KAMU


Notification : cerita ini hanya fiktif belaka yang terinspirasi oleh imajinasi seorang penulis amatir.


----

Kamu..
Buat aku tersipu,
Buat ku malu-malu,
Saat bersamamu, saat ku sapa dirimu

Seseorang memperhatikannya dari kejauhan. Senyumannya, tawanya, wajahnya telah membuat lelaki ini jatuh hati saat pandangan pertama. Ia masih saja betah memperhatikan gadis manis itu yang sedang bersenda gurau dengan sahabat-sahabatnya dengan sebuah senyuman yang terukir diwajahnya yang manis. Sebuah tepukan keras dipundaknya membuat ia sedikit terkejut. Ia menoleh kearah sang pelaku. Ia memasang wajah geram saat mengetahui sahabatnya lah yang menjadi sang pelaku tersebut.

“lo tuh ya, seneng banget bikin gue kaget” ucapnya geram. Sahabatnya itu hanya mampu memperlihatkan deretan gigi putihnya sambil mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya.

“hehe maap, Yo. Gak sengaja” ucapnya.

“gak sengaja, gak sengaja. Elo itu udah merusak pemandangan indah gue” ucap Rio-orang itu- dengan kesal.

“ha? Pemandangan indah lo? Emang apaan sih?” Tanya sahabatnya itu penasaran.

“mau tau aja lo.”

“yaah..kasih tau dong, Yo. Gue kan sahabat elo. Masa sama sahabat sendiri gitu sih?” pintanya dengan wajah memelas. Rio yang melihat itu menjadi tertawa.

“hahahahaha…gila. Muka lo, Vin. Hahaha lucu lucu hahaha.” Alvin-sahabatnya-memajukan bibirnya lucu.

“ah lo mah gitu sama gue. Ketawa aja terus. Sampe elo puas.” Rio memberhentikan tawanya.

“haha..yaahh ngambek. Maap deh. Abis muka lo lucu banget sih hehe.”

“huuu..gue kan emang lucu, Yo.” Rio menoyor Alvin.

“narsis banget lo.” Seketika Rio diam terpaku. Menikmati keindahan makhluk yang selama ini sudah berhasil membuatnya jatuh cinta. Ia terus menatap lekukan wajah manis itu saat gadis itu mendekat.

“Hai, Fy..” sapa Alvin tiba-tiba. Gadis itu menoleh lalu tersenyum.

“hai, Vin.”

“gak liat apa ada gue juga?” sindir salah satu sahabat gadis itu. Alvin menoleh.

“oh, gue kira tadi sadako” ucap Alvin santai. Sahabat gadis tadi merengut kesal lantas menggeret Ify-gadis itu-menjauh.

“aduuhh..eh? duluan yaa semua” pamit Ify kepada kedua pemuda itu. Rio masih terus menatapi kepergian mereka berdua dan kemudian menoleh kearah Alvin.

“Vin.. elo tau nama dia?” Tanya Rio tidak percaya.

“nama siapa?”

“cewe tadi yang elo sapa.”

“oohh iya dong. Dia kan anaknya temen mama gue. Nah, mamanya sama mama gue itu emang deket banget dari SMA. Emang kenapa? Naksir ya? Hayoo ngaku..” Rio menggaruk-garuk tengkuknya, salah tingkah.

“hehe..udah lama sih. Kok elo gak kasih tau gue?”

“lah? Elo kagak nanya.” Rio merengut sebal.

Aku..
Kok merinding buluku,
Kok jadi gugup aku,
Saat bersamamu, saat kau senyum padaku

“aaish Alvin gak soulmate banget deh. Sahabatnya sendiri ditinggalin pergi. Tau deh yang udah punya pacar huu..” gerutu Rio sambil melangkah menyusuri koridor sekolah. Ia duduk di kursi panjang koridor sekolah. Matanya masih saja terus menyapu keseluruh penjuru daerah didekatnya. Merasa ada orang yang duduk disampingnya, ia menoleh.

DEG! Wajah manis itu. Rio bungkam. Menatapinya tanpa berkedip. Terpesona dengan makhluk ciptaan tuhan yang menurutnya paling indah. Gadis itu menoleh.

