A Turning Part 9


A Turning àPart 9ß
(Rio: ...suatu saat nanti elo pasti temuin jawaban dari permasalahan ini)

====A Turning====

Ify melangkah menuju kelas dengan gontai. Begini jadinya kalau menangis di malam hari, esok pagi mata pasti sembab. Ify terlonjak kaget ketika ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang. Ify menoleh ke belakang.

“elo, Vi” ucap Ify. Sivia menyeringai.

“maaf deh udah bikin lo kaget.” Ify mengangguk lemas dan kembali melangkah yang diikuti Sivia. Sivia memandang sahabatnya itu heran.

“Fy? Mata lo sembab. Elo habis nangis ya?” tanya Sivia.

“ha? Enggak kok. Kurang tidur aja” jawab Ify sekenanya.

“jujur aja kali, Fy. Gak mungkin kurang tidur sampe segitunya” desak Sivia. Ify menghela nafas.

“iya. Gue nangis semalem.”

“elo nangis, Fy?” tanya seseorang tiba-tiba. Ify dan Sivia terkejut dan menoleh bersamaan ke arah sumber suara.

“Rio?” gumam Ify.

“mm, Fy, kayaknya gue mesti ke kelas deh. Soalnya pr gue masih ada yang belom selesai. Ketemu di kelas ya. Daah” pamit Sivia sambil berlalu meninggalkan Ify dan Rio yang masih berdiri berhadapan di koridor sekolah yang cukup ramai.

“sejak kapan lo disini?” tanya Ify jutek.

“kok bidadari ku ini jutek amat sih” ujar Rio sambil memasang wajah cemberut. Ify memutar bola matanya kesal.

“please deh, Yo, ini sekolah, jadi elo stop panggil gue bidadari lo” ujar Ify kesal sambil melangkah menuju kelas. Rio mematung sejenak dan kemudian tersadar kembali. Ia berlari mendekati Ify dan mensejajarkan langkahnya.

“eh? Eh? Iya iya, gue gak bakal panggil lo bidadari gue di sekolah, tapi kalo di luar sekolah, boleh kan?” tanya Rio sambil menaik turunkan kedua alisnya. Ify menghela nafas.

“terserah elo deh” jawab Ify singkat. Rio kegirangan.

“oh iya, elo nangis semalem? Kenapa lagi? Cerita dong” tanya dan pinta Rio. Ify berhenti dan memutar badannya menjadi berhadapan dengan Rio.

“kalo iya, kenapa?”

“ceritaaaa” pinta Rio lagi memelas.

“enggak ah, gue gak pinter buat cerita.”

“gitu amat sih. Ayolaaaahh. Pleaseeee.”

“gak ada yang perlu di ceritain.”

“pasti ada. Masa’ elo nangis gak ada sebab?” Iya juga sih, pikir Ify. Ia menghela nafas panjang.

“iya iya. Tapi nanti aja, udah mau masuk nih” ujar Ify pasrah.

“yeeeay. Oke, istirahat nanti aja ya, kita ketemuan di taman belakang.” Ify mengangguk malas.

“emm, Yo, mata gue keliatan banget ya sembabnya?” tanya Ify ragu. Rio memandang wajah Ify dengan seksama yang membuat kedua pipi putih Ify memerah.

“iya. Tapi elo tetep cantik kok hehe” jawab Rio cengengesan. Ify mendengus sebal. Tingkah konyolnya mulai keluar. Pagi-pagi udah bikin orang kesal saja, pikir Ify. Ify kembali melangkah menuju kelas meninggalkan Rio.

“eh, tunggu. Seneng banget sih tinggalin gue” keluh Rio cemberut.

====A Turning====

Sesuai perjanjian, Rio dan Ify bertemu di taman belakang. Sebelumnya, Ify membelikan soft drink untuk berjaga-jaga jika mereka haus dan sangat malas untuk pergi ke kantin yang cukup ramai.

“nah, ayo cerita” ujar Rio.

“cerita apaan? Cinderella? Snow white? Apa malin kundang?” Rio mengerucutkan bibirnya.

