KESETIAAN
Bukan cerpen icil. Cerpen sad ending ku yang kedua :) enjoy ya ;)
Karen menuruni tangga rumahnya
terburu-buru. Dengan segera ia menyambar roti panggang ala Bi Ina pembantu di
rumahnya. Sepi adalah satu kata yang dapat menggambarkan rumah mewahnya itu.
Orang tuanya adalah seorang pengusaha. Lebih sering tidak ada di rumah. Tetapi,
itu tidak menjadi salah satu faktor Karen kesepian, ia masih mempunyai seorang
sahabat yang sering singgah di rumahnya, bahkan sering menginap demi menemani
Karen. Dan ia masih mempunyai kekasih yang selalu menemaninya, mengantar jemput
sekolah yang memang masih satu ruang lingkup sekolah. Hanya saja, kekasihnya
itu adalah kakak kelas Karen.
“Bi Ina, Karen pergi dulu ya.
Assalamu’alaikum” pamit Karen pada Bi Ina yang berada di dapur.
“iya, Non, hati-hati.
Wa’alaikumussalam” sahut Bi Ina. Karen sudah menganggap Bi Ina bagian dari
keluarganya. Bi Ina sudah lama bekerja di keluarga Bapak Jumar itu. Sejak Karen
masih dalam kandungan.
Karen berlari ke arah kekasihnya
yang bernama Daniel yang telah bertengger di atas motornya.
“hehe maaf ya lama. Gue kesiangan.”
“elo kan emang kebo.”
“iihh dasar, jelek. Ayo kita pergi”
ucap Karen sambil menaiki boncengan Daniel.
“eh, elo tuh. Dasar, kebo.”
“udah deh, kalo jelek tuh diem aja.
Ayo jalan. Nanti telat.”
“siapa juga yang bikin telat.”
“diem.” Motor Ninja biru itu melaju
menuju sekolah.
***
“Kareeenn, ayo ke kantin. Gue udah laper
pake banget nih” seru seorang siswi yang mempunyai nama Ditha.
“bentar. Tanggung nih, dikit lagi
juga gue selesai” jawab Karen.
“huh. Kenapa gak daritadi sih elo
nyatetnya?”
“gue males kalo nyatet sambil
perhatiin guru yang lagi jelasin. Gak konsen tau.” Ditha mengalah. Ia tahu,
tidak akan selesai jika ia berdebat dengan sahabatnya itu.
“selesai. Ayo ke kantin.” Ditha
sumringah.
“ayooo.”
***
“Ren, dimana pacar lo? Biasanya kesini
sama temennya” tanya Ditha sambil menyuap bakso ke mulutnya.
“gak tau deh. kenapa? Ooh, gue tau,
elo nyariin Kak Jordan kan? Pake nanya Kak Daniel segala lagi.” Ditha
cengengesan.
“gue kesemsem tau sama dia. Dia itu
cakeeeepp banget. Keren, manis, aaahh kayak pangeran deh.”
“iyeee. Abisin dulu tuh bakso, baru
ngomong sepuasnya.”
Tak berapa lama, dua kakak kelasnya
menghampiri mereka.
“Hai, beib” sapa Daniel. Karen
bergidik geli mendengarnya.
“beib, beib, alay banget sih lo?”
semprot Karen.
“ya elah, gue baru dateng udah kena
semprot. Gue kan Cuma pengen romantis” ucap Daniel sembari mencolek dagu Karen.
“romantis sih romantis, tapi gak
alay juga kali.”
“huh, ya udah gue panggil elo kebo
aja.”
“jelek lo.”
“kalian pacaran kan?” tanya Ditha
heran.
“iya lah” jawab Daniel dan Karen
serempak.
“aneh banget deh. Pacarannya gitu.”
“emang gitu cara mereka pacaran. Gak
ada romantis-romantisnya” sambung Jordan. Ditha memandangi Jordan. Kakak
kelasnya itu memang sudah mencuri hatinya.
‘Kak
Jordan, Kak Jordan. Diliatin gini, tambah cakep aja dah’ batin Ditha
sembari terus memandangi Jordan.
“woy” tegur Karen. Ditha terlonjak
kaget.
“apaan sih? Gue lagi asik asik
liatin pujaan hati gue tau.” Jordan tidak ada di hadapannya lagi.
“loh? Kak Jordan kemana?” tanya
Ditha panik.
“udah masuk kalee. Udah sepi nih
kantin. Ayo masuk kelas.” Karen mendahului Ditha.
