Festival? -Oneshot-

Menjadi wakil ketua OSIS cukup berat. Apalagi jabatan itu harus dijalani oleh seorang perempuan yang tentunya daya tahan tubuh lebih cepat lelah daripada laki-laki. Untung saja sang ketua bukan termasuk orang yang semuanya dianggap serius. Dia lebih santai tapi program apapun dapat terlaksanakan dengan lancar. Jika melihat penampilannya, siapa saja pasti tidak akan percaya bahwa dia adalah seorang ketua OSIS. Dapat dikatakan para pengurus tahun ini adalah pengurus OSIS tersukses selama 12 tahun sekolah itu berdiri. Melihat sekolah mereka terbilang sekolah yang masih muda di daerah mereka, maka para pengurus periode ini bertekad untuk bekerja keras demi memajukan nama sekolah tersebut.
            Seperti saat ini, mereka tengah sibuk hilir mudik, sibuk dengan pekerjaan masing-masing menyiapkan untuk festival yang menjadi program OSIS terbesar sepanjang sekolah itu berdiri. Sebuah acara perlombaan yang bisa diikuti anak SMP, SMA maupun mahasiswa. Disana ada banyak macam perlombaan. Baik di bidang olahraga maupun seni. Berlangsung selama 5 hari. Dimana pada akhir acara, mereka mendatangkan 2 band dan 2 penyanyi terkenal di Indonesia. Maka dari itu, festival ini adalah program OSIS yang telah direncanakan para pengurus 5 bulan sebelumnya. Memang sangat berat, memakan waktu luang mereka, membutuhkan kerja keras yang ekstra, serta kekompakkan harus terjalin dengan baik. Terlebih untuk para ketua dan juga koordinator di festival itu. Sehingga orang-orang yang terpilih sebagai koordinator adalah mereka yang berpengalaman dan terpercaya. Namun, semua itu tidak menjadi masalah bagi mereka, karena program ini adalah tantangan bagi mereka sendiri.
            Untuk panitia bukan hanya dari OSIS saja, melainkan juga dari klub olahraga seperti futsal, basket, catur, juga klub seni seperti musik, paduan suara, dan lukis.