“hai” sapanya. Rio tersadar.

“eh..ha..hai juga.” Rio menelan ludah.

‘asli..grogi gue. Gimana enggak? nih cewe diliat dari deket nambah cantik aja’ batin Rio.

“elo temennya Alvin yang tadi kan? Kenalin gue Alyssa Saufika tapi panggil aja Ify” ucap Ify sambil mengulurkan tangannya. Rio membalas jabatan tangan gadis itu dengan hati yang berbunga.

“gu..gue..Mario Stevano panggil aja Rio.” Ify tersenyum dan melepaskan tangannya.

“sahabat Alvin dari kecil ya?” Rio mengangguk dengan muka heran. Ify tertawa kecil.

“Alvin pernah nyeritain sahabatnya dari kecil. Katanya, orangnya tuh bawel, tapi perhatian banget sama dia. Dia pernah mau ngajakin gue buat ketemuan sama sahabatnya itu, tapi gak kesampean terus. Kami sama-sama sibuk dengan urusan sendiri. Tapi sekarang gue udah ketemu sama dia kok, malah udah kenalan hehe” ucap Ify panjang lebar. Rio tersenyum melihat tingkah pujaan hatinya ini.

“ternyata elo cerewet juga ya, gue kira pendiem banget.”

“hehe dapet steatment dari mana tuh?” Tanya Ify.

“mm..dari hatimu aja deh” gombal Rio. Ify blushing. Membuat Rio semakin gemas melihatnya.

“apadeh lo” ucap Ify. Keheningan terjadi diantara mereka berdua. Hanya terdengar keributan dari siswa-siswi lain yang berada disana.

“oh iya. Gue duluan ya. Soalnya gue mesti balikkin buku ke perpus. Kapan-kapan ngobrolnya disambung lagi deh” pamit Ify sambil beranjak dari kursi panjang itu. Rio mengangguk.

“iya. Nggak papa kok, Fy.”

“okedeh. Bye, Rio” pamit Ify sambil tersenyum manis yang berhasil membuat Rio membeku.

“manis banget” ucap Rio pelan.

Mungkin inilah rasanya,
Rasa suka pada dirinya,
Sejak pertama aku bertanya,
Facebook mu apa, nomor mu berapa..
Mungkin inilah rasanya,
Cinta pada pandang pertama,
Senyuman manismu itu buat aku
Dag dig dug melulu

“aahh..ayolah, Vin. Pelit banget sih lo” pinta Rio sambil terus mengikuti Alvin yang masih menulusuri rak buku perpus.

“ya elah, Yo. Lo kan cowo, masa’ gak berani minta sama dia sendiri sih? Gak gentle lo” ucap Alvin tanpa menoleh ke arah sahabatnya itu.

“gue bukan gak berani, Vin. Tapi gue belom siap. Vin..ayolaaaahh. pleaseee..” pinta Rio memelas. Alvin lantas berbalik ke arahnya.

“heuh.. Rio, Rio. Gue kasih tau ya. Kalo elo mau sukses deketin cewe, elo harus bisa ngedeketin dia secara langsung. Apalagi minta nomor hp-nya. Jangan lewat perantara, kesannya elo itu pengecut. Udah sana.. gue yakin elo pasti bisa, bro” ucap Alvin sambil menepuk pundak Rio. Rio menghela nafas.

“huft! Oke. Gue bisa. Doa’in gue, Vin” ucap Rio. Alvin mengangguk dan kemudian Rio berlalu pergi untuk mencari sang pujaan hati. Selama di perjalanan dia terus memantapkan hatinya untuk bertemu dengan pujaan hatinya itu. Ia terus mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru sekolah. Dan ia terus saja mengitari sekolahnya itu. Pada akhirnya ia melihat seseorang yang ia cari sedang duduk sendirian di taman belakang sekolah.

“huft! Gue bisa.” Rio berjalan mendekati Ify yang tengah membaca novel sendirian.

“Hai..” sapa Rio. Ify menoleh dan kemudian tersenyum.