“Ify maaah, ya cerita kenapa elo semalem itu nangis” geram Rio.

“oh.”

“kok Cuma oh?”

“jadi elo mau apaan, Rioooo?”

“gue maunya cerita, Ifyyyy.” Ify terkekeh.

“malah ketawa. Ayo cerita.”

“iya ah. Gue semalem nangis itu karenaaaa...di kamar gue ada hantu, gue takut, jadi gue..”

“Ifyyyy, yang bener ceritanyaaa wooyy. Gue ngambek nih” ancam Rio sambil melipat kedua tangannya dan memutar tubuhnya menjadi membelakangi Ify.

“cie elah, gitu aja ngambek. Gak asik banget sih lo. Yoo” ucap Ify sambil mencolek pipi Rio.

“Hellooooo” panggil Ify sambil terus mencolek pipi Rio. Tak disangka, Rio menahan tangan Ify dan menggenggamnya. Rio memutar kembali tubuhnya menjadi berhadapan dengan Ify. Ify tertegun. Pipinya memanas. Memerah. Rio menatap dalam mata bening Ify. Begitupun sebaliknya. Rio mendekatkan wajahnya. Ify menutup mata. Wajah mereka berdua semakin dekat, dan.. Kresseek! Bunyi yang berasal dari semak-semak itu membuat mereka kembali ke alam sadar dan dengan reflek menjauhkan wajah mereka masing-masing.

“eh? Mm, s..sorry, Fy. Gak maksud..”

“iya gakpapa” potong Ify. Wajah mereka berdua sudah seperti kepiting rebus.

“Yo, tangan lo?” ucap Ify sambil menunjuk tangannya yang masih setia menggenggam tangan Ify.

“biarin. Gue mau masih pegang tangan lo. Gak mau lepas nih. Elo sih, pake di kasih lem” canda Rio.

“apaan sih? Kurang kerjaan banget gue kasih lem ke tangan gue sendiri” ucap Ify.

“hehe bercanda, sayang.” Jantung Ify berdetak kencang saat Rio memanggilnya seperti itu.

“sayang sayang, kepala lo peyang.” Rio menyeringai.

“eleeeh, padahal dalem hati seneng tuuh” goda Rio.

“apa siih? Lo bikin gue kesel aja deh. Lepasin tangan lo” ujar Ify kesal.

“gak mau. Jarang-jarang tau gue pegang tangan lo gini” ucapnya sambil mengeratkan genggaman tangannya.

‘kenapa gue juga seneng banget ya? Hati gue juga tenang. Gue gak berontak sama sekali’ batin Ify bingung. Rio bersandar di pohon yang cukup besar itu.

“oh iya, elo kenapa nangis semalem? Dari tadi gak cerita-cerita.”

“heuh. Biasa, masalah keluarga. Gue capek ngadepin masalah ini terus. Gue capek buat cari jalan keluarnya. Tapi ya, apa boleh buat, takdir gue udah gini” ujarnya sambil ikut bersandar di pohon besar itu.

“itu cobaan buat lo. Suatu saat elo pasti keluar dari masalah ini. Elo belom aja temuin titik terangnya, tapi suatu saat nanti elo pasti temuin jawaban dari permasalahan ini” ujar Rio. Ia mengeratkan kembali genggaman tangannya, seolah ingin menyalurkan kekuatan ke gadis yang ia cintai ini.

“iya, Yo. Suatu saat nanti. Makasih ya” ucap Ify tulus tersenyum. Rio mengangguk dan tersenyum.

====A Turning====

Ify menunggu Sivia di parkiran. Sudah 20 menit Ify menunggu, tetapi gadis itu belum juga menampakkan batang hidungnya. Tak lama, dari arah koridor terlihat seorang perempuan berkulit putih berlari tergesa-gesa. Ify mendengus sebal.

“lama banget sih, Vi? Lumutan nih. Gue juga kan mesti ke cafe” rutuk Ify. Sivia menyeringai.

“hehe maaf, Fy, tadi ada problem sedikit. Si Alvin tuh, cari masalah aja sama gue” ujar Sivia.