**

            Panas terik matahari tidak menghalau mereka yang tengah bekerja dengan serius. Hilir mudik kesana kemari demi menyukseskan acara yang paling mereka nantikan. Disana terlihat panggung yang masih dikerjakan oleh petugas yang telah disewa. Sang ketua OSIS yang bernama Fabrio Saputra bersama ketua pelaksana acara festival tersebut, Gabriel Dewantara, tengah berdiri di pinggir lapangan upacara yang cukup luas itu yang nantinya sebagai tempat utama dari acara tersebut. Berdiri berdampingan sembari mengawasi para petugas yang masih sibuk mendirikan panggung yang cukup besar. Selain itu juga mereka masih memantau para panitia yang sibuk bekerja.
            Tidak ada yang berbicara, di antara mereka berdua. Hanya mengamati sekitar dengan hening. Hingga beberapa menit.
            “Gimana, Yel?” tanya Fabrio –Rio- yang mulai membuka suara. Gabriel yang mendengar pertanyaan tiba-tiba itu menoleh sekilas.
            “Gimana apanya?”
            “Ya, anak buah lo. Gimana? Masih gagah?”
            “Lo tenang aja, Yo. Mereka semua udah kebal”. Rio mengangguk-ngangguk mengerti.
            “Ya, ya. Semoga tetap kebal sampai lima hari ke depan”. Gabriel terkekeh mendengarnya.
            Suasana di keduanya kembali hening. Sampai suara cukup nyaring tapi cukup dibilang lembut itu terdengar di indera pendengaran mereka berdua.
            “Haduh, Rio, gue cariin kemana-mana, taunya disini. Puas gue nyariin lo sampe ke atap sekolah” cerocos gadis itu sambil memukul pelan lengan Rio dengan gulungan kertas yang sudah dijilid.
            “Lebay amat sih, Fy” celetuk Gabriel sembari tertawa.
Alifya Safanah Utari, si wakil ketua OSIS. Dulu Alifya atau yang kerap disapa Ify itu sangat tidak berminat mencalonkan diri sebagai ketua OSIS maupun wakilnya. Pada periode sebelumnya dia hanya seorang anggota di bidang kesenian. Dulu dia dipaksa oleh Rio dan kawan-kawan untuk menjadi wakilnya. Karena menurut mereka –sahabat Rio- Ify cocok jika disandingkan dengan Rio. Karena ada pada satu program OSIS tahun lalu dimana Rio dan Ify menjadi anggota di sekbid yang sama, mereka melihat Rio dan Ify sangat kompak. Jumlah anggota saat itu banyak, tetapi yang paling menonjol adalah Rio dan Ify. Karena paksaan, nasihat, dan juga ada sedikit ancaman yang mereka berikan, Ify dengan hati yang setengah ikhlas menyetujui ajakan itu. Namun, sekarang dia menikmati jabatannya sebagai wakil ketua OSIS.
“Yeee, lo ngikut-ngikut aja, Yel. Pergi sono, gue trauma kalo ada lo”. Mendengarnya Gabriel terbahak. Ingat pada kejadian dimana Ify yang saat itu juga menghampiri Rio, hanya urusan OSIS. Namun dengan iseng Gabriel menggoda mereka yang tanpa sadar mulutnya masih berada di depan toa –toa untuk mengintruksikan para murid baru, dan semua yang ada disana ikut memojokkan Rio dan Ify. Dengan malu, Ify berlari pergi. Mengingat itu, tawa Gabriel makin menjadi. Rio dan Ify mengernyit heran melihat pemuda satu itu.
“Lo gila, Yel?” tanya Rio bingung. Gabriel menggeleng masih dengan tawanya. “Ih, gila beneran lo”.
“Hahaha udah ah, gue mau mantau di lapangan futsal dulu. Byee…Rify” ujar Gabriel yang kemudian melesat pergi sebelum menerima amukan dari dua insan itu.
“Huh, itu orang. Oh ya, lo mau ngapain tadi?” tanya Rio pada Ify yang masih bersungut-sungut kesal karena ulah Gabriel tadi. “Heh!” sentakan itu menganggetkan Ify. Membuat gadis itu menoleh dan kemudian menyeringai lebar. Rio memandangnya datar.
“Nih, ada yang perlu lo tanda tanganin. Kemana aja sih lo? Capek gue nyariin lo” keluh Ify sambil menyodorkan proposal tersebut beserta pulpen yang dia ambil dari saku bajunya. Rio menerima proposal serta pulpen itu sambil membacanya sebentar dan kemudian membubuhi tanda tangan pada tempat yang telah ditentukan.
“Ini proposal buat sponsor? Kenapa elo yang minta tanda tangan ke gue?”
“Mereka lagi ada kerjaan sebentar, jadi yaudah gue tolongin, mumpung gue lagi ada sedikit luang sih tadi” jawab Ify sambil menerima kembali proposal dan pulpen yang disodorkan Rio.
“Lo istirahat sana. Muka lo udah kucel banget” ujar Rio sambil mengamati Ify yang sibuk dengan handphonenya.
“Entaran deh. Gue ada kerjaan lagi di ruang musik”.
“Mau ngapain? Bukannya disana udah diurus anak klub”. Ify mengantongi handphonenya dan kemudian menghela nafas. Gadis itu mendongak menatap Rio yang lebih tinggi darinya.
“Mereka butuh bantuan gue. Ada sedikit masalah” jawab Ify sekenanya.
“Terus?”
“Terus, emm…ah ya, ada masalah juga di bagian keuangan, jadi harus cari dana lagi. Gak terlalu banyak sih, cuma ya carinya masih butuh kerja keras juga. Semoga aja sponsor yang kita ambil bisa kasih dana” ucapnya sambil tersenyum dengan siratan harapan yang besar. Kemudian senyuman itu hilang berganti ringisan kecil tatkala Rio menyentil dahinya. “Heh! Lo kira kening gue—”
“Pikirin juga keadaan lo. Jangan sampai lo tepar” potong Rio yang membuat Ify sedikit terpana. Ini anak ternyata perhatian juga. Dan seketika tersadar dari lamunannya ketika salah satu panitia memanggil.
“Ah, iya. Thanks ya Pak Ketua. Gue pergi dulu”. Ify berlalu. Rio masih menatap punggung mungil itu yang menjauh. Kemudian pemuda itu menghela nafas panjang. Lelah. Sangat. Tapi ini lah tanggung jawabnya dan resiko sebagai seorang ketua.

