I LOVE YOU
Alifya Safanah Utari, kerap disapa
Ify, kini tengah memenuhi sebuah amanat dari seorang guru di sekolahnya. Dia
diperintahkan untuk memanggil seorang siswa yang berada di kelas XI IPA 2 yang
dia ketahui bernama Fabrio Saputra. Ify memang tahu, tetapi tidak begitu
mengenal. Kakak kelasnya itu adalah seorang ketua OSIS di sekolahnya.
Sebenarnya dia malas disuruh-suruh
seperti ini. Kalau disuruhnya membeli makanan sih dia fine-fine saja, tapi ini memanggil seorang kakak kelasnya. Dan yang
paling dia tidak suka kalau masuk kelas-kelas XI itu dia pasti nanti akan jadi
bahan olokan. Berbeda dengan kelas XII yang terbilang cukup kalem.
Sesampainya di depan kelas itu, Ify
menghela nafas dan merapal doa dalam hati, kemudian dia melangkah memasuki
kelas yang masih ada guru mengajar. Di papan tulis putih itu terlihat
rumus-rumus fisika yang memusingkan. Tanpa sadar Ify meringis melihat
tulisan-tulisan itu. Dengan setengah hati, Ify mengetuk pintu kelas itu yang
seketika semua pasang mata memandangi dirinya yang berdiri di ambang pintu. Ify
meneguk ludahnya. Ngeri juga dipandangi seperti itu. Layaknya para singa yang
tengah melihat mangsa di pintu kandang mereka.
“Ada apa?” Ify tersentak ketika
mendengar suara guru itu. Yang semula dia menatap ngeri para kakak kelasnya
itu, kini beralih pada guru fisika tersebut. Dia melangkah ragu memasuki kelas.
Entah pendengarannya yang salah atau
tidak, dia mendengar sayup-sayup suara yang berkata ‘ciee’, ‘ehem’, ‘apa sih?’,
‘diem deh’, dan suara menahan tawa. Tapi Ify tidak menghiraukan suara-suara
itu. Dia anggap itu adalah suara bisikan setan yang lewat.
“Eng..saya disuruh Ibu Jeni buat
manggil Kak Fabrio, Bu” ucap Ify terbata. Guru itu menatapnya aneh dan sejurus
kemudian dia mengangguk-angguk mengerti. Ify bingung, kenapa guru ini tidak
langsung memanggil siswa yang dimaksud, malah ngangguk-ngangguk doang,
batinnya.
“Silahkan”. Ify melongo sebentar.
Jadi harus dia yang memanggilnya langsung. Oh
God!
Dia membalikkan badan ke hadapan
kakak-kakak kelasnya yang mulai sibuk masing-masing.
‘TOK! TOK! TOK!’ suara penghapus
yang diketukkan ke meja oleh sang guru itu cukup keras membuat semuanya
terkaget-kaget. Suasana yang tadi cukup ramai, kini menjadi hening seketika.
Ify yang masih terkaget-kaget hanya mengurut dadanya perlahan.
“Silahkan, nak”. Ify mengangguk
sopan.
“Emm.. Kak Fabrio Saputra dipanggil
oleh Bu Jeni ke ruang guru”. Dan saat itu pula, sorak-sorakkan dari teman-teman
di sekitarnya menggema.
“CIEEE RIOOOO”.
“EHEM. EHEM. UHUK”.
“DOA LO SEMALEM MANJUR BANGET, YO.
PUJAAN HATI MANGGIL TUH”.
“CIEE RIO, GUE CEMBURU NIH. HAHAHA
SELAMAT BERBAHAGIA YA, YO. GUE IKUT BAHAGIA KOK”. Banyak lagi celetukan-celetukan itu terdengar. Dan lebih parahnya
guru yang mengajar itu tidak menegur mereka. Ify menggaruk-garuk kepalanya
dengan bingung. Pemuda itu salah tingkah. Dia menepuk keningnya. Tidak habis
pikir dengan kelakuan teman-teman sekelasnya itu. Bikin malu saja, pikirnya.
