MYSTERY of THE CHAIR
Fiksi horor pertamaku :)
*
“hai perkenalkan
nama saya Alyssa Saufika Umari biasa dipanggil Ify. Saya pindahan dari Bandung. Mohon bantuannya.
Terima kasih” ucap seorang gadis manis didepan kelas barunya, X.3
“baik, Ify. Silahkan duduk disebelah Sivia..”
Ify mengangguk dan melangkah menuju bangkunya.
“hai kenalin,
nama aku Sivia..” Ify tersenyum dan membalas uluran tangan Sivia.
“gue Ify.” Dia
kembali memperhatikan guru dikelasnya yang tengah menerangkan sebuah materi
pelajaran saat ini. Tidak lama konsentrasinya buyar saat dia merasakan ada
orang yang memperhatikannya. Ify mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru
kelas. Gadis satu ini terlonjak saat melihat seorang perempuan di kursi pojok
kiri belakang. Perempuan dengan wajah pucat pasi, rambut panjang dan memakai
seragam yang sama dengan siswi-siswi di SMA barunya itu. Perempuan itu memandangi
Ify dengan ekspresi wajah datar. Tapi cukup mengerikan.
“astaga!” pekik
Ify cukup keras dan mengundang seluruh pandangan kearahnya.
“ada apa Ify?”
Tanya Bu Winda. Ify menoleh.
“eh? Eng..gak,
Bu. Gak papa.” Bu Winda mengangguk.
“ya sudah. Kalau
ada apa-apa bilang saja. Baik anak-anak kita lanjutkan pelajaran kita tadi.
Bla..bla..bla..” Ify semakin penasaran dengan perempuan itu. Dia kembali
menoleh ke belakang tepatnya kearah kursi tadi.
‘hah? Kok bisa?
Apa jangan-jangan…mana mungkin’ batin Ify kebingungan saat mendapati perempuan
itu sudah tidak ada lagi disana. Ify kembali memutar kepalanya ke depan.
Berusaha berkonsentrasi dengan pelajaran yang dihadapinya saat ini.
*
Bel istirahat
telah terdengar. Seketika pula murid-murid SMA CIIRS Bangsa Intern
berbondong-bondong keluar kelas. Bergegas menuju kantin, mencari sebuah meja
kosong untuk mereka. Sementara di kelas X.3, masih tersisa 5 orang didalamnya.
“Fy, kamu tadi
kenapa?” Tanya Sivia. Ify menoleh dan menaikkan kedua alisnya.
“kapan?” Tanya
Ify balik. Sivia melongos.
“tadi itu loh.
Pas pelajaran Bu Winda.” Ify mengingat kejadian-kejadian saat pelajaran tadi.
“oh itu. Gue
Cuma kaget aja tadi..” kali ini Sivia yang bingung.
“kaget kenapa?”
“mm..lo tau gak
siapa yang nempatin bangku pojok itu?” Tanya Ify sambil menunjuk kursi pojok
kiri belakang dengan dagunya. Sivia menoleh kearah kursi itu.
“aku gak tau,
Fy. sejak aku masuk kelas ini, bangku itu memang gak ada yang nempatin..” jelas
Sivia. Ify menoleh.
“kenapa?”
“bangku keramat”
jawab seseorang yang tiba-tiba muncul di hadapan Ify dan Sivia. Sontak mereka
berdua menoleh.
“bangku keramat?
Maksud lo?” Tanya Ify.
“ya. setiap yang
duduk di bangku itu, pasti bakal kerasukan. Gue juga gak tau sih. gue Cuma
denger orang-orang sini aja” jawab pemuda itu.
‘hah? Masa sih?
tapi tadi kan
ada…” batin Ify. Dia kembali menoleh kearah kursi pojok tadi.
“oh iya kenalin,
gue Mario Stevano Aditya, lo bisa panggil gue Rio.
Kalo yang ini Cakka dan yang ini Gabriel lo bisa panggil dia Iel.” Ify
tersenyum.
“gue Ify.”
“oh iya, Fy.
kenapa tadi lo waktu pelajaran Bu Winda?” Tanya Cakka.
