Festival? -Oneshot-
Menjadi wakil ketua OSIS cukup
berat. Apalagi jabatan itu harus dijalani oleh seorang perempuan yang tentunya
daya tahan tubuh lebih cepat lelah daripada laki-laki. Untung saja sang ketua
bukan termasuk orang yang semuanya dianggap serius. Dia lebih santai tapi
program apapun dapat terlaksanakan dengan lancar. Jika melihat penampilannya,
siapa saja pasti tidak akan percaya bahwa dia adalah seorang ketua OSIS. Dapat
dikatakan para pengurus tahun ini adalah pengurus OSIS tersukses selama 12
tahun sekolah itu berdiri. Melihat sekolah mereka terbilang sekolah yang masih
muda di daerah mereka, maka para pengurus periode ini bertekad untuk bekerja
keras demi memajukan nama sekolah tersebut.
Seperti saat ini, mereka tengah
sibuk hilir mudik, sibuk dengan pekerjaan masing-masing menyiapkan untuk
festival yang menjadi program OSIS terbesar sepanjang sekolah itu berdiri.
Sebuah acara perlombaan yang bisa diikuti anak SMP, SMA maupun mahasiswa.
Disana ada banyak macam perlombaan. Baik di bidang olahraga maupun seni.
Berlangsung selama 5 hari. Dimana pada akhir acara, mereka mendatangkan 2 band
dan 2 penyanyi terkenal di Indonesia. Maka dari itu, festival ini adalah
program OSIS yang telah direncanakan para pengurus 5 bulan sebelumnya. Memang
sangat berat, memakan waktu luang mereka, membutuhkan kerja keras yang ekstra,
serta kekompakkan harus terjalin dengan baik. Terlebih untuk para ketua dan
juga koordinator di festival itu. Sehingga orang-orang yang terpilih sebagai
koordinator adalah mereka yang berpengalaman dan terpercaya. Namun, semua itu
tidak menjadi masalah bagi mereka, karena program ini adalah tantangan bagi
mereka sendiri.
Untuk panitia bukan hanya dari OSIS
saja, melainkan juga dari klub olahraga seperti futsal, basket, catur, juga
klub seni seperti musik, paduan suara, dan lukis.
**
Panas terik matahari tidak menghalau
mereka yang tengah bekerja dengan serius. Hilir mudik kesana kemari demi
menyukseskan acara yang paling mereka nantikan. Disana terlihat panggung yang
masih dikerjakan oleh petugas yang telah disewa. Sang ketua OSIS yang bernama
Fabrio Saputra bersama ketua pelaksana acara festival tersebut, Gabriel
Dewantara, tengah berdiri di pinggir lapangan upacara yang cukup luas itu yang
nantinya sebagai tempat utama dari acara tersebut. Berdiri berdampingan sembari
mengawasi para petugas yang masih sibuk mendirikan panggung yang cukup besar.
Selain itu juga mereka masih memantau para panitia yang sibuk bekerja.
Tidak ada yang berbicara, di antara
mereka berdua. Hanya mengamati sekitar dengan hening. Hingga beberapa menit.
“Gimana, Yel?” tanya Fabrio –Rio-
yang mulai membuka suara. Gabriel yang mendengar pertanyaan tiba-tiba itu
menoleh sekilas.
“Gimana apanya?”
“Ya, anak buah lo. Gimana? Masih
gagah?”
“Lo tenang aja, Yo. Mereka semua udah
kebal”. Rio mengangguk-ngangguk mengerti.
“Ya, ya. Semoga tetap kebal sampai
lima hari ke depan”. Gabriel terkekeh mendengarnya.
Suasana di keduanya kembali hening.
Sampai suara cukup nyaring tapi cukup dibilang lembut itu terdengar di indera
pendengaran mereka berdua.
“Haduh, Rio, gue cariin kemana-mana,
taunya disini. Puas gue nyariin lo sampe ke atap sekolah” cerocos gadis itu
sambil memukul pelan lengan Rio dengan gulungan kertas yang sudah dijilid.