“eh, Rio? Ada apa?” Tanya Ify. Ia sedikit bergeser untuk mempersilahkan Rio duduk disampingnya.

“mm..gak ada sih. Cuma mau ngobrol aja. Gue ganggu elo ya?” ucap Rio sambil memposisikan dirinya duduk disamping Ify.                Ify tersenyum sambil menutup novelnya.

“enggak kok. Nyantai aja lagi” ucap Ify.

“kemana sahabat lo itu?” Tanya Rio.

“siapa? Sivia?” Rio mengangguk.

“biasalah. Mojok sama pacarnya.”

“kenapa gak ikut aja?”

“yaahh..kalo gue ikut, yang ada gue jadi kambing congek disana. Sibuk sendiri mereka berdua mah” ucap Ify dengan wajah kesal yang menurut Rio sangat lucu.

“hahaha..”

“ih ketawa lagi. lah? Elo sendiri gak bareng Alvin? Biasanya nempel mulu sama tuh anak?” Tanya Ify balik.

“yaelah, ngapain juga nempelin dia terus. Mending nempelnya sama cewe cantik kayak elo.” Ify blushing.

“haha gombal lo.” Rio tersenyum.

“mm..Fy, boleh minta nomor hp lo gak?” ucap Rio tanpa ragu.

“boleh kok. Mana hp lo?” Rio menurut.

“nih” ucap Ify sambil mengulurkan kembali hp Rio sesaat setelah ia menyimpan nomornya sendiri.

“gue duluan ya, Yo. Byee..” pamit Ify tersenyum manis dan kemudian langsung berlari. Rio sempat terpaku melihat senyumannya, jantungnya berdetak kencang. Saat tersadar ia tertawa kecil melihat tingkah Ify tadi. Ia memeriksa kontak nama dalam hp nya, dan menemukan sebuah nama yang berhasil menggelitik perutnya.

‘Ify manis ^^’ Seperti itulah nama yang berhasil membuat ia semakin jatuh cinta pada sang pujaan hati.

Nanti..
Aku follow twittermu,
Aku tunggu retweetmu,
Agar aku tahu, suka kah kamu kepadaku

Rio browsing ke twitternya. Ia mencari nama seseorang. Tetapi sama sekali tidak ia temukan. Ia putus asa.

“ah! Gue tau” ucap Rio tiba-tiba. Ia membuka twitter Alvin. Dan ternyata benar,  nama seseorang yang kini tengah ia cari akhirnya ia dapatkan. ‘@Ify Saufika’ Rio meloncat kegirangan. Dengan segera ia mem-follow twitter sang pujaan hati.

@RioStevano Follow back ya :) @IfySaufika

“haahh. Semoga aja dia bales mention gue” ucapnya berharap. Sepertinya Tuhan mengabulkan harapan lelaki itu, karena tak lama, Ify membalas mention Rio.

Udah tuh :) RT@RioStevano Follow back ya :) @IfySaufika

“dibalesnya? Thank’s God. I’m happy. Yipiiee” soraknya kegirangan. Dan siang itu, Rio menghabiskan waktunya dengan ber-mentionan ria dengan pujaan hatinya. Senyum kebahagiaan terpancar jelas di wajahnya.

“gue emang udah bener-bener jatuh cinta nih. Bahagia banget deh.”

Mungkin inilah rasanya,
Rasa suka pada dirinya,
Sejak pertama aku bertanya,
Facebook mu apa, nomor mu berapa..
Mungkin inilah rasanya,
Cinta pada pandang pertama,
Senyuman manismu itu buat aku
Dag dig dug melulu

Jam istirahat, Rio iseng pergi ke lapangan basket indoor. Saat masuk, ia mendengar suara bola yang sedang di pantul-pantulkan. Tidak biasanya jam istirahat seperti ini ada orang bermain basket.

‘kok kayaknya kenal ya?’ batin Rio yang terus mengamati orang tersebut. Saat seseorang itu berbalik, mereka berdua kaget serentak.

“Rio?”

“Ify?” kaget mereka bersama.

