SERANGKAI KISAH [1 of 2]
Terlihat
di sebuah perpisahan anak-anak TK itu cukup ramai. Menarik perhatian
orang-orang akibat aksi pertunjukkan dari anak-anak berbakat di TK itu. Namun,
tidak untuk gadis kecil satu itu yang masih setia berdiam diri di tempat
duduknya. Merasa terus gelisah dan resah. Ia memang tipe anak yang tidak suka
dengan keramaian seperti ini. Namun, kegelisahan itu tetap ia tahan dan pendam.
Gadis kecil itu sontak menoleh tatkala wali kelasnya
memanggil untuk maju ke atas panggung. Berperan sebagai simbolik penyerahan
pelepasan dari ketua yayasan sekolahnya. Tetapi, gadis kecil itu merengek tidak
ingin maju ke panggung itu.
“Nggak mau” rengeknya sembari memeluk sang Bunda yang
berada disampingnya. “Ify nggak mau, Ma”. Dan gadis kecil yang bernama Ify itu
mulai menangis sembari terus memeluk bundanya.
Wali kelasnya nampak bingung dan kemudian tatapannya
teralih pada teman satu kelasnya yang tengah duduk tepat di samping Ify saat
itu.
“Ah, Rio saja yang menggantikan Ify, mau ya?” Rio yang
sedang memerhatikan Ify di sampingnya sontak menoleh dan mengangguk. Kemudian
pemuda kecil itu beringsut dari tempat duduknya dan mengikuti langkah kaki wali
kelasnya itu.
Mereka menunggu tepat di samping bawah panggung.
“Ify kenapa nangis, Bu?” tanya Rio polos pada wali kelasnya.
Beliau menoleh dan tersenyum. Mengusap lembut pucuk kepala Rio.
“Nggakpapa. Dia cuma nggak mau maju. Makanya jadi Rio
yang gantiin”.
Rio mengangguk-ngangguk seolah ia sangat paham. “Oh, jadi
Rio penyelamat Ify ya, Bu?”.
**
4 tahun kemudian.
Di sebuah sekolah dasar negeri di kota itu nampak ramai
siswa-siswi yang berhamburan keluar kelas. Bel istirahat tepat berbunyi tadi. Namun
tidak untuk siswi yang satu itu. Ia tengah mencari-cari sesuatu di dalam
tas-nya. Sedikit gelisah. Sesuatu tersebut tak dapat ia temukan. Ia pasrah dan
kemudian menghela nafas.
Kejadian itu ternyata dilihat oleh seorang teman satu
kelasnya dari ambang pintu. Niatnya ingin mengambil buku untuk dikembalikan ke
perpustakaan, namun gelagat gadis kecil itu membuatnya berhenti melangkah dan
memperhatikannya. Siswa iru mendekat. Menangkap siratan wajah yang sedih.
“Ify kenapa?” Siswi yang ternyata bernama Ify itu
menoleh. Dan kemudian menggeleng masih dengan wajah murung. “Nggakpapa, bilang
aja sama aku”. Siswi itu kembali menghela nafas.
“Aku nggakpapa, Rio”.
“Digangguin sama Daud ya? Aku bilangin Ibu Guru deh”.
Langkah Rio tertahan ketika lengannya dicekal Ify. Pemuda kecil itu berbalik
badan kembali, melirik lengannya dan kemudian menatap Ify kembali. “Kenapa? Biarin,
daripada kamu-nya digangguin terus”.
Daud, teman sekelasnya juga. Anaknya itu sebenarnya tidak
lah nakal, hanya saja suka jahil. Terlebih lagi ke Ify. Suka menggoda Ify.
Katanya sih Ify itu siswi paling cantik di kelas dan sekolah. Terkadang Ify hanya
diam menanggapi kejahilan Daud. Dan tak jarang pula ia berkutik.
Ify melepaskan cekalan tangannya. “Bu..bukan itu”. Rio
menatapnya bingung. Gadis kecil itu memainkan jari-jemarinya dengan gelisah.
“A..aku..nggak bawa uang jajan”. Rio membulatkan mulutnya. Ia merogoh saku
celana merahnya itu.
“Nih. Pakai uang ku aja dulu”.
“Nggak usah, aku nggakpapa kok”.
“Udah, nih. Nanti kamu sakit kalo nggak makan”. Rio
meletakkan uang itu di tangan Ify.
“Makasih, Rio”.
Rio tersenyum dan mencubit pipi Ify gemas.
“CIEEEEEE” sorakan teman-temannya bergemuruh dari ambang
pintu kelas dan juga di setiap balik kaca jendela yang menyembul terlihat
kepala anak-anak itu.