**

            Festival itu sudah berlangsung selama empat hari lamanya. Dan besok adalah hari terakhir yang menjadi penutupan. Festival berjalan lancar. Para peserta, penonton, dan yang lainnya berangsur-angsur pulang. Dan sekolah belum terlihat rapi dan siap untuk penutupan esok. Hari pun dengan cepat berganti menjadi senja jingga yang memikat. Namun di sana masih terdapat para panitia yang tengah membereskan hal-hal yang masih berserakan.
            Begitu pula dengan ketua dan wakil yang masih ikut membereskan beberapa hal tersebut. Mereka ikut membersihkan sampah-sampah yang berserakan.
            “Empat hari yang melelahkan” ucap Ify pelan sambil menghela nafas. Gadis itu meregangkan tubuhnya yang seakan remuk. Di depannya terlihat Rio yang juga tengah meregangkan otot-ototnya.
            Pemuda itu tersentak ketika sesuatu menghantam pelan punggungnya. Rio menoleh dan mendapati Ify yang tengah menyandarkan kepalanya dengan menyentuhkan keningnya di punggung tegap pemuda tersebut.
            “Bentar aja. Kepala gue tiba-tiba pusing” ucap gadis itu pelan namun bisa dapat didengar oleh Rio.
            Mendengar itu Rio patuh, dan hanya diam. Kembali menatap semua panitia yang masih sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Sampai salah satu panitia melangkah di depannya.
            “Eh, Viko” panggil Rio pada panitia tersebut. Pemuda yang bernama Viko itu menoleh dan melangkah menghampiri Rio. Kedua alis Viko terangkat seolah bertanya –ada-apa?- “Tolong buang ini ya” ucap Rio sembari menyodorkan dua kantung plastik besar yang isinya adalah sampah. Sampah yang sebelumnya Rio dan Ify punguti.
            “Oke” ujar Viko sambil menerima dua plastik itu. Tak sengaja dia melihat Ify yang tengah menyandarkan kepalanya di punggung Rio. “Kenapa?” tanya Viko berbisik.
            “Kecapean aja”. Viko mengangguk mengerti dan kemudian pamit sambil berlalu. Kembali hening, hanya terdengar suara-suara dari panitia yang sibuk bekerja.
            “Argh! Damn” umpat Ify pelan sambil meringis. Kedua tangannya mencengkram baju belakang Rio, berusaha menyeimbangkan diri yang limbung. Mendengar itu, Rio sontak menoleh dan kemudian berbalik sambil memegangi pergelangan tangan kanan Ify.
            “Lo gakpapa?” tanya Rio khawatir. Ify masih menunduk dan memejamkan mata, guna mengusir rasa pening yang menyerang.
            “Sshh..gak” desisnya pelan. Ify mengangkat kepalanya, menatap Rio dengan tersenyum berusaha meyakinkan.
            “Gakpapa apanya? Muka lo pucat, dan lo tadi udah mau pingsan” ucap Rio kesal akan kekerasan kepala gadis itu. Bagaimana tidak kesal jika dia mengkhawatirkan Ify, namun hanya dibalas dengan kebohongan.
            “Tadi gue mau nerusin kerjaan, tapi sewaktu gue mau angkat kepala semuanya kayak berputar, itu doang. Jadi gue gakpapa”. Rio menghela nafas sambil memejamkan matanya sebentar. Kemudian pemuda itu menarik Ify melangkah pergi. Gadis itu yang melihat arah langkah Rio langsung menahan lengan pemuda tersebut, membuatnya menoleh.
            “Lo mau kemana?”
            “Nganterin lo ke UKS”.
            “Gak. Gak bisa. Kita masih banyak kerjaan, Rio”.
            “Semuanya bisa diberesin sama yang lain. Waktu itu udah gue bilang ‘kan, pikirin juga keadaan lo, jangan sampai lo tepar”.
            “Tapi disini kita punya tanggung jawab buat semuanya. Kita gak bisa main pergi gitu aja”.
            “Fy, dengerin gue. Pekerjaan gak akan selesai dan lancar kalo yang ngerjain aja gak punya tenaga kayak lo begini. Dan gue gak mau semuanya jadi kacau dan gue gak mau…sakit lo bertambah parah” jelas Rio yang membuat Ify terdiam. Gadis itu menghela nafas berat. Memang benar, saat ini kepalanya terasa sangat pusing. Dengan sekuat tenaga dia menahan kepalanya yang terasa berat.
            “Yaudah, gini aja, lo tetap kerjain kerjaan lo, dan gue ke UKS sendiri”. Rio mendengus kesal.
            “Heh! Lo mau pingsan di tengah jalan tanpa ada orang yang bantuin lo?”
            “Rio—”
            “Oke, oke. Gue tetap kerjain kerjaan gue. Dan lo gak akan sendirian ke UKS. Tunggu sebentar”. Pemuda itu celingak-celinguk mencari seseorang. Sampai matanya menangkap sang sekretaris yang tengah melangkah di pinggir lapangan bersama salah satu sahabatnya, Geralvin Putra Biantara. “Via” panggilnya setengah berteriak, membuat dua insan tersebut menoleh. Gadis yang menjabat sebagai sekretaris OSIS tersebut langsung menghampiri setelah berpamitan pada Alvin.
            “Ada apaan, Yo?”
            “Tolong anterin ini anak satu ke UKS ya” pinta Rio. Devia Putri menoleh menatap Ify yang memasang raut wajah kesal.
            “Lo kenapa, Fy?” tanyanya pada Ify, sahabatnya.
            “Tau nih si Rio, gue cuma pusing doang, dianya lebay amat” sungut Ify yang mengundang jitakan di kepalanya dari Rio.
            “Lo diem aja. Tolong ya, Vi. Pastiin dia tetap di UKS sampe gue selesai. Oke?” Via mengernyit heran melihat perhatian Rio yang sebenarnya tidak wajar jika hanya sebagai teman, namun gadis itu mengangguk mengerti. Yang selanjutnya menuntun Ify menuju UKS.

