SERANGKAI KISAH [2 of 2]



Ternyata memandang langit malam di Puncak itu sungguh mengesankan. Beribu bintang berhamburan disana. Tentu ditemani dengan bulan dengan cahaya kemuningnya yang cantik. Namun, suhu di Puncak sangat dingin yang membuat mereka untuk mengenakan jaket tebal.
            Gadis itu tampak asyik memandangi langit penuh bintang itu dari ayunan depan villa tempat mereka menginap. Pikirannya melambung jauh entah kemana. Tak lama, ia teringat kejadian di bus tadi. Debaran jantung itu kembali membuncah ketika mengingatnya. Teman masa kecilnya itu mampu membuatnya seperti ini. Apa mungkin ini yang namanya cinta? Ia terserang virus merah jambu itu.
            “Hoy! Ngelamun lo. Kesambet baru tau” kejut seseorang dari arah belakangnya yang membuat gadis itu terlonjak kaget. Ia menoleh dan memukul lengan pemuda itu. “Hehe aduuh..iya maaf. Sakit nih”. Ia cemberut. Pemuda itu mengambil posisi duduk di sampingnya.
            “Heh! Udah kayak bebek aja”.
            “Itu juga gara-gara elo”. Pemuda itu menyeringai.
            “Kenapa lo? Sendirian, ngelamun, di ayunan, galau lo? Ngerasa model video klip”.
            “Iihhh, Kokooo. Lo cereweeett bangeett yaaa” ujarnya sambil memukul-mukuli pemuda yang bernama Alvin itu. Alvin meringis.
            “Sakiitt wooyy”. Gadis itu cengengesan dan kemudian kembali menatap langit. “Galau ya, Fy? Galau karena gue nggak bisa jadi pacar lo?” Ify menoleh dan mendelik.
            “Apaan tuh?”
            “Teeett. Jaja Miharja”.
            “Yaak, Anda benaarrr. Selamat Anda mendapatkan hadiah 500 rupiah”.
            “Terima kasih. Nanti uang itu saya sumbangkan ke KAS Negara. Akan Saya kirim melalui Pos”. Mereka tertawa bersama. Lepas.
            “Lo itu bawel banget ya, Ko. Tapi kenapa sama orang lain lo cuek pakek bingiitt?” Alvin mengikuti kegiatan Ify tadi, menatap langit. Pandangannya menerawang.
            “Entahlah. Gue cuma bisa lepas kalo lagi sama kalian semua”. Ify masih menatap pemuda itu. “Sekalipun sama keluarga gue. Sejak kejadian perceraian itu, gue memilih untuk tertutup dari orang-orang sekitar. Termasuk keluarga gue yang sering datang berkunjung ke rumah. Tapi..semenjak kalian datang dan ngajak gue buat ikut gabung, gue bisa ngerasain gimana bahagia yang nyata itu”.
            “Emm...emangnya lo kecil dulu..”
            “Gue nggak bisa inget, Fy. Gue pernah ngalamin amnesia. Dan itu ngerenggut semua kenangan-kenangan masa kecil dulu. Dan sejak itu yang gue inget cuma adu mulut dan perceraian kedua orang tua gue”. Ify menatap Alvin sedih. Pemuda itu tertawa hambar. “Yang gue inget yang cuma kemirisan aja” Tak terasa setetes air mata itu jatuh dari mata Alvin.
            Alvin tersentak tatkala Ify menubruk tubuhnya dan memeluknya erat.
            “Koko yang sabar yaa. Kita-kita ada disini kok. Koko nggak sendirian. Kita selalu ada buat Koko”. Alvin tersenyum dan membalas pelukan Ify hangat. “Nggak semua kenyataan itu pahit kok. Jangan sedih ya”. Alvin mengangguk.
            Thanks ya”. Alvin nambah mengeratkan pelukannya.