“hah? Enggak
kok. Gue Cuma tadi…” Ify kembali menoleh ke kursi itu. Perempuan itu kembali
muncul. Tapi kini dia berdiri disamping mejanya. Kemudian sosok perempuan itu
menunjuk kearah laci mejanya.
‘maksud tuh cewe
apaan?’ batin Ify. Keempat teman barunya menatap Ify heran.
“Fy..” panggil
Cakka. Tapi Ify tidak bergeming. Gadis ini beranjak dan melangkah menuju meja
dan kursi perempuan tadi.
“Fy, lo mau
kemana?” Tanya Rio. Tapi Ify tidak bergeming. Dia masih melanjutkan langkahnya.
Setelah dia sampai disana, Ify meraba laci meja itu.
‘apaan nih?’
batinnya lagi. dia mengeluarkan benda itu. Sejenak dia mengerutkan kening
bingung. ‘kertas?’ Rio, Cakka, Gabriel dan
Sivia menghampirinya.
“Fy, ada apaan
sih?” Tanya Sivia.
“kertas apaan
tuh?” Tanya Gabriel. Ify membuka kertas itu.
“Tolong?” ucap
mereka bersamaan. Rio, Cakka Gabriel dan Sivia
saling pandang. Ify memandang lurus kedepan, memikirkan apa maksud dari semua
ini.
“Fy, lo gak
kesurupan kan?”
Tanya Cakka. Ify menoleh.
“gak kok. Gue
Cuma…” belum sempat Ify berbicara, bel masuk telah berbunyi.
“pulang sekolah
jangan langsung pulang. Kita kumpul dulu sebentar.” Mereka semua mengangguk
kemudian kembali ke tempat duduk mereka masing-masing.
*
Murid-murid SMA
CBI bersorak senang ketika mendengar suara yang mereka anggap bel surga. Mereka
langsung berhamburan keluar kelas masing-masing. Tapi tidak untuk segerombol 5
orang ini. Mereka masih belum beranjak meninggalkan kelas itu.
“mm..jadi
intinya, lo mau ngapain ngumpulin kita disini?” Tanya Rio yang angkat bicara.
“gue Cuma mau
mecahin misteri ini” jawab Ify. Semua mengernyitkan kening bingung.
“misteri?
Misteri apa?” Tanya Gabriel yang mungkin bisa mewakili sebuah tanda Tanya di
kepala mereka berempat.
“gue penasaran
sama tuh bangku” kata Ify sambil melirik kursi yang sedari dulu sampai saat ini
dipertanyakan oleh seluruh warga SMA CBI.
“yaa..walaupun
gue baru disini, setidaknya..gue bisa mecahin misteri yang kalian bilang bangku
keramat itu.”
“gimana
caranya?” Tanya Rio.
“mungkin langkah
pertama, gue mesti cari informasi terlebih dulu tentang bangku itu. Lo semua
pada mau bantuin gue kan?” terpancar keraguan
di wajah Rio, Cakka, Gabriel dan Sivia. Dan
Ify menyadari itu. Lalu dia tersenyum.
“gue gak maksa
buat kalian ikut kok. Kalo kalian gak bisa biar gue sendiri aja..”
“gue ikut” ucap Rio dan Gabriel kompak. Ify masih tetap tersenyum
kemudian memandang Cakka dan Sivia bergantian.
“aku ikut deh”
ujar Sivia. Sedangkan Cakka terlihat sedikit ragu.
“gue gak maksa
loh, Kka..”
“gu..gue ikut
kok hehe” kata Cakka sambil tersenyum lebar memperlihatkan sederet gigi
putihnya. Ify tersenyum manis.
“oke, jadi besok
kita mulai ngumpulin informasi-informasi tentang bangku itu.”
*
Hari ini Ify
datang sedikit lebih awal. Dia terlebih dulu mengumpulkan informasi tentang
kursi dikelasnya yang dibiarkan kosong itu dengan cara bertanya dengan satpam
sekolah di sini. Ify menghampiri satpam yang bernama Pak Jodi itu di pos
satpamnya yang kini sedang menyesap secangkir kopi hangat.
“permisi, Pak..”
sapa Ify. Pak Jodi-satpam SMA CBI-menoleh.
“iya, ada apa
nak?” Tanya Pak Jodi. Ify mengambil posisi duduk didepan Pak Jodi.