**

            Jam dinding di UKS itu telah menujukkan pukul 5 lewat 15. Gadis itu sendirian. Sahabatnya, Via, sudah disuruhnya pulang. Karena menurutnya, dia bisa menunggu Rio sendirian dan berjanji tidak akan keluar sampai Rio datang. Via yang sebenarnya tidak mau meninggalkan Ify keluar, akhirnya menurut mendengar ancaman Ify yang menakutkan menurutnya. ‘Lo pulang, atau gue bongkar semua rahasia lo ke Alvin’. Menurut orang lain mungkin itu biasa saja, tapi bagi Via itu adalah ancaman yang membuatnya menjadi diam tak berkutik dan mau tak mau dia harus menurut.
            Sunyi dan hening. Hanya dentangan jam dinding yang terdengar. Di luar juga terdengar sepi. Sepertinya semuanya sudah pulang. Gadis itu berniat memejamkan matanya sebentar. Rasa pusing itu masiha ada, namun tidak sekuat seperti yang tadi. Sampai suara pintu yang dibuka membuatnya membuka matanya perlahan. Indera penglihatannya menangkap sosok Rio –yang telah menyandang tas-nya juga tangan kanannya membawa tas Ify, memasuki UKS.
            “Udah baikan?” tanyanya.
            “Ya lumayanlah. Tadi udah dikasih obat sama minyak angin oleh Via. Masih sedikit pusing sih, tapi lebih mendingan dari yang tadi”. Rio mengangguk paham sambil meletakkan tas Ify di samping gadis itu yang tengah duduk di pinggir kasur.
            “Ayo pulang, gue anter”.
            “Gak usah, Yo. Gue bisa minta jemput”.
            “Ini udah sore, Ify. Dan lo nunggu jemputan butuh waktu cukup lama. Satu kali ini aja turutin gue. Gue cuma gak mau lo kenapa-napa”. Ify menghela nafas dan kemudian mengangguk. Rio tersenyum melihatnya.
            “Yaudah, ayo” ucap Ify sambil menyandangkan tasnya kemudian turun dari kasur. Rio yang ingin membuka pintu UKS kembali menoleh dan berbalik menatap Ify di belakangnya.
            “Oh, ya ada satu hal lagi…” Ify berhenti melangkah dan menatapnya bingung.