“Lebay amat sih, Fy” celetuk Gabriel
sembari tertawa.
Alifya
Safanah Utari, si wakil ketua OSIS. Dulu Alifya atau yang kerap disapa Ify itu
sangat tidak berminat mencalonkan diri sebagai ketua OSIS maupun wakilnya. Pada
periode sebelumnya dia hanya seorang anggota di bidang kesenian. Dulu dia dipaksa
oleh Rio dan kawan-kawan untuk menjadi wakilnya. Karena menurut mereka –sahabat
Rio- Ify cocok jika disandingkan dengan Rio. Karena ada pada satu program OSIS
tahun lalu dimana Rio dan Ify menjadi anggota di sekbid yang sama, mereka
melihat Rio dan Ify sangat kompak. Jumlah anggota saat itu banyak, tetapi yang
paling menonjol adalah Rio dan Ify. Karena paksaan, nasihat, dan juga ada
sedikit ancaman yang mereka berikan, Ify dengan hati yang setengah ikhlas
menyetujui ajakan itu. Namun, sekarang dia menikmati jabatannya sebagai wakil
ketua OSIS.
“Yeee,
lo ngikut-ngikut aja, Yel. Pergi sono, gue trauma kalo ada lo”. Mendengarnya
Gabriel terbahak. Ingat pada kejadian dimana Ify yang saat itu juga menghampiri
Rio, hanya urusan OSIS. Namun dengan iseng Gabriel menggoda mereka yang tanpa
sadar mulutnya masih berada di depan toa –toa untuk mengintruksikan para murid
baru, dan semua yang ada disana ikut memojokkan Rio dan Ify. Dengan malu, Ify
berlari pergi. Mengingat itu, tawa Gabriel makin menjadi. Rio dan Ify
mengernyit heran melihat pemuda satu itu.
“Lo
gila, Yel?” tanya Rio bingung. Gabriel menggeleng masih dengan tawanya. “Ih,
gila beneran lo”.
“Hahaha
udah ah, gue mau mantau di lapangan futsal dulu. Byee…Rify” ujar Gabriel yang
kemudian melesat pergi sebelum menerima amukan dari dua insan itu.
“Huh,
itu orang. Oh ya, lo mau ngapain tadi?” tanya Rio pada Ify yang masih
bersungut-sungut kesal karena ulah Gabriel tadi. “Heh!” sentakan itu
menganggetkan Ify. Membuat gadis itu menoleh dan kemudian menyeringai lebar.
Rio memandangnya datar.
“Nih,
ada yang perlu lo tanda tanganin. Kemana aja sih lo? Capek gue nyariin lo”
keluh Ify sambil menyodorkan proposal tersebut beserta pulpen yang dia ambil
dari saku bajunya. Rio menerima proposal serta pulpen itu sambil membacanya
sebentar dan kemudian membubuhi tanda tangan pada tempat yang telah ditentukan.
“Ini
proposal buat sponsor? Kenapa elo yang minta tanda tangan ke gue?”
“Mereka
lagi ada kerjaan sebentar, jadi yaudah gue tolongin, mumpung gue lagi ada
sedikit luang sih tadi” jawab Ify sambil menerima kembali proposal dan pulpen
yang disodorkan Rio.
“Lo
istirahat sana. Muka lo udah kucel banget” ujar Rio sambil mengamati Ify yang
sibuk dengan handphonenya.
“Entaran
deh. Gue ada kerjaan lagi di ruang musik”.
“Mau
ngapain? Bukannya disana udah diurus anak klub”. Ify mengantongi handphonenya dan kemudian menghela
nafas. Gadis itu mendongak menatap Rio yang lebih tinggi darinya.
“Mereka
butuh bantuan gue. Ada sedikit masalah” jawab Ify sekenanya.
“Terus?”