“saya mau Tanya,
Pak..”
“Tanya apa?”
“mm..bapak tau
gak tentang bangku pojok kiri belakang di kelas X.3? yang kata orang bangku
keramat itu.” Seketika wajah Pak Jodi menegang. Keringat dingin bercucuran.
“ta..tau, nak.
Memang kenapa?”
“bapak bisa
ceritain maksud dari bangku keramat itu?” Tanya Ify.
“sebenarnya
bapak tidak sepenuhnya tau tentang bangku itu. Tapi bapak denger-denger bangku
itu ditempati oleh cewe rambut panjang yang dulu juga murid di SMA ini.”
“asal usul
kematiannya gimana, Pak?”
“nah kalo yang
itu, bapak gak tau. Yang bapak tau Cuma yang bapak ceritain aja tadi. Kalo mau
tau, coba kamu Tanya penjaga sekolah ini. Mungkin saja dia tau tentang bangku
itu.” Ify manggut-manggut mengerti.
“oh gitu. Ya
sudah kalo gitu. Makasih ya, Pak. Saya permisi dulu” pamit Ify sambil beranjak
dari tempat duduknya dan berlalu pergi menuju kelasnya.
Ify terus
memikirkan kata-kata Pak Jodi tadi pagi. Perempuan rambut panjang yang dulu
murid SMA ini. Seperti sosok perempuan yang seringkali Ify lihat di kursi
tersebut. Dia terus bergelayut dengan pikirannya sampai tak menyadari kalau
kelasnya sudah terisi penuh. Seseorang menepuk pundaknya. Ify sedikit terlonjak
kebelakang.
“eh? Kalian. Ada apaan?” Tanya Ify
yang tengah mendapati keempat temannya yang sekarang telah berdiri
dihadapannya.
“enggak kok.
Kamu tuh pagi-pagi udah ngelamun. Nanti kesambet loh hehe” canda Sivia sambil
duduk dikursinya. Ify hanya tersenyum.
“nanti jadi kan, Fy?” Tanya Rio. Ify
mengangguk mantap.
“jadi kok. Nanti
kita nanya ke penjaga sekolah ini aja..” Semuanya mengangguk dan kembali
ketempat duduk masing-masing, karena bel masuk telah berbunyi.
*
Ify, Rio, Cakka, Gabriel dan Sivia langsung pergi ketempat
penjaga sekolah setelah bel istirahat tadi berbunyi. Seketika sampai disana,
mereka langsung menghampiri Pak Ujo-penjaga sekolah-dan melontarkan beberapa
pertanyaan.
“permisi, Pak”
ucap mereka bersamaan. Pak Ujo menoleh.
“iya?”
“kami mau nanya,
Pak” ujar Gabriel ramah.
“mau Tanya apa
ya, Nak?”
“gini, Pak. Kami
berlima ini penasaran sama bangku keramat di kelas X.3 itu. Apa bapak tau asal
usul bangku keramat itu?” Tanya Ify.
“ooh bangku itu.
Bapak gak tau, bener apa enggak kejadiannya. Yang bapak tau, gadis yang duduk
dibangku itu dulu dibunuh sama temen sekelasnya sendiri. Bapak juga gak tau
penyebabnya apa. Setelah kasus pembunuhan itu, banyak sekali kejadian-kejadian
aneh di sekolah ini” jelas Pak Ujo.
“kejadian aneh
gimana, Pak?” Tanya Rio.
“yaa kayak ada
orang nangis, terus kayak ada orang berjalan di koridor tapi gak ada orangnya.
Kejadian-kejadian aneh itu berlangsung tengah malem, Nak. Bapak juga suka ngeri
dengernya.”
“yang bener,
Pak?” Tanya Cakka takut. Pak Ujo mengangguk.
“kalo gitu
makasih ya, Pak informasinya. Kami permisi dulu, Pak” pamit Ify.
“iya iya
sama-sama. Silahkan.” Mereka berlima langsung menuju kelas mereka.
“jadi, apalagi
rencananya?” Tanya Sivia saat mereka ditengah berjalan menuju kelas. Ify nampak
berpikir.