            Ah, sahabatnya satu ini bisa saja membuat orang menjadi tenang. Pelukan hangatnya seakan membuat bebannya menghilang seketika.
            “Wooyyy, enak banget lo, Vin!” suara Cakka tiba-tiba terdengar dari belakang mereka. “Ikutan dong, hehe”. Gabriel menoyor Cakka. Pemuda itu hanya meringis.
            Alvin dan Ify melepaskan pelukan satu sama lain, menoleh ke sumber keributan. Terlihat Cakka, Gabriel dan Rio yang melangkah  menghampiri. Kemudian ketiga pemuda itu ikut mengambil posisi duduk di ayunan.
            “Fy” ujar Cakka sembari merentangkan kedua tangannya. Semua menatapnya heran. “Peluk gue dong, kayak Alvin tadi”.
            “Woooo, mau lo, Kka” seru Gabriel.
            “Eh, eh, tadi ada yang..aduuhh” Cakka meringis kesakitan ketika ada sesuatu yang menginjak kakinya keras. Alvin dan Ify menatap Cakka bingung. Gabriel sudah cekikikan daritadi. Sedangkan Rio memasang tampang wajah yang seakan-akan tidak ada apa-apa. Cakka mengelus-ngelus kakinya yang beralaskan sendal itu. Meniup-niupnya.
            “Kenapa sih?”
            “Nggak ada. Cakka emang rada gila” Rio menjawab sebelum Gabriel dan Cakka menjawab yang tidak-tidak.
            Mereka bersenda gurau. Tak jarang pula Ify melirik-lirik Rio yang tepat berada di hadapannya saat itu. Dan tak jarang pula debaran jantung itu menguasai dirinya. Disela canda tawa mereka, tiba-tiba Ify bersin. Semua menoleh. Ify mengucek-ngucek hidungnya yang sedikit gatal.
            “Apa lo semua? Belum pernah liat cewek cantik bersin ya?”
            “Lo masuk aja deh, Fy. Memang disini dingin banget suhu-nya. Nanti lo masuk angin lagi” ujar Gabriel. Ify bersin-bersin lagi.
            “Ahh, gue nggakpapa kali. Lebay ah lo, Yel”.
            “Yaelaah, bukannya gitu, tapi emak lo nitip lo ke gue. Lo kenapa-napa, gue yang kena”. Ify cemberut mendengarnya.
            “Iiihhh, Ify jeleeekkkk”.
            “Cakkaaaaaaaa”.
            Untuk yang kesekian kalinya, Ify membully Cakka yang berada di samping Rio. Cakka meringis-ringis, sembari melindungi kepalanya dengan kedua tangannya.
            “Jatuh lo nanti” ucap Alvin. Namun, Ify masih setia memukul-mukuli Cakka. Tiba-tiba ayunan itu bergerak terayun sedikit kencang, membuat keseimbangan tubuh Ify goyah. Untung dengan sigap Rio menahan tubuh Ify yang hampir terjatuh ke tanah, dan kini malah Ify terjatuh ke pangkuan beserta pelukan Rio.
            Dan dua pasang mata itu kembali bersirobok. Dan debaran jantung itu pun kembali datang. Sengatan itu kembali menjalar. Ify segera tersadar dan beringsut dari pangkuan Rio. Pipinya merah. Kembali duduk di sebelah Alvin.
            “Ada yang malu-maluu, euuyyy” sorak Cakka. Gabriel dan Alvin tersenyum-senyum menggoda. “Cieeeee. Pipi Ify merah tuuhhh”.
            “Cakkaaa iihh”. Ia membenamkan wajahnya di lengan kanan Alvin.
            Rio salah tingkah. Ia mengacak-ngacak rambutnya.
            “Aduuh, ada yang cinlok nih ternyata” Gabriel ikut bersorak.
            “Haha teman dari kecil jadinya cintaaa” seru Alvin. Ia mengacak-ngacak rambut Ify. “Aduuhh. Iya, ampuun, Fy” Alvin meringis akibat dari serangan cubitan Ify di pinggangnya.