“mm, sejak kapan lo disini, Yo?” tanya Ify sambil melangkah mendekati Rio. Jantung Rio mulai berdetak kencang. Ia berusaha untuk sebiasa mungkin.

“barusan kok, Fy. Elo sendiri?” jawab dan tanya Rio balik.

“lumayan lama lah. Dari jam pelajaran tadi gue udah disini” jawab Ify.

“bolos dong?”

“enggak. Lagi jam pelajaran kosong” jawab Ify lagi sambil mendrible bola ke posisi three point, dan meng-shoot bola ke ring. Masuk! Rio ternganga, dan kemudian tersadar kembali ketika Ify kembali menghampirinya.

“gue gak tau kalo elo jago basket” ucap Rio yang membuat Ify terkekeh.

“haha emang sewaktu gue SMP, gue ikut ekskul basket. Sempet kepilih jadi kapten. Tapi, semenjak gue cedera, gue gak boleh lagi main basket. Padahal gue seneng banget sama olahraga ini. Setiap gue bad mood, pasti gue ngelampiasin ke basket. Bukan basket doang sih, satu lagi, musik” jelas Ify.

“wah, kok sama ya?” Ify mengerutkan kening.

“sama?” tanyanya bingung.

“iya. Gue juga suka banget sama basket dan musik. Suer deh” ujar Rio. Ify tersenyum.

“jodoh kali ya” gumam Rio.

“apa, Yo?” tanya Ify yang memang kurang jelas. Rio gelagapan.

“ah..eng, enggak kok. Bukan apa-apa, hehe.” Ify mengangguk-ngangguk. Sejenak mereka terdiam.

“berarti sekarang elo lagi bad mood dong?” tanya Rio. Ify mengangkat bahu.

“yaahh, kayaknya sih gitu.” Rio mengambil bola basket itu dari tangan Ify.

“daripada elo bad mood gak jelas, mending main basket sama gue aja yuk” ajak Rio. Ify tersenyum.

“oke.” Rio dan Ify bermain basket bersama. Diselingi canda dan tawa. Merasa mereka berdua sudah lelah, akhirnya mereka duduk di tengah-tengah lapangan. Walaupun, kondisi tubuh sudah lelah, canda tawa masih saja bergelayut di antara mereka berdua.

“eh, Yo? Kita telat masuk kelas nih. Ayo, nanti kena amuk loh” cemas Ify yang sudah ingin beranjak sambil menarik tangan Rio. Tetapi Rio menahannya. Ia menarik Ify duduk kembali.

“kenapa?” tanya Ify.

“gak bakal kok. Jam pelajaran bebas hari ini. Guru lagi rapat” ucap Rio sambil tersenyum.

“ha? Lo tau darimana, Yo?” tanya Ify bingung.

“tau dari temen gue. Udah disini aja.” Ify menurut.

“tapi beneran kan?” tanya Ify lagi.

“iya, cantik” ucap Rio yang membuat pipi Ify bersemu merah. Rio melihat itu sudah tidak tahan lagi, ia segera mencubit pipi Ify.

“aduh, sakit tauu” keluh Ify.

“gemes sih” ucap Rio cengengesan.

“iya, tapi kan sakit” ujar Ify yang masih mengelus-ngelus pipinya.

“aduh maaf deh. hehe. Mana yang sakit? Ini?” tanya Rio sambil ikut mengelus pipi Ify. Otomatis, tangan Rio bertumpu dengan tangan Ify. Keduanya saling pandang. Merasakan detak jantung mereka masing-masing.

‘Ya Tuhan, biarkan aku terus menatap kedua bola mata cantik ini’ batin Rio.

‘apa bener gue jatuh cinta?’ batin Ify. Mereka kembali ke alam sadar ketika mendengar sebuah pengumuman dari toa sekolah untuk segera berkumpul di lapangan. Terlihat canggung, kikuk dan salah tingkah.

“eh? Mm, di..disuruh ke lapangan tuh. Gu..gue duluan ya. Daah” pamit Ify yang langsung saja berlari. Rio tertawa kecil lagi-lagi melihat tingkah Ify itu. Rio beranjak dan melangkah keluar dengan santai.