“kita udah
nanya, terus udah dapet juga informasinya.. tinggal…” perkataan Gabriel
terhenti ketika Ify berhenti melangkah saat diambang pintu kelas mereka.
“Fy?” panggil Rio.
“…” Ify bergeming.
Pandangan matanya kosong menatap lurus kedepan.
“ka..kayak..nya..I..If..fy..ke..surupan
deh..” ujar Cakka terbata-bata karena ketakutan telah melandanya.
“jangan ngaco
deh, Kka” bantah Rio.
“gak percaya
banget sih. liat aja pandangannya kosong gitu. Hiii..takut gue..” gidik Cakka
sambil bersembunyi dibalik badan Gabriel.
“masa’ sih?”
Tanya Rio tidak percaya. Rio berjalan
kehadapan Ify. Dia mengibas-ngibaskan tangannya didepan wajah Ify.
“Fy?” Ify
menoleh. Menatap Rio masih dengan pandangan kosong.
“lo kenapa?” Ify
mendekatkan mulutnya ketelinga Rio.
“tolong aku”
bisik Ify yang kemudian tak sadarkan diri. Dengan sigap Rio
menahan tubuh Ify yang tumbang.
“IFY..” pekik
Sivia kaget.
“tolongin gue
bawa dia ke UKS..” seru Rio. Gabriel dan Cakka
mengangguk dan menuruti perintah Rio tadi.
*
Ify saat ini
sedang berada disuatu tempat.
“dimana nih?”
gumamnya.
“kok kayak taman
belakang sekolah sih?” gumamnya lagi. Dia terus mengedarkan pandangannya
keseluruh tempat itu. Dan benar sekali kini dia sedang berada di taman belakang
sekolah. Kemudian pandangan matanya berhenti pada satu titik. Dimana disitu ada
seorang perempuan yang sedang duduk membelakanginya dibangku taman itu. Dengan
keberanian yang dia miliki, dia pun menghampiri perempuan itu.
“hey..” sapa Ify
sambil menepuk pundak perempuan itu. Perempuan itu menoleh. Ify terlonjak
melihat siapa perempuan itu.
“ELO?” pekik
Ify. perempuan itu tersenyum, miris.
“iya. Aku gadis
yang harus meninggalkan dunia ini dengan tragis dan menempati bangku dikelas
X.3 itu” ucap perempuan itu. Wajahnya yang asli ternyata sangat cantik. Tidak
seperti kemarin Ify lihat.
“aku memanggilmu
kesini untuk meminta tolong kepadamu.”
“minta tolong
apa?”
“tolong carikan
jasad tubuhku di sekitar sekolah ini.”
“baiklah.
Mm..tapi lo bisa ceritain gimana…kejadian kematian lo itu?” Tanya Ify.
“ini semua
karena ulah temen sekelasku. Dia itu adalah rivalku di kelas. Kami selalu
bersaing untuk mendapatkan peringkat pertama. Aku menganggap itu adalah
persaingan yang sehat. Walaupun pada akhirnya aku harus mendapat peringkat
dibawah dia, aku tidak apa-apa. Tapi pada kenyataannya…aku mendapat peringkat
pertama. Aku sangat bersyukur pada waktu itu. Sedangkan dia, berada di
peringkat dua…” perempuan itu menghela nafas sejenak.
“..tapi dia
tidak terima dengan semuanya. Dia marah. Hingga pada suatu hari dia melabrak ku
saat aku ingin pulang sekolah…”
Flash On---
“heh!” bentak
Tiara-sang pembunuh- Artha-perempuan itu- yang hendak ingin melangkah pulang
langsung menoleh.
“ada apa, Ra?”
Tanya Artha.
“ELO..ikut gue”
ucap Tiara sambil menarik paksa tangan Artha.
“Ra…kita mau
kemana?”
“diem aja deh
lo.” Artha pun diam. Dia hanya bisa mengikuti Tiara. Hingga sampailah mereka di
sebuah gudang.
“Ra..kita mau
ngapain kesini?” Tanya Artha ketakutan. Tiara tertawa miring.
“Lo tau? Kalo
gue itu..BENCI BANGET SAMA LO..” ucap Tiara dengan nada tinggi di akhir
kalimat.
“ke..kenapa, Ra?