**

            Akibat ia bergadang semalam, kondisi tubuhnya hari ini sedikit menurun. Badannya tidak enak, meriang. Flu-nya semakin menjadi. Dan kini, ia harus berdiam diri di kamar. Sebenarnya ia sangat ingin ikut dengan sahabat-sahabatnya yang tengah berjalan-jalan di sekitar situ. Ia dipaksa mereka untuk tetap berada di kamar. Beristirahat.
            Ify beranjak dari tempat tidurnya dan melangkah menuju kamar jendela. Menatap keluar. Disana terlihat keempat sahabatnya yang sedang melangkah di sekitar kebun strawberry. Mereka terlihat sangat menikmati.
            “Huwaaaa, gue pingin ngikuuttt”. Dengan nekat, Ify segera mengambil jaket dan memakainya. Syal birunya ia lilitkan di leher. Dengan kupluk berwarna senada dengan syal-nya ia pakaikan di kepala. “Gue sehat kok nih. Mereka aja yang le....hatchiii”.

**

            “Tungguiinn gue wooyy”. Empat pemuda itu menoleh dan kemudian mendelik. Bukannya istirahat, malah keluar mengikuti mereka. Sesampainya, Ify membungkuk guna mengatur nafasnya. Tenaganya terkuras akibat berlari dari villa menuju kebun itu yang cukup jauh. Kemudian ia kembali menegakkan dirinya dan menyeringai.
            “Hehe gue bosen di kamar. Kalian enak jalan-jalan. Tanpa ngajak gueee, tegaa iihhh”. Ify meringis karena kepalanya menjadi korban jitakan keempat pemuda itu. “Aduuh”.
            “Lo bandel banget ya” Gabriel mulai mengoceh. Ify hanya memperlihatkan cengiran khasnya. Sebenarnya kepalanya sedikit pusing akibat tenaganya terkuras. “Lo itu lagi sakit. Nanti kalo lo kenapa-napa, orang tua lo panik. Terus gue yang...” belum selesai Gabriel menyelesaikan kalimatnya, Ify telah membekap mulutnya.
            “Gabriel bawel ih. Gue nggakpapa kali. Makin lama gue ngerem di kamar itu yang makin buat gue sakit. Ayooo, kita jalan-jalan”.
            Buah-buah strawberry di kebun itu sangat segar dan manis. Mereka bisa memetik sepuasnya, karena kebun itu telah disewa sebelumnya oleh pihak sekolah. Ify tersenyum melihat buah yang ia petik itu. Sebelumnya ia tidak begitu menyukai buah strawberry karena ia pernah membeli buah itu dan rasanya tidaklah manis, melainkan asam. Namun, sstrawberry di kebun itu mengubah persepsinya, bahwa setiap buah berwarna merah itu tidak semuanya asam. Strawberry di kebun ini sangatlah manis. Membuat orang ketagihan memakannya. Jika ingin bukti, lihat saja Cakka sekarang yang terus menerus memakan strawberry yang sebelumnya ia petik sendiri.
            “Cakkaaa, nanti strawberry­-nya habis lo makanin mulu” tegur Ify dari kejauhan.
            “Yeee, strawberry ‘kan buat dimakan. Sayang dong nanti kalo dia-nya busuk, mending gue makanin”.
            “Pak Totoooo, Cakkaaa rakuuusss. Strawberry Bapaakk habiiss dimakaniinn Cakkaaaa” teriak Ify yang seolah-olah berteriak memanggil Pak Toto selaku owner dari kebun itu. Cakka yang mendengarnya mendelik dan meletakkan kembali buah-buah yang berada di tangannya itu ke keranjang yang ada di dekat kakinya.
            Alvin, Gabriel dan Rio hanya tertawa-tawa melihatnya. Sedangkan Ify telah tertawa terbahak melihat ekspresi lucu Cakka.

**

            “Huwaahh..capeek juga ternyataa”. Ify membaringkan tubuhnya sejenak di pondok kebun itu. Kepalanya pusing. Sudah sedari tadi, namun tak ingin ia menunjukkannya. Bisa-bisa, Gabriel kembali berkicau. Ify memejamkan matanya guna mengusir pusing itu.
            “Hhaahhh, geraahh” ujar Gabriel sembari duduk di pondok itu. Diikuti Alvin, Rio dan Cakka.
            “Pulang ke villa aja yuk” ajak Rio yang memang sudah sangat gerah. Ia mengkibas-kibaskan bajunya. Jika seperti ini, lebih enak mandi, berendam di bathub atau di kolam renang.
            “Ayo deh”.
            “Fy, kita mau balik nih”. Ify membuka matanya perlahan. Kemudian ia menegakkan dirinya. Rasa pusing itu semakin menjadi. Sempat ia meringis, membuat semuanya menoleh mendapati Ify yang tengah memegangi kepalanya.
            “Fy, lo kenapa?” tanya Gabriel panik. Ify tersadar bahwa gerak refleksnya tadi menunjukkan bahwa dia tidak dalam kondisi yang baik. Dengan susah payah ia mendongak dan menyeringai.
            “Hehe gue nggakpapa kok”.
            “Jangan bohong. Lo kenapa? Pusing?”
            “Gue nggakpapa, Gabriel. Udah ah, ayo balik”. Ify menarik tangan Gabriel untuk beranjak dari sana.
            “Tangan lo panas, Fy” ucapnya lagi. Ify buru-buru melepaskan tangannya.
            “Yee..tangan lo aja tuh yang dingin, jadinya lo ngerasa tangan gue panas ini”.
           