Pujaan hati manggil? Si Ibu Jeni pujaan hatinya ketua
OSIS disini?! Batin Ify histeris dan tidak menyangka.
“Pssttt..” Ify menoleh ketika
mendengar desisan yang tertuju kepadanya. Dia menghampiri kakak kelas itu yang
sebelumnya menyuruhnya untuk mendekat. “Itu anak suka sama elo tuh”. Seketika
wajah Ify merona. Tanpa berkata-kata, dia langsung berdiri tegak dan kemudian
menghampiri sang guru. Oke, persepsi
tadi anggap saja tidak pernah terjadi, pikirnya.
“Saya permisi, Bu”. Guru itu
mengangguk dengan seulas senyum yang seperti ikut serta mengoloknya. Dengan
tergesa dia melangkah keluar kelas itu.
Tanpa dia sadari, kakak kelasnya
yang bernama Fabrio Saputra itu telah melangkah di sampingnya.
“Eh..eng..maaf buat yang tadi”. Ify
tersentak dan kemudian menoleh ke sumber suara.
‘Huwanjir,
ini kakak kelas kok kalo diliat dari deket begini cakep banget yak! Keren!
Manis pula’ batin Ify yang sudah ngalor ngidul.
Fabrio atau yang sering dipanggil
Rio itu, menatap Ify bingung
yang berhenti melangkah, otomatis Rio juga menghentikan langkahnya.
Ini cewek kenapa? Malah bengong. Rio pun ikutan bengong. Dan saat itu, mata
mereka beradu pandang.
‘Astaga,
itu mata bening amat’ Rio membatin.
‘Ih,
tajem banget, bikin melting’ ini
Ify yang membatin.
Sampai suara bel pergantian
pelajaran berbunyi, membuat keduanya terkaget-kaget. Rio dan Ify terlihat salah
tingkah. Pemuda itu menggaruk-garuk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
Wajahnya merona, begitupun dengan Ify. Gadis satu itu memainkan jari-jemari
mungilnya. Rona merah itu menghiasi kedua pipi Ify.
“Eh..eng..gue..gue duluan ke kelas,
Kak. Permisi” pamit Ify pada Rio.
Rio mengangguk dan kemudian Ify
melenggang pergi. Pemuda itu masih berdiri mematung di tengah koridor. Dia
tertawa kecil mengingat adegan tatapan mata tadi.
“And
finally, I have a choice” gumam Rio. Belum jauh Ify melangkah, Rio menarik nafas dalam dan kemudian berteriak
membuat gadis itu berhenti melangkah dan mematung disana. “IFY, I LOVE YOU!!”.
Oke, ini mungkin terlalu frontal dan sangat cepat, sekaligus sangat anti mainstream. Bayangkan berteriak seperti
itu di koridor sekolah ketika jam pelajaran masih berlangsung. Siapa berani
kena amuk, gaplok, atau hukuman dari guru? Tapi memang ini yang dirasakan pemuda
satu ini sejak dia memberikan arahan pada masa MOS tiga bulan yang lalu. Dan
perasaan itu tidak dapat lagi dia tahan.
Para murid yang mendengar teriakan itu mengintip dari
jendela kelas dan bahkan ada yang keluar kelas. Mumpung, tidak ada guru pikir
mereka. Teman-teman sekelasnya yang saat itu juga tidak sengaja mendengar
teriakan dari suara yang sangat mereka kenali ikut keluar kelas, menghiraukan
guru fisika tadi yang tengah bersiap mengemasi barang-barangnya untuk segera
bergantian dengan guru lain.
Hening. Tidak ada yang bersuara. Ify menoleh ke belakang
perlahan dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Be mine, please?”