Ki..kita kan
temen” ujar Artha dengan suara bergetar.
“temen? Lo
bilang TEMEN? Walaupun kita sekelas..tapi gue adalah RIVAL SEJATI LO..” bentak
Tiara. Artha tidak bisa menahan air matanya lagi.
“ta..tapi..kenapa..kam.mu..benci
sama aku?” Tanya Artha disela isak tangisnya.
“karena
ELO..udah ngerebut semua yang gue mau. SEMUANYA..”
“a..aku..ga..gak..bermaksud,
Ra. Kalo kamu mau ngegantiin kedudukan aku..aku terima..asal kamu seneng.”
“alah bulshit
lo..” ucap Tiara sinis kemudian membalikkan badannya
“Ra…aku serius.
Kalo itu ma..” JLEPP! Sebuah cutter telah tertusuk di perut Artha.
“Ti..tia..ra..”
ucap Artha terbata-bata.
“haha…dan itu
yang gue mau. Selamat tinggal Artha. RIVAL SEJATIKU. Mampus lo!” ucap Tiara
sambil tersenyum sinis.
---Flash Off.
“…dan saat
mereka telah mengetahui pelakunya, Tiara di penjara.” Ify terdiam mendengar
cerita perempuan yang menurut Ify sangat miris.
“tolong aku buat
cari jasad tubuhku. Malam ini juga. Biar aku bisa pergi dengan tenang”
pintanya. Ify mengangguk mantap.
“makasih ya.
makasih.” Seketika pula ada sebuah cahaya putih terang yang berangsur mendekat
kearah Ify.
*
Ify membuka
matanya perlahan. Terlihat empat orang berkerumun dihadapannya dengan raut
wajah khawatir.
“Fy..kamu gak
papakan?” Tanya Sivia khawatir. Ify tersenyum.
“gak. Gue tadi
kenapa?” tanyanya balik.
“lo tadi
kesurupan. Terus elo bisikin si Rio. Gak tau
deh apa yang lo bisikin sama dia. Sudah itu lo langsung pingsan” jawab Cakka.
Ify manggut-manggut mengerti. dia mengambil posisi duduk.
“kalian gak
masuk kelas?” Tanya Ify.
“gak. Kita
nungguin lo disini. Pelajaran udah mau habis juga” ujar Rio.
Ify tersenyum-lagi-
“thank’s”
ucapnya tulus. Semuanya mengangguk.
“malem ini juga,
kita harus mecahin misteri ini” kata Ify mantap.
“hah? Malem
ini?” kaget Cakka. Ify mengangguk.
“kenapa?” Tanya
Ify.
“eh? Eng..gak.
cu..Cuma..kenapa mesti malem sih, Fy?” Tanya Cakka ragu-ragu. Ify tertawa
kecil.
“kalo lo takut,
gue gak maksa buat lo ikut.” Cakka menggeleng.
“enggak! Gue
ikut” ucapnya mantap.
“so, jam setengah
7 malem kumpul disekolah” perintah Ify.
*
Ify, Rio, Gabriel, Cakka dan Sivia telah berkumpul disekolah.
Jam telah menunjukkan pada angka 6 kurang 35 menit.
“oke. Jadi kita
harus cari jasad tubuh cewe bangku itu disekitar sekolah ini..” kalimat Ify
terpotong lantaran Cakka memekik kaget.
“APA?!! Jasad
tubuh? Be..berarti..ma..mayat dong” ujarnya yang sudah keringat dingin. Ify
mengangguk.
“iya.” Cakka
sudah komat-kamit tidak jelas.
“alamak!
Malem-malem nyari mayat. Haduuhh! Gimana ceritanya ini?” dumel Cakka.
“biar cepet kita
berpencar. Rio sama Iyel, kalian cari
diseluruh kelas. Cakka, Sivia sama gue, biar cari ruang guru, toilet sama
perpus.” Rio dan Gabriel mengangguk jelas.
Begitupun dengan Sivia.
“ayo. Kita mulai
cari sekarang.” Mereka semua berpencar menurut petunjuk yang telah dikerahkan
oleh Ify tadi.
*
(Rio-Gabriel)
Saat ini mereka
tengah berada dikelas yang berada di lantai dua. Rio
dan Gabriel masih terus mencari dengan keberanian yang dimiliki masing-masing.