**

            Sang waktu dengan cepat bergulir. Saat itu mereka telah berada diambang pintu kelulusan. Hingga waktu pengumuman itu tiba. Deklarasi kelulusan sekolahnya telah dilaksanakan. Sekolah mereka tak ketinggalan dengan aksi mencoret-coret baju sekolah. Namun tidak untuk lima sekawan itu. Mereka berpendapat, untuk apa mencoret-coret baju yang tidak ada hikmahnya? Lebih baik pergi refreshing bersama sahabat, baik itu ke mall, taman fantasi, atau sebagainya. Setelah itu berfoto ria untuk dijadikan sebuah kenangan jika kelak telah menjadi seseorang yang sukses. Dan mereka bisa mengenang masa-masa itu tanpa repot untuk membawa benda kenangan tersebut kemana pun mereka pergi.
            Dan kini, mereka telah berada di tempatnya masing-masing.
            Gabriel, kini berkuliah di ITB. Mengambil jurusan Teknik Pertambangan disana. Ia sungguh beruntung bisa dapat masuk ke universitas itu. Karena memang pesaingnya sungguhlah banyak dan mereka sempat membuat pemuda itu minder dan pesimis. Namun, nasibnya sangatlah lucky, ia dapat lulus disana.
            Alvin, ia merantau. Mendapatkan kulih di UNSRI, Palembang. Dan lulus di jurusan Kedokteran. Alvin tidak akan menyangka jika ia bisa diterima disana tanpa tes sedikitpun. Hanya dengan jalur undangan, ia dapat diterima di Fakultas Kedokteran UNSRI, yang hampir menyamai dengan Fakkultas Kedokteran UI.
            Cakka pun sama, ia merantau, terbang menuju Medan. Mengambil jurusan Hukum di USU. Ia memang pandai untuk berbicara, jangan saja ia berbicara yang tidak-tidak jika kelak telah menjadi seorang pengacara ataupun sebagainya.
            Ify. Gadis itu masih stay di Jakarta. Memilih FKIP Bahasa Inggris di UI. Sebenarnya, ia sangat ingin merantau jauh layaknya Alvin dan Cakka, namun keinginannya itu tidak dikabulkan oleh sang Bunda. Beliau berkata, lebih baik tetap bersama Bunda disini. Universitas disini juga tidak kalah hebat dari tempat lainnya, bukan? Dan apa boleh buat, Ify tidak dapat membantahnya lagi.
            Sedangkan Rio memilih berkuliah di UGM. Jurusan Psikologi. Memang sejak kelas 1 SMA, pemuda itu ingin sekali menjadi seseorang yang dapat membaca orang-orang dengan hanya melalui gelagat, sifat, sikap, atau identitas lainnya. Dan kini akhirnya, mimpi seorang Rio pun tercapai.

