.

**

            “Kak Riooooo”. Rio yang sedang bermain gitar di gazebo berjingkat kaget.
            “Buset dah. Lebih dari toa masjid”.
            “Huwaaaaa”. Dia kembali menangis. Rio yang melihat itu panik. Meletakkan gitarnya dan kemudian menghampiri sang adik yang berdiri tak jauh dari tempat dia duduk.
            “Kenapa?” tanya Rio lembut sambil mengusap air mata Ify.
            “Galau” jawabnya dengan memeluk Rio. Ah, kakaknya satu ini sangat bisa sekali membuatnya tenang hanya dengan dipeluk olehnya. “Sakit hati, di php-in”.
            Rio yang mendengarnya tersenyum. Ternyata adiknya satu itu sudah mulai merasakan perasaan itu. Tidak terasa, adik kecilnya kini beranjak menuju remaja. Dia mengelus-ngelus rambut panjang Ify.
            “Cup cup, jangan nangis dong. Ntar cantiknya ilang loh”.
            “Biarin. Biar jadi jelek”. Rio terkekeh mendengarnya. Kemudian mereka diam. Rio berusaha menenangkan sang adik yang tak lama isak tangisnya tidak lagi terdengar. Namun, Rio merasakan pelukan Ify mengendur.
            “Tidur ya?” Ify sedikit tersentak.
            “Ha?”
            “Haha udah sana tidur siang” Ify mengangguk sambil melepaskan pelukannya. “Udah makan?”
            “Udah. Tadi di sekolah”. Rio manggut-manggut. “Hoam..makasih Kak Rio. Ify sayang kakak” ujar Ify yang sama persis apa yang diucapkannya pada Iel. Dia sedikit berjinjit dan CUUPP! Rio cengengesan karena dihadiahi kecupan sang adik dan kemudian mengacak lembut pucuk kepala Ify. Gadis itu berlalu menuju tempat yang paling nyaman untuk tidur, menurutnya.

**

            Setelah mengganti pakaiannnya, Ify langsung melangkah dan menutup pintu kamarnya. Kemudian melangkah ke arah kamar sang kakak tecinta. Gadis itu langsung masuk tanpa mengetuk dan langsung merebahkan tubuhnya di kasur empuk itu. Si empunya kamar sedang tidak terlihat disana. Namun, itu tidak Ify ambil pusing. Dengan segera dia menutup matanya yang sudah memberat sejak tadi.
            “Walah” celetuk seseorang yang baru saja keluar dari kamar mandi di kamar itu. “Ini anak satu kebiasaan tidur di kamar gue” lanjutnya.
            Kemudian dia melangkah menghampiri Ify. Menutupi tubuh gadis itu dengan selimut. Alvin –orang itu, tersenyum menatap wajah adiknya yang sungguh polos dan lugu disaat sedang tertidur seperti ini. Terasa damai. Tapi, entah kenapa dia melihat ada yang berbeda saat ini. Matanya terlihat seperti sedikit sembab. Apa yang terjadi dengannya? Melihat itu, Alvin menghela nafas.
            “Seandainya beban lo bisa dibagi ke gue. Mungkin gue akan ambil semuanya. Gue gak mau ngeliat lo begini. Seandainya di dunia ini yang lo tau cuma senyum, tawa dan lelucon” ujar Alvin yang diiringi kekehan kecil. Mana mungkin dia hanya tahu itu. Ify sekarang sudah beranjak remaja. Hal yang paling ditakuti oleh Alvin. Entahlah. Dia paling tidak suka melihat Ify menangis. Hatinya pasti akan terasa nyeri. Dia mengelus-ngelus lembut kepala Ify. “Gue akan selalu ngejagain lo dari apapun yang mungkin bisa ngelukain lo, baik itu di luar maupun di dalam hati lo. Love you, dear” lanjut Alvin dengan lirih yang kemudian dia mengecup lembut kening sang adik. Setelah itu, dia melangkah pelan menuju keluar kamar.