‘Class XII IPA-2’ itulah nama kelas yang tertera di atas depan pintu kelas
dimana Rio dan Gabriel mencari yang disebutkan
oleh Ify tadi. Sebuah jasad tubuh seorang perempuan pemilik bangku kosong
dikelas X.3 Hening. Tidak ada pembicaraan sama sekali diantara mereka berdua.
Yang terdengar hanya suara kasak kusuk yang diperbuat oleh mereka berdua.
“dapet?” Tanya
Gabriel pada Rio yang masih sibuk mencari
sesuatu itu dibagian lemari belakang kelas itu. Rio
menggeleng.
“kita cari
dikelas lain” perintah Rio. Gabriel mengangguk
dan kemudian mereka jalan beriringan menuju kelas lain. Keheningan masih
terecipta diantara keduanya.
“heran gue sama
dia. Gue yang dulu baru masuk sekolah ini apalagi tuh kelas udah merinding
duluan ngeliat tuh bangku” ucap Gabriel membelah keheningan. Rio
tertawa kecil.
“itulah
kelebihan dia. Punya keberanian yang tinggi. Gak kayak kita. Liatnya aja udah
ciut duluan” ujar Rio yang
mungkin-sedikit-kagum. Gabriel menoleh sambil menaikkan kedua alisnya.
“tumben lo muji
cewe. Biasanya juga lo gak peduli sama anak-anak cewe dikelas maupun disekolah kita.” Rio menaikkan kedua alisnya.
“iya kah?” tanyanya
balik tak percaya. Gabriel melongos.
“udah ah. Lo
kelamaan mikirnya. Kita cari lagi.” Rio hanya
bisa mengekori Gabriel dibelakang masih dengan sejuta pertanyaan diotaknya.
*
Ify, Cakka dan
Sivia masih terus mencari jasad itu disekitar kantor guru.
“udah dapet belom?” tanya Ify pada Cakka dan Sivia. Keduanya menggeleng
kompak. Ify menghela nafas.
“nih tempat serem amat sih? Iihh..” gidik Cakka sambil memperhatikan setiap
sudut kantor guru itu.
“ya udah deh. Kita gak dapet apa-apa disini. Kita cari ditempat lain” ajak
Ify. Cakka terbelalak.
“mau cari dimana lagi?” tanya Cakka ketakutan.
“satu-satunya tempat di sekolah ini yang belom kita cari, ya gudang!” Cakka
dan Sivia melotot.
“APA?? GUDANG?” kaget keduanya. Ify mengangguk.
“ya ampun, Ify. Malem-malem kayak gini kita mesti masuk kedalem tuh gudang”
ujar Sivia memelas dibarengi dengan anggukan setuju Cakka.
“kalo kalian takut, lo berdua boleh istirahat di rumahnya Pak Ujo. Biar gue
anter. Gimana?” tanya Ify. Sivia dan Cakka saling pandang.
“elo sendirian nyari mayat ke gudang?” tanya Cakka tidak percaya.
“enggak. Gue minta bantuan Rio sama Gabriel kok” jawab Ify.
“ee..ya udah deh. Kita ikut aja” ucap Sivia sambil menyikut Cakka. Cakka
menoleh ke arah Sivia heran.
“beneran nih mau ikut? Gak takut?” Sivia dan Cakka mengangguk ragu.
“ya udah kalo gitu, kita cari Rio sama Gabriel dulu” ajak Ify sambil
melangkah keluar kantor guru diikuti Cakka dan Sivia.
*
“gimana?” tanya Ify pada Rio dan Gabriel yang baru saja menghampiri mereka
bertiga.
“kita udah nyari diseluruh kelas, tapi tetep aja gak ketemu” jawab Gabriel.
“elo bertiga?” tanya Rio balik.
“sama aja. Nihil” jawab Cakka.
“tinggal satu tempat yang belom kita selidiki” ucap Ify.
“apaan?” tanya Rio dan Gabriel kompak.
“gudang” jawab Ify. Rio dan Gabriel terbelalak.
“hah? Serius? Malem-malem gini nyari mayat di gudang itu?” tanya Gabriel
kaget.
