A Turning Part 10
A Turning àPart 10ß
====A Turning====
Ify mengerjapkan
matanya. Ia langsung terduduk kaget di kasurnya itu. Kepalanya sedikit pusing.
Ia kebingungan.
“kok gue bisa
disini?” tanyanya pada siapa tidak tahu. Karena hanya dia sendiri di kamar.
Pintu kamar Ify terbuka.
“loh? Bi Ina?
Bukannya bibi udah stop kerja disini?” tanya Ify bingung kepada Bi Ina yang
ternyata orang yang membuka pintu kamar Ify (Bi Ina adalah pembantu rumahnya
dulu. Dia sudah lama bekerja di rumah ini. Tetapi sejak kejadian mama dan
papanya berpisah, Bi Ina berhenti bekerja. Bukan karena apa-apa, hanya karena
anaknya di kampung, Ciamis, sakit-sakitan. Tepat bersamaan dengan konflik itu. Dengan sedikit tidak rela, Bi Ina mengundurkan
diri.) Ia melangkah masuk ke kamar Ify sambil membawa nampan yang di atasnya
terlihat sebuah mangkuk yang berisi bubur dan obat.
“iya, Non. Bibi
dipanggil lagi oleh Nyonya. Beliau menyuruh bibi buat ngejagain Non Ify disini.
Soalnya semuanya lagi pergi” jawab Bi Ina sambil meletakkan nampan tadi.
“pergi kemana, Bi?”
tanya Ify lagi.
“Non Shilla, Den
Iyel, Den Cakka sama Den Deva kan sekolah, Non. Nyonya katanya pergi ke luar
kota utusan dari kantor. Tapi, kayaknya tadi, Nyonya pergi bareng...Tuan” jawab
Bi Ina.
“ha? Serius, Bi?” Bi
Ina mengangguk.
“kok Ify gak
sekolah, Bi? Kesiangan ini” cemasnya.
“Non Ify emang gak
sekolah. Non Ify kan lagi sakit. Tenang aja, Non, surat sakit Non Ify pasti
udah nyampe ke sekolah.” Ify bernafas lega.
“oh iya, kok Ify
bisa ada disini? Padahal semalem kan..pulang sama Rio?” tanyanya bingung.
“kalo itu Bibi
kurang tau, Non. Soalnya, bibi baru dateng tadi pagi” jawab Bi Ina jujur. Ify
mengangguk.
“ya udah, Non. Non
Ify istirahat aja. Bibi masih ada kerjaan di bawah.” Ify mengangguk dan tersenyum.
“oh iya, Bi. Makasih
bubur sama obatnya” ucap Ify.
“sama-sama, Non”
ucapnya sambil tersenyum dan melangkah pergi keluar kamar Ify. Ify menggaruk
tengkuknya.
“kok bisa sih gue
sampe sini tanpa kesadaran gue?” tanyanya sendiri yang masih kebingungan. Ify
mengurut pelipisnya.
“mama pergi sama
dia? Kenapa harus pergi berdua sih? Sendiri kan bisa? Itu juga kan utusan dari
kantor. Argh! Tau ah! Pusing banget mikirin masalah itu” ucapnya dan kemudian
berbaring kembali hanya untuk sekedar menghilangkan rasa pusing yang melanda
kepalanya.
====A Turning====
“Yo, Ify kok bisa
sakit lagi?” tanya Sivia pada Rio yang duduk di depannya. Saat ini jam
istirahat. Sivia menghampiri Alvin dan Rio yang sedang melahap semangkuk bakso.
Tetapi, Rio seperti tidak ingin berniat untuk makan. Pandangannya lurus
kedepan, kosong. Sementara baksonya hanya ia aduk-aduk saja. Rio tidak merespon
pertanyaan Sivia.
“Rio” panggil Sivia.
Alvin menoleh ke arah sahabatnya itu. Ia menepuk pundak Rio sedikit keras yang
membuat Rio terlonjak.
“apaan sih, Vin?
Sakit tau” keluh Rio sambil mengusap pundaknya. Alvin menunjuk Sivia yang
berada di depan mereka berdua dengan dagunya. Rio menoleh.
“eh? Sejak kapan lo
disini, Vi?” tanya Rio bingung. Sivia melongos.
“udah daritadi kali.
Elo tuh yang bengong mulu. Gue nanya aja kagak dijawab” ujar Sivia kesal. Rio
cengengesan.
“hehe nanya apa, Vi?
Sok atuh, tanya aja lagi.”
“Ify kenapa bisa
sakit lagi?” tanya Sivia lagi.