**

            Sore itu, masih dengan rasa ngantuk karena baru saja terbangun dari tidur lelapnya, gadis itu melangkah sedikit sempoyongan menuju dapur. Berniat ingin mengambil minum. Tenggorokannya terasa kering, butuh larutan untuk menyegarkannya.
            Disaat sedang minum, dia tidak sengaja melihat salah satu kakaknya tengah bermain basket di halaman belakang. Setelah meletakkan kembali gelas di meja bar dapurnya itu, dia berjalan ke halaman belakang. Dan kemudian duduk di gazebo. Mata yang masih merem-melek. Namun, sang kakak masih tetap asik bermain. Sampai pada akhirnya, bola basket itu terpental akibat terbentur pinggiran ring. Dan bola itu mengenai kepala Ify.
            “Aduuhhh”.
            Cakka –sang pelaku tersentak ketika mendengar suara ringisan. Dengan cepat dia menoleh ke sumber suara. Dia mendapati adiknya yang sedang memegangi kepalanya. Cakka berlari menghampiri.
            “Aduh, Fy, maaf banget, gue gak sengaja. Beneran. Aduh, sakit ya? Ayo kita ke rumah sakit aja” cerocos Cakka dengan panik yang ikut memegangi kepala Ify dan mengelus-ngelusnya. Ify yang saat itu baru bangun tidur terasa pening ketika kepalanya dihantam oleh bola keras itu. Setelah dapat meredam rasa pening itu, dia pun mendongak menatap Cakka.
            “Lebay amat lo. Gue gakpapa kali”.
            “Bola basket keras begitu, lo bilang gakpapa? Kalo gegar otak gimana coba? Udah ayo ke rumah sakit”.
            “Gue gakpapa, Kak. Tadi emang pusing banget, soalnya bawaan baru bangun tidur. Tapi sekarang udah enggak kok”. Namun, Cakka masih menatap Ify dengan tidak percaya. “Beneran deh. Serius udah gakpapa”. Pemuda itu menghela nafas. Masih dengan tatapan khawatirnya. Dia mengelus-ngelus kepala Ify.
            “Maaf ya” lirih Cakka. Ify tersenyum.
            “Ayo, kita duel basket” ajak Ify dan menarik tangan Cakka.
            Selama mereka bermain basket bersama, Cakka terlihat bingung dan heran. Tidak seperti biasanya gadis itu dengan penuh semangat mendribble maupun mengshoot bola itu. Tetapi kini, dia merasa jiwa gadis itu tidak menyatu dengan permainan basketnya. Karena itu, Cakka memilih untuk menghentikan duel basket mereka.
            “Kenapa?”
            “Ha? Kenapa apanya?”
            “Lo kenapa? Permainan basket lo gak se-rapi, se-mulus, se-keren biasanya”. Ify menatap Cakka yang juga menatapnya. Dia menghela nafas dan kemudian duduk di tengah lapangan kecil itu yang diikuti Cakka yang duduk di hadapan Ify.
            “Gimana sih, Kak, rasanya kalo cinta yang bertepuk sebelah tangan itu?” Cakka mengernyit heran, tetapi tetap menjawab.
            “Tentu sakit lah. Sakit banget”.
            “Nah, itu yang gue rasain sekarang”. Cakka panik melihat Ify yang bersiap mewek.
            “Eh, eh, jangan nangis dong. Aduh”. Ify menurut, menahan laju air matanya yang sudah menggenang di pelupuk mata. Berganti dengan wajahnya yang terlihat menyedihkan. “Jadi, siapa dia?”
            “Namanya Debo. Gue suka sama dia udah lama. Kita sama-sama care satu sama lain. Tapi, ternyata yang gue tangkep itu salah. Carenya dia itu hanya sebatas sahabat. Nggak lebih. Beda dengan gue. Parahnya lagi, tadi dia curhat dengan gue kalo dia suka sama cewek, terus dia hari ini mau nembak itu cewek. Sakit, Kak” curhat Ify yang lirih pada kalimat terakhir. Air mata itu kembali meluruh. Cakka mengubah posisinya ke samping Ify dan kemudian merengkuh tubuh mungil itu. Mendekapnya hangat.
            “Jangan nangis dong”. Cakka menghela nafas. Diam sejenak. Hanya terdengar isakan dari Ify. “Ini yang gue takutin, Fy. Gue gak suka liat lo kayak gini. Lo sakit, tapi gue lebih sakit ngeliat lo sakit begini. Seperti yang gue bilang sebelumnya, lo itu berlian gue. Dan gue gak mau ada orang yang beraninya ngegores berlian gue”.
            “Maafin gue, Kak. Maaf. Gue gak tau kalo perasaan ini bakal kayak gini”.
            “Lo dan perasaan lo gak salah. Gue harap lo bisa lebih memilih lagi yang mana yang bisa buat lo bahagia. Jangan biarin perasaan itu lebih dalam lagi merasuki hati lo tanpa lo tau perasaan orang itu gimana ke elo-nya”. Ify mengangguk dalam dekapan itu. Kemudian melepaskan pelukannya. “Berhenti nangisnya. Ganti dengan senyum” ujar Cakka sembari menghapus air mata Ify. Gadis itu tersenyum dan terkekeh.
            “Makasih, Kak. Gue sayang lo”.
            “Sama-sama, cantik. Tentunya, gue juga sayang elo”.
            “Aahh berantakan” rengek Ify karena pucuk kepala Ify diacak-acak Cakka.