“Terus,
emm…ah ya, ada masalah juga di bagian keuangan, jadi harus cari dana lagi. Gak
terlalu banyak sih, cuma ya carinya masih butuh kerja keras juga. Semoga aja
sponsor yang kita ambil bisa kasih dana” ucapnya sambil tersenyum dengan
siratan harapan yang besar. Kemudian senyuman itu hilang berganti ringisan
kecil tatkala Rio menyentil dahinya. “Heh! Lo kira kening gue—”
“Pikirin
juga keadaan lo. Jangan sampai lo tepar” potong Rio yang membuat Ify sedikit
terpana. Ini anak ternyata perhatian juga. Dan seketika tersadar dari
lamunannya ketika salah satu panitia memanggil.
“Ah,
iya. Thanks ya Pak Ketua. Gue pergi
dulu”. Ify berlalu. Rio masih menatap punggung mungil itu yang menjauh.
Kemudian pemuda itu menghela nafas panjang. Lelah. Sangat. Tapi ini lah tanggung
jawabnya dan resiko sebagai seorang ketua.
**
Festival itu sudah berlangsung
selama empat hari lamanya. Dan besok adalah hari terakhir yang menjadi
penutupan. Festival berjalan lancar. Para peserta, penonton, dan yang lainnya
berangsur-angsur pulang. Dan sekolah belum terlihat rapi dan siap untuk
penutupan esok. Hari pun dengan cepat berganti menjadi senja jingga yang
memikat. Namun di sana masih terdapat para panitia yang tengah membereskan
hal-hal yang masih berserakan.
Begitu pula dengan ketua dan wakil
yang masih ikut membereskan beberapa hal tersebut. Mereka ikut membersihkan
sampah-sampah yang berserakan.
“Empat hari yang melelahkan” ucap
Ify pelan sambil menghela nafas. Gadis itu meregangkan tubuhnya yang seakan
remuk. Di depannya terlihat Rio yang juga tengah meregangkan otot-ototnya.
Pemuda itu tersentak ketika sesuatu
menghantam pelan punggungnya. Rio menoleh dan mendapati Ify yang tengah
menyandarkan kepalanya dengan menyentuhkan keningnya di punggung tegap pemuda
tersebut.
“Bentar aja. Kepala gue tiba-tiba
pusing” ucap gadis itu pelan namun bisa dapat didengar oleh Rio.
Mendengar itu Rio patuh, dan hanya
diam. Kembali menatap semua panitia yang masih sibuk dengan pekerjaannya
masing-masing. Sampai salah satu panitia melangkah di depannya.
“Eh, Viko” panggil Rio pada panitia
tersebut. Pemuda yang bernama Viko itu menoleh dan melangkah menghampiri Rio.
Kedua alis Viko terangkat seolah bertanya –ada-apa?- “Tolong buang ini ya” ucap
Rio sembari menyodorkan dua kantung plastik besar yang isinya adalah sampah.
Sampah yang sebelumnya Rio dan Ify punguti.
“Oke” ujar Viko sambil menerima dua
plastik itu. Tak sengaja dia melihat Ify yang tengah menyandarkan kepalanya di
punggung Rio. “Kenapa?” tanya Viko berbisik.
“Kecapean aja”. Viko mengangguk
mengerti dan kemudian pamit sambil berlalu. Kembali hening, hanya terdengar
suara-suara dari panitia yang sibuk bekerja.
“Argh! Damn” umpat Ify pelan sambil meringis. Kedua tangannya mencengkram
baju belakang Rio, berusaha menyeimbangkan diri yang limbung. Mendengar itu,
Rio sontak menoleh dan kemudian berbalik sambil memegangi pergelangan tangan
kanan Ify.
“Lo gakpapa?” tanya Rio khawatir.
Ify masih menunduk dan memejamkan mata, guna mengusir rasa pening yang
menyerang.
“Sshh..gak” desisnya pelan. Ify
mengangkat kepalanya, menatap Rio dengan tersenyum berusaha meyakinkan.
“Gakpapa apanya? Muka lo pucat, dan
lo tadi udah mau pingsan” ucap Rio kesal akan kekerasan kepala gadis itu. Bagaimana
tidak kesal jika dia mengkhawatirkan Ify, namun hanya dibalas dengan
kebohongan.