Rio dan Ify menoleh kaget. Mereka tersentak melihat teman-temannya
telah ramai disana.
“CIEEE, Rio sama Ify pacaraaann” ujar salah satu dari
mereka.
Dua insan cilik itu salah tingkah dan terlihat panik.
Terlebih Ify.
“Kami nggak pacaran tau!” bela Rio. Ify mengangguk-angguk
setuju.
“Rio-Ify pacaraann”.
“CIEEEEEEE” sorakan itu kembali terdengar. Ify sudah
menahan tangisnya. Ini kali pertama diperlakukan seperti itu oleh
teman-temannya.
Suara bel pertanda masuk berbunyi, membuat para
siswa-siswi saat itu berlari bubar menuju kelas masing-masing. Rio kembali
menoleh pada Ify yang terlihat ingin menangis.
“Jangan nangis. Mereka udah pergi kok”. Ify mendongak
menatap Rio yang tersenyum dan bergeming. Rio melangkah menuju bangkunya, tepat
di belakang Ify. Dan gadis kecil itu membenarkan posisi duduknya, kemudian
menyimpan uang pemberian Rio di saku baju.
Ify menoleh ketika merasa pundaknya dicolek oleh
seseorang dari balik tubuhnya. “Pulang sekolah aja kamu jajannya. Uang itu biar
buat kamu aja”.
“Tapi ‘kan..”
“Sssstt” potong Rio sembari menempelken jari telunjuknya
ke mulut Rio, menyuruh Ify untuk diam, karena guru pengajarnya saat ini telah
melangkah masuk kelas. Ify menurut dan membalikkan kembali tubuhnya menghadap
depan.
Rio sedikit tersentak ketika menerima secarik kertas dari
Ify. Ia mengambil kertas itu dan membuka lipatannya.
Terima kasih, Rio.
Rio baik, Ify jadi suka..
**
Seorang siswa tengah melangkah santai di koridor utama
sekolahnya untuk menuju aula karena sebuah panggilan perintah kepada seluruh
murid SMP negeri itu untuk berkumpul. Ia melangkah sendirian di tengah
kerumunan teman-temannya yang lain. Sebenarnya tidak sendiri karena ada
beberapa sahabatnya, namun entah kemana mereka saat ini. Mereka sangat dekat,
tetapi tidak satu kelas. Ia sedikit terhuyung ke depan tatkala seseorang
menabrak dirinya dari belakang. Ia menoleh.
“Eh, Yo, maaf banget. Dikejer sama nenek sihir gue” ujar
seseorang yang ternyata salah satu dari sahabatnya. Bernama Cakka.
Berpenampilan kini yang acakan. Sedikit agak gembul. Sahabatnya satu ini suka
telmi(telat mikir), tetapi otaknya tidak bodoh-bodoh amat. Semester satu
kemarin dia masuk sepuluh besar tuh. Orangnya suka bernarsis ria. Kelewat PD.
Wajahnya dibilang di atas rata-rata deh. Mirip Justin Bieber.
“Iye. Acakan banget lo, Kka”. Mereka kemudian melangkah
beriringan menuju aula.
“Ya itu, si nenek sihir KDRT-in gue”. Rio tertawa geli
mendengarnya.
Kalau yang ini pasti tahu. Pemilik wajah tampan, manis, cool. Terkadang suka jaim.
“Cakkaaaaaa..gue belum selesai nganiaya eloo yaa” teriak
salah satu siswi dari kejauhan. Cakka dan Rio menoleh bersamaan. Terlihat kedua
tangan siswi itu tengah dicekal oleh dua sahabatnya lagi.
“Waduh..” ringis Cakka gelisah.
“Ganas lo, Fy”.
Ify gadis manis
plus cantik. Cerdas. Namun, kelakuannya agak gimanaa setelah berteman
dengan empat pemuda itu.
Kalau yang ngomong tadi Gabriel. Perawakannya tidak jauh
beda dari Rio. Sikapnya sama persis. Namun, tidak jaim, suka ceplas-ceplos.
Statusnya sepupu Ify yang baru pindah ke kota ini ketika kelulusan SD, dari
Batam.
“Tau nih. Gue malu, Yel, bawa nih anak”. Ini Alvin.
Pemuda keturunan Tiongkok ini cueekk abiss sama orang lain. Jangankan bertemu
langsung, membalas sms saja kelewat cuek. Lebih parah lagi, tak jarang sms itu
tidak dibaca atau dibuka sama sekali. Tapi kalau sudah berkumpul sama
sahabat-sahabatnya itu, bodo amat mau dibilang apa, yang penting happy.