“baksonya?” tanya Ditha.
“bayarin gue ya” sahut Karen yang
terus melangkah menuju kelas.
“kurang asem tuh anak” dumel Ditha.
***
Daniel saat ini sedang berada di toko
aksesoris. Ia hendak mencari sesuatu yang menarik untuk kado yang akan
diberikan pada kekasihnya. Matanya tertuju pada kalung berbandul hati yang berwarna
biru.
“cantik banget. Warna favoritnya
lagi. Ini aja deh” gumam Daniel. Daniel segera mengambil kalung itu dan
membayarnya di kasir.
Saat ingin keluar toko itu, Daniel
melihat dua pasang kekasih yang sedang bertengkar. Daniel terus menyaksikan adegan
itu hingga selesai. Kemudian Daniel menghampiri gadis yang saat itu tengah
menangis akibat dari kejadian tadi. Daniel memberikan saputangan birunya. Gadis
itu menoleh.
“nih. Pake aja” ucap Daniel tulus.
Gadis itu tersenyum manis. Jantung Daniel berdegup kencang ketika melihat
senyuman itu. Seperti pertama melihat senyuman Karen. Ha? Karen? Pikir Daniel.
Ia pun tersadar.
“makasih ya” ujar gadis tersebut.
“sama-sama. Daniel.” Daniel mulai
memperkenalkan diri. Mengulurkan tangannya.
“Vita” balas gadis itu yang bernama
Vita sambil menjabat tangan Daniel.
“elo tadi kenapa?” tanya Daniel.
“mm, kita ke taman aja yuk. Gak enak
kalo disini.” Daniel mengangguk setuju. Mereka berjalan beriringan menuju taman
tepat di depan toko aksesoris itu.
Vita menceritakan semua masalahnya
yang dihadapi kepada Daniel.
“dia gak percaya dengan gue. Gue
bingung jalan pikirannya. Kesabaran gue udah abis. Gue bosen dikekang terus.
Gue butuh kebebasan.”
“elo sabar aja. Dia gitu karena dia
sayang sama lo.” Vita mengangguk pelan.
“elo udah punya pacar?” tanya Vita.
Daniel terkejut.
“ha? Pacar? Mm, belom punya kok.”
Daniel membatin kesal. Mengapa bisa-bisanya dia tidak mengakui Karen sebagai
pacarnya. Padahal sudah 2 tahun mereka menjalin hubungan. Dan terlebih lagi,
masing-masing dari pihak keluarga mereka telah menyetujui hubungan mereka.
“oohh, gitu. Masa sih belom punya?
Ganteng-ganteng kok jomblo haha.” Daniel hanya membalas senyuman pahit.
“boleh bagi nomor hp lo?” pinta
Daniel.
“boleh. Ini kartu nama gue, ada
alamat rumah, ada nomor hp, ada juga nomor telepon rumah gue.”
“thank’s
ya.” Vita tersenyum.
***
Hari ini adalah hari yang paling
istimewa bagi Karen. Tepat tanggal 17 September ini, Karen genap 16 tahun.
Tetapi, itu sepertinya tidak berarti jika tidak ada keluarga yang menemani hari
istimewanya itu. Karen berpikir masa bodo lah, toh, dia masih punya sahabat dan
pacar yang akan menemaninya.
“gue harap hari ini, hari yang
paling bersejarah buat gue” gumam Karen. Bibir mungilnya membentuk senyuman
yang penuh harapan. Karen bergegas untuk bersiap ke sekolah.
Tak berapa lama, Karen menuruni
tangga rumahnya.
“pagi Bi Ina” sapa Karen.
“pagi, Non Karen. Tumben cepet bangunnya.”
Karen cengengesan. Bi Ina menaruh sepiring nasi goreng di meja makan tepat di
hadapan Karen.
“oh, iya, Non. Bibi ada ini buat,
Non Karen” ucap Bi Ina sambil menyerahkan sebuah kado berukuran sedang
berbungkus kertas kado berwarna biru.
“selamat ulang tahun ya, Non.” Karen
menerimanya dengan senyuman bahagia.
“makasih ya, Bi. Karen seneeenng
banget” ucapnya sembari memeluk Bi Ina.