“ya udah. Kita pergi sekarang.” Sivia mengangguk dan kemudian berjalan beriringan dengan sahabatnya itu. Saat mereka sampai di gerbang sekolah, dua buah motor ninja biru dan putih menghalang jalan mereka. Sivia terlihat ketakutan, tetapi Ify sebaliknya, ia memasang mimik wajah dingin.

“heh! Minggir lo berdua. Kita mau lewat nih, gak sopan banget sih” ujar Ify jutek.

“ka..kalian siapa sih? Helmnya di buka dong” tambah Sivia gugup. Kedua pemuda ninja tersebut membuka helm yang bertengger di kepala mereka.

“Alvin? Rio?” pekik Sivia. Ify melotot. Alvin dan Rio menyeringai lebar.

“hehehe sorry ya bikin kalian takut” ujar Alvin meminta maaf. Sivia melipat kedua tangannya dan memasang wajah cemberut.

“seneng banget sih lo ngerjain orang.”

“Vi, cabut” ucap Ify singkat sambil menggeret lengan Sivia membawanya pergi meninggalkan Alvin dan Rio yang diam mematung. Rio tersadar.

“eh? Fy, pulang bareng gue yuk” ajak Rio setengah berteriak. Ify dan Sivia berhenti. Rio menghampiri mereka disusul Alvin di belakangnya.

“pulang bareng yuk, mau kan?” tawar Rio lagi.

“enggak deh, gue udah janji buat pulang bareng sama Via” tolak Ify.

“Sivia bisa sama Alvin kok” ujar Rio. Mata sipit Sivia seketika melebar, begitu juga Alvin.

“APA?! Gue? Pulang bareng dia?” tunjuk Sivia.

“Gak mauuu” tolak Sivia mentah-mentah.

“gue juga kagak mau, Yo. Males banget pulang bareng sama nih anak” tolak Alvin, juga.

“tuh. Mereka pada gak mau. Gue duluan. Ayo, Vi” ujar Ify sambil beranjak dari hadapan Rio. Langkah Ify lagi-lagi terhenti dikala Rio menahan lengannya.

“ayolah, Fy. Pleaseeee, mereka mau kok. Ya kan, Vi, Vin?” pinta dan tanya Rio pada Sivia dan Alvin sambil memasang wajah sangar. Sivia dan Alvin yang ketakutan melihat Rio dengan reflek mengangguk. Ify mengerutkan kening.

‘tadi mereka pada ngotot gak mau, tapi kok..?’ batin Ify bingung.

“Fy?” panggil Rio menyadarkan Ify.

“heuh! Ya udah kalo gitu” pasrahnya. Rio berteriak kegirangan, Ify melotot.

“heh! Berisik banget sih lo? Diem, apa gue gak jadi pulang bareng lo?” ancam Ify yang membuat Rio terdiam.

“hehe maaf. Ya udah yuk, kita duluan aja” ajak Rio.

“tapi gue mesti ke cafe. Gue ada shift disana, elo mau nunggu?”

“iya” jawab Rio mantap. Ify memandang Rio heran.

“ya udah kita cabut sekarang. Gue udah telat.”

“ayoo” ujar Rio bersemangat. Rio dan Ify sudah bertengger di motor ninja biru Rio.

“woy, Vin, Vi. Kita duluan yaa” pamit Rio dan kemudian melesat pergi. Alvin dan Sivia tersadar dan saling berpandangan.

“hiiii. Mimpi apa sih gue semalem bisa pulang bareng sama lo. Tapi gue gak punya pilihan lain, sopir gue hari ini gak kerja, papa gue lagi pergi ke luar kota, mama gue lagi meeting di kantor, gue gak punya kakak ataupun adek. Jadi yaa, harapan satu-satunya Cuma...elo” cerocos Sivia.

“eh? Alvin, Alvin! Lo main tinggal gue aja. Ngeselin” teriak Sivia sambil berlari mengejar Alvin yang sudah mengendarai motornya cukup jauh dari hadapan Sivia. Akhirnya, Sivia dapat menyusul Alvin dan menghalangnya tepat di depan Alvin. Alvin rem mendadak.