“yang bener aja, Fy?” tanya Rio sedikit ciut. Ify mengangguk mantap.
“tau ah si Ify. Malem-malem gini maennya gudang. Iihh..” gidik Cakka.
“ya udah yuk, lanjut. Nanti kemaleman lagi” ajak Ify sambil melangkah
menuju gudang sekolah itu. Rio, Gabriel, Cakka dan Sivia yang berada
dibelakangnya saling pandang.
“yuk” ajak Gabriel. Mereka semua pasrah dan mengikuti Ify yang terus
melangkah ke gudang. Ruangan itu sangat menakutkan. Gelap di siang hari.
Apalagi jika hari sudah malam. Mungkin saja ruangan itu sudah tidak bisa
terlihat apa-apa lagi disana. Ify masih saja melangkah menuju ruangan keramat
itu. Rio, Gabriel, Cakka dan Sivia mengikutinya dari belakang. Akhirnya, mereka
sampai di depan pintu ruangan yang mencekam.
“eh gila! Dari luar aja serem banget, apalagi di dalemnya” gidik Cakka
ngeri.
“masuk yuk” ajak Ify sambil membuka pintu gudang perlahan. Decitan dari
pintu itu menambah suasana di ruangan itu semakin mengerikan. Sunyi, sepi.
Hanya terdengar suara jangkrik dan angin malam yang berhembus.
“gelap banget. Fy, hidupin aja lampunya. Walaupun kita ada senter, tapi
tetep aja gak bisa melihat dengan jelas” ujar Sivia. Ify mencari saklar lampu. Dapat!
Ify menghidupkan lampunya. Cahaya dari lampu tersebut remang-remang.
“ya elah, sama aja” keluh Gabriel.
“biarin. Yang penting kita bisa dapet pencahayaan yang cukup” ujar Ify.
“bener juga” sambung Rio.
“sekarang kita cari mayat itu” perintah Ify. Semua bergerak mencari ke
sekeliling ruangan yang lumayan besar. Setelah beberapa menit, semuanya
berkumpul kembali.
“gimana?” tanya Ify. Semua menggeleng serentak.
“gue tadi nemuin pintu” ucap Rio.
“dimana?” tanya Cakka.
“ikut gue.” Semua mengikuti Rio dan berhenti di depan pintu yang mereka
tidak tahu apa di balik pintu itu.
“ini pintunya” ucap Rio. Tanpa Rio sadari dari arah atasnya sebuah balok
kayu yang cukup besar jatuh ke arahnya. Tetapi dengan cepat, Ify mendorong
tubuh Rio. Balok kayu itu menghantam punggung Ify.
“Ify!” Gabriel, Cakka dan Sivia berteriak cemas.
“gu..gue gakpapa” ucap Ify. Rio membantu Ify berdiri yang membuat sesuatu
yang panas menjalar di hati Gabriel.
“serius?” tanya Rio cemas.
“iya. Cuma sedikit pusing aja kok. Ya udah kita buka aja tuh pintu.
Hati-hati” ucap Ify sambil berdiri yang masih dibantu Rio. Gabriel membuka
pintu itu dengan hati-hati dan perlahan. Seketika bau tidak sedap menyergap
hidung mereka.
“uugh! Baunya, semeriwiing” ujar Cakka sambil menutup hidungnya. Sivia
menoyor Cakka.
“mungkin itu mayatnya” tunjuk Ify pada sebuah mayat yang terbungkus oleh
kain.
“Yel, Cak, Yo, bawa tuh mayat ke taman belakang. Kita kubur disana”
perintah Ify.
“tapi lo?” tanya Rio ragu yang masih memapah Ify.
“udah. Gue gakpapa” ucap Ify tersenyum. Rio melepaskan Ify. Ternyata
terkena balok kayu tadi membuat kepalanya pusing. Ify sedikit limbung ketika
Rio melepasnya, tapi ia segera menyangga tubuhnya pada dinding dengan tangannya.
Sivia mendekati Ify dan mengambil alih untuk memapah sahabat barunya itu.
Sedangkan ketiga lelaki itu berusaha membawa tubuh mayat itu ke taman belakang.