“heuh! Dia sakit
mungkin karena capek, Vi. Dia kerja di cafe sampe malem. Emang kemarin, cafe
itu ramai banget. Pas kita pulang dia bilang kalo dia pusing. Terus pas gue
pegang tangannya, dingin banget. Gue kira dia ketiduran dipunggung gue, tapi
ternyata dia pingsan. Pas gue cek, badannya panas banget” jawab Rio panjang
lebar.
“dia terlalu maksain
diri. Pikirannnya terlalu banyak. Gue mau banget buat bantu, tapi gue bisa apa
coba buat bantu dia?” ujar Sivia prihatin. Rio mengangguk setuju.
“nanti gue mau ke
rumahnya. Mau nengokin pujaan hati gue itu” ucap Rio.
“cieeee, Rio, ehem,
iya deh tau” goda Sivia yang membuat Rio bersemu.
“elo mau ikut?”
tanya Rio.
“mm, kayaknya nanti
gue gak bisa deh, Yo. Gue ada acara keluarga. Jadi gue titip salam aja ya.” Rio
mengangguk.
“ya udah deh, gue
Cuma mau tanya itu aja. Gue ke kelas duluan ya. Dah” pamit Sivia dan berlalu
pergi. Rio mengangguk tersenyum. Saat Rio ingin berniat memakan baksonya, Ia
kaget.
“loh? Bakso gue
kemana?” tanyanya bingung. Dia menoleh ke arah Alvin yang melahap bakso tanpa
dosa.
“Alviiin! Lo
kebiasaan banget sih. Gue juga laper woy!”
====A Turning====
Ify terlihat bosan
di kamarnya. Ia ingin sekali keluar kamar, tapi kondisi tubuhnya memang sedang
tidak mendukung. Sangat lemas. Bubur dan obatnya belum tersentuh sama sekali
“gue bosen” keluh
Ify. Pintu kamar Ify terbuka. Seketika Ify menoleh. Terlihat Gabriel dan Cakka
masuk.
“udah sadar nih?”
tanya Cakka.
“ha? Sadar? Maksudnya?”
tanya Ify bingung.
“lo semalem tuh
pingsan, Fy” jawab Gabriel.
“lo kerja ya?” tanya
Cakka. Ify melotot.
“kerja? Eng..enggak
kok. Kok lo nanya gitu sih?” tanya Ify balik.
“aduh, Fy, lo gak
usah bohong. Kita semua udah tau kalo elo kerja di Stesa’s Cafe” ujar Gabriel.
“pasti Rio yang
kasih tau elo semua kan? Kurang asem tuh anak” kesal Ify. Gabriel mengusap
kepala Ify.
“jangan marah sama
dia, Fy. Seharusnya elo berterima kasih sama dia” ucap Gabriel.
“apa? Makasih sama
dia? Buat apa? Dia kan udah beberin ke kalian semua kalo gue kerja. Gue gak mau
kalian semua tau” gebu Ify.
“siapa yang nungguin
elo kemarin sewaktu elo kerja? Siapa yang nganterin elo pulang? Siapa yang bawa
elo ke kamar? Berat juga tau gendong elo, tapi dia kuat bawa elo sampe sini.
Katanya sih gini ‘gue pasti kuat demi dia’” ucap Cakka sambil menirukan gaya
suara Rio. Ify termenung. Gabriel dan Cakka tersenyum melihat Ify. Gabriel
mengacak rambut Ify.
“ah, Kakak” keluhnya
sedikit manja. Gabriel melihat semangkuk bubur dan obat.
“elo belom makan
sama sekali?” tanya Gabriel. Ify cengengesan dan kemudian menggeleng.
“suka banget sih gak
makan? Nanti elo tambah sakit” semprot Gabriel.
“iya nih, Ify. Mau
jadi apa tuh badan? Tulang doang nanti” tambah Cakka. Ify mengerucutkan
bibirnya.
“gue males makan”
ucapnya.
“gak ada kata males
makan kalo lagi sakit” tegas Gabriel.
“bener. Kalo males,
rajin-rajinin dong” sambung Cakka ngawur. Gabriel menoyor Cakka. Cakka
meringis.
“siang semua” sapa
seseorang dari ambang pintu kamar Ify. Gabriel, Cakka dan Ify serentak menoleh.
“siang, Yo. Mau
jengukin Ify ya?” tanya Gabriel pada Rio yang ternyata orang itu. Ify mendadak
gugup saat mengetahui Rio lah orang itu. Kata-kata Cakka tentang Rio yang rela
membawanya ke kamar serta steatment dari Rio itu terus terngiang di
otaknya.