“Tadi gue mau nerusin kerjaan, tapi
sewaktu gue mau angkat kepala semuanya kayak berputar, itu doang. Jadi gue
gakpapa”. Rio menghela nafas sambil memejamkan matanya sebentar. Kemudian
pemuda itu menarik Ify melangkah pergi. Gadis itu yang melihat arah langkah Rio
langsung menahan lengan pemuda tersebut, membuatnya menoleh.
“Lo mau kemana?”
“Nganterin lo ke UKS”.
“Gak. Gak bisa. Kita masih banyak
kerjaan, Rio”.
“Semuanya bisa diberesin sama yang
lain. Waktu itu udah gue bilang ‘kan, pikirin juga keadaan lo, jangan sampai lo
tepar”.
“Tapi disini kita punya tanggung
jawab buat semuanya. Kita gak bisa main pergi gitu aja”.
“Fy, dengerin gue. Pekerjaan gak
akan selesai dan lancar kalo yang ngerjain aja gak punya tenaga kayak lo
begini. Dan gue gak mau semuanya jadi kacau dan gue gak mau…sakit lo bertambah
parah” jelas Rio yang membuat Ify terdiam. Gadis itu menghela nafas berat.
Memang benar, saat ini kepalanya terasa sangat pusing. Dengan sekuat tenaga dia
menahan kepalanya yang terasa berat.
“Yaudah, gini aja, lo tetap kerjain
kerjaan lo, dan gue ke UKS sendiri”. Rio mendengus kesal.
“Heh! Lo mau pingsan di tengah jalan
tanpa ada orang yang bantuin lo?”
“Rio—”
“Oke, oke. Gue tetap kerjain kerjaan
gue. Dan lo gak akan sendirian ke UKS. Tunggu sebentar”. Pemuda itu
celingak-celinguk mencari seseorang. Sampai matanya menangkap sang sekretaris
yang tengah melangkah di pinggir lapangan bersama salah satu sahabatnya,
Geralvin Putra Biantara. “Via” panggilnya setengah berteriak, membuat dua insan
tersebut menoleh. Gadis yang menjabat sebagai sekretaris OSIS tersebut langsung
menghampiri setelah berpamitan pada Alvin.
“Ada apaan, Yo?”
“Tolong anterin ini anak satu ke UKS
ya” pinta Rio. Devia Putri menoleh menatap Ify yang memasang raut wajah kesal.
“Lo kenapa, Fy?” tanyanya pada Ify,
sahabatnya.
“Tau nih si Rio, gue cuma pusing
doang, dianya lebay amat” sungut Ify yang mengundang jitakan di kepalanya dari
Rio.
“Lo diem aja. Tolong ya, Vi. Pastiin
dia tetap di UKS sampe gue selesai. Oke?” Via mengernyit heran melihat
perhatian Rio yang sebenarnya tidak wajar jika hanya sebagai teman, namun gadis
itu mengangguk mengerti. Yang selanjutnya menuntun Ify menuju UKS.
**
Jam dinding di UKS itu telah
menujukkan pukul 5 lewat 15. Gadis itu sendirian. Sahabatnya, Via, sudah
disuruhnya pulang. Karena menurutnya, dia bisa menunggu Rio sendirian dan
berjanji tidak akan keluar sampai Rio datang. Via yang sebenarnya tidak mau
meninggalkan Ify keluar, akhirnya menurut mendengar ancaman Ify yang menakutkan
menurutnya. ‘Lo pulang, atau gue bongkar semua rahasia lo ke Alvin’. Menurut
orang lain mungkin itu biasa saja, tapi bagi Via itu adalah ancaman yang
membuatnya menjadi diam tak berkutik dan mau tak mau dia harus menurut.
Sunyi dan hening. Hanya dentangan
jam dinding yang terdengar. Di luar juga terdengar sepi. Sepertinya semuanya
sudah pulang. Gadis itu berniat memejamkan matanya sebentar. Rasa pusing itu
masiha ada, namun tidak sekuat seperti yang tadi. Sampai suara pintu yang
dibuka membuatnya membuka matanya perlahan. Indera penglihatannya menangkap
sosok Rio –yang telah menyandang tas-nya juga tangan kanannya membawa tas Ify,
memasuki UKS.