“apa-apaan sih lo?” kesal Alvin yang dibarengi membuka kaca helm full face-nya.

“elo yang apa-apaan? Tinggalin gue seenaknya” balas Sivia tidak mau kalah.

“elo nyerocos aja sih. Gue pusing dengernya, mending gue tinggal” ujar Alvin santai. Sivia melotot.

“elo tuh yaaa...huhh! Anter gue pulang!” ujarnya kesal dan kemudian menaiki boncengan Alvin. Alvin menghela nafas sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia kembali menutup kaca helmnya.

‘mesti sabar ngadepin nih anak’ batin Alvin dan kemudian motornya melaju kencang.

“ALVIIINNN!”

====A Turning====

“beneran nih lo mau nungguin gue?” tanya Ify yang meyakinkan sambil turun dari boncengan Rio. Rio mengangguk mantap.

“gue sampe sore loh. Kalo lagi rame-ramenya bisa sampe malem. Beneran mau?” tanya Ify lagi. Rio kembali mengangguk mantap. Ify mengerutkan kening.

“elo aneh banget” gumam Ify. Rio hanya menyeringai lebar.

“soalnya gue takut elo di gangguin si kunyuk itu lagi.” Ify terkekeh.

“ya udah ayo.” Ify dan Rio melangkah beriringan memasuki cafe yang sudah lumayan ramai. Rio memilih untuk duduk di dekat kaca cafe yang langsung menghadap ke arah danau. Sedangkan Ify langsung menuju ruang managernya untuk membicarakan tentangnya yang terlambat. Tak lama, Ify keluar dari ruang manager dan berjalan masuk ke arah ruangan dimana tempat para pekerja berkumpul. Ify keluar dengan memakai seragam pekerja disana dan langsung memulai pekerjaannya.
Rio terus memperhatikan Ify dengan seksama. Sangat berbeda dengan di sekolah. Gadis itu sangat terlihat ramah saat bekerja. Rio terus memandang gadis pujaan hatinya itu. Garis lengkung di bibirnya terbentuk senyuman manis. Tanpa ia sadari, Ify menghampiri Rio. Ia mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah lelaki itu. Tetapi Rio tetap saja memandang Ify dengan senyumannya itu.

“woy!” ujar Ify sambil menepuk pundak Rio. Rio kembali ke alam sadar.

“ha? Kenapa?” tanyanya yang terkejut.

“elo tuh yang kenapa? Udah deh, elo mau apa? Minum apa makan?” tanya Ify.

“gue gak niat buat minum apa makan disini, gue disini Cuma mau nungguin plus jagain elo doang. Tapi..kalo elo mau nemenin gue, hehe boleh juga” cerocos Rio. Ify menganga. Nyokapnya dulu ngidam apa sih semasa ngandung nih anak, pikir Ify.

“masih banyak pelanggan. Gue pergi dulu” pamit Ify sambil berlalu dari hadapan Rio.

“yaaah. Kok pergi sih?” gumam Rio.

“ngapain lo disini?” tanya seseorang tiba-tiba yang berasal dari belakang Rio. Rio menoleh.

“eh? Elo ternyata” ujar Rio dingin saat mengetahui Debo lah orang itu. Debo memandang Rio sinis.

“elo ngapain disini? Ngerusak pemandangan cafe aja” ujarnya. Rio tertawa sinis.

“terserah gue dong mau kemana aja. Hak apa lo ngelarang gue kesini? Pemilik cafe? Manager? Bukan kan? Jangan sok deh lo” balas Rio ketus sembari berdiri.

“gue gak suka aja ada orang sok keren dateng ke cafe ini.”

“siapa yang sok keren? Elo? Emang iya.” Rio tak mau kalah. Ify yang mendengar keributan dari jauh menoleh ke sumber keributan itu. Ia melotot. Kenapa harus ketemu lagi sih, pikir Ify. Ia terus memantau kedua pemuda itu. Ify siap siaga kalau-kalau terjadi perkelahian dan menyebabkan para pelanggannya itu terganggu. Keadaan cukup ramai, jadi suara Rio dan Debo cukup teredam suara.