Yeah, Cuma kamu Cuma kamu yang bisa membuatku,
tidur tak tentu memikirkan mu pujaan hati oh kamu cantik sekali
Oh tuhan aku hanya ingin dia tahu
Kau lucu kau sangat lucu

Promnight. Untuk merayakan ulang tahun SMA Duta Bangsa, tepat pada malam ini diadakan promnight. Terkhusus untuk siswi diharuskan memakai dress, sedangkan siswanya diwajibkan memakai jas. Rio berbincang-bincang dengan Alvin. Malam ini Rio terlihat tampan, memakai jas berwarna hitam, kemeja putih, serta dasi hitam polos.

“cakep amat lo, Yo” ujar Alvin.

“woo, iya dong. Rio kan selalu cakep” ucap Rio PD.

“nyesel gue ngomongnya.” Rio tertawa.

“gue ke Shilla aja deh” ucap Alvin sambil berlalu.

“yaah. Sendiri deh. Ify mana ya?” tanyanya pada diri sendiri sambil mencari Ify di tengah kerumunan murid-murid SMA Duta Bangsa. Rio melihat Sivia berjalan ke arahnya, sendirian.

“Vi..” panggil Rio. Sivia menoleh.

“ya?” tanya Sivia.

“Ify kok belom dateng? Biasanya bareng elo terus?” tanya Rio.

“oh, Ify. Dia emang agak telat katanya. Soalnya dia mau jemput neneknya dulu di bandara. Sehabis dari bandara, dia langsung kesini” jawab Sivia.

“oh. Ya udah deh. makasih ya.” Sivia mengangguk dan berlalu. Rio masih terus menunggu kedatangan Ify. Tak berapa lama, seorang siswi keluar dari sebuah mobil dengan anggun. Dengan dress berwarna putih selutut, sepatu high hells-nya yang juga berwarna senada, rambut yang dia gerai dengan tambahan bando berpita berwarna putih.  It’s look great. Beautiful! Rio terpesona melihatnya. Tidak sadar saat siswi itu melangkah mendekatinya.

“hai” sapa siswi itu. Rio tersadar.

“eh? H..hai” sapanya balik dengan gugup. Siswi itu tersenyum manis.

“elo cantik banget, Fy” puji Rio. Ify tersipu.

“ah elo, Yo. Bisa aja deh gombalnya” ucapnya malu-malu.

“gue serius, Fy. Jujur. Kalo gak percaya sih tanya aja tuh sama cowo yang lain, mereka juga pada terpesona sama lo” ujar Rio sedikit menggoda.

“iih Rio, udah deh. Elo juga cakep banget, Yo” puji Ify balik.

“wo hoho, gue mah setiap hari cakep” PD Rio lagi. Ify menoyor Rio.

“PD banget sih” ujar Ify sambil terkekeh. Rio meringis sambil memamerkan cengirannya.

“baiklah, anak-anak dan para guru sekalian. Sekarang adalah waktu yang ditunggu-tunggu. Waktunya berdansa dengan pasangan masing-masing. Kalau yang belum mendapatkan pasangannya, silahkan cari pasangan kalian masing-masing. Kalau memang tidak mendapatkan pasangan, ya udah mungkin derita kalian emang gitu. Oke, music is start and dancing is begin, now” celoteh MC sekaligus memberi aba-aba untuk memulai berdansa.
Rio mengulurkan tangannya pada Ify untuk mengajaknya berdansa. Ify memandang Rio. Rio tersenyum.

“berdansa denganku, cantik?” tanya Rio. Ify lagi-lagi dibuatnya tersipu.

“dengan senang hati” ucap Ify sambil menerima uluran tangan Rio. Sangat klop! Mereka berdua menikmati suasana romantis ini. Seakan dunia ini milik mereka berdua.

“sumpah, elo cantik banget malem ini” puji Rio lagi dengan lembut sambil menyelipkan sejumput rambut Ify ke belakang telinga Ify. Lagi-lagi dan lagi, Ify tersipu malu.

“udah deh, Yo, mujinya. Gue malu tau” ujar Ify malu-malu. Rio terkekeh.