“walaupun mama papa gak ada di rumah
sewaktu Karen bertambah umur, tapi Bi Ina dengan kado ini, cukup buat gantiin
kedatengan mereka. Sekali lagi, makasih, Bi” ucap Karen dan melepaskan
pelukannya. Dengan segera ia membuka kado berwarna biru itu. Tampak sebuah
saputangan yang seperti rajutan tangan.
“itu, Bibi buat sendiri loh, Non.
Maaf aja deh kalo jelek.”
“jelek apaan, Bi? Ini bagus banget,
Bi. Karen suka. Bibi pinter ngerajut ya? Nanti ajarin Karen ya.” Bi Ina
mengangguk sambil tersenyum senang ketika melihat anak majikannya itu tersenyum
bahagia.
“ya udah, Bi, Karen pergi sekolah
dulu ya. Kayaknya sih, Daniel udah ada di depan. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam. Hati-hati ya,
Non.”
***
Sudah lebih 15 menit Karen menunggu
Daniel di depan rumahnya. Dia lupa atau sengaja, pikir Karen. Tanpa pikir
panjang, Karen bergegas menuju halte depan kompleknya. Daripada dia telat,
mending dia naik busway, pikirnya.
Saat menunggu busway berhenti di
halte itu, ia seperti melihat Daniel dan motornya melaju, dengan seorang
perempuan di boncengannya. Karen menggelengkan kepalanya, mungkin itu hanya
halusinasi. Karen percaya Daniel. Ia percaya bahwa Daniel akan tetap setia
bersamanya. Itu sudah janji mereka berdua untuk tetap setia satu sama lain.
***
“Kareeeeen, my honey, happy birthday ya, sayang. Moga panjang umur, sehat selalu,
dan sukses selalu, tambah pinter, tambah cantik, tambah imut, tambah semuanya
deh. Semoga juga tambah setia bersahabat dengan Ditha yang manis ini” ucap
Ditha saat berada di kantin sekolah mereka.
“makasih ya, Ditha ku sayang. Kenapa
baru sekarang sih elo ngucapinnya?”
“hehe gakpapa lagi, pengen aja buat
elo penasaran kenapa daritadi gue gak ngucapin. Elo pasti mikir gue lupa, kan?”
Karen mengangguk.
“gue gak bakal lupa kapan elo ulang
tahun. Anniv elo sama Daniel aja gue
inget. Apalagi ulang tahunnya Kak Jordan.”
“yeee, Kak Jordan mulu. Eh, Dit, gue
mau curhat nih sama elo.”
“curhat aja lagi. Curhat kok pake
ngomong segala, biasanya nyerocos aja tuh hehe.”
“tadi pagi, gue gak pergi sekolah
bareng Daniel..” belum sempat Karen melanjutkan, Ditha memotongnya.
“ha? Jadi elo gak pergi sama dia
tadi? Elo naik apaan dong? Masa sih jalan kaki?”
“ya enggaklah. Bisa tepar gue kalo
jalan kaki. Gue naik busway.”
“kenapa sih bisa gitu?”
“gue juga gak tau. Dia lupa apa
emang sengaja mau ngerjain gue. Sewaktu gue lagi nunggu busway di halte tadi, gue itu kayak liat Daniel lagi bonceng cewe.
Tapi, gue pikir itu cuma halusinasi gue aja.”
“ya, mungkin juga itu, mungkin
halusinasi elo aja. Tapi, elo mesti hati-hati, Ren, yang elo liat tadi bisa
jadi bener.”
“haha gak mungkin lah, Dit, dia gak
mungkin selingkuh. Kita kan udah janji bakal tetep setia satu sama lain.”
“iya deh. Gue cuma kasih elo warning aja, hati-hati. Elo harus lebih
mata-matain dia.” Karen mengangguk.
***
“eh, jelek, pulang yuk” ajak Karen saat
melihat Daniel berada di parkiran.
“ah..um, gue gak bisa pulang bareng
elo, Ren.”
“emang kenapa?”
“soalnya..soalnya, gue..mau
cepet-cepet nganterin mama ke mall
pulang sekolah ini” Daniel memberi alasan dengan gugup. Karen
mengangguk-ngangguk mengerti.
“oh, ya udah, gakpapa.”
“maaf ya, Ren. Gue duluan ya.”
Daniel melajukan motornya cepat. Karen tersenyum miris.
‘hh,
miris amat sih. Daripada gak ada kerjaan di rumah, mending gue ke mall. Siapa
tau aja ketemu sama Daniel dan Tante Titi.’ Karen tersenyum senang ketika
mendapat ide yang dianggapnya brillian
itu. Dengan segera, ia mencari taksi.