**

            Hari penutupan Festival pun tiba. Puncaknya acara ini mungkin akan berlangsung lebih lama. Waktu selesai yang menjadi target adalah pukul 4 sore dan paling lambat pukul 4.30. Saat ini waktu masih menunjukkan pukul 8 pagi. Peserta lomba yang akan menerima penghargaan hari ini telah berbondong-bondong datang. Begitupula dengan penonton yang ingin menyaksikan penampilan dari penyanyi dan band ternama itu.
            Panitia terlihat berkumpul di belakang panggung. Berdiri secara melingkar. Briefing sebelum acara dimulai. Rio mengamati satu persatu panitia yang ada disana sekaligus menghitung jumlahnya. Yap! Semuanya lengkap. Rio menoleh ke arah gadis mungil, wakilnya, yang berdiri tepat di sampingnya. Saat in gadis itu tengah memakai masker juga jaket yang kebesaran milik Rio. Membuat Ify terlihat bertambah kecil. Ify menoleh dan mengangguk tanda dia bisa memulai arahan.
            Pemuda itu menghela nafas sejenak dan kemudian memberikan arahan-arahan pada panitia. Setelah memakan lebih kurang 7 menit, mereka berdoa bersama. Dan kemudian Rio mengulurkan tangan kanannya yang selanjutnya diikuti yang lainnya.
            “86!” seru Rio dengan suara tegasnya.
            “BISA!!!” Tepukan tangan mereka beserta sorakan terdengar cukup bergemuruh di belakang panggung.
            Satu persatu panitia melangkah berlalu untuk mengerjakan tugasnya masing-masing. Tinggal beberapa panitia saja yang menetap disana.
            “Eh, Fy, kenapa lo?” tanya Gabriel yang kebetulan saat itu ada perlu dengan Rio yang juga berada di dekatnya ingin melangkah pergi dari sana berhenti sejenak melihat Ify yang sudah seperti orang yang tengah berada di daerah pegunungan.. Ify menoleh dan menyeringai walaupun seringaiannya tertutup oleh masker.
            “Kena flu hehe” jawabnya. Gabriel yang mendengarnya geleng-geleng kepala dan kemudian pamit berlalu.
            “Fy, bisa bantu kami sebentar di ruang OSIS?” pinta dan tanya Agni yang pada festival ini menjadi koordinator acara.
            “Okee. Gue nyusul” ucapnya. Agni mengangguk dan kembali melangkah menuju ruang OSIS.
            Gadis itu menoleh ke arah Rio yang masih berbincang dengan Cakka, selaku koordinator lomba basket pada festival ini. Terpaksa dia menunggu sejenak sembari memperhatikan sekitar yang sudah mulai ramai. Sampai deheman dari sebelahnya terdengar dan membuatnya menoleh.
            “Ada apa?” tanya Ify pada Rio. Pemuda itu sebelumnya sudah menyuruhnya untuk menunggu sebentar, karena ada yang ingin dibicarakannya.
            “Gue cuma mau ngingetin, hari ini acara lebih lama, kerjaan lebih banyak dan lebih berat. Gue harap lo bisa bagi waktu untuk istirahat sebentar. Apalagi kondisi lo kayak gini” nasehat Rio. Ify mengangguk.
            “Siap, Pak Ketua. Lo tenang aja”. Rio tersenyum dan kemudian mengacak pelan rambut Ify yang membuat gadis itu cemberut dengan semburat merah merona di kedua pipinya. “Kebiasaan lo”. Mendengar itu Rio tertawa.
            “Ah, gue harus ke ruang OSIS. Gue duluan ya” ujarnya sambil berbalik dan melangkah berlalu.
            “Ingat kata-kata gue tadi” seru Rio yang membuat Ify menoleh dan mengacungkan jempolnya.