“gak usah malu” ucap Rio lembut. Ify hanya tersenyum.

“gue suka sama lo” ucap Rio mantap. Ify termangu.

Mungkin inilah rasanya,
Rasa suka pada dirinya,
Sejak pertama aku bertanya,
Facebook mu apa, nomor mu berapa..nomor mu berapa..
Mungkin inilah rasanya,
Cinta pada pandang pertama,
Senyuman manismu itu buat aku
Dag dig dug melulu

Keesokan harinya. Ify masih saja terus memikirkan kejadian semalam, saat Rio menyatakan perasaan yang sebenarnya yang kini Rio rasakan kepada dirinya. Memang Rio belum meminta ia menjadi pacarnya, hanya menyatakan perasaan saja. Ify bingung. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Sungguh, semua kosong yang ada di pikirannya. Ia bingung terhadap perasaannya sendiri. Sejujurnya, dia sama sekali belum pernah menjalin hubungan spesial dengan seseorang. Dia masih hijau untuk mengenal cinta. Belum mengerti apa-apa. Tapi, sepertinya...

“gue juga suka dia” gumam Ify mantap.

Mungkin inilah rasanya,
Rasa suka pada dirinya,
Sejak pertama aku bertanya,
Facebook mu apa, nomor mu berapa..
Mungkin inilah rasanya,
Cinta pada pandang pertama,
Senyuman manismu itu buat aku
Dag dig dug melulu

Jam istirahat kedua, Rio membawa Ify ke taman belakang. Ify kebingungan.

“mau ngapain, Yo, kesini?” tanya Ify bingung sesaat mereka telah sampai di taman belakang sekolah yang cukup indah. Rio tersenyum dan kemudian menggenggam kedua tangan Ify. Ify kaget. Blushing.

“Fy, kamu pasti udah tau kan perasaan aku ke kamu itu gimana?” tanya Rio yang tiba-tiba mengubah sistem panggilannya. Ify kaget dan kemudian mengangguk.

“tapi aku bukan hanya sekedar suka, Fy. Aku sayang, bahkan cinta sama kamu. Sejak pertama aku liat kamu, liat senyum kamu, liat keceriaan kamu, liat kelucuan kamu, liat tingkah kamu. Ternyata..aku memang udah jatuh cinta sama kamu. Tapi aku gak tau gimana perasaan kamu ke aku. Dan maka dari itu, di hari ini, di waktu ini, di tempat ini, aku udah mantap buat nanya ini ke kamu. Mau gak jadi pacar aku?” ujar Rio. Ify terdiam sejenak.

“gu..eh? aku..” ucap Ify keceplosan yang membuat Rio tersenyum geli menatapnya.

“aku bingung dengan perasaan ku sendiri. Sejak semalem, di waktu kamu nyatain perasaan kamu yang sebenarnya. Aku bingung. Tapi sekarang, jika aku memang harus milih, hati aku udah mateng dengan pilihan itu...” jawab Ify menggantung di akhir kalimat. Rio menunggu tidak sabar.

“aku, aku..juga suka kamu. Sayang, cinta malahan. Jadi jawabannya...iya” jawab Ify dengan nada malu-malu pada saat mengucapkan ‘iya.’

“serius?” tanya Rio lagi. Ify mengangguk. Rio meloncat kegirangan.

“iih, Rio. Jangan loncat-loncat gitu, malu nanti diliat orang” ujar Ify. Rio kembali ke posisi semula dengan cengirannya.

“Kamu harus tau, kalo aku Cuma sayang sama kamu, Alyssa” ucap Rio lembut.

“begitupun aku. Cuma kamu yang ada dihati aku, Mario” balas Ify tak kalah lembut. Rio mendekap erat tubuh Ify. Senyuman bahagia jelas terpancar di wajah mereka berdua. Berseri.

Kamu, kamu, kamu, kamu, kamu
Kamu, kamu, kamu..
Kamu, kamu, kamu, kamu, kamu
Kamu, kamu, kamu..

“love you.”

“love you too.”

----

You May Also Like

0 komentar