**

            IfyAlyssa:
Eh, weekend kita kumpul yuk. Di café biasa
AlvinJS:
Waah, boleh tuh. Kebetulan weekend lagi libur nih.
Iel:
Emm...ayok deh. Gue mau bolos ajee:D
IfyAlyssa:
Iih, Iel. Ambil cuti aja lo, nggak baik tau.
Iel:
Lo udah tobat ya? Di ustadz mana?
IfyAlyssa:
Enaak aja-_-
AlvinJS:
Eh, mana si Rio sama Ndut ya?
Iel:
Tau nih. Daritadi nggak nongol-nongol.
CakkaNrg:
Haaaayyyy, pada kangeen gue yaaa ;):*:D
IfyAlyssa:
Cakkaaaa alaaayy sejak jadi anak rantauaan. Iyuuhh
AlvinJS:
Gue anak rantauan juga kali, Fy-,-
IfyAlyssa:
Hehe yang gue maksud kan si Cakkadut doang, Ko
CakkaNrg:
Elaah, gue baru dateng juga-_-
Eh, weekend gue pulang ke Jkt nih. Jam berapaan kumpul?
Iel:
Nggak tau tuh si Ify yang buat jadwal.
IfyAlyssa:
Sekitar jam 3 sore aja ya.
Eh? Rio mana ya?
CakkaNrg:
Ecieee, nyariin pujaan hatinya tuh;););)
IfyAlyssa:
Apaan sih lo?
Lo ke Jkt, gue aniaya juga baru tau
CakkaNrg:
Aahh, ampuuunnn
MarioStev:
Hey, sorry banget baru hadir:)
Oke, weekend gue bisa.
IfyAlyssa:
Hayy, Rio. Lama nggak jumpa:D
Sip(y)
MarioStev:
Iya nih, Fy, jadi kangen gue:D
Apa kabar?
IfyAlyssa:
Haha samaan dong.
Baik kok. Lo sendiri?
MarioStev:
Masih sehat kok :)
AlvinJS:
Wooyy, pada bubaar semuanya, ada yang lagi kangen-kangenan nih, yang lain pada dianggurin :o
Iel:
Au nih si Rio, kangennya sama Ify doang, sma kita-kita kagak, huhu
CakkaNrg:
Kalian ini mengganggu orang pacaran sajaa. Biarkan mereka menikmati indahnya masa-masa mereka, cu.
IfyAlyssa:
Heh! Lo semua pada minta gue tendang?! Udah sana pada kerjain tugas lo biar nggak kena hukum dosen.
CakkaNrg:
Siap, Komandan(hormat)
Iel:
Okee, sepupu ku yang cantik
AlvinJS:
Siap akan dilaksanakan, Cantik
MarioStev:
Oke, Fy:)
Gnite ya. Jangan tidur kemaleman.
Iel:
Ehem
AlvinJS:
Uhuk uhuk.
CakkaNrg:
Aduh, mata gue kelilipan sepatu