Itu sebuah perintah atau pertanyaan? Ify bingung dibuatnya. Samar-samar suara
seorang murid terdengar, berseru ‘SAY
YES! SAY YES! SAY YES!’ yang lama-lama diikuti oleh yang lainnya, sehingga
di koridor kelas XI itu menjadi ramai.
Ify terlihat panik. Gadis itu menatap sekeliling dan
kemudian menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
“Eng..ee..” Mendengar Ify yang mulai bersuara, Rio
menenangkan murid-murid itu. Membuat mereka kembali hening.
Ify memandang Rio yang juga tengah menatapnya dengan
penuh harap. Dia bingung. Semuanya kenapa jadi seperti ini? Padahal tadi hanya
disuruh memanggil Rio karena pemuda itu dipanggil seorang guru. Ify menggigit
bawah bibirnya. Gugup? Banget. Tapi..dicoba bisa ‘kan? Sebenarnya ketos satu
itu cukup membuatnya kagum sejak MOS. Dan tak jarang dia pernah berandai-andai
memiliki pacar seperti Rio.
“I’ll try”.
Kalimat singkat itu membuat yang tadinya hening seketika menjadi ramai kembali.
Kali ini dengan kata-kata syukur, atau selamat yang ditujukan kepada Rio dan
Ify.
Gadis itu hanya tersenyum paksa ketika beberapa kakak
kelasnya menyalaminya dan mengucapkan selamat. Lain halnya dengan Rio yang saat
itu hanya bengong dengan mulutnya yang menganga tak percaya. Kedua lututnya
seketika lemas dan dia pun terjatuh bersimpuh dengan kedua lututnya yang
membentur lantai. Teman-teman sekelasnya yang tadi mengejek di kelas dan
berseru paling keras tadi berlarian menghampiri Rio. Mengguncang-guncang
tubuhnya yang lemas. Dan berteriak kegirangan. Ini yang diterima Rio, kenapa
mereka yang bersemangat?
Ify menatap pemuda itu yang masih menatapnya dengan
pandangan tidak percaya. Itu orang kenapa begitu ya? Kok udah kayak denger
berita duka aja sih? Batin Ify heran. Seharusnya ‘kan kalau diterima seperti
itu berteriak kegirangan seperti teman-temannya yang mengelilinya itu.
Semua mendadak hening ketika suara tegas dan lantang
berkumandang di tengah aksi kegirangan mereka.
“APA YANG SEDANG TERJADI DISINI?!! CEPAT MASUK KELAS ATAU
LAPANGAN JADI TEMPAT BELAJAR KALIAN SAAT INI!!!”
Oke, itu suara guru kedisiplinan di sekolah ini. Para
murid yang kegirangan tadi berubah menjadi tegang. Dan melangkah memasuki kelas
seperti robot. Diikuti oleh Rio dan Ify yang juga ketakutan. Rio yang memang
ingin pergi ke ruang guru tidak ikut melangkah bersama teman-teman sekelasnya.
Dia melangkah cepat dan kemudian mensejajarkan langkahnya dengan Ify.
“Makasih udah mau coba terima. Mungkin ini norak, tapi
beneran...I love you with big big big love” ujar Rio pelan
dan sangat cukup terdengar di indera pendengaran Ify.
Gadis itu hanya menunduk malu, menyembunyikan kedua
pipinya yang memerah. Rio menyadari itu dan kemudian terkekeh pelan.
“And I’ll try to
love you more” balas Ify. Rio tersenyum mendengarnya sembari menepuk pelan
pucuk kepala Ify, membuat Ify seperti tersengat listrik.
“FABRIO! ALIFYA! CEPAT SELESAIKAN URUSAN KALIAN SEKARANG
JUGA DAN SEGERA MASUK KELAS!!”
Suara lantang
itu membuat mereka terkaget-kaget dan mempercepat langkah mereka. Cukup untuk
saat ini, lebih baik hindari macan yang tengah haus akan kedisiplinan itu dulu.
0 komentar