**

            Malam itu terasa sunyi. Para penghuni rumah besar itu sudah terlelap. Hingga tepat pada pukul 2 pagi, sebuah suara yang secara serentak membangunkan mereka. Dan secara kompak pula mereka keluar kamar secara bersamaan.
            “Kalian juga denger sesuatu?” tanya Iel pelan pada para suadara kembarnya juga adiknya. Mereka mengangguk kompak.
            “Itu apaan sih Kak? Hantu? Ato jangan-jangan maling” ucap gadis itu bebisik dengan ketakutan.
            “Jangan ngomong yang enggak-enggak deh” dumel Cakka yang ikut takut.
            “Jangan pada ribut woy” Alvin berbicara dengan pelan.
            “Kita periksa aja deh ke bawah” sambung Rio yang sedari tadi diam. Mereka melangkah mengendap-endap menuruni tangga rumah itu. Sesampainya mereka di anak tangga terakhir, mereka terlonjak tatkala melihat seseorang dengan menggunakan baju serba hitam dengan penutup wajahnya yang juga hitam, tengah berusaha membuka kamar orang tua mereka yang memang berada di bawah. Perampok!
            “Kak, be..beneran maling ya?” tanya Ify ketakutan sembari bersembunyi di balik badan Cakka.
            “Ssstt, jangan ribut” bisik Iel. “Rio, Cakka, Alvin, lo bertiga cepetan ambil pisau di dapur. Ato segala macem benda yang bisa buat itu maling babak belur” perintah Iel. Tiga pemuda itu mengangguk dan segera melangkah ke dapur.
            “Ify ke kamar ya, telfon kantor polisi”.
            “Kakak?”
            “Kakak mau ambil pistol papa di gudang. Cepet. Jangan berisik”. Ify mengangguk pelan. Belum jauh dia melangkah, Iel memanggil. “Jangan keluar kamar walaupun sesuatu yang buruk terjadi. Tetap jadi cewek tegar ya. Tetap jadi perempuan yang selalu buat kami bangga. Jangan buat Mama sama Papa kecewa. Jangan pernah merasa sendiri. Jangan pernah merasa takut. Karena kami akan selalu ada buat Ify walaupun raga kita gak saling berdekatan. Karena kami akan selalu jadi sayap pelindungnya Ify. Karena kami akan selalu ada di hatinya Ify. Karena kami sayang sama Ify”. Gadis itu terdiam. Entah kenapa, nasehat itu membuat dadanya menjadi sesak. Air matanya meluruh.
            “Kak Iel” gumamnya pelan.
            “Udah sana cepat ke kamar, telfon polisi”. Dengan diam dia melangkah ke kamar.
            Setelah menutup pintu kamar itu, dia menumpahkan segala rasa sesak yang bersarang di dada. Namun, mengingat situasi saat ini, dengan segera dia menuju telfon rumah yang berada di kamarnya dan menekan nomor yang dapat terhubung ke kantor polisi.
            “Malam, Pak” sapa Ify setelah nada sambung itu berganti dengan suara yang menandakan gagang telfon telah diangkat. Balasan sapaan diseberang terdengar. “Maaf mengganggu. Saya ingin melaporkan kalau di rumah saya saat ini sedang ada perampok”.
            “....”
“Di Perum Indah blok C nomor 23, Pak”.
“....”
DORR! Suara pistol itu memekakkan telinga yang disusul suara erangan keras dari suara yang sangat dia kenali. Suara erangan itu bersusulan. Dadanya semakin sesak. Air mata yang semula berhenti, kembali mengalir dengan deras.
“Tolong cepat kemari, Pak” ujar Ify dengan nada yang bergetar. Segera dia menutup telepon itu. Ingin rasanya dia berlari keluar dari kamar. Namun, perampok itu masih ada disana. Dan ia teringat akan ucapan dari sang kakak. “Jangan keluar kamar walaupun sesuatu yang buruk terjadi..”.
“Mama..Papa...Ify sendirian. Ify takut” lirihnya. Kemudian, kembali dia teringat akan ucapan Iel tadi. Hingga sebuah suara sirine membuyarkan lamunannya. Membuat ia tersentak. Dengan suara bariton yang lantang dari bawah sana. Gadis mungil itu segera berlari keluar kamar menuju lantai bawah yang telah terdapat beberapa polisi dengan seorang perampok tengah terduduk dengan mengangkat kedua tangannya. Dadanya semakin sesak ketika melihat empat tubuh manusia yang telah ditutupi oleh banyak koran. Dia terduduk disana. Menatap empat tubuh yang telah terbujur kaku itu dengan kosong.
“Mama, Papa, sayap pelindung Ify udah gak ada. Mereka udah terbang duluan ninggalin Ify. Sekarang Ify udah gak bisa terbang lagi” gumaman lirih itu membuat para polisi yang sedang berada disana terdiam.

FIN~

You May Also Like

0 komentar