“elo tuh yaaa..” geram Debo yang sudah ingin melayangkan tinjunya ke arah Rio. Tetapi tinjunya tertahan dikala Ify menghampiri mereka berdua.

“woy! Lo berdua childish banget sih? Berantem mulu. Ini tempat makan, kalo mau berantem di luar sana. Jangan Cuma karena lo berdua, pelanggan disini jadi keganggu” ucap Ify marah.

“dia duluan, Fy” tuduh Rio.

“eh? Lo kali yang mulai duluan” balas Debo.

“siapa juga yang duluan ngajak gue ribut? Elo kan?”

“stop! Sebagian pelanggan disini udah keganggu dengan keributan kalian. Udah deh, Deb, elo pergi ke dapur, siapin tuh makanan. Dan elo, Yo, duduk balik disini. Kalo masih ribut, lebih baik elo pulang aja” perintah Ify. Debo dan Rio menurut. Ify segera meminta maaf pada sebagian pelanggan yang sepertinya sudah terganggu dengan adu mulut dari Rio dan Debo.

====A Turning====

Ify membereskan baju-bajunya ke dalam tas. Benar saja, hari ini pelanggan sangat ramai. Dan akhirnya cafe tutup pada pukul 8 malam. (Memang jadwal cafe ini tutup berbeda-beda. Menurut keadaan cafe. Jika memang sedang sangat ramai, cafe akan tutup pukul 8 malam. Jika biasa saja, cafe akan tutup pukul 5 sore.)  Untung saja, ia sudah mengirimkan pesan pada Gabriel. Menyuruh mereka tidak usah khawatir dengan keadaannya. Saat Ify ingin keluar dari ruang istirahat itu, Debo menghalangi jalannya.

“ada apa lagi sih, Deb? Gue capek nih” ucap Ify sedikit lemas.

“mm, lo pulang bareng gue yuk” ajak Debo.

“gak. Gue udah pulang bareng Rio” tolak Ify.

“elo bareng si curut itu? Mending sama gue aja deh, Fy.”

“sekali enggak ya tetep enggak. Maksa banget sih” tegas Ify dan kemudian berlalu pergi. Debo mengacak-ngacak rambutnya frustasi.

“sial!” erangnya.

====A Turning====

“Yo, pulang” ajak Ify lemas. Rio menoleh dan mendapati Ify yang tengah memijat keningnya.

“Fy? Elo gakpapa? Muka lo pucet” cemas Rio.

“gakpapa, Yo. Cuma pusing aja kok. Udah deh, gak usah cemas gitu” ujar Ify yang berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Rio tidak yakin dengan jawaban Ify tadi. Ia sangat khawatir melihat keadaan pujaan hatinya itu.

“nih. Lo pakai jaket gue aja. Dingin. Nanti lo tambah pusing” suruh Rio. Ify menerimanya dan memakainya tanpa suara. Begitu juga saat ia menaiki boncengan Rio. Tanpa celoteh sedikitpun. Dan keadaan itu menambah kekhawatiran Rio terhadapnya.

“Fy, pegangan ya” ujar Rio. Ify melingkarkan tangannya di perut Rio. Tidak ada suara sama sekali. Tidak seperti biasanya saat ia disuruh Rio memeluknya dan Ify menolak mentah-mentah. Rio menjalankan motornya dengan kecepatan sedang. Sesekali ia menoleh ke belakang untuk sekedar melihat keadaan bidadarinya. Cemas melanda dirinya. Rio memegang tangan Ify yang melingkar di perutnya itu.

‘dingin banget’ batinnya saat menyentuh tangan Ify.

‘please. Kuatin diri lo, Fy. Gue gak mau kalo elo sampe jatuh sakit. Gue gak bisa ngeliat elo menderita. Gue mohon, elo mesti baik-baik aja.’

You May Also Like

0 komentar