**

            Ify datang lebih awal dari waktu yang telah dijanjikan. Ia memang terlihat bersemangat untuk bertemu sahabat-sahabatnya. Sudah lebih setengah tahun ia tidak bertemu dengan mereka. Terlalu sibuk dengan tugas kuliahnya masing-masing. Lagipula, mereka ingin bertemu pun akan membutuhkan waktu yang tidak bisa sebentar. Kini bukanlah yang dulu, hanya dengan hitungan jam saja mereka sudah bisa berkumpul. Tetapi sekarang mereka berkumpul dengan hitungan hari, bulan maupun tahun. Apalagi mereka yang berada di luar pulau Jawa. Sungguh sulit. Ini baru permulaannya saja. Untuk seterusnya, mereka pasti tidak akan punya banyak waktu. Jangankan mereka, Ify yang hanya tinggal di kota asalnya saja pun jarang mempunyai waktu senggang untuk sekedar refreshing.
            Ia tidak akan menggerutu karena menunggu lama. Salahnya sendiri mengapa datang terlalu cepat dari waktu janjinya. Disaat sedang merenung dengan menumpu dagunya dengan tangan, seseorang menepuk pundaknya. Ia menoleh dan kemudian tersenyum sumringah.
            “Rioo. Akhirnya elo dateng”. Rio terkesiap ketika Ify memeluk tubuhnya. Wajahnya memerah. Ify yang tersadar dengan refleks melepaskan pelukan itu. “Eh, so..sorry, sorry”. Gadis itu salah tingkah. Rio tersenyum dan mengangguk. Mereka berdua mengambil posisi duduk di meja yang telah Ify pesan.
            “Lo makin cantik, Fy” ujar Rio sembari memandang Ify dalam. Ify yang dipuji dan dipandang seperti itu hanya menunduk malu, menyembunyikan kedua pipinya yang telah memerah.
            “Candaan mulu sih, Yo”. Rio tertawa kecil.
            “Gue serius, Alyssa”. Jantung Ify berdegup lebih kencang tatkala Rio berbicara sangat lembut seperti itu. “Pasti udah punya gebetan di kampus baru lo”. Ify mendongak.
            “Ihh, gue di kampus bukannya sibuk cari gebetan kali”. Rio tertawa melihat ekspresi Ify yang menurutnya lucu. Memasang tampang wajah cemberut itu. “Bukannya elo ya yang jadi inceran cewek-cewek di kampus lo itu?”
            “Emang”. Ify seketika mendelik. Lagi-lagi Rio tertawa kecil melihat ekspresi itu. “Kenapa? Lo cemburu ya?”
            “Ha? Ya..eng..gak lah. Ada-ada aja sih lo”. Ify kembali salah tingkah dan memalingkan wajahnya menatap keluar jendela café.
            “Udah banyak loh yang nyatain cintanya ke gue”. Mata Ify kembali melebar saat itu.
            “Lo terima semua?”
            “Emm..gue terima nggak ya?” Hati gadis itu sudah ketar-ketir menunggu jawaban dari Rio. Mengapa dia harus seperti ini? Itu ‘kan hak-nya dia buat milih yang mana, sadar dong, Fy, batin Ify. Dia memandang Rio lesu. “Nggak gue terima semuanya”. Ify tersenyum sumringah. Tersadar melakukan hal yang mencurigakan, ia kembali memasang mimik wajah seperti biasa.
            “Kenapa?”
            “Karena gue lagi nunggu seseorang. Lagi nunggu timing yang pas untuk nyatain cinta gue ke dia”. Tidak tahu mengapa, Ify merasa bahwa tatapan Rio sembari mengucapkan kalimat-kalimat itu beranggapan bahwa dirinya lah yang ditunggu Rio. Namun, ia menggeleng kecil guna mengusir statement yang tidak masuk akal itu.
            Ditengah keterdiaman mereka kala itu, suara seseorang sontak mengagetkan mereka. Mungkin tak hanya Rio dan Ify, namun juga beberapa pelanggan café yang menoleh ke sumber suara.
            “Wooyyy, sobat-sobat gue yang ganteng dan cantik. Udah nangkring duluan aje sih. Tau deh yang lagi pacaran”. Suara itu adalah suara Cakka.
            “Weish, Cakkadut yang selalu gue aniaya. Mau lagi nggak ngerasain aniayaan gue?” Cakka menyeringai sambil berhi-five dengan Ify dan Rio. Kemudian ia mengambil posisi duduk di samping Rio, di hadapan Ify.
            “Gue kangen sama lo, Yo”. Cakka memeluk Rio. Rio yang diperlakukan seperti itu bergidik geli dan berusaha melepaskan pelukan Cakka. Ify cekikikan melihatnya. Ini yang ia rindukan. Kehangatan dan kekonyolan para sahabatnya.
            “Ish, kangen sih kangen, tapi nggak pakek peluk-peluk juga bisa ‘kan, Kka?” Cakka melepaskan pelukannya dan tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya.
            “Gue juga kangen sama lo, Fy”. Kini Cakka berganti ingin memeluk Ify. Namun, sebelum terjadi, Rio sudah lebih dulu menarik kerah baju Cakka dari belakang yang mengakibatkan pemuda itu kembali ke posisi duduknya. Cakka menoleh ke Rio sebal. Dan kemudian tersenyum menggoda. “Rio cemburuuuuu..hhmmmftrppf”. Mulut Cakka dibekap Rio.
            “Hahaha lo masih pelawak, Kka. Mana mau cewek-cewek sama lo kalo lo-nya begitu” suara tersebut membuat ketiga insan manusia itu menoleh dan tersenyum. Terlebih lagi Ify. Ia dengan senang memeluk tubuh tegap dua pemuda yang baru saja datang itu.
            “Apaan sih lo, Yel. Ngomongnya doa banget tuh”. Dua pemuda yang ternyata Gabriel dan Alvin tersebut mengambil posisi duduk di sisi kiri dan kanan Ify.
            “Eh, kok kalian bisa berdua sih?” tanya Ify yang tidak memperdulikan dumelan Cakka.
            “Kebetulan banget tadi gue ketemu sama Gabriel di parkiran”. Ify mengangguk mengerti dan membulatkan mulutnya.
            “Sepupu gue makin cantik aja sih sejak jadi anak kuliahan. Iya nggak, Yo?” ujar Gabriel sambil merangkul Ify yang berada di samping kirinya. Ify mencubit pinggang Gabriel, membuat pemuda itu meringis. Rio hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Gabriel.
            “Gue baru sadar, di meja ini belum ada makanannya deh” ucap Cakka.
            “Ya udah, lo pesen sana. Hari ini gue yang traktir” ucap Alvin. Cakka dan Ify menoleh senang.
            “Waaahh..terima kasih Koko Apin. Sejak merantau lo jadi banyak duit ya”. Ify menyeringai lucu dan kemudian meringis ketika jitakan mendarat di kepalanya dari Alvin.