**
Di aula itu telah terkumpul semua murid. Mereka duduk
tidak beraturan. Padahal sudah diperintahkan untuk duduk sesuai dengan kelas
masing-masing. Namanya juga ABG, ya seperti itu jadinya. Para guru tidak bisa
berbuat apa-apa lagi. Yang penting mereka cukup menyimak arahan dari kepala
sekolah saat ini.
Ify duduk di antara sahabat-sahabatnya saat itu. Kantuk
pun melanda. Ia menggerutu dalam hatinya. Rio, Alvin, Gabriel tampak menyimak.
Sedangkan Cakka berpura-pura mendengar dengan tatapan menunduk, yang padahal ia
sedang sibuk mengotak-atik hp-nya. Membuka jejaring sosial media.
Gabriel terlonjak ketika kepala Ify mendarat di pundak
kanannya.
“Buset, nih anak tidur”. Alvin, Cakka dan Rio menoleh
serempak dan cekikikan melihatnya.
“Yang ingin tidur lebih baik pulang saja ke rumah!
Daripada tidak mendengarkan arahan dari Saya”. Ify tersentak membuka matanya
dan menegakkan badannya kembali. Kepala sekolah kembali membicarakan topik
semula.
Ify menoleh ke arah Gabriel, Alvin, Cakka, dan Rio yang
sudah menahan tawa mereka masing-masing. Ia melotot garang.
“Apa lo semua?” ucapnya garang berbisik.
Ify menggerakkan tubuhnya merosot ke bawah. Duduk di
bawah lantai. Tidak kelihatan kepala sekolah dan para guru. Untung tidak ada CCTV di aula itu.
“Heh! Ngapain lo?” tanya Alvin pelan. Mereka kaget
melihat Ify duduk di bawah lantai.
Ify menyeringai. “Gue ngantuk. Bangunin ya kalo udah
kelar”. Gadis itu menyandarkan kepalanya di kaki Gabriel yang tepat di sebelah
kirinya.
“Et dah”.
“Tidur beneran tuh” ujar Cakka.
“Iya, biarin aja. Kasian” balas Rio yang mulai angkat
bicara.
Ia menatap wajah Ify yang tengah tertidur. Polos. Masih
seperti dulu. Wajah itu tampak tak ada beban sedikitpun. Ia tak menyangka sudah
lebih dari 8 tahunan ia bersekolah yang sama dengan gadis itu. Entah mengapa
mereka selalu dalam satu sekolah.
Rio tersenyum kecil dan bergumam dalam hati ‘Lo emang
berubah. Nggak semanja yang dulu. Lebih berani dan ya..tomboy lah. Tapi lain
dari itu, nggak ada yang berubah sedikitpun. Masih Ify yang dulu. Juga ada yang
bertambah ding, kecantikan lo’.
**
Kantin itu ramai siswa-siswi. Di antara banyak
siswa-siswi itu, terdapat sekelompok murid yang tengah bersenda gurau di sebuah
meja panjang kantin itu. Itu mereka. Kembali berkelompok di sebuah SMA setelah
mencapai kelulusan di SMP. Dan mereka sendiri tak menyangka bisa satu sekolahan
lagi untuk tahun ini. Terlebih lagi Rio. Sudah 11 tahun ia satu sekolah dengan
Ify.
“Ini Abang gue, Cakka. Udah gue sewa daritadi. Lo sama
Alvin aja deh” ucap Ify sembari menarik lengan kiri Rio.
“Nggak mau. Rio sobat gue. Lo aja yang sama Alvin atau
Iel tuh. Pada nganggur juga”. Cakka menarik lengan kanan Rio. “Yo, ajarin gue
ini nih”.
“Heh! Gue duluan yang minta ajarin diaa, kok elo yang
embat siih?” Wajah Rio saat itu sudah tidak dapat diartikan lagi. Sesekali ia
meringis tangannya ditarik-tarik.
“Lo itu pinter, Ify. Nggak perlu minta ajarin Rio. Lah
gue? Nilai gue disini jeblok mulu”.
“Eehh, udah udah” lerai Alvin. “Lo sama gue aja, Fy. Sini
gue ajarin”. Ify melepaskan lengan Rio kasar. Sebelum mendekat ke Alvin, ia
sempat menjulurkan lidahnya pada Cakka. Tentu dibalas oleh pemuda itu.
“Aduuhh. Baek-baek lo, Fy. Sakit nih tangan gue” ringis
Rio. Ify menyeringai lucu.
Ia mengambil posisi duduk di antara Alvin dan Gabriel.
Mungkin melihat Ify menimbulkan rasa keirian yang begitu, begitu, begitu banget
kali yaa di diri fans-fans empat pemuda itu. Banyak yang suka sih.