Gabriel meminjam cangkul ke tempat Pak Ujo. Ternyata Pak Ujo membantu
mereka mengkubur jasad tubuh itu. Setelah semuanya telah terkubur, mereka semua
berdoa yang dipimpin oleh Pak Ujo.
“makasih, Pak, udah bantu kita” ucap Ify.
“iya, Non, sama-sama.” Ify tersenyum. Ia merasa dunia ini seakan berputar.
Suara-suara yang berasal dari teman-temannya yang sedang berbincang seakan
menjauh. Dan pandangannya menjadi gelap gulita.
*
Ify mengerjapkan matanya. Kepalanya masih sedikit pusing. Punggungnya
terasa ngilu. Ia mengedarkan pandangannya. Ruangan ini serba putih. Berbau
obat. Bisa ditebak ruangan ini adalah kamar inap di rumah sakit. Semua
sahabatnya yang menyadari Ify telah membuka mata, mereka langsung menghampiri
Ify.
“akhirnya lo sadar juga” ucap Gabriel sambil tersenyum lega. Ify membalas
senyuman itu.
“udah baikan?” tanya Rio.
“gak juga. Masih pusing. Punggung gue juga masih sakit” ucap Ify jujur.
“maaf, Fy, gara-gara gue elo jadi kayak gini” ujar Rio yang terlihat
menyesal. Ify terkekeh.
“bukan salah elo, Yo. Gak perlu deh elo minta maaf. Nyantai aja lagi” ujar
Ify yang membuat semuanya tersenyum.
“tau gak, Fy? Pas elo gak sadar-sadar tuh yang paling khawatir Gabriel sama
Rio. Haha” celetuk Cakka yang dihadiahi jitakan dan toyoran dari Gabriel dan
Rio.
“eh gila! Lo berdua beraninya Cuma keroyokan” keluh Cakka sambil
mengusap-ngusap kepalanya. Ify menanggapi pernyataan Cakka tadi hanya
tersenyum.
“berapa hari gue gak sadar?” tanya Ify.
“3 hari, Fy. Lama banget elo tidurnya. Bosen tau nungguin elo gak buka-buka
mata” keluh Sivia. Ify tertawa.
“maaf deh udah bikin kalian bosen” ujar Ify.
“gakpapa kali, Fy. Itu kan gunanya sahabat” ujar Rio.
“sahabat apa sahabat tuh?” celetuk Cakka lagi.
“elo minta gue gorok ya, Kka?” tanya Rio garang.
“ampuuunn!” Semuanya tertawa melihat ekspresi lucu Cakka.
“elo istirahat yang cukup. Biar cepet sembuh” ucap Gabriel.
“perhatian banget sih. Hhuuh co cweet deh” lagi-lagi dan lagi Cakka
menggoda mereka berdua.
“gue gantung lo di tiang bendera” ucap Gabriel dengan sangar.
“tuh kan? Pada ngeroyok gue. Gak usah mau, Fy, sama mereka berdua. Elo sama
gue aja deh” ucap Cakka sambil mendekati Ify. Ify tertawa melihat kelakuan
sahabat-sahabatnya itu.
“biarin mereka berdua aja. Iih maho deh” ujar Cakka lagi yang membuat Ify
dan Sivia tertawa puas. Rio dan Gabriel terlihat seperti ingin menerkam Cakka.
“kalo Iyel sama Rio, Cakka sama Ify, gue sama siapa dong?” tanya Sivia.
“elo kan udah ada yayang Apin” ucap Cakka yang membuat Sivia blushing.
“elo cerewet banget sih, Kka” gemas Ify sambil mencubit pipi Cakka.
“yeeeaay, gue dicubit Ify. Haha kalah langkah lo berdua sama gue” goda
Cakka lagi yang semakin membuat Gabriel dan Rio memanas.
“Cakkaaa!” ujar mereka berdua garang.
“aah! Ampuuunn!”
*
Suasana kelas X.3 akhirnya terlihat berbeda. Terasa tenang. Tidak ada lagi
yang namanya bangku keramat. Mereka bisa duduk dimana saja, kapan saja, dan
tidak ada satupun orang yang melarang. Ini semua berkat keberanian dari 5 orang
itu. Yang juga murid dari kelas X.3
0 komentar