***
“elo mau yang mana, Vit? Pilih aja,
nanti gue yang bayar” ucap Daniel.
“beneran nih? Ya udah, gue pilih
yang warna pink aja deh.”
Vita dan Daniel saat ini sedang
berada di sebuah mall. Terlihat
Daniel sedang membelikan sebuah boneka untuk Vita. Setelah membayar boneka itu,
Daniel dan Vita kembali melangkah menyusuri gedung mall yang megah itu.
Di satu sisi, Karen tampak berjalan
sendirian memasuki daerah mall
tersebut. Senyumannya tak lepas dari wajah manisnya itu. Tak ayal, terkadang
orang melihat senyum cerianya itu, hati mereka ikut tersenyum.
‘ih,
boneka itu lucu banget. Warna biru lagi. Huh, gue mau beli mana punya uang.
Uang sisa jajan tadi tinggal sedikit. Udah deh, gak usah di harapin lagi.’ Karen
melangkah pergi. Kembali menyusuri mall
mengikuti langkah kakinya. Hanya sekedar untuk melihat-lihat. Dia memutuskan
untuk singgah di food court. Untuk
membeli minum menghilangkan haus yang juga cukup dengan uang sisa jajannya. Dan
untuk beristirahat. Sembari mengotak-atik hpnya,
pandangan Karen terus meyusuri setiap sudut mall
itu. Pandangannya berhenti tepat di pintu masuk food court yang ia singgahi itu. Dengan rasa tak percaya, ia terus mengamati
kedua insan tersebut. Daniel! Bersama seorang wanita yang ia tidak tahu siapa
identitasnya. Berangkulan mesra. Seakan oksigen telah habis. Dadanya sesak.
Hatinya sakit. Melihat kenyataan di depannya itu. Tanpa pikir panjang, Karen
menghampiri mereka berdua dengan emosi yang tersulut-sulut.
“sejak kapan Tante Titi berubah jadi anak SMA?” ucap
Karen tiba-tiba dengan sinis. Daniel terlonjak kaget dan gelagapan.
“Ka..Karen? ngapain elo disini?”
“terserah gue dong mau kemana aja,
mau ngapain aja. Jadi ini perlakuan elo di belakang gue? Padahal, 2 tahun kita
sama-sama terus. Ini hari istimewa gue, sampe sekarang elo belom ngucapin
apa-apa ke gue. Tapi apa yang elo lakuin ke gue? Dasar munafik! Makasih banget,
ini adalah kado buat gue yang paling buruk dari yang terburuk. Buaya lo! Kita
putus!” Emosi Karen tidak bisa terbendung lagi. Ia bergegas melangkah keluar
saat setelah membayar minumannya tadi. Orang di sekitarnya menyaksikan
pertengkaran mereka. Daniel hanya bisa diam. Dia memang lelaki bodoh,
bisa-bisanya menyakiti hati perempuan yang sangat ia cintai.
“Daniel? Jadi, elo udah punya
pacar?” Daniel tidak mengindahkan pertanyaan Vita. Ia berlari mengejar Karen
yang telah berlalu.
“Daniel! Daniel! Jahat banget sih
ninggalin gue.”
***
Karen melangkah cepat untuk bergegas
keluar dari mall itu. Tak jauh di
belakangnya, Daniel berlari mengejar langkah Karen. Air mata mulai jatuh
membasahi pipi putihnya itu. Rasa sesak itu tidak dapat terbendung lagi di
hatinya.
“Karen! Karen! Gue bisa jelasin semuanya.”
Karen tidak menghiraukan seruan Daniel. Ia terus melangkah. Tidak hirau
orang-orang disekitarnya yang memandangnya heran. Tidak hirau saat ia sudah
berada di sebuah jalan. Sebuah mobil melaju kencang dari arah kanannya. Tanpa
waktu lama, tubuh Karen terpental sejauh 30 m dari tempat kejadian.
“Karen!” Daniel berlari
menghampirinya yang sudah tidak berdaya.
“Karen, maafin gue. Gue salah, gak
seharusnya gue lakuin ini ke elo. Gue salah. Maafin gue. Please, bangun buat gue. Karen, bangun. KAREENN!”
Hembusan nafas terakhir Karen
membawa semua mimpinya. Membawa sejuta kenangan. Membawa sebuah kedamaian.
1 komentar
followback ya ? :) plis bantu
BalasHapus