“ehem. Kita keluar
aja yuk, Kak. Takut ganggu orang yang lagi pacaran” goda Cakka yang membuat Ify
melotot sekaligus blushing. Ify melempar bantal ke arah Cakka. Tetapi sayang,
lemparannya meleset. Cakka keluar kamar Ify sambil tertawa. Gabriel
menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Cakka dan Ify. Ia akhirnya ikut
melangkah keluar kamar sebelum memerintahkan Ify untuk makan dan minum obatnya.
Setelah semuanya pergi, Rio menghampiri Ify. Ia duduk di bangku yang sudah
tersedia di sebelah kasur Ify.
“udah baikan?” tanya
Rio.
“lumayan sih. Masih
pusing aja sedikit” jawab Ify.
“bagus deh kalo
gitu.” Keduanya terdiam. Hening. Bingung ingin membicarakan apa. Selang
beberapa waktu, Ify membuka suara.
“mm, Yo” panggil
Ify. Rio menoleh.
“bener elo yang bawa
gue sampe kamar?” tanyanya ragu. Rio mengangguk.
“gue beneran pingsan
semalem?” lagi lagi Rio mengangguk.
“kok bisa?” tanya
Ify lagi yang memang kurang yakin.
“gini ceritanya...”
Flashback On---
“Yo, pulang” ajak Ify lemas. Rio menoleh dan mendapati
Ify yang tengah memijat keningnya.
“Fy? Elo gakpapa? Muka lo pucet” cemas Rio.
“gakpapa, Yo. Cuma pusing aja kok. Udah deh, gak usah
cemas gitu” ujar Ify yang berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Rio tidak
yakin dengan jawaban Ify tadi. Ia sangat khawatir melihat keadaan pujaan
hatinya itu.
“nih. Lo pakai jaket gue aja. Dingin. Nanti lo tambah
pusing” suruh Rio. Ify menerimanya dan memakainya tanpa suara. Begitu juga saat
ia menaiki boncengan Rio. Tanpa celoteh sedikitpun. Dan keadaan itu menambah
kekhawatiran Rio terhadapnya.
“Fy, pegangan ya” ujar Rio. Ify melingkarkan tangannya di
perut Rio. Tidak ada suara sama sekali. Tidak seperti biasanya saat ia disuruh
Rio memeluknya dan Ify menolak mentah-mentah. Rio menjalankan motornya dengan
kecepatan sedang. Sesekali ia menoleh ke belakang untuk sekedar melihat keadaan
bidadarinya. Cemas melanda dirinya. Rio memegang tangan Ify yang melingkar di
perutnya itu.
‘dingin banget’ batinnya saat menyentuh tangan Ify.
‘please. Kuatin diri lo, Fy. Gue gak mau kalo elo sampe
jatuh sakit. Gue gak bisa ngeliat elo menderita. Gue mohon, elo mesti baik-baik
aja.’
Sesampainya di rumah
Ify, Rio menggerakkan bahunya agar Ify bangun. Tidak seperti biasanya, Ify
sangat tidak suka jika ia harus bersandar di punggung Rio, tapi malam ini,
tidak tahu kenapa Ify dengan begitu saja bersandar di punggung Rio.
“Fy” panggil Rio.
Ify tetap tidak terbangun.
“Ify” panggil Rio
lagi.
“Fy, bangun, udah
sampe nih” ucap Rio. Ify tidak merespon sama sekali.
‘Ify kenapa sih?’
batin Rio bingung. Akhirnya, ia menahan tubuh Ify sejenak dengan sebelah
tangannya, sambil memutar tubuhnya untuk turun dari motor.
‘panas banget’ batin
Rio cemas.
“Fy..Fy, bangun, Fy”
panggil Rio lagi sambil menepuk pipi Ify. Ify pingsan. Kekhawatirannya kian
bertambah. Dengan segera, Rio membopong tubuh Ify. Ia mengetuk pintu dengan
kakinya. Cakka yang membukakan pintu terlihat kaget.
“Rio? Ify kenapa?”
tanyanya cemas yang melihat Ify terkulai lemas di gendongan Rio. Wajahnya
pucat.
“dia pingsan, Kak.
Kamarnya dimana?” tanya Rio.
“di atas, cari aja,
ada namanya di depan pintu. Elo kuat bawa dia sendirian? Badannya berat juga
loh” ujar Cakka.
“kuat, Kak. Gue
pasti kuat demi dia” ujar Rio dan kemudian berlalu menuju kamar Ify. Cakka
sedikit terkekeh.
Rio bertemu Gabriel
di atas.
“loh, Yo, Ify
kenapa?” tanyanya khawatir.
“dia pingsan, Kak.