“Udah baikan?” tanyanya.
“Ya lumayanlah. Tadi udah dikasih
obat sama minyak angin oleh Via. Masih sedikit pusing sih, tapi lebih mendingan
dari yang tadi”. Rio mengangguk paham sambil meletakkan tas Ify di samping
gadis itu yang tengah duduk di pinggir kasur.
“Ayo pulang, gue anter”.
“Gak usah, Yo. Gue bisa minta
jemput”.
“Ini udah sore, Ify. Dan lo nunggu
jemputan butuh waktu cukup lama. Satu kali ini aja turutin gue. Gue cuma gak
mau lo kenapa-napa”. Ify menghela nafas dan kemudian mengangguk. Rio tersenyum
melihatnya.
“Yaudah, ayo” ucap Ify sambil
menyandangkan tasnya kemudian turun dari kasur. Rio yang ingin membuka pintu
UKS kembali menoleh dan berbalik menatap Ify di belakangnya.
“Oh, ya ada satu hal lagi…” Ify
berhenti melangkah dan menatapnya bingung.
**
Hari penutupan Festival pun tiba.
Puncaknya acara ini mungkin akan berlangsung lebih lama. Waktu selesai yang
menjadi target adalah pukul 4 sore dan paling lambat pukul 4.30. Saat ini waktu
masih menunjukkan pukul 8 pagi. Peserta lomba yang akan menerima penghargaan
hari ini telah berbondong-bondong datang. Begitupula dengan penonton yang ingin
menyaksikan penampilan dari penyanyi dan band ternama itu.
Panitia terlihat berkumpul di
belakang panggung. Berdiri secara melingkar. Briefing sebelum acara dimulai. Rio mengamati satu persatu panitia
yang ada disana sekaligus menghitung jumlahnya. Yap! Semuanya lengkap. Rio
menoleh ke arah gadis mungil, wakilnya, yang berdiri tepat di sampingnya. Saat
in gadis itu tengah memakai masker juga jaket yang kebesaran milik Rio. Membuat
Ify terlihat bertambah kecil. Ify menoleh dan mengangguk tanda dia bisa memulai
arahan.
Pemuda itu menghela nafas sejenak dan
kemudian memberikan arahan-arahan pada panitia. Setelah memakan lebih kurang 7
menit, mereka berdoa bersama. Dan kemudian Rio mengulurkan tangan kanannya yang
selanjutnya diikuti yang lainnya.
“86!” seru Rio dengan suara
tegasnya.
“BISA!!!” Tepukan tangan mereka
beserta sorakan terdengar cukup bergemuruh di belakang panggung.
Satu persatu panitia melangkah
berlalu untuk mengerjakan tugasnya masing-masing. Tinggal beberapa panitia saja
yang menetap disana.
“Eh, Fy, kenapa lo?” tanya Gabriel
yang kebetulan saat itu ada perlu dengan Rio yang juga berada di dekatnya ingin
melangkah pergi dari sana berhenti sejenak melihat Ify yang sudah seperti orang
yang tengah berada di daerah pegunungan.. Ify menoleh dan menyeringai walaupun
seringaiannya tertutup oleh masker.
“Kena flu hehe” jawabnya. Gabriel
yang mendengarnya geleng-geleng kepala dan kemudian pamit berlalu.
“Fy, bisa bantu kami sebentar di
ruang OSIS?” pinta dan tanya Agni yang pada festival ini menjadi koordinator
acara.
“Okee. Gue nyusul” ucapnya. Agni
mengangguk dan kembali melangkah menuju ruang OSIS.
Gadis itu menoleh ke arah Rio yang
masih berbincang dengan Cakka, selaku koordinator lomba basket pada festival
ini. Terpaksa dia menunggu sejenak sembari memperhatikan sekitar yang sudah
mulai ramai. Sampai deheman dari sebelahnya terdengar dan membuatnya menoleh.
“Ada apa?” tanya Ify pada Rio.