**

            Tidak terasa acara puncak dari festival mereka pun berakhir. Seusai evaluasi panitia, mereka melakukan pembersihan. Untuk masalah panggung telah dikerjakan oleh para petugas. Rio tersenyum dan menghela nafas lega menatap sekitarnya. Festival mereka berjalan lancar. Program terbesar OSIS mereka sukses. Dan mereka berhasil menorehkan sejarah di sekolah, dan menempati list yang pertama.
            Pemuda itu menoleh ketika suara yang sangat ia kenali memanggil. Rio mendapati wakilnya melangkah menghampiri dengan menenteng kantung plastik besar. Penampilannya masih sama. Dari pagi hingga sore gadis itu masih memakai masker dan jaket putih miliknya.
            “Kenapa kesini?” tanya Rio. Ify yang mendengar itu cemberut.
            “Yee, kagak boleh nih gue bantuin elo? Yaudah, gue bantuin yang lain aja” rajuknya. Ify yang berniat melangkah pergi tertahan oleh Rio yang menarik pelan lengannya yang tertutupi lengan jaket putih Rio.
            “Bukan itu maksud gue. Lo itu lagi sakit masih aja keras kepala” gerutu Rio.
            “Rio, udah ya. Daripada ngomel-ngomel gak jelas, mending kita ambilin itu sampah. Sumpah banyak banget, keburu malem nih”. Gerakan Ify yang ingin melepaskan lengannya dari cengkraman Rio kembali berhenti tatkala pemuda itu menggenggam lembut tangannya. Ify yang merasakan hangatnya tangan Rio mendadak bersemu.
            “Fy, sekaliii ini aja” pinta Rio dengan wajahnya yang memohon.
            “Tapi gue—” ucapannya terpotong ketika tangannya yang digenggam Rio telah berada tepat di depan dada pemuda itu. Dan membuatnya merasakan debaran kencang dari sana. Wajah gadis itu makin memerah.
            “Woy! Pacaran mulu lo berdua. Kerja sono!” seru Gabriel tiba-tiba. Membuat Ify tersentak, namun tidak untuk Rio. Pemuda itu menoleh dengan wajah datar. Menatap pemuda jangkung itu yang tengah menenteng dua kantung plastik besar yang telah terisi.
            “Emang gak boleh gue pacaran dengan pacar gue sendiri” ujar Rio datar dan cukup membuat Gabriel menganga.
            “KALIAN BERDUA BENERAN PACARAN?!!!” teriak Gabriel yang menggema. Semua panitia yang bekerja langsung menghentikan gerakan mereka dan langsung menoleh ke sumber suara.
            “Beneran, Yo, Fy?” tanya Alvin yang sudah berada di belakang mereka.
            “Kok gue gak tau sih?!!” teriak Shilla histeris. Bagaimana tidak histeris, berita ter-hot dan ter-update yang datang dari ketua dan wakil ketua OSIS itu dia tidak tahu. Padahal dia adalah biang gossip nomor satu di sekolah ini.
            “Serius lo?!” itu teriakan histeris dari seorang Cakka, membuat Agni yang berada di sampingnya menjitak kepala Cakka karena kaget akibat teriakan pemuda itu. Cakka hanya meringis dan memelas menatap Agni.
            “Ify, kok lo gak ngasih tau gue sih?” Dan itu suara lembut dari Devia, sahabat dekat Ify.
            Dan para panitia mulai mengerubungi mereka berdua dengan kasak-kusuk yang belum juga mereda. Rio dan Ify yang melihatnya semakin kewalahan. Gabriel emang congornya gak bisa dijaga, batin mereka berdua kesal.
            Deheman keras dari Rio sontak membuat semuanya hening. “Kembali ke tugas masing-masing. Sekarang!” perintah tegas Rio adalah mutlak. Mereka langsung kembali masih dengan rasa penasaran yang tinggi. “Tidak terkecuali kalian juga” sambung Rio yang menatap Gabriel, Alvin, Cakka, Agni, Shilla, dan juga Via yang masih betah berdiri disana.
            “Kalian hutang cerita!” seru mereka kompak dan langsung melangkah pergi. Rio dan Ify meringis mendengar seruan mereka.
            Rio menoleh kembali menatap Ify yang masih menatap kepergian teman-temannya. Gadis itu menoleh ketika genggaman Rio di tangannya mengerat.
            “Istirahat gih”.
            “Gue mau bantu—”
            “Ify”
            “Iya iya”.