Sakit. Badannya panas banget” ujar Rio sambil membuka pintu kamar Ify. Gabriel
mengikuti. Kemudian Rio membaringkan tubuh Ify di atas kasurnya. Gabriel duduk
di tepi ranjang Ify. Dia meletakkan punggung tangannya di kening Ify.
“panas banget” gumam
Gabriel.
“Yo, gue ambil
kompresan dulu ke bawah. Elo jagain bentar” lanjut Gabriel. Rio mengangguk.
Gabriel melangkah keluar. Disana tinggal Rio dan Ify yang masih belum sadarkan
diri. Rio berjongkok. Dia menggenggam erat tangan Ify.
“gue gak tega liat
elo terbaring gini. Gak tega liat elo menderita. Gak kuat liat air mata lo
jatuh. Gue pingin elo itu bisa terus ketawa, senyum, bahagia. Gue yakin,
dibalik semua rasa sakit elo, penderitaan elo itu, ada sejuta kebahagiaan yang
nunggu elo, Fy. Gue yakin banget” ucap Rio sambil tersenyum miris menatap wajah
Ify yang pucat.
---Flashback Off
Ify terdiam
mendengar cerita Rio yang baru saja terjadi semalam. Rio menatapnya heran.
“Fy? Kok malah
bengong sih?” ucap Rio yang menyadarkan Ify kembali.
“eh? Eng..enggak
kok. Ee..gue gak kenapa-napa” jawab Ify ngawur. Rio tersenyum sambil menggeleng-gelengkan
kepala.
“elo belom makan ya?”
tanya Rio. Ify menggeleng.
“makan gih. Tambah
sakit loh nanti” suruh Rio.
“males” tolak Ify
singkat.
“ya elah, Fy.
Tinggal makan doang. Nih makan” ujar Rio sambil menyodorkan semangkuk yang
berisi bubur buatan Bi Ina.
“kalo gue bilang
males, ya males. Maksa banget sih” ucap Ify.
“kambuh lagi nih
juteknya. Makan” paksa Rio.
“kagak.”
“gue suapin ya?”
tawar Rio sambil menyendok bubur dan menyodorkannya ke depan mulut Ify.
“enggak.”
“kenapa sih gak mau?”
tanya Rio.
“bubur gak enak”
jawab Ify asal.
“coba dulu nih.”
“sekali enggak.
Tetep enggak.”
“dikiiitt aja.”
“enggak.”
“ayo dong, Fy. Di
coba dulu. Yaa?” ucap Rio memelas. Ify yang tidak tega melihat Rio akhirnya
menurut. Dia membuka mulutnya dan memakan sedikit bubur itu. Rio tersenyum
sumringah.
“nah gitu dong. Enak
kan?” Ify manyun.
“ih, manyun-manyun
gitu. Kayak bebek aja.”
“iih, apaan sih lo?”
ucap Ify garang.
“hehe ampuuun. Nih makan
lagi.” Rio terus menyuapi Ify dengan lembut.
“oalah. Harus disuapin
sama pangerannya dulu baru mau makan” celetuk Cakka yang berada di luar kamar
Ify. Ify melotot ke arahnya.
“elo tuh nyebelin
banget Cakkaaaa” teriak Ify. Cakka berlari sambil tertawa terbahak-bahak.
“apa lo ketawa-tawa?”
tanya Ify galak pada Rio yang cekikikan.
“gak. Gak kenapa-napa.
Lo lucu sih” ucap Rio yang membuat Ify blushing.
“iih, merah tuh
pipinya” goda Rio.
“Rio apaan siihh. Jangan
jadi orang ternyebelin kedua sesudah Cakka ya” ucap Ify.
“haha gue kan prang
terganteng” ucap Rio PD.
“PD banget.”
“udah. Nih makan
lagi.” Rio melanjutkan menyuapi Ify. Dan setelah bubur tersebut habis, Rio
menyodorkan sebutir obat pil pada Ify dan segelas air hangat.
“ya udah. Elo istirahat
lagi aja. Biar cepet sembuh. Gue juga mau pulang.” Ify mengangguk dan membaringkan
tubuhnya kembali.
“makasih, Yo, buat
hari ini. Berkat elo, gue udah lumayan baikan” ucap Ify tulus sambil tersenyum.
Rio tersenyum.
“sama-sama, Fy. Gue
rela ngapain aja demi elo” balas Rio. Ify blushing.
“merah lagi tuh.”
“Rio, udah deh.” Rio
terkekeh.
“udah, istirahat
gih. Cepet sembuh ya, bidadariku. Di sekolah gak ada lo, sepi.” Ify tersenyum.
“gue pulang ya.” Ify
mengangguk.
“hati-hati, Yo.” Rio
mengacungkan jempol sembari keluar kamar Ify.
0 komentar