Pemuda itu sebelumnya sudah menyuruhnya untuk menunggu sebentar, karena ada
yang ingin dibicarakannya.
“Gue cuma mau ngingetin, hari ini
acara lebih lama, kerjaan lebih banyak dan lebih berat. Gue harap lo bisa bagi
waktu untuk istirahat sebentar. Apalagi kondisi lo kayak gini” nasehat Rio. Ify
mengangguk.
“Siap, Pak Ketua. Lo tenang aja”.
Rio tersenyum dan kemudian mengacak pelan rambut Ify yang membuat gadis itu
cemberut dengan semburat merah merona di kedua pipinya. “Kebiasaan lo”.
Mendengar itu Rio tertawa.
“Ah, gue harus ke ruang OSIS. Gue
duluan ya” ujarnya sambil berbalik dan melangkah berlalu.
“Ingat kata-kata gue tadi” seru Rio
yang membuat Ify menoleh dan mengacungkan jempolnya.
**
Tidak terasa acara puncak dari
festival mereka pun berakhir. Seusai evaluasi panitia, mereka melakukan
pembersihan. Untuk masalah panggung telah dikerjakan oleh para petugas. Rio
tersenyum dan menghela nafas lega menatap sekitarnya. Festival mereka berjalan
lancar. Program terbesar OSIS mereka sukses. Dan mereka berhasil menorehkan
sejarah di sekolah, dan menempati list yang pertama.
Pemuda itu menoleh ketika suara yang
sangat ia kenali memanggil. Rio mendapati wakilnya melangkah menghampiri dengan
menenteng kantung plastik besar. Penampilannya masih sama. Dari pagi hingga
sore gadis itu masih memakai masker dan jaket putih miliknya.
“Kenapa kesini?” tanya Rio. Ify yang
mendengar itu cemberut.
“Yee, kagak boleh nih gue bantuin
elo? Yaudah, gue bantuin yang lain aja” rajuknya. Ify yang berniat melangkah
pergi tertahan oleh Rio yang menarik pelan lengannya yang tertutupi lengan
jaket putih Rio.
“Bukan itu maksud gue. Lo itu lagi
sakit masih aja keras kepala” gerutu Rio.
“Rio, udah ya. Daripada
ngomel-ngomel gak jelas, mending kita ambilin itu sampah. Sumpah banyak banget,
keburu malem nih”. Gerakan Ify yang ingin melepaskan lengannya dari cengkraman
Rio kembali berhenti tatkala pemuda itu menggenggam lembut tangannya. Ify yang
merasakan hangatnya tangan Rio mendadak bersemu.
“Fy, sekaliii ini aja” pinta Rio
dengan wajahnya yang memohon.
“Tapi gue—” ucapannya terpotong
ketika tangannya yang digenggam Rio telah berada tepat di depan dada pemuda
itu. Dan membuatnya merasakan debaran kencang dari sana. Wajah gadis itu makin
memerah.
“Woy! Pacaran mulu lo berdua. Kerja
sono!” seru Gabriel tiba-tiba. Membuat Ify tersentak, namun tidak untuk Rio.
Pemuda itu menoleh dengan wajah datar. Menatap pemuda jangkung itu yang tengah
menenteng dua kantung plastik besar yang telah terisi.
“Emang gak boleh gue pacaran dengan
pacar gue sendiri” ujar Rio datar dan cukup membuat Gabriel menganga.
“KALIAN BERDUA BENERAN PACARAN?!!!”
teriak Gabriel yang menggema. Semua panitia yang bekerja langsung menghentikan
gerakan mereka dan langsung menoleh ke sumber suara.
“Beneran, Yo, Fy?” tanya Alvin yang
sudah berada di belakang mereka.
“Kok gue gak tau sih?!!” teriak
Shilla histeris. Bagaimana tidak histeris, berita ter-hot dan ter-update yang
datang dari ketua dan wakil ketua OSIS itu dia tidak tahu. Padahal dia adalah
biang gossip nomor satu di sekolah ini.
“Serius lo?!” itu teriakan histeris
dari seorang Cakka, membuat Agni yang berada di sampingnya menjitak kepala
Cakka karena kaget akibat teriakan pemuda itu. Cakka hanya meringis dan memelas
menatap Agni.