“Aahhh, gue masih nggak ngerti, Ko. Anti kimia deh”
gerutu Ify sambil menggaruk-garuk kepalanya frustasi.
“Lo nyerah duluan sih. Mana bisa ngerti kalo gitu”. Ify
cengengesan.
“Gue ngantuk nih”.
“Bawaan lo ngantuk mulu, Fy” ujar Gabriel. Ify menguap
dan menutup mulutnya.
“Nggak tau. Sejak SMP maunya tidur terus”. Ify memberesi
buku-bukunya dari atas meja kantin itu. Beranjak dari tempat duduknya. “Eh,
Bang Iel, Bang Rio, Koko Apin, sama Cakkadut, gue duluan ke kelas ya” pamit Ify
sembari mengabsen satu-persatu dari mereka berempat. Cakka mendelik.
“Gue kok nggak enak banget sih panggilannya?”
“Lah terus lo maunya gimana?”
“Panggil gue ganteng”.
BUK! Buku-buku Ify sukses mendarat di kepala Cakka dengan
mulus.
“Ngimpi”. Ify langsung berlari menghindari amukan Cakka.
**
Perjalanan mereka menuju Puncak cukup mengasyikkan saat
itu. Itu adalah salah satu rangkaian kegiatan dari classmeeting sekolah mereka. Ujian semester satu sudah dilewatkan.
Kini waktunya untuk berefreshing
sejenak sampai pada akhirnya harus kembali berkutat pada buku-buku tebal yang
terdiri dari banyak kalimat dan juga rumus-rumus.
Seperti biasa, mereka berlima duduk berdampingan.
Cakka-Alvin-Gabriel-Ify-Rio. Mereka memilih duduk di bangku bus paling
belakang, karena hanya bangku itulah yang pas untuk jumlah mereka.
“Waahh, kalo di jalan begini paling enak tidur” ujar Ify.
“Iya, ujung-ujungnya pundak gue sasaran empuk” sindir
Gabriel. Ify menyeringai lucu.
“Nyaman sih. Eh, tapi nggak elo terus kali, pundak Alvin
sama Rio juga sering gue jadiin tempat tidur”.
“Iya, tapi lebih sering banget ke gue”. Ify tertawa.
“Elo kan Abang sepupu gue yang paling cakep”.
“Yeee..nggak ada hubungannya kali” sahut Cakka dari
sebelah Alvin. Ify mendelik. “Eh, lo kok nggak pernah tiduran di pundak gue
sih, Fy?”
“Nggak mau. Pundak lo keras sih”. Serentak Alvin, Gabriel
dan Rio tertawa terbahak. Sedangkan Cakka hanya bisa memajukan bibirnya. Ify
cengengesan melihatnya.
Suasana kembali hening di antara mereka. Hanya suara
mesin bus yang tengah berjalan dan beberapa murid yang sedang mengobrol saat
itu. Ify menoleh pada Rio yang sedang menatap keluar jendela bus.
Ia mengamati setiap lekukan wajah pemuda itu. Ternyata
sejak dari TK dulu, pria itu telah banyak berubah. Lebih tampan dari dulu. Dia
tak menyangka bisa bertahun-tahun bisa satu sekolahan dengan Rio.
Rio yang merasa diperhatikan pun menoleh. Dua pasang mata
itu bertemu. Menimbulkan beberapa percikan sengatan listrik di kedua dada insan
itu. Namun, Rio tercepat sadar.
“Kenapa?” Ify tersadar dan menggeleng. Ia memalingkan
wajahnya yang bersemu merah. Rio tersenyum kecil.
Lagi-lagi Ify merasakan sengatan itu ketika Rio mengacak
lembut pucuk kepalanya.
Ify meraba dadanya. Nafasnya sedikit memburu. ‘Waduh, gue
bisa kena serangan jantung kalo begini terus. Gue kenapa sih ya?’ batinnya.
“Lo kenapa, Fy?” tanya Gabriel sedikit panik melihat
sepupunya satu itu. Cakka, Alvin dan Rio menoleh. “Lo ada asma ya?” Ify masih
bergeming. Mengatur nafas dan menetralisir detak jantungnya yang tidak karuan.
Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya
perlahan, kemudian menoleh dengan seringaian khas dirinya.
“Latihan pernafasan” dustanya.
“Yaelah, gue kira kenapa. Bikin panik orang aja lo” ucap
Gabriel yang bernafas lega.
“Hehe, udah ah, gue ngantuk”. Ify mulai menyandarkan
kepalanya di pundak Gabriel. Dan tertidur lelap hingga sampai tempat tujuan.
**
0 komentar