**

            1 hari sebelumnya, kejadian di UKS
            “Yaudah, ayo” ucap Ify sambil menyandangkan tasnya kemudian turun dari kasur. Rio yang ingin membuka pintu UKS kembali menoleh dan berbalik menatap Ify di belakangnya.
            “Oh, ya ada satu hal lagi…” Ify berhenti melangkah dan menatapnya bingung. Rio kembali menutup pintu UKS yang sempat dibukanya. Pemuda itu berdiri tepat di hadapan Ify. Gadis itu tersentak ketika Rio meraih dan kemudian menggenggam tangannya. Meletakkannya di depan dada bidang itu. Ify merasakan debaran yang sangat kencang. “Apa yang lo rasain?” tanya Rio yang membuat Ify mendongak menatapnya.
            “Jantung lo—” ucapnya bingung dengan wajah yang merona. Rio mengangguk pelan dan tersenyum.
            “Beginilah kerja jantung gue setiap kali gue dekat sama lo, setiap kali gue berdua dengan lo. Kalo boleh jujur, perasaan ini udah lama hadir, Fy. Kira-kira sejak kelas satu di awal semester. Lo ingat sewaktu lo bantuin gue ngejawab beberapa soal ulangan harian matematika? Kebetulan kita duduk berdua, karena tempat duduk diacak oleh guru. Sejak saat itu, jantung ini selalu begini setiap gue ketemu elo, setiap gue berdua dengan elo, setiap gue dekat dengan elo”. Penjelasan Rio membuat Ify diam, tak mampu berkata apa-apa. Wajahnya kian bersemu. Jantungnya berdetak kencang dan heboh. Darahnya berdesir hebat. Sejak kapan pula dia merasakan perasaan nyaman seperti ini ketika pemuda itu menatapnya, ketika pemuda itu menggenggam hangat tangannya, ketika ia merasakan debaran jantung pemuda itu. “Fy, mau jadi pacar gue?” Mendengar suara lembut itu bertanya, jantungnya kian berdetak kencang dan cepat.
            Rio masih setia menunggu gadis itu menjawab dan sadar dari lamunannya. Menatap harap ke arahnya. Mata bening itu tak luput dari pandangannya. Hingga wajah yang penuh harap-harap cemas itu berubah menjadi berbinar-binar ketika gadis di hadapannya mengangguk pelan sembari menunduk malu. Dengan cepat Rio menarik Ify ke dalam dekapan hangat pemuda itu.
            Dan entah sejak kapan Ify merasa sangat nyaman dan tenang ketika berada di pelukan hangat seorang Rio. 


END

You May Also Like

1 komentar