**

            Ify yang baru saja ingin melangkah melewati beranda café itu tertahan ketika tangan seseorang mencekal lengannya. Ia menoleh.
            “Rio”. Pemuda itu menarik lembut lengan itu untuk menjauh dari pintu café. Ify menatapnya bingung. “Ada apa?” Cekalan tangan itu terlepas, berubah menjadi genggaman hangat di tangannya. Sontak kedua pipi Ify kembali memanas dan memerah.
            “Gue cuma mau jujur. Rasa itu masih tersimpan rapi di hati gue, malah bertambah lebih besar. Sejak SMA dulu rasa ini tumbuh. Rasa sayang dan cinta ini tumbuh buat elo, Fy”. Ify mendelik kaget mendengarnya. Ternyata rasa itu sama. “Gue cuma mau bilang, mungkin tanpa lo, kisah gue nggak akan lebih sempurna”. Ify diam. Apa ini maksudnya? Mungkinkah Rio menembaknya secara halus? “Gimana, Fy?”
            “Ha?”
            “Lo mau nggak jadi penyempurna kisah gue?” Ify menunduk. Ia ingin sekali mengatak ‘iya’, namun kenapa begitu sulit. Lagipula, untuk saat ini, ia belum ingin dulu mempunyai hubungan spesial dengan siapapun, masih ingin bersenang-senang seperti biasa. Apalagi harus sahabatnya sendiri dari kecil.
            “Maaf, Yo”. Pandangan Rio seketika berubah menjadi lesu. “Gue belum bisa. Eng..sebenernya gue..gue..juga punya rasa yang sama buat lo. Tapi, saat ini gue masih belum mau buat pacaran. Gue masih mau fokus dulu ke kuliah gue. Gue masih mau have fun dulu sama kalian kayak dulu. Maafin gue, Yo”. Rio tersenyum sedikit kecewa. Walaupun, hatinya terasa senang akibat pengakuan Ify, namun kekecewaan itu ikut juga muncul. “Yo, maaf”.
            “Nggakpapa, Fy. Gue bisa ngerti kok”. Ify bisa merasakan kekecewaan Rio. “Ah, lo pulang naik apa?” tanya Rio mengalihkan topik pembicaraan mereka.
            “Gue bawa mobil”.
            “Oh, yaudah, gue duluan ya, Fy. Hati-hati di jalan. Jangan ngebut” ucap Rio sambil mengacak lembut pucuk kepala Ify. Hati Ify terenyuh mendapat perhatian yang begitu dari Rio. Ia tersenyum kecut dan mengangguk pelan. Kemudian, pemuda itu melangkah pergi. Namun, belum langkahnya jauh, ia terhenti ketika Ify memanggilnya. Rio menoleh.
            “Temuin gue setelah elo sukses”. Rio tersenyum puas dan kemudian mengangguk tegas.
            “Pasti, Fy”. Ify ikut tersenyum mendengarnya.
            Ify terus memandang punggung tegap itu seraya terus menjauh dari pandangannya dengan senyuman lega. Ia menghela nafas.
            Mungkin, kisah itu akan lebih dari sempurna jika nanti lo datang lagi dengan membawa segala persiapan itu untuk yang lebih dari sekedar mengajak gue pacaran, Yo. Gue akan selalu menunggu sampai waktunya tiba. Love You. 

FIN~

You May Also Like

0 komentar