“Ify, kok lo gak ngasih tau gue
sih?” Dan itu suara lembut dari Devia, sahabat dekat Ify.
Dan para panitia mulai mengerubungi
mereka berdua dengan kasak-kusuk yang belum juga mereda. Rio dan Ify yang
melihatnya semakin kewalahan. Gabriel emang congornya gak bisa dijaga, batin
mereka berdua kesal.
Deheman keras dari Rio sontak
membuat semuanya hening. “Kembali ke tugas masing-masing. Sekarang!” perintah
tegas Rio adalah mutlak. Mereka langsung kembali masih dengan rasa penasaran
yang tinggi. “Tidak terkecuali kalian juga” sambung Rio yang menatap Gabriel,
Alvin, Cakka, Agni, Shilla, dan juga Via yang masih betah berdiri disana.
“Kalian hutang cerita!” seru mereka
kompak dan langsung melangkah pergi. Rio dan Ify meringis mendengar seruan mereka.
Rio menoleh kembali menatap Ify yang
masih menatap kepergian teman-temannya. Gadis itu menoleh ketika genggaman Rio
di tangannya mengerat.
“Istirahat gih”.
“Gue mau bantu—”
“Ify”
“Iya iya”.
**
1
hari sebelumnya, kejadian di UKS
“Yaudah,
ayo” ucap Ify sambil menyandangkan tasnya kemudian turun dari kasur. Rio yang
ingin membuka pintu UKS kembali menoleh dan berbalik menatap Ify di
belakangnya.
“Oh, ya ada satu hal lagi…” Ify
berhenti melangkah dan menatapnya bingung. Rio kembali menutup pintu UKS yang
sempat dibukanya. Pemuda itu berdiri tepat di hadapan Ify. Gadis itu tersentak
ketika Rio meraih dan kemudian menggenggam tangannya. Meletakkannya di depan
dada bidang itu. Ify merasakan debaran yang sangat kencang. “Apa yang lo
rasain?” tanya Rio yang membuat Ify mendongak menatapnya.
“Jantung lo—” ucapnya bingung dengan
wajah yang merona. Rio mengangguk pelan dan tersenyum.
“Beginilah kerja jantung gue setiap
kali gue dekat sama lo, setiap kali gue berdua dengan lo. Kalo boleh jujur, perasaan
ini udah lama hadir, Fy. Kira-kira sejak kelas satu di awal semester. Lo ingat
sewaktu lo bantuin gue ngejawab beberapa soal ulangan harian matematika?
Kebetulan kita duduk berdua, karena tempat duduk diacak oleh guru. Sejak saat
itu, jantung ini selalu begini setiap gue ketemu elo, setiap gue berdua dengan
elo, setiap gue dekat dengan elo”. Penjelasan Rio membuat Ify diam, tak mampu
berkata apa-apa. Wajahnya kian bersemu. Jantungnya berdetak kencang dan heboh.
Darahnya berdesir hebat. Sejak kapan pula dia merasakan perasaan nyaman seperti
ini ketika pemuda itu menatapnya, ketika pemuda itu menggenggam hangat
tangannya, ketika ia merasakan debaran jantung pemuda itu. “Fy, mau jadi pacar
gue?” Mendengar suara lembut itu bertanya, jantungnya kian berdetak kencang dan
cepat.
Rio masih setia menunggu gadis itu
menjawab dan sadar dari lamunannya. Menatap harap ke arahnya. Mata bening itu
tak luput dari pandangannya. Hingga wajah yang penuh harap-harap cemas itu
berubah menjadi berbinar-binar ketika gadis di hadapannya mengangguk pelan
sembari menunduk malu. Dengan cepat Rio menarik Ify ke dalam dekapan hangat
pemuda itu.
Dan entah sejak kapan Ify merasa
sangat nyaman dan tenang ketika berada di pelukan hangat seorang Rio.
END
1 komentar
Terus post in cerita cerita romantisss cakep ;)
BalasHapus