JAKET -Drabble-



Udara pagi ini memang sangat dingin. Mungkin dikarenakan semalam hujan dengan derasnya mengguyur di sekitar Jakarta. Kira-kira sejak pukul 11 malam hujan turun. Pagi ini pun masih tersisa dengan rintikannya yang halus.
Dan suasana menyejukkan itu, hampir saja membuat Alifya terlena dengan alam bawah sadarnya. Dan membuatnya pagi ini tegesa-gesa karena bangun lewat dari waktu yang seharusnya.
Mungkin ini hari sial, karena dia yang terburu-buru, membuat Alifya atau gadis yang kerap dipanggil Ify itu tidak membawa jaket atau sesuatu yang dapat menghangatkan tubuhnya. Dan berakhir pula di kelasnya, dimana seluruh AC yang menyala. Walaupun temperaturnya di posisi 29°, namun tetap saja, pagi yang dingin ditambah pendingin ruangan yang menyala. Entah siapa yang menyalakannya, Ify terus mengumpat dalam hati. Sial lagi, dia tidak menemukan remote dari AC tersebut. Orang yang nyembunyiinya kurang kerjaan banget sih, batinnya kesal.
"Heh, kenapa lo?" tanya seseorang yang tiba-tiba sudah duduk di kursi sebelahnya. Ify sedikit terlonjak dan kemudian menoleh. Dia teman sekelas Ify, sekaligus ketua kelasnya. Fabrio Saputra dengan panggilan akrabnya Rio.
"Gak..gak.." jawabnya tidak jelas sambil mendesis karena kedinginan.
 Belum sempat Rio bertanya lebih lanjut, bel masuk berbunyi seiringan dengan masuknya guru mengajar di jam pertama. Membuat Rio mengurungkan niatnya dan kembali ke tempat duduknya.
Selama pelajaran berlangsung, Ify tidak fokus karena udara yang sangat dingin. Rata-rata, teman sekelasnya itu memakai jaket. Hanya ada tiga orang yang tidak pakai termasuk Ify. Dua orang itu cowok, jadi cukup kebal dengan udara dingin.
"Via, ada jaket lagi?" tanya Ify lirih. Giginya mulai bergemeletuk menggigil.
Devia, teman sebangku sekaligus teman dekat Ify menoleh dan sedikit tersentak melihat keadaan Ify. Bibirnya gemetar dan pucat. Kondisi yang mengenaskan.
"Gak ada, Fy. Lo ke uks aja gih. Lo bisa mati kedinginan kalo kayak gini" jawab Via pelan. Agar tidak terdengar guru.
"Gak ah. Masa' cuma kedinginan harus ke uks".
"Yeee..setidaknya lo bisa ngehangatin badan lo. Disana ada penghangat ruangan". Ify menggeleng pertanda tidak mau. Bukannya tidak mau, siapa yang tidak ingin memboloskan diri barang cuma satu pelajaran, apalagi pelajaran matematika seperti saat ini. Hanya saja, alasannya tidak akan diterima oleh guru. Alasan yang tidak logis. Masalahnya Ify tidak pandai berbohong.
Belum lama dia merenung bagaimana cara yang harus dia lakukan agar tidak kedinginan, suara pelan Via dan sebuah jaket biru langit bercorak putih terulur di hadapannya dan kemudian tergeletak di meja membuatnya tersentak.
"Nih, pakai".
Sejenak dia menatap jaket itu dan kemudian menatap Via. Gadis itu tersenyum. Namun, senyum itu menyiratkan dua hal. Menenangkan dan...menggoda.
"Dari pak ketua". Ucapannya itu sontak membuat Ify lagi-lagi tersentak. Kemudian, Ify menatap Rio yang duduk lumayan jauh dari tempatnya. Pemuda itu tampak duduk tenang dan memperhatikan guru. Dia baru ingat, tadi saat menghampirinya, Rio memakai jaket itu, dan kini hanya berlapiskan kemeja sekolahnya.
Rio yang merasa diperhatikan, menoleh dan setelahnya tersenyum ke arah Ify. Sontak membuat rona tipis di kedua pipi Ify.
 Sebuah getaran dari saku rok nya, membuyarkan lamunan Ify. Bergegas dia ambil hapenya dan membuka pesan yang masuk itu.

From: Pak Ketua
Smg bisa ngehngtin bdn lo

Pesan singkat itu menambah rona merah di kedua pipinya.
"Oy, Fy. Jaketnya jangan dianggurin. Atau gak gue balikin lagi tuh" ucap Via pelan yang menyentaknya dan segera Ify memakai jaket biru corak putih yang sedikit kebesaran itu. Hangat! Sungguh! Ify tidak pandai berbohong, bukan?
Wangi parfum Rio langsung menyeruak ke indera penciumannya. Yang membuat pacuan detak jantungnya bertambah.
Ify kembali mengambil hapenya, dan membalas pesan singkat dari sang ketua kelas tadi. Hanya mengucapkan terima kasih. Tapi entah sejak kapan ketika membalas pesan dari pemuda satu itu ada iringan detak jantung yang cukup kencang.
Ify kembali menoleh ke arah Rio yang ternyata juga menatapnya dan kemudian mengerling ke arah Ify sembari tangannya yang memegang hape di laci meja.

You May